Kumpulan Cerita Silat

14/12/2008

Pisau Terbang Li (44)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 11:45 am

Selamat dari Kematian

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Lemari itu gelap dan pengap. Orang lain mungkin akan jadi gila menghadapi situasi seperti ini. Orang-orang yang datang kelihatannya mempunyai maksud buruk. Kalau tidak, mereka tidak mungkin mendorong LingLing seperti itu.

Namun Li Xun Huan tetap tenang.

Ia tersenyum dalam hati.

Ia teringat hari dia pertama kali datang ke sini, waktu LingLing mengatainya sebagai seorang perampok. Gadis muda ini mungkin tidak pernah belajar di sekolah, namun kepandaiannya berbohong sepertinya sudah setaraf dengan Lin Xian Er.

Namun kedua tamu itu tidak mempedulikan si gadis sama sekali. Mereka berjalan menjelajahi dua kamar di depan, sepertinya mereka sedang mencari sesuatu. Lalu mereka masuk ke dalam kamar tempat Li Xun Huan berada.

LingLing segera menghalangi langkah mereka dan berteriak, “Ini adalah kamar pribadi Nonaku. Kalian tidak boleh sembarangan masuk.”

Sahut salah seorang tamu, “Tapi kamu datang untuk menemui Nonamu.”

Suara ini sangat halus, sangat empuk, bahkan mengandung seulas senyum.

Suara seorang wanita!

Li Xun Huan terkesiap.

Terdengar LingLing berkata, “Kalau memang demikian, apakah kalian betul-betul mengenalnya?”

Sahut wanita itu, “Tentu saja…kami bersahabat akrab.”

Kata LingLing, “Kalau begitu, mengapa kalian tidak bilang dari tadi. Aku kira kalian adalah perampok.”

Si wanita terkekeh, katanya, “Apakah kami kelihatan seperti perampok?”

Sahut LingLing, “Aku tidak tahu tentang kalian berdua. Tapi perampok zaman sekarang berbeda dengan dulu. Beberapa bahkan lebih sopan dan lebih mentereng daripada kalian berdua. Sekarang ini, kita tidak bisa lagi menilai seseorang dari penampilannya.”

Sebelum si wanita menjawab, suara yang lain berkata, “Di mana Nonamu? Bisakah kau memintanya untuk keluar?”

Suara ini rendah dan sedikit serak, namun cukup merdu juga. Li Xun Huan merasa pernah mendengar suara ini, namun ia tidak bisa mengingat siapa pemiliknya.

Jawab LingLing, “Aku sungguh mohon maaf, namun Nona sudah pergi beberapa hari yang lalu. Aku disuruhnya tinggal untuk menjaga rumah. Jika kalian mau meninggalkan pesan, aku akan menyampaikannya kepada Nona.”

Si wanita bertanya, “Kapan ia kembali?”

Sahut LingLing, “Mmmm, aku tidak tahu… Jika Nona tidak memberi tahu, aku takut untuk bertanya.”

Wanita yang lain mendengus dan berkata sinis, “Enak betul. Ia ada di sini setiap hari, kecuali di hari kita datang. Apakah dia bersembunyi dari kita?”

Kata-kata ini membuktikan bahwa mereka memang datang untuk cari gara-gara.

LingLing tetap tersenyum, katanya, “Jika kalian berdua adalah sahabat Nona, beliau pasti akan senang untuk bertemu. Mengapa harus bersembunyi?”

Kata wanita itu dengan tersenyum, “Ada orang yang bersedia menemui siapa saja kecuali sahabatnya. Tidakkah itu aneh?”

Wanita yang lain berkata dengan dingin, “Mungkin karena ia terlalu banyak berbuat salah terhadap sahabat-sahabatnya.”

LingLing masih tersenyum, “Kalian berdua bicara yang aneh-aneh. Tempat ini sangat kecil. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.”

Kata si wanita, “O ya? Walaupun aku tidak mengenal seluk-beluk rumah ini, aku bisa saja menemukan ruang rahasia tempat bersembunyi di sini.”

Kata LingLing, “Ya mungkin, jika kau dapat bersembunyi di lemari sana.”

Lalu ia tertawa dan menambahkan, “Namun jika ada yang bersembunyi di dalam lemari, kurasa ia akan mati tidak bisa bernafas.”

Si wanita juga tertawa dan berkata, “Benar juga. Nonamu sangat mengutamakan kenyamanan. Ia tidak mungkin tahan duduk dalam lemari itu…”

Kedua wanita itu tertawa licik.

Setelah cukup lama, si wanita bertanya, “Jika Nonamu tidak ada dalam lemari itu, siapa yang ada di sana sekarang?”

Sahut LingLing terbelalak, “Apa? Ada orang dalam lemari? Bagaimana aku bisa tidak tahu?”

Tanya si wanita lagi, “Jika tidak ada siapa-siapa dalam lemari, mengapa engkau menghalanginya? Apakah kau kuatir kami akan mengintip baju-baju Nonamu?”

Kata LingLing, “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak menghalangi apa pun…”

Si wanita berkata, “Adik kecil, kau memang pandai bicara, tapi kau masih sangat muda. Kau belum cukup umur untuk menipu dua rubah macam kami.”

Bersembunyi di dalam lemari pakaian bukanlah hal yang dapat dibanggakan. Li Xun Huan sungguh tidak tahu bagaimana reaksi kedua wanita ini saat menemukannya.

Ia pun belum tahu siapa mereka.

Suara wanita yang pertama, halus dan lembut, namun kata-katanya menusuk seperti jarum. Sudah pasti, sulit untuk menghadapinya.

Wanita yang satu lagi tidak bicara banyak, namun dengan kata-katanya yang jarang ia ingin cari gara-gara. Sepertinya ia punya kebencian terhadap Lin Xian Er.

Ilmu silat keduanya setidaknya setanding dengan Lin Xian Er.

Terdengar LingLing memekik dan pintu lemari pun terbuka.

Li Xun Huan memejamkan matanya, berharap kedua wanita ini tidak mengenalnya.

Si wanita pun tidak dapat mempercayai penglihatannya. Ia tidak menyangka bahwa yang di dalam lemari adalah seorang laki-laki. Ia tertegun.

Lalu ia tersenyum dan berkata, “Adik kecil, siapa laki-laki ini? Apakah dia sedang tidur?”

Kata LingLing tergagap, “Ia… Ia adalah saudara sepupuku.”

Si wanita tergelak, katanya, “Oh, betapa lucunya! Kau tahu, waktu aku masih muda, aku pun sering menyembunyikan kekasihku di dalam lemari. Suatu hari, aku kepergok, dan aku pun mengatakan bahwa ia adalah saudara sepupuku!”

Lalu ia pun menambahkan, “Gadis kecil ini luar biasa. Lebih hebat daripada kita.”

Wanita yang lain terdiam cukup lama. Akhirnya ia berkata, “Lin Xian Er tidak ada di sini. Mari kita pulang saja.”

Si wanita menyahut, “Mengapa terburu-buru. Kita kan sudah ada di sini. Kenapa kita tidak bersantai dulu sejenak?”

Waktu pintu lemari dibuka, Li Xun Huan mencium bau harum semerbak. Kini keharuman itu makin kental, yang artinya wanita itu semakin dekat dengan dia.

Si wanita kemudian berkata, “Adik kecil, kau mungkin masih muda, namun pandanganmu terhadap pria ternyata baik sekali.”

Sahut LingLing, “Tidak ada banyak pria di sekitar sini, dan Nona mengambil yang bagus-bagus. Aku harus puas dengan dia.”

Tanya si wanita, “Maksudmu kau tidak puas dengan dia? Lihat orang ini. Ia tidak terlalu gemuk, tidak terlalu kurus. Wajahnya pun cukup ganteng, dan kelihatannya ia cukup berpengalaman dengan wanita.”

Kata LingLing, “Yah, lumayanlah. Tapi kelemahannya adalah bahwa dia terlalu banyak tidur.”

Sahut si wanita sambil tersenyum nakal, “Mungkin karena ia terlalu lelah…Bagaimana mungkin dia tidak lelah setelah berjumpa dengan setan kecil sepertimu?”

Kata LingLing lagi, “Ia juga sudah tua.”

Kata si wanita, “Betul. Ia memang terlalu tua untukmu. Tapi cocok sekali untukku.”

Tambahnya, “Jika adik kecil tak suka padanya, kau boleh memberikannya untukku. Aku berjanji akan memberimu seorang pria yang lebih muda dalam satu dua hari ini.”

Wanita itu sebelumnya tampak sopan, namun setelah melihat Li Xun Huan kelakuannya berubah total. Sambil berbicara, ia sudah mengangkat tubuh Li Xun Huan.

Saat itu Li Xun Huan harus membuka matanya.

Waktu ia melihat, ia sungguh terperanjat.

Wanita itu belum tua, mungkin 25 atau 26 tahun. Ia pun tidak jelek. Sebenarnya jika ada orang yang membelahnya menjadi tiga bagian, ia akan menjadi tiga wanita cantik.

Sayangnya ia juga berdagu tiga lapis. Berada dalam pelukannya, Li Xun Huan serasa tidur di atas kasur kapuk.

Ia tidak dapat percaya bahwa seorang wanita dengan tawa yang begitu menggiurkan dan suara yang begitu merdu adalah seorang wanita yang sangat gendut.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah wanita yang satu lagi.

Wanita itu pun sangat cantik. Pinggangnya amat ramping, dan mengenakan pakaian ketat berwarna biru. Lengan bajunya amat lebar. Ia hanya berdiri mematung, namun karismanya bagai seorang dewi.

Ia bukan lain daripada orang yang dipatahkan pergelangan tangannya oleh Li Xun Huan, Si Kalajengking Biru!

Anehnya, Si Kalajengking Biru seperti tidak mengenali Li Xun Huan. Wajahnya tenang. Ia bahkan tidak sering-sering memandang ke arah Li Xun Huan.

Si wanita gendut terus tertawa. Tiap kali, seakan-akan Li Xun Huan merasa ada gempa bumi.

LingLing mulai kebingungan. Katanya, “Tapi orang ini kotor. Berbulan-bulan ia tidak mandi. Kau seharusnya tidak menyentuh dia, bisa kena kutu nanti.”

Sahut si wanita gendut, “Kotor? Sudah pasti tidak. Lagi pula, tidak ada masalah sekalipun ia berkutu. Malah membuatnya makin jantan.”

Kata LingLing, “Tapi…ia juga seorang pemabuk.”

Kata si wanita gendut, “Lebih baik lagi. Seorang pria bukan pria sejati kalau ia tidak bisa minum.”

Ia mengedip genit ke arah Li Xun Huan dan berbisik, “Sebentar lagi kau akan tahu kehebatanku.”

LingLing mulai tertawa. Tawanya sungguh nyaring.

Mata si wanita gendut melebar, tanyanya, “Mengapa kau tertawa?”

Jawab LingLing, “Aku menertawakan kebodohanmu. Aku tidak sangka kau mau menyentuhnya.”

Kata si wanita gendut, “Apa istimewanya dia?”

Tanya LingLing, “Tahukah kau siapa dia?”

Si wanita gendut balas bertanya, “Tahukah kau siapa aku?”

Sahut LingLing, “Sudah pasti kau bukan saudara sepupunya.”

Si wanita gendut tidak menggubrisnya, “Pernahkah kau dengan nama Nyonya Budha Bahagia? Aku adalah muridnya, Zhi ZunBao. Kepandaianku yang teristimewa adalah makan laki-laki.”

Kata LingLing, “Jika kau memakannya, dia akan nyangkut di tenggorokanmu dan kau tidak akan bisa mengeluarkannya lagi.”

Sahut Zhi ZunBao, “Tulang pun tidak pernah kuludahkan saat makan laki-laki.”

LingLing mengejapkan matanya, katanya, “Kau tidak ingin tahu siapa dia?”

Jawab Zhi ZunBao, “Jika aku ingin tahu, aku akan bertanya padanya. Kau tidak perlu kuatir. Lagi pula…selama dia adalah laki-laki, aku pasti puas.”

Lalu ia memandang ke arah Si Kalajengking Biru, katanya, “Tolonglah aku menyingkirkan gadis kecil ini. Tempat ini cukup bagus dan aku cuma ingin pinjam sebentar. Jangan ngintip ya.”

Tubuh Li Xun Huan merinding. Ia ingin muntah, tapi tidak bisa. Ia ingin mati, namun tidak dapat. Satu-satunya harapannya adalah supaya Si Kalajengking Biru menuntut balas sekarang juga dan memberinya kematian yang cepat.

Namun mengapa Si Kalajengking Biru berbuat seolah-olah tidak mengenalnya? Ia hanya berdiri di sana, meliriknya pun tidak. Tapi saat itu Si Kalajengking Biru berkata, “Aku juga menginginkannya.”

Wajah Zhi ZunBao tertertekuk dan berseru, “Apa? Apa kau bilang?”

Wajah Si Kalajengking Biru tetap tenang. Katanya, “Aku menginginkan lelaki itu!”

Zhi ZunBao memandangnya dengan tatapan ingin membunuh. Bentaknya, “Berani kau mengambilnya dariku?”

Sahut Si Kalajengking Biru, “Ya.”

Wajah Zhi ZunBao berubah hijau, lalu memucat. Ia tersenyum keji dan berkata, “Jika kau menginginkannya juga, bisa kita bicarakan.”

Kata Si Kalajengking Biru, “Aku tidak ingin tubuhnya, aku ingin nyawanya!”

Zhi ZunBao tersenyum lega, “Ah, itu lebih mudah lagi dibicarakan. Aku ambil badannya dulu, baru kau ambil nyawanya.”

Sahut Si Kalajengking Biru, “Aku ambil nyawanya dulu, baru kau ambil tubuhnya.”

Meluap amarah Zhi ZunBao, namun ia tetap berusaha berdamai, “Aku memang sangat suka laki-laki, namun aku tidak suka laki-laki mati.”

Kata Si Kalajengking Biru, “Saat ini, ia tidak jauh berbeda daripada orang mati.”

Kata Zhi ZunBao, “Ia tidak bisa bergerak karena jalan darahnya tertutup. Yang pasti, aku bisa membuatnya bergerak lagi.”

Kata Si Kalajengking Biru, “Kalau ia sudah bisa bergerak, aku tidak bisa lagi mencabut nyawanya.”

LingLing menyela sambil tersenyum, “Betul sekali. Kalau ia sudah bisa bergerak, ia hanya perlu menggerakkan tangannya dan kalian berdua akan mati.”

Tanya Zhi ZunBao, “Siapa sih orang ini?”

Jawab LingLing, “Si Pisau Terbang Li Kecil.”

Zhi ZunBao terkesiap. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak percaya. Kalau ia memang betul Li Xun Huan, mana mungkin ia mencintaimu?”

Sahut LingLing, “Ia memang tidak mencintaiku. Akulah yang mencintainya. Oleh sebab itu aku ingin kau membunuhnya.”

Zhi Zun Bao tidak mengerti, “Kenapa?”

Jawab LingLing, “Nonaku bilang bahwa jika aku jatuh cinta pada seseorang dan ia tidak balas mencintaiku, lebih baik laki-laki itu mati daripada ia jatuh ke tangan wanita lain.”

Zhi ZunBao mendesah, “Aku tidak menyangka bahwa kau lebih berbisa daripada aku.”

Tanya LingLing, “Jadi kau masih menginginkan tubuhnya? Kau berani?”

Zhi ZunBao tidak bergeming, hatinya sudah mantap, “Jika aku dapat melewatkan semalam saja dengan laki-laki seperti Li Xun Huan, aku akan mati berbahagia.”

Ia lalu menoleh ke arah Si Kalajengking Biru dan menambahkan, “Jangan kuatir. Kujamin kau tetap bisa mengambil nyawanya setelah kunikmati tubuhnya.”

Si Kalajengking Biru diam saja.

Kata Zhi ZunBao, “Jangan lupa, aku awalnya datang ke sini untuk membantumu. Berilah sedikit muka padaku.”

Si Kalajengking Biru terdiam sesaat sebelum berkata, “Apakah kau masih menginginkan laki-laki bertangan buntung?”

Kata Zhi ZunBao senang, “Tangan buntung sih tidak apa-apa, asalkan bagian yang lain itu masih utuh.”

“Kalau begitu aku ingin satu tangannya.”

Zhi ZunBao berpikir sejenak dan bertanya, “Tangan yang mana?”

Sahut Si Kalajengking Biru, “Ia menebas tangan kananku, jadi aku juga menginginkan tangan kanannya.”

Zhi ZunBao mendesah dan berkata, “Baiklah. Cepat kau kerjakan dan jangan buat kotor.”

Sahut Si Kalajengking Biru, “Baik.”

Ia berjalan perlahan-lahan ke arah mereka. Matanya berbinar-binar.

LingLing berseru, “Kau sungguh tidak takut padanya?”

Kata Zhi ZunBao dengan lembut, “Adik kecil, kalau kau tidak mau dia menderita….”

Ia tidak menyelesaikan perkataannya.

Sekelebat cahaya biru telah keluar dari lengan baju Si Kalajengking Biru, terarah pada tangan kanan Li Xun Huan.

Terdengar jeritan yang segera berhenti.

Tubuh Li Xun Huan terhempas ke tanah.

Tidak disangka-sangka, jeritan itu keluar dari mulut Zhi ZunBao.

Di tengah-tengah jeritannya, ia melepaskan Li Xun Huan dari pelukannya dan balas menyerang Si Kalajengking Biru.

Si Kalajengking Biru cepat meliukkan pinggangnya dan menghindar.

Walaupun pinggang Zhi ZunBao lebih besar dari gentong air, ternyata ia sangat lentur. Ia segera mengubah arah serangannya dan merenggut tangan Si Kalajengking Biru.

Wajah Si Kalajengking Biru menjadi pucat pasi.

Wajah Zhi ZunBao menjadi hijau karena marah, terlihat sangat jelek. Ia mengertakkan giginya sambil berkata, “Kau… Kau punya nyali menyerangku? Kubunuh kau!”

Dengan suara gemeretak ia menarik lepas tangan Si Kalajengking Biru beserta dengan lengan bajunya.

Si Kalajengking Biru mundur beberapa langkah. Anehnya, ia sama sekali tidak tampak kesakitan.

Zhi ZunBao telah mengoyakkan tangan kanannya.

Si Kalajengking Biru malah tertawa. Katanya, “Lihatlah apa yang kau pegang di tanganmu.”

Zhi Zun Bao melihat ke dalam tangannya dan terlihatlah ekor kalajengking di pergelangan tangan itu, tersembunyi di balik lengan bajunya yang longgar.”

Kata Si Kalajengking Biru lagi, “Tidak ada seorang pun yang dapat berjalan lebih dari tujuh langkah setelah terkena ekor kalajengkingku. Kau lebih besar dari orang biasa, jadi mungkin racunnya tidak akan menyebar begitu cepat. Tapi aku ragu kalau kau berjalan lebih dari tiga langkah.”

Zhi ZunBao mengaum dan menyeruduk ingin menyerang Si Kalajengking Biru.

Tiga langkah ia berjalan dan ia pun rebah jatuh ke tanah.

Si Kalajengking Biru tidak meliriknya sedikitpun. Ia malah menoleh ke arah Li Xun Huan. Ia menatap Li Xun Huan dengan pandangan kosong sampai cukup lama. Lalu katanya, “Yi Ku mati karena ia datang menemui Lin Xian Er. Aku datang untuk menyelesaikannya dengan Lin Xian Er. Tidak ada hubungannya denganmu sedikitpun.”

LingLing memotong cepat, “Kalau kau ingin dia bicara, mengapa tak kau buka jalan darahnya.”

Si Kalajengking Biru tidak menggubris gadis itu dan melanjutkan, “Walaupun kau membuat tangan kananku cacad, setidaknya kau menyayangkan nyawaku. Aku selalu membalas budi. Oleh sebab itu aku tidak tahan melihatmu akan diganyang oleh babi gendut itu.”

Li Xun Huan mengeluh dalam hati. Ia baru tahu bahwa Si Kalajengking Biru adalah orang seperti ini.

Si Kalajengking Biru berkata dingin, “Sekarang aku telah membalas budimu dan tiba saatnya menuntut hakku. Tidak berlebihan jika sekarang aku menginginkan tangan kananmu, bukan?”

Li Xun Huan tersenyum, dan diangkatnya tangannya.

Si Kalajengking Biru tertegun, demikian pula LingLing.

Tangan Li Xun Huan sudah bisa bergerak! Namun pisau terbangnya tidak ada di sana!

Melihat tangan itu teracung, apa yang bisa diucapkan Si Kalajengking Biru?

Li Xun Huan tersenyum pahit. Katanya, “Aku berusaha membuka jalan darahku dengan tenaga dalam. Sayangnya, kemampuanku tidak cukup untuk membuka halangan yang terakhir. Siapa sangka waktu aku terjatuh, halangan itu malah terbuka, sehingga aku dapat bergerak lagi.”

Kata LingLing kesal, “Mengapa kau begitu penurut? Mengapa kau ulurkan tanganmu begitu saja waktu ia memintanya? Mengapa tak sekalian saja kau berikan pisau untuk memotongnya?”

Wajah Li Xun Huan muram. Ia tidak menghiraukan LingLing dan berkata pada Si Kalajengking Biru, “Nona Biru, permintaanmu sama sekali tidak berlebihan. Ini, ambillah.”

Si Kalajengking Biru terdiam, lama berpikir, lalu mendesah. Katanya, “Ada ya orang seperti ini dalam dunia…”

Dua kali diulangnya kalimat yang sama. Lalu ia memutar badannya dan berjalan pergi.

Saat itu, tiba-tiba Li Xun Huan melompat dengan sigap dan menghadangnya, katanya, “Tolong tunggu sebentar.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: