Kumpulan Cerita Silat

08/12/2008

Pisau Terbang Li [38]

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:25 am

Nenek dan Cucunya

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Angin musim gugur menerpa wajahnya. Cuaca sudah seperti musim dingin.

Sisa-sisa musim gugur hanya terasa sedikit saja.

Hati Li Xun Huan pun seperti musim gugur, sedikit demi sedikit layu.

“Kau hanya memperkeruh suasana jika kau tinggal…”

Kata-kata si orang tua terus berdengung di telinganya.

Ia menyadari bahwa ia tidak hanya tak boleh menemuinya lagi, ia tak boleh berpikir tentang Lin Shi Yin.

Si orang tua adalah orang yang sungguh bijaksana. Ia juga seorang yang misterius. Seorang pesilat tangguh. Ia pun tahu segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Tapi siapakah dia sebenarnya? Apakah yang disembunyikannya?

Li Xun Huan mengagumi Si Bungkuk Sun.

Siapa saja yang bersedia mengelap meja selama lima belas tahun untuk membalas budi, ia patut dikagumi.

Tapi apakah yang sebenarnya dikerjakannya?

Apa yang dijaganya?

Dan tentang Sun Xiao Hong… Bagaimana mungkin ia tidak tahu perasaan gadis itu?

Namun ia tidak dapat menerimanya. Ia takut untuk menerimanya.

Satu keluarga ini sungguh penuh dengan misteri. Penuh rahasia sampai terasa menakutkan…

—–

Sebuah desa di atas gunung.

Di kaki gunung itu ada sebuah warung arak.

Araknya tidak lezat, namun sangat menyegarkan. Pasti dibuat dengan air dari sumber mata air dekat situ.

Mata air itu ada di balik gunung, sangat jernih. Li Xun Huan tahu, jika ia mengikuti aliran air itu, ia akan sampai di sebuah rumah kayu di dalam hutan.

Ah Fei dan Lin Xian Er tinggal di rumah itu.

Muka Li Xun Huan berseri-seri saat ia membayangkan wajah Ah Fei yang rupawan. Matanya yang tajam dan ekspresi wajahnya gagah.

Dan yang lebih tak terlupakan adalah senyumannya yang jarang terlihat, kehangatan yang tersembunyi di balik sikapnya yang dingin.

Ia tidak tahu seberapa banyak Ah Fei sudah berubah dalam dua tahun ini.

Ia tidak tahu bagaimana Lin Xian Er telah memperlakukan Ah Fei.

Walaupun wajahnya bagaikan malaikat, ia hanya tahu cara menarik laki-laki ke lembah neraka yang paling dalam.

Jadi apakah kini Ah Fei sudah jatuh ke neraka?

Li Xun Huan tidak ingin memikirkan hal itu, karena ia memahami Ah Fei. Ia tahu bahwa Ah Fei tidak akan keberatan hidup di neraka demi cintanya.

Hari telah mulai senja.

Li Xun Huan duduk di sudut gelap warung arak itu.

Ini sudah menjadi kebiasaannya, karena dari situ ia dapat melihat dengan jelas siapa yang masuk, namun orang lain tidak dapat melihatnya dengan jelas.

Ia tidak dapat mempercayai matanya, sebab yang pertama masuk adalah ShangGuan Fei.

Ia duduk di meja yang paling dekat dengan pintu. Matanya menatap ke luar, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Ia menunggu dengan tidak sabar.

Ini sungguh berbeda dari penampilannya yang dingin dan tenang saat terakhir kali Li Xun Huan melihatnya.

Kelihatannya ia akan menemui seseorang yang cukup penting. Ia juga datang sendiri, tanpa satu orang pun pelayan, yang artinya, pertemuan ini adalah pertemuan yang rahasia.

Sepertinya tidak ada orang yang begitu penting yang tinggal di tempat terpencil seperti ini.

Lalu siapakah yang dinanti-nantikannya?

Apakah ada hubungannya dengan Ah Fei dan Lin Xian Er?

Li Xun Huan menangkupkan tangan menutupi wajahnya.

Sebenarnya itu tidak perlu, karena mata ShangGuan Fei tidak pernah lepas dari pintu itu.

Akhirnya si penjaga warung menyalakan lilin.

Sikap ShangGuan Fei makin tidak sabar, semakin tampak kesal.

Saat itulah, dua buah tandu muncul di depan pintu. Orang-orang yang mengangkat tandu itu adalah beberapa pemuda gagah.

Seorang gadis yang berusia 13 atau 14 tahun yang sangat menarik turun dari tandu yang pertama. Ia mengenakan jubah berwarna merah.

ShangGuan Fei baru saja mengangkat cawannya, lalu segera diletakkannya kembali.

Gadis muda ini berjalan menuju ShangGuan Fei dan berkata, “Maaf, sudah membiarkan kau menunggu.”

Mata ShangGuan Fei berputar. Ia bertanya, “Di manakah dia? Apakah ia tidak bisa datang?”

Si gadis berjubah merah tersenyum dan menjawab, “Jangan kuatir. Mari ikut aku.”

ShangGuan Fei keluar dari warung itu dan naik ke tandu yang kedua. Li Xun Huan mengawasi kepergian mereka dan merasa ada sesuatu yang aneh.

Pemuda-pemuda pengangkat tandu itu berbadan kekar. Mereka tidak kesulitan sama sekali mengangkat tandu yang pertama.

Namun para pemikul tandu yang kedua sangat bersusah-payah mengangkat tandu itu.

Li Xun Huan segera membayar dan pergi.

Biasanya ia tidak suka ikut campur urusan orang, namun kali ini ia merasa perlu untuk membuntuti ShangGuan Fei, untuk mengetahui siapakah yang akan ditemuinya.

Perasaan Li Xun Huan, ini pasti ada hubungannya dengan Ah Fei.

Tandu-tandu itu masuk ke dalam hutan maple.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari tandu itu.

Suara tawa itu sangat halus dan merdu. Setiap laki-laki yang mendengarnya pasti akan tergerak hatinya.

Jika orang yang berada di dalam tandu adalah ShangGuan Fei, mengapa suara tawa yang terdengar adalah suara tawa seorang wanita?

Setelah beberapa saat, terdengar suara merdu dari tandu itu lagi, “Fei sayang, jangan begitu… Kita tidak bisa begitu di sini…

Aku tidak menyangka kau sama saja dengan laki-laki lain. Kau hanya ingin memanfaatkan aku.”

Suara itu terdengar makin lama makin halus, sampai Li Xun Huan tidak dapat mendengarnya lagi.

Tandu itu sampai di puncak bukit.

Li Xun Huan mendesah.

Jadi ada dua orang dalam tandu itu.

Yang satu adalah ShangGuan Fei.

Tapi siapakah sang wanita?

Ia cukup berpengalaman dalam hal wanita. Ia tahu banyak wanita yang suka bicara, namun hanya sedikit yang dapat merayu pria dengan cara itu.

Ia hampir dapat meneriakkan nama wanita dalam tandu itu.

Namun sekarang belum bisa, karena ia belum begitu yakin.

Ia memang tidak pernah gegabah, karena ia tidak ingin membuat keputusan yang salah lagi. Satu saja keputusan yang salah rasanya sudah terlalu banyak.

Satu keputusannya yang salah, dan ia telah merusak hidupnya, dan hidup orang lain juga.

Tandu itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil. Pemuda-pemuda pengangkat tandu yang kedua, menyeka keringat yang membasahi wajah mereka.

Gadis muda dari tandu yang pertama turun dan berjalan ke arah pintu rumah itu.

Tok, tok, tok. Ia mengetuk tiga kali dan pintu itu pun dibuka.

Seseorang turun dari tandu yang kedua.

Seorang wanita.

Li Xun Huan tidak dapat melihat wajahnya, namun pakaian dan rambut wanita itu kusut. Tubuhnya sungguh elok dan gerakannya gemulai.

Sepertinya Li Xun Huan kenal dengan wanita ini.

Ia berjalan ke arah pintu, lalu melambai ke arah ShangGuan Fei yang masih berada di tandu sebelum masuk ke dalam rumah itu.

Li Xun Huan melihat separuh dari wajah itu.

Kini dia yakin siapa wanita ini.

Memang betul, dia adalah Lin Xian Er!

Kalau Lin Xian Er tinggal di sini, di manakah Ah Fei?

Li Xun Huan ingin segera memburu dan menanyakannya, namun ia menahan diri.

Ia bukan laki-laki yang baik, namun ia akan melakukan apa yang tidak akan atau tidak ingin dilakukan oleh ‘lelaki baik-baik’.

Caranya menghadapi masalah kadang-kadang tidak dapat dimengerti banyak orang.

Walaupun banyak orang di dunia ini yang menginginkan kematiannya, tidak sedikit pula orang yang bersedia kehilangan nyawa mereka untuk menyelamatkannya.

Kini hari sudah gelap.

Li Xun Huan masih menanti di luar.

Selama menunggu, ia berpikir akan banyak hal.

Ia teringat saat pertama berjumpa dengan Ah Fei.

Ia tidak kesepian saat itu karena Tie Chuan Jia ada bersama dengan dia.

Lalu ia pun teringat pada Tie Chuan Jia. Wajahnya yang begitu setia dan lembut hati, juga tubuhnya yang sekuat baja…

Sayangnya, walaupun dadanya sekuat baja, hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh. Oleh sebab itulah, ia lebih sering merasa sedih daripada bahagia.

Selagi berpikir dan berpikir, Li Xun Huan tiba-tiba ingin minum arak lagi.

Ia mengeluarkan botol araknya dan minum sampai habis.

Lalu ia mulai terbatuk-batuk.

Saat itu pintu rumah terbuka lagi. ShangGuan Fei keluar dengan wajah berseri-seri bahagia, namun tampak agak lelah.

Sebuah tangan keluar dan menggapai tangan ShangGuan Fei.

Terdengar suara berbisik-bisik, mungkin bisikan selamat tinggal.

Sampai cukup lama, akhirnya kedua tangan yang bertaut itu pun terlepas.

ShangGuan Fei berjalan perlahan-lahan, sebentar-sebentar menoleh ke belakang. Sepertinya ia tidak rela pergi dari situ.

Pintu pun tertutup.

ShangGuan Fei menengadah menatap langit. Langkahnya menjadi semakin cepat, wajahnya terlihat aneh, kadang tersenyum, kadang mengeluh.

Apakah ia pun sudah jatuh ke neraka?

Cahaya dalam rumah remang-remang, membuat jendela kertas berwarna kemerahan.

Akhirnya ShangGuan Fei pergi dari situ. Li Xun Huan merasa sangat prihatin terhadap pemuda ini.

Li Xun Huan menghela nafas dan berjalan ke arah rumah itu.

Tok. Li Xun Huan mengetuk sekali. Tok,tok, lalu ia mengetuk lagi dua kali berturut-turut, sama seperti cara gadis berjubah merah tadi mengetuk pintu.

Pintu memang dibuka.

Seseorang berkata, “Kau…”

Ia hanya mengatakan sepatah kata itu sebelum melihat Li Xun Huan. Lalu ia segera berusaha menutup pintu itu kembali.

Namun Li Xun Huan telah menghalangi pintu itu.

Orang yang membuka pintu bukanlah Lin Xian Er, bukan juga si gadis berjubah merah, namun seorang nenek berambut putih.

Ia memandang Li Xun Huan dengan ketakutan dan bertanya, “Si…Siapakah engkau? Apa yang kau kerjakan di sini?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku datang untuk bertemu teman lama.”

Si nenek bertanya, “Teman lama? Siapakah teman lamamu?”

Li Xun Huan tersenyum dan menjawab, “Ia akan tahu kalau ia melihatku.”

Seraya berbicara, ia masuk ke dalam kamar.

Si nenek takut menghalanginya, namun ia berteriak, “Tidak ada temanmu di sini. Yang ada di sini hanya aku dan cucuku.”

Ada tiga kamar di rumah itu,. Lin Xian Er tidak tampak di ketiga kamar itu.

Si gadis berjubah merah menggigil ketakutan dan wajahnya pucat seperti kertas. Ia berseru, “Nenek? Apakah dia perampok?”

Si nenek pun sangat ketakutan dan tidak bisa menjawab.

Li Xun Huan tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis. Ia akhirnya bertanya, “Apakah aku kelihatan seperti seorang perampok?”

Si gadis menggigit bibirnya dan berkata, “Kalau kau bukan perampok, mengapa kau memaksa masuk rumah kami malam-malam buta seperti ini?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku datang untuk menemui Nona Lin.”

Setelah melihat Li Xun Huan bicara baik-baik, si gadis pun berkurang ketakutannya. Ia mengejapkan matanya dan berkata, “Tidak ada Nona Lin di sini. Yang ada Nona Zhou.”

Apakah itu nama samaran Lin Xian Er?

Li Xun Huan segera bertanya, “Di manakah Nona Zhou?”

Si gadis menuding hidungnya sendiri dan berkata, “Margaku Zhou. Maka sudah tentu akulah Nona Zhou.”

Li Xun Huan pun tersenyum.

Ia merasa seperti orang tolol.

Si gadis pun kelihatannya menikmati pertunjukan ini. Katanya lagi, “Namun aku tidak mengenalmu sama sekali. Mengapa kau datang untuk mencariku?”

Li Xun Huan tersenyum getir, katanya, “Aku mencari seorang gadis dewasa, bukan gadis kecil.”

Sahut si gadis, “Tidak ada gadis dewasa di sini.”

Tanya Li Xun Huan, “Maksudmu tidak ada orang yang baru saja datang ke rumah ini?”

Kata si gadis, “Tentu saja, ada beberapa orang pernah datang…”

Li Xun Huan langsung memotong, “Siapa?”

Sahut si gadis, “Nenek dan aku. Kami baru saja kembali dari kota.”

Si gadis memutar matanya, dan menambahkan, “Hanya kami berdua yang tinggal di sini. Aku adalah yang kecil, nenek adalah yang dewasa. Namun sudah lama nenek bukan gadis lagi. Jadi kau tak mungkin mencari beliau bukan?”

Li Xun Huan tersenyum lagi.

Ia merasa, ia banyak tersenyum kalau ia merasa tolol.

Ia merasa yakin bahwa Lin Xian Er masuk ke rumah itu.

Apakah ia hanya bermimpi?

Apakah wanita dalam tandu itu adalah si nenek ini?

Si nenek tiba-tiba berlutut dan memohon-mohon, “Kami hanya orang miskin dan tidak ada barang berharga di sini. Jika kau menginginkan sesuatu, cepat ambillah dan tinggalkan kami.”

Sahut Li Xun Huan, “Baik.”

Ada sebotol anggur di atas meja.

Disambarnya botol itu dan segera melangkah ke luar.

Terdengar suara gadis itu menggumam, “Oh, jadi dia memang bukan perampok. Hanya seorang pemabuk.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: