Kumpulan Cerita Silat

25/11/2008

Pisau Terbang Li (25)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 1:02 am

Pedang yang Kejam, Ahli Pedang yang Lembut Hati

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Ah Fei tidak bisa menahan tawanya mendengar pendapat Li Xun Huan bahwa Si Bandit Bunga Plum adalah seorang wanita, “Bagaimana dia bisa memperkosa wanita?”

Kata Li Xun Huan, “Di sinilah kelicikannya. Dengan begitu, tidak seorang pun mengira bahwa Si Bandit Bunga Plum adalah seorang wanita.”

“Tapi mana caranya wanita bisa memperkosa wanita?”

Li Xun Huan terkekeh, “Ada satu cara.”

Ia terbatuk sedikit, lalu melanjutkan, “Jika memang benar Si Bandit Bunga Plum adalah seorang wanita, ia bisa saja menggunakan laki-laki untuk mengerjakan perkerjaan hina itu. Sesudah itu, pada waktu yang tepat laki-laki itu pun dibunuhnya.”

Kata Ah Fei, “Kau berpikir terlalu jauh.”

Kata Li Xun Huan, “Mungkin kau benar, tapi lebih baik berpikir terlalu jauh daripada tidak berpikir sama sekali.”

Kata Ah Fei lagi, “Si Bandit Bunga Plum mula-mula muncul tiga puluh tahun yang lalu. Paling tidak sekarang usianya sudah lebih dari 50 tahun.”

Sahut Li Xun Huan, “Si Bandit Bunga Plum tiga puluh tahun yang lalu dan yang sekarang, mungkin bukan orang yang sama. Mereka bisa jadi guru dan murid, atau ayah dan anak.”

Ah Fei terdiam.

Li Xun Huan pun diam untuk beberapa lama. Lalu ia berkata, “Bai Xiao Sheng tidak mungkin adalah otak pencurian kitab-kitab itu, karena tidak mungkin ia bisa membujuk Xin Jian untuk mengambil resiko sebesar itu baginya.”

“O ya?”

Li Xun Huan melanjutkan, “Sebelum Xin Jian masuk ke Shaolin, ia sudah terkenal. Jika ia menginginkan harta, ia bisa mendapatkannya. Jadi motifnya pasti bukan uang.”

“O ya?”

“Walaupun ilmu silat Bai Xiao Sheng cukup tinggi, pasti tidak dapat menakut-nakuti Pendeta Shaolin.”

Kata Ah Fei, “Mungkin ia tahu sesuatu yang dapat dipakai untuk memeras Xin Jian.”

Tanya Li Xun Huan, “Sesuatu apa? Sebelum ia masuk ke Shaolin, apapun yang dilakukan Dan E tidak ada sangku-pautnya dengan Xin Jian, karena engkau harus melepaskan diri dari kehidupanmu di masa lalu sebelum menjadi seorang pendeta. Bai Xiao Sheng tidak dapat menggunakan apa yang diperbuatnya di masa lalu untuk mengancamnya. Dan setelah Dan E masuk ke Shaolin, kejahatan apa yang mungkin diperbuatnya?”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Jika ia ingin berbuat jahat, tidak ada gunanya masuk ke Shaolin. Semua orang tahu bagaimana ketatnya peraturan Shaolin. Jadi ia tidak mungkin mengambil resiko, kecuali…”

Tanya Ah Fei, “Kecuali apa?”

Sahut Li Xun Huan, “Kecuali ada sesuatu yang dapat menggerakkan hatinya. Dan ini pasti bukan ketenaran, bukan juga uang.”

Tanya Ah Fei lagi, “Lalu apa yang dapat mendorong seseorang berbuat seperti ini?”

Sahut Li Xun Huan, “Hanya kecantikan yang tiada taranya.”

“Si Bandit Bunga Plum?”

Jawab Li Xun Huan, “Betul sekali. Hanya kecantikan yang memukaulah yang dapat membuat dia mengkhianati Shaolin dan mencuri kitab-kitab itu.”

Kata Ah Fei, “Bagaimana kau bisa menebak bahwa Si Bandit Bunga Plum pasti adalah seorang wanita cantik?”

Li Xun Huan terdiam sejenak sebelum menjawab, “Mungkin aku salah…

Kuharap aku salah…”

Ah Fei tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan menatap Li Xun Huan, “Apakah kau akan kembali ke Puri Awan Riang?”

Li Xun Huan tersenyum sedikit, jawabnya, “Aku tidak tahu ke mana lagi harus pergi.”

—–

Malam gelap gulita.

Hanya ada sebatang lilin yang menyala di rumah itu.

Li Xun Huan menatap kosong ke arah cahaya lilin itu sampai cukup lama. Ia mengambil sapu tangan, menutup mulutnya dan mulai batuk-batuk.

Terlihat darah mengotori sapu tangan itu, yang kini dimasukkan kembali ke dalam sakunya. Lalu katanya sambil tersenyum, “Aku tidak ingin lagi masuk.”

Tanya Ah Fei, “Mengapa?”

Sahut Li Xun Huan, “Tidak tahu. Aku sering tidak tahu mengapa aku melakukan sesuatu.”

Kata Ah Fei, “Long Xiao Yun memperlakukanmu seperti itu, dan kau tidak ingin mencarinya?”

Li Xun Huan hanya tersenyum dan berkata, “Tapi ia tidak bersalah… Karena seseorang tidak pernah dapat disalahkan untuk apapun yang diperbuat demi istri dan anaknya.”

Ah Fei memandangnya sangat sangat lama. Lalu ia menundukkan kepalanya, katanya, “Kau memang benar-benar orang aneh. Tapi kau juga adalah seorang sahabat yang tak mungkin terlupakan.”

Kata Li Xun Huan, “Tentu saja kau tidak akan melupakan aku, karena kita akan berjumpa lagi di lain hari.”

Ah Fei terkejut, “Tapi…Tapi sekarang…”

Li Xun Huan meneruskan kata-katanya, “Tapi sekarang, ada yang harus kau lakukan. Jadi, pergi dan lakukanlah.”

Mereka berdua berdiri mematung di situ tanpa kata-kata.

Angin berhembus kencang membelah dataran itu.

Dari jauh kedengaran suara kentongan. Jauh sekali, hingga suaranya bagaikan air mata yang jatuh ke atas rumput.

Tidak ada bintang, tidak ada bulan, hanya kabut yang tebal…

Li Xun Huan tiba-tiba tertawa dan berkata, “Hari ini berkabut. Besok hari pasti cerah.”

Sahut Ah Fei, “Ya.”

Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya dan ia tidak dapat melanjutkan bicaranya.

Ia melompati dinding yang tinggi itu, dan terlihat olehnya lilin di kamar Lin Xian Er masih menyala. Sesosok bayangan wanita terbayang di jendela kertas itu.

Hati Ah Fei tercekat.

Orang yang berada di dalam seakan-akan sedang membaca buku, dan sebentar-sebentar merenung.

Ah Fei membuka pintu.

Setelah pintu terbuka, terlihatlah wajah yang menawan itu. Setelah pintu terbuka, kakinya tidak mampu melangkah lebih jauh.

Lin Xian Er menoleh. Ia terperanjat melihat siapa yang datang, namun kemudian tersenyum, “Oh, kau yang datang,” katanya.

Kata Ah Fei, “Aku yang datang.”

Ia mendengar suaranya sendiri terasa sangat jauh. Sampai-sampai ia sulit mendengarnya.

Lin Xian Er mendekapkan tangannya ke dadanya, lalu berkata, “Lihat, kau sudah mengagetkan aku.”

Kata Ah Fei, “Kau pikir aku sudah mati, jadi kau begitu terkejut melihat aku, bukan?”

Lin Xian Er mengerjapkan matanya yang indah, “Kau ini bicara apa? Ayo cepat masuk, nanti kau masuk angin.”

Ia segera menarik tangan Ah Fei masuk ke dalam kamarnya.

Ah Fei menarik tangannya dari genggaman Lin Xian Er.

Lin Xian Er berkata dengan manis, “Kau sedang marah ya? Dengan siapa? Mari kubantu engkau.”

Ia berusaha memeluk Ah Fei, namun Ah Fei mendorongnya pergi.

Lin Xian Er kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk.

Air mata mengambang di matanya yang bening, “Apakah aku yang membuat kau marah? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini? Apa kesalahanku? Katakan saja padaku dan aku pun tak akan mati dengan menyesal.”

Ah Fei mengepalkan tangannya.

Ia baru saja melihat buku apa yang sedang dibaca oleh Lin Xian Er. Kitab suci agama Budha.

Kitab suci dari Kuil Shaolin.

Ah Fei menatapnya, seolah-olah ia tidak mengenal orang ini.

Lalu Ah Fei berkata dengan dingin, “Apa yang kau lakukan? Kau tahu bahwa waktu aku melangkah masuk ke dalam rumah Saudara Ketiga Shen jiwaku akan melayang.”

Kata Lin Xian Er, “Ap…Apa maksudmu?”

Kata Ah Fei, “Waktu Bai Xiao Sheng dan Xin Jian memberikan kitab Shaolin itu padamu, kau menyuruh mereka memasang perangkap di rumah Saudara Ketiga Shen.”

Lin Xian Er menggigit bibirnya kuat-kuat. Katanya, “Kau berpikir bahwa aku ingin mencelakaimu?”

Sahut Ah Fei, “Sudah pasti. Hanya kau seorang yang tahu bahwa aku akan datang ke rumahnya malam itu.”

Lin Xian Er menutupi wajahnya dengan tangannya dan menangis lagi, “Tapi, kenapa aku ingin mencelakaimu? Kenapa?”

“Karena kaulah Si Bandit Bunga Plum!”

Wajah Lin Xian Er bengong seperti baru saja dipecut seseorang tiba-tiba. Ia langsung melompat dan berseru, “Aku adalah Si Bandit Bunga Plum? Berani-beraninya kau bilang bahwa aku adalah Si Bandit Bunga Plum?”

Sahut Ah Fei tegas, “Ya, kaulah Si Bandit Bunga Plum.”

Kata Lin Xian Er, “Si Bandit Bunga Plum kan sudah mati. Kau…”

Ah Fei segera memotongnya, “Aku hanya membunuh salah seorang bonekamu, supaya kau dapat mengalihkan kecurigaan orang dari dirimu.”

Ia melanjutkan lagi, “Kau tahu bahwa Rompi Benang Emas ada pada Li Xun Huan, dan kau tahu bahwa ia tidak akan tertipu olehmu. Maka kau ada dalam bahaya besar. Oleh sebab itulah, kau undang dia datang ke bilikmu malam itu.”

Sahut Lin Xian Er, “Aku memang punya janji bertemu dengan dia malam itu, karena saat itu aku belum mengenal engkau.”

Ah Fei tidak menggubrisnya, “Kau suruh bonekamu itu pura-pura menculikmu, supaya Li Xun Huan datang menyelamatkanmu dan membunuhnya. Jika seluruh dunia tahu bahwa Si Bandit Bunga Plum sudah mati, tidak akan ada yang bisa mencurigaimu.”

Lin Xian Er pun menjadi tenang. Ia hanya berkata, “Teruskan.”

Kata Ah Fei, “Tapi kau tidak menyangka bahwa Li Xun Huan dijebak orang lain, dan lebih tidak menyangka lagi bahwa aku akan muncul.”

Kata Lin Xian Er, “Jangan lupa, aku pun menyelamatkan engkau.”

“Betul sekali.”

“Jika aku adalah Si Bandit Bunga Plum, mengapa aku menolongmu?”

Sahut Ah Fei, “Karena rencanamu gagal, dan pada saat itu, bagimu aku lebih berguna dalam keadaan hidup. Waktu tidak ada seorang pun yang datang memeriksa bilikmu saat itu, aku mulai curiga.”

Tanya Lin Xian Er, “Kau pikir aku bersekongkol dengan Long Xiao Yun dan yang lain untuk menjatuhkan Li Xun Huan?”

Jawab Ah Fei, “Tentu saja mereka tidak tahu rencanamu. Kau hanya memanfaatkan mereka.

Lagi pula, Long Xiao Yun sudah lama membenci Li Xun Huan. Jadi ia pasti tidak keberatan ikut dalam rencanamu.”

Kata Lin Xian Er, “Apakah ini semua ide Li Xun Huan?”

Sahut Ah Fei, “Kau pikir semua laki-laki di dunia ini adalah orang tolol, boneka yang bisa kau permainkan. Waktu Li Xun Huan tidak kena kau kibuli, kau segera memasang merangkap untuk melenyapkan dia.”

Ah Fei merasa suaranya mulai bergetar. Ia mengertakkan giginya dan melanjutkan, “Kau bukan hanya licik dan berdarah dingin. Kaupun sangat rakus, sampai tega merampok kitab suci Shaolin. Kau… Kau…”

Lin Xian Er mendesah, “Sepertinya aku salah menilai engkau.”

Sahut Ah Fei, “Tapi aku tidak salah menilai engkau!”

Kata Lin Xian Er, “Jika kukatakan bahwa bukan Dan E dan Bai Xiao Sheng yang memberikan kitab-kitab ini padaku, kau tak akan percaya bukan?”

Kata Ah Fei, “Apapun yang kau katakan, selamanya aku tidak akan pernah percaya padamu lagi.”

Lin Xian Er tertawa, “Sekarang aku mengerti engkau, mengerti hatimu…”

Sambil berbicara, ia melangkah mendekati Ah Fei. Langkahnya pasti.

Angin menderu dan cahaya lilin pun bergoyang-goyang.

Cahaya lilin menerangi wajahnya yang ayu, yang bersimbah air mata. Ia menatap Ah Fei lekat-lekat dan berkata, “Aku tahu kau datang untuk membunuhku, bukan?”

Ah Fei hanya mengepalkan tangannya dan mengatupkan bibirnya.

Ia menunjuk ke dadanya, “Kau ada pedang, mengapa belum juga kau bunuh aku? Aku harap kau tusuk aku di sini, tepat di hatiku.”

Pedang Ah Fei telah tergenggam di tangannya.

Lin Xian Er memandangnya sayu, katanya, “Bunuhlah aku. Aku berbahagia bisa mati di tanganmu.”

Ah Fei tidak sanggup memandangnya. Ia memandang ke arah pedangnya.

Matanya penuh perasaan. Penuh kelembutan, penuh kasih, namun juga penuh kebencian… Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat menggetarkan hati laki-laki lebih kuat daripada sepasang mata ini.

Secercah sinar terpancar di sudut matanya, “Kau adalah orang yang paling kusayangi di dunia ini. Jika kau pun tak mempercayai aku, tidak ada alasan lagi bagiku untuk hidup lebih lama.”

Ah Fei menggenggam pedangnya erat-erat, sampai jari-jarinya merasa sakit.

Lanjut Lin Xian Er, “Jika kau pikir aku adalah Si Bandit Bunga Plum, aku adalah wanita yang menjijikkan, bunuh sajalah aku. Aku…Aku tidak akan menyalahkan engkau.”

Tangan Ah Fei mulai bergetar.

Pedang yang kejam. Pedang memang kejam. Namun hati manusia?

Bagaimana mungkin manusia tidak berperasaan?

Cahaya lilin pun padam.

Namun kecantikan Lin Xian Er kian berkilau dalam kegelapan.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Namun dalam kegelapan, suara nafasnya pun terdengar sungguh menghanyutkan, menghangatkan hati yang mendengar.

Adakah kekuatan yang lebih besar daipada kekuatan cinta?

Melihat wanita seperti ini, mengingat perasaan terdalam yang pernah dialaminya seumur hidupnya, memandang kegelapan tak berujung itu…

Bagaimana mungkin Ah Fei membunuhnya?

Pedang memang kejam! Namun si ahli pedang memang lembut hati!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: