Kumpulan Cerita Silat

07/12/2008

Pisau Terbang Li (37)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:21 am

Si Orang Tua

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Selagi perhatian Li Xun Huan tercurah pada jago pedang kidal itu, perhatian Sun Xiao Hong tercurah pada sesuatu yang lain.

Kedua orang ini berjalan perlahan-lahan dan langkah mereka lebar-lebar. Sekilas, langkah mereka seperti biasa saja. Namun Sun Xiao Hong merasa ada sesuatu yang janggal.

Setelah beberapa saat, barulah ia menyadari kejanggalannya.

Biasanya, dua orang yang berjalan bersama-sama akan mempunyai langkah-langkah yang seirama.

Namun kedua orang ini berbeda. Waktu kaki orang yang pertama menginjak tanah, kaki orang kedua terangkat ke atas, tepat di tengah-tengah jejak orang yang pertama.

Jadi jejak mereka tampak seperti jejak satu orang saja.

Orang pertama melangkah pertama, lalu orang kedua melangkah kedua. Orang pertama melangkah ketiga, dan orang kedua pun melangkah keempat. Seluruhnya dalam irama yang sama.

Sun Xiao Hong belum pernah melihat dua orang berjalan seperti ini. Ia sungguh tertarik.

Sebaliknya Li Xun Huan sama sekali tidak tertarik.

Ia merasa gentar.

Langkah mereka yang seirama, menandakan pikiran mereka yang seirama pula.

Kalau mereka bersama-sama menghadapi musuh, gerakan mereka akan melengkapi satu dengan yang lain dengan sempurna.

ShangGuan JinHong sendirian adalah salah satu pesilat terbaik di dunia. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya jika Jin Wu Ming bertarung bersama-sama dengan dia.

Hati Li Xun Huan merosot.

Ia tidak dapat menemukan kelemahan serangan gabungan dua orang ini.

Ia juga tidak dapat menemukan cara bagaimana si orang tua di paviliun itu dapat mengantarkan dua orang ini pergi.

Tiba-tiba cahaya dalam paviliun itu menjadi sangat terang, bagaikan cahaya lentera.

Li Xun Huan belum pernah melihat seseorang dapat membuat cahaya seterang itu dengan pipanya.

ShangGuan JinHong pun melihat cahaya itu. Langkahnya terhenti.

Lalu cahaya dalam paviliun itu lenyap.

Setelah berhenti sekian lama, akhirnya ShangGuan JinHong mulai melangkah lagi. Kini ia menuju ke paviliun itu, ke depan si orang tua.

Ke mana pun ia melangkah, Jin Wu Ming mengikut di belakangnya.

Seolah-olah ia adalah bayangan ShangGuan JinHong.

Lentera itu pun kini masuk ke dalam paviliun dan menerangi tempat itu.

ShangGuan JinHong tidak bersuara. Ia menundukkan kepalanya, seakan-akan ia tidak ingin orang melihat wajahnya.

Namun matanya menatap lekat pada tangan si orang tua, mengawasi setiap inci gerakannya.

Si orang tua mengambil tembakau dan menaruhnya pada pipanya. Lalu ia mengambil batu pemantik.

Gerakannya perlahan tapi pasti.

Tiba-tiba ShangGuan Jin Hong menghampiri si orang tua dan memungut kertas api dari meja batu di situ.

Ia meneliti kertas itu baik-baik, lalu meletakkannya di dekat batu pemantik.

Kertas itu segera terbakar.

ShangGuan JinHong meletakkan kertas itu di dalam pipa.

Walaupun Li Xun Huan dan Sun Xiao Hong bersembunyi cukup jauh dari paviliun itu, mereka melihat setiap gerakan di sana dengan jelas.

Tanya Li Xun Huan, “Haruskah kita pergi ke sana?”

Sun Xiao Hong menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak perlu. Kakekku pasti bisa membuat mereka pergi.”

Suaranya penuh keyakinan, namun Li Xun Huan merasakan tangan gadis itu begitu dingin, sepertinya ia berkeringat dingin.

Ia tahu mengapa gadis ini sangat kuatir.

Pipa itu tidak panjang. ShangGuan JinHong dapat menggunakan kesempatan itu untuk menutup jalan darah si orang tua.

Tapi ia tidak melakukannya. Apakah ia menunggu kesempatan yang lebih baik?

Si orang tua mengisap pipanya.

Namun karena suatu hal, mungkin karena tembakaunya terlalu lembab atau terlalu padat, pipa itu tidak mau menyala. Kertas api itu hampir terbakar habis.

ShangGuan JinHong memegang kertas itu dengan ibu jari dan telunjuknya. Tiga jari yang lain, melingkar ke belakang.

Jari manis si orang tua hanya beberapa inci saja dari pergelangan tangan ShangGuan JinHong.

Api sudah membakar jari-jari ShangGuan JinHong.

Tapi ShangGuan JinHong seperti tidak merasa.

Saat itu, ‘Puff’, pipa pun menyala.

Sekelebat terlihat tiga jari ShangGuan JinHong yang bebas bergerak sedikit. Demikian pula jari manis dan kelingking si orang tua. Semua gerakan itu sangat cepat dan sangat ringan.

Lalu ShangGuan JinHong mundur beberapa langkah.

Si orang tua pun terus mengisap pipanya.

Selama itu, kedua orang itu tidak pernah saling pandang.

Saat itu juga, Li Xun Huan menghela nafas lega.

Dari pandangan orang awam, kejadian ini hanyalah soal menyalakan pipa. Namun dari mata Li Xun Huan, ia tahu bahwa pertarungan sengit telah terjadi!

ShangGuan JinHong terus menunggu kesempatan. Menunggu kelengahan si orang tua, menunggu kesempatan untuk menyerang.

Namun kesempatan itu tidak pernah datang.

Akhirnya ia tidak tahan lagi dan menyerang dengan tiga jarinya yang bebas.

Namun serangannya segera dipunahkan oleh jari manis dan kelingking si orang tua.

Pertarungan seperti inilah yang mengesankan bagi Li Xun Huan. Di dalamnya terkandung seni yang tertinggi dari ilmu silat.

Di balik gerakan jari yang sederhana, tersimpan gerak tipu yang tidak terbatas.

Kini bahaya sudah berlalu.

ShangGuan JinHong sudah mundur tiga langkah, kembali pada posisi awalnya.

Si orang tua tersenyum, lalu berkata, “Kau di sini?”

Sahut ShangGuan JinHong pendek, “Ya.”

Kata si orang tua, “Kau terlambat!”

Sahut ShangGuan JinHong, “Kau sudah menunggu di sini. Apakah kau tahu aku akan lewat sini?”

Kata si orang tua, “Aku berharap kau tidak datang.”

Tanya ShangGuan JinHong, “Mengapa?”

Sahut si orang tua, “Karena walaupun datang, kau harus pergi secepatnya.”

ShangGuan JinHong menarik nafas panjang. Katanya, “Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Sahut si orang tua tenang, “Aku tahu, kau akan pergi.”

ShangGuan JinHong mengepalkan tangannya.

Hawa membunuh melingkupi seluruh paviliun.

Si orang tua mengisap pipanya lagi dan menghembuskan asapnya.

Asap itu keluar seperti garis lurus.

Lalu di udara, asap itu berbelok, melayang ke arah wajah ShangGuan JinHong.

ShangGuan JinHong terperanjat.

Asap itu pun segera lenyap.

ShangGuan JinHong membungkukkan badannya dan berkata, “Luar biasa.”

Kata si orang tua, “Kau berlebihan.”

Kata ShangGuan JinHong, “Sudah dua puluh tujuh tahun sejak pertemuan kita sebelumnya. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.”

Sahut si orang tua, “Kita tidak perlu bertemu lagi.”

ShangGuan JinHong berpikir sejenak. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia diam saja.

Si orang tua kembali mengisap pipanya.

ShangGuan JinHong memutar badannya dan pergi dari situ.

Jin Wu Ming mengikutinya bagai bayang-bayang.

Li Xun Huan masih menatap paviliun itu sambil berpikir.

Sebelum ShangGuan JinHong pergi, ia memandang sekilas ke tempat Li Xun Huan bersembunyi. Ini adalah pertama kalinya Li Xun Huan beradu pandang dengan mata ShangGuan JinHong.

Dari tatapan matanya, Li Xun Huan tahu bahwa tenaga dalam orang ini sungguh besar, bahkan lebih daripada yang diceritakan orang-orang!

Namun yang lebih mengerikan adalah mata Jin Wu Ming.

Siapapun yang memandang mata ini akan merasa tidak enak, bahkan mungkin merasa jijik.

Karena mata itu bukan seperti mata manusia, bukan pula mata mata binatang.

Sepasang mata itu seperti mata yang mayat hidup!

Tidak berperasaan, tidak ada kehidupan.

Sun Xiao Hong tidak melihat semua ini, karena matanya menatap ke arah Li Xun Huan.

Inilah pertama kalinya ia melihat Li Xun Huan dari jarak sangat dekat.

Bahkan dalam kegelapan, ia dapat melihat profil wajah Li Xun Huan, terutama mata dan hidungnya.

Matanya besar dan bercahaya, memancarkan kepandaiannya. Tatapannya terlihat agak lelah, sedikit ragu, namun penuh dengan kasih sayang.

Hidungnya tinggi dan lurus, seperti pikirannya, penuh kebenaran.

Di sudut matanya terlihat kerut-kerut, membuat ia tampak dewasa, menawan, dan memberikan keteduhan bagi orang lain. Ia tampak seperti orang yang bisa dipercaya untuk menjaga nyawamu.

Ia adalah sosok laki-laki yang diimpikan setiap wanita dalam tidurnya.

Keduanya tidak menyadari bahwa si orang tua sedang berjalan menghampiri mereka dengan senyum kepuasan.

Ia memandang mereka berdua sampai cukup lama sebelum bertanya, “Maukah kalian berdua mengobrol dengan seorang tua?”

—–

Bulan telah naik ke atas.

Si orang tua dan Li Xun Huan berjalan di depan. Sun Xiao Hong mengikuti mereka dari belakang.

Ia tidak bicara apa-apa, namun hatinya ingin memekik bahagia. Karena ia hanya cukup memandang ke depan untuk melihat orang yang paling dikaguminya dan orang yang dipujanya.

Hatinya berbunga-bunga.

Kata si orang tua, “Aku telah mendengar tentang engkau sejak lama. Aku pun sudah lama ingin mengundangmu minum. Dan kini setelah kita berjumpa, aku senang sekali berbincang-bincang denganmu.”

Li Xun Huan tersenyum. Demikian pula Sun Xiao Hong yang terus menyela, “Padahal dia cuma bilang ‘Halo’.”

Kata si orang tua, “Itulah hebatnya dia. Dia tidak pernah menanyakan hal-hal yang tidak perlu. Orang lain pasti akan bertanya tentang identitasku.”

Kata Li Xun Huan, “Mungkin karena aku sudah tahu identitasmu.”

“O ya?”

Kata Li Xun Huan, “Tidak banyak orang di dunia ini yang dapat mengintimidasi ShangGuan JinHong.”

Sahut si orang tua, “Jika kau pikir aku dapat mengintimidasi ShangGuan JinHong, kau salah besar.”

Sebelum Li Xun Huan sempat menyahut, ia sudah melanjutkan lagi, “Kau pasti sudah dapat meraba kelihaian ShangGuan JinHong, juga anak muda yang mengikutinya. Kalau mereka bahu-membahu, tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapay menahan lebih dari 300 jurus mereka, apalagi mengalahkan mereka.”

Mata Li Xun Huan berkilat, lalu bertanya, “Tidak juga engkau?”

Kata si orang tua, “Tidak juga aku.”

Kata Li Xun Huan, “Tapi mereka pergi.”

Sahut si orang tua, “Mungkin karena mereka belum mau membunuhku. Atau mungkin juga, mereka tahu kau ada di situ dan mereka tidak yakin dapat mengalahkan kita berdua.”

Sun Xiao Hong tidak tahan untuk tidak menyela, “Walaupun mereka tahu ada seseorang yang bersembunyi di balik pohon, bagaimana mereka tahu bahwa orang itu adalah Li…Li Tan Hua?”

Sahut si orang tua, “Karena jika seorang pesilat tangguh seperti Li Tan Hua merasa bermusuhan dengan seseorang, ia akan memancarkan hawa membunuh.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Hawa membunuh?”

Jawab si orang tua, “Benar. Namun hanya pesilat tangguh macam ShangGuan JinHong pulalah yang dapat merasakannya.”

Sun Xiao Hong mendesah, lalu berkata, “Kau terlalu berbelit-belit. Aku tidak mengerti sedikitpun.”

Kata si orang tua, “Ilmu silat memang berbelit-belit. Hanya sedikit orang yang dapat mengerti.”

Kata Li Xun Huan, “Apapun alasan mereka pergi, aku tetap berterima kasih atas bantuanmu.”

Si orang tua berkata sambil tersenyum, “Aku hanya ingin orang-orang seperti dirimu terus hidup, karena tidak cukup banyak orang seperti engkau di dunia ini.”

Li Xun Huan hanya tersenyum tanpa kata-kata.

Kata si orang tua lagi, “Walaupun kita baru saja bertemu, aku tahu sifat-sifatmu. Jadi aku tidak akan memaksa engkau untuk pergi.”

Ia memandang Li Xun Huan dalam-dalam dan berkata, “Namun aku ingin kau menyadari satu hal.”

Kata Li Xun Huan, “Silakan katakan.”

Kata si orang tua, “Lin Shi Yin tidak memerluka perlindunganmu. Kau hanya dapat membantunya jika kau pergi.”

Li Xun Huan bergidik.

Lanjut si orang tua, “Tidak ada seorang pun yang ingin menyakiti Lin Shi Yin. Jika mereka ingin menyakitinya, itu sebenarnya karena engkau, karena engkau menjaganya. Jika kau meninggalkannya, tidak ada alasan untuk menyakitinya.”

Li Xun Huan merasa seperti dipecut dengan cambuk. Seluruh tubuhnya merasa kesakitan.

Namun sepertinya si orang tua tidak memahami kesakitannya. Ia melanjutkan, “Jika kau kuatir ia akan kesepian, kau tidak perlu kuatir lagi. Long Xiao Yun sudah kembali. Kau hanya akan memperkeruh suasana jika kau tetap tinggal di situ.”

Li Xun Huan menengadah ke langit malam yang gelap gulita. Ia berpikir sampai lama, lalu menghela nafas. Ia berkata, “Aku salah, lagi-lagi salah…”

Ia membungkuk, karena ia tidak bisa lagi berdiri tegak.

Sun Xiao Hong hanya dapat memandangnya dari belakang. Hatinya penuh rasa kasihan, rasa kasih sayang.

Ia tahu kakeknya sedang berusaha membangkitkan perasaan Li Xun Huan, membangkitkan sakit hatinya. Ia juga tahu bahwa hal ini baik untuk Li Xun Huan, namun tetap saja berat baginya menyaksikan laki-laki ini menderita begitu rupa.

Kata si orang tua lagi, “Long Xiao Yun akhirnya pulang karena ia telah menemukan seseorang untuk membunuhmu.”

Kata Li Xun Huan, “Mengapa dia berbuat begitu? Aku masih menganggap dia sahabat.”

Sahut si orang tua, “Tapi ia tidak berpikir demikian. Tahukah kau siapa yang ditemukannya?”

Kata Li Xun Huan, “Hu Bu Gui?”

Sahut si orang tua, “Betul. Orang gila itu.”

Sun Xiao Hong menyela, “Apakah ilmu silat orang gila itu benar-benar tinggi?”

Jawab si orang tua, “Ada dua orang di dunia ini yang aku tidak bisa mengukur secara pasti seberapa tinggi ilmu silat mereka.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Siapakah dua orang itu?”

“Satu adalah Li Tan Hua, yang satu lagi adalah Si Gila Hu.”

Kata Li Xun Huan, “Tetua, kau berlebihan. Ilmu silat Ah Fei sama tingkatannya dengan aku. Lalu ada Jin Wu Ming…”

Si orang tua memotong cepat, “Tapi Ah Fei dan Jin Wu Ming itu setali tiga uang. Mereka termasuk golongan yang tidak mengerti seni ilmu silat.”

Li Xun Huan terhenyak, “Kau bilang mereka tidak tahu seni ilmu silat?”

Sahut si orang tua, “Benar sekali. Bukan hanya itu, mereka sama sekali tidak pantas bicara tentang seni ilmu silat.

Mereka hanya membunuh orang. Mereka hanya tahu bagaimana membunuh orang.”

Kata Li Xun Huan, “Namun Ah Fei berbeda dari Jin Wu Ming.”

“Apa bedanya?”

Sahut Li Xun Huan, “Cara mereka membunuh mungkin hampir sama, tapi tujuan mereka membunuh sudah pasti berbeda.”

“O ya?”

Kata Li Xun Huan, “Ah Fei hanya membunuh jika terpaksa. Jin Wu Ming membunuh karena nafsu membunuh.”

Li Xun Huan menundukkan kepalanya, dan menambahkan, “Aku…”

Si orang tua menyergah, “Jika kau ingin menemuinya, masih ada kesempatan sekarang. Atau kau akan terlambat!”

Li Xun Huan bangkit berdiri lalu berkata, “Kalau begitu, aku pergi sekarang untuk menemuinya.”

Si orang tua tersenyum, “Kau tahu di mana ia tinggal?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tahu.”

Sun Xiao Hong tiba-tiba berjalan ke depan Li Xun Huan dan berkata, “Tapi mungkin kau tidak bisa menemukan tempatnya. Mari kuantarkan ke sana.”

Sebelum Li Xun Huan menjawab, si orang tua berkata dingin pada gadis itu, “Kau masih ada tugas lain. Lagi pula, ia tidak perlu bantuanmu.”

Wajah Sun Xiao Hong seperti ingin menangis.

Li Xun Huan segera berkata, “Selamat tinggal.”

Ia ingin bicara lebih banyak, tapi akhirnya hanya itu yang diucapkannya.

Si orang tua mengacungkan jempolnya. Katanya, “Bagus sekali. Pergi jika kau ingin pergi. Itulah yang diperbuat pria sejati.”

Li Xun Huan segera pergi. Ia bahkan tidak menoleh lagi.

Sun Xiao Hong hanya mengawasi kepergiannya. Kini matanya merah.

Si orang tua menepuk bahunya, “Apakah kau merasa sedih?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Tidak.”

Si orang tua terkekeh. Suaranya lembut dan menenangkan hati. Katanya, “Gadis bodoh. Kau pikir kakekmu tidak mengerti isi hatimu?”

Sun Xiao Hong menggigit bibirnya. Ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, “Kalau kakek tahu, mengapa kakek memisahkan kami?”

Sahut si orang tua, “Kau harus menyadari, tidak mudah mendapatkan laki-laki seperti Li Xun Huan. Jika kau menginginkannya, kau harus berjuang untuk merebut hatinya. Itu bukan pekerjaan mudah. Kau harus melakukannya perlahan-lahan. Kalau tidak ia malah akan segera lari ketakutan.”

Walaupun sepertinya Li Xun Huan berkeputusan bulat untuk pergi, dalam hatinya rasa sakit masih bergelora.

Ia tidak tahu kapan ia dapat bertemu lagi dengan Lin Shi Yin.

Sangat menyakitkan untuk bertemu dengannya, sangat menyakitkan untuk meninggalkannya.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, ia hanya bertemu dengannya tiga kali. Ketiga kali itu, ia hanya memandangnya sepintas, bahkan ada kali ketika ia tidak berbicara padanya sama sekali. Tapi ada benang yang mengikat hati Li Xun Huan. Dan Lin Shi Yinlah yang memegang benang itu. Jika ia dapat memandangnya, jika ia tahu dia dekat, ia sudah sangat puas.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: