Kumpulan Cerita Silat

20/12/2008

Pisau Terbang Li (50)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 11:57 am

Perangkap Kelembutan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Xie TianLing adalah ketua aliran Dian Cang. Ia dijuluki Si Pedang Pertama Langit Selatan. Ia tidak pernah menemukan lawan setanding dalam hidupnya, kecuali tiga kali dikalahkan oleh Guo Song Yang. Tiga-tiganya, ia kalah telak.

Jika seseorang mampu membunuh Guo Song Yang, sudah pasti ia lebih baik daripada Xie TianLing. Murid Xie TianLing bukanlah lawannya.

Wajah si pemuda berjubah biru menjadi muram.

Setiap orang bisa merasakan bahwa Jin Wu Ming bukanlah seseorang yang gemar menyombongkan diri.

Kata Jin Wu Ming, “Aku bisa membunuhmu dalam satu jurus. Kau percaya?”

Si pemuda berjubah biru hanya menggigit bibirnya. Ia tidak menyahut.

Terlihat sebilah pedang berkelebat. Pedang Jin Wu Ming yang muncul entah dari mana.

Ujung pedang yang dingin itu berada tepat di depan leher si pemuda.

Kata Jin Wu Ming sekali lagi, “Aku bisa membunuhmu dalam satu jurus. Kau percaya?”

Keringat membasahi wajah si pemuda berjubah biru. Ia menggigit bibir kuat-kuat sampai berdarah. Lalu ia berteriak, “Bunuh saja aku!”

“Kau ingin mati?”

“Seorang pria sejati tidak takut mati. Silakan saja bunuh aku!”

Tanya Jin Wu Ming, “Jika aku tidak ingin membunuhku, apakah kau masih ingin mati?”

Si pemuda berjubah biru terhenyak.

Kalau tidak harus mati, siapakah yang ingin mati?

Kata Jin Wu Ming, “Aku tahu kau ingin mati demi wanita itu. Supaya ia berpikir bahwa kau adalah pahlawan penyelamatnya. Tapi jika kau benar-benar mati, apakah ia masih menyukaimu?”

Ia menambahkan dengan dingin, “Jika ia mati, masihkah kau mencintainya?”

Si pemuda berjubah biru tidak bisa menjawab.

Ia merasa ujung pedang yang dingin itu menjauh dari lehernya.

Ia merasa seperti seorang tolol.

Kata Jin Wu Ming, “Dalam pandangan seorang wanita, seratus pahlawan yang mati lebih kecil nilainya daripada seorang pengecut yang masih hidup. Sama seperti dalam pandanganmu, seratus wanita cantik yang mati tidak ada harganya dibandingkan dengan seorang wanita yang hidup….. Mengertikah engkau?”

Si pemuda berjubah biru menyeka keringat dari wajahnya. “Aku mengerti.”

Tanya Jin Wu Ming, “Jadi apakah kau masih ingin mati?”

Si pemuda menjawab dengan wajah merah, “Hidup juga bukan hal yang jelek.”

Kata Jin Wu Ming, “Bagus. Akhirnya kau mengerti.”

Lanjutnya lagi, “Biasanya aku tidak suka bicara bertele-tele, namun hari ini aku sudah bicara begitu banyak, hanya supaya kau mengerti akan hal ini….. Sekarang kau sudah mengerti, jadi aku bisa membunuhmu.”

Si pemuda berjubah biru jadi terkejut. “Kau ingin membunuhku?”

Sahut Jin Wu Ming, “Aturannya adalah aku hanya bertanya, tidak pernah menjawab. Tapi aku selalu membuat perkecualian bagi orang yang sebentar lagi akan mati.”

“Ta….Tapi kalau kau ingin membunuhku, buat apa kau katakan semua nasihat itu?”

“Karena aku tidak pernah membunuh orang yang ingin mati…. Jika kau memang ingin mati, aku tidak mendapat kepuasan apa-apa waktu membunuhmu.”

Maka si pemuda pun meraung keras dan segera menyerang dengan pedangnya.

Tapi teriakan itu terpotong pendek, karena saat ia mengangkat tangannya, pedang Jin Wu Ming sudah masuk ke dalam mulutnya. Ujungnya yang tajam dan dingin telah menembus lidahnya.

Rasanya asin.

Akhirnya ia merasakan kematian.

Pedang itu masuk kembali ke dalam sarungnya.

Jin Wu Ming punya kebiasaan yang baik. Ia selalu menyimpan pedang di dalam sarungnya setelah digunakannya. Seolah-olah ia tidak akan menggunakannya lagi dalam waktu dekat.

Ia tahu, jika orang melihat pedangnya berada dalam sarungnya, mereka akan menjadi lebih sembrono.

Ia suka orang yang sembrono. Mereka biasanya mati lebih cepat.

Selama itu Lin Xian Er hanya memandanginya, mengawasi setiap gerakannya. Di wajahnya terbayang seulas senyum yang lembut, seperti seorang gadis memandang kekasihnya.

Jin Wu Ming sedikitpun tidak memandangnya.

Lin Xian Er berdiri dengan gaya menantang, namun Jin Wu Ming masih tetap mengacuhkannya.

Walaupun wajahnya masih tersenyum, Lin Xian Er mulai merasa gelisah.

Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Setiap lelaki yang pernah tidur dengan dia akan berusaha memandangnya setiap ada kesempatan. Namun mata orang ini sengaja menghindarinya seperti menghindari racun.

Sebaliknya, kedua pengangkat tandu itu memandangi Lin Xian Er sampai mata mereka seolah-olah akan copot sewaktu-waktu. Mereka tidak melihat sinar pedang yang berkelebat.

Tiba-tiba keduanya menjerit, dan pedang Jin Wu Ming telah kembali ke dalam sarungnya.

Kini ia berdiri di depan Lin Xian Er.

Matanya yang dingin dan mati tetap memandang ke kejauhan.

Hanya ada kegelapan pekat di kejauhan.

Lin Xian Er mendesah, katanya, “Mengapa kau tidak mau memandangku? Apakah kau kuatir bahwa setelah memandangku, kau tidak sanggup membunuhku?”

Otot-otot di sekitar bibir Jin Wu Ming bergerak-gerak. Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata, “Kau tahu bahwa aku datang untuk membunuhmu?”

Lin Xian Er mengangguk dan berkata, “Aku tahu…. Betapapun dinginnya, kejamnya seseorang, kalau ia harus membunuh seseorang yang dicintainya, wajahnya pasti akan berbeda.”

Ia melanjutkan sambil tersenyum, “Aku hanya ingin menanyakan satu hal saja. Karena sebentar lagi aku akan mati, kau pasti mau menjawab, bukan?”

Jin Wu Ming diam saja. Namun akhirnya ia menyahut, “Tanyakan saja. Di depan orang yang sebentar lagi mati, aku tidak pernah berbohong.”

Lin Xian Er menatap wajah Jin Wu Ming yang kaku dan bertanya, “Aku hanya ingin bertanya, siapakah yang menyuruhmu untuk membunuh aku? Apa alasannya?”

Jin Wu Ming mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu berseru, “Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada alasan.”

Kata Lin Xian Er, “Pasti ada orang lain….karena kau pasti tidak ingin membunuhku….”

Lin Xian Er tertawa dingin. Lalu ia berkata dengan suara pelan, “Aku tahu kau mencintaiku, dan kau tidak akan pernah menyakitiku.”

Jin Wu Ming mengepalkan tangannya makin kuat. Suara tulang yang gemeretak hampir bisa terdengar.

Namun wajahnya tetap kaku. Ia bertanya, “Apakah kau betul-betul tahu? Apakah kau sungguh yakin?”

Sahut Lin Xian Er, “Ya, aku sungguh yakin. Jika kau tidak mencintaiku, kau tidak akan membunuh orang-orang ini.”

Jin Wu Ming diam saja, memberi kesempatan bagi Lin Xian Er untuk terus bicara.

Sambung Lin Xian Er, “Kau membunuh mereka….karena kau cemburu pada mereka.”

Dahi Jin Wu Ming berkerut. “Cemburu?”

Sahut Lin Xian Er, “Setiap orang yang pernah menyentuhku, bahkan hanya melihatku, kau ingin membunuhnya. Itu namanya cemburu. Jika kau tidak mencintaiku, buat apa cemburu?”

Wajah Jin Wu Ming pucat seperti kertas. Ia berkata dengan dingin, “Aku hanya tahu bahwa aku ingin membunuhmu Dan jika aku ingin membunuh seseorang, orang itu tidak mungkin bisa hidup lebih lama!”

Kata Lin Xian Er, “Jika kau benar-benar ingin membunuhku, mengapa tak kau pandang diriku sama sekali? Kau takut?”

Tangan Jin Wu Ming memegang pedangnya erat-erat. Di bawah sinar bulan yang remang-remang sekalipun, terlihat jelas keringat membasahi wajahnya.

Keringat dingin.

Lin Xian Er menatap wajahnya lekat-lekat. Perlahan-lahan ia berkata, “Melihatku saja kau tidak sanggup. Jika kau membunuhku, kau pasti akan menyesal.”

Ia mengulurkan tangannya, ingin melihat apa reaksi Jin Wu Ming.

Jin Wu Ming diam tidak bergeming.

Akhirnya, tangan Lin Xian Er merengkuh tangan Jin Wu Ming. Dan ia segera menghambur ke pelukan lelaki itu. Katanya, “Jika kau tidak dapat mengambil keputusan, bawalah aku padanya.”

Belaian Lin Xian Er sangat lembut, dan ia benar-benar tahu kapan harus berhenti.

Nafas Jin Wu Ming memburu. Tampak jelas bahwa ia sangat gelisah. “Si…siapa yang ingin kau temui?”

Sahut Lin Xian Er, “Orang yang menyuruhmu untuk membunuhku. Aku tahu aku akan dapat mengubah pikirannya….”

Ia menggigit telinga lelaki itu dengan mesra. Katanya lagi, “Jangan kuatir, kau tidak akan menyesali keputusanmu ini.”

Jin Wu Ming tetap tidak mau memandangnya. Namun kepalanya menoleh ke arah hutan yang gelap itu.

Lin Xian Er memutar bola matanya dan berbisik, “Apakah ia ada di dalam hutan?”

Jin Wu Ming tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab.

Lin Xian Er berkata dengan lembut, “Baiklah, akan kutemui dia sekarang. Jika ia tetap tidak mau melepaskan aku, maka kau boleh membunuhku.”

Setelah Lin Xian Er memutar badan, barulah Jin Wu Ming berani memandangi punggungnya. Di tengah-tengah tatapannya yang kelabu dan mati, untuk pertama kali terlihat sebersit perasaan.

Perasaan apakah itu? Bahagia? Sedih? Benci?

Ia sendiri pun tidak tahu.

Tidak ada cahaya sama sekali dalam hutan itu.

Walaupun Lin Xian Er berjalan pelan-pelan, ia tiba-tiba hampir menabrak seseorang.

Orang itu hanya berdiri saja di situ, seperti sebuah gunung. Seperti sebuah gunung es.

Lin Xian Er bisa saja menghindarinya, namun ia sengaja menubruknya. Tubuhnya jatuh ke dada orang itu.

Orang itu diam saja, tidak berusaha menahan tubuhnya supaya tidak jatuh.

Lin Xian Er berusaha mengatur nafasnya dan berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Katanya, “Di sini gelap sekali…. Maafkan aku.”

Jaraknya dari orang itu kira-kira satu kaki. Ia yakin bahwa orang itu dapat mencium wangi nafasnya. Ia sungguh yakin bahwa nafasnya dapat menggetarkan hati lelaki manapun.

Namun orang itu berbicara dengan tenang, “Apakah kau menggunakan cara ini juga supaya Jin Wu Ming tidak membunuhmu?”

Kata Lin Xian Er, “Oh, engkaukah yang ingin membunuhku? Apakah engkau Ketua Partai, ShangGuan?”

Jawab orang itu, “Ya. Aku juga bisa memberitahukan padamu bahwa cara ini tidak akan berhasil menaklukkan aku.”

Nada suaranya tidak dingin, tidak juga kejam, tapi datar saja, tanpa emosi. Perkataannya seolah-olah sedang dibacakan dari sebuah buku.

Tanya Lin Xian Er, “Lalu cara apa yang dapat menaklukkanmu?”

Jawab ShangGuan JinHong, “Jika kau masih punya cara-cara yang lain, silakan dicoba saja.”

Kata Lin Xian Er, “Aku tahu bahwa kau bukan laki-laki yang mudah dirayu. Tapi mengapa kau menyuruh Jin Wu Ming untuk membunuhku?”

Sahut ShangGuan JinHong, “Seorang pembunuh yang terlatih tidak boleh berperasaan. Dan tidak mudah melatih seorang pembunuh yang kejam. Aku tidak ingin ia rusak hanya karena engkau.”

Lin Xian Er tertawa. Katanya, “Tapi jika engkau membunuhmu, kerugianmu akan lebih besar.”

“O ya?”

“Karena aku lebih berguna daripada Jin Wu Ming.”

“O ya?”

Sahut Lin Xian Er, “Jin Wu Ming hanya tahu bagaimana caranya membunuh. Akupun tahu bagaimana caranya membunuh. Ia harus membunuh menggunakan pedang dan menumpahkan darah. Aku dapat membunuh tanpa senjata, tanpa ada darah.”

Kata ShangGuan JinHong, “Tapi ia bisa membunuh lebih cepat daripada engkau.”

“Bukankah kadang-kadang lebih baik membunuh perlahan-lahan?”

ShangGuan JinHong termenung lama. Akhirnya ia bertanya, “Selain membunuh, apa kehebatanmu yang lain?”

Jawab Lin Xian Er, “Aku punya banyak uang. Begitu banyak sampai tidak terhitung. Sangat banyak sampai tidak habis dibelanjakan.”

Kata ShangGuan JinHong, “Itu memang sangat hebat.”

Perkataannya seolah-olah mengandung senyum, karena ia tahu persis kegunaan uang yang banyak.

Sambung Lin Xian Er, “Aku juga sangat pandai. Aku bisa membantumu dalam banyak masalah.”

Kata ShangGuan JinHong, “Kau benar. Orang bodoh tidak mungkin jadi kaya.”

“Selain itu, aku juga bisa memberikanmu satu hal yang lain….”

Suaranya semakin lembut sampai seperti berbisik saja. Lanjutnya, “Kalau kau laki-laki, kau akan segera tahu.”

Setelah berpikir sejenak, ShangGuan JinHong berkata, “Aku laki-laki.”

Kabut menyelimuti seantero hutan itu.

Tubuh Jin Wu Ming terlibat oleh kabut itu.

Ia berdiri diam tidak bergerak. Seolah-olah tubuhnya adalah sebatang pohon.

Kabut itu sangat tebal. Tidak ada sesuatupun yang terlihat.

Suara apakah itu? Erangan? Atau helaan nafas?

Kata Lin Xian Er, “Sudah hampir fajar. Aku harus pulang.”

Tanya ShangGuan JinHong, “Kenapa?”

“Seseorang menungguku.”

“Siapa?”

“Ah Fei. Kau pasti pernah mendengar tentang dia.”

Sahut ShangGuan JinHong, “Tak kusangka kau belum membunuhnya. Kau membuang terlalu banyak waktu.”

Kata Lin Xian Er, “Aku tak bisa membunuhnya. Juga tidak berani.”

“Kenapa?”

“Jika aku membunuhnya, Li Xun Huan pasti akan membunuhku.”

ShangGuan JinHong terdiam.

Lin Xian Er menghela nafas. “Aku tahu kau belum membunuh Li Xun Huan. Kalau sudah, kau tidak akan menyuruh Jin Wu Ming untuk membunuhku. Kau masih membutuhkan Jin Wu Ming untuk membunuh Li Xun Huan, sehingga kau menginginkan dia dalam kondisi prima.”

ShangGuan JinHong berpikir lama sebelum menyahut, “Apakah kau benar-benar takut sekali pada Li Xun Huan?”

“Aku takut setengah mati padanya.”

“Kau lebih takut padanya daripada aku?”

“Ya. Ia lebih parah daripada engkau. Karena aku masih dapat menggerakkan hatimu, tapi aku tidak dapat menyentuh hatinya.”

Ia mendesah dan menambahkan, “Ia tidak menginginkan apapun juga. Itulah yang membuat dia menjadi sangat berbahaya.”

Kata ShangGuan JinHong, “Tapi ia kan manusia juga. Ia pasti punya kelemahan.”

Sahut Lin Xian Er, “Satu-satunya kelemahannya adalah Lin Shi Yin. Tapi aku tidak dapat menggunakan Lin Shi Yin untuk mengancamnya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak yakin bisa berhasil. Setiap kali aku melihat Li Xun Huan memegang pisau, kepercayaan diriku melayang entah ke mana.”

Ia menghirup nafas panjang dan melanjutkan, “Selama ia masih hidup, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Ah Fei.”

ShangGuan JinHong berpikir sekian lama, lalu berkata, “Jangan kuatir. Ia tidak akan hidup lama.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: