Kumpulan Cerita Silat

11/12/2008

Pisau Terbang Li (41)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 11:39 am

Gadis Muda yang Licik

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Kamar Ah Fei masih seperti semalam. Jubahnya pun masih ada di sana.

Namun orangnya sudah pergi, sepertinya terburu-buru.

Li Xun Huan tidak bisa percaya bahwa Ah Fei bisa pergi tanpa berpamitan padanya. Ia terbatuk-batuk seraya memeriksa keadaan di sekitar rumah.

Kedua tangan Guo Song Yang berada di balik punggungnya. Ia memandang Li Xun Huan tanpa suara. Lalu berkata dengan kalem, “Katamu Ah Fei adalah sahabatmu.”

Sahut Li Xun Huan pendek, “Ya.”

“Namun kau bahkan tidak tahu kalau dia sudah pergi.”

Li Xun Huan terdiam lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Katanya, “Mungkin ia menghadapi semacam kesulitan. Mungkin…”

Guo Song Yang menyelesaikan kalimatnya, “Mungkin ia pandai sekali mengikuti perintah seorang wanita.”

Ia tidak memberi kesempatan Li Xun Huan menjawab. Tanyanya lagi, “Apakah Ah Fei tinggal di sini sudah lama?”

“Hampir dua tahun.”

Kata Guo Song Yang, “Namun aku sudah berkencan dengan dia di rumah itu lebih dari dua tahun. Mungkin ini adalah rumahnya sejak dulu.”

Li Xun Huan tertawa getir, “Orang licik macam dia pasti punya lebih dari satu tempat persembunyian.”

Guo Song Yang pun menghela nafas dan berkata, “Sayangnya, aku tidak tahu tempat persembunyiannya yang lain.”

Li Xun Huan diam saja. Ia berjalan ke arah kamar Lin Xian Er.

Di kamar itu ada ranjang, sebuah lemari, dan meja rias.

Dalam lemari tidak ada banyak pakaian. Pakaian yang ada di situ adalah pakaian yang sederhana. Di atas meja rias tidak ada satu pun kosmetik atau alat rias.

Sudah pasti, ia berhias di rumah yang satu lagi.

Kata Guo Song Yang, “Waktu aku keluar, ia masih berada di rumah itu. Namun ia pasti sudah datang ke sini untuk mengajak Ah Fei pergi. Namun sama sekali tidak terlihat jejak dari rumah itu kemari.”

Kata Li Xun Huan dengan wajah berkerut, “Itu karena ia tidak melewati jalan yang sama dengan kita.”

Tiba-tiba Li Xun Huan mengangkat kasur di atas ranjang.

Terlihatlah jalan rahasia di bawah kasur itu.

Li Xun Huan sudah tahu ke mana jalan rahasia itu pergi.

Tanya Guo Song Yang, “Tahukah kau ke mana jalan rahasia ini pergi?”

Jawab Li Xun Huan, “Ke bawah kasurnya di rumah yang satu lagi.”

Sahut Guo Song Yang, “Kupikir juga begitu.”

Ia tersenyum sinis, “Dari satu ranjang ke ranjang yang lain. Sungguh-sungguh tidak buang waktu.”

Li Xun Huan berkata dengan datar, “Yah, dia kan banyak janji. Sudah tentu waktunya sangat berharga.”

Wajah Guo Song Yang berubah… Walaupun ia tahu memang demikian keadaannya, tetap saja hatinya merasa terusik waktu mendengar hal itu diucapkan.

Pria memang selalu mengejek wanita karena wanita suka meributkan hal-hal sepele. Namun ternyata, laki-laki pun tidak jauh berbeda, dan juga yang jelas, lebih mau menang sendiri.

Walaupun seorang laki-laki memiliki seribu orang wanita, ia tetap ingin setiap wanitanya adalah miliknya seorang. Walaupun ia tidak mencintai lagi wanita itu, ia tetap ingin wanita itu tergila-gila padanya.

—–

Jalan rahasia itu tidak panjang.

Dan memang benar, ujung yang lain adalah ranjang di rumah yang satu lagi.

Ranjang itu jauh lebih bagus daripada ranjang tempat mereka masuk. Sangat empuk, dan dihiasi dengan seprai yang lembut dan bantal-bantal yang mewah.

Tentu saja Lin Xian Er tidak ada lagi di situ. Hanya si gadis berjubah merah saja yang ada.

Ia sedang duduk di sebelah meja rias sambil menyulam sebuah bantal dengan gambar sepasang angsa di tengah danau.

Ia tidak terkejut melihat dua laki-laki keluar dari bawah ranjang itu.

Sepertinya dia sudah tahu bahwa mereka akan muncul.

Ia hanya melirik mereka dari sudut matanya dan berkata, “Oh, ternyata kalian berdua sudah saling kenal.”

Guo Song Yang menatapnya dengan wajah tegang dan membentak, “Apakah kau sendirian saja di sini?”

Sahut si gadis muda, “Mengapa kau galak sekali? Aku selalu membereskan kamar dan ranjang ini setiap kali kau datang. Apakah kau sudah lupa?”

Guo Song Yang terdiam.

Lalu si gadis muda menatap Li Xun Huan dan berkata, “Jadi kau adalah Li Tan Hua?”

Li Xun Huan menjawab pendek, “Ya.”

Kata si gadis muda, “Semua orang bilang bahwa Li Tan Hua bukan saja mempunyai ilmu silat yang tinggi, ia pun sangat pandai dan berpengetahuan luas. Aku kaget juga bahwa kau pun dapat tertipu.”

Lalu disambungnya dengan manis, “Aku mohon maaf sudah berbohong padamu terakhir kali kau datang ke sini.”

Sahut Li Xun Huan, “Tidak apa-apa. Enak juga kena dibohongi anak kecil sekali waktu. Sejak kau menipuku kemarin, aku merasa jadi lebih muda.”

Si gadis muda hanya menatapnya lekat-lekat. Dari pandangannya, ia seakan-akan menganggap bahwa Li Xun Huan sangat menarik. Tentu saja, sangat jarang orang bisa bertemu dengan orang semacam Li Xun Huan.

Gadis itu tersenyum dan berkata, “Kupikir kau memang masih kelihatan muda, walaupun aku tidak menipumu. Kalau kau tertipu beberapa kali lagi, mungkin kau akan berubah menjadi bayi.”

Sahut Li Xun Huan, “Jadi aku harus lebih berhati-hati lain kali. Kalau tidak, bukankah sangat janggal ada bayi berusia empat puluh tahun?”

Si gadis muda tertawa senang, katanya, “Jangan kuatir, aku cuma berbohong karena kemarin kau adalah orang asing. Nenekku bilang bahwa di depan orang asing jangan berkata jujur, atau aku akan diculik oleh orang itu.”

Tanya Li Xun Huan, “Kalau sekarang?”

“Sekarang aku sudah mengenal engkau, jadi aku tidak akan berbohong lagi.”

Kata Li Xun Huan, “Kalau begitu, aku mau tanya sesuatu. Apakah kau melihat ada orang yang keluar dari ranjang ini baru-baru saja?”

“Tidak.”

Gadis itu mengejapkan matanya dan menambahkan, “Tapi aku melihat seseorang lewat di sebelahnya.”

“Siapa?”

Sahut si gadis, “Seorang laki-laki. Aku tidak kenal dia.”

Ia tersenyum lebar dan melanjutkan, “Selain engkau, aku tidak kenal banyak laki-laki.”

Li Xun Huan pura-pura tidak mendengar. Ia bertanya lagi, “Apa yang dia kerjakan?”

Sahut si gadis muda, “Orang itu kelihatan menyeramkan. Jenggotnya besar, dan di wajahnya ada bekas luka. Ia masuk ke sini dan bertanya, ‘Apakah kau kenal Li Xun Huan? Apakah ia akan datang ke sini?’”

Tanya Li Xun Huan, “Apa jawabmu?”

Kata si gadis muda, “Karena aku tidak mengenalnya, aku bohong saja. Aku bilang aku tidak mengenalmu dan bahwa kau akan segera datang.”

“Lalu apa kata orang itu?”

“Lalu ia memberikan surat padaku, dan menyuruhku untuk menyampaikannya padamu.”

Tanya Li Xun Huan, “Jadi kau menerima suratnya?”

Jawab si gadis, “Tentu saja. Kalau tidak, aku kan ketahuan sudah berbohong. Orang ini betul-betul menyeramkan. Jika ia tahu aku bohong, ia pasti sudah mencabut kepalaku.”

Ia tersenyum dan melanjutkan, “Seorang gadis kecil dengan kepala putus akan merasa kesakitan, bukan?”

Li Xun Huan pun tersenyum dan berkata, “Seorang bocah laki-laki dengan kepala putus juga akan merasa kesakitan.”

Si gadis muda memang mempunyai satu kepandaian istimewa. Ia dapat membuat semua kata-katanya kedengaran sangat mayakinkan.

Orang lain mungkin akan bertanya, “Di manakah laki-laki yang membawa surat ini? Mengapa ia meninggalkan surat ini di sini?”

Namun Li Xun Huan tidak menanyakannya.

Ia pun mempunyai satu kepandaian istimewa. Apapun yang diucapkan seseorang, ia dapat terlihat seolah-olah mempercayai perkataan itu bulat-bulat. Itulah sebabnya banyak orang merasa mereka telah berhasil menipunya.

Gadis muda itu segera mengeluarkan surat itu. Di amplopnya memang tertulis nama Li Xun Huan. Surat itu disegel, jadi si gadis muda pasti tidak tahu apa isinya.

Dalam surat itu tertulis, “Aku selalu mengagumi Tuan Li Xun Huan. Mari bertemu di dekat mata air tanggal satu bulan sepuluh. Tolong jangan kecewakan aku.”

Surat itu ditandatangani oleh ShangGuan JinHong!

Surat itu sangat sederhana dan sopan. Namun siapapun penerima surat ini lebih baik cepat-cepat menulis surat wasiatnya, atau paling tidak ketakutan setengah mati.

Jika ShangGuan JinHong menantang seseorang, berapa lama lagikah orang itu dapat hidup?

Li Xun Huan memasukkan surat itu ke dalam amplopnya lagi dan memasukkan amplop itu ke dalam bajunya.

Ia masih tetap tersenyum.

Si gadis muda telah mengawasinya selama ini. Ia tidak tahan untuk tidak bertanya, “Apa isi surat itu?”

“Tidak ada yang penting.”

“Dilihat dari senyumanmu, pasti seorang wanitalah yang menulis surat itu.”

Jawab Li Xun Huan, “Tebakanmu sangat jitu.”

Mata si gadis muda berputar dan katanya, “Apakah surat itu mengatakan bahwa ia ingin bertemu denganmu?”

Jawab Li Xun Huan, “Lagi-lagi tepat.”

Si gadis muda cemberut, “Kalau tahu penulisnya adalah seorang wanita, tak akan kuberikan kepadamu.”

Kata Li Xun Huan, “Tapi jika kau tidak memberikan surat itu padaku, ia akan patah hati.”

Mata si gadis memandang Li Xun Huan dengan berapi-api, tanyanya keras, “Orang macam apa sih wanita itu? Cantik ya?”

Sahut Li Xun Huan, “Sudah pasti. Kalau tidak, sudah kubuang surat ini. Seorang wanita jelek lebih menakutkan daripada seorang laki-laki bodoh.”

Tanya gadis muda itu, “Berapa usianya?”

“Ia belum tua.”

Si gadis muda menghunjamkan jarum jahitnya pada kayu bingkai sulamannya. Ia berseru dengan berang, “Kalau sudah ditunggu oleh wanita yang sangat cantik, mengapa tidak segera menggelinding menemuinya? Mau apa masih bercokol di sini?”

Kata Li Xun Huan, “Tahukah engkau, tidaklah sopan seorang tuan rumah mengusir tamunya.”

Sahut si gadis muda masih kesal, “Tentu saja aku tahu. Walaupun aku bukan orang yang murah hati, aku juga tidak pelit. Jika kau mau tinggal sepuluh hari, aku akan melayanimu sepuluh hari. Jika kau mau tinggal selama-lamanya, aku…aku akan…memperbolehkanmu tinggal selamanya.”

Seraya berkata, wajahnya menjadi merah padam.

Jika wajah seorang gadis sudah bisa memerah, artinya ia bukan gadis kecil lagi.

Kata Li Xun Huan, “Baiklah. Maka aku akan tinggal…”

Sebelum selesai kalimatnya, si gadis muda sudah melompat dan segera berkata, “Kau tidak bohong?”

Sahut Li Xun Huan sambil tersenyum, “Tentu saja aku tidak bohong. Bagaimana mungkin aku pergi jika aku sudah menemukan tuan rumah sebaik engkau?”

Si gadis muda tersenyum cerah dan berkata, “Aku tahu kau suka minum arak. Aku akan membelikan arak untukmu. Mungkin di daerah ini tidak ada macam-macam barang, namun ada cukup arak untuk menenggelamkanmu.”

Kata Li Xun Huan, “Selain arak, aku juga ingin kayu. Makin keras makin baik.”

Wajah si gadis muda penuh tanda tanya. Tanyanya, “Kayu? Buat apa? Apakah kau makan kayu sambil minum arak? Gigimu pasti luar biasa.”

Di tengah-tengah kalimatnya ia sudah tertawa. Lanjutnya, “Tapi karena kau minta kayu, akan kusediakan kayu. Aku dapat memberimu apa saja yang kau minta. Bahkan jika kau ingin bulan di langit, akan kuambilkan tangga untukmu.”

Selama itu Guo Song Yang terus mengawasi wajah Li Xun Huan. Katanya tiba-tiba, “Aku tidak makan kayu. Aku suka makan telur. Telur apa saja, telur ayam, telur bebek, telur burung, telur asin,…pokoknya telur, sudah cukup. Makin banyak makin bagus.”

Si gadis muda mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kau juga mau tinggal?”

Sahut Guo Song Yang, “Dengan tuan rumah sebaik engkau, mana mungkin aku pergi?”

Si gadis muda menggerutu dan memutar badannya, berjalan keluar. Ia menggumam, “Mengapa begitu banyak orang yang tidak tahu diri? Apakah mereka tidak punya pekerjaan lain selain ikut campur urusan orang?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: