Kumpulan Cerita Silat

01/12/2008

Pisau Terbang Li (31)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 1:07 am

Pisau Terbang Li Kecil

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Ketika Long Xiao Yun muda melihat kemarahan Yan Shuang Fei, cepat-cepat ia berkata, “Pisau terbangnya hanya terbuat dari besi biasa. Sama sekali bukan senjata mustika, tapi entah mengapa orang-orang menganggapnya seperti mustika. Kadang-kadang aku pikir itu sangat menggelikan.”

Si jubah hitam berkata dengan tenang. “Kudengar ia sudah memusnahkan ilmu silatmu. Kau pasti masih sangat membencinya, bukan?”

Long Xiao Yun muda tersenyum sambil berkata, “Paman Li adalah seorang tetua. Mana mungkin aku marah terhadap tetua yang memberi pelajaran kepadaku? Lagi pula, seseorang tidak hanya memerlukan ilmu silat untuk menjadi terkenal.”

Si jubah hitam memandanginya, tidak dapat mengerti jalan pikirannya.

ZhuGe Gang kembali bertepuk tangan. “Bagus sekali! Kau memang betul. Kau memang pantas menjadi anak Long Xiao Yun.”

Long Xiao Yun muda membungkukkan badannya. “Tetua, kau sungguh berlebihan.”

Tiba-tiba ShangGuan Fei buka suara, “Katanya Lin Xian Er juga pernah tinggal di sini, bukan?”

Ia benar-benar buka suara. Bahkan Long Xiao Yun muda pun tidak menyangka. “Betul sekali.”

Tanya ShangGuan Fei, “Ke mana dia pergi?”

Jawab Long Xiao Yun muda, “Bibi Lin tiba-tiba menghilang dua tahun yang lalu. Ia bahkan tidak membawa perhiasan ataupun pakaiannya. Tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi. Ada yang bilang dia diculik Ah Fei, ada yang bilang Ah Fei sudah membunuhnya.”

ShangGuan Fei hanya mengangkat alisnya dan tidak bersuara lagi.

Barisan orang ini terus menyeberangi jembatan dan sampailah mereka di Bilik Keharuman Sejuk.

Mata ZhuGe Gang bersinar lagi, seakan-akan ia sangat tertarik pada bangunan ini.

Tanya Gao Xing Kong, “Jadi apakah tempat ini? Apakah ibumu tinggal di sini?”

“Ya.”

Kata Gao Xing Kong, “Kami sebenarnya datang untuk memberikan hadiah ulang tahun pada ibumu. Bolehkah kami naik ke atas untuk menemui beliau?”

Mata Long Xiao Yun muda berputar dan ia pun tersenyum. “Ibu tidak biasa menemui tamu. Bolehkah aku naik untuk menanyakannya pada beliau?”

Sahut Gao Xing Kong, “Tentu saja.”

Long Xiao Yun muda naik ke atas perlahan-lahan.

Tang Du tersenyum. “Sangat menakjubkan kalau anak seperti itu dapat berumur panjang.”

Senyum ZhuGe Gang lenyap dari bibirnya. Dengan wajah serius ia bertanya, “Apa kau yakin ini tempatnya?”

Sahut Gao Xing Kong setengah berbisik, “Telah kupelajari surat itu dengan seksama semalam. Harta karun keluarga Li memang ada di sini. Katanya, sudah beberapa generasi keluarga ini merupakan pejabat kerajaan tingkat tinggi, jadi pastilah kekayaan mereka tidak terkira.”

Sambil bicara, matanya melirik pada si jubah hitam.

Si jubah hitam berdiri di kejauhan sambil mengawasi dua jangkrik yang sedang berkelahi. Seakan-akan ia tidak peduli sama sekali pada orang-orang ini.

Kata ZhuGe Gang, “Sebetulnya harta karun itu tidak terlalu penting. Yang lebih berharga adalah lukisan-lukisan berharga milik Li Tan Hua dan buku-buku silatnya.”

Gao Xing Kong mengangguk. Pada saat yang sama terlihat Long Xiao Yun muda menuruni anak tangga.

ZhuGe Gang kembali tersenyum, katanya, “Jadi apa jawaban ibumu?”

Long Xiao Yun muda menggelengkan kepalanya. “Ibu tidak ada di atas.”

Tanya ZhuGe Gang, “Lalu di mana?”

Sahut Long Xiao Yun muda, “Aku pun bingung. Ibu hampir tidak pernah meninggalkan kamarnya.”

Kata ZhuGe Gang, “Kalau begitu kami akan menunggu beliau di atas.”

Tiga orang berjubah kuning segera menghambur ke atas. “Kami akan membereskan kamar itu lebih dulu.”

Long Xiao Yun muda sepertinya ingin menghalangi langkah mereka, namun ia takut, sehingga akhirnya dibiarkannya mereka pergi ke atas.

Lalu terdengar bunyi ‘Wuuuut’. Cambuk sepanjang lima meter telah membuat tiga lingkaran, masing-masing di sekeliling leher ketiga orang itu.

Cambuk panjang itu seketika menegang, lalu mengendur.

Orang pertama tidak mengeluarkan suara sedikit pun sebelum jatuh ke tanah, mati.

Orang kedua hanya bersuara ‘Eek’, sebelum tergeletak mati.

Orang ketiga memegangi lehernya, terhuyung-huyung ke depan lalu tersungkur. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia tidak bisa bicara.

Walaupun ia tidak mati seketika, rasa sakit yang dialaminya sepuluh kali lebih buruk daripada kematian itu sendiri.

Kemampuan merubuhkan tiga orang sekaligus seperti ini sungguh mencengangkan, bahkan bagi ZhuGe Gang.

Hanya si jubah hitam yang tidak kelihatan terkejut. Katanya, “Ternyata Pecut Ular itu terlalu dilebih-lebihkan orang.”

Ia menghela nafas dan kelihatan sangat kecewa.

Jikalau ilmu XiMen Rou telah mencapai kesempurnaan, ketiga orang itu akan mati seketika. Tapi karena ketiga orang itu mati tidak bersamaan, bahkan dengan cara berbeda-beda, menandakan bahwa ilmu pecutnya belum sempurna.

Mata ZhuGe Gang kembali berbinar. “XiMen Rou, kemarin kau masih beruntung bisa kabur. Namun kau pikir kau akan beruntung lagi hari ini?”

XiMen Rou tidak menjawab. Hanya pecutnya yang menerjang.

Pecutnya tidak bersuara sedikit pun. Hanya pada saat pecut itu terentang, terdengar bunyi letupan kecil, seakan-akan kecepatannya melebihi kecepatan suara.

ZhuGe Gang segera melompat dan tongkat besinya bertemu dengan pecut itu di udara. Pecut itu membelit dan meremas tongkat itu seperti ular.

Lalu terdengar dentuman keras, saat tongkat itu menghantam tanah.

Kaki ZhuGe Gang terarah ke atas, tubuhnya terbalik 180 derajat dan meliuk. Tongkatnya pun ikut meliuk mengikuti gerakan tubuhnya.

Pecut itu makin membelit tongkat itu dan menjadi semakin pendek. XiMen Rou pun terpaksa bergerak semakin mendekat. Kini pecut itu hampir seluruhnya terlilit pada tongkat.

Satu tangan XiMen Rou masih memegangi pecutnya, sehingga tenaganya sangat kurang dibandingkan dengan ZhuGe Gang, yang seluruh kekuatannya sudah terkumpul pada tongkatnya.

Wajahnya berubah dari pucat menjadi merah, dari merah menjadi seputih kertas. Keringat pun mulai membasahi tubuhnya.

ZhuGe Gang berteriak keras dan tubuhnya yang terbalik itu mencelat.

Gerakan ini mirip dengan jurusnya yang sangat terkenal ‘Sekali Sapu Seribu Tentara’. Hanya saja kali ini, tubuhnya berperan sebagai tongkatnya, dan tongkatnya sebagai tubuhnya.

Jika XiMen Rou melepaskan pecutnya, ia pasti dapat menghinadari serangan itu. Namun ia terkenal karena pecutnya. Bagaimana mungkin ia melepaskannya?

Jika ia tidak melepaskan pecutnya, ia hanya dapat menghadang tendangan ZhuGe Gang dengan tangan kirinya, dan sudah dapat dipastikan tangan kirinya pasti patah.

Namun XiMen Rou adalah salah satu jagoan di antara jago-jago silat, sehingga di saat genting seperti ini pun ia tidak kehilangan ketenangannya. Tiba-tiba ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan mulai berputar di sekeliling tongkat itu.

Pastinya, ia ingin melepaskan lilitan pecutnya dari tongkat itu, namun ZhuGe Gang pun telah menduganya. Ia pun mulai berputar. Kakinya hanya berada sedikit di belakang tubuh XiMen Rou.

Si jubah hitam mengeluh lagi. “Ternyata Tongkat Baja Emas pun dilebih-lebihkan orang.”

Jika perhitungan ZhuGe Gang lebih akurat, tendangannya pasti sudah dapat membunuh XiMen Rou.

Walaupun jurus itu tidak dilakukannya dengan sempurna, tetap saja kedudukan XiMen Rou ada di ujung tanduk.

Sepertinya ia akan segera mati oleh tendangan ZhuGe Gang.

Tang Du tertawa. “Mengapa kau terus berusaha kalau sudah pasti mati? Mari, kubantu kau.”

Ia menghunus senjatanya yang unik, Sabit Belalang. Sekilas cahaya berkelebat, dan sabit itu tertuju ke punggung XiMen Rou.”

Namun baru saja ia melakukannya, tubuhnya telah terjengkang ke belakang, seolah-olah didorong oleh tangan yang tidak nampak. Ia terduduk di tanah.

Sebelum ia dapat berbicara, nafasnya sudah berhenti! Karena sebilah pisau telah tertancap di tenggorokannya!

Pisau yang biasa.

Namun wajah semua orang langsung berubah.

ZhuGe Gang melihat pisau itu dan menjerit kaget, “Pisau Terbang Li Kecil!”

Pergelangan tangan XiMen Rou langsung mengejang. Pecut Ularnya meliuk menjauhi tongkat itu.

ZhuGe Gang bersalto di udara, lalu jatuh ke tanah dan terhuyung sedikit sebelum keseimbangannya pulih. Di kejauhan tampak seseorang muncul.

Pakaian orang ini berantakan, rambutnya pun kusut masai. Wajahnya tampak lemah, namun sinar matanya sangat tajam.

ZhuGe Gang mempererat genggamannya pada tongkatnya. Teriaknya, “Li Tan Hua Kecil?”

Orang ini tersenyum, “Kau terlalu berlebihan.”

ZhuGe Gang berseru lagi, “Mengapa kau melawan kami?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tidak pernah ingin melawan siapa pun, namun aku pun tidak ingin siapa pun menggangguku.”

Ia memutar-mutar pisau di tangannya. “Tidak ada harta karun di sini. Maaf, kalian sudah membuang banyak waktu. Oh, jangan lupa bawa pulang juga hadiah kalian tadi.”

ZhuGe Gang, ShangGuan Fei, dan Gao Xing Kong hanya menatap pisau di tangannya lekat-lekat. Tenggorokan mereka seakan-akan tersumbat, tidak bisa bicara.

Yan Shuang Fei tiba-tiba berteriak marah, “Bagaimana kalau kami tidak mau pergi?”

Li Xun Huan tersenyum. “Sebaiknya kalian mengikuti saranku dan segera pergi.”

Kata Yan Shuang Fei, “Aku selalu ingin berduel denganmu. Orang lain boleh takut akan engkau, tapi aku tidak!”

Ia membuka mantelnya dan terlihatlah dua lajur mata tombak.

Li Xun Huan tidak meliriknya sedikitpun.

Yan Shuang Fei berteriak dan kedua tangannya bersamaan menyambitkan sembilan mata tombak. Semuanya jatuh ke tanah sebelum sampai ke tempat Li Xun Huan.

Ketika orang-orang melihat ke arah Yan Shuang Fei, ia sudah rebah di tanah. Di tenggorokannya telah tertancap sebilah pisau yang berkilauan.

Pisau Terbang Li Kecil!

Tidak ada seorang pun yang melihat kapan pisau itu tertancap di lehernya, mungkin hanya sekejap setelah ia menyambitkan mata tombaknya.

Oleh sebab itu tenaganya pun tidak penuh waktu menyambit, sehingga mata tombak itu tidak sampai ke tempat Li Xun Huan.

Pisau yang luar biasa cepat!

Dalam kematiannya sekalipun, Yan Shuang Fei tidak percaya ada pisau yang dapat bergerak secepat itu di dunia ini.

Si jubah hitam memandang sekilas ke arah tubuh Yan Shuang Fei dan tersenyum. “Sudah kubilang bahwa kau tidak sekelas dengan dia. Kau percaya sekarang?”

Ia mengangkat wajahnya dan memandang Li Xun Huan. Katanya sekata demi sekata, “Pisau Terbang Li Kecil tidak mengecewakanku.”

Kata Li Xun Huan, “Dan kau adalah….”

Si jubah hitam memotongnya cepat. “Aku telah mendengar kemashuran nama Li Tan Hua sejak lama. Sungguh beruntung kita bisa bertemu hari ini….”

Setelah selesai bicara, ia langsung mencelat.

Terdengar bunyi mendesing dan pedang pun keluar dari sarungnya.

Pedang itu seluruhnya hitam legam, tidak berkilau. Sewaktu keluar, lintasan hitam berkelebat membawa tenaga yang besar.

Gao Xing Kong merinding sewaktu lintasan pedang hitam itu lewat di depan matanya. Lintasan hitam itu seolah-olah mengiris bola matanya.

Ia menutup matanya dan rasa sakit pun lenyap.

Ia jatuh ke tanah.

ZhuGe Gang hanya melihat pedang hitam itu menyapu ke depan dan tiba-tiba darah sudah muncrat dari tubuh Gao Xing Kong. Gao Xing Kong tidak sempat menangkis ataupun mengelak.

Pedang si jubah hitam berbelok dan menerjang ke arah sebaliknya. Terdengar suara ‘Tang’, dan tongkat seberat 35 kg itu pun patah menjadi dua, namun pedang itu tidak berkurang kecepatannya sedikit pun!

ZhuGe Gang merasa merinding sedikit, namun hanya sekejap saja.

Sekejap berikutnya, ia sudah rebah di tanah.

Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari satu menit. XiMen Rou menatap ke langit dan mendesah. “Sepertinya tidak ada lagi tempat bagiku dalam dunia persilatan….”

Ia pun menghilang ke balik atap.

Di saat itu, ShangGuan Fei pun segera melompat dengan ilmu meringankan tubuhnya.

Namun lintasan pedang hitam itu sudah mengejarnya.

ShangGuan Fei segera mengeluarkan Cincin Baja Ibu-Anaknya dan melingkarkannya pada pedang itu dan menangkisnya.

Si jubah hitam berseru, “Bagus!”

Di saat yang sama, pedangnya bergetar dan membelah cincin itu.

Ujung pedang itu berhenti tepat di depan leher ShangGuan Fei.

ShangGuan Fei memejamkan matanya, namun wajahnya tetap dingin dan tenang. Seolah-olah hati pemuda ini terbuat dari batu.

Si jubah hitam menatapnya dan bertanya dingin, “Apakah kau murid ShangGuan JinHong?”

ShangGuan Fei mengangguk.

Si jubah hitam berkata, “Pedangku tidak pernah membiarkan siapapun hidup, namun walaupun engkau masih sangat muda, engkau sudah berhasil menangkis seranganku satu kali. Sangat mengesankan.”

Ditariknya kembali pedangnya dan ditepuknya bahu ShangGuan Fei. “Kau boleh pergi.”

ShangGuan Fei tidak bergerak. Ia menatap si jubah hitam dan berkata, “Kau tidak membunuhku, namun aku harus memberi tahu engkau satu hal.”

Sahut si jubah hitam, “Katakan saja.”

Kata ShangGuan Fei, “Walaupun hari ini kau biarkan aku hidup, suatu hari nanti aku akan menuntut balas. Saat itu, aku tidak akan melepaskanmu!”

Si jubah hitam tertawa. “Bagus. Memang pantas kau jadi putra ShangGuan JinHong.”

Ia berhenti tertawa, matanya menatap lurus ke arah ShangGuan Fei. “Jika suatu hari nanti aku bisa mati di tanganmu, aku tidak akan menyalahkanmu. Aku malah akan berbahagia, karena aku tidak salah menilaimu.”

Wajah ShangGuan Fei tetap membeku. “Kalau begitu, selamat tinggal.”

Kata si jubah hitam, “Aku akan menunggumu.”

Tiba-tiba si jubah hitam berseru, “Tunggu!”

ShangGuan Fei memperlambat langkahnya, kemudian berhenti.

Kata si jubah hitam, “Ingat ini baik-baik. Kulepaskan kau hari ini bukan karena kau adalah putra ShangGuan JinHong, tapi karena kau adalah kau.”

ShangGuan Fei tidak menjawab. Ia kembali melangkah dan perlahan-lahan hilang dari penglihatan. Si jubah hitam lalu menoleh pada Li Xun Huan. “Aku gembira kita bisa bertemu hari ini.

Li Xun Huan memandangi pedangnya, lalu bertanya, “Pedang Besi Puncak Matahari?”

Si jubah hitam menyahut, “Aku memang Guo Song Yang.”

Li Xun Huan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pedang Besi Puncak Matahari memang sehebat apa kata orang!”

Guo Song Yang memandangi pedangnya. “Namun bagaimana kalau dia melawan Pisau Terbang Li Kecil?”

Li Xun Huan terkekeh. “Sebenarnya aku lebih baik tidak tahu jawabannya.”

“Kenapa?”

Sahut Li Xun Huan, “Karena…..jika kita ingin tahu jawabannya, salah satu dari kita akan menyesal.”

Guo Song Yang mengangkat kepalanya.

Sebersit rasa haru tampak di wajahnya. Namun ia berseru, “Namun cepat atau lambat kita hatus tahu, bukan?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku berharap kita tahu selambatnya.”

Kata Guo Song Yang tegas, “Aku lebih suka tahu secepatnya.”

“O ya?”

Kata Guo Song Yang, “Sampai hari kita tahu siapa pemenangnya, aku tidak akan dapat tidur nyenyak.”

Li Xun Huan berpikir sejenak, lalu ia bertanya, “Kapan kau ingin menyelesaikannya?”

Jawab Guo Song Yang, “Hari ini!”

Tanya Li Xun Huan lagi, “Di sini?”

Guo Song Yang memandang sekitarnya lalu tertawa dingin. “Dulunya ini rumahmu. Jika kita bertarung di sini, kau akan untung, sudah tahu keadaannya.”

Li Xun Huan terkekeh. “Betul juga. Ditilik dari kalimatmu yang terakhir, kau memang patut disebut jago silat kelas wahid.”

Kata Guo Song Yang, “Tapi aku sudah menentukan waktunya. Sekarang kau yang menentukan tempatnya.”

Sahut Li Xun Huan, “Tidak perlu sungkan.”

Guo Song Yang pun berpikir lama, lalu berkata, “Bagus. Kalau begitu, ikut aku.”

Kata Li Xun Huan, “Silakan jalan dulu.”

Li Xun Huan berjalan beberapa langkah, lalu tidak tahan untuk tidak menoleh ke belakang, ke arah Bilik Keharuman Sejuk. Dilihatnya Long Xiao Yun muda sedang menatap kepergiannya. Matanya penuh dengan bisa.

Tidak ada sesuatu pun, bahkan jurus pedang Guo Song Yang yang luar biasa, ataupun kematian ZhuGe Gang dan yang lain, yang bisa menggerakkan hati anak kecil ini.

Namun begitu pandangannya bertemu dengan pandangan Li Xun Hua, seketika ia tersenyum dan membungkuk. “Paman Li. Apa kabarmu?”

Li Xun Huan mengeluh dalam hati sambil tersenyum. “Halo.”

Kata Long Xiao Yun muda, “Ibu memikirkan engkau setiap saat. Kau harus datang menjenguk kami lebih sering.”

Li Xun Huan pura-pura terkekeh.

Ia selalu mengalami kesulitan menjawab anak kecil ini.

Long Xiao Yun muda datang mendekat. Ia menarik jubahnya dan berbisik, “Orang itu kelihatan seram. Paman, mungkin kau seharusnya tidak pergi dengan dia.”

Sahut Li Xun Huan, “Kalau kau sudah dewasa nanti, kau akan mengerti bahwa kadang-kadang kau harus melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan.”

Kata Long Xiao Yun muda dengan memelas, “Tapi….Tapi…..bagaimana jika paman sampai mati? Siapa yang akan mengurus ibu dan aku?”

Li Xun Huan mematung.

Setelah sekian lama, diangkatnya kepalanya. Ia melihat Lin Shi Yin berdiri di puncak anak tangga, mengawasi mereka berdua.

Ia terlihat kuatir, namun wajahnya juga membayangkan kegembiraan.

Li Xun Huan merasa ulu hatinya tertusuk. Ia menunduk lagi.

Seru Long Xiao Yun muda, “Ibu, lihatlah. Paman Li baru saja datang, namun ia sudah akan pergi lagi.”

Lin Shi Yin memaksakan seulas senyum. “Paman Li ada urusan yang penting. Dia….Dia harus pergi.”

Senyumnya sangat lemah, sangat terpaksa. Jika Li Xun Huan melihat senyum ini, hatinya pasti akan hancur lebur.

Kata Long Xiao Yun muda, “Ibu, tidak adakah yang kau ingin bicarakan dengan Paman Li?”

Bibir Lin Shi Yin bergetar. “Itu bisa menunggu sampai dia kembali.”

Bibir Long Xiao Yun muda berkerut. Ia mengejapkan matanya. “Tapi…..kupikir setelah Paman Li pergi hari ini, ia tidak akan pernah kembali lagi.”

Lin Shi Yin segera menyergah dengan setengah berbisik, “Husss! Sana pergi ke atas supaya Paman Li bisa segera berangkat.”

Long Xiao Yun muda akhirnya mengangguk. Dilepaskannya pegangannya pada jubah Li Xun Huan dan berkata, “Paman Li, kau boleh pergi sekarang. Jangan kuatir akan kami. Ibu dan aku sudah terbiasa hidup kesepian. Jangan kuatir.”

Ia mengusap matanya, seakan-akan air mata akan segera keluar….

Guo Song Yang sudah berada di ujung jembatan. Ia hanya memandangi mereka.

Li Xun Huan akhirnya memutar badan.

Ia tidak mengangkat wajahnya, tidak mengatakan apa pun juga.

Dalam keadaan seperti ini, kata-kata tidak akan berarti. Lagi pula, ia memang tidak tahu harus bicara apa.

Waktu seseorang terbawa perasaan, kadang-kadang ia malah jadi terlihat tidak berperasaan.

Di luar tembok, tanda-tanda musim gugur lebih nyata.

Kedua tangan Guo Song Yang terbungkus lengan bajunya. Ia berjalan perlahan di depan.

Li Xun Huan mengikutinya dari belakang.

Jalan itu panjang dan agak sempit. Ujungnya tidak kelihatan.

Angin musim gugur bertiup, daun-daun sudah berubah warna.

Walaupun langkahnya perlahan, langkah Guo Song Yang lebar-lebar.

Tatapan Li Xun Huan lekat pada langkahnya.

Tanah yang mereka injak agak empuk, sehingga tiap langkah meninggalkan jejak. Jejak Guo Song Yang sama jaraknya dan kedalamannya.

Walaupun ia seperti sedang berjalan santai, ia sebenarnya sedang mengumpulkan tenaga dalam yang khusus. Seluruh tubuhnya berirama harmonis, sehingga menghasilkan langkah-langkah yang sama persis.

Ketika ia sudah mengumpulkan seluruh tenaganya, ketika tubuhnya sudah berada dalam harmoni yang sempurna, ia akan berhenti…. Itu adalah ujung jalan ini.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: