Kumpulan Cerita Silat

09/12/2008

Pisau Terbang Li (39)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:27 am

Ah Fei

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Bulan masih tergantung di langit malam.

Air terjun di bawah sinar bulan tampak berkilauan bagaikan perak.

Li Xun Huan mengikuti aliran air, berjalan perlahan-lahan. Ia tidak ingin sampai di rumah Ah Fei sebelum fajar, supaya tidak mengganggu tidurnya.

Ia tidak suka mengganggu orang lain.

Namun siapapun boleh mengganggunya, setiap saat. Ia tidak akan marah.

Si nenek tidak mungkin adalah Lin Xian Er yang menyamar.

Jadi di manakah Lin Xian Er?

Li Xun Huan mengucek-ucek matanya, “Apakah aku sudah gila?”

Akhirnya matahari pun terbit di ufuk timur. Musim gugur sudah hampir berlalu, dan bunga plum mulai bermekaran.

Jauh di dalam hutan itu terdapat sebuah rumah kayu.

Li Xun Huan memandangi hutan itu seperti orang tolol.

Dekat pohon-pohon plum itulah sumber mata air sungai itu.

Air itu mengalir dari atas gunung, melewati hutan itu. Pemandangan itu tampak seperti lukisan.

Dalam lukisan itu tampak sosok seseorang.

Li Xun Huan tidak dapat melihat wajah orang itu, namun terlihat ia berpakaian rapi. Ia mengenakan jubah baru berwarna hijau dan rambutnya pun tersisir rapi.

Ia memikul ember berisi air dari dalam hutan ke dalam rumah kayu itu.

Bentuk tubuh orang itu serupa dengan Ah Fei, namun Li Xun Huan tidak yakin betul bahwa orang itu adalah Ah Fei.

Ia segera bergegas menuju rumah itu.

Pintunya terbuka dan di dalamnya tidak ada suatu kemewahan sama sekali. Namun segala sesuatu bersih mengkilap.

Terlihat sebuah meja persegi model lama untuk makan 8 orang. Si pemuda berjubah hijau itu mengambil lap dari embernya dan mulai menggosok meja.

Ia menggosok meja itu lebih perlahan dan lebih telaten daripada Si Bungkuk Sun. Seolah-olah ia tidak ingin ada sebutir debu pun yang menempel di situ.

Li Xun Huan berjalan menghampirinya dari belakang. Punggung orang itu serupa benar dengan punggung Ah Fei.

Tapi ia tidak mungkin Ah Fei.

Li Xun Huan sama sekali tidak bisa membayangkan Ah Fei menggosok meja. Ia hanya ingin bertanya kepada orang ini di manakah Ah Fei.

Li Xun berdehem, dan berharap orang ini menoleh.

Gerak refleks orang ini sangat lamban, tapi akhirnya ia menoleh juga.

Li Xun Huan terhenyak.

Orang yang tidak mungkin Ah Fei ini ternyata…adalah Ah Fei.

Wajah Ah Fei tidak berubah. Matanya masih besar, hidungnya masih lurus. Ia masih terlihat tampan, bahkan lebih tampan dari sebelumnya.

Namun ekspresinya telah berubah. Berubah sama sekali.

Ia telah kehilangan daya tariknya, kegagahannya, kemurungannya. Ia kini tampak lemah, tampak kaku.

Ia mungkin terlihat lebih tampan dan lebih resik sekarang, namun karismanya sudah lenyap tak berbekas.

Apakah orang ini betul-betul Ah Fei?

Li Xun Huan tidak bisa terima, sungguh tidak bisa terima bahwa pemuda rapi dengan lap itu adalah Ah Fei yang dikenalnya!

Ah Fei juga melihat Li Xun Huan.

Sepertinya ia tidak mengharapkan orang yang datang itu adalah Li Xun Huan. Mukanya mengejang. Perlahan-lahan ia tersenyum…untungnya senyumnya belum berubah.

Li Xun Huan pun tersenyum.

Walaupun wajahnya tersenyum, hatinya merosot ke bawah.

Mereka hanya saling pandang sambil tersenyum. Tidak ada yang bergerak atau bicara, namun mata mereka mulai basah dan memerah… Setelah sekian lama, akhirnya Ah Fei berkata, “Ternyata kau.”

Kata Li Xun Huan, “Ya, ini aku.”

“Kau akhirnya datang.”

“Ya, akhirnya aku datang.”

“Aku tahu kau akan datang.”

Mereka berbicara perlahan-lahan dengan suara serak. Sampai di situ, keduanya kembali terdiam.

Namun saat itu, Ah Fei menghambur ke luar dan Li Xun Huan menghambur ke dalam. Kedua orang ini bertemu di tengah, hampir bertabrakan. Mereka berjabat tangan dengan hangat.

Keduanya hampir berhenti bernafas. Lalu Li Xun Huan berkata, “Apa kabarmu dua tahun ini?”

Ah Fei mengangguk-anggukkan kepalanya dan menjawab, “A…Aku baik. Kau bagaimana?”

Jawab Li Xun Huan, “Aku? Ah, sama saja.”

Ia mengambil botol arak dan tersenyum sambil berkata, “Lihat, aku masih saja minum. Bahkan sepertinya batukku sudah habis tersapu oleh arak yang kuminum. Kau…”

Sebelum ia bisa meneruskan, Li Xun Huan sudah terbatuk-batuk lagi.

Ah Fei hanya memandangnya tanpa suara. Setitik air mata mengambang di sudut matanya.

Tiba-tiba terdengar suara, “Hei, mengapa kau tidak persilakan Saudara Li duduk? Tidak sopan mengajak tamu mengobrol sambil berdiri.”

Akhirnya Lin Xian Er muncul.

Ia pun sama sekali tidak berubah.

Ia masih tetap begitu muda, begitu cantik. Senyumnya masih sangat menawan, sangat manis. Matanya masih bercahaya bagai bintang di langit.

Ia berdiri di situ menatap Li Xun Huan dengan hangat. Lalu ia berkata dengan lembut, “Sudah hampir dua tahun. Mengapa kau tidak datang lebih cepat? Apakah kau sudah lupa akan kami?”

Ia berbicara seakan-akan Li Xun Huan sudah tahu lama tentang tempat ini, hanya belum punya waktu untuk berkunjung.

Li Xun Huan tersenyum dan menyahut, “Bagaimana aku bisa datang jika kau tidak menyiapkan tandu untuk mengantarku ke sini?”

Lin Xian Er mengejapkan matanya dan berkata, “Kini kau bicara tentang tandu. Aku jadi ingin naik tandu suatu hari nanti. Hanya ingin tahu bagaimana rasanya.”

Mata Li Xun Huan bersinar, tanyanya, “Kau belum pernah naik tandu?”

Lin Xian Er menunduk dan berbisik, “Bagaimana mungkin orang seperti aku sanggup membayar kemewahan macam itu?”

Kata Li Xun Huan, “Namun aku melihat seseorang naik tandu semalam. Orang itu mirip benar denganmu.”

Matanya menatap Lin Xian Er lekat-lekat.

Sedikit pun Lin Xian Er tidak menunjukkan rasa panik. Ia hanya tersenyum, “Kalau begitu pasti aku ngelindur semalam…ya kan?”

Pertanyaan ini ditujukan pada Ah Fei.

Ah Fei langsung berkata, “Ia selalu tidur awal setiap malam. Ia tidak pernah keluar setelah hari gelap.”

Li Xun Huan merasa hatinya dipelintir.

Ia tahu bahwa Ah Fei tidak akan berbohong padanya. Namun jika Lin Xian Er memang ada di rumah, siapakah wanita dalam tandu itu?

Lin Xian Er berjalan ke sisi Ah Fei dan merapikan jubahnya. Dengan hangat ia bertanya, “Apakah nyenyak tidurmu semalam?”

Ah Fei hanya mengangguk.

Lin Xian Er berkata lagi, “Ajaklah Saudara Li jalan-jalan sementara aku memasak.”

Lin Xian Er memandang Li Xun Huan dan berkata, “Bunga plum sudah mulai bermekaran. Aku tahu bunga plum adalah kesukaan Saudara Li, bukan?”

—–

Cara berjalan Ah Fei pun sudah berubah.

Dulu tubuhnya selalu tegak dan otot-ototnya rileks.

Orang lain menganggap berjalan adalah suatu beban, namun bagi Ah Fei adalah relaksasi.

Tapi kini tubuhnya tidak lagi tegak. Pikirannya seperti ada pada hal lain yang membuatnya merasa gelisah.

Jadi otot-ototnya pun tidak bisa rileks.

Setelah berjalan beberapa lama, Li Xun Huan tetap diam.

Ia tidak tahu harus bicara apa.

Ia ingin sekali bertanya pada Ah Fei, “Mengapa kau datang ke sini? Apakah Lin Xian Er telah mengubah kebiasaannya? Apa jadinya dengan harta yang dirampoknya?”

Namun satu pertanyaan pun tidak diucapkannya.

Ia tidak ingin membangkitkan kenangan lama Ah Fei.

Setelah sekian lama, akhirnya Ah Fei bicara, “Aku minta maaf.”

Li Xun Huan mendesah dan berkata, “Kau berpura-pura menjadi Si Bandit Bunga Plum untuk menyelamatkan aku. Kau bersedia mengorbankan hidupmu demi aku. Mengapa kau minta maaf?”

Ah Fei tidak menggubris. Ia hanya melanjutkan, “Seharusnya aku berpamitan sebelum pergi.”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tahu kau pasti punya alasannya. Aku tidak menyalahkanmu.”

Kata Ah Fei, “Aku tahu aku sudah berbuat kesalahan, namun aku sungguh tidak dapat membunuhnya. A…Aku tidak dapat meninggalkannya.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Cinta adalah kodrat manusia. Tidak ada yang salah dengan cinta. Mengapa kau menyalahkan dirimu sendiri karena kau jatuh cinta?”

Sahut Ah Fei, “Ta…Tapi…”

Tiba-tiba ia menjadi sangat emosional dan berseru, “Tapi aku merasa telah bersalah padamu dan juga pada para korban Si Bandit Bunga Plum.”

Li Xun Huan terdiam sejenak, lalu bertanya dengan curiga, “Tapi ia sudah berubah, bukan?”

Sahut Ah Fei, “Sebelum kami pergi, ia telah mengembalikan semua hasil rampokannya kepada pemiliknya yang sah.”

Kata Li Xun Huan, “Lalu apa lagi yang salah? Tiap orang berhak mendapat kesempatan kedua.”

Li Xun Huan tidak ingin melanjutkan topik ini lagi, sehingga ia berkata, “Lihat, bunga plum sudah mulai bermekaran.”

Sahut Ah Fei pendek, “Ya.”

Li Xun Huan bertanya, “Kau tahu ada berapa banyak bunga di pohon itu?”

“Tujuh belas.”

Maka wajah Li Xun Huan pun menjadi murung, sama seperti hatinya.

Dulu ia pun pernah menghitung bunga-bunga plum.

Hanya orang yang sangat kesepian yang menghitung bunga-bunga plum.

Ah Fei mengangkat kepalanya dan berkata, “Lihat, ada satu lagi yang mulai mekar. Mengapa mereka mekar begitu cepat? Lebih cepat mereka mekar, lebih cepat mereka mati.”

—–

Rumah kayu itu mempunyai lima kamar. Satu ruang duduk, satu gudang, satu dapur dan dua kamar dengan tempat tidur.

Kamar tidur yang besar berdekorasi sangat anggun. Di dalamnya terdapat meja rias yang cukup besar.

Kata Ah Fei, “Lin Xian Er tidur di sini.”

Kamar yang kecil juga sangat bersih, namun begitu sederhana.

Kata Ah Fei, “Ini kamarku.”

Li Xun Huan terkejut dalam hatinya.

Ia baru tahu bahwa selama dua tahun ini, Ah Fei dan Lin Xian Er tidur di kamar yang terpisah. Dan Ah Fei adalah pemuda normal.

Ia sungguh terkejut, namun ia sangat mengagumi Ah Fei.

Ah Fei tersenyum dan berkata, “Kau pasti heran kalau mendengar bahwa aku tidur sangat banyak dalam dua tahun ini.”

“O ya?”

Kata Ah Fei, “Aku selalu pergi tidur tepat setelah hari mulai gelap, dan tidurku nyenyak sekali sampai keesokan paginya. Aku tidak pernah terjaga sedikit pun di tengah malam.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Kalau hidupmu teratur, tidak heran kau bisa tidur nyenyak.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: