Kumpulan Cerita Silat

04/12/2008

Pisau Terbang Li (34)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:14 am

Berita yang Mengejutkan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Sun Xiao Hong menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Lihat, kau terus saja berbuat kesalahan. Tunggu sampai giliranmu.”

Lalu ia menambahkan, “Kau pasti tahu perangai ShangGuan JinHong. Harta karun biasa tidak akan menggerakkan hatinya. Tahukah kau apa yang diinginkannya?”

Jawab Li Xun Huan, “Tidak.”

Kata Sun Xiao Hong, “Karena ia mendengar bahwa dulu ayahnya bersahabat akrab dengan pesilat nomor satu dunia, Shen Lang.”

[Shen Lang adalah nama karakter utama dalam novel Gu Long yang berjudul “Pendekar Baja”]

Kata Li Xun Huan, “Shen Lang memang sahabat karib ayahku. Namun ia sudah lama mengundurkan diri dan hidup di pulau terpencil. Lalu apa hubungannya dengan peristiwa ini?”

Sun Xiao Hong tersenyum, “Kelihatannya, kalau kau tidak diberi kesempatan bertanya, kau bisa jadi gila. Baiklah, tapi kau harus minum tiga cawan terlebih dulu.”

Sepertinya, ia memang ingin Li Xun Huan jadi mabuk. Hanya saja, pertanyaannya sungguh mengejutkan dan jawabannya lebih mengejutkan lagi. Walaupun Li Xun Huan tahu apa yang diinginkannya, ia terus saja minum.

Lalu Sun Xiao Hong pun melanjutkan, “Karena, ia mendengar bahwa sebelum Shen Lang mengundurkan diri, ia memberikan dua kitab pusaka silat kepada ayahmu. Dengan belajar dari salah satu kitab itu saja, ilmu pisaumu sudah tidak ada tandingannya di dunia persilatan. Jika seseorang bisa belajar dari keduanya, bayangkan betapa hebat jadinya orang itu! Jadi bahkan ShangGuan JinHong sekalipun tak bisa melewatkannya.”

Li Xun Huan terdiam sejenak sebelum menjawab, “Jika ini memang benar, mengapa aku sendiri tidak tahu?”

Kata Sun Xiao Hong, “Ini hanyalah kabar burung yang disiarkan oleh Lin Xian Er. Shen Lang kan orang yang sangat pandai. Mengapa ia sengaja meninggalkan kitab pusaka itu untuk dijadikan rebutan orang banyak?”

Ia tersenyum dan melanjutkan, “Sekalipun ia meninggalkan kitab pusaka, ia tidak akan meninggalkannya di rumahmu. Mengapa ia membawa kesulitan bagi sahabatnya?”

Li Xun Huan mendesah, “Betul juga.”

Sun Xiao Hong mengejapkan matanya, lalu bertanya, “Aku ingin memberi kesempatan padamu untuk mengajukan pertanyaan. Oleh sebab ini, kau pasti bisa menjawab pertanyaanku yang satu ini.”

Matanya memandang Li Xun Huan dengan polos, “Apakah ia masih satu-satunya wanita dalam hatimu? Apakah kau masih rela mati baginya? Aku tahu kau pasti paham siapakah ‘ia’ yang kumaksudkan.”

Li Xun Huan terdiam.

Ia tidak pernah menyangka Sun Xiao Hong akan mengajukan pertanyaan ini.

Siapapun yang menanyakannya, ia tidak akan menjawabnya. Ini adalah rahasianya yang paling pahit, sakit hatinya yang paling dalam.

Mendengar pertanyaan ini sama dengan ditusuk dengan sembilu.

Ia tidak mengerti mengapa Sun Xiao Hong harus menanyakannya.

Gadis-gadis muda memang selalu ingin tahu. Apakah itu alasannya?

Ia pasti tidak ingin menyakiti Li Xun Huan. Jika itu maksudnya, ia tidak mungkin memberitahukan padanya semua rahasia yang barusan diceritakannya itu.

Tapi siapakah sebenarnya dia?

Bagaimana ia bisa tahu begitu banyak?

Kakeknya sudah pasti orang yang sangat berpengaruh. Si Rambut Putih Sun, pasti bukan namanya yang sesungguhnya. Siapakah dia sebenarnya?

Siapa yang ditemuinya di luar kota? Apakah ShangGuan Jin Hong?

Di manakah Ah Fei dan Lin Xian Er bersembunyi?

Li Xun Huan rela berbuat apa saja untuk mengetahui jawaban dari rahasia-rahasia ini!

Li Xun Huan duduk di situ sampai sekian lama, lalu menghela nagas panjang, “Ketika sepertinya tidak ada lagi cinta, ternyata cinta masih ada. Ketika cinta menjadi dalam, ternyata ia berubah dangkal… Kejam? Atau sentimental? Siapa yang dapat menghakimi? Siapa yang dapat…”

Suaranya makin lama makin halus, sampai tidak terdengar lagi.

Sun Xiao Hong mendesah dan berkata dengan lembut, “Mengapa kau lakukan ini pada dirimu sendiri?…Mengapa?”

Mereka terdiam cukup lama, lalu tiba-tiba Sun Xiao Hong mengambil cawan arak dan meneguk isinya sampai habis. Ia tersenyum sambil berkata, “Baiklah, aku kalah kali ini. Kau boleh bertanya lagi.”

Wajah Li Xun Huan kini sungguh serius, dan ia bertanya, “Di manakah Ah Fei saat ini?”

Sun Xiao Hong tersenyum, “Aku tahu, kau pasti akan menanyakannya. Selain dari si ‘dia’, mungkin ia adalah orang yang paling kau sayangi.”

Kata Li Xun Huan, “Tentu saja. Siapa pun yang mempunyai sahabat seperti dia, pasti akan menguatirkan keadaannya.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Jika seseorang dapat mempunyai sahabat seperti diriMU, bukankah mereka juga pasti akan menguatirkan keadaanmu?”

Lalu ia tersenyum penuh rahasia dan mengeluarkan sepucuk surat, “Ini adalah tempat di mana Ah Fei kini tinggal. Ikuti saja peta ini dan kau pasti akan menemukan dia.”

Kata Li Xun Huan, “Terima kasih.”

Ini adalah kali kedua ia mengucapkan ‘terima kasih’ sepanjang hari ini.

Sun Xiao Hong menatapnya, “Kau tidak mengucapkan terima kasih waktu kuberitahukan padamu rahasia yang terbesar. Kau tidak mengucapkan terima kasih ketika kuberitahukan siapa yang ingin membunuhmu. Mengapa sekarang kau berterima kasih?”

Li Xun Huan diam saja.

Kata Sun Xiao Hong lagi, “Aku tahu jawabannya walaupun kau tidak memberi tahu. Alasannya adalah bahwa dengan peta ini kau dapat menemukan Ah Fei. Hanya dengan cara itu kau dapat menyelamatkannya. Kau dapat menasihatinya untuk tidak mencintai orang yang tidak pantas dicintai dan merusak dirinya sendiri. Kau berterima kasih padaku demi dia.”

Lanjutnya, “Alasan ini jugalah yang membuat kau berterima kasih pada Guo Song Yang. Demi Lin Shi Yin… Pernahkah kau berterima kasih pada seseorang demi dirimu sendiri?”

Li Xun Huan masih diam saja.

Sun Xiao Hong hanya bisa mengeluh, “Kakekku pernah bilang, jika seseorang tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri, hidup orang itu sungguhlah menyedihkan.”

Kini Sun Xiao Hong pun berhenti bicara. Wajahnya tampak muram. Setelah sekian lama, terbayang senyuman di bibirnya.

“Namun jika seseorang hanya hidup untuk dirinya sendiri, betapa membosankannya hidupnya itu!”

Li Xun Huan minum secawan lagi, lalu bertanya, “Kakekmu sedang mengantar siapa?”

Sahut Sun Xiao Hong, “ShangGuan JinHong.”

Jawaban ini sungguh membuat Li Xun Huan terhenyak.

Ia tidak tahan untuk tidak bertanya, “ShangGuan JinHong belum masuk ke dalam kota. Mengapa dia sudah akan pergi lagi?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Karena kakek secara khusus ingin mengantarkan dia pergi. Bagaimana mungkin ia bisa menolak?”

Kata Li Xun Huan, “Maksudmu, kakekmu adalah…”

Sampai di sini, ia mulai terbatuk-batuk lagi.

Ia membungkukkan badannya dan merasa kepalanya berkunang-kunang.

Si Bungkuk Sun sejak lama berdiri di sudut yang jauh, namun kini ia datang mendekati mereka. Katanya pada Li Xun Huan, “Kau sudah minum terlalu banyak hari ini, dan juga terlalu cepat. Lanjutkanlah permainan ini esok hari saja.”

Li Xun Huan malah bertanya kepadanya, “Kau tahu di mana ShangGuan JinHong?”

Jawab Si Bungkuk Sun, “Aku tidak tahu. Kelihatannya aku harus minum satu cawan anggur juga.”

Li Xun Huan tertawa terbahak-bahak, “Tidak perlu. Kau kan tidak ikut dalam pertandingan ini. Kau tidak perlu mengikuti aturannya.”

Si Bungkuk Sun memandang Li Xun Huan dengan aneh, seakan-akan belum pernah kenal dengan orang ini sebelumnya.

Kata Li Xun Huan lagi, “Tapi aku tahu jawabannya. ShangGuan JinHong menganggap dirinya sebagai pesilat nomor satu di dunia. Ia sangat angkuh dan tidak memandang sebelah mata pada siapa pun juga. Namun kali ini, ia malah mau menuruti Si Tua Sun. Kau tahu kenapa?”

Jawab Si Bungkuk Sun, “Tidak.”

Kata Li Xun Huan, “Aku juga tidak tahu. Oleh sebab itulah aku harus bertanya, karena aku ingin tahu jawabannya.”

Kata Si Bungkuk Sun, “Kau bertanya terlalu banyak. Pantas saja kau mabuk.”

Li Xun Huan mengangkat cawan anggurnya dan bertanya pada Sun Xiao Hong, “Nona Sun, siapakah sebenarnya Si Tua Sun?”

Sun Xiao Hong tersenyum dan menjawab, “Si Tua Sun adalah ayah dari ayahku. Kakek kandungku.”

Li Xun Huan terbahak-bahak, “Betul. Betul. Kau memang betul sekali.”

Ia minum secawan penuh.

Setelah menghabiskannya, pandangannya menjadi kabur. Katanya, “Aku punya pertanyaan lagi.”

Mata Sun Xiao Hong malah menjadi semakin terang. Ia terkekeh, “Tanyakanlah sebelum kau benar-benar mabuk.”

Tanya Li Xun Huan, “Aku bertanya. Mengapa kau ingin aku mabuk? Mengapa…”

Sun Xiao Hong mengisi cawan Li Xun Huan dengan anggur, lalu menjawabnya dengan senyum lebar, “Karena kita sedang melangsungkan pertandingan minum anggur. Bukankah tujuannya adalah membuat lawan mabuk terlebih dahulu? Semua peminum suka melihat orang lain mabuk lebih dulu. Betul kan?”

Sahut Li Xun Huan, “Itu betul, betul, betul…”

Kali ini, ia benar-benar mabuk berat.

Si Bungkuk Sun maupun Sun Xiao Hong tidak bersuara. Mereka berdua hanya menatap Li Xun Huan. Mereka tidak yakin apakah dia memang benar-benar mabuk atau hanya pura-pura.

Malam pun tibalah.

Si Bungkuk Sun menyalakan lilin. Ia berkata, “Sudah waktunya makan malam. Mungkin akan ada pelanggan yang lain.”

Sambil berbicara, ia melangkah cepat ke arah pintu dan menguncinya. Seakan-akan ingin menahan Sun Xiao Hong di situ.

Sun Xiao Hong tidak merasa keberatan.

Kunci itu sangat besar. Biasanya perlu waktu cukup lama bagi Si Bungkuk Sun untuk mengancingkannya di pintu. Namun hari ini, kelihatannya ia tiba-tiba menjadi kuat dan mengangkat kunci besar itu bagai mengangkat bulu ayam saja.

Sun Xiao Hong tiba-tiba tersenyum, “Orang bilang Paman Kedua bertenaga sangat besar. Sayang aku baru tahu sekarang.”

Si Bungkuk Sun memutar badannya. Ia mengangkat alisnya dan bertanya, “Siapa Paman Keduamu? Apa kau juga sudah mabuk?”

Kata Sun Xiao Hong, “Aktingmu memang sangat bagus. Tapi apakah kau ingin terus berakting sampai sekarang?”

Si Bungkuk Sun hanya menatapnya. Namun tatapannya sedingin es.

Bagaimana mungkin Si Bungkuk Sun bisa menatap seperti ini?

Jika Li Xun Huan melihat kedua mata ini, ia pasti akan merasa bangga, sebab ia tidak pernah melihatnya menatap orang seperti ini dalam dua tahun mereka bersama-sama.

Sayang sekali Li Xun Huan tidak bisa melihat apa-apa sekarang.

Kata Sun Xiao Hong, “Aku yakin hari ini dia benar-benar mabuk, bukan cuma pura-pura.”

Kata Si Bungkuk Sun, “Tahukah kau berapa besar ketahanannya terhadap alkohol? Bagaimana mungkin ia bisa mabuk secepat itu?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Kalau seseorang sedang jengkel, ditambah dengan tubuh yang lelah, bagaimana pun besarnya kekuatan minumnya, ia pasti cepat mabuk.”

Si Bungkuk Sun pun bertanya, “Mengapa kau ingin membuatnya mabuk?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Kau tidak tahu? Inilah yang diinginkan kakek.”

“O ya?”

“Sekarang orang sudah tahu di mana ia berada. Mereka pasti akan segera datang mencarinya. Itulah sebabnya mengapa kakek ingin menyembunyikan dia untuk sementara waktu.”

Sun Xiao Hong menghela nafas dan melanjutkan, “Namun kau pasti tahu sifatnya. Bagaimana mungkin kita membawanya pergi kalau ia tidak mabuk?”

Si Bungkuk Sun berkata, “Sejujurnya, aku tidak mengerti sama sekali pikiran kekekmu.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Apa yang tidak kau mengerti?”

Kata Si Bungkuk Sun, “Waktu Li Xun Huan sendiri ingin bersembunyi, kakekmu terus mendorong dia untuk muncul kembali. Sekarang, waktu dia sudah muncul, kakekmu ingin menyembunyikan dia.”

Sun Xiao Hong menggelengkan kepalanya, “Inilah kesalahanmu. Kakek hanya akan menyembunyikannya untuk sementara waktu.”

Lalu ia menatap Li Xun Huan yang tidak sadarkan diri dan tersenyum, “Tahukah kau mengapa begitu banyak orang yang menginginkan kepalanya?”

Si Bungkuk Sun tertawa dingin, “Siapa yang peduli? Selain ShangGuan JinHong, siapakah yang harus ditakutinya?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Kau salah lagi. Setiap orang yang menginginkan kepalanya pasti tahu apa yang mereka perbuat.”

Tanya Si Bungkuk Sun, “Apa benar? Coba kau sebutkan siapa saja mereka itu.”

Jawab Sun Xiao Hong, “Lupakan dulu yang pria, mari kita mulai dengan yang wanita. Ada Si Nyonya Budha Bahagia dan Si Kalajengking Biru…”

Sewaktu nama-nama ini disebutkan, Si Bungkuk Sun mengangkat alisnya.

Lanjut Xiao Hong, “Bai Xiao Sheng berat sebelah terhadap kaum pria, sehingga Kitab Persenjataannya tidak menyebutkan para wanita. Tapi aku yakin kau pasti tahu kedua iblis wanita ini, bukan?”

Si Bungkuk Sun mengangguk.

Kata Sun Xiao Hong, “Si Kalajengking Biru adalah kekasih Si Setan Hijau. Si Nyonya Budha Bahagia adalah ibu angkat Si Anak Lima Racun. Mereka telah mencari-cari Li Xun Huan sekian lama. Kalau mereka tahu ia ada di sini, mereka pasti akan langsung datang.”

Ia mendesah, lanjutnya, “Walaupun hanya salah satu dari mereka yang datang, Li Xun Huan pasti akan kerepotan.”

Si Bungkuk Sun mengambil lapnya dan mulai memebersihkan meja.

Setiap kali ia merasa kesal, ia berlaku seperti ini.

Kata Sun Xiao Hong, “Sekarang mari kita menyebutkan yang pria.”

Ia memejamkan matanya dan mengacungkan jarinya. Katanya, “ShangGuan JinHong, Lu Feng Xian, Jin Wu Ming, dan…kau pasti tahu yang terakhir.”

[Wu Ming artinya Tidak Ada Kehidupan]

Si Bungkuk Sun terus membersihkan meja, mengangkat wajah pun tidak. Ia bertanya singkat, “Siapa?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Hu Bu Gui.”

Si Bungkuk Sun berhenti mengelap dan mengangkat wajahnya melongo. Tanyanya, “Hu Bu Gui? Kau maksud Si Gila Hu?”

Kata Sun Xiao Hong, “Betul sekali. Orang ini memang tampak gila. Senjatanya adalah pedang bambu. Kudengar ilmu pedangnya segila orangnya. Kadang-kadang tampak hebat, kadang-kadang tidak karuan, tidak pantas dilihat. Oleh sebab itu, Bai Xiao Sheng tidak mengikutsertakannya dalam Kitab Persenjataan.”

Si Bungkuk Sun menjawab, “Bagian yang payah itu cuma pura-pura, bagian yang hebat itu yang sesungguhnya.”

Setelah berpikir beberapa saat ia bertanya, “Tapi orang ini selalu menyendiri. Mengapa tiba-tiba ia ingin mengganggu Li Xun Huan?”

Kata Sun Xiao Hong, “Kudengar, Long Xiao Yun yang memintanya. Si Gila Hu berhutang budi pada guru Long Xiao Yun.”

Kata Si Bungkuk Sun, “Sulit untuk menemukan orang seperti dia. Hebat juga Long Xiao Yun bisa menemukannya.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Itulah sebabnya mengapa Long Xiao Yun pergi dari rumahnya selama dua tahun ini.”

Tanya Si Bungkuk Sun, “Apakah Lu Feng Xian yang tadi kau sebutkan adalah yang berada di urutan nomor lima Kitab Persenjataan?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Betul. Ia telah mempelajari ilmu silat yang aneh akhir-akhir ini. Dan ia ingin bertarung dengan semua pesilat yang urutannya berada di atas dia.”

Tanya Si Bungkuk Sun lagi, “Bagaimana dengan Jing…Jing…”

“Jing Wu Ming? Jing Wu Ming adalah pesilat yang paling tangguh di bawah naungan ShangGuan JinHong.”

Si Bungkuk Sun mengerutkan keningnya, “Mengapa aku belum pernah mendengar namanya?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Ia baru muncul dua tahun terakhir ini. Menurut kakek, di antara pesilat-pesilat muda, ia dan Ah Fei adalah yang terbaik.”

“O ya?”

Kata Sun Xiao Hong, “Ia juga menggunakan pedang, dan seperti Ah Fei, pedangnya pun luar biasa cepat, tepat dan mematikan! Selain itu, dia punya satu sifat lagi yang sungguh berbahaya.”

Si Bungkuk Sun terus menyimak dengan serius.

Lanjut Sun Xiao Hong, “Ia jarang bertempur, namun sekali bertempur, ia seakan-akan tidak peduli lagi akan hidupnya sendiri. Tiap serangan adalah serangan berani mati. Karena ia disebut ‘Tidak Ada Kehidupan’, sudah tentu ia tidak peduli akan hidupnya.”

Si Bungkuk Sun hanya terdiam. Lalu ia bertanya, “Di mana kakekmu?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Kami berjanji bertemu di luar kota…”

Ia tersenyum penuh kemenangan, “Kakek tahu aku akan menemukan cara untuk membawa Li Xun Huan ke sana.”

Si Bungkuk Sun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Kau memang betul-betul gadis kecil yang penuh akal bulus.”

Sun Xiao Hong memonyongkan mulutnya, “Aku sudah hampir dua puluh tahun. Mengapa kau masih memanggilku gadis kecil?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: