Kumpulan Cerita Silat

05/12/2008

Pisau Terbang Li (35)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:17 am

Manusia Pemakan Kalajengking

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Si Bungkuk Sun mendesah dan berkata, “Kau betul-betul sudah dewasa kini. Terakhir aku melihatmu, kau baru berumur lima tahun…”

Lalu ia kembali mengelap meja.

Sun Xiao Hong menundukkan kepalanya. Katanya, “Paman Kedua, kau tidak pernah pulang ke rumah selama berapa, tiga belas atau empat belas tahun?”

Si Bungkuk Sun mengangguk, “Ya. Empat belas tahun. Beberapa hari lagi, akan genap empat belas tahun.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Mengapa kau tidak pernah pulang dan menjenguk kami?”

Si Bungkuk Sun menggebrak meja dan berseru dengan lantang, “Aku sudah berjanji akan melindungi sebuah keluarga selama lima belas tahun. Kau boleh bertaruh bahwa aku akan melakukannya sampai genap!”

Kata Sun Xiao Hong, “Oh begitu.”

Setelah sekian lama, Si Bungkuk Sun kembali mengelap meja.

Ketika ia mulai mengelap, matanya yang tajam dan bersinar terang itu langsung menghilang.

Inilah yang akan terjadi jika seseorang harus mengelap meja selama empat belas tahun.

Si Bungkuk Sun lalu bertanya pelan, “Bagaimana kabar yang lain?”

Sun Xiao Hong tersenyum, “Mereka semua baik. Bibi Pertama dan Bibi Ketiga melahirkan tahun ini. Bibi Keempat punya anak kembar. Tahun Baru ini pasti sangat ramai.”

Dari sudut matanya, Sun Xiao Hong bisa melihat mata Si Bungkuk Sun yang tampak sedih. Ia langsung berhenti bicara. Lalu dengan cepat ia menambahkan, “Semuanya berharap kau bisa pulang juga.”

Si Bungkuk Sun memaksakan seulas senyum dan berkata, “Sampaikan pada mereka semua bahwa aku pasti pulang Tahun Baru berikutnya.”

Sun Xiao Hong langsung bertepuk tangan. Katanya, “Bagus sekali. Aku ingat kaulah yang paling hebat membuat kembang api.”

Sahut Si Bungkuk Sun, “Aku pasti akan membuatnya untukmu tahun depan. Sekarang, kau lebih baik pergi cepat-cepat. Kakekmu akan merasa kuatir.”

Lalu ia memandang Li Xun Huan dan bertanya, “Bagaimana kau akan membawanya pergi?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Aku akan menggendongnya.”

Ia lalu bangkit berdiri dan terdengarlah seseorang membentak dengan bengis, “Kau boleh pergi, tapi si pemabuk ini harus tinggal!”

Suara ini adalah suara seorang wanita.

Si Bungkuk Sun dan Sun Xiao Hong telah mengawasi pintu depan dari tadi, namun suara ini terdengar dari arah belakang. Tidak ada yang tahu kapan wanita ini masuk.

Wajah Si Bungkuk Sun langsung tertekuk. Dilemparkannya lapnya.

Ia sudah mengelap meja selama empat belas tahun. Jika tiap hari ia mengelap dua puluh kali, maka dalam setahun ia sudah mengelap 7300 kali, atau 102.200 kali dalam empat belas tahun. Siapapun yang telah mengelap meja sebanyak ini, pasti mempunyai kekuatan yang besar.

Lagi pula, Cakar Elang Si Bungkuk Sun sudah malang melintang di dunia persilatan sejak lama. Waktu ia melemparkan lapnya, tenaganya tidak kurang daripada seorang pesilat yang melemparkan senjata rahasia.

Terdengar suara ‘Pang’, dan debu pun beterbangan ke seluruh ruangan. Lap itu membuat lubang besar di dinding belakang, namun orang yang berdiri di depan pintu tidak terluka sedikitpun.

Kelihatannya ia tidak bergerak. Namun jika ia benar-benar tidak bergerak, lap itu pasti sudah melubangi perutnya.

Entah bagaimana, lap itu bisa luput.

Mungkin karena pinggangnya sangat ramping sehingga mudah baginya untuk menghindar.

Yang membuat wanita ini sangat memikat bukan hanya pinggangnya yang ramping.

Kakinya panjang dan lurus. Dan bagian tubuhnya yang seharusnya berisi, memang tidak kurus, dan bagian yang seharusnya langsing, memang tidak gemuk.

Matanya panjang dan menawan, namun mulutnya besar dan bibirnya sangat tebal.

Kulitnya putih mulus, namun kelihatan bersisik dan penuh bulu.

Ia tidak bisa dibilang wanita yang cantik, namun ia mempunyai pesona tersendiri.

Si Bungkuk Sun memutar badannya dan memandanginya.

Ia pun menatap Si Bungkuk Sun. Dari ekspresi wajahnya, seakan-akan ia menganggap Si Bungkuk Sun sebagai laki-laki tergagah dan paling ganteng sedunia. Seakan-akan ia sedang memandangi kekasihnya.

Namun ketika matanya sampai pada Sun Xiao Hong, tatapannya menjadi sedingin es.

Ia membenci semua wanita begitu rupa.

Si Bungkuk Sun terbatuk dua kali sebelum bertanya, “Si Kalajengking Biru?”

Si Kalajengking Biru tertawa.

Waktu tertawa, matanya menjadi makin panjang dan sipit, seperti seutas benang yang panjang.

Katanya sambil tersenyum, “Kau memang orang yang berpengetahuan luas. Aku suka laki-laki seperti itu.”

Si Bungkuk Sun tetap bermuka masam dan tidak menjawab.

Ia tidak suka berdebat dengan wanita, karena ia tidak tahu caranya.

Kata Si Kalajengking Biru, “Aku pun berpengetahuan cukup luas. Aku tahu siapa dirimu.”

Suara Si Bungkuk Sun menggelegar, “Jika kau tahu, mengapa masih bercokol di sini?”

Si Kalajengking Biru mendesah dan berkata, “Aku tahu kau tak akan membiarkan aku membawanya pergi begitu saja. Namun aku juga tidak ingin bertempur denganmu. Lalu bagaimana baiknya kita menyelesaikan persoalan ini?”

Tiba-tiba wanita itu melambaikan tangannya ke belakang dan berkata dengan tenang, “Ke sini.”

Si Bungkuk Sun melihat sesosok bayangan lain datang dari arah belakang.

Seorang lelaki bertubuh besar. Ketika Si Kalajengking Biru melambaikan tangannya, ia masuk ke dalam.

Pakaian laki-laki ini sangat apik dan kumisnya yang kemilau tercukur rapi. Di pinggangnya terselip sebilah golok bercincin sembilan yang mentereng.

Si Kalajengking Biru bertanya, “Tahukah kau siapa dia?”

Si Bungkuk Sun diam saja, namun Sun Xiao Hong menjawab, “Aku tahu.”

Si Kalajengking Biru sedikit heran, “Kau benar-benar tahu siapa dia?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Namanya Chu XianYu. Julukannya Si Majikan Kehidupan.”

Si Kalajengking Biru memandang pada Si Majikan Kehidupan dan berkata, “Ternyata kau cukup terkenal juga. Gadis kecil pun mengenal engkau.”

Wajah Si Majikan Kehidupan terlihat sombong.

Kata Sun Xiao Hong, “Aku tahu hampir semua orang terkenal dalam dunia persilatan. Yang aku tidak tahu adalah apa yang dikerjakannya dengan wanita seperti engkau.”

Si Kalajengking Biru tersenyum dan berkata, “Ia merayuku dalam perjalanan ke sini.”

Sun Xiao Hong pun tersenyumdan berkata, “Apakah dia yang merayumu? Atau sebaliknya?”

Sahut Si Kalajengking Biru, “Sudah pasti dia yang merayuku. Walaupun kau tahu bahwa ia terkenal dan ilmu silatnya pun cukup tinggi, mungkin kau tidak tahu bahwa ia juga pandai merayu wanita.”

Si Bungkuk Sun mulai kelihatan gelisah. Ia lalu bertanya, “Mengapa kau membawanya kemari?”

Sahut Si Kalajengking Biru, “Chu XiangYu adalah pesilat yang cukup tangguh. Ketika ia menggunakan jurus ‘Delapan Puluh Satu Tangan Golok Bercincin’, sebagian besar orang tidak dapat medekatinya.”

Si Bungkuk Sun hanya mendengus, “Hmmmh.”

Kata Si Kalajengking Biru lagi, “Jika aku bilang bahwa aku dapat membunuhnya dalam satu jurus, kau percaya atau tidak?”

Chu XiangYu yang dari tadi berdiri dengan pongah menjadi terperanjat, “Apa katamu?”

Si Kalajengking Britu berkata dengan lembut, “Bukan masalah besar. Aku cuma bilang bahwa aku akan mengambil nyawamu.”

Wajah Chu XiangYu langsung memucat. Setelah ragu-ragu sesaat, ia pun berkata, “Ah, kau bercanda saja.”

Si Kalajengking Biru mendesah lagi dan berkata, “Hanya karena kita melewatkan satu malam bersama, kau tidak percaya aku akan membunuhmu?”

Sahut Chu XiangYu, “Bagaimana mungkin aku bisa begini buta? Di tempat tinggalku ada banyak kalajengking.”

Tanya Si Kalajengking Biru, “Dan kau pasti tahu kebiasaan unik kelajengking betina.”

Chu XiangYu memaksakan untuk tersenyum, “Tapi kau kan bukan kalajengking.”

Kata Si Kalajengking Biru, “Kata siapa? Aku memang adalah kalajengking. Kau tidak tahu?”

Chu XiangYu cepat melompat mundur, dan menjungkirbalikkan meja di belakangnya. Namun keseimbangannya cukup baik, sehingga ia sendiri masih bisa berdiri.

Ia menghunus Golok Sembilan Cincinnya.

Ia sangat berpengalaman di dunia persilatan, jadi sudah pasti ia tahu siapakah Si Kalajengking Biru ini. Akan tetapi, ia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yang begitu mudah kena rayuannya adalah Si Kalajengking Biru sendiri.

Si Kalajengking Biru masih berkata dengan kalem, “Aku punya beberapa nasihat. Lain kali kalau kau merayu wanita, selidiki dulu latar belakangnya. Sayangnya…”

Ia mendesah lagi dan berjalan ke arah Chu XiangYu, “Sayangnya tidak ada lain kali.”

Chu XiangYu berteriak, “Stop! Jika kau mendekat lagi, akan kubunuh kau!”

Kata Si Kalajengking Biru sinis, “Baiklah. Bunuh saja aku. Aku sungguh berharap bisa mati di tanganmu.”

Chu XiangYu menjerit keras, dan Golok Sembilan Cincinnya menebas dengan cepat.

Angin dari golok itu menderu seperti auman harimau. Tebasannya sungguh bertenaga kuat.

Namun inilah gerakannya satu-satunya.

Terlihat kilau biru, lintasan cahaya berwarna hijau pupus yang dingin melesat di depan mata. Chu XiangYu rubuh. Bahkan jeritannya yang terakhir, terpotong setengah.

Tidak ada luka yang terlihat di tubuhnya, hanya dua titik darah di lehernya. Seakan-akan ia baru saja disengat kalajengking.

Si Bungkuk Sun dan Sun Xiao Hong menyaksikan peristiwa itu tanpa suara. Keduanya tidak berusaha menengahi, karena memang tidak berniat untuk ikut campur. Siapapun yang merayu wanita di tengah jalan, pasti bukan orang baik-baik.

Si Kalajengking Biru terus memandangi tubuh Chu XiangYu.

Ia memandanginya cukup lama, seakan-akan sedang mengagumi hasil karyanya sendiri.

Lalu ia tertawa.

Sambil tertawa ia berkata, “Aku sudah bilang, aku hanya perlu satu gerakan saja. Sekarang kau percaya, bukan?”

Tidak ada yang menjawab.

Lanjutnya lagi, “Ilmu silatku cukup lumayan, bukan?”

Masih tidak ada jawaban.

Si Kalajengking Biru pun berkata lagi, “Tangan Setan Hijau Yi Ku berada di urutan ke sembilan dalam Kitab Persenjataan. Kalau Bai Xiao Sheng memasukkan aku dalam kitabnya, ia pasti jatuh paling tidak ke nomor sepuluh.”

Itu benar, karena ia memang menyerang lebih cepat dan lebih mematikan daripada Yi Ku!

Si Kalajengking Biru memandang Si Bungkuk Sun, lalu berkata, “Kelihatannya ilmu silatku cukup untuk membawa si pemabuk ini pergi bersamaku, bukan?”

Si Bungkuk Sun menjawab dengan dingin, “TIDAK!”

Si Kalajengking Biru mengeluh, “Lalu aku harus berbuat apa untuk membawa pergi si pemabuk ini? Tidur denganmu?”

Si Bungkuk Sun berteriak keras dan kedua tangannya melesat ke depan.

Tangan kanannya menyerang seperti cakar dan tangan kirinya seperti tinju. Tinju kirinya penuh dengan tenaga halilintar. Cakarnya tampak seperti kait dan mengandung ribuan gerak tipu. Walaupun hanya dengan tangan kosong, kekuatannya sepuluh kali lebih besar dibandingkan dengan golok Chu XiangYu.

Si Kalajengking Biru meliukkan pinggangnya dan tiba-tiba lenyap.

Ketika Si Bungkuk Sun menyerang, ia segera berpindah ke belakangnya.

Untungnya, Si Bungkuk Sun adalah pesilat kelas atas. Ia segera menarik tangannya kembali, menarik balik kekuatan tinju dan cakarnya.

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam bertempur adalah membatalkan serangan. Karena kecepatan dan kekuatan tiap serangan, sulit untuk menghentikannya setengah jalan.

Namun Si Bungkuk Sun dapat melakukannya dengan mulus.

Jika itu orang lain, kemungkinan ia sudah terjengkang ke belakang, langsung ke dalam tangan Si Kalajengking Biru.

Untungnya Si Bungkuk Sun adalah seorang bungkuk. Jadi waktu ia menarik balik serangannya, semua kekuatannya terserap oleh punuknya.

Ia mengerutkan pundaknya dan menerjang ke belakang dengan punuknya.

Ini adalah jurusnya yang terkenal itu. Ia telah berlatih keras, sehingga punuknya telah menjadi sekeras baja. Dan terjangannya itu membawa tenaga yang sangat kuat.

Si Kalajengking Biru tahu benar jurus ini. Ia kembali meliukkan pinggangnya dan jubahnya yang panjang menari-nari di udara. Sekejap saja ia sudah kembali ke depan Si Bungkuk Sun. Lalu ia berkata, “Bukan saja kau berpengetahuan luas, ilmu silatmu pun luar biasa. Katakan saja, dan aku akan mengikut engkau ke mana pun engkau pergi.”

Si Bungkuk Sun pun berteriak, “Pergi saja ke neraka!”

Si Kalajengking Biru tersenyum manis dan berkata, “Jika aku mati, aku harus mati di atas ranjang!”

Di depan wanita seperti ini, setelah melihat senyum manisnya, seorang pria akan sulit mengerahkan seluruh tenaganya.

Ketika lawannya sulit mengerahkan seluruh tenaganya, tidak demikian halnya dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itulah, dalam sepuluh tahun ini, entah berapa laki-laki mati di tangannya.

Sayangnya, hari ini lawannya adalah Si Bungkuk Sun. Si Bungkuk Sun tidak tertarik lagi pada wanita.

Seiring dengan teriakannya, Cakar Besi Si Bungkuk Sun pun melejit ke depan.

Si Kalajengking Biru mengibaskan lengan bajunya dan mundur beberapa langkah. Lalu berkata, “Tunggu sebentar.”

Si Bungkuk Sun menarik kembali serangannya dan bertanya, “Tunggu apa lagi?”

Kata Si Kalajengking Biru, “Karena kita akan bertempur, paling tidak kau harus melihat senjataku terlebih dulu.”

Sebelum kalimatnya selesai, selintas cahaya biru terpancar dari lengan bajunya, menyerang ke arah Si Bungkuk Sun.

Si Bungkuk Sun mengangkat tangannya, hendak menangkap cahaya biru itu.

Ia selalu ingin menyelesaikan pertempuran secepatnya. Jadi, walaupun ia tahu kehebatan senjata Si Kalajengking Biru, ia masih berusaha menangkapnya. Si Bungkuk Sun yakin bahwa latihan Cakar Elangnya selama empat puluh tahun akan dapat mengalahkan senjata Si Kalajengking Biru. Lalu ia akan dapat mengalahkan wanita itu dengan hanya sekali pukul!

Namun mungkin ia sedikit terlalu percaya diri.

Sun Xiao Hong berdiri di situ tanpa suara. Matanya tidak pernah lepas dari lengan baju Si Kalajengking Biru.

Matanya sangat tajam.

Ketika lintasan cahaya biru itu berkelebat, ia segera tahu apa itu.

Ia belum pernah melihat senjata seaneh ini sebelumnya.

Senjata itu tampak seperti ekor kalajengking raksasa, panjang dan melingkar. Seakan lembut namun keras dan dapat meliuk dengan mudah.

Tentu saja Sun Xiao Hong sangat yakin pada Cakar Elang pamannya. Namun ia pun tahu, jika tangannya kena senjata ini, pamannya akan dimakan hidup-hidup oleh si pemakan kalajengking ini.

Namun karena kecepatan serangan Si Kalajengking Biru, Sun Xiao Hong tahu, ia tidak mungkin menghalanginya. Ia hanya tidak bisa percaya, mengapa pamannya begitu gegabah hendak memegang senjata itu langsung dengan tangan kosong.

Yang tidak disadari Sun Xiao Hong adalah bahwa setelah empat belas tahun mengelap meja, Si Bungkuk Sun sudah gatal ingin bertempur. Kini kesempatan sudah terbuka, dan Si Bungkuk Sun pun tidak bisa bertempur setengah-setengah. Ia ingin meraih kemenangan secepatnya.

Sun Xiao Hong menjerit.

Namun tangan itu bergerak lebih cepat daripada jeritannya. Ketika ia masih berteriak, tangan itu telah menangkap tangan Si Kalajengking Biru.

Terdengar bunyi berdentang dan cahaya biru itu pun terkulai ke tanah.

Ketika cahaya biru itu jatuh ke tanah, Si Kalajegking Biru pun mundur beberapa langkah. Ia bergerak mundur terlalu cepat, sehingga keseimbangannya hilang dan ia membentur dinding belakang.

Ruangan itu menjadi sunyi senyap seperti kuburan.

Semua orang hanya berdiri mematung.

Semuanya memandangi tangan itu. Mata Si Kalajengking Biru bukan hanya kaget, namun juga penuh rasa nyeri yang hebat.

Tangannya telah patah!

Ia menarik tangannya kembali perlahan-lahan.

Saat itu seseorang bangkit berdiri dengan malas-malasan. Orang ini adalah orang yang sudah mabuk berat itu, Li Xun Huan!

Dengan rasa gembira dan terkejut. Sun Xiao Hong berseru, “Ternyata kau tidak mabuk!”

Li Xun Huan terkekeh dan berkata, “Aku tahu aku memang sedang bersedih, dan tubuhku memang letih. Namun aku memang sangat tahan minum arak.”

Sun Xiao Hong menatapnya dengan perasaan campur aduk dalam hatinya. Bahkan ia sendiri pun tidak tahu perasaan apa saja yang ada di sana. Mungkin kaget? Atau gembira? Atau kagum? Atau mungkin penyesalan?

Ternyata ia sudah gagal membuat Li Xun Huan mabuk.

Si Kalajengking Biru menatap Li Xun Huan dengan penuh rasa takut.

Karena dilihatnya pisau di tangan Li Xun Huan.

Pisau Terbang Li Kecil!

Pisau itu menjadi sangat mengerikan selama masih berada di tangan Li Xun Huan. Karena setelah pisau itu tidak ada lagi di sana, sang lawan tidak sempat lagi merasa ngeri.

Orang mati tidak lagi bisa merasa takut.

Satu-satunya suara yang terdengar di sana, adalah helaan nafas orang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: