Kumpulan Cerita Silat

22/12/2008

Pisau Terbang Li (52)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:01 pm

Jebakan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Si pengemis menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak mengenal siapapun. Siapapun tidak mengenalku. Aku tidak mengenal seorangpun. Seorangpun tidak mengenal aku.”

Orang ini pasti agak terbelakang. Kalau tidak, buat apa ia membuat jawaban yang singkat begitu bertele-tele?

Baru saja Li Xun Huan ingin bertanya lagi, si pengemis sudah kabur.

Larinya cukup cepat, tapi ia pasti tidak bisa ilmu meringankan tubuh. Sepertinya semua pengemis bisa berlari cepat. Itulah keahlian mereka yang mendarah daging.

Tentu saja Li Xun Huan bisa berlari lebih cepat.

Sambil berlari, si pengemis bertanya, “Apa yang kau inginkan? Kau mau mengambil perakku?”

Lalu ia pun berteriak, “Tolong! Tolong! Ada orang yang mau merampok uangku!”

Untungnya, di jalan ini sama sekali tidak ada orang. Kalau tidak, Li Xun Huan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Apa sebutan untuk seseorang ingin merampok seorang pengemis? Bandit kelas delapan?

Kata Li Xun Huan, “Aku tidak menginginkan uangmu. Tapi jika kau bisa menjawab pertanyaanku, kau bisa mendapatkan kepingan perak yang lebih besar lagi.”

Si pengemis termenung sejenak, lalu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui?”

Kata Li Xun Huan, “Apakah kau mengenal seseorang bernama Tie ChuanJia?”

Si pengemis menggelengkan kepalanya, “Aku tidak kenal seorangpun. Bagaimana seorang pengemis bisa memiliki teman?”

Tanya Li Xun Huan, “Kalau begitu, mengapa engkau membantunya?”

Si pengemis menggelengkan kepalanya lagi. Katanya, “Aku tidak pernah menolong orang lain. Orang lain tidak pernah menolongku.”

“Jadi hari ini kau tidak pernah bertemu dengan seorang lelaki tinggi, kekar, berkulit gelap dan berjenggot besar?”

Si pengemis berpikir sejenak dan menjawab, “Mungkin.”

Li Xun Huan bertanya dengan tidak sabar, “Di mana?”

“Di kamar kecil.”

“Kamar kecil?”

Si pengemis berkata, “Kamar kecil adalah tempat buang air. Aku sedang buang air besar, ketika ia tiba-tiba masuk. Ia bertanya apakah aku ingin uang untuk minum arak.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Siapa yang tidak mau uang minum arak.”

Si pengemis melanjutkan, “Tapi kulihat pakaiannya saja lebih jelek daripada pakaianku. Bagaimana mungkin ia punya uang untuk diberikan padaku?”

Li Xun Huan berkata dengan tersenyum, “Semakin kaya seseorang, semakin sering ia bergaya seperti orang miskin. Apakah kau tahu?”

Si pengemis pun tersenyum. Katanya, “Kau benar. Orang itu betul-betul punya uang. Ketika ia menunjukkan kepingan peraknya, aku langsung bertanya bagaimana aku bisa mendapatkannya.”

“Apa jawabnya?”

“Aku pikir ia akan menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang sulit. Tapi ternyata ia hanya ingin bertukar pakaian. Lalu aku harus berjalan sambil menunduk. Apapun yang terjadi, aku harus tetap menundukkan kepala.”

Li Xun Huan tersenyum, “Cara yang sangat mudah untuk mendapatkan uang.”

Kali ini, hatinya pun ikut tersenyum. Ia sangat senang bahwa kini Tie ChuanJia sudah bisa merancang tipuan seperti ini.

Si pengemis bahkan lebih gembira lagi. Katanya, “Aku tahu. Oleh sebab itu aku rasa otak orang itu memang tidak beres.”

Kata Li Xun Huan, “Otakku lebih tidak beres lagi. Lebih mudah lagi bagimu untuk mendapatkan kepingan perakku.”

“O ya?”

Li Xun Huan mengeluarkan semua perak dari sakunya. Ketika ia meninggalkan rumah, Tie ChuanJia sengaja memeberikan uang padanya untuk keperluan sehari-hari. Dengan uang inilah Li Xun Huan bisa hidup sampai sekarang.

Mata si pengemis berbinar-binar melihat semua perak itu.

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Jika kau bisa mengantarkan aku pada orang yang otaknya tidak beres itu, akan kuberikan semua perak ini padamu.”

Si pengemis segera menyahut, “Baik, akan kuantarkan kau padanya. Tapi kau harus memberikan perak ini lebih dulu padaku.”

Li Xun Huan mengulurkan tangannya untuk memberikan seluruh perak itu.

Ia bersedia memberikan jantungnya demi bertemu dengan Tie ChuanJia.

Air liur si pengemis sudah membasahi kepingan perak itu. Ia menerimanya sambil terkekeh, “Kau pasti mencuri perak ini ya? Kalau tidak, bagaimana mungkin kau memberikannya kepada orang lain begitu saja?”

Waktu ia menerima kepingan perak itu, tentu saja tangannya menyentuh tangan Li Xun Huan.

Saat tangannya menyentuh tangan Li Xun Huan, kelima jarinya tiba-tiba terpentang dan tertekuk…

Li Xun Huan merasa sepasang borgol besi telah melingkari tangannya.

Ia pun terjengkang jatuh di tanah.

Kecepatan si pengemis memang luar biasa. Gerakannya sederhana, namun menggunakan empat kekuatan ilmu silat di dalamnya.

Ketika jari-jarinya menyentuh jari-jari Li Xun Huan, ia menggunakan tenaga dalam penyedot yang sangat kuat. Siapapun yang tertangkap, tidak akan dapat melepaskan diri dari genggamannya.

Sesudah itu, ia menggunakan 72 Jalan Meringkus Tangan dari Wu Dang dan menutul salah satu jalan darah penting Li Xun Huan. Siapapun yang diringkus dengan cara ini akan kehilangan seluruh tenaganya.

Lalu ia menggunakan jurus Tangan Memisahkan Tulang untuk memisahkan tulang-tulang Li Xun Huan.

Akhirnya, ia menggunakan teknik gulat dari daerah Cina luar. Siapapun yang diangkat dan dibanting dengan cara ini tidak mungkin dapat berdiri lagi.

Si pengemis menggunakan keempat teknik ini dengan sempurna, dengan kekuatan maksimum.

Sekalipun jika Li Xun Huan tahu bahwa ia bukan seorang pengemis biasa, ia pun tidak akan menyangka bahwa ilmu silatnya setinggi ini. Sekalipun Li Xun Huan tahu bahwa ia adalah pesilat kelas wahid, ia pun tidak akan menyangka bahwa orang ini akan menyerang tanpa peringatan apapun.

Li Xun Huan belum pernah seterkejut ini dalam hidupnya.

Li Xun Huan tergeletak di tanah seperti ikan mati. Ia merasa sangat pusing, hampir pingsan. Ketika ia menyadari apa yang terjadi, si pengemis datang ke sampingnya. Dengan satu tangan ia mencengkeram leher Li Xun Huan. Ia tersenyum lebar.

Siapakah orang ini? Mengapa ia berbuat demikian padaku?

Apakah sudah sejak tadi ia tahu siapa aku?

Apa hubungan orang ini dengan Tie ChuanJia?

Begitu banyak pertanyaan dalam benak Li Xun Huan. Namun satu pun tidak ditanyakannya.

Dalam situasi seperti ini, ia pikir lebih baik ia diam saja.

Namun si pengemislah yang bicara. Katanya sambil tersenyum, “Mengapa kau diam saja?”

Li Xun Huan pun tersenyum, jawabnya, “Jika lehermu sedang dicengkeram orang, apa yang dapat kau katakan?”

Kata si pengemis, “Jika seseorang menyerangku tiba-tiba seperti ini, dan mencengkeram leherku seperti ini, aku akan menyumpahi delapan belas keturunannya.”

Sahut Li Xun Huan, “Mataku tidak buta, namun aku tidak bisa melihat kehebatan ilmu silatmu. Jika aku harus menyumpahi, yang pertama kusumpahi adalah diriku sendiri.”

Si pengemis terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Kau memang orang aneh. Aku belum pernah bertemu dengan orang seperti engkau. Jika kau terus bicara, mungkin mukaku akan bersemu merah seperti seorang gadis.”

Tiba-tiba ia berseru lantang, “Orang ini bukan saja orang yang terhormat, ia pun seorang yang baik. Orang seperti inilah yang paling menyebalkan. Jika kalian tidak keluar sekarang juga, akulah yang akan pergi.”

Ah, jadi ia punya pembantu.

Li Xun Huan tidak dapat mengira-ira siapakah para pembantunya itu. Lalu pintu di sebelah mereka terbuka. Tujuh orang keluar dari sana. Li Xun Huan sangat kaget melihat siapa yang keluar dari pintu itu.

Ia tidak pernah menyangka bahwa orang-orang inilah pembantu si pengemis.

Orang yang pertama adalah si peramal buta.

Lalu si wanita bermata satu, si lelaki kekar berjubah hijau, si penjual tahu…

Li Xun Huan mendesah. Katanya, “Rencana yang bagus, rencana yang bagus. Aku sungguh kagum.”

Si peramal buta berkata dingin, “Kau terlalu berlebihan.”

Kata Li Xun Huan, “Jadi ini sama sekali tidak berhubungan dengan Tie ChuanJia?”

Jawab si buta, “Tidak sepenuhnya benar, kecuali….”

Si pengemis memotong cepat, “Kecuali bahwa aku tidak pernah bertemu dengan Tie ChuanJia. Mengenal juga tidak. Pertunjukan yang baru saja berlangsung adalah untuk dirimu.”

Li Xun Huan tersenyum getir, “Pertunjukan yang sangat hebat.”

Si buta pun berkata, “Kalau tidak, bagaimana mungkin kami dapat menipu Li Tan Hua?”

“Oh, jadi kalian sudah tahu siapa aku dan sudah tahu bahwa aku datang ke kota ini?”

Jawab si buta, “Seseorang sudah melihatmu sebelum kau masuk kota.”

“Tapi bagaimana kalian dapat mengenaliku?”

Kembali si buta menjawab, “Mungkin kami tidak mengenalimu, tapi ada orang yang mengenalimu.”

Kata Li Xun Huan, “Kalau kalian tidak kenal denganku, mengapa kalian merancang pertunjukan ini untuk diriku?”

Sahut si buta, “Karena Tie ChuanJia!”

Tiba-tiba wajahnya menjadi beringas, dan ia melanjutkan, “Kami telah mencari-cari dia selama ini. Namun kami tidak berhasil menemukan dia. Kalau dia tahu Li Tan Hua ada di tangan kami, dialah yang akan datang mencari kami.”

Li Xun Huan tersenyum, “Bagaimana kalau ia tidak datang?”

Jawab si buta dingin, “Kau tidak pernah mengacuhkannya saat ia membutuhkan pertolonganmu, sama seperti dia tidak akan mengacuhkanmu saat kau butuh pertolongan. Kami yakin ia pasti akan datang. Kalau tidak, kami tidak akan repot-repot merancang rencana ini.”

Kata Li Xun Huan, “Aku harus memuji kalian atas rencana yang hebat ini.”

Sahut si buta, “Jika kami cukup pandai untuk merancang renana ini, mungkin hari ini aku tidak buta.”

“Maksudmu, bukan kalian yang merancangnya?”

“Bukan.”

Si pengemis berkata, “Aku pun tidak merancangnya. Aku punya problem yang aneh. Setiap kali aku berpikir untuk menyakiti orang lain, kepalaku berdenyut-denyut.”

Li Xun Huan mengguman, “Jadi ada orang lain dibalik semuanya ini…”

Kata si buta, “Kau tidak perlu tanya siapa orang itu, karena sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.”

Lalu ia menutup jalan darah Li Xun Huan dengan tongkatnya dan menambahkan dengan dingin, “Saat kau berjumpa dengannya, mungkin kau merasa bahwa hidup di dunia ini tidak ada artinya dan bahwa kematian mungkin adalah jalan yang lebih baik.”

Pintu itu tidak besar. Temboknya cukup tinggi.

Tidak ada suara dari dalam pekarangan.

Terdengar suara tawa gembira, dan seseorang berkata, “Jadi kau sudah berhasil mengundang saudaraku datang?”

Li Xun Huan terkesiap mendengar suara itu.

Itu adalah suara Long Xiao Yun.

Jadi dialah sutradara pertunjukan barusan.

Si buta berkata dingin, “Ya, kami sudah berhasil mengundang Li Tan Hua ke sini.”

Sebelum kalimatnya selesai, seseorang telah masuk melalui pintu itu. Orang itu bukan lain adalah Long Xiao Yun.

Setibanya di ruangan itu, segera ia meraih tangan Li Xun Huan. Katanya, “Tidak terasa sudah dua tahun, Saudaraku. Setiap hari kuingat akan dirimu.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Jika Saudaraku ingin bertemu, mengapa tidak kau katakan saja? Tidak perlu repot-repot begini.”

Si pengemis tiba-tiba tertawa keras. Katanya, “Bagus! Bagus! Aku kagum akan ketenanganmu. Aku tidak menyangka kau masih bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini.”

Long Xiao Yun seolah-olah telah menjadi tuli dan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Long Xiao Yun masih memegang tangan Li Xun Huan dan berkata, “Aku tahu kau pasti akan datang. Maka sudah kupersiapkan anggur istimewa untukmu.”

Ia membantu Li Xun Huan bangkit berdiri dan berkata kepada yang lain, “Mari kita bersama-sama merayakan pertemuan kembali dua saudara angkat.”

Si buta tidak bergeming.

Tidak satupun dari saudara-saudaranya bergerak.

Long Xiao Yun tersenyum dan berkata, “Oh, kalian tidak bisa ikut?”

Sahut si buta, “Kami hanya melakukan ini demi mendapatkan Tie ChuanJia. Kami telah memenuhi tugas kami. Jika Tie ChuanJia sudah datang, jangan lupa beri tahukan pada kami.”

Wajahnya lalu menjadi muram dan melanjutkan, “Untuk anggur Tuan Keempat Long, aku tidak berani menyentuhnya. Sudah jelas, aku tidak cukup pantas menjadi sahabat Tuan Keempat.”

Setelah selesai bicara, ia segera melangkah pergi.

Meja di pekarangan itu penuh dengan anggur dan makanan.

Makanannya terlihat sangat indah dan lezat. Anggurnya semua adalah anggur kualitas atas.

Si pengemis tidak merasa perlu untuk berbasa-basi. Ia segera duduk di salah satu kursi dan berkata, “Sejujurnya, aku pun ingin segera pergi. Tapi aku tidak bisa membiarkan makanan dan anggur sebaik ini terbuang percuma.”

Ia mengangkat secawan arak ke arah Li Xun Huan dan berkata, “Kau harus minum secawan dua cawan juga. Tidak ada gunanya menolak anggur Saudara ini. Walaupun meminum anggurnya pun juga tidak ada gunanya.”

Kata Long Xiao Yun, “Ini adalah Pahlawan Hu. Saudaraku, aku rasa kau belum bertemu dengan…”

Potong Li Xun Huan, “Pahlawan Hu? Apakah namamu adalah Bu Gui?”

Si pengemis tersenyum dan menjawab, “Benar. Hu Bu Gui adalah aku! Kau mungkin memanggilku dengan sebutan Pahlawan, namun dalam hatimu, aku yakin bahwa kau berpikir ‘Jadi inilah Si Gila Hu. Tidak heran ia bersikap seperti orang gila.’ Bukankah begitu?”

Li Xun Huan terkekeh. Jawabnya, “Kau benar.”

Hu Bu Gui tertawa, “Kau memang benar-benar orang aneh, mungkin sebenarnya kau juga gila. Jika kau tidak gila, bagaimana mungkin kau mau menjadi sahabat orang seperti Long Xiao Yun?”

Li Xun Huan hanya tersenyum.

Lanjut Hu Bu Gui, “Tapi kurasa, aku pun bukan sahabatnya. Aku hanya membantunya karena aku pernah berhutang budi padanya. Setelah tugas ini selesai, aku tidak ingin punya hubungan apa pun lagi dengan dia.”

Tiba-tiba ia menggebrak meja dan berkata lagi, “Namun tugas ini begitu licik, sangat penuh tipu muslihat yang jahat. Sangat memalukan, sangat jelek, sangat hina,…”

Sambil berbicara ia menampar pipinya sendiri 17 atau 18 kali. Lalu ia mulai menangis tersedu-sedu dan menelungkup di atas meja. Sepertinya Long Xiao Yun sudah terbiasa dengan tingkahnya yang aneh dan tidak merasa heran sedikitpun.

Namun Li Xun Huan merasa sedikit menyesal. Katanya menenangkan, “Apapun yang terjadi, walaupun aku bersiaga penuh, aku tidak mungkin dapat menghindari serangan terakhir Saudara Hu itu.”

Sekali lagi Hu Bu Gui menggebrak meja dan berseru dengan marah, “Jangan ngomong sembarangan! Tanpa tipu daya, mana mungkin aku bisa menyentuhmu? Aku sudah mencelakaimu, tapi kau masih berusaha menghibur aku? Apa maksudmu?”

Li Xun Huan tidak tahu harus menjawab apa?

Kata Hu Bu Gui, “Aku memang mudah berubah-ubah, marah tanpa sebab, aku tidak tahu membedakan yang benar dan yang salah, selalu berbuat kebalikan dari yang biasanya, menangis jika ingin menangis, tertawa jika ingin tertawa… Aku memang penuh kebusukan.”

Tiba-tiba ia melotot pada Long Xiao Yun dan berkata, “Tapi kau lebih busuk lagi. Dan anakmu ini jauh lebih busuk lagi. Ia punya sepasang kaki, tapi ia bertingkah seperti anjing dan merangkak di bawah meja. Apakah ia mau mengais-ngais tulang di bawah sana?”

Wajah Long Xiao Yun memerah. Ia melihat ke bawah meja, dan melihat bahwa Long Xiao Yun muda memang sedang merangkak di bawah sana. Ia memegang sebilah pisau dan sedang merangkak ke arah Li Xun Huan.

Long Xiao Yun segera menariknya keluar dan mengangkatnya ke atas. Dengan wajah kesal ia membentak, “Kau ini sedang buat apa?”

Wajah Long Xiao Yun muda terlihat sangat tenang. Katanya, “Kau pernah mengatakan bahwa seorang laki-laki harus tahu siapa kawan dan siapa lawan, bukan?”

Sahut ayahnya, “Betul.”

“Bukankah dalam dunia persilatan seseorang harus berusaha membalas dendam dan membalas budi? Ia telah menghancurkan seluruh ilmu silatku, sehingga aku menjadi cacad seumur hidup. Menginginkan sepasan kakinya bukan keterlaluan, bukan?”

Wajah Long Xiao Yun memucat. Katanya, “Jadi kau ingin membalas dendam?”

“Ya.”

Tanya ayahnya keras, “Tahukah kau siapa dia?”

Jawab Long Xiao Yun muda, “Aku hanya tahu bahwa ia adalah musuhku…”

Sebelum kalimatnya selesai, ayahnya telah menampar dia kuat-kuat dan berteriak dengan marah, “Tapi kau kan juga tahu bahwa ia adalah saudara angkat ayahmu? Ia berhak memberi pelajaran padamu. Bagaimana kau bisa berpikir tentang membalas dendam? Bagaimana kau bisa begitu tidak sopan terhadap dia?”

Setelah kena marah begitu rupa, Long Xiao Yun muda berlutut di hadapan Li Xun Huan. Katanya, “Maafkan aku. Aku sudah mengerti sekarang. Paman Li, kuharap kau mau memaafkan keponakanmu.”

Li Xun Huan tidak tahu harus bilang apa. Namun Hu Bu Gui telah melompat dari kursinya dan berseru, “Ya, Tuhan, aku sungguh tidak tahan menghadapi dua anak-beranak ini. Aku sungguh ingin muntah rasanya.”

Sambil berteriak, ia keluar dari tempat itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: