Kumpulan Cerita Silat

12/12/2008

Pisau Terbang Li (42)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 11:42 am

Dengki

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Kamar itu luas dan seprai di kasur itu baru saja diganti, sangat bersih. Teko the mulus tanpa cacad dan cawan pun bersih mengkilap.

Lin Xian Er duduk di atas ranjang, menisik jubah seorang pria. Ia tidak begitu mahir memainkan jarum seperti ia memainkan pedang, sehingga beberapa kali jarinya tertusuk.

Ah Fei berdiri dekat jendela, memandangi bulan sambil berpikir-pikir.

Lin Xian Er memasang kancing di jubah itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Aku sungguh tidak bisa kerasan tinggal di penginapan. Kamar yang terbaik pun terasa seperti sangkar burung. Setiap aku masuk, aku merasa mual.”

Ah Fei menyahut pendek, “Yah.”

Kata Lin Xian Er, “Katanya memang tidak ada tempat seperti rumah sendiri. Kau setuju?”

“Yah.”

Mata Lin Xian Er berputar, katanya lagi, “Kau tidak senang aku memaksamu pergi dari rumah kita itu, bukan?”

“Tidak.”

Lin Xian Er mengeluh dan berkata, “Aku tahu Li Xun Huan memang sahabatmu. Aku pun gembira bahwa kau dapat memiliki sahabat seperti dia. Tapi kita kan sudah sepakat untuk mulai dari awal, jadi kita harus menjauhi dia. Orang seperti dia hanya menyebarkan kesedihan dan persoalan ke manapun ia pergi.”

Lalu ia melanjutkan dengan lembut, “Kita juga sudah bersepakat tak akan melibatkan diri dari persoalan lagi, bukan?”

Ah Fei menjawab, “Ya.”

Kata Lin Xian Er, “Lagi pula, walaupun ia memang sahabat yang bisa diandalkan, ia adalah seorang pemabuk, dan dia punya penyakit yang menyebalkan, yang mungkin dia sendiri tidak menyadarinya.”

Ia mendesah dan sambungnya, “Oleh sebab itu dia sampai menerjang pintu kamarku untuk mencoba memaksaku…”

Ah Fei segera menoleh dan memandanginya. Katanya, “Jangan bicara soal ini lagi!”

Lin Xian Er tersenyum penuh pengertian dan berkata, “Aku sudah memaafkannya, karena ia adalah sahabatmu.”

Wajah Ah Fei memucat dan kelihatan sangat muram. Katanya, “Aku tidak punya sahabat…hanya kau seorang.”

Lin Xian Er segera bangkit dan menggenggam tangan Ah Fei, lalu ditariknya perlahan sampai Ah Fei duduk di dekatnya. Katanya dengan mesra, “Kau pun adalah satu-satunya pria dalam hidupku.”

Pipinya menyentuh pipi Ah Fei dan ia melanjutkan, “Aku hanya membutuhkanmu. Selain engkau, aku tidak butuh apapun juga.”

Ah Fei merengkuhnya dan memeluknya erat-erat.

Kata Lin Xian Er, “Mengapa kau tidak mau menikahi aku, supaya semua orang tahu bahwa aku adalah istrimu? Apa yang kau kuatirkan? Tidak maukah kau mengampuni kesalahanku di masa lalu? Apakah kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku?”

Kepedihan yang dalam tergambar pada wajah Ah Fei. Ia melepaskan pelukannya.

Namun Lin Xian Er masih memeluknya erat-erat.

Kini Ah Fei berbaring di ranjang, ia sudah berada di ambang kehancuran.

Hatinya penuh dengan kebencian, juga kesedihan.

Ia benci pada dirinya sendiri, karena tidak seharusnya ia berbuat seperti ini. Namun ia tidak bisa melepaskan diri. Kadang-kadang ia berpikir lebih baik mati, namun sungguh ia tidak dapat meninggalkan wanita itu.

Lin Xian Er menyisir rambutnya di depan cermin. Pipinya merah, matanya yang besar dan bercahaya kelihatan sangat menenangkan.

Ia dapat melakukannya dengan siapapun, kecuali dengan Ah Fei.

Senyum kecil tersungging di sudut bibir Lin Xian Er. Senyum itu memang sangat cantik, namun juga sangat kejam. Ia memang gemar menyiksa laki-laki. Tidak ada sesuatupun yang dapat membuatnya lebih berbahagia.

Saat itu, terdengar gedoran dari luar pintu.

Terdengar suara berseru lantang, “Buka pintu. Aku tahu kau di dalam. Aku sudah melihatmu.”

Ah Fei segera bangkit dan berteriak, “Siapa itu?”

Belum habis kalimatnya, seseorang sudah menerjang masuk.

Ia menuding Lin Xian Er dan tertawa seperti orang gila, “Walaupun kau pura-pura tidak melihatku, aku melihatmu. Kau pikir kau dapat meninggalkanku begitu saja?”

Wajah Lin Xian Er terlihat tenang. Ia hanya menjawab, “Siapakah engkau? Aku tidak mengenalimu.”

Pemuda itu tertawa lagi, “Kau tidak mengenaliku? Kau sungguh-sungguh tidak mengenaliku? Apa kau sudah lupa malam itu? Bagus sekali, aku sudah menghabiskan seluruh waktuku menulis surat untukmu, dan kini kau bilang tidak mengenalku?”

Ia menyeruduk ke arah Lin Xian Er, hendak merengkuhnya dan berkata, “Tapi aku masih mengenalmu. Aku tak akan pernah melupakanmu…”

Lin Xian Er tentu saja tidak akan membiarkan dirinya direngkuh oleh pemuda itu dan segera menghindar ke samping. Ia berseru ketakutan, “Orang ini mabuk. Dia sudah gila!”

Kembali pemuda itu berusaha menggapai Lin Xian Er, namun Ah Fei sudah menghalangi jalannya. Bentaknya, “Keluar kau!”

Kata pemuda itu, “Siapa kau? Apa hakmu menyuruh aku pergi? Kau ingin membuatnya senang, bukan? Kuberi tahu kau baik-baik, suatu hari nanti ia juga akan melupakanmu, sama seperti ia melupakanku.”

Tiba-tiba pemuda itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Siapapun yang menyangka wanita ini mencintai dia adalah seorang tolol…tolol luar biasa… Wanita ini sudah pernah dimiliki oleh ratusan laki-laki…”

Sebelum kalimatnya selesai, tinju Ah Fei sudah melayang!

‘Bam’, tubuh pemuda itu pun terpental ke luar jendela dan terjerembab di halaman depan.

Lin Xian Er menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Katanya di sela-sela tangisannya, “Apa kesalahanku? Mengapa orang-orang ini memfitnahku seperti ini? Mereka ingin menyakitiku sampai…”

Ah Fei mendesah dan memeluknya dengan hangat, “Selama masih ada aku, kau tidak perlu takut.”

Sampai cukup lama, akhirnya Lin Xian Er berhenti menangis. Ia berbisik, “Untungnya kau ada di sini. Selama kau berada di sisiku, aku tidak peduli apa kata orang lain.”

Mata Ah Fei berapi-api dan giginya gemeletuk, “Lain kali, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu!”

Tanya Lin Xian Er, “Siapapun?”

“Ya. Siapapun.”

Lin Xian Er tersenyum puas dan memeluknya makin erat.

Namun matanya tertuju pada seseorang yang lain. Tidak ada kesedihan di matanya, hanya ada kepuasan dan kebahagiaan.

Orang itu pun menatapnya balik.

Ia berdiri tepat di samping si pemuda yang baru saja jatuh terjengkang.

Ia kurus jangkung, dan sebilah pedang terselip di pinggangnya!

Penerangan di halaman depan hanya remang-remang. Yang terlihat hanya bekas luka di wajahnya.

Tentu saja, yang paling mengerikan adalah matanya.

Mata itu kelabu, tidak berperasaan, tidak tampak cahaya kehidupan.

Ia menatap Lin Xian Er dingin dan menganggukkan kepalanya perlahan. Ia memutar badannya dan berjalan pergi ke arah kamar-kamar di sebelah selatan.

Setelah beberapa saat, beberapa orang datang dan menggotong pemuda itu pergi.

Kini Lin Xian Er sudah berhenti menangis sama sekali.

Malam pun bertambah larut.

Ah Fei sudah terlelap di ranjang. Ia tertidur segera setelah ia minum teh yang diberikan oleh Lin Xian Er.

Halaman depan sunyi senyap, hanya suara angin yang terdengar.

Lalu pintu pun terbuka.

Ia keluar dari kamar tanpa suara dan terus menyeberangi halaman, menuju ke arah kamar di bagian selatan.

Hanya ada satu kamar di sini yang masih terang.

Lin Xian Er mengetuk pintu kamar itu.

Terdengar suara yang berat dan serak dari dalam, “Pintunya tidak dikunci.”

Lin Xian Er mendorong pintu itu pelan dan pintu itu pun terbuka.

Orang itu adalah orang yang sama yang menatapnya tadi. Ia duduk di situ, tidak bergerak seperti patung.

Lin Xian Er mendekat dan kini mata orang itu terlihat jelas.

Pupil matanya sangat besar, sehingga walaupun ia memandang seseorang, sepertinya ia sedang memandang yang lain. Namun bila ia sedang melihat yang lain, sepertinya ia sedang memandangmu.

Mata itu suram dan tidak tajam, namun sepertinya ada daya tarik kuasa gelap di sana. Bahkan Lin Xian Er merinding sedikit waktu melihatnya.

Namun di wajahnya, senyum terlukis dengan manis.

Semakin menakutkan orang yang dilihatnya, semakin polos senyumannya. Ini adalah senjata yang pertama dan utama melawan laki-laki. Dan keahliannya ini sudah mendekati kesempurnaan.

Katanya sambil tersenyum, “Ah, jadi kau adalah Tuan Jin?”

Jin Wu Ming menatapnya lekat-lekat. Ia tidak menjawab, tidak juga bergerak sedikitpun.

Senyum Lin Xian Er makin memikat, katanya, “Aku sudah mendengar ketenaran Tuan Jin sejak lama.”

Jin Wu Ming hanya terus menatapnya dingin. Di matanya, wanita tercantik sedunia tidak ada bedanya dengan seonggok kayu bakar.

Jin Wu Ming tiba-tiba menyela, “Kau harus ingat aturan berbicara denganku.”

Sahut Lin Xian Er, “Tuan Jin tinggal bilang, dan aku akan patuh.”

Kata Jin Wu Ming, “Aku hanya bertanya, dan aku tidak pernah menjawab. Mengerti?”

Sahut Lin Xian Er, “Aku mengerti.”

Kata Jin Wu Ming lagi, “Namun jika aku bertanya, jawabannya harus segera tersedia. Jawaban yang jelas dan sederhana. Aku tidak ingin dengar segala tetek-bengek.”

“Aku mengerti.”

Tanya Jin Wu Ming, “Jadi kaulah Lin Xian Er?”

“Ya.”

“Kau ingin menemuiku di sini?”

“Ya.”

“Kau sudah menemukan Li Xun Huan bagi kami?”

“Ya.”

“Mengapa kau melakukan ini?”

Sahut Lin Xian Er, “Aku tahu bahwa Ketua Partai, ShangGuan JinHong, ingin bertemu dengan Li Xun Huan, karena Li Xun Huan suka sekali ikut campur urusan orang.”

Tanya Jin Wu Ming, “Kau ingin membantu kami?”

“Ya.”

Mata Jin Wu Ming menyipit dan membentak, “Mengapa kau ingin membantu kami?”

Lin Xian Er menjawab tenang, “Karena aku benci Li Xun Huan. Aku ingin dia mati!”

“Mengapa tak kau bunuh dia?”

Lin Xian Er mendesah, sahutnya, “Karena aku tidak sanggup. Aku tidak bisa berpikir waktu aku berdiri di depannya, karena matanya dapat menembus pikiranku. Dan satu pisaunya dapat merenggut banyak jiwa.”

Tanya Jin Wu Ming, “Apa benar pisaunya begitu hebat?”

Lin Xian Er mendesah lagi. Katanya, “Pisau itu lebih mengerikan dari cerita orang. Siapapun yang bermaksud membunuhnya, malah mati di tangannya. Selain Tuan Jin dan Ketua ShangGuan, tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang sanggup membunuhnya!”

Lin Xian Er mengangkat wajahnya dan berkata dengan lembut, “Walaupun aku belum pernah melihat ilmu pedang Tuan Jin, aku sudah dapat membayangkan kehebatannya.”

Tanya Jin Wu Ming, “Bagaimana kau bisa membayangkan hal seperti itu?”

Sahut Lin Xian Er, “Dari pembawaan dan ketenanganmu. Walaupun aku bukan ahli pedang, aku tahu bahwa ketika pesilat tangguh bertempur, kecepatan dan perubahan gerak bukanlah faktor yang terpenting. Faktor penentunya adalah ketenangannya.”

“Kenapa?”

“Karena antara ilmu pedang yang satu dengan yang lain variasinya tidak begitu banyak. Begitu pula dengan kecepatan. Tidak banyak perbedaannya di antara para pesilat tangguh. Jadi siapa yang bisa tetap tenang selama pertempuran dan dapat melihat kelemahan lawan, dialah pemenangnya.”

Lin Xian Er memang luar biasa.

Inilah senjatanya yang ketiga dalam menghadapi laki-laki.

Ia tahu setiap laki-laki suka disanjung, terutama oleh wanita. Pujian dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk memenangkan hati laki-laki.

Wajah Jin Wu Ming masih tetap kosong. Tanyanya, “Kau menentukan pertemuannya pada tanggal satu bulan sepuluh?”

Sahut Lin Xian Er, “Ya, karena aku tahu bahwa Tuan Jin dan Ketua ShangGuan bisa berada di sana saat itu.”

Tanya Jin Wu Ming, “Bagaimana kau bisa pasti kalau Li Xun Huan akan datang?”

Jawab Lin Xian Er, “Karena aku tahu ia sudah menerima suratnya. Jika ia sudah membacanya, ia pasti akan berada di sana.”

“Kau sangat pasti?”

Kata Lin Xian Er, “Ia tidak takut mati, karena ia memang tidak dapat hidup lebih lama lagi.”

Senyumnya langsung lenyap dan lanjutnya, “Namun karena ia hampir mati, Li Xun Huan menjadi sangat berbahaya. Walaupun ilmu silatmu ada di atasnya, kau tetap harus berhati-hati. Ia bisa bertarung mati-matian.”

Tatapannya sungguh menguatirkan Jin Wu Ming. Ini adalah senjata keempat.

Jika seorang wanita cantik dapat memanfaatkan keempat senjata ini dengan baik, maka 99% laki-laki akan merangkak di kakinya.

Sayangnya, bukan laki-laki biasa. Karena ia bukan laki-laki, bukan pula manusia!

Tapi masih ada satu lagi senjata Lin Xian Er.

Ini adalah senjata terakhir yang dimiliki setiap wanita dari zaman purba. Kadang-kadang hanya senjata inilah yang dapat mengendalikan laki-laki.

Apakah akan berhasil terhadap Jin Wu Ming?

Lin Xian Er sedikit ragu.

Kalau ia tidak yakin, ia tidak akan menggunakan senjata ini.

Kata Jin Wu Ming, “Kau sudah selesai mengoceh?”

“Ya.”

Jin Wu Ming bangkit berdiri dan berjalan ke tepi meja. Wajahnya memandang ke arah lain.

Lin Xian Er tersenyum pahit dan berkata, “Jika Tuan Jin tidak ada perintah lain, aku pamit sekarang saja.”

Jin Wu Ming tidak menggubrisnya. Ia mengeluarkan sebutir pil dan menelannya dengan teh.

Lin Xian Er tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa kembali ke kamarnya.

Sebelum ia mencapai pintu, Jin Wu Ming tiba-tiba berkata, “Kau suka merayu laki-laki, bukan?”

Lin Xian Er terkesiap. Lanjut Jin Wu Ming, “Kau sudah berusaha merayuku sejak pertama kali masuk ke kamar ini, bukan?”

Mata Lin Xian Er berbinar. Ditundukkannya kepalanya dan berkata, “Aku suka sekali dengan laki-laki yang dapat mengendalikan diri.”

Jin Wu Ming menoleh padanya dan bertanya, “Lalu mengapa menyerah?”

Pipinya memerah. Sahut Lin Xian Er, “Hatimu seperti terbuat dari baja. Aku…Aku tidak dapat…”

Kata Jin Wu Ming, “Namun tubuhku tidak terbuat dari baja.”

Sambungnya, “Jika kau ingin merayuku, caranya hanya satu. Secara langsung.”

Wajah Lin Xian Er merah jengah. Katanya, “Maukah kau ajari aku cara itu?”

Jin Wu Ming menghampirinya dan berkata dengan pedas, “Kau masih perlu diajari cara ini?”

Ia mengangkat tangannya dan menampar Lin Xian Er.

Tubuh Lin Xian Er terpental dan jatuh di atas ranjang. Walaupun mukanya masih sakit karena tamparan itu, matanya terlihat menyala penuh gairah.

Waktu Lin Xian Er keluar dari kamar itu, fajar sudah hampir merekah.

Ia kelihatan lelah, kehabisan tenaga. Kakinya lemah dan lututnya gemetar sampai begitu sulit berjalan. Namun ia merasa puas, hatinya sangat tenang.

Setiap kali ia mengobarkan api di hati Ah Fei, api dalam hatinya pun ikut berkobar. Ia perlu seseorang untuk melampiaskan gairahnya, hanya untuk memadamkan api itu.

Ia memang suka disakiti, dan suka menyakiti.

Lin Xian Er memandang ke langit dan menggumam, “Hari ini sudah tanggal 25. Lima hari lagi… Tinggal lima hari lagi…”

Ia tersenyum.

Oh, Li Xun Huan. Kau hanya punya lima hari untuk hidup!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: