Kumpulan Cerita Silat

06/12/2008

Pisau Terbang Li (36)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:19 am

Perasaan yang Aneh

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Keringat membasahi kening Si Kalajengking Biru.

Ia terus menerus gemetar sambil berteriak, “Ayo cepat sambitkan pisaumu! Segera bunuhlah aku!”

Kata Li Xun Huan, “Karena kau ingin membalaskan dendam Yi Ku, sudah tentu kau sangat mencintainya. Kini ia telah mati, kau pasti sangat menderita…”

Ia memandang pisau di tangannya, lalu berkata dengan tenang, “Aku mengerti kesedihanmu. Aku sungguh mengerti… Aku hanya ingin memberi tahu bahwa rasa sakit di hatimu tidak akan berkurang walaupun kau membunuh orang. Berapa orang pun yang kau bunuh, kesedihan itu akan tetap ada.”

Pisau itu berkilat dan melesat ke depan.

Menghunjam dinding tepat di samping Si Kalajengking Biru.

Kata Li Xun Huan, “Kau boleh pergi sekarang.”

Si Kalajengking Biru hanya mematung di situ.

Setelah sekian lama, akhirnya ia bertanya, “Kalau begitu, bagaimana aku caranya mengurangi kepedihan hatiku?”

Li Xun Huan mendesah, lalu menjawab, “Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin… Mungkin jika kau dapat menemukan penggantinya, itu bisa menolong. Aku berharap kau bisa bertemu dengan orang itu.”

Si Kalajengking Biru menatapnya. Air mata bergulir satu per satu di pipinya.

Sun Xiao Hong juga menatap Li Xun Huan.

Ia belum pernah bertemu dengan pria seperti ini dalam hidupnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa ada orang seperti ini. Ia memandangi tubuh Li Xun Huan lekat-lekat, berusaha menembus dadanya dan melihat hatinya.

Si Kalajengking Biru pergi. Ia pergi dengan tangis.

Pikiran Li Xun Huan melayang jauh sebelum akhirnya tersenyum. Katanya, “Kau pasti heran kenapa aku tidak membunuhnya.”

Sun Xiao Hong diam saja.

Si Bungkuk Sun pun hanya menatap senjata aneh yang tergeletak di lantai. Ia pun diam saja.

Kata Li Xun Huan, “Menurutku, jika seseorang masih dapat menangis, artinya orang itu belum pantas mati.”

Tiba-tiba Sun Xiao Hong tersenyum. Katanya, “Aku tahu kau tidak suka membunuh orang, jadi aku tidak begitu heran waktu kau melepaskannya. Yang ingin aku tahu, kalau kau tidak mabuk, kenapa pura-pura mabuk?”

Sahut Li Xun Huan, “Kau kan ahli minum. Kau pasti tahu bahwa pura-pura mabuk lebih menyenangkan daripada benar-benar mabuk. Jika aku benar-benar mabuk, bukan hanya aku tidak akan menikmati acara ini, namun sakit kepala esok harinya pun sangat menyakitkan.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Mmm, masuk akal juga.”

Kata Li Xun Huan, “Tapi orang yang minum anggur, suatu saat akan mabuk juga. Jadi kalau kau ingin melihat aku mabuk, akan ada banyak kesempatan di kemudian hari.”

Sun Xiao Hong mendesah, lalu berkata, “Tapi aku tahu, karena aku melewatkan kesempatan ini, aku tak akan pernah bisa membuatmu mabuk lagi.”

Kata Li Xun Huan, “Sesungguhnya aku…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia melihat Si Bungkuk Sun berjalan ke balik meja dan mulai menenggak arak langsung dari guci.

Ia telah minum lebih dari setengah, sebelum Sun Xiao Hong berhasil merebut guci arak itu dari tangannya. Gadis itu menghentakkan kakinya dan berkata, “Dia saja lebih suka pura-pura mabuk daripada benar-benar mabuk. Mengapa engkau dengan sengaja ingin mabuk?”

Si Bungkuk Sun menjawab terpatah-patah, “Mabuk bisa melenyapkan sejuta kekuatiran. Sungguh… Sungguh lebih baik mabuk.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Kenapa?”

Si Bungkuk Sun pun berteriak kesal, “Kau mau tahu kenapa? Mari kuberi tahu. Karena aku tidak mau berhutang budi pada siapa pun! Lebih baik dia menusukku daripada menolongku!”

Lalu ia terkulai di kursi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Li Xun Huan, oh Li Xun Huan. Mengapa kau menolongku? Tidakkah kau tahu bahwa dulu nyawaku pun pernah diselamatkan orang? Tahukah kau mengapa aku berada di sini bertahun-tahun ini?”

Li Xun Huan ingin sekali bertanya, “Siapakah orang yang menyelamatkanmu dulu?”

“Mengapa kau mau berjaga di sini selama lima belas tahun?”

“Apa yang sebenarnya kau jaga?”

Namun suara Si Bungkuk Sun makin lama makin lemah. Apakah dia sudah mabuk? Atau ia sudah mulai terlelap?

Li Xun Huan memandang Sun Xiao Hong. Ia pun ingin menanyakan pada gadis itu pertanyaan yang sama. Namun ketika dilihatnya matanya yang begitu bersemangat, begitu terang, begitu hitam berkilau, ia mengurungkan niatnya.

Ia tahu ia tidak mungkin mendapatkan informasi dari gadis seperti itu.

Li Xun Huan hanya dapat menghela nafas panjang, lalu ia berkata, “Pamanmu memang adalah seorang pria sejati.”

Sun Xiao Hong meliriknya dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, “Maksudmu, hanya seorang pria sejatilah yang dapat menjadi mabuk begini cepat?”

Kata Li Xun Huan, “Maksudku, hanya seorang pria sejatilah yang dapat menepati janjinya, apapun keadaannya. Hanya seorang pria sejati, yang tidak sudi menerima bantuan, yang mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain.”

Sun Xiao Hong memutar matanya. Katanya, “Jadi itulah sebabnya kau juga berada di sini. Untuk melindungi seseorang, bukan?”

Li Xun Huan diam saja.

Kata Sun Xiao Hong lagi, “Apapun yang terjadi, kau pun tidak akan pergi, bukan?”

Li Xun Huan tetap diam.

Sun Xiao Hong pun berkata, “Apakah kau masih peduli pada Ah Fei? Apakah kau ingin menjumpainya? Bukankah ia sahabatmu?”

Li Xun Huan tetap diam sampai cukup lama. Akhirnya ia menjawab, “Setidaknya ia dapat menjaga dirinya sendiri.”

Kata Sun Xiao Hong, “Aku sudah sering mendengar bahwa Lin Xian Er berwajah bagaikan malaikat, namun kehebatannya adalah menyeret laki-laki ke neraka.”

Lalu ia melanjutkan perlahan-lahan, “Apakah kau tidak kuatir bahwa ia akan menyeret sahabatmu ke neraka?”

Li Xun Huan mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

Sun Xiao Hong mendesah. Lalu katanya, “Aku tahu kau tidak akan pergi. Demi ‘dia’, kau dapat melupakan apapun juga. Apapun!”

Lalu matanya penuh dengan kelembutan dan kehangatan, memandangi Li Xun Huan. Tanyanya, “Mengapa kau tidak berusaha mencari penggantinya?”

Tubuh Li Xun Huan gemetar hebat dan ia pun mulai terbatuk-batuk lagi.

Kata Sun Xiao Hong, “Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu untuk pergi. Namun setidaknya kau harus menemui kakekku.”

Di sela-sela batuknya Li Xun Huan bertanya, “Di…Di manakah beliau?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Ia berada di paviliun panjang di luar kota.”

Tanya Li Xun Huan, “Kenapa beliau ada di sana?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Karena ShangGuan JinHong akan lewat di sana.”

Kata Li Xun Huan, “Walaupun ShangGuan JinHong lewat di sana, belum tentu kakekmu dapat bertemu dengannya.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Ah, sudah pasti mereka akan bertemu, karena ShangGuan JinHong tidak pernah naik kuda atau naik kereta. Ia sering berkata bahwa manusia punya kaki, oleh sebab itu mereka seharusnya berjalan.”

Li Xun Huan terkekeh, katanya, “Kau memang serba tahu.”

Sun Xiao Hong membalasnya dengan senyuman. Lalu katanya, “Memang.”

Kata ShangGuan JinHong, “Kau bukan hanya tahu bahwa ShangGuan JinHong akan datang, namun kau juga tahu jalan mana yang akan dilaluinya. Kau bukan hanya tahu bahwa Lin Xian Erlah yang menulis surat itu, namun kau juga tahu di mana ia bersembunyi…”

Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam, lalu bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu semuanya ini?”

Sun Xiao Hong menggigit bibirnya. Lalu ia tersenyum dan menjawab, “Aku punya cara tersendiri. Tapi aku takkan memberitahukannya padamu!”

—–

Malam yang gelap gulita.

Langkah Sun Xiao Hong ringan dan cepat, seakan-akan ia tidak mengenal kata lelah. Ia tertarik pada segala sesuatu di dunia ini.

Ia sungguh-sungguh penuh dengan semangat hidup.

Ia masih muda belia.

Li Xun Huan merasa ia sangat berbeda dengan orang yang berdiri di sampingnya, bagai langit dengan bumi.

Ia kagum pada gadis ini, mungkin sedikit iri hati. Waktu ia menyadari perasaan ini, ia jadi kaget sendiri.

Apakah betul aku sudah setua ini?

Ia tahu hanya seorang tua yang cemburu pada kebeliaan orang muda.

Katanya dengan tersenyum, “Jika aku berusia sepuluh tahun lebih muda, aku tidak akan berjalan begini dekat denganmu.”

Tanya Sun Xiaon Hong, “Kenapa?”

Sahut Li Xun Huan, “Semua orang bilang aku laki-laki mata keranjang. Jika aku begini dekat dengan seorang gadis, orang-orang pasti akan berpikiran macam-macam.”

Ia terkekeh sebelum melanjutkan lagi, “Untungnya, kini aku sudah tua bangka. Jika seseorang melihat kita, ia akan menyangka bahwa kita adalah ayah dan anak.”

Sun Xiao Hong cemberut dan berseru, “Ayahku? Kau pikir kau setua itu?”

“Tentu saja.”

Tiba-tiba Sun Xiao Hong tertawa terbahak-bahak.

Tanya Li Xun Huan, “Mengapa kau tertawa?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Aku menertawaimu.”

“Kenapa?”

Jawab gadis itu, “Karena aku tahu sekarang bahwa kau takut padaku!”

Kata Li Xun Huan, “Apa? Takut padamu?”

Mata Sun Xiao Hong bersinar terang bagai bintang di langit.

Ia tertawa polos dan berkata, “Kau berkata begitu karena kau takut padaku. Kau kuatir bahwa kau akan…padaku…Karena itu kau bilang bahwa kau adalah laki-laki tua bangka.”

Li Xun Huan hanya dapat tertawa getir.

Kata Sun Xiao Hong lagi, “Sebenarnya, jika kau adalah lelaki tua bangka, aku pun adalah wanita tua bangka.”

Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berkata pada Li Xun Huan dengan halus, “Ketika orang merasa dirinya tua, maka saat itulah ia benar-benar menjadi tua. Kakekku tidak pernah menganggap dirinya tua. Dan kau pun belum tua. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”

Li Xun Huan menatap matanya yang jernih. Tiba-tiba ia teringat pada Lin Shi Yin sepuluh tahun yang lalu.

Saat itu Lin Shi Yin pun sangat muda dan bersemangat.

Tapi sekarang?

Li Xun Huan mengeluh dan menghindari tatapan gadis itu. Ia memandang ke kegelapan yang tidak berujung, lalu berkata, “Paviliun panjang itu ada di depan sana, bukan? Ayo kita cepat ke sana.”

Dalam kegelapan malam, secercah cahaya lilin tampak dari paviliun itu. Samar-samar terlihat bayangan orang di dekat cahaya lilin itu.

Tanya Sun Xiao Hong, “Kau lihat lilin itu?”

“Ya.”

Kata Sun Xiao Hong sambil tersenyum, “Kau tahu apa itu? Kalau kau tahu, aku akan benar-benar kagum padamu.”

Sahut Li Xun Huan, “Itu kakekmu sedang mengisap pipanya.”

Kata Sun Xiao Hong, “Wah! Kau memang jenius!”

Li Xun Huan terkekeh. Entah mengapa, di depan gadis ini ia jadi lebih banyak tersenyum dan lebih sedikit batuk.

Kata Sun Xiao Hong, “ShangGuan JinHong sudah datang belum ya? Atau kakek sudah mengantarkannya pergi?”

Ia jadi agak gugup dan menambahkan, “Ayo kita segera ke sana, supaya kita bisa…”

Sebelum kalimatnya selesai, Li Xun Huan telah menarik tangannya.

Hati Sun Xiao Hong berdebar cepat, mukanya merah jengah.

Ia berusaha mencuri pandang ke arah wajah Li Xun Huan, dan terlihat olehnya wajah yang sangat tegang. Matanya terpaku pada sesuatu di kejauhan.

Dua titik sinar samar-samar terlihat.

Dua lentera.

Lentera itu berwarna keemasan dan tergantung di ujung tongkat bambu yang kurus panjang.

Entah mengapa, lentera itu tampak misterius, tampak mengerikan.

Sekejap saja, Li Xun Huan telah membawa Sun Xiao Hong bersembunyi di balik sebatang pohon dekat situ.

Sun Xiao Hong berbisik, “Partai Uang Emas?”

Li Xun Huan mengangguk.

Kata Sun Xiao Hong, “Kelihatannya ShangGuan JinHong baru datang. Mungkinkah mereka menemui persoalan di tengah jalan?”

Sahut Li Xun Huan, “Mungkin karena dia hanya punya sepasang kaki, jadi ia tidak bisa jalan begitu cepat.”

Di belakang dua lentera itu, dua lentera lagi datang menyusul.

Di antaranya tampak dua sosok manusia.

Keduanya tinggi besar. Keduanya mengenakan jubah berwarna kuning. Jubah orang yang di depan sangat panjang, hampir menyentuh tanah, namun sama sekali tidak memperlambat langkahnya.

Jubah orang yang di belakang sangat pendek, hampir-hampir tidak menutupi lututnya.

Orang yang di depan bertangan kosong, sepertinya ia tidak membawa senjata apapun.

Orang yang dibelakang membawa pedang, yang terselip di pinggangnya.

Li Xun Huan melihat bahwa gaya orang itu menyelipkan pedangnya sangat mirip dengan Ah Fei. Hanya saja Ah Fei menyelipkan pedangnya di tengah, dan pegangannya menghadap ke kanan.

Pedang orang ini terselip di sebelah kanan pinggangnya dan pegangannya menghadap ke kiri.

Mungkinkah orang ini kidal?

Li Xun Huan mengangkat alisnya.

Ia tidak suka bertarung dengan orang yang kidal. Jurus pedang orang itu berlawanan dengan orang yang normal, sehingga lebih sulit menghadapinya.

Lagi pula, sekali pedang itu keluar dari sarungnya, kecepatannya pasti luar biasa.

Li Xun Huan mengetahuinya karena begitu banyak pengalamannya di dunia persilatan. Ia tahu bahwa orang ini pasti adalah lawan yang sulit dikalahkan!

Advertisements

1 Comment »

  1. Hello webmaster
    I would like to share with you a link to your site
    write me here preonrelt@mail.ru

    Comment by Alexwebmaster — 03/03/2009 @ 9:35 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: