Kumpulan Cerita Silat

23/12/2008

Pisau Terbang Li (53)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:02 pm

Tipuan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Long Xiao Yun berpura-pura tertawa. Katanya, “Seseorang mungkin punya nama yang salah, tapi julukan itu selalu benar. Seseorang yang bodoh seperti keledai mungkin bernama Tuan Pintar. Tapi jika seseorang dijuluki Si Gila, dia pasti benar-benar gila.

Awalnya Li Xun Huan tidak ingin menanggapi. Namun akhirnya ia berkata, “Namun jika seseorang itu terlalu pandai, tahu terlalu banyak, mungkin sedikit demi sedikit ia bisa menjadi gila.”

“O ya?”

“Karena pada akhirnya ia mungkin merasa hidup itu lebih menyenangkan jika ia menjadi orang gila. Untuk sebagian orang, penderitaan yang terbesar adalah bahwa mereka ingin menjadi gila, tapi tidak bisa.”

Long Xiao Yun tersenyum. Katanya, “Untungnya aku tidak sepandai itu. Jadi aku tidak mungkin mempunyai penderitaan semacam itu.”

Tentu saja ia tidak mempunyai penderitaan semacam itu. Ia bahkan tidak pernah menderita.

Karena ia memberikan penderitaannya untuk dipikul orang lain.

Li Xun Huan termenung lama. Lalu ia menundukkan kepalanya dan minum anggur perlahan-lahan.

Long Xiao Yun hanya mengawasinya, menunggu.

Ia tahu bahwa jika Li Xun Huan minum perlahan-lahan, ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

Sampai cukup lama, akhirnya Li Xun Huan mengangkat kepalanya dan berkata, “Saudaraku…”

“Ya?”

“Ada sesuatu yang mengganggu hatiku yang ingin aku utarakan. Namun aku tidak tahu apakah aku sebaiknya mengatakannya atau tidak.”

Kata Long Xiao Yun, “Katakan saja.”

Kata Li Xun Huan, “Apapun yang terjadi, kita sudah bersahabat bertahun-tahun.”

Ralat Long Xiao Yun, “Bukan sahabat, saudara angkat.”

“Jadi kau pasti tahu orang macam apa aku.”

“Ya…”

Walaupun ia hanya mengatakan satu suku kata, Long Xiao Yun mengambil waktu begitu lama. Kata itu pun mengandung sedikit rasa penyesalan.

Apapun yang dilakukannya ia masih seorang manusia.

Setiap manusia pasti masih punya rasa kemanusiaan dalam dirinya.

Kata Li Xun Huan, “Oleh sebab itu, jika kau ingin aku melakukan sesuatu, seharusnya kau cukup mengatakannya padaku. Jika hal itu dapat kulakukan, pasti aku akan melakukannya.”

Perlahan-lahan Long Xiao Yun mengangkat cawan anggurnya, seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya.

Li Xun Huan sudah berbuat terlalu banyak bagi dirinya.

Setelah sekian lama, ia menghela nafas dan berkata, “Aku tahu maksudmu. Tapi…waktu dapat mengubah begitu banyak hal.”

Wajah Li Xun Huan terlihat semakin muram. Katanya, “Aku tahu ada salah paham di antara kita…”

Tanya Long Xiao Yun cepat, “Salah paham?”

“Ya, salah paham. Namun dalam hal-hal tertentu, Saudaraku, seharusnya kau tidak salah paham padaku.”

Kini wajah Long Xiao Yun sudah pucat pasi. Ia terdiam sekian lama, dan akhirnya berkata, “Namun dalam satu hal itu, sama sekali tidak ada kesalahpahaman.”

Tanya Li Xun Huan, “Hal yang mana itu?”

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, Li Xun Huan merasa sangat menyesal menanyakannya.

Seharusnya ia sudah tahu jawabannya. Long Xiao Yun muda sepertinya merasa bahwa ayahnya akan mengatakan sesuatu yang sangat penting, sehingga ia segera keluar tanpa bersuara.

Long Xiao Yun tidak menjawab sampai cukup lama. Akhirnya ia berkata, “Aku tahu kau telah menanggung penderitaan yang cukup berat beberapa tahun terakhir ini.”

Sahut Li Xun Huan, “Sebagian besar orang hidup menderita.”

“Namun penderitaanmu lebih besar daripada orang lain.”

“Hah?”

Kata Long Xiao Yun, “Karena kau telah melepaskan wanita yang paling kau cintai. Memberikannya kepada orang lain untuk menjadi istrinya.”

Sepercik angur tumpah dari cawan, karena tangan Li Xun Huan bergetar hebat.

Lanjut Long Xiao Yun, “Namun penderitaanmu tidak sangat sangat dalam. Karena jika seseorang merasa bahwa dirinya telah berkorban untuk orang lain, ia akan berbesar hati. Dan hal ini dapat mengurangi penderitaannya.”

Perkataan ini sangat tajam, namun juga sangat masuk akal.

Tentu saja, hal ini tidak bisa disamaratakan untuk semua situasi.

Tangan Long Xiao Yun pun bergetar. Katanya, “Mungkin kau masih belum memahami arti penderitaan yang sesungguhnya.”

Sahut Li Xun Huan, “Mungkin…”

Kata Long Xiao Yun, “Ketika seorang laki-laki mengetahui bahwa istrinya adalah hasil pemberian orang lain, dan bahwa istrinya masih tetap mencintai orang itu… Itu adalah penderitaan yang terbesar dalam hidup manusia!”

Benar sekali.

Ini bukan saja penderitaan yang terbesar, namun juga penghinaan yang terbesar.

Biasanya, seorang laki-laki merasa lebih baik mati daripada mengungkapkan hal ini. Bahkan mengucapkannya pun terasa sangat menyakitkan!

Tidak seorang pun yang ingin menyakiti dirinya sendiri, mempermalukan dirinya sendiri, seperti ini.

Namun Long Xiao Yun telah mengatakannya. Ia telah mengatakannya pada Li Xun Huan.

Hati Li Xun Huan pun hancur.

Dari perkataan ini, ia menyadari dua hal. Yang pertama, Long Xiao Yun pun ternyata merasakan penderitaan yang sangat besar. Oleh sebab itulah ia berubah, berubah begitu drastis. Siapapun yang berada di tempatnya, pasti akan berubah seperti dia juga.

Tiba-tiba Li Xun Huan merasa kasihan pada Long Xiao Yun.

Yang kedua, karena Long Xiao Yun telah mengatakan hal ini padanya, dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi!

Li Xun Huan tidak pernah peduli akan hidup dan mati.

Namun dapatkah ia mati sekarang?

Mereka berdua tidak berbicara banyak. Namun tiap kata keluar dengan hati-hati, setelah dipikirkan masak-masak, setelah jeda yang begitu lama.

Hari itu mendung. Senja pun sudah mulai turun.

Walaupun hari belum malam, langit sudah sangat gelap.

Namun wajah Long Xiao Yun lebih gelap daripada warna langit saat itu.

Ia mengangkat cawan anggurnya, lalu diturunkannya kembali. Diangkat, lalu diturunkan…

Bukan karena ia tidak bisa minum anggur itu. Namun karena ia tidak ingin minum anggur itu. Karena ia tahu, semakin banyak seseorang minum anggur, ia akan menjadi lebih ceroboh. Seorang yang sangat tenang sekalipun, kalau ia bertindak ceroboh, keputusan yang diambilnya adalah berdasarkan perasaannya.

Setelah sekian lama, akhirnya Long Xiao Yun berkata, “Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu hari ini.”

Li Xun Huan tersenyum dan menyahut, “Setiap orang pernah mengatakan hal-hal yang tidak ingin mereka katakan. Itulah manusia.”

“Namun aku tidak mengundangmu ke sini untuk mengatakan hal itu.”

“Aku tahu.”

“Apakah kau tahu mengapa aku mengundangmu ke sini?”

“Ya.”

Untuk pertama kalinya, Long Xiao Yun terlihat terkejut, “Kau sungguh-sungguh tahu?”

“Aku tahu.”

Li Xun Huan tidak menunggu Long Xiao Yun menanyakan lagi. Ia segera melanjutkan, “Apakah kau betul-betul mengira bahwa ada harta karun di Puri Awan Riang?”

Long Xiao Yun berpikir sejenak dan menjawab, “Ya.”

“Di mana kau pikir harta karun itu berada?”

“Kau pasti tahu tempatnya.”

Kata Li Xun Huan, “Aku selalu mempunyai masalah aneh.”

“Masalah aneh apa?”

“Masalahku adalah bahwa aku tahu hal-hal yang seharusnya aku tidak tahu. Namun aku malah tidak tahu hal-hal yang seharusnya aku tahu.”

Mulut Long Xiao Yun terbungkam.

Lanjut Li Xun Huan, “Seharusnya kau sudah tahu. Masalah harta karun ini hanyalah tipuan…”

Long Xiao Yun memotong cepat, “Aku percaya padamu. Karena kau tidak pernah berdusta padaku.”

Ia memandang Li Xun Huan lekat-lekat dan menambahkan, “Jika ada seseorang yang dapat kupercaya di dunia ini, orang itu adalah engkau. Jika aku masih mempunyai seorang sahabat di dunia ini, orang itu adalah engkau. Semua perkataanku mungkin adalah dusta, namun kali ini aku sungguh-sungguh mengatakan yang sebenarnya.”

Li Xun Huan pun menatap Long Xiao Yun lekat-lekat. Ia menghela nafas panjang dan berkata, “Aku percaya padamu karena…”

Ia tidak melanjutkannya, karena ia sudah mulai terbatuk-batuk.

Waktu batuknya berhenti, Long Xiao Yunlah yang menyelesaikan kalimatnya, “Kau percaya padaku karena kau menyadari bahwa dirimu sudah tidak berguna lagi bagiku, sehingga aku tidak lagi punya alasan untuk menipumu. Betul kan?”

Li Xun Huan menjawab pertanyaan ini dengan diam.

Long Xiao Yun bangkit berdiri dan berjalan mengitari meja.

Tidak ada suara lain di pekarangan itu. Langkahnya makin lama makin terasa berat.

Seakan-akan ia merasa gelisah… Atau mungkin ia hanya ingin Li Xun Huan berpikir demikian.

Lalu ia berhenti. Ia berhenti tepat di depan Li Xun Huan, katanya, “Kau pasti mengira aku akan membunuhmu.”

Wajah Li Xun Huan tetap tenang, sangat tenang. Ia pun menyahut dengan tenang, “Apapun yang kau perbuat, aku tidak mempersalahkanmu.”

Kata Long Xiao Yun, “Namun aku tidak akan membunuhmu.”

“Aku tahu.”

“Ya, kau pasti tahu. Kau sangat memahami diriku.”

Tiba-tiba ia berbicara dengan berapi-api dan melanjutkan, “Karena walaupun aku membunuhmu, aku tetap tidak dapat memiliki hatinya. Aku hanya akan membuatnya membenciku lebih dalam lagi.”

Li Xun Huan menarik nafas panjang dan berkata, “Ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang berada di luar kendali manusia.”

Di luar kendali manusia.

Kalimat yang sangat sederhana. Namun merupakan satu yang yang paling menyakitkan dalam hidup ini.

Ketika kau berjumpa dengannya, kau tidak dapat melawannya, kau tidak dapat bertempur dengannya. Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau usahakan, hal itu tetap berada di luar kuasamu.

Long Xiao Yun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Katanya, “Aku tidak bisa membunuhmu, tapi bukan berarti aku akan melepaskanmu.”

Li Xun Huan mengangguk.

Karena aku masih berguna bagimu dalam keadaan hidup.

Namun ia tidak mengatakannya.

Bagaimanapun Long Xiao Yun menyakitinya, mengkhianatinya, ia tidak akan mengucapkan sepatah katapun yang dapat menyakiti hati Long Xiao Yun.

Long Xiao Yun mengepalkan tangannya lebih kuat lagi. Karena hanya di hadapan Li Xun Huanlah ia merasa sangat kecil, sangat tidak berarti.

Oleh sebab itulah, rasa setia kawan Li Xun Huan yang begitu besar bukannya melunakkan hatinya, namun malah membuat amarahnya makin berkobar-kobar.

Ia memandang benci pada Li Xun Huan dan berkata, “Aku akan membawamu menemui seseorang. Orang ini ingin bertemu denganmu sejak lama. Mungkin…kau juga ingin menemuinya.”

—–

Ruangan itu besar.

Namun walaupun ruangan itu besar, hanya ada satu jendela di situ. Satu jendela yang sangat kecil dan sangat jauh di atas.

Jendela itu terbuka. Namun pemandangan di luar tidak bisa terlihat dari jendela itu.

Pintunya juga sangat kecil. Seseorang yang berbahu lebar harus masuk dengan memiringkan badannya.

Pintu itu juga terbuka.

Dinding ruangan itu dicat putih. Catnya sangat tebal, seolah-olah supaya orang tidak tahu apakah itu adalah dinding batu, dinding beton, atau dinding besi.

Ada dua tempat tidur di sudut ruangan.

Tempat tidur kayu.

Seprainya sangat bersih, walaupun tampak sederhana.

Selain kedua tempat tidur itu, hanya ada lagi satu meja besar di ruangan itu.

Meja itu penuh dengan buku-buku rekening dan berkas-berkas.

Seseorang berdiri di depan meja itu. Kadang-kadang ia memberi satu dua tanda di buku rekening itu dengan kuasnya. Sekali waktu, terbayang seulas senyum di sudut bibirnya.

Ia mengerjakannya dengan berdiri!

Ia merasa bahwa jika seseorang duduk, orang itu menjadi rileks. Dan jika seseorang menjadi rileks, ia akan lebih sering melakukan kesalahan.

Ia tidak pernah rileks.

Ia tidak pernah melakukan kesalahan.

Ia tidak pernah kalah.

Ada seseorang lagi di belakangnya.

Orang itu berdiri bahkan lebih tegak lagi, seperti sebatang tombak.

Ia hanya berdiri di situ. Tidak tahu berapa lama. Ia tidak bergerak seujung jari pun.

Seekor nyamuk terbang mengitarinya.

Bahkan matanya pun tidak berkedip.

Nyamuk itu hinggap di hidungnya dan mulai mengisap darahnya.

Ia tetap tidak bergeming.

Seolah-olah ia tidak punya perasaan. Tidak merasa sakit, tidak merasa senang.

Mungkin ia pun tidak tahu mengapa ia hidup.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: