Kumpulan Cerita Silat

24/11/2008

Pisau Terbang Li (24)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:32 am

Menangkap Pengkhianat

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Li Xun Huan mengeluh, “Kau benar-benar beruntung. Mereka sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan.”

Setiap orang yang mati karena racun Si Anak Lima Racun tubuh dan wajahnya rusak parah.

Li Xun Huan memejamkan matanya, lalu perlahan-lahan berkata, “Beberapa tahun yang lalu, aku melihat seseorang yang mati karena racunnya. Dalam beberapa detik saja wajahnya menghitam dan tidak lama kemudian seluruh tubuhnya membusuk.”

Xin Shu menatap tubuh Xin Mei lalu berseru, “Tapi Saudara Kedua sudah meninggal beberapa hari…”

Li Xun Huan membuka matanya kembali, “Betul sekali. Dia sudah keracunan beberapa hari, namun tubuhnya belum membusuk. Kau tahu kenapa?”

Xin Shu menggelengkan kepalanya.

Kata Li Xun Huan, “Karena ia kena racun yang lain lagi!”

Kata Xin Shu terbata-bata, “Mak…Maksudmu…”

Kata Li Xun Huan melanjutkan, “Walaupun ia kena racun Si Anak Lima Racun, keadaannya tidak terlalu membahayakan. Racun itupun telah ditahannya dengan tenaga dalamnya, sehingga racun itu tidak bekerja lagi sewaktu dia sampai di Shaolin.”

“Betul.”

Sambung Li Xun Huan, “Si pembunuh pasti takut ia akan menyebarkan rahasianya. Maka untuk mempercepat kematiannya, ia meracuni Pendeta Xin Mei dengan racun yang lain.”

Tanya Xin Shu, “Ada banyak cara untuk membunuh, mengapa menggunakan racun?”

“Karena cara apapun yang ditempuhnya akan meninggalkan jejak. Namun karena Pendeta Xin Mei sudah keracunan, jejaknya akan tersamarkan.”

Sahut Xin Shu, “Benar juga. Dengan cara ini, semua orang akan berpikir bahwa dia mati karena racun Si Anak Lima Racun.”

Kata Li Xun Huan, “Orang ini betul-betul penuh perhitungan, tapi ada satu hal yang dilupakannya.”

“Apa itu?”

“Ia lupa bahwa racun dapat saling menetralisir. Karena ia memberikan racun yang mematikan dalam jumlah besar, racun itu menghalangi bekerjanya racun Si Anak Lima Racun. Oleh sebab itu, tubuh Xin Mei tetap dalam keadaan baik setelah sekian lama.”

Mata Li Xun Huan berbinar. Tanyanya, “Setelah Pendeta Xin Mei datang, apakah ia makan sesuatu?”

Jawab Xin Shu, “Hanya semangkuk obat.”

“Siapa yang memberikan obat itu padanya?”

“Obat itu dibuat oleh Saudara Ketujuh Xin Jian. Tapi yang menyuapkan obat itu padanya adalah Saudara Keempat Xin Zhu dan Saudara Keenam Xin Deng.”

Ia mengeluh, “Jadi mereka bertigalah tersangkanya.”

Kata Li Xun Huan, “Ada dua jenis racun yang terkenal di dunia. Yang pertama sifatnya tidak berbau dan tidak berasa. Namun racun ini bisa membuat orang mati mengenaskan. Jadi tidak hanya membunuh si korban, namun juga menakutkan bagi yang menyaksikan.”

Kata Xin Shu, “Racun Si Anak Lima Racun sudah tentu masuk kategori ini.”

Li Xun Huan menyambung lagi, “Jenis yang kedua, lebih mudah dideteksi. Namun dapat menyebabkan kematian tanpa tanda-tanda khusus. Kadang-kadang orang tidak menyangka bahwa si korban mati keracunan.”

“Maksudmu, si pembunuh menggunakan racun jenis ini?”

Li Xun Huan mengangguk, “Karena sifatnya yang berbeda itulah, kedua racun ini malah saling menetralisir. Walaupun jenis yang pertama itu lebih mengerikan, jenis yang kedua lebih mematikan. Sedikit sekali orang yang dapat menyatukan dua macam racun ini.”

Ia menatap Xin Shu lekat-lekat, lalu bertanya, “Berapa orang di Shaolin yang tahu betul tentang racun?”

Xin Shu menghela nafas panjang, “Ini…”

Kata Li Xun Huan, “Shaolin adalah pelopor dalam dunia persilatan. Murid-muridnya tidak mungkin belajar sesuatu yang sesat seperti ini, bukan?”

Xin Shu menjawab dengan tegas, “Hal semacam ini sama sekali tidak diajarkan di Shaolin!”

Kata Li Xun Huan, “Pendeta Xin Zhu dan Xin Deng…”

Xin Shu segera memotong perkataannya, “Xin Zhu menjadi pendeta waktu berumur sembilan tahun. Xin Deng telah menjadi pendeta saat masih bayi. Aku berani bertaruh bahwa mereka berdua belum pernah melihat racun jenis apapun seumur hidup mereka.”

Li Xun Huan terkekeh, “Jadi, siapa pembunuhnya?”

“Maksudmu, sudah pasti Saudara Ketujuh Xin Jian?”

Li Xun Huan diam saja.

Xin Jian menjadi pendeta setelah ia dewasa. Sebelum ia masuk ke Shaolin, ia sudah terkenal dalam dunia persilatan, seorang ahli racun!

—–

Permainan Go sedang berlangsung di paviliun itu.

Bai Xiao Sheng memainkan buah catur itu ditangannya. Bunga-bunga salju berjatuhan ke tanah dari buah catur itu.

Pemandangan di situ sungguh indah, namun di mana-mana dapat terasa hawa membunuh yang tebal dan semua orang sangat tegang.

Pendeta Xin Hu, Xin Zhu, Xin Deng dan Xin Jian ada di situ.

Ah Fei berlutut di sudut paviliun itu. Wajahnya tertunduk.

Xin Hu memandangnya dan bertanya, “Apakah menurutmu Li Xun Huan akan datang?”

Bai Xiao Sheng tersenyum, “Pasti.”

Xin Hu bertanya lagi, “Apakah dia itu orang yang mau berkorban untuk sahabatnya?”

“Bahkan kaum pencuri pun punya kode etik.”

Xin Hu mengeluh, “Kuharap kau benar…”

Suaranya terhenti.

Ia melihat Xin Shu.

Xin Shu masuk ke paviliun itu, tapi sendirian saja.

Xin Hu berdiri menyambutnya, “Bagaimana keadaanmu?”

Ia tidak bertanya yang lain, hanya menyapa Xin Shu seperti biasa. Hanya seorang Kepala Shaolin yang mampu berbuat demikian.

Sahut Xin Shu, “Terima kasih, Saudaraku. Untungnya aku masih selamat.”

Xin Shu melanjutkan, “Ia pergi mengambil kitab-kitab itu?”

Xin Jian bertanya, “Kitab? Kitab apa?”

Jawab Xin Shu, “Kitab-kitab yang hilang dari perpustakaan.”

Mulut Xin Jian komat-kamit, lalu ia tertawa dingin, “Ternyata dia biang keladinya! Lalu kenapa kau biarkan dia pergi begitu saja?”

Sahut Xin Shu, “Karena bukan dia pencurinya.”

Tanya Xin Jian, “Lalu siapa?”

Jawab Xin Shu tegas, “Engkau!”

Mulut Xin Jian komat-kamit lagi, tapi kemudian ia menenangkan diri, “Saudara Kelima, bagaimana mungkin kau menuduhku? Aku tidak mengerti.”

Kata Xin Shu, “Jika kau tidak mengerti, siapa yang mengerti?”

Xin Jian menoleh pada Xin Hu, lalu berkata dengan memelas, “Kakak pertama, katakanlah sesuatu. Aku tidak bisa membela diri.”

Wajah Xin Hu pun berubah, “Saudara Kedua telah dibunuh oleh Li Xun Huan. Mengapa kau malah membantunya?”

Bai Xiao Sheng pun menjadi kesal, “Jika benar ingatanku, Saudara Xin Shu dan Li Xun Huan lulus ujian kekaisaran pada tahun yang sama.”

Xin Jian berkata dingin, “Kalau begitu, Saudara Kelima pun pasti telah kena racun Li Xun Huan.”

Xin Shu tidak menggubris ocehan mereka. Katanya, “Racun yang membunuh Saudara Kedua bukanlah racun Si Anak Lima Racun.”

Xin Jian memotong cepat, “Kau tahu dari mana?”

Xin Shu tertawa dingin, “Kau pikir tidak seorang pun tahu perbuatanmu? Atau kau lupa bahwa Saudara Kedua meninggalkan sesuatu sebelum meninggal?”

Ia mengeluarkan buku harian Xin Mei.

Tanya Xin Hu, “Apa itu?”

Jawab Xin Shu, “Sebelum Saudara Kedua berangkat, ia sudah tahu siapa pencuri pengkhianat itu. Tapi ia tidak mau bertindak tanpa bukti nyata, sehingga Xin Mei hanya menuliskan namanya pada buku ini, supaya kalau dia mati, bukti itu tidak akan hilang.”

Xin Hu terperanjat mendengarnya, “Betulkah?”

Xin Jian memotong lagi, “Jika memang betul ada namaku di buku itu, aku akan…”

Kata Xin Shu, “Kau akan apa? Walaupun sudah kau sobek halaman terakhirnya, bagaimana kau bisa yakin ia tidak menuliskan namamu di halaman yang lain juga?”

Tubuh Xin Jian gemetar, lalu berseru, “Saudara Kelima telah bersekongkol dengan orang luar untuk memfitnah aku. Kakak pertama, tolong selidiki hal ini baik-baik.”

Xin Hu hanya berdiri mematung sambil memandang Bai Xiao Sheng.

Kata Bai Xiao Sheng, “Siapapun dapat menuliskan nama itu.”

Xin Jian pun segera mengiakan, “Betul… Sekalipun namaku tertulis di situ, tidak dapat dibuktikan bahwa Saudara Kedualah yang menulisnya.”

Tambah Bai Xiao Sheng, “Setahuku, Li Tan Hua Kecil adalah seseorang yang sangat terpelajar. Ia pun pandai dalam ilmu tulis-menulis.”

Xin Jian pun berkata, “Betul sekali. Mudah sekali baginya untuk meniru tulisan tangan seseorang.”

Xin Hu memandang pada Xin Shu, “Saudaraku, biasanya kau adalah seorang yang berhati-hati. Apakah kau tidak terlalu gegabah saat ini?”

Wajah Xin Shu tidak berubah, terus menatap Xin Jian, “Jika kau pikir ini belum cukup, aku masih punya bukti yang lain.”

Kata Xin Hu, “O ya? Cepat katakan.”

Sahut Xin Shu, “Kitab ‘Da Muo Yi Jin Jing’ yang tersembunyi dalam kamar Saudara Kedua telah lenyap.”

“O ya?”

Lanjut Xin Shu, “Menurut perhitungan Li Tan Hua, si pencuri pasti belum sempat membawanya keluar. Jadi kitab itu pasti masih ada di kamar Xin Jian. Ia telah pergi bersama dengan murid-muridku ke sana untuk mencarinya.”

Xin Jian melompat bangun dan berteriak, “Kakak pertama, jangan dengarkan dia. Ia sedang memfitnahku!”

Sambil mengatakan itu, tubuhnya pun sudah berada di luar.

Xin Hu mengangkat alisnya, segera berdiri dan mengejarnya.

Dalam sekejap saja, mereka telah tiba di kamar Xin Jian.

Pintunya telah terbuka lebar.

Xin Jian bergegas masuk. Ia segera menoreh sebuah lemari dan terlihatlah laci rahasia di baliknya. Kitab ‘Yi Jin Jing’ ada di dalamnya.

Xin Jian berteriak, “Buku ini tadinya ada di kamar Kakak Kedua. Karena mereka mau memfitnahku, maka ditaruhnyalah buku ini di situ. Tapi tipuan ini kan sudah ratusan kali dilakukan. Bagaimana mungkin seorang sepandai Kakak Pertama dapat tertipu oleh tipuan murahan kalian?”

Setelah ia selesai, Xin Shu berkata dengan tenang, “Jika kami ingin memfitnahmu, bagaimana kau bisa tahu kalau buku ini ada di balik lemari itu? Mengapa kau tidak perlu mencari-cari di tempat lain terlebih dulu?”

Xin Jian mengejang, wajahnya berkeringat.

Xin Shu bernafas lega, “Li Tan Hua sudah memperhitungkan bahwa hanya dengan cara inilah kau akhirnya mengakui perbuatanmu.”

Terdengar suara tawa seseorang, “Tapi cara ini kan sangat riskan. Jika ia tidak terjebak, sampai kapan pun ia tidak akan tertangkap!”

Di tengah suara tawa itu, muncullah Li Xun Huan.

Xin Hu menghela nafas panjang, lalu membungkuk untuk menyapanya.

Li Xun Huan membalas sapaannya.

Xin Jian diam-diam melangkah mundur, namun Xin Zhu dan Xin Deng telah menghalangi jalannya. Wajah mereka penuh kemarahan yang mematikan.

Kata Xin Hu, “Dan E, Shaolin sudah begitu baik padamu, mengapa kau berbuat seperti ini?”

Dan E adalah nama Xin Jian sebelum menjadi pendeta.

Keringat Dan E bercucuran. Katanya, “A…Aku mengakui kesalahanku.”

Tiba-tiba ia berlutut dan berkata, “Tapi akupun telah dimanfaatkan oleh orang lain.”

Xin Hu membentak, “Oleh siapa?”

Bai Xiao Sheng memotong cepat, “Kukira aku tahu siapa orangnya.”

Kata Xin Hu, “Tolong beri tahu kami.”

Sahut Bai Xiao Sheng, “Dia!”

Semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk Ba Xiao Sheng, namun mereka tidak melihat siapa pun juga.

Waktu mereka menoleh kembali, wajah Xin Hu telah berubah.

Tangan Bai Xiao Sheng sudah berada di punggungnya. Jari-jarinya telah terarah pada empat jalan darah utama Xin Hu.

Wajah Xin Shu pun jadi berubah, “Ternyata kau!”

Kata Bai Xiao Sheng, “Aku hanya ingin meminjam beberapa buku. Siapa sangka kalian ini pelit sekali.”

Kata Xin Hu, “Kita berteman sudah sepuluh tahun lebih. Aku tidak pernah menyangka kau akan berbuat seperti ini padaku.”

Bai Xiao Sheng menghela nafas, “Aku pun tidak ingin melakukannya. Tapi karena Dan E bermaksud menyeretku jatuh bersamanya, terpaksa aku melakukan ini.”

Dan E segera melompat, menyambar kitab ‘Yi Jin Jing’ itu, lalu tertawa mengejek, “Betul sekali. Kau harus menemani kami turun gunung. Jika kalian semua masih ingin bertemu Ketua Shaolin hidup-hidup, kalian sebaiknya tidak melakukan gerak yang mencurigakan.”

Walaupun geram luar biasa, Xin Shu hanya bisa menonton saja.

Kata Xin Hu, “Jika kalian semua menghargai Shaolin, jangan pedulikan aku. Tangkap pengkhianat ini sekarang juga!”

Kata Bai Xiao Sheng, “Kata-katamu tidak berarti. Mereka tidak mungkin bermain-main dengan hidupmu. Hidup seorang Ketua Shaolin terlalu berharga.”

Waktu kata yang terakhir diucapkannya, senyumnya pun tiba-tiba hilang.

Sebilah pisau berkilau.

Pisau Terbang Li Kecil telah keluar!

Dan kini pisau itu telah melayang menuju lehernya!

Tidak seorang pun melihat kapan pisau itu keluar.

Bai Xiao Sheng pun telah menggunakan Xin Hu sebagai tamengnya. Lehernya selalu berada di belakang leher Xin Hu. Hanya sebagian kecil lehernya yang tampak.

Kapan pun juga ia bisa segera berlindung di balik Xin Hu.

Dalam situasi ini, tidak seorang pun berani bergerak.

Namun begitu cepat pisau itu berkilat, dan lebih cepat dari halilintar, Pisau Terbang Li Kecil telah menembus lehernya!

Xin Shu, Xin Zhu dan Xin Deng segera berhamburan melindungi Xin Hu.

Mata Bai Xiao Sheng dengan penuh kebencian menatap Li Xun Huan. Tubuhnya masih tidak percaya dan kaget luar biasa.

Dalam kematian pun, ia tidak bisa percaya bahwa pisau Li Xun Huan telah menembus lehernya.

Mulutnya masih berusaha bicara, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Namun semua orang bisa menebak bahwa ia hendak mengatakan, “Aku salah… Aku salah…”

Betul sekali. Bai Xiao Sheng tahu segala sesuatu, dapat melihat segala sesuatu, tapi ia salah terhadap satu hal.

Pisau Terbang Li Kecil sungguh lebih cepat daripada yang ia bayangkan!

Bai Xiao Sheng pun ambruk.

Li Xun Huan mendesah, “Bai Xiao Sheng menulis buku ‘Kitab Persenjataan’, dan mengurutkan senjata-senjata ampuh di dunia. Sungguh sial, ia mati karena salah satu dari senjata yang diurutkannya.”

Xin Hu membungkuk beberapa kali, lalu berkata, “Aku pun salah.”

Lalu wajahnya tiba-tiba berubah, “Di mana si pengkhianat itu?”

Dan E telah mengambil kesempatan dalam kekacauan itu dan kabur.

Seorang seperti dia tidak akan melewatkan kesempatan semacam ini. Dalam sekejap saja ia sudah meninggalkan halaman biara.

Murid-murid yang lain tidak tahu akan kejadian ini. Jadi kalaupun mereka melihat dia, mereka tak akan menghalanginya.

Ketika ia sampai di paviliun itu, Ah Fei sedang berusaha bangun.

Walaupun Bai Xiao Sheng telah menutup jalan darahnya kuat-kuat, akhirnya lepas juga setelah sekian lama.

Ketika Dan E melihatnya, matanya penuh kebencian. Ia ingin melampiaskan rasa frustrasinya pada Ah Fei.

Setelah disiksa begitu lama, bagaimana mungkin Ah Fei dapat melawannya?

Jadi, membunuh Ah Fei tidak akan memakan waktu lama.

Tanpa berkata apa-apa, Dan E menyerang. Pukulan Shaolin terkenal di seluruh dunia dan Dan E telah berlatih di Shaolin selama sepuluh tahun, sehingga ia pun cukup lihai menggunakannya.

Pukulan ini mengandung seluruh tenaganya, cepat dan mematikan, dan tentunya dapat membunuh dengan mudah. Dan E tahu, setelah membunuh Ah Fei pun dia masih punya cukup banyak waktu untuk melarikan diri.

Tapi siapa sangka, di saat yang genting itu tangan Ah Fei tiba-tiba teracung.

Ia bergerak belakangan, tapi menyerang lebih dulu!

Dan E hanya merasa kerongkongannya sedingin es. Lalu ada rasa sakit menyertai hawa dingin itu. Nafasnya berhenti, seakan-akan tercekik.

Mukanya menunjukkan rasa tidak percaya… Ia tahu gerakan pemuda ini memang sangat cepat, tapi apakah yang digunakan pemuda ini untuk menusuk lehernya?

Ia tidak akan pernah tahu.

Dan E pun rubuh.

Ah Fei bangun berdiri, mengatur nafasnya.

Saat itu, Xin Hu dan yang lain telah tiba. Mereka terkejut luar biasa, karena tidak ada yang menyangka bahwa pemuda ini, dalam kondisi seperti itu, dapat membunuh Dan E.

Batangan es menembus tenggorokan Dan E.

Es itu mulai mencair.

Pemuda ini hanya membutuhkan sebatang es untuk membunuh salah satu dari tujuh pendeta tetua Shaolin.

Xin Hu hanya bisa menatap wajahnya yang putih pucat itu. Tidak tahu harus bicara apa.

Ah Fei pun tidak memandang mereka sekilas pun. Ia langsung berjalan menuju Li Xun Huan, langsung tersenyum.

Li Xun Huan pun tersenyum.

Suara Xin Hua masih lemah, “Maukah kalian berdua tidak mampir dulu ke…”

Ah Fei memotongnya cepat, “Apakah Li Xun Huan adalah Si Bandit Bunga Plum?”

Sahut Xin Hu, “Bukan.”

“Apakah aku adalah Si Bandit Bunga Plum?”

“Bukan.”

Kata Ah Fei, “Kalau begitu, kami boleh pergi sekarang?”

Xin Hu memaksakan tersenyum, “Tentu saja. Tapi kupikir kalian sebaiknya beristirahat di sini…”

Ah Fei memotongnya lagi, “Jangan repot-repot. Sekalipun aku harus merangkak, aku akan merangkak turun gunung sekarang juga.”

Xin Zhu dan Xin Deng, keduanya menunduk dalam-dalam. Tidak ada seorang pun yang berani bersikap kurang ajar terhadap Ketua Shaolin selama beratus-ratus tahun. Namun saat ini mereka hanya dapat menelannya bulat-bulat.

Ah Fei meraih lengan Li Xun Huan dan berjalan keluar Shaolin.

Li Xun Huan memutar badannya dan berkata, “Hari ini kita berpisah. Jika kita bertemu kembali, lupakanlah kekasaran kami hari ini.”

Kata Xin Shu, “Mari kuantar kalian.”

Sahut Li Xun Huan, “Mengantar, seperti tidak mengantar. Tidak mengantar, seperti mengantar. Mengapa Pendeta harus membuat perbedaan?”

Waktu mereka lenyap dari pandangan, Xin Hu menghela nafas panjang. Ia tidak berkata apa-apa, namun diam terkadang lebih menyakitkan dari banyak kata-kata.

Xin Zhu tiba-tiba berkata, “Saudaraku, sesungguhnya kau jangan membiarkannya pergi.”

Tanya Xin Hu, “Mengapa?”

“Walaupun Li Xun Huan tidak mencuri kitab-kitab itu, ataupun membunuh Saudara Kedua, kita masih belum bisa membuktikan bahwa dia bukanlah Si Bandit Bunga Plum.”

Tanya Xin Hu lagi, “Lalu bagaimana kita membuktikannya?”

Jawab Xin Zhu, “Ia dapat membuktikannya dengan menangkap Si Bandit Bunga Plum yang sebenarnya.”

Xin Hu kembali mendesah, “Aku tahu, ia pasti akan menangkapnya dan membawanya ke sini. Itu tidaklah penting. Namun enam kitab itu…”

Walaupun pencurinya telah tertangkap, kitab-kitab itu belum ditemukan. Kepada siapa diberikannya kitab-kitab itu?

Siapa sebenarnya yang berdiri di balik semua ini?

Li Xun Huan tidak suka berjalan, lebih-lebih berjalan di atas salju. Namun kali ini ia tidak punya pilihan. Walaupun angin dingin mengiris kulitnya, tidak ada kereta yang dapat ditumpangi.

Tapi Ah Fei telah terbiasa berjalan. Dalam benak orang lain, berjalan itu sangat melelahkan, namun bagi Ah Fei, berjalan itu menenangkan. Dengan lebih banyak berjalan, lebih banyak juga tenaganya dipulihkan.

Mereka berbagi cerita dan Li Xun Huan pun mulai berpikir. Katanya, “Kau bukan Si Bandit Bunga Plum. Aku juga bukan. Lalu siapa?”

Ah Fei memandang ke kejauhan, “Ia sudah mati.”

Li Xun Huan berkata, “Apa betul ia sudah mati? Apa betul yang kaubunuh itu Si Bandit Bunga Plum?”

Ah Fei diam saja.

Li Xun Huan tiba-tiba terkekeh, “Pernahkah kau terpikir bahwa Si Bandit Bunga Plum bukan seorang laki-laki?”

“Jika ia bukan laki-laki, lalu apa?”

Li Xun Huan tersenyum, “Jika ia bukan laki-laki, maka ia pasti seorang wanita!”

Advertisements

2 Comments »

  1. apa ada yang tahu jilid 25 pisau terbang li? Dimana? saya cari tidak ada?

    Comment by an — 13/03/2009 @ 3:27 am

  2. Sudah di-post,mas. Terima kasih atas kejeliannya.

    Comment by ceritasilat — 14/03/2009 @ 1:22 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: