Kumpulan Cerita Silat

10/12/2008

Pisau Terbang Li (40)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:29 am

Tidak Setia

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Kata Ah Fei, “Aku sudah hidup damai sejahtera dua tahun ini… Aku belum pernah merasa sedamai ini. Ia… Ia begitu baik padaku.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Aku gembira mendengarnya. Aku sungguh gembira…”

Ia tidak ingin Ah Fei merasa bahwa senyumnya tidak wajar, jadi sambil berbicara ia memalingkan wajahnya. Ia memandang ke sekelilingnya dan bertanya, “Di mana pedangmu?”

Jawab Ah Fei, “Aku sudah tidak menggunakan pedang.”

Li Xun Huan sungguh terkejut dan bertanya, “Kenapa?”

Sahut Ah Fei, “Pedang adalah senjata, dan itu hanya akan membangkitkan kenangan lama.”

Tanya Li Xun Huan, “Apakah ia membujukmu untuk melakukan ini?”

Sahut Ah Fei, “Ia juga bersedia meninggalkan semua masa lalunya, supaya kami bisa memulai hidup baru kami dengan bersih.”

Li Xun Huan mengangguk-angguk, “Baik. Baik. Baik…”

Ia ingin bicara lagi, namun tiba-tiba suara Lin Xian Er terdengar berseru dari dalam rumah, “Makan siang sudah siap. Mari masuk untuk makan.”

Jenis masakannya tidak banyak, namun semuanya masakan istimewa.

Ia sungguh heran Lin Xian Er dapat mempersiapkan masakan seperti ini.

Selain makanan, di meja pun ada botol anggur. Namun isinya adalah teh.

Kata Lin Xian Er, “Di tempat terpencil seperti ini, kita tidak punya anggur. Kami hanya dapat menyiapkan teh untukmu.”

Li Xun Huan tersenyum, “Untungnya, aku bawa arak sendiri…”

Ia mencari-cari ke sekelilingnya, dan akhirnya ditemukannya botol arak yang dibawanya. Ia menuang ke cawannya, lalu berkata pada Ah Fei, “Mari, kutuangkan secawan untukmu.”

Ah Fei diam saja.

Tiba-tiba ia berkata, “Aku sudah tidak minum arak lagi.”

Li Xun Huan kembali terperanjat dan berkata, “Tidak minum arak lagi? Kenapa?”

Wajah Ah Fei tampak kaku.

Kata Lin Xian Er, “Alkohol tidak baik untuk tubuh. Apakah bukan begitu, Saudara Li?”

Li Xun Huan berpikir sejenak dan berkata, “Betul sekali. Jika kau terus minum arak, mungkin kau akan jadi seperti aku. Jika aku dapat kembali ke sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, mungkin aku pun tidak akan minum arak.”

Ah Fei hanya menunduk dan mulai makan.

Ia tidak berkonsentrasi pada makanannya. Ia menyumpit sebuah bakso, tapi bakso itu terlepas dan jatuh ke meja.

Kata Lin Xian Er, “Lihat, kau seperti anak kecil saja. Tidak hati-hati.”

Ah Fei memungut bakso itu.

Kata Lin Xian Er lagi, “Kau masih mau makan barang yang sudah jatuh ke meja?”

Ia mengambil bakso yang lain dan menyuapkannya ke mulut Ah Fei.

Makan malam lebih lezat lagi daripada makan siang.

Li Xun Huan tidur di kamar Ah Fei dan Ah Fei tidur di ruang duduk.

Lin Xian Er secara khusus menyiapkan seprai yang baru dan bersih untuk Ah Fei dan menaruh baju tidur bersih di atas tempat tidurnya.

“Aku suka Fei sayangku ganti baju setiap hari.”

Sebelum pergi tidur, ia mengambil air dan mengawasi Ah Fei mencuci mukanya. Sesudah itu, ia mengambil handuk dan menyeka wajah dan telinga Ah Fei.

Ketika Ah Fei berbaring untuk tidur, ia memastikan selimut Ah Fei terpasang rapi menutupi tubuhnya.

“Hari ini agak dingin, jangan sampai kau masuk angin.”

Ia melayani Ah Fei dalam segala hal. Mungkin seorang ibu pun tidak melayani anaknya setelaten ini.

Seharusnya Ah Fei sangat berbahagia.

Namun Li Xun Huan tidak tahu apakah Ah Fei sebenarnya sedih atau bahagia.

Ia pun tidak tahu apakah keadaan ini lucu atau menyedihkan.

Ah Fei segera terlelap.

Namun Li Xun Huan tidak bisa tidur. Ia tidak pernah pergi tidur seawal ini sejak ia berusia tiga tahun. Ia tidak bisa tidur seawal ini sekalipun jiwanya terancam.

Kamar Lin Xian Er pun sudah sepi. Sepertinya ia pun sudah tidur.

Li Xun Huan mengenakan jubahnya dan keluar dari kamarnya.

Ia ingin berbincang-bincang dengan Ah Fei.

Namun tidur Ah Fei sangat pulas. Ia sudah mengguncang-guncang Ah Fei, namun pemuda itu terus tidur.

Bahkan seekor babi pun tidak mungkin tidur seperti ini, apalagi Ah Fei yang selalu siaga.

Li Xun Huan berdiri memandangi Ah Fei. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Ia selalu pergi tidur awal setiap malam… Ia tidak pernah pergi keluar sesudah gelap.”

“Tiap malam aku tidur tepat setelah hari mulai gelap, dan tidak pernah terbangun sampai keesokan paginya.”

Li Xun Huan ingat bahwa mereka makan sup iga babi malam itu. Masakan itu sangat sedap dan Ah Fei makan banyak. Lin Xian Er juga membujuk Li Xun Huan makan sup itu banyak-banyak.

Tapi dalam sup itu ada rebung dan Li Xun Huan tidak suka rebung. Namun ia bukan jenis orang yang suka menampik kebaikan hati orang.

Jadi ia memberikan supnya pada Ah Fei sewaktu Lin Xian Er pergi ke dapur untuk memeriksa makanan.

Ia teringat bahwa waktu Lin Xian Er kembali, ia tersenyum melihat mangkuk Li Xun Huan yang telah kosong.

Obat tidur apa yang ada dalam sup itu?

Ternyata Ah Fei tidur nyenyak setiap malam karena obat tidur.

Tentunya ia tidak akan tahu apa yang dilakukan Lin Xian Er di malam hari.

Tapi kenapa Lin Xian Er tidak menaruh racun dalam makanan itu?

Ah, tentu saja karena Ah Fei masih berguna untuknya.

Li Xun Huan menjadi amat berang. Ia memutar badannya dan menggedor pintu kamar Lin Xian Er kuat-kuat.

Tidak ada jawaban.

Li Xun Huan belum pernah menendang pintu kamar orang sebelumnya.

Namun hari ini ia membuat pengecualian.

Tidak ada seorang pun dalam kamar itu. Ke mana perginya Lin Xian Er?

Li Xun Huan merasa, pasti Lin Xian Er berada di rumah yang ia datangi semalam.

Waktu ia tiba di sana, ia menimbang-nimbang apakah ia sebaiknya menggerebek masuk atau tidak.

Waktu ia masih berpikir-pikir, tiba-tiba pintunya terbuka.

Seseorang keluar dari sana dan seperti ShangGuan Fei, wajahnya berseri-seri bahagia walaupun nampak sedikit lelah.

Cahaya di rumah itu menyinari wajahnya.

Li Xun Huan sebenarnya jarang terkejut, namun kali ini hatinya terguncang melihat wajah orang itu.

Orang itu adalah Guo Song Yang!

Terlihat tangan dari dalam menggenggam tangan Guo Song Yang.

Mereka sepertinya sedang saling membisikkan salam selamat tinggal.

Setelah beberapa saat, akhirnya Guo Song Yang pun pergi.

Ia berjalan perlahan-lahan dan beberapa kali menoleh ke belakang, seolah-olah belum ingin pergi dari situ.

Namun pintu sudah tertutup.

Apakah ini adalah pintu ke surga atau ke neraka?

Li Xun Huan merasa sedih bercampur marah. Ia sedih karena memikirkan Ah Fei, dan merasa marah untuk Ah Fei.

Ia belum pernah merasa marah seperti ini seumur hidupnya.

Ia ingin segera muncul dan memberitakan semua sandiwara ini, namun ia tidak melakukannya. Karena Guo Song Yang adalah sahabatnya, seorang pria sejati.

Ia melihat Guo Song Yang menatap ke langit dan menghela nafas panjang.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia berhenti dan berseru nyaring, “Siapa yang bersembunyi? Tunjukkan dirimu!”

Guo Song Yang memang betul-betul pesilat kelas atas. Kesigapan dan kewaspadaannya jauh di atas ShangGuan Fei.

Di mana pun ia berada, ia tetap berpikir jernih. Namun ia pun tidak menyangka bahwa orang yang sedang bersembunyi di situ adalah Li Xun Huan.

Warung arak di kaki gunung itu tidak jauh dari rumah itu. Kedua orang ini tidak bicara banyak dalam perjalanan. Mereka juga tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu.

Namun beberapa hal harus dibicarakan cepat atau lambat.

Mereka duduk di atas atap warung arak itu dan mulai minum.

Li Xun Huan sudah pernah minum arak di berbagai macam tempat, tapi baru kali ini di atas atap. Ia merasa, tempat ini sangat cocok untuk minum arak.

Kini isi guci arak tinggal setengah.

Guo Song Yang tiba-tiba berkata, “Kau…Kau pasti tahu apa yang kulakukan dalam rumah itu, bukan?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tahu kau adalah seorang laki-laki normal.”

Tanya Guo Song Yang lagi, “Kau pun tahu siapa yang berada dalam rumah itu, bukan?”

“Ya.”

Kata Guo Song Yang, “Aku…tidak sering datang ke sana.”

“O ya?”

“Aku hanya mengunjunginya di saat aku sedang jengkel.”

Li Xun Huan hanya mengangguk.

Kata Guo Song Yang lagi, “Aku mengenal banyak wanita, namun ialah yang terbaik.”

Tanya Li Xun Huan, “Tahukah kau orang macam apa wanita itu?”

Guo Song Yang minum arak seteguk lalu menyahut, “Aku sudah kenal dia cukup lama.”

“Bagaimana ia memperlakukanmu?”

Sahut Guo Song Yang, “Bagaimana ia memperlakukanku? Wanita macam itu memperlakukan setiap pria sama saja. Ia hanya melihat apakah pria itu berguna untuknya atau tidak.”

“Jadi kau tahu dia hanya memanfaatkanmu?”

“Tentu saja. Tapi aku tidak keberatan, karena aku pun memanfaatkannya. Tidak ada salahnya membayar sedikit untuk kepuasan.”

Kata Li Xun Huan, “Memang cukup adil. Tapi…apakah kau menyadari bahwa ini dapat menyakiti orang lain?”

“Siapa?”

Sahut Li Xun Huan, “Tentu saja laki-laki yang sungguh mencintainya.”

Guo Song Yang mengeluh dan berkata, “Kadang-kadang aku sungguh tidak mengerti mengapa wanita selalu menyakiti pria yang paling mencintainya.”

Sahut Li Xun Huan, “Mungkin karena wanita hanya dapat menyakiti pria yang mencintainya. Jika pria itu tidak mencintainya, ia tidak akan peduli apa pun yang diperbuat wanita itu.”

Guo Song Yang tersenyum dan berkata, “Sepertinya kau sungguh mengerti tentang wanita.”

Kata Li Xun Huan, “Tidak ada seorang pria pun yang mengerti tentang wanita. Jika seorang pria menyangka ia mengerti, ia akan mendapatkan penderitaan yang berlipat ganda dalam hidupnya.”

Guo Song Yang terdiam beberapa saat sebelum bertanya, “Ah Fei sungguh-sungguh mencintainya?”

“Ya.”

Kata Guo Song Yang, “Aku tahu ia adalah sahabat Ah Fei dan kau adalah sahabat Ah Fei.”

Li Xun Huan diam saja.

Lanjut Guo Song Yang, “Namun aku bukan sahabat Ah Fei. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan dia.”

Sahut Li Xun Huan, “Kau tidak perlu menjelaskan. Ini bukan kesalahanmu.”

Guo Song Yang terdiam lagi. Lalu bertanya, “Apakah Ah Fei masih bersama dengan dia?”

“Ya.”

Li Xun Huan mendesah, lalu menambahkan, “Walaupun Ah Fei mencintainya lebih daripada engkau, hubungan mereka tidak seintim engkau dengan dia.”

Guo Song Yang terbelalak, “Maksudmu mereka tidak pernah…”

Li Xun Huan tersenyum pahit, “Ia mau melakukannya dengan semua laki-laki, kecuali Ah Fei.”

“Kenapa?”

Sahut Li Xun Huan, “Karena Ah Fei menghormatinya dan tidak pernah memaksa. Ia bagaikan seorang dewi bagi Ah Fei. Lin Xian Er ingin menjaga kesan ini.”

Lanjutnya, “Namun wanita dilahirkan untuk dicintai, bukan untuk dihormati. Jika seorang pria menghormati wanita yang tidak pantas dihormati, ia hanya akan mendapatkan sakit hati dan penderitaan.”

Tanya Guo Song Yang, “Jadi pria ini, Ah Fei, sungguh tidak tahu apa yang dilakukan wanita ini?”

“Sama sekali tidak.”

“Mengapa tidak kau beritahukan padanya?”

Sahut Li Xun Huan, “Walaupun aku memberitahu, ia tidak akan percaya. Ketika seorang pria jatuh cinta, telinganya menjadi tuli, matanya menjadi buta. Bahkan seorang pandai akan menjadi bodoh.”

Kata Guo Song Yang, “Kau ingin aku yang memberitahu padanya?”

Jawab Li Xun Huan, “Ia adalah seorang pemuda yang hebat. Ia pun adalah sahabatku. Aku tidak ingin ia menyia-nyiakan hidupnya demi wanita semacam itu.”

Guo Song Yang diam saja.

Kata Li Xun Huan lagi, “Aku belum pernah minta tolong sebelumnya, namun kini…”

Guo Song Yang memotongnya cepat, “Tapi…apakah dia akan percaya padaku?”

Kata Li Xun Huan, “Setidaknya Lin Xian Er tidak bisa menyangkal hubungannya denganmu.”

Guo Song Yang bangkit berdiri dan berkata, “Baik. Aku ikut denganmu.”

Li Xun Huan menjabat tangannya erat-erat dan berkata, “Terima kasih. Aku yakin kau pun akan bersahabat karib dengan Ah Fei.”

Kata Guo Song Yang, “Aku cuma butuh satu sahabat. Aku sudah begitu berterima kasih bisa mendapatkan sahabat seperti engkau.”

—–

Rumah kayu itu sudah kosong!

Tilam Ah Fei masih ada di ruang duduk. Sisa teh semalam pun masih ada di atas meja. Namun sup dalam kuali sudah habis ludes.

Kamar Lin Xian Er masih sama dengan semalam. Angin berhembus membuat pintu yang dijebol Li Xun Huan semalam melambai-lambai.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: