Kumpulan Cerita Silat

26/11/2008

Pisau Terbang Li (26)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:36 am

Orang Aneh di Warung Kecil

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Musim gugur, daun-daun berguguran.

Di ujung jalan itu terlihat sebuah puri besar. Namun seperti daun-daun di musim gugur, telah tiba waktunya untuk runtuh.

Di depannya tampak pintu besar yang kelihatannya tidak pernah dibuka lebih dari satu tahun. Pegangan tembaganya sudah penuh dengan karat.

Sudah begitu lama tidak terdengar suara apapun dari dalam. Hanya suara jangkrik dan burung gereja.

Namun demikian, tidak selamanya puri itu seperti sekarang ini. Tujuh Jin Shi dan tiga Tan Hua pernah hidup di sini, termasuk satu di antaranya yang merupakan pahlawan gagah dunia persilatan.

Namun dua tahun yang lalu, puri ini berganti pemilik, dan begitu banyak kejadian menegangkan terjadi di sini. Begitu banyak pesilat tangguh mati di sini.

Setelah itu, puri ini menjadi sunyi senyap.

Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi. Ada yang bilang sepertinya ada hawa kejahatan yang menyelimutinya.

Kini, tidak lagi terdengar suara tawa dari dalam. Tidak ada lagi lentera yang menerangi di malam hari. Hanya sebatang lilin yang menyala di ruangan kecil di bagian belakang.

Seolah-olah orang di dalam itu sedang menantikan kedatangan seseorang. Tapi siapa yang dinanti-nantikannya?

—–

Sekotor apapun, segelap apapun suatu tempat, ada saja orang yang mau tinggal di situ.

Mungkin karena orang itu tidak punya tempat tinggal lain, atau mungkin orang itu sudah bosan dengan kehidupan, lebih suka bersembunyi dalam kegelapan, menunggu orang-orang melupakannya.

Di jalan kecil ini ada sebuah warung kecil. Warung ini menjual makanan dan arak di depan, dan di belakang adalah beberapa kamar untuk penginapan. Pemiliknya, Si Bungkuk Sun, adalah seorang cacad.

Walaupun ia tahu bahwa tempat itu bukan tempat yang baik untuk bisnis, ia tidak mau memindahkan warungnya.

Ia memilih hidup sebatang kara di situ, tidak mendengar suara tawa gembira orang lain, karena ia tahu uang tidak bisa membeli ketenangan hidup.

Tentu saja ia kesepian.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang pelanggan yang aneh datang ke warungnya. Sebenarnya, ia tidak mengenakan pakaian yang aneh, ataupun bertampang aneh.

Walaupun ia cukup jangkung dan berwajah cukup lumayan, ia kelihatan sangat lemah, selalu sakit-sakitan dan tidak henti-hentinya batuk.

Ia benar-benar tampak seperti orang biasa.

Namun Si Bungkuk Sun langsung tahu bahwa ia lain dari yang lain.

Ia tidak menertawai Sun karena punggungnya yang bungkuk, tapi ia juga tidak peduli dan tidak menunjukkan sedikitpun rasa simpati.

Ia tidak pilih-pilih tentang arak, juga tidak menilai. Ia tidak banyak bicara.

Yang aneh, setelah ia masuk ke warung itu, ia tidak pernah keluar lagi.

Pertama kali ia datang, ia memilih meja di sudut. Ia memesan tahu kering, daging sapi, dua kerat roti dan tujuh guci arak.

Setelah ia menghabiskan araknya, ia meminta Si Bungkuk Sun untuk membawakan lagi tujuh guci. Lalu ia tidur di kamar paling pojok di penginapan itu, dan bangun esok senja.

Waktu ia keluar, ketujuh guci araknya sudah pasti habis ludes.

Itu sudah berlangsung satu tahun, kini. Tiap malam, sudut yang sama, makanan yang sama, tahu kering, daging sapi, dua kerat roti dan tujuh guci arak.

Ia minum sambil terbatuk-batuk. Setelah habis, ia akan membawa tujuh guci lagi masuk ke dalam kamarnya, dan tidak muncul lagi sampai malam berikutnya.

Si Bungkuk Sun juga seorang peminum, tapi ia kagum pada orang ini. Baru kali ini ia melihat orang minum 14 guci dan tidak mabuk.

Kadang-kadang ia ingin bertanya pada orang itu, tapi diurungkannya. Ia tahu bahwa ia tidak akan mendapat jawaban.

Si Bungkuk Sun pun bukan orang yang senang ngobrol.

Ini sudah terjadi berbulan-bulan, ketika hawa menjadi sangat dingin dan hujan terus menerus beberapa hari. Si Bungkuk Sun pergi ke belakang untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Ia melihat jendela kamar pojok itu terbuka. Ia melongok ke dalam dan terlihat si orang aneh itu telentang di lantai dengan wajah sangat merah, seolah-olah berlumuran darah.

Si Bungkuk Sun segera membaringkannya di tempat tidur dan pergi mencari obat, memasaknya dan merawatnya selama tiga hari. Sampai ia bisa bangkit dari tempat tidur dan meminta arak lagi.

Saat itu tahulah Si Bungkuk Sun bahwa orang itu memang ingin mati. Jadi ia berusaha menasihatinya, “Tidak ada orang yang bisa hidup kalau minum arak terus seperti ini.”

Tapi orang itu hanya tersenyum. Ia bertanya, “Bagaimana kau tahu kalau minum arak akan memperpendek umurku?”

Si Bungkuk Sun tidak bisa menjawab.

Sejak hari itu, mereka menjadi sahabat.

Jika tidak ada tamu lain, mereka akan minum bersama, mengobrol ngalor ngidul. Si Bungkuk Sun jadi tahu, orang ini cukup terpelajar.

Ia hanya tidak mau bicara tentang dua hal, masa lalunya dan namanya.

Suatu ketika Si Bungkuk Sun bertanya, “Kita kan sekarang berteman, bagaimana aku memanggilmu?”

Ia berpikir sebentar lalu menjawab, “Aku kan seorang pemabuk, panggil saja aku seperti itu.”

Si Bungkuk Sun pun jadi paham bahwa orang ini pasti mempunyai masa lalu yang tragis, sampai-sampai ia tidak mampu menyebutkan namanya sendiri, dan lebih memilih untuk tenggelam dalam anggurnya.

Selain anggur, orang ini punya satu kesukaan lain.

Mengukir.

Ia selalu menggunakan pisau kecilnya untuk mengukir potongan-potongan kayu. Namun Si Bungkuk Sun tidak pernah tahu apa yang diukirnya, karena ia tidak pernah menyelesaikan ukirannya itu.”

Tamu ini memang benar-benar aneh, bahkan bisa dibilang, menakutkan.

Namun Si Bungkuk Sun berharap dia tidak akan pernah pergi.

Pagi ini cuaca sungguh dingin. Si Bungkuk Sun harus mengenakan mantel tebalnya untuk keluar membuka warungnya.

Lalu dilihatnya dua orang menunggang kuda datang ke arah warungnya.

Tidak banyak orang yang menunggang kuda di daerah ini, jadi Si Bungkuk Sun memperhatikan dengan seksama.

Kedua orang ini mengenakan jubah panjang berwarna kuning. Orang yang di depan bermata besar, dan yang di belakang berhidung runcing. Keduanya berambut pendek dan berusia sekitar 30-an.

Kedua orang ini tidak tampak luar biasa, hanya jubah mereka yang kuning sangat menyolok. Mereka tidak memperhatikan Si Bungkuk Sun. Mereka hanya mengawasi keadaan sekitar.

Ia tahu bahwa kedua orang ini tidak menyadari kehadirannya.

Kedua orang ini terus melewati warungnya dan lenyap dari pandangan. Namun sebentar kemudian, mereka kembali lagi.

Anehnya, kali ini mereka turun dari kuda tepat di depan warung itu.

Walaupun tabiat Si Bungkuk Sun sering juga aneh, ia masih ingin berdagang. Oleh sebab itu segera ia bertanya, “Apa yang Tuan-Tuan perlukan?”

Si mata besar berkata, “Kami tidak perlu apa-apa, kami hanya ingin bertanya.”

Si Bungkuk Sun meneruskan pekerjaannya. Ia memang tidak gemar bercakap-cakap.

Si hidung runcing pun tertawa dan berkata, “Bagaimana jika kami membeli jawaban darimu? Satu tail perak untuk tiap jawaban.”

Mata Si Bungkuk Sun pun menjadi cerah. Ia mengangguk dan menjawab, “Boleh.”

Seraya menjawab, ia mengacungkan satu jari.

Si mata besar tertawa, “Tadi sudah termasuk satu jawaban?”

Si Bungkuk Sun menjawab, “Ya.”

Kini dua jari teracung.

Si hidung runcing bertanya, “Sudah berapa lama kau tinggal di sini?”

Si Bungkuk Sun menjawab, “Dua puluh tahun lebih.”

Si hidung runcing bertanya lagi, “Siapa yang tinggal di puri di seberang warungmu itu?”

“Keluarga Li.”

Si hidung runcing kembali bertanya, “Siapa pemiliknya setelah itu?”

“Marganya Long, namanya Long Xiao Yun.”

Lagi ia bertanya, “Pernahkah kau melihat dia?”

“Tidak.”

“Di mana dia sekarang?”

“Ia sudah pergi.”

“Kapan?”

“Kira-kira setahun yang lalu.”

“Ia tidak pernah kembali lagi sejak itu?”

“Tidak.”

“Jika kau tidak pernah melihat dia, bagaimana kau tahu begitu banyak?”

“Tukang masaknya sering datang membeli arak ke sini.”

Si hidung runcing berpikir beberapa saat lalu bertanya, “Belakangan ini, adakah orang asing yang datang ke sini dan bertanya-tanya?”

“Tidak. Jika ada…aku pasti sudah kaya raya.”

Si mata besar tersenyum, “Ini upahmu.”

Ia melemparkan beberapa koin perak, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, mereka menaiki kuda mereka dan pergi.

Si Bungkuk Sun memandangi uang perak itu dan menggumam, “Kadang-kadang aku tidak bisa percaya begitu mudahnya mendapatkan uang.”

Ia membalikkan badannya, dan kaget karena si pemabuk itu sudah berada tetap di belakangnya. Ia memandang ke arah kedua penunggang kuda itu pergi.

Si Bungkuk Sun tersenyum, “Kau bangun pagi sekali hari ini.”

Si pemabuk pun tersenyum, “Semalam aku minum cepat sekali. Jadi aku sudah sadar lagi pagi-pagi.”

Ia menunduk dan terbatuk, lalu bertanya, “Hari ini tanggal berapa?”

Kata Si Bungkuk Sun, “Tanggal 14 bulan 9.”

Wajah si pemabuk yang pucat menjadi bersemu merah. Ia memandang ke kejauhan dan terdiam cukup lama. Lalu ia bertanya, “Jadi besok adalah tanggal 15 bulan 9, bukan?”

Si pemabuk sepertinya masih ingin bicara, namun ia mulai terbatuk-batuk. Dan ia terus terbatuk-batuk.

Si Bungkuk Sun mengeluh sambil menggelengkan kepalanya, “Jika seuma orang minum arak sebanyak engkau, semua penjual arak akan jadi orang kaya.”

Senja pun tiba dan di kejauhan cahaya lilin tampak di ruangan kecil di bagian belakang.

Si pemabuk pun tetap minum di tempatnya yang biasa.

Advertisements

3 Comments »

  1. Jilid 25nya dimana? Terima kasih

    Comment by an — 13/03/2009 @ 3:37 am

  2. Sudah ada, mas. Terima kasih atas koreksinya.

    Comment by ceritasilat — 14/03/2009 @ 1:21 am

  3. terima kasih atas posting pisau terbang li jilid 25.

    Comment by an — 14/03/2009 @ 5:30 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: