Kumpulan Cerita Silat

03/12/2008

Pisau Terbang Li (33)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:11 am

Percakapan yang Mengejutkan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Kata si gadis berkuncir, “Itu adalah kesempatan pertama yang tidak kau pergunakan untuk membunuhnya. Kau ingin aku melanjutkan lagi?”

Li Xun Huan hanya bisa terkekeh.”Tidak perlulah.”

Si gadis berkuncir pun berkata lagi, “Orang-orang bilang kau adalah pria sejati, tapi menurutku kau sebenarnya agak feminin.”

Seumur hidupnya, Li Xun Huan telah mengalami berbagai macam hinaan. Namun ini adalah pertama kalinya ia dituduh sebagai seorang ‘feminin’. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.

Si gadis berkuncir masih menatapnya dengan matanya yang besar dan jernih, “Jika kau tidak tahu harus bilang apa, mengapa kau tidak mulai batuk-batuk?”

Li Xun Huan mendesah, “Mata Nona Muda sangat tajam. Rasanya kau adalah seorang penting. Maafkan kalau aku tidak mengenalimu.”

Si gadis segera menyergah, “Tidak usah memuji-muji. Aku bukan siapa-siapa.”

Kini Li Xun Huan benar-benar mulai terbatuk-batuk.

Si gadis pun berkata dengan manis, “Aku tahu kau tidak pernah menyombongkan diri dan suka sekali memuji orang lain. Ini adalah sifatmu yang terbaik, tapi juga yang terburuk. Seseorang tidak boleh terlalu merendahkan dirinya.”

Sahut Li Xun Huan, “Nona Muda…”

Si gadis langsung memotongnya cepat, “Margaku bukan ‘Nona’ dan namaku bukan ‘Muda’. Mengapa kau terus-terusan memanggilku ‘Nona Muda’?”

Li Xun Huan tersenyum. Kini ia merasa, gadis ini memang sungguh menarik.

Si gadis berkuncir menambahkan, “Margaku adalah Sun, dan nama lengkapku Sun Xiao Hong. Tapi tidak sama dengan ‘Hong’ dalam nama ‘ShangGuan JinHong’, tapi ‘Hong’ yang berarti warna merah.”

Kata Li Xun Huan, “Namaku Li…”

Si gadis kembali memotongnya, “Aku sudah tahu namamu sejak lama. Sekarang aku menantangmu berduel!”

Li Xun Huan terperanjat, tanyanya, “Duel apa?”

Sun Xiao Hong pun cekikikan, “Yang pasti bukan duel silat.Walaupun aku berlatih seratus tahun lagi, aku tidak akan mungkin mengalahkanmu. Aku ingin bertanding minum denganmu. Waktu aku mendengar seseorang lebih jago minum daripada aku, aku jadi jengkel.”

Li Xun Huan tersenyum, “Aku tahu semua peminum berpikiran seperti ini. Tak kusangka kau pun begitu.”

Kata Sun Xiao Hong, “Tapi jika kita bertanding sekarang, aku sudah berada di atas angin.”

“Kenapa?”

Sahut Sun Xiao Hong dengan serius, “Setelah pertempuran tadi, tubuhmu sudah lelah dan toleransimu terhadap alkohol sudah menurun. Pertandingan minum sama seperti pertandingan silat. Kau harus berada di tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan kondisi yang prima untuk bisa menang. Jika salah satu dari faktor ini hilang, kesempatanmu akan berkurang drastis.”

Kata Li Xun Huan, “Dari jawabanmu ini, aku tahu pasti bahwa kau memang jago minum. Kalau bisa berduel dengan jago minum seperti itu, mabuk berat pun tidak jadi masalah.”

Mata Sun Xiao Hong yang besar dan jeli itu pun makin bersinar, menyiratkan kegembiran, menggambarkan kekaguman. Namun wajahnya masih tetap serius, “Kalau begitu… karena aku sudah mendapatkan keuntungan dari segi waktu, sekarang kau yang pilih tempatnya.”

Li Xun Huan tidak dapat menahan tawanya, “Kalau begitu, mari ikut aku.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Silakan duluan.”

Beberapa jam sebelum magrib adalah waktu yang tersepi bagi warung arak.

Si Bungkuk Sun sedang duduk di depan pintu memandangi matahari yang mulai memerah.

Saat itu, datanglah Li Xun Huan bersama Sun Xiao Hong. Si Bungkuk Sun tak dapat mempercayai matanya. Bagaimana kedua orang ini bisa datang bersama?

Memang aneh bahwa kedua orang ini bisa menjadi sahabat.

Li Xun Huan tidak melihat perubahan wajah Si Bungkuk Sun, namun ia memang menganggap keadaan ini sungguh lucu.

Gadis kecil ini tidak pernah berhenti bicara. Sekali mulutnya terbuka, ia akan berkicau tak henti-hentinya. Sampai-sampai sulit untuk membalas percakapannya.

Li Xun Huan paling sebal dengan dua hal dalam hidup ini.

Yang pertama adalah waktu ia tahu bahwa ternyata orang yang duduk makan bersamanya, satu pun tidak ada yang minum arak.

Yang kedua adalah waktu bertemu dengan seorang wanita yang cerewet.

Ia merasa, hal yang kedua itu sepuluh kali lebih menyebalkan daripada yang pertama.

Tapi anehnya, saat menghadapi gadis ini, ia tidak merasa sakit kepala sama sekali mendengar ocehannya, bahkan merasa lebih segar.

Jika seorang wanita itu pandai, cantik, dan jago minum, walaupun ia cerewet, seorang laki-laki tentu akan suka padanya…tapi kalau tidak, seorang wanita lebih baik bicara seperlunya saja.

Selama perjalanan, Li Xun Huan mendengarkan gadis ini berbicara mengenai macam-macam hal. Orang tua itu di panggil Si Rambut Putih Sun. Ia adalah kakek Sun Xiao Hong. Orang tua gadis ini sudah meninggal dan ia sudah bersama dengan kakeknya sejak kecil. Mereka hampir-hampir tidak pernah berpisah.

Oleh sebab itu ia tidak bisa tidak bertanya, “Lalu mengapa sekarang kakekmu tidak bersama dengan engkau?”

Sun Xiao Hong menjawab pendek, “Ia sedang ke luar kota mengantarkan seseorang.”

Li Xun Huan ingin mendesak, “Mengapa ia harus mengantar orang sampai ke luar kota?”

“Siapa yang diantarkannya?”

“Mengapa kau tidak ikut dengannya?”

Namun Li Xun Huan tidak pernah banyak bicara. Lagi pula, dengan Sun Xiao Hong di depannya, ia tidak akan punya kesempatan bicara.

Seakan-akan, ia memang tidak ingin membiarkan Li Xun Huan menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia malah balas memberondongnya dengan segudang pertanyaan.

“Bagaimana kau mempelajari ilmu pisaumu yang legendaris itu?”

“Kudengar kau pernah punya sahabat bernama Ah Fei. Kecepatannya bisa dibilang setanding denganmu. Tahukah kau dimana ia sekarang berada?”

“Kau menghilang selama dua tahun. Tidak seorang pun tahu bahwa kau bersembunyi di penginapan milik Si Bungkuk Sun. Mengapa kau bersembunyi di situ?”

“Sekarang, setelah semua orang tahu di mana kau berada, apa yang akan kau lakukan?”

“Siapakah sebenarnya Si Bandit Bunga Plum?”

“Jika ia sudah tertangkap, apakah kau yang menangkapnya?”

Li Xun Huan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Sebagian karena ia tidak ingin menjawabnya, sebagian lagi karena ia tidak tahu jawabannya.

Ia tahu bahwa Lin Xian Er adalah Si Bandit Bunga Plum.

Ia tahu bahwa Ah Fei tidak akan tega membunuh Lin Xian Er.

Ia tahu bahwa Ah Fei telah membawa pergi Lin Xian Er.

Tapi ke mana?

Apakah kini Lin Xian Er telah berubah menjadi wanita baik-baik?

Apakah Lin Xian Er mencintai Ah Fei?

Waktu ia memikirkan ini, ia hanya dapat menghela nafas.

Ia pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya di kemudian hari.

Mata Sun Xiao Hong tidak pernah lepas dari dirinya. Tatapan matanya bukan saja penuh dengan kekaguman, namun juga penuh pengertian.

Li Xun Huan mengangkat kepalanya dan menyambut tatapan matanya.

Hatinya jadi berdebar-debar.

Sun Xiao Hong berkata, “Kita mulai bertanding sekarang?”

Sahut Li Xun Huan, “Mari.”

Mata Sun Xiao Hong berputar, “Bagus. Mari kita bicarakan cara pertandingannya.”

Li Xun Huan bertanya, “Memang ada berapa cara bertanding minum arak?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Tentu saja ada banyak cara. Masa kau tidak tahu?”

Kata Li Xun Huan, “Aku cuma tahu satu cara, yaitu tiap-tiap orang harus minum sebanyak-banyaknya. Siapa yang muntah duluan, dia yang kalah.”

Sun Xiao Hong terkekeh dan menggelengkan kepalanya, “Kelihatannya ilmu minummu masih agak rendah.”

“O ya?”

Kata Sun Xiao Hong, “Kalau bicara soal bertanding minum arak, secara garis besar ada dua cara. Satu: cara brutal, dua: cara terpelajar.”

Tanya Li Xun Huan, “Bagaimana itu cara brutal, dan bagaimana cara terpelajar?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Cara yang baru saja kau sebutkan itu adalah cara brutal. Hanya asal masuk saja.”

“Asal masuk?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Tentu saja. Bisa disebut apa lagi, jika orang hanya memasukkan arak sebanyak-banyaknya ke dalam mulutnya.”

Kata Li Xun Huan, “Apa lagi yang bisa dilakukan? Apa harus dimasukkan lewat telinga?”

Sun Xiao Hong tersenyum manis, “Jika kau bisa minum lewat telingamu, aku mengaku kalah sekarang juga. Sudah pasti aku tidak bisa.”

Sahut Li Xun Huan, “Terlalu lama kalau minum lewat telinga. Aku tidak sabar.”

Kata Sun Xiao Hong, “Aku kan hanya seorang gadis kecil, bagaimana mungkin aku bertanding dengan cara brutal itu? Akan tetapi, cara terpelajar pun ada beberapa jenis.”

“Bagaimana?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Kau bisa menebak angka, bertepuk tangan, tapi cara-cara itu terlalu biasa. Bagaimana mungkin orang seperti kita bertanding dengan cara itu?”

Tanya Li Xun Huan, “Lalu bagaimana?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Ada satu cara lagi.”

Li Xun Huan tidak bisa menahan tawa. Sun Xiao Hong pun tertawa, “Akan tetapi, cara terakhir ini bukan saja sangat unik, tapi juga sangat menarik. Walaupun ada seribu satu cara, kita akan tetap menggunakan cara ini.”

Kata Li Xun Huan, “Arak sudah tersedia di meja, dan aku sudah tidak tahan ingin minum. Jadi, ayo pilih cara yang kau inginkan.”

Kata Sun Xiao Hong, “Dengarkan baik-baik. Cara ini sebenarnya cukup mudah.”

Li Xun Huan hanya dapat bersabar dan mendengarkan.

Lanjut Sun Xiao Hong, “Aku akan bertanya. Jika kau dapat menjawab, kau menang dan aku harus minum secawan.”

Kata Li Xun Huan, “Kalau aku tidak bisa menjawab? Aku kalah?”

Jawab Sun Xiao Hong, “Belum tentu. Tapi jika aku dapat menjawab pertanyaanku sendiri, barulah kau kalah.”

Tanya Li Xun Huan, “Kalau aku kalah, lalu aku boleh bertanya, bukan?”

Sun Xiao Hong menggelengkan kepalanya, “Tidak begitu. Yang menang boleh terus bertanya sampai dia kalah.”

Kata Li Xun Huan, “Jika kau bertanya pertanyaan pribadi yang hanya diketahui olehmu, kau pasti akan menang terus, bukan?”

Sun Xiao Hong tersenyum, “Sudah pasti kita tidak boleh bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Jika aku bertanya siapa nama ibuku, berapakah kakak adikku, berapakah umurku…pasti kau tidak tahu.”

Tanya Li Xun Huan, “Jadi pertanyaan seperti apa yang akan kau tanyakan?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Kau akan tahu segera setelah kita mulai.”

Li Xun Huan terkekeh, “Baiklah. Aku sudah siap untuk kalah.”

Sung Xiao Hong tersenyum dan berkata, “Siap? Ini pertanyaan pertama.”

Senyumnya menghilang, matanya menatap tajam pada Li Xun Huan, “Tahukah kau siapa penulis surat itu?”

Pertanyaan yang sungguh mengejutkan!

Mata Li Xun Huan berbinar. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Aku tidak tahu… Kau tahu?”

Sun Xiao Hong menjawab dengan kalem, “Kalau aku tidak tahu, buat apa aku bertanya? Orang itu adalah…”

Sun Xiao Hong sengaja mengulur waktu. Lalu disambungnya, “…Lin Xian Er!”

Jawabannya ternyata lebih mengejutkan lagi! Li Xun Huan termasuk orang yang tenang, namun ia merinding mendengar jawaban itu, “Bagaimana kau bisa tahu?”

Kata Sun Xiao Hong, “Ini bukan giliranmu bertanya. Ayo minum secawan sebelum kita lanjutkan lagi.”

Segera Li Xun huan menghabiskan cawan anggur yang pertama.

Tanya Sun Xiao Hong yang kedua kali, “Tahukah kau bagaimana keadaan Ah Fei?”

Li Xun Huan harus menjawab, “Tidak.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Walaupun ia tinggal bersama dengan Lin Xian Er, ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Lin Xian Er.”

Segera Li Xun Huan bertanya, “Di mana dia sekarang?”

Sun Xiao Hong menggelengkan kepalanya, “Mengapa kau begitu tidak sabar. Tunggu sampai kau menang, baru bertanya.”

Li Xun Huan hanya dapat menghabiskan cawannya yang kedua. Cawan ini lebih besar daripada mangkuk sup, namun ia menghabiskannya lebih cepat daripada biasanya. Karena ia ingin sekali mendengar pertanyaan yang ketiga.

Tanya Sun Xiao Hong untuk yang ketiga kali, “Tahukah kau mengapa Lin Xia Er menulis surat itu?”

Jawab Li Xun Huan, “Tidak.”

Walaupun sebenarnya ia telah menduga-duga, ia tidak tahu pasti.

Kata Sun Xiao Hong, “Karena ia tahu bahwa jika ada orang yang akan mengganggu Lin Shi Yin, kau pasti akan muncul. Ia ingin kau muncul, sehingga ia bisa mengirim orang untuk membunuhmu. Kau adalah musuh terbesarnya di dunia ini. Ia takut setengah mati terhadapmu. Selama kau masih hidup, ia tidak akan mungkin hidup bebas.”

Li Xun Huan mendesah. Ia minum cawan yang ketiga.

Sun Xiao Hong bertanya, “Tahukah kau siapa orang pertama yang menginginkan kematianmu?”

Jawab Li Xun Huan, “Aku sudah terlalu banyak membunuh dalam hidup ini. Bagaimana mungkin aku tahu yang mana yang menginginkan nyawaku?”

Sahut Sun Xiao Hong, “Hanya dua atau tiga orang dalam dunia ini yang sanggup membunuhmu. Yang pertama adalah ShangGuan JinHong!”

Li Xun Huan tidak kaget mendengarnya. Ia minum cawan yang keempat, namun tidak tahan untuk tidak bertanya, “Apakah ia ada di sini sekarang?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: