Kumpulan Cerita Silat

29/11/2008

Pisau Terbang Li (29)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 1:04 am

Pecut yang Punya Mata

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Tangan si kurus menggebrak meja dan tubuhnya melayang ke udara. Angin dingin berkelebat dan sebuah pecut berwarna hitam mengkilat telah tergenggam di tangannya.

Ia menyentak pergelangan tangannya dan pecut panjang itu bergelora, menghasilkan angin yang menerpa orang-orang yang berada di luar. Terdengar suara ting ting tang tang. Empat puluh koin jatuh ke tanah.

Keempat puluh orang itu adalah jago-jago dalam dunia persilatan, namun tidak satupun pernah melihat permainan pecut yang begitu mengagumkan.

Ketika pecut itu ada di tangannya, pecut itu seolah-olah menjadi hidup, seperti punya mata.

Keempat puluh orang itu saling pandang, lalu segera menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka untuk kabur. Sebagian lari ke jalan, sebagian memanjat tembok. Langit penuh dengan bayangan orang-orang yang berhamburan. Dalam sekejap saja, semua sudah pergi.

Wajah si tua berjubah kuning itu memucat. Ia membentak dengan marah, “Kau telah mengambil Koin Pencabut Nyawa mereka. Apakah kau ingin mati menggantikan mereka?”

Si kaki satu tertawa dingin, “Nyawa Dewa Pecut XiMen Rou memang cukup berharga untuk menggantikan nyawa mereka semua!”

Ditariknya tongkatnya dan ia pun berdiri dengan satu kaki. Seakan-akan kakinya itu tertancap di tanah, seperti sebatang pohon yang kuat.

Si tua berjubah kuning mengacungkan tangannya. Dalam tangannya tergenggam sebuah pena besar.

Siapapun yang mempunyai senjata seperti itu, pastilah mempunyai kungfu tingkat tinggi.

Empat orang mengelilingi XiMen Rou.

Si mata satu mundur beberapa langkah dan membuka jubahnya. Tampak 49 mata tombak, ada yang panjang, ada yang pendek.

Kelima pasang mata orang itu memandang ke arah pecut panjang XiMen Rou.

Si kaki satu lalu tertawa, “Aku rasa kau pasti sudah tahu siapa keempat temanku ini.”

Sahut XiMen Rou, “Aku sudah tahu dari tadi.”

Si kaki satu berkata, “Kalau dipandang dari segi keadilan, kami berlima seharusnya tidak main keroyok. Tapi hari ini lain.”

XiMen Rou tertawa, “Aku sudah melihat begitu banyak orang dalam dunia persilatan menang dengan cara main keroyok. Kau pikir aku peduli?”

Si kaki satu pun menyahut, “Awalnya, aku tidak ingin membunuhmu, tapi kau telah melanggar peraturan kami. Bagaimana mungkin kami melepaskanmu? Jika kami membiarkan peraturan kami dilanggar, kami akan jadi sekelompok pendusta. Aku harap kau bisa mengerti.”

Kata XiMen Rou, “Bagaimana jika aku mau pergi?”

Si kaki satu menjawab, “Kau tidak bisa lagi pergi!”

XiMen Rou hanya tertawa, “Kalau aku benar-benar ingin pergi, kalian berlima tidak mungkin menghalangiku!”

Si kaki satu menggeram, tongkatnya sudah bergerak!

Walaupun gerakannya sederhana, tenaganya sungguh tidak terkira!

XiMen Rou masih tersenyum, pecutnya meliuk-liuk dengan cepat seraya melompat ke atas.

Si mata satu mengacungkan tangannya dan 13 mata tombak mencelat, membawa segulung angin ke arah XiMen Rou.

Yang panjang disambitkan lebih dulu, namun yang pendek lebih cepat. Terdengar suara klak klak klik klik secara beruntun, waktu pecut itu menghalau ketiga belas mata tombak itu.

Seperti angin puyuh, XiMen Rou melayang makin tinggi, lalu tiba-tiba mencelat, menghilang dari pandangan.

Si kaki satu segera berseru, “Kejar!”

Si kaki satu pun menutul tanah dengan tongkat besinya dan melayang ke udara. Ilmu meringankan tubuhnya lebih baik dari orang berkaki dua. Ia pun segera menghilang dari pandangan.

Keempat orang berjubah kuning yang lain segera menyusul, dan seketika warung itu pun sunyi senyap. Hanya dua mayat tertinggal di situ.

Kalau bukan karena kedua mayat itu, Si Bungkuk Sun mengira bahwa itu semua hanya mimpi buruk belaka.

Si kakek tua terbangun. Pada wajahnya tidak kelihatan tanda-tanda ia mabuk. Ia memandang ke arah orang-orang berjubah kuning itu pergi dan menghela nafas, “Tidak heran bahwa Pecut Ular XiMen Rou berada di urutan yang lebih tinggi daripada Tangan Setan Hijau Yi Ku. Dari gerakannya, ia memang pantas disebut Si Dewa Pecut. Bai Xiao Sheng memang benar-benar tahu apa tentang persenjataan.”

Si gadis berkuncir bertanya, “Apakah betul ia adalah ahli pecut yang paling hebat saat ini?”

Sahut si orang tua, “Keahlian yang baru saja ditunjukkannya itu belum pernah ada di antara ahli senjata lemas dalam tiga puluh tahun terakhir ini.”

Tanya si gadis berkuncir lagi, “Bagaimana dengan si kaki satu?”

“Ia bernama ZhuGe Gang. Julukannya di dunia persilatan adalah ‘Si Penyapu Seribu Tentara’. Tongkatnya yang disebut Tongkat Baja Emas, mempunyai berat 35 kg. Senjata yang terberat yang pernah ada.”

Si gadis berkuncir pun tersenyum, “Yang satu bernama XiMen Rou. Yang satu lagi bernama ZhuGe Gang. Mereka memang ditakdirkan menjadi musuh.”

[Rou artinya lunak. Gang artinya keras.]

Si orang tua mengeluarkan beberapa uang perak dan meletakkannya di atas meja. Ia dan cucunya lalu keluar dari warung itu masuk ke dalam kegelapan malam.

Si Bungkuk Sun mengawasi kepergian mereka. Sewaktu ia menoleh kembali, ia melihat bahwa si pemabuk pun kini sudah bangun. Ia berjalan ke arah tempat duduk yang tadi diduduki oleh XiMen Rou. Ia memungut surat yang ditinggalkan oleh ZhuGe Gang.

Si Bungkuk Sun tersenyum, “Sayang sekali kau sudah mabuk tadi. Kau melewatkan pertunjukan yang sangat seru.”

Si pemabuk tertawa, lalu menghela nafas, “Pertunjukan yang sebenarnya belum lagi dimulai. Walaupun aku tidak ingin menonton, aku kuatir aku harus menontonnya.”

Si Bungkuk Sun hanya menaikkan alisnya. Ia merasa semua orang sangat aneh hari ini. Seolah-olah mereka salah minum obat.

Si pemabuk membaca surat itu dalam sekejap, dan wajahnya pun berubah merah. Ia membungkuk dalam-dalam dan mulai terbatuk-batuk.

Si Bungkuk Sun bertanya, “Apa kata surat itu?”

Sahut si pemabuk, “Ti…tidak apa-apa.”

Kata Si Bungkuk Sun, “Kudengar mereka semua datang ke sini karena surat itu.”

“O ya?”

Si Bungkuk Sun pun tersenyum, “Mereka menyebut-nyebut tentang semacam harta karun. Apa pun itu, mereka pasti hanya main-main.”

Lalu ia pun bertanya, “Kau mau anggur lagi? Kali ini gratis.”

Ia tidak mendengar jawaban. Ketika ia menoleh, dilihatnya si pemabuk hanya berdiri di situ sambil menatap ke kejauhan.

Matanya tidak tampak mabuk, bahkan tersirat suatu kegagahan yang tidak biasa.

Si Bungkuk Sun mengikuti arah pandangannya. Ia hanya dapat melihat secercah cahaya lilin di kejauhan. Cahaya itu tampak semakin jauh karena kabut yang menyelimuti tempat itu.

—–

Waktu Si Bungkuk Sun kembali ke halaman belakang, hari sudah tengah malam.

Di halaman, suasana selalu tenang. Terlihat lilin di kamar si pemabuk masih bercahaya, namun pintunya terbuka lebar. Melambai-lambai karena tiupan angin.

Si Bungkuk Sun pergi ke sana untuk melihat. Ia mengetuk pintu dan bertanya, “Apakah kau sudah tidur?”

Tidak ada suara.

Apa yang dilakukannya di luar selarut ini?

Si Bungkuk Sun masuk. Dilihatnya ruangan itu kacau balau. Potongan-potongan kayu tersebar di seluruh ruangan, tapi pisau kecilnya tidak nampak di mana pun juga. Setengah guci arak terlihat masih di atas meja.

Segumpal kertas yang telah diremas-remas ada di sampingnya.

Si Bungkuk Sun segera mengenali bahwa itu adalah surat yang ditinggalkan oleh ZhuGe Gang.

Ia tidak tahan untuk tidak membacanya.

“15 September. Puri Awan Riang akan menunjukkan harta karunnya. Anda diharapkan datang untuk turut menyaksikan.”

Hanya tiga kalimat saja. Lebih sedikit yang tertulis, surat itu menjadi lebih misterius dan menarik perhatian orang.

Penulisnya sungguh memahami hati manusia.

Si Bungkuk Sun mengangkat alisnya. Wajahnya pun berubah.

Ia tahu Puri Awan Riang adalah puri di depan warungnya. Namun ia tidak habis pikir, apakah hubungan si pemabuk dengan puri itu?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: