Kumpulan Cerita Silat

25/12/2008

Pisau Terbang Li (55)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:06 pm

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Kegelapan.

Dalam kegelapan itu terdengar suara nafas merintih.

Lalu sunyi senyap.

Setelah sekian lama, terdengar suara seorang wanita. Ia berbisik, “Tahukah kau, aku selalu ingin menanyakan satu hal saja.”

Suara wanita ini sangat lembut dan menggoda. Jika seorang laki-laki tidak ingin digoda oleh suara ini, ia sebaiknya menjadi tuli saja.

Seorang laki-laki berbicara, “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Suara laki-laki ini sangat aneh. Jika engkau berada di dekatnya, suaranya terasa datang dari jauh. Jika engkau berada di kejauhan, suaranya seakan-akan berada di sampingmu.

Tanya wanita itu, “Apakah kau benar-benar laki-laki? Atau kau terbuat dari besi baja?”

Sahut sang pria, “Kau tidak tahu?”

Suara wanita itu terdengar semakin lembut. Katanya, “Jika engkau adalah seorang laki-laki, mengapa kau tidak pernah merasa lelah?”

Tanya sang pria, “Kau perlu istirahat?”

Si wanita mengikik manja. Katanya, “Kau pikir aku tidak bisa mengiringimu? Bagaimana kalau kita coba lagi?”

Kata sang pria, “Tidak sekarang!”

“Kenapa?”

“Karena aku memerlukan engkau untuk berbuat sesuatu.”

Sahut si wanita, “Akan kulakukan apapun yang kau minta.”

Kata sang pria, “Bagus. Pergilah sekarang membunuh Ah Fei.”

Si wanita seperti terhenyak mendengarnya. Setelah beberapa saat, ia menghela nafas dan berkata, “Telah kukatakan padamu. Belum saatnya membunuh dia.”

Kata sang pria, “Saat ini saat yang tepat.”

“Kenapa? Apakah Li Xun Huan sudah mati?”

“Belum. Tapi sebentar lagi.”

Tanya si wanita tidak sabar, “Di mana… Di mana dia?”

Sahut sang pria, “Dalam genggamanku.”

Si wanita tersenyum dan berkata, “Aku ada bersamamu setiap malam beberapa hari terakhir ini. Bagaimana kau dapat menangkapnya? Kau bisa terbelah menjadi dua?”

Sahut sang pria, “Jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak harus melakukannya sendiri. Orang lain akan membawanya kepadaku.”

Kata si wanita, “Siapa yang membawanya kepadamu? Siapa yang sanggup menangkap Li Xun Huan?”

Sahut sang pria, “Long Xiao Yun.”

Si wanita tercekat. Namun ia segera tersenyum dan berkata, “Ah, sudah tentu Long Xiao Yun. Hanya sahabat karib Li Xun Huanlah yang dapat mencelakai dirinya. Ia sepertinya kebal akan segala senjata, kecuali perasaan.”

Sang pria berkata dingin, “Sepertinya kau sangat memahami dirinya.”

Si wanita tertawa, katanya, “Aku memang memahami lawanku lebih baik daripada sahabatku. Contohnya, aku sama sekali tidak memahami dirimu.”

Segera si wanita mengalihkan pembicaraan, dan menyambung, “Aku pun mengenal Long Xiao Yun. Tidak mungkin ia akan memberikan Li Xun Huan kepadamu tanpa alasan.”

“O ya?”

“Ia tidak ingin membunuh Li Xun Huan dengan tangannya sendiri. Ia hanya ingin memanfaatkan dirimu untuk melakukan pekerjaan itu.”

Tanya sang pria, “Kau pikir hanya itu tujuannya?”

“Apa lagi yang dia inginkan?”

“Ia ingin menjadi saudara angkatku.”

Si wanita mendesah, katanya, “Dia benar-benar tahu caranya tawar-menawar. Apakah kau sudah menyetujuinya?”

“Ya.”

“Apakah kau tidak menyadari bahwa ia hanya ingin memanfaatkanmu?”

Sang pria tersenyum sinis.

Tiba-tiba ia tertawa bengis. Katanya, “Sayang sekali rencananya terlalu polos.”

Tanya si wanita, “Terlalu polos?”

“Ia pikir jika ia menjadi saudara angkatku, maka aku tidak akan mencelakainya. Hmmmh, sekalipun ia adalah saudara kandungku, tidak akan ada perbedaan.”

Si wanita terkekeh. Katanya, “Kau benar. Jika ia bisa mengkhianati Li Xun Huan, pasti ia akan mengkhianatimu juga.”

Kata sang pria, “Walaupun Long Xiao Yun tidak berarti apa-apa di mataku, anaknya cukup menarik juga.”

“Kau sudah bertemu dengan setan cilik itu?”

Kata sang pria, “Long Xiao Yun tidak datang sendiri menemui aku. Anaknyalah yang datang.”

Si wanita menghela nafas, katanya, “Kau benar. Anaknya adalah seorang setan cilik yang sudah matang.”

Sang pria berpikir sejenak lalu tiba-tiba berkata, “Kau boleh pergi sekarang.”

Kata si wanita, “Kau tidak ingin aku menemanimu lebih lama sedikit?”

“Tidak.”

Si wanita berkata dengan lembut, “Laki-laki lain selalu tidak rela ketika mereka harus berpisah denganku. Mereka ingin berada di sampingku selama mungkin. Hanya engkau. Hanya engkaulah yang menyuruhku pergi setelah kita selesai.”

Sang pria menyahut dingin, “Karena aku bukan laki-laki lain. Akupun bukan sahabatmu. Kita hanya saling memanfaatkan. Kita berdua tahu akan hal ini, mengapa harus berpura-pura akrab?”

Ruangan itu gelap gulita, namun ada cahaya dari luar.

Remang-remang, cahaya bintang.

Di bawah cahaya bintang berdirilah seseorang. Ia berdiri di luar ruangan itu. Matanya yang kelabu dan mati menatap ke kejauhan. Tubuhnya tegak seperti patung.

Namun kini, dalam mata yang kelabu dan mati itu terbayang suatu penderitaan yang dalam.

Ia tidak tahan berdiri di situ.

Ia tidak tahan mendengar suara yang terdengar dari ruangan itu.

Namun ia harus bertahan.

Dalam hidupnya, ia hanya setia kepada satu orang…ShangGuan JinHong.

Hidupnya, jiwa raganya, adalah milik ShangGuan JinHong.

Pintu terbuka.

Sesosok bayang-bayang muncul di balik punggungnya.

Cahaya bintang menyinari wajahnya. Kecantikan, keayuan, kepolosannya…siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka apa yang baru saja diperbuatnya.

Seorang dewi dari luar, seorang iblis di dalam… Siapa lagi kalau bukan Lin Xian Er?

Jin Wu Ming tidak berpaling.

Lin Xian Er mengitari tubuhnya dan berhenti di hadapannya, menatapnya.

Matanya menatap lembut, selembut cahaya bintang di langit.

Pandangan Jin Wu Ming tetap tertuju pada kegelapan di kejauhan sana. Seolah-olah wanita itu tidak ada.

Tangan Lin Xian Er menyentuh bahunya, membelai tubuhnya.

Jin Wu Ming tidak bereaksi. Seolah-olah sekujur tubuhnya sudah mati rasa.

Lin Xian Er tersenyum. Dengan lembut ia berkata, “Terima kasih karena kau telah menjaga pintu untuk kami. Ketika aku tahu kau berada di luar, aku merasa aman, merasa lebih bergairah melakukan apapun juga.”

Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Jin Wu Ming dan berbisik, “Aku juga akan memberi tahu padamu sebuah rahasia. Ia mungkin sudah tua, tapi ia masih hebat di atas ranjang. Mungkin karena ia lebih berpengalaman daripada yang lain.”

Lalu ia segera melenggok pergi dengan senyum lebar di bibirnya.

Jin Wu Ming masih berdiri di situ. Namun sekujur tubuhnya gemetar hebat.

—–

Hotel Awan Rejeki adalah hotel terbesar di kota itu. Di situlah orang-orang kaya menghamburkan uang mereka.

Jika seorang pelanggan punya uang, ia dapat menikmati segala kemewahan tanpa harus keluar dari kamarnya.

Di sini ia hanya menjentikkan jari dan para pelayan akan membawakan makanan yang terlezat, penyanyi dan penari yang terbaik, bahkan pelacur yang paling hebat ke kamarnya.

Di sini, sepanjang hari kamar-kamar tertutup, seperti kota mati.

Tapi di malam hari, semua pintu terbuka.

Pertama-tama terdengar bunyi air mengalir. Lalu para pengangkut barang berteriak-teriak, para pelayan sibuk mengucapkan terima kasih. Terdengar pula suara cekikikan para wanita dan sapaan-sapaan seperti ‘Tuan Zhang’ atau ‘Tuan Ketiga Wang’.

Lalu terdengar suara denting cawan orang bersulang, wanita-wanita menyanyi dan tawa genit mereka, suara para pria menyombongkan diri…

Di tempat ini, di tengah malam, akan terdengar segala macam suara yang tidak pantas.

Hanya satu kamar yang tidak bersuara.

Hanya kadang-kadang terdengar satu dua suara rintihan, lalu jerit kesakitan.

Pintu kamar itu selalu tertutup.

Tiap malam, jika senja sudah tiba, seorang gadis akan masuk ke sana. Gadis-gadis ini sangat cantik, sangat muda, dan sangat lembut.

Ketika mereka memasuki kamar itu, mereka berdandan cantik sekali. Senyum lebar menghiasi wajah mereka. Walaupun senyuman itu palsu, senyuman itu tetap menggairahkan.

Namun ketika mereka keluar dari kamar itu di pagi harinya, semua telah berubah.

Rambut yang tersisir rapi akan berantakan, kadang-kadang malah terjambak sana-sini. Mata mereka yang berbinar-binar akan menjadi lesu dan kuyu. Wajah mereka yang cerah dan berdandan rapi terlihat berantakan dan basah oleh air mata.

Tujuh hari. Setiap kali kejadiannya sama selama tujuh hari.

Awalnya, tidak seorangpun memperhatikan. Namun lama-kelamaan orang-orang mulai curiga.

Di tempat orang lain mencari kebahagiaan, kejadian seperti ini cepat terlihat.

Orang pun mulai kasak-kusuk.

Tapi setiap orang terkesiap mendengar jawabannya.

“Orang di kamar itu sebenarnya belum benar-benar dewasa!”

Ketika ditanyai, beberapa orang gadis langsung gemetar. Air mata langsung meleleh, dan mereka tidak berani mengatakan apa-apa.

Sewaktu terus didesak, mereka hanya bisa bilang, “Ia…bukan manusia…bukan manusia.”

Senja sudah turun lagi.

Pintu kamar itu masih tertutup.

Di seberang pintu ada sebuah jendela. Seorang anak berwajah pucat duduk dekat jendela itu, memandang ke luar. Ia tidak bergerak sedikit pun. Termenung sangat, sangat lama.

Kadang-kadang di matanya terpancar suatu kilatan yang berbisa.

Long Xiao Yun muda.

Makanan di meja hampir-hampir tidak disentuh.

Ia makan sangat sedikit. Ia sedang menunggu. Menunggu kenikmatan yang lebih besar. Ia memang tidak suka makan. Ia merasa, jika seseorang makan terlalu banyak, kepalanya akan menjadi tumpul.

Akhirnya, terdengar suara ketukan pintu.

Long Xiao Yun muda tidak menoleh. Ia hanya berkata dingin, “Pintu tidak dikunci. Masuklah.”

Pintu terbuka. Suara langkah yang ringan dan perlahan terdengar.

Satu lagi gadis kecil yang lemah dan sedikit pemalu.

Ini adalah tipe gadis kesukaan Long Xiao Yun muda.

Karena fisiknya sendiri lemah, ia ingin bersikap ‘gagah’. Hanya di hadapan gadis-gadis semacam inilah ia bisa berpura-pura ‘gagah’.

Langkah itu berhenti dekat meja.

Tanya Long Xiao Yun, “Apakah orang yang membawamu ke sini sudah memberitahukan harganya?”

Jawab si gadis malu-malu, “Ya.”

“Harga itu tiga kali lipat harga biasa, bukan?”

Lagi-lagi si gadis mengiakan.

Kata Long Xiao Yun, “Jadi kau akan menuruti perkataanku, bukan? Kau tidak akan melawan, bukan?”

“Betul.”

“Bagus. Sekarang tanggalkan pakaianmu. Semuanya.”

Gadis itu diam saja. Setelah beberapa saat ia berkata, “Kau tidak ingin melihatku menanggalkan pakaianku?”

Suara itu merdu, sangat sangat merdu.

Long Xiao Yun muda tertegun.

Gadis itu tertawa merdu dan berkata, “Tahukah kau bahwa melihat seorang gadis menanggalkan pakaiannya itu sangat menggairahkan. Mengapa tidak kau coba?”

‘Gadis’ itu adalah Lin Xian Er!

Lin Xian Er memamerkan senyuman dewinya.

Long Xiao Yun muda seolah-olah berubah menjadi batu.

Namun hanya sekejap saja. Segera ia tertawa dan berdiri, katanya, “Ah, ternyata Bibi Lin yang datang untuk bercanda denganku.”

Lin Xian Er memandangnya mesra dan berkata, “Kau masih memanggilku bibi?”

Long Xiao Yun muda tersenyum dan menyahut, “Bibi tetap adalah bibi.”

Tanya Lin Xian Er, “Tapi kau sekarang sudah dewasa, bukan?”

Ia mendesah lembut dan menggumama, “Aku baru pergi tiga tahun saja, dan lihatlah kau sudah begini gagah.”

Long Xiao Yun muda segera mengalihkan pembicaraan, “Kami tidak pernah berhasil menemukan Bibi Lin selama tiga tahun ini.”

Kata Lin Xian Er, “Tapi aku tahu banyak tentang engkau. Kudengar…terhadap wanita, kau jauh lebih hebat daripada orang-orang yang jauh lebih tua.”

Long Xiao Yun muda menundukkan kepalanya malu-malu. Katanya, “Tapi di hadapan Bibi Lin, aku masih anak-anak.”

Lin Xian Er mengangkat alisnya. Ia merengut dan berkata manja, “Masih juga kau panggil aku bibi? Apakah aku sudah setua itu?”

Lin Xian Er berdiri di depannya dengan santai. Namun keanggunannya, ekspresi wajahnya, senyumnya yang begitu menggoda, tidak dapat ditemukan pada wanita lain.

Mata Long Xiao Yun muda mulai berbinar.

Lin Xian Er menggigit bibirnya, katanya, “”Kudengar kau suka gadis muda. Aku…Aku hanya seorang wanita tua.”

Long Xiao Yun muda merasa jantungnya berdegup makin kencang. Ia tidak bisa tidak berkata, “Ah, kau sama sekali belum tua.”

“Benarkah?”

Kata Long Xiao Yun muda, “Jika seseorang mengatakan bahwa kau sudah tua, ia pasti seorang tolol, atau seorang buta.”

Lin Xian Er terkekeh, “Jadi apakah kau adalah orang tolol? Atau orang buta?”

Sudah tentu Long Xiao Yun muda bukan orang tolol, bukan pula orang buta.

Ketika Lin Xian Er meninggalkannya, ia merasa agak kesakitan.

‘Anak’ ini bukan seorang anak, bukan juga seorang tolol, karena ia adalah seorang gila!

Orang gila yang mengerikan.

Bahkan Lin Xian Er sekalipun belum pernah bertemu dengan orang segila ini.

Namun di matanya terbayang suatu kepuasan.

Akhirnya ia mendapatkan informasi yang diinginkannya.

Dalam urusan tentang laki-laki, ia tidak pernah gagal. Apakah orang itu seorang tolol, seorang pria baik-baik, ataupun seorang gila!

Walaupun hari sudah mulai fajar, terlihat beberapa orang yang masih minum.

Seseorang berseru, “Jika kau ingin minum, minumlah sampai fajar tiba, atau sampai kau jatuh rebah ke tanah…” Sepertinya, sebelum kalimatnya selesai, ia pun sudah rebah ke tanah.

Mendengar kata-kata itu, Lin Xian Er teringat pada seseorang.

Bahkan serasa suara batuknya pun dapat terdengar.

Setiap kali ia ingat akan orang ini, kemarahannya memuncak.

Karena ia tahu bahwa ia dapat menaklukkan semua pria di dunia ini, tapi bukan dia.

Dan karena ia tidak dapat memiliki pria itu, maka ia harus menghancurkannya!

Jika ia tidak dapat memiliki seseorang, siapapun tidak boleh memilikinya.

Ia mengertakkan giginya dan berpikir, “Walaupun aku menginginkan engkau mati, kau belum boleh mati sekarang. Lebih-lebih lagi, aku tidak dapat membiarkanmu mati di tangan ShangGuan JinHong. Jika ia membunuhmu, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menghentikannya.”

“Namun suatu hari nanti kau pasti mati di tanganku. Mati perlahan-lahan…oh, sangat perlahan-lahan…”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: