Kumpulan Cerita Silat

18/12/2008

Pisau Terbang Li [48]

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 11:55 am

Wanita Raksasa

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Jurus pedang You Long Sheng bukan saja sangat cepat, namun pedang itu adalah salah satu pedang yang paling tajam di dunia.

Li Xun Huan tidak bisa percaya kalau ada daging yang dapat menahan serangan ini!

Lalu terdengar jeritan. You Long Sheng Pun terjengkang ke belakang dan mendarat dekat wanita gemuk yang duduk di sebelah Li Xun Huan.

Wanita itu pun tertawa dan merengkuh You Long Sheng ke dalam pelukannya.

Pedang itu masih tetap ada di leher Nyonya Budha Bahagia.

Namun Nyonya Budha Bahagia masih tetap duduk di situ, memandang Li Xun Huan dengan senyum lebar.

Li Xun Huan kehilangan kata-kata.

Ternyata Nyonya Budha Bahagia mengempit pedang itu dengan lemak di lehernya!

Tidak seorang pun yang pernah melihat ilmu silat model begini. Bahkan mendengar pun belum pernah!

Lalu ia berkata, “Wanita gemuk pun ada kelebihannya, ya kan?”

Li Xun Huan mendesah dan berkata, “Orang biasa tidak akan dapat menyamai kelihaian Nyonya Budha.”

Perkataan itu memang sejujurnya, karena memang tidak ada orang yang mempunyai lemak sebanyak dia.

Kata Nyonya Budha Bahagia, “Aku pun mendengar bahwa pisu terbangmu tidak pernah luput. Bahkan anak angkatku tidak dapat menghindarinya. Kau pasti cukup yakin dengan pisaumu, bukan?”

Li Xun Huan diam saja.

“Karena pisaumulah, kau berani masuk ke sini, bukan?”

Ia tersenyum dan melanjutkan, “Apakah sekarang kau masih yakin dapat membunuhku?”

Li Xun Huan mendesah, “Tidak.”

Nyonya Budha Bahagia tertawa, “Lalu apakah kau masih ingin membawa pergi Si Kalajengking Biru?”

“Ya.”

Kening Nyonya Budha Bahagia berkerut, tapi dengan cepat ia tersenyum kembali. Katanya, “Menarik juga. Kau memang orang yang cukup menarik. Bagaimana rencanamu untuk bisa membawa pergi Si Kalajengking Biru?”

Sahut Li Xun Huan, “Akan kupikirkan caranya. Pada akhirnya, aku pasti akan menemukan sesuatu.”

Nyonya Budha Bahagia kembali tertawa, “Baik. Mengapa kau tidak tinggal dulu di sini bersamaku dan bepikir-pikir.”

Sahut Li Xun Huan, “Di sini ada banyak anggur. Aku tidak keberatan tinggal di sini lebih lama.”

Kata Nyonya Budha Bahagia, “Tapi anggurku tidak gratis.”

Tanya Li Xun Huan, “Apa yang kau inginkan dari aku?”

Nyonya Budha Bahagia tersenyum sambil menjawab, “Sebelumnya kupikir kau sudah tua. Namun makin lama, aku makin suka padamu. Jadi mari kita buat perjanjian. Kau tinggal bersamaku beberapa hari, dan aku akan membiarkanmu membawa Si Kalajengking Biru pergi bersamamu.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Mungkin aku tidak terlalu tua untukmu, tapi sayangnya kau terlalu gemuk untukku. Jika kau dapat membuang beberapa puluh kilo dagingmu, mungkin aku tak akan keberatan menemanimu berbulan-bulan. Tapi dalam keadaanmu saat ini…”

Ia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan, “…aku sungguh tidak berselera.”

Wajah Nyonya Budha Bahagia langsung berubah total. Ia berkata dingin, “Jadi kau tidak setuju dengan penawaranku. Baik.”

Tiba-tiba dilambaikannya tangannya.

Empat wanita yang duduk di sebelah Li Xun Huan segera bangkit.

Walaupun mereka gemuk, mereka cukup gesit. Keempatnya segera mengepung Li Xun Huan.

Langit-langit rumah itu tidak terlalu tinggi, jadi tidak ada peluang bagi Li Xun Huan untuk melompat melampaui mereka. Ia tidak bisa juga menyusup di antara mereka. Melihat lemak para wanita itu, Li Xun Huan merasa sangat muak.

Namun keempat wanita ini bergerak makin mendekatinya, seakan-akan ingin menjepitnya. Jika ia menyambitkan pisau, ia pasti dapat membunuh salah satunya, tapi tidak akan mempengaruhi yang lain.

Jika mereka benar-benar menjepitnya di tengah-tengah, Li Xun Huan tidak ingin memikirkan bagaimana rasanya.

Terdengar suara Nyonya Budha Bahagia, “Li Xun Huan, aku tahu kau mampu keluar dari Barisan Luohan dari Shaolin. Namun jika kau mampu keluar dari Barisan Dagingku, itu baru suatu keberhasilan yang patut dibanggakan.”

Suara tawanya makin lama makin keras, sampai-sampai tiang rumah itu bergetar.

Mata Li Xun Huan berbinar karena tiba-tiba saja ia teringat pada LingLing.

LingLing tidak masuk ke dalam rumah itu bersamanya.

Saat itu terdengarlah suara berderak yang amat keras, dan rumah itu pun jebol. Bersamaan dengan itu, semua orang pun jatuh ke tanah.

Terlihat sebuah lubang di langit-langit.

Li Xun Huan segera melompat dan keluar ke atas melalui lubang itu.

Li Xun Huan berpikir bahwa Nyonya Budha Bahagia pasti terjatuh juga. Dan karena berat badannya yang luar biasa, pasti ia butuh waktu cukup lama untuk bisa bangun lagi,

Siapa sangka, gerakan Nyonya Budha Bahagia sangat cepat dan ilmu meringankan tubuhnya pun sangat tinggi. Sewaktu Li Xun Huan melompat, ia mendengar suara getaran yang kuat.

Ternyata Nyonya Budha Bahagia menjebol langit-langit rumah itu dan membuat sebuah lubang yang lebih besar lagi. Ia meloncat ke atas seperti balon raksasa, sampai menutupi cahaya bulan.

Li Xun Huan tidak melihat ke belakang lagi ketika ia mendarat di luar hutan.

Namun segera terdengar suara Nyonya Budha Bahagia tertawa dan berkata, “Li Xun Huan, karena aku telah telanjur suka padamu, jangan harap kau bisa lolos.”

Sambil tertawa, ia menyeruduk ke arah Li Xun Huan. Li Xun Huan merasakan segulung tenaga yang besar datang dari arah wanita itu, seolah-olah sebuah gunung akan runtuh menimpanya.

Tiba-tiba tangannya mengibas di belakang dan sejalur cahaya berkilauan melesat cepat. Pisau Terbang Li Kecil akhirnya keluar juga!

Kalau pisau itu sudah meninggalkan tangannya, ia tidak akan luput!

Darah mengalir dari wajah Nyonya Budha Bahagia.

Kali ini, Li Xun Huan tidak membidik pada lehernya, namun pada mata kanannya. Ia tahu, sekali pisau itu meninggalkan tangannya, pisau itu akan sampai ke tujuannya.

Ia begitu yakin akan hal ini.

Namun suara tawa Nyonya Budha Bahagia tidak terputus. Suara tawanya membuat bulu kuduk Li Xun Huan merinding. Ia menoleh ke belakang dan melihat Nyonya Budha Bahagia sedang berjalan ke arahnya. Wajahnya penuh dengan darah. Pisaunya pun masih tertancap di mata kanannya.

Tapi kelihatannya ia tidak merasa sakit sedikitpun dan memang benar-benar tertawa. Katanya, “Jangan kira kau bisa lolos, Li Xun Huan. Berapa banyak pisau lagi yang kau miliki? Lemparkan semuanya. Pisau sekecil ini, kau lempar seratus pun tak akan terasa apa-apa.”

Tiba-tiba dicabutnya pisau dari matanya dan mulai mengunyahnya.

Li Xun Huan terbelalak.

Wanita ini bukan manusia. Ia adalah seorang monster.

Namun saat itu juga tiba-tiba Nyonya Budha Bahagia menjerit sangat keras dan menggoncangkan seluruh hutan raya itu.

Li Xun Huan melihat ujung pedang kumala berwarna gelap muncul dari dadanya. Sesudah itu terlihat darah muncrat keluar bagai hujan badai.

Ia pun melihat You Long Sheng memegang Pedang Perenggut Cinta dengan kedua belah tangannya. Pedang itu menembus tubuh Nyonya Budha Bahagia dari belakang.

Pedang itu masuk dari punggungnya, melewati jantung dan keluar di dadanya.

Nyonya Budha Bahagia pun akhirnya jatuh ke tanah, menimpa You Long Sheng.

Terdengar bunyi tulang belulang gemeretak. Sekujur tubuh You Long Sheng patah tertimpa wanita itu. Namun ia hanya mengatupkan giginya tanpa suara.

Nyonya Budha Bahagia masih bisa bernafas satu-satu dengan berat, “Kau…Ternyata kau!”

Sahut You Long Sheng, “Kau tidak menyangka, bukan?”

Kata Nyonya Budha Bahagia, “Aku memperlakukanmu dengan baik, mengapa kau membalasku seperti ini?”

Keringat mengucur di wajah You Long Sheng. Sambil mengertakkan gigi ia berkata, “Alasan mengapa aku belum mati adalah karena aku menunggu datangnya hari ini…”

Ia tidak bisa bicara lagi karena ia tidak dapat bernafas di bawah tindihan badan wanita itu. Saat ia melihat pandangannya mulai menjadi hitam, ia merasa tubuh Nyonya Budha Bahagia berguling dari atas tubuhnya.

Akhirnya ia melihat pandangan mata Li Xun Huan yang tenang. Ia pun merasa sepasang tangan menyeka keringat dari wajahnya.

Walaupun tangan ini dapat mengambil nyawa orang sewaktu-waktu, tangan itu pun dapat memberikan bantuan kapan saja. Walaupun tangan ini dapat memegang pisau yang mematikan, tangan itu pun dapat memberikan segenggam kasih sayang.

You Long Sheng berusaha tersenyum, tapi tidak mampu. Ia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berkata, “Aku bukan You Long Sheng.”

Li Xun Huan terdiam sesaat, lalu mengangguk. Katanya, “Kau memang bukan.”

You Long Sheng berkata lagi, “You Long Sheng telah mati.”

Sahut Li Xun Huan, “Aku mengerti.”

Lagi You Long Sheng menegaskan, “Hari ini kau tidak bertemu dengan You Long Sheng.”

Kata Li Xun Huan, “Aku hanya tahu bahwa ia adalah kawanku. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa.”

Akhirnya terlihat senyum You Long Sheng di sudut bibirnya. Katanya, “Aku merasa cukup terhormat memiliki teman seperti dirimu. Sayangnya…”

Ia berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa nafasnya dan berteriak, “Sayangnya aku tidak bisa mati di tanganmu!”

—–

Fajar.

Tiga kuburan baru terlihat di hutan itu. Satu untuk You Long Sheng. Satu untuk Si Kalajengking Biru. Satu untuk Nyonya Budha Bahagia. Para muridnyalah yang menggali ketiga kuburan ini.

Para muridnya terlihat tidak terlalu peduli atas kematian guru mereka. Nyonya Budha ini ternyata tidak memiliki hati seperti Sang Budha. Ia tidak dikasihi oleh siapa pun selama hidupnya.

Memang LingLinglah yang membuat jebol rumah itu.

Ia terlihat cukup bangga atas perbuatannya, “Aku hanya mengendorkan satu tiang saja, dan seluruh rumah itu hancur berantakan. Kalau bukan karena kecerdikanku, kau sudah gepeng sekarang!”

Ketika LingLing melihat semua murid Nyonya Budha Bahagia pergi dari situ, ia terlihat sangat terkejut.

Mengapa mereka tidak berusaha membalaskan kematian guru mereka?

Kata Li Xun Huan, “Mungkin walaupun Nyonya Budha ini berusaha mengisi perut mereka penuh-penuh, ia tidak memperhatikan hati mereka sama sekali.”

Kata LingLing, “Kau benar. Jika seseorang terlalu kenyang, ia akan menjadi malas untuk peduli akan apa pun juga.”

LingLing pun cemberut dan berkata, “Aku tahu kau hanya memiliki Si Kalajengking Biru dalam hatimu. Memang kutahu pinggangnya lebih ramping dari pinggangku.”

Tanya Li Xun Huan, “Kau pikir hanya Si Kalajengking Biru yang ada dalam hatiku?”

“Sudah pasti. Kau bersedia mengorbankan nyawamu demi dia. Sebenarnya ia telah lama mati. Kau tidak perlu kuatir tentang dia.”

Kata Li Xun Huan, “Jika ia adalah temanku semasa hidup, ia tetap adalah temanku sesudah meninggal.”

Tanya LingLing perlahan, “Apa…Apakah aku juga temanmu?”

“Sudah tentu.”

“Lalu jika kau mau mengorbankan nyawamu demi temanmu yang sudah mati, mengapa kau tidak peduli pada temanmu yang masih hidup?”

Mata LingLing menjadi merah. Lanjutnya, “Aku tidak punya sanak saudara. Kini aku pun tidak punya rumah. Apakah kau tega melihatku mengemis makanan setiap hari?”

Li Xun Huan hanya bisa tertawa getir.

Ia merasa gadis muda ini makin lama makin pintar bicara.

LingLing memandangnya dari sela-sela jarinya yang menutupi wajahnya. Katanya, “Lagi pula, jika kau tidak membawaku pergi bersamamu, bagaimana kau akan menemukan Nonaku? Bagaimana kau akan menemukan sahabatmu, Ah Fei?”

—–

Ah Fei sedang menghirup supnya.

Sup daging. Sangat lezat, sangat panas.

Ah Fei memegang mangkuk itu dengan kedua tangannya dan mengirupnya perlahan-lahan. Matanya menatap sup itu dengan pandangan kosong. Seolah-olah ia tidak bisa membedakan rasa sup yang satu dengan yang lain.

Lin Xian Er duduk di sampingnya dengan bertopang dagu. Katanya, “Kelihatannya kau tidak bahagia beberapa hari terakhir ini. Ayo habiskan supmu. Sup ini sangat bergizi. Nanti kalau sudah dingin rasanya tidak enak.”

Ah Fei menghabiskan mangkuknya dengan cepat.

Lin Xian Er menyeka dagu Ah Fei dan berkata, “Enak?”

“Ya.”

“Kau mau semangkuk lagi?”

“Ya.”

Kata Lin Xian Er, “Anak baik. Kau makan sedikit sekali akhir-akhir ini. Kau perlu makan lebih banyak.”

Ruangan itu tampak sangat sederhana, namun dindingnya baru saja dicat. Dapurnya pun sangat bersih karena mereka baru tinggal di situ dua hari.

Lin Xian Er membawakan semangkuk sup lagi dan meletakkannya di hadapan Ah Fei. Katanya sambil tersenyum, “Walaupun ini kota kecil, namun pasarnya cukup besar. Sayangnya si penjual daging suka menipu pendatang baru. Masa setengah kilo daging harganya sepuluh keping.”

Kata Ah Fei tiba-tiba, “Kita tidak usah makan sup daging lagi.”

“Kenapa? Kau tidak suka?”

“Aku suka supnya, tapi kita tidak sanggup membeli daging semahal itu.”

Lin Xian Er tersenyum. Katanya dengan lembut, “Jangan kuatir tentang uang. Kulit rubah cukup laku akhir-akhir ini. Aku mendapat lebih dari 27 tail perak dari hasil buruanmu bulan lalu.”

Kata Ah Fei, “Namun uang itu akan habis. Di sini tidak ada rubah untuk diburu.”

“Jangan kuatir. Aku masih punya tabungan juga.”

Kata Ah Fei, “Aku tidak mau menggunakan uangmu.”

Wajah Lin Xian Er memerah. Ia menundukkan kepalanya dan berkata, “Mengapa? Aku tidak mencuri atau merampok uang ini. Aku mendapatkannya dari hasil menjahit, menisik baju orang yang robek.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: