Kumpulan Cerita Silat

15/12/2008

Pisau Terbang Li (45)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 11:51 am

Hampir Saja

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Si Kalajengking Biru tertawa dan berkata, “Buat apa? Kau sudah membayar lunas hutangmu saat kau ulurkan tanganmu begitu saja. Walaupun aku seorang wanita, aku juga tahu moralitas.”

LingLing mengejapkan matanya dan menyela, “Namun wanita tidak perlu bersikap moralis. Itu adalah hak kita. Laki-laki secara alami lebih kuat daripada wanita, maka mereka pun harus lebih pengertian sedikit terhadap kita.”

Sentak Si Kalajengking Biru, “Kata siapa itu?”

“Kata Nonaku.”

Tanya Si Kalajengking Biru, “Kau suka mendengar petunjuknya?”

Jawab LingLing, “Tentu saja. Ia selalu berbicara membela kaum wanita.”

Tiba-tiba Si Kalajengking Biru berjalan ke arahnya dan menampar pipinya sepuluh kali.

LingLing terhenyak.

Lalu kata Si Kalajengking Biru dengan dingin, “Seperti kalian berdua, aku pun bukan orang baik-baik. Tapi aku harus memukulmu, untuk memberimu pelajaran. Kau tahu apa itu?”

LingLing merngertakkan giginya dan menyahut, “Karena kau…kau…”

Sebelum selesai bicara, ia sudah menangis tersedu-sedu.

Kata Si Kalajengking Biru, “Karena wanita-wanita macam kalianlah, kaum pria selalu memandang rendah kaum wanita. Karena mereka memandang rendah padaku, aku selalu ingin membalas mereka. Oleh sebab itulah kulakukan semua yang pernah kulakukan.”

Suaranya menjadi lembut, “Tapi saat itu aku tidak menyadari bahwa dengan berbuat demikian, aku bukan saja menghancurkan orang lain, namun menghancurkan diriku sendiri. Karena itulah hidupku hancur berantakan.”

Li Xun Huan berkata dengan penuh perhatian, “Biarkan yang sudah lampau berlalu. Kau masih muda. Kau bisa mulai lagi dari awal.”

Si Kalajengking Biru mengeluh, “Mungkin kau bisa berpikir demikian. Bagaimana dengan yang lain?”

Sahut Li Xun Huan, “Selama hatimu merasa lega, mengapa kau memikirkan apa pandangan orang terhadap dirimu? Kau harus hidup untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain.”

Si Kalajengking Biru menatap Li Xun Huan dan bertanya perlahan, “Apakah kau hidup untuk dirimu sendiri?”

Li Xun Huan tergagap, “A…Aku……”

Si Kalajengking Biru masih terus menatapnya dan seulas senyum muncul di sudut bibirnya. Katanya, “Tidak ada seorang pun yang menyesal bertemu dengan orang seperti engkau. Sayang sekali kita tidak bertemu sepuluh tahun yang lalu.”

Lalu ia pun berlalu.

Terdengar suaranya yang makin menjauh, “Tinggalkan saja tubuh Zhi ZunBao di situ. Aku akan bereskan nanti. Jangan kuatirkan aku. Belum pernah ada yang menguatirkan aku, apapun juga yang kuperbuat.”

Saat kalimatnya selesai ia sudah jauh sekali.

Selama itu LingLing menangis terus, tapi kini ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Ia yang melakukan kesalahan, namun ia malah menimpakan kekesalannya pada diriku. Ia orang yang jahat, tapi ingin pura-pura bertingkah sok berani dan sok pahlawan. Aku benci orang-orang seperti dia.”

Li Xun Huan mendesah dan berkata, “Ia sama sekali tidak seperti itu.”

Kata LingLing, “Kau pikir aku tidak tahu apa yang dia lakukan?”

Sahut Li Xun Huan, “Apapun yang telah dilakukannya, hatinya tetap baik. Selama seseorang memiliki hati yang baik, ia bukan orang jahat.”

LingLing menggigit bibirnya dan berkata, “Kau pasti berpikir bahwa aku bukan main jahatnya, bukan?”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Kau masih anak-anak. Anak seusiamu belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Selama ada yang mau mengajarimu dengan baik mulai sekarang, kau akan menjadi orang baik.”

LingLing mengejapkan matanya lagi, “Maukah kau mengajariku?”

Sahut Li Xun Huan, “Nanti, kalau masih ada kesempatan…”

Kata LingLing, “Nanti? Mengapa tidak sekarang?”

Sahut Li Xun Huan, “Kau tahu bahwa aku harus pergi mencari Guo Song Yang sekarang. Jika aku bisa kembali dalam keadaan hidup…”

LingLing segera memotongnya, “Sesungguhnya, aku tahu bahwa sekali kau pergi dari sini, kau tidak akan pernah kembali. Aku cuma anak-anak. Mengapa orang sepertimu harus peduli terhadap gadis kecil macam aku.”

Ia menyeka matanya dan menlanjutkan, “Lagi pula, sebenarnya kan kita tidak betul-betul kenal. Walaupun aku jadi orang jahat, buat apa kau peduli. Walaupun aku menjadi sepuluh kali lebih jahat daripada Si Kalajengking Biru, bukan juga urusanmu. Walaupun aku mati telentang di jalan, kau pun tak akan sudi menguburkan aku.”

Suaranya makin lama makin sedih. Seolah-olah, jika ia berubah menjadi orang jahat, yang salah adalah Li Xun Huan.

Li Xun Huan hanya bisa tertawa pahit. Katanya, “Aku berjanji aku akan kembali…”

LingLing menutup mata dengan tangannya dan berkata, “Tapi kau begitu sibuk. Waktu kau akhirnya punya waktu untuk datang, aku pasti sudah lama mati.”

Kata Li Xun Huan menenangkannya, “Aku pasti kembali tidak lama lagi…”

Sebelum kalimatnya selesai, LingLing berhenti menangis dan berkata, “Janji? Kapan? Aku akan menunggumu.”

Kata Li Xun Huan, “Jika aku masih hidup, aku akan segera kembali setelah aku bertemu dengan Guo Song Yang.”

LingLing melompat bangun dan tersenyum. Katanya, “Kau benar-benar orang baik. Demi engkau, aku akan berusaha menjadi orang baik juga. Apapun keadaannya, kau tidak boleh bohong padaku. Jika kau berbohong, aku akan jadi jahat lagi.”

Beban Li Xun Huan yang sudah berat, kini bertambah berat lagi.

Membuat LingLing menjadi orang baik ternyata adalah kewajibannya juga. Sekarang ia tidak dapat menolaknya, walaupun ia tidak pasti bagaimana masalah ini bisa tiba-tiba jatuh di pundaknya.

Ia hanya dapat tertawa getir.

Ia sudah menghadapi begitu banyak masalah dalam hidup ini.

Namun hanya ada satu hal dalam benaknya saat ini.

Ia hanya dapat berharap bahwa Guo Song Yang belum bertemu dengan ShangGuan JinHong dan Jin Wu Ming.

Ia hanya dapat berharap bahwa ia tidak terlambat.

Ia belum terlalu terlambat.

—–

Matahari musim gugur belum lagi terbenam di balik pegunungan. Air sungai berkilauan bagai emas di bawah pancaran sinar matahari.

Selembar daun maple mengapung di atas air keemasan itu, bergerak ke hilir sungai, diikuti dengan daun yang kedua, ketiga…sampai seluruh permukaan sungai tertutup oleh dedaunan.

Tapi ini masih musim gugur. Seharusnya daun maple belum gugur.

Mungkinkah ini akibat tenaga pedang Jin Wu Ming dan Guo Song Yang?

Hati Li Xun Huan tercekat, karena ini berarti pertempuran telah dimulai!

Pertempuran ini pastilah suatu pertempuran yang dahsyat dan mencekam.

Guo Song Yang pasti bertarung mati-matian, sampai daun berguguran terkena arus tenaga pedang yang begitu kuat.

Berapa lama lagi ia dapat bertahan?

Li Xun Huan tidak sabar lagi ingin cepat sampai di sana.

Dua per tiga dari dedaunan di hutan itu telah gugur. Hawa pembunuhan begitu tebal, dan daun-daun maple merah yang berhamburan di udara seolah-olah memenuhi angkasa dengan darah.

Apakah pertempuran sudah selesai?

Siapa yang menang?

Secuil bayangan pun tidak tampak dalam hutan itu. Seandainya angin musim gugur bisa bicara, ia pun tidak dapat memberi tahu apa yang Li Xun Huan sungguh ingin tahu. Hanya air yang mengalir yang berseru-seru, seolah-olah menangisi pihak yang kalah.

Jika Guo Song Yang kalah, dimanakah mayatnya?

Daun-daun terus mengalir mengikuti arus sungai.

Kini sang surya telah bersembunyi di balik gunung. Tiba-tiba terlihat olehnya selarik warna merah pada air sungai itu.

Mungkinkah ini adalah darah pihak yang kalah.

Li Xun Huan mengangkat kepalanya, segera ia berlari ke ujung sungai itu. Ia melihat sebuah mata air yang menyemburkan air dari sisi sebuah gunung.

Dekat mata air itu, tampaklah seseorang.

Walaupun mata air itu menyemprotkan air ke arah orang itu, orang itu tidak bergerak dari tempatnya.

Orang itu mengenakan jubah hitam. Ia berbaring tidak bergerak.

Li Xun Huan tercekat, “Guo Song Yang… Suadara Guo…”

Ia melesat terbang menghampiri orang itu. Air menyembur ke arah matanya.

Ia segera melompat turun dan meraba meraih tangan orang itu.

Betul. Orang itu memang Guo Song Yang.

Tubuhnya kini hampir beku karena semprotan air dingin itu, namun tangannya tetap memegang pedangnya, seolah-olah sampai mati pun tak akan dilepaskannya.

Pedang itu adalah pedang yang sangat terkenal, Pedang Besi Puncak Matahari. Sarungnya telah jatuh ke dalam sungai sedangkan pedangnya masih tertancap di batu gunung.

Mengapa ia melakukan ini?

Li Xun Huan memindahkan tubuh itu ke tanah yang kering. Terdengar suara orang berteriak dari kejauhan, “Mengapa ia melakukannya?”

Li Xun Huan tidak perlu menoleh, ia sudah tahu itu adalah suara LingLing. Gadis ini, sungguh luar biasa, telah berhasil membuntutinya.

LingLing bertanya, “Mengapa ia menggantung dirinya seperti itu? Apakah ia takut kau tidak dapat menemukan dia? Apakah dia kepingin mandi?”

Li Xun Huan mendesah, “Jika seseorang masuk ke dalam dunia dalam keadaan bersih, mengapa ia tidak boleh pergi dalam keadaan bersih juga?”

“Apa maksudmu?”

Sahut Li Xun Huan, “Ia tidak ingin dikubur atau dibawa pergi.”

Tanya LingLing, “Kenapa? Apakah ia menunggumu?”

“Tepat sekali.”

Tanya LingLing lagi, “Mengapa harus menunggumu? Ia kan sudah mati.”

Sahut Li Xun Huan, “Karena ia ingin memberitahukan sesuatu padaku.”

LingLing terkesiap. Kemudian ia berkata, “Kau bilang… Kau bilang ia ingin mengatakan sesuatu padamu?”

“Betul.”

“Apakah kau tahu apa yang ingin ia katakan?”

“Ya.”

LingLing semaking bingung, “Ia sudah mengatakannya?”

“Ya.”

“Ta…Tapi waktu kau sampai, dia kan sudah mati.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: