Kumpulan Cerita Silat

02/12/2008

Pisau Terbang Li (32)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:02 am

Mengerti Musuh Terbesar

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Waktu sampai di sana, salah satu dari hidup mereka akan berakhir!

Li Xun Huan sungguh menyadarinya.

Guo Song Yang memang musuh yang sangat berbahaya.

Sepanjang hidup Li Xun Huan, mungkin inilah pertama kalinya ia berhadapan dengan musuh yang setanding.

Banyak jago silat ‘mencari kekalahan’ karena mereka berpikir bahwa selama mereka bisa bertemu dengan lawan yang setanding, walaupun kalah, mereka akan merasa bahagia.

Namun Li Xun Huan sama sekali tidak berbahagia.

Hatinya berdebar-debar.

Ia tahu, dalam kondisinya saat ini, kemungkinan besar ia akan kalah.

Ketika jalan ini berakhir, kemungkinan demikian pula hidupnya!

Ini bisa jadi jalan menuju ke neraka baginya.

Ia tidak takut mati, namun bagaimana bisa dia mati sekarang?

Keadaan sekeliling semakin tandus, terlihat hutan di depan sana.

Daun-daun musim gugur berwarna merah bagai darah.

Mungkinkah ini ujung jalan itu?

Langkah Guo Song Yang makin lama makin besar, dan jejak kakinya makin lama makin dangkal. Ini menunjukkan bahwa tenaga dalam dan tenaga luarnya sudah hampir bersatu padu mencapai puncaknya.

Saat itu, konsentrasinya, tenaganya, tubuhnya, akan menjadi satu dengan pedangnya. Saat itu, pedangnya bukan lagi hanya sebilah logam, tapi pedang itu sudah mempunyai jiwa. Saat itu, kekuatan pedangnya akan menjadi tanpa batas dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya!

Li Xun Huan tiba-tiba berhenti.

Ia tidak berbicara. Ia tidak bersuara sedikit pun. Namun Guo Song Yang tahu.

Ia tidak menoleh, hanya bertanya singkat, “Di sini?”

Li Xun Huan diam saja sampai cukup lama. Lalu katanya, “Hari ini…aku tidak dapat melawanmu.”

Guo Song Yang memutar badannya, dan matanya menusuk tajam menatap Li Xun Huan. Ia berteriak, “Apa katamu?”

Li Xun Huan menunduk. Kepalanya terasa berdenyut-denyut.

Ia tahu ini adalah tindakan pengecut, sesuatu yang dalam mimpi pun tak pernah dilakukannya.

Tapi saat ini, itulah yang harus dilakukannya.

Tanya Guo Song Yang, “Katamu, hari ini kau tak dapat melawan aku?”

Li Xun Huan hanya bisa mengangguk.

Tanya Guo Song Yang, “Mengapa?”

Sahut Li Xun Huan, “Karena aku mengaku kalah.”

Guo Song Yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Seakan-akan tidak dikenalinya lagi orang ini.

Sampai sekian lama, akhirnya Guo Song Yang mengambil nafas panjang, “Li Xun Huan, Li Xun Huan, kau betul-betul pahlawan sejati!”

Li Xun Huan terkekeh, “Pahlawan? Orang seperti aku disebut pahlawan?”

Guo Song Yang menggelengkan kepalanya dan mendesah, “Mungkin di seluruh dunia ini, hanya kaulah yang dapat disebut pahlawan sejati.”

Li Xun Huan diam saja dan Guo Song Yang melanjutkan, “Kau mengaku kalah. Aku tahu betapa sulitnya mengatakan hal itu. Bagiku, mungkin lebih baik mati daripada harus mengatakannya.”

Ia tersenyum, sambungnya, “Sebetulnya, mati itu sangat mudah. Namun untuk mengakui kekalahan demi membantu orang lain, itu adalah kakrakter seorang pahlawan, seorang laki-laki sejati!”

Kata Li Xun Huan, “Kau…”

Ia merasakan kehangatan dalam hatinya, dan ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Kata Guo Song Yang, “Aku mengerti mengapa kau tidak dapat melawanku. Kau tidak boleh mati sekarang, karena masih ada orang yang hidupnya bergantung padamu.”

Li Xun Huan masih tidak bisa bicara, namun air mata bahagia hampir menetes dari matanya.

Kadang kala, sahabat karibmulah yang akan jadi musuh terbesarmu. Namun kadang kala, musuh yang paling kau takutilah yang paling mengerti tentang dirimu.

Karena hanya lawan yang sepadan, yang pantas menjadi sahabatmu.

Karena hanya lawan yang sepadan, yang sungguh-sungguh mengerti apa yang kau rasakan.

Li Xun Huan tidak tahu apakah ia harus merasa gembira, sedih, atau berterima kasih.

Guo Song Yang kemudian berkata, “Tapi hari ini kita tetap harus bertempur!”

Li Xun Huan terperanjat, “Mengapa?”

Guo Song Yang tersenyum, “Ada berapa banyak Li Xun Huan di dunia ini? Jika hari ini kita tidak bertempur, kapan lagi aku akan bertemu dengan lawan yang sepadan?”

Sahut Li Xun Huan, “Waktu aku sudah menyelesaikan tanggung jawabku, aku akan melawanmu kapan pun kau inginkan.”

Guo Song Yang menggelengkan kepalanya, “Sayangnya, jika saat itu tiba, mungkin kita tak akan bisa bertempur lagi.”

Tanya Li Xun Huan, “Mengapa?”

Mata Guo Song Yang melayang ke kejauhan, lalu dengan perlahan dan pasti ia berkata, “Saat itu, mungkin kita sudah menjadi sahabat.”

Li Xun Huan berpikir cukup lama, “Kau lebih suka jadi musuhku daripada jadi sahabatku?”

Wajah Guo Song Yang menegang, lalu ia berseru, “Aku telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk pedangku. Kapan aku punya waktu untuk berteman? Lagi pula…”

Suaranya menjadi lembut saat ia meneruskan kalimatnya, “Mudah sekali untuk menemukan sahabat. Namun hampir tidak mungkin untuk bertemu seorang lawan yang tenggang rasa dan penuh perhatian.”

‘Tenggang rasa dan penuh perhatian’ adalah kata-kata yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan seorang sahabat. Guo Song Yang menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan seorang lawan. Sungguh janggal.

Namun Li Xun Huan mengerti.

Kata Guo Song Yang, “Kau bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang merupakan lawan setandingku dalam hal ilmu silat. Namun walaupun ada seseorang yang sepuluh kali lebih hebat daripada aku, aku tetap tidak akan terlalu menghargai dia dan aku rasa aku tidak akan mungkin merasa bahagia mati di tangannya.”

Sahut Li Xun Huan, “Kau memang benar. Tidak mudah bertemu dengan lawan yang tenggang rasa dan penuh perhatian.”

Kata Guo Song Yang, “Oleh sebab itu kita harus bertempur hari ini. Walaupun aku mati di tanganmu, sedikit pun aku tidak akan menyesal.”

Sanggah Li Xun Huan, “Tapi aku…”

Guo Song Yang langsung memotongnya, “Aku mengerti perasaanmu. Jika kau mati di tanganku hari ini, aku akan menyelesaikan kewajibanmu. Aku akan menjaga siapa saja yang ingin kaujaga.”

Li Xun Huan memandang ke tanah. Lalu berkata, “Kalau begitu, aku bisa mati dengan tenang… Terima kasih.”

Ia hampir tidak mengatakan ‘terima kasih’ dalam hidupnya. Kata ‘terima kasih’ ini diucapkannya dari hatinya yang terdalam.

Kata Guo Song Yang, “Terima kasih kau bersedia berduel denganku. Mari mulai!”

Sahut Li Xun Huan, “Mari mulai!”

Jika sahabatmu memperhatikan engkau, itu hal yang biasa. Namun jika musuhmu memperhatikan engkau, rasanya lebih dalam, lebih mengharukan.

Sayangnya, perasaan ini takkan mungkin dirasakan oleh orang lain!

Angin bertiup membawa daun-daun kering beterbangan ke antara mereka.

Suasana penuh dengan hawa pembunuhan.

Guo Song Yang perlahan-lahan menghunus pedangnya dan memegangnya di depan dadanya. Pandangannya tidak pernah lepas dari tangan Li Xun Huan.

Tangan yang sungguh menakutkan.

Li Xun Huan seakan-akan telah berubah menjadi orang lain. Rambutnya masih acak-acakan, jubahnya masih kusut, namun ia tidak lagi tampak lemah.

Wajahnya telah berubah sama sekali!

Dua tahun terakhir ini, hidup Li Xun Huan bagaikan sebilah pedang dalam sarungnya. Menunggu waktunya, belum menunjukkan potensi yang sebenarnya, karakter yang sesungguhnya.

Namun saat ini, pedang itu telah keluar!

Diangkatnya tangannya. Sebilah pisau telah tergenggam di dalamnya.

Sebilah pisau yang dapat menembus tenggorokan, sebilah pisau yang tidak pernah luput, Pisau Terbang Li Kecil!

Pedang Besi Guo Song Yang mengikuti gerakan angin. Selintas cahaya hitam melaju cepat ke arah leher Li Xun Huan. Gulungan angin telah mendahului pedang itu dan menghancurkan segala sesuatu yang merintangi jalannya.

Li Xun Huan melangkah ke belakang dengan ringan. Dengan satu hentakan saja, tubuhnya telah bergeser sepuluh meter lebih. Sebatang pohon kini tepat berada di belakang punggungnya.

Pedang Guo Song Yang pun berganti arah mengikuti langkah Li Xun Huan dalam jarak dekat.

Li Xun Huan sudah tidak bisa mundur lagi. Namun kini tubuhnya mencelat naik ke atas pohon.

Guo Song Yang ikut mengejar naik dan pedangnya terus mengikuti Li Xun Huan, bercahaya bagai pelangi.

Tubuh dan pedang telah menjadi satu.

Gulungan angin pedang itu membabat habis seluruh daun di pohon itu.

Pemandangan saat itu sungguh menakjubkan!

Li Xun Huan terus melayang di atas gulungan angin pedang itu, mengikuti daun-daun merah yang berhamburan dan kemudian perlahan-lahan melayang ke bawah.

Guo Song Yang bersalto di udara dan menggerakkan pedangnya sedemikian sampai terlihat tabir hitam putih yang memburu ke arah Li Xun Huan.

Kekuatan serangan ini tidak diragukan lagi.

Bahkan dalam jarak beberapa meter di depannya, Li Xun Huan dapat merasakan hebatnya tekanan gulungan angin pedang itu. Ke mana pun ia menghindar, ia akan terhempas juga.

Lalu terdengar bunyi ‘Tring’, dan terlihat percikan bunga api.

Pisau Li Xun Huan tepat mengenai ujung pedang itu.

Gulungan angin pedang itu langsung lenyap, dan suasana tiba-tiba hening. Guo Song Yang berdiri mematung di situ, memegang pedangnya.

Li Xun Huan pun masih memegang pisaunya. Hanya kini, ujungnya sudah gompal.

Ia menatap Guo Song Yang tanpa suara, Guo Song Yang menatapnya tanpa suara.

Wajah keduanya tidak berekspresi apa-apa.

Mereka berdua tahu, pisau Li Xun Huan kini tak dapat meninggalkan tangannya lagi.

Pisau Terbang Li Kecil, cepatnya bagai kilat. Namun setelah digunakan untuk menghancurkan gulungan angin pedang tadi, ujungnya sudah patah, sehingga kalau disambitkan, kecepatannya akan jauh berkurang.

Walaupun pisau itu lepas dari tangannya, pisau itu tidak akan membahayakan siapa pun lagi!

Pisau yang tidak pernah luput, kini harus menelan kekalahannya.

Li Xun Huan menurunkan tangannya.

Seiring dengan gugurnya daun yang terakhir ke tanah, suasana hutan pun kembali sunyi senyap.

Sesunyi kematian itu sendiri.

Walaupun wajahnya tetap kosong, mata Guo Song Yang berbinar sedikit, lalu katanya, “Aku sudah kalah!”

Kata Li Xun Huan, “Siapa bilang kau yang kalah?”

Sahut Guo Song Yang, “Aku yang bilang.”

Ia terkekeh. Sambungnya, “Sebelum ini, kupikir aku lebih baik mati daripada mengatakannya. Namun kini, aku telah mengatakannya, dan aku merasa lega, sangat lega…”

Ia menengadah ke langit dan tertawa terbahak-bahak.

Sambil masih tertawa, ia membalikkan badannya dan pergi berjalan ke luar hutan.

Li Xun Huan memandangi punggungnya sampai hilang dari pandangan, lalu mulai terbatuk-batuk.

Saat itu, seseorang tiba-tiba muncul dan bertepuk tangan, “Sungguh hebat. Luar biasa. Sangat luar biasa…”

Suara itu bening dan renyah.

Li Xun Huan mengangkat kepalanya dan ternyata suara itu adalah milik cucu perempuan si orang tua tukang cerita.

Matanya yang besar dan jernih penuh dengan senyum yang lugu. Katanya, “Setelah menyaksikan pertempuran hari ini, bahkan aku pun dapat mati dengan tenang.”

Mungkin perasaan Li Xun Huan masih begitu tegang, sehingga ia tidak menjawab apa-apa.

Si gadis berkuncir pun berkata, “Pada suatu hari, Tuan Lan Da dan Xiao Sun berduel di punak Gunung Tai. Senjata Tuan Lan Da adalah Palu Besi yang beratnya 50 kg, sedangkan Xiao Sun hanya menggunakan sabuk sutra. Ia menggunakan kelembutan untuk mengatasi kekerasan. Mereka bertarung sepanjang malam. Bahkan ada yang bilang mereka mengubah langit malam menjadi siang.”

Si gadis terkekeh dan bertanya, “Menurutmu, pertarungan itu seru atau tidak?”

Li Xun Huan tersenyum, “Dengan kehebatan nona muda bercerita, aku merasa seolah-olah sedang berada di puncak Gunung Tai, menyaksikan secara langsung duel antara Xiao Sun dan Tuan Lan Da.”

Si gadis berkuncir komat-kamit, “Aku tak menyangka bahwa mulutmu lebih hebat daripada pisaumu.”

Kata Li Xun Huan, “Masa iya?”

Sahut si gadis berkuncir, “Pisaumu dapat mengambil nyawa orang, namun kata-katamu dapat mengambil hati seorang wanita. Bukankah lebih sulit mendapatkan hati seorang wanita daripada nyawa manusia?”

Matanya yang besar menatap Li Xun Huan. Li Xun Huan mau tidak mau merasa tertarik padanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis semuda ini bisa begitu memikat.

Tapi si gadis kembali bertanya, “Jadi, menurutmu, apakah pertarungan tadi menarik?”

Li Xun Huan tidak lagi berani menjawab panjang lebar. Ia hanya tersenyum dan mengangguk, “Sepertinya cukup menarik.”

Sahut si gadis berkuncir, “Walaupun pertarungan itu sangat terkenal dan telah menjadi legenda, pertarungan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pertarungan yang baru saja berakhir.”

Li Xun Huan terkekeh, “Walaupun aku bukan orang yang suka menyombongkan diri, aku pun bukan orang yang rendah hati. Dalam hal ini, nona terlalu melebih-lebihkan.”

Si gadis berkuncir menjawab dengan tegas, “Aku hanya menyatakan fakta. Kau punya tiga kesempatan untuk membunuhnya, namun dalam tiga kesempatan itu kau tidak melakukannya. Akhirnya, kau pun kehilangan nafsu membunuh, dan juga ujung pisaumu. Pada saat itu, Guo Song Yang dapat membunuhmu, namun ia malah mengaku kalah…”

Ia mendesah dan melanjutkan, “Orang-orang seperti kalianlah yang disebut pria sejati. Jika kau membunuhnya atau ia membunuhmu, sehebat apapun ilmu silat kalian, sedikit pun aku tidak akan terkesan.”

Kata Li Xun Huan, “Kau benar. Guo Song Yang memang pahlawan sejati.”

“Dan kau?”

Li Xun Huan menggelengkan kepalanya, “Aku? Aku bukan apa-apa.”

Si gadi berkuncir berkata, “Kalau begitu, aku mau bertanya. Jurus apa yang pertama kali dilancarkannya?”

Sahut Li Xun Huan, “Angin Berhembus Memutar Awan.”

Si gadis berkuncir bertanya lagi, “Lalu jurus keduanya?”

Sahut Li Xun Huan, “Bintang Jatuh Mengikuti Bulan.”

Dan si gadis pun bertanya lagi, “Sewaktu berubah dari jurus ‘Angin Berhembus Memutar Awan’ ke jurus ‘Bintah Jatuh Mengikuti Bulan’, ia melakukannya terlalu cepat, sehingga dirinya terbuka untuk serangan. Jika pada saat itu, kau sambitkan pisaumu bukankah kau dapat membunuhnya?”

Li Xun Huan tidak bisa berkutik.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: