Kumpulan Cerita Silat

23/11/2008

Pisau Terbang Li (23)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 8:54 am

Masuk Jebakan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Di malam yang dingin dan berangin kencang ini, Lin Xian Er dan Ah Fei sampai di depan sebuah puri yang megah. Sambil menunjuk pada temboknya yang sangat tinggi itu, Lin Xian Er berkata, “Ini adalah rumah Saudara Ketiga Shen. Ia dan saudara-saudaranya membuka lebih dari empat puluh usaha. Tapi sekarang, seluruh usaha itu menjadi miliknya karena kelima belas saudaranya yang lain telah masuk ke dalam peti mati!”

Tanya Ah Fei, “Bagaimana mereka mati?”

Jawab Lin Xian Er, “Secara resmi, mereka mati karena sakit. Tapi tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aneh bukan kalau lima belas orang yang segar bugar bisa sakit dan mati semua dalam tiga tahun, sedangkan Saudara Ketiga Shen tidak kurang suatu apapun?”

Ah Fei tidak menjawab. Ia hanya berkata singkat, “Aku akan menemuinya besok malam.”

—–

Dengan koordinasi tangan dan kaki yang baik, Ah Fei memanjat tembok itu.

Setelah dilewatinya, ia melihat sebuah taman yang luas dan beberapa rumah. Pada saat itu, hanya sedikit cahaya yang tampak, sebagian besar orang sudah tidur.

Lin Xian Er menemukan seorang pelayan yang mau menggambarkan peta tempat itu untuknya. Jadi Ah Fei tahu pasti ke mana ia harus pergi.

Saudara Ketiga Shen masih terjaga. Rambut pengusaha yang licik itu sudah memutih, namun ia masih duduk di dalam cahaya lilin dengan sipoanya, menghitung pendapatannya.

Ia menghitung tidak terlalu cepat, karena jari-jarinya pendek dan gemuk. Bagaimana seorang dari keluarga kaya mempunyai tangan seperti seorang pekerja?

Karena pada waktu ia masih kecil, ayahnya mengusir dia dari rumah, sehingga selama 5 tahun ia terlunta-lunta. Tidak seorang pun tahu apa yang ia lakukan saat itu. Ada yang bilang ia jadi pengemis, ada yang bilang ia pergi ke Shaolin, mengerjakan pekerjaan kasar dan belajar ilmu silat yang hebat di sana. Oleh sebab itu, waktu saudara-saudaranya meninggal, tidak ada seorangpun yang berani berbicara walaupun sebenarnya mereka curiga.

Tentu saja ia menyangkal semua tuduhan itu. Namun ia tidak bisa menyangkal kedua belah tangannya. Kedua belah tangan itu adalah bukti bahwa ia pernah belajar ilmu silat Tangan Besi dan telah mencapai taraf yang cukup tinggi. Kalau tidak, tidak mungkin kakaknya yang tertua mati selagi muntah darah.

Ah Fei mendorong jendela di kamar itu dan masuk ke dalam.

Reaksi Saudara Ketiga Shen boleh dibilang cepat, namun ketika ia sadar jendela kamarnya terbuka, Ah Fei telah berdiri di hadapannya. Ia tidak dapat percaya ada orang yang dapat bergerak secepat itu. Ia menjadi sangat ketakutan dan hanya bisa berdiri mematung.

Ah Fei memandangnya dingin dan bertanya, “Apakah kau Saudara Ketiga Shen?”

Saudara Ketiga Shen hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tanya Ah Fei, “Apakah kau tahu apa yang kuinginkan?”

Ia terus mengangguk.

Tanya Ah Fei lagi, “Adakah yang ingin kau katakan?”

Kini Saudara Ketiga Shen berhenti mengangguk dan mulai menggeleng.

Pedang Ah Fei terhunus, namun di saat yang sama Ah Fei merasa ada kejanggalan. Hanya intuisi, seperti yang dimiliki hewan liar, seperti seekor kelinci dapat merasakan kehadiran seekor serigala liar. Tanpa mendengar apa pun juga, atau pun melihat bayangan si serigala.

Kini tanpa ragu-ragu Ah Fei mengacungkan pedangnya!

Secepat meteor, ditebaskannya pedang itu ke arah dada Saudara Ketiga Shen. Tapi yang terdengar adalah suara berdentang, seperti logam bertemu logam. Pedang itu mengenai lempengan logam, sehingga tidak dapat menembusnya.

Setelah serangan itu, Saudara Ketiga Shen segera berguling ke bawah meja. Ah Fei segera melompat untuk melarikan diri. Sayang, ia terlambat selangkah.

Sebuah jaring raksasa telah jatuh dari langit-langit. Jaring itu sebesar ruangan itu, sehingga siapapun yang berada di situ pasti akan terperangkap.

Ah Fei pun terperangkap.

Anehnya ia tidak merasa panik atau ketakutan. Ia hanya merasa sedih, karena ia baru tahu bagaimana perasaan seekor binatang yang tertangkap oleh pemburu.

Seekor binatang tidak mungkin lolos dari perangkap pemburu.

Oleh sebab itu, Ah Fei tidak berusaha melepaskan diri.

Ia tahu usaha itu sia-sia belaka.

Saat itu, dua bayangan turun ke atas jala itu, masing-masing membawa sebuah tongkat panjang. Kedelapan jalan darah Ah Fei segera ditutup.

Dua orang ini adalah Xin Jian dan Bai Xiao Sheng dari Shaolin.

Saudara Ketiga Shen sudah tidak ada di bawah meja lagi, karena di situ ternyata ada jalan rahasia.

Sudah jelas sekarang, ini semua adalah jebakan.

Wajah Bai Xiao Sheng penuh kemenangan, “Aku tahu kau pasti datang ke sini. Kau menyerah sekarang?”

Ah Fei diam saja.

Walaupun ia masih bisa bicara, ia tidak merasa perlu untuk menjawab atau bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu aku akan datang ke sini?”

Matanya menatap kosong, seolah-olah pikirannya pun kosong.

Ia tidak bisa berpikir? Atau tidak mau berpikir? Atau tidak berani berpikir apa-apa?

Kata Bai Xia Sheng, “Aku tahu, kau berusaha menolong temanmu, Li Xun Huan, jadi kau berpura-pura menjadi Si Bandit Bunga Plum.”

Ah Fei berteriak, “AKULAH Si Bandit Bunga Plum. Aku tidak perlu berpura-pura. Aku tidak kenal siapa itu Li Xun Huan.”

Sahut Bai Xiao Sheng, “Benarkah… Saudara Xin Jian, ia bilang ialah Si Bandit Bunga Plum. Apakah kau percaya?”

“Tidak.”

Kata Bai Xiao Sheng lagi, “Tapi ini cukup sulit dibuktikan. Saudara Xin Jian, tahukah kau siapa yang membunuh Hong Tian Lei?”

“Si Bandit Bunga Plum.”

“Bagaimana dia mati?”

“Walaupun di tubuhnya ada tanda bunga plum, serangan yang mematikan adalah totokan pada jalan darah Xuan Ji.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Kalau begitu, Si Bandit Bunga Plum bukan hanya pesilat tangguh, namun ilmu totoknya pun sangat tinggi.”

“Betul.”

Bai Xiao Sheng tersenyum, menoleh pada Ah Fei, “Jika kau bisa menyebutkan nama kedelapan jalan darahmu yang baru saja aku tutup, kami semua akan percaya bahwa kaulah Si Bandit Bunga Plum dan kami akan segera membebaskan Li Xun Huan. Bagaimana?”

Ah Fei mengertakkan giginya kuat-kuat.

Bai Xiao Sheng mendesah, “Kau memang sahabatnya yang setia. Untuk dia, kau rela mengorbankan nyawamu. Tapi seberapakah pentingnya engkau dalam pandangannya? Jika kau dapat membujuknya keluar dari kamar itu saja sudah cukup bagus.”

—–

Ada anggur dalam cawan.

Li Xun Huan memegang cawan itu di tangannya.

Di sudut kamar tampak seorang pendeta kurus yang tampak sangat lemah. Walaupun ia sudah lewat setengah umur, wajahnya belum tampak tua. Ia kelihatan seperti seorang kutu buku.

Orang ini adalah Pendeta Xin Shu.

Walaupun ia adalah tawanan Li Xun Huan, ia tetap kalem, duduk tenang di sudut ruangan.

Tiba-tiba Li Xun Huan tersenyum dan berkata padanya, “Tak kusangka Shaolin mempunyai arak selezat ini. Mau secawan?”

Xin Shu menggelengkan kepalanya.

Li Xun Huan berkata, “Aku minum arak di depan jenazah Saudaramu. Apakah itu termasuk kurang ajar?”

Sahut Xin Shu, “Secara umum, orang menggunakan arak untuk bersulang, di mana pun tempatnya. Kau sama sekali tidak kurang ajar.”

Kata Li Xun Huan, “Bagus. Tidak heran kalau orang bilang, setelah masuk ke dalam biara, hatimu akan lebih lega.”

Wajah Xin Shu yang tenang berubah sedikit, seperti berusaha menyembunyikan rasa pedih.

Ia menghela nafas, wajahnya penuh kesedihan. Apakah ia sedih untuk saudaranya yang telah meninggal, atau untuk keadaan dirinya saat itu, tidak ada yang tahu.

Li Xun Huan memandangi cawan anggurnya, lalu menghela nafas juga, “Sejujurnya, aku tidak menyangka bahwa kaulah yang menyelamatkan aku kali ini.”

Sahut Xin Shu, “Aku tidak menyelamatkanmu.”

Kata Li Xun Huan, “Empat belas tahun yang lalu, aku mengundurkan diri dari jabatanku di pemerintahan. Walaupun alasan resminya adalah bahwa aku sudah bosan berkecimpung dalam dunia politik, sesungguhnya, jika bukan karena tulisanmu yang mengatakan bahwa aku punya bersekongkol dengan para bandit, aku mungkin tidak akan berbulat hati untuk mengundurkan diri.”

Xin Shu memejamkan matanya, lalu berkata, “Hu Yun Ji yang gila kekuasaan itu sudah lama mati. Mengapa kau mengungkit tentang dia kembali?”

Sahut Li Xun Huan, “Kau memang benar. Setelah seseorang masuk ke biara, ia menjadi seorang yang baru. Tetap saja, aku masih tidak bisa percaya bahwa kaulah yang menyelamatkan aku hari ini.”

Xin Shu membuka matanya dan berseru, “Sudah kubilang, aku tidak menyelamatkan engkau. Karena tenaga dalamku lemah, maka aku tidak bisa lepas dari cengkeramanmu. Jangan berbicara seolah-olah kau berhutang padaku.”

“Tapi jika bukan kau yang memberiku tanda untuk masuk ke sini, aku tidak akan memilih untuk masuk ke ruangan ini. Dan jika kau berusaha lepas, tak mungkin aku benar-benar bisa menahanmu di sini.”

Mulut Xin Shu komat-kamit, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Li Xun Huan tersenyum, “Pendeta kan tidak boleh berdusta. Lagi pula, hanya ada kita berdua di sini.”

Xin Shu pun tersenyum, “Walaupun memang aku berniat untuk menyelamatkanmu, itu bukan karena kejadian di masa lalu itu.”

Li Xun Huan tidak kelihatan terkejut. Ia hanya bertanya, “Lalu kenapa?”

Dari wajahnya, kelihatannya Xin Shu tidak tahu harus menjawab apa.

Li Xun Huan tidak memaksanya. Ia lalu menghabiskan anggurnya.

Saat itu, seseorang dari luar berseru, “Li Xun Huan, lihat ke luar jendela!”

Ini adalah suara Xin Jian.

Ketika Li Xun Huan melihat ke luar jendela, wajahnya langsung berubah.

Tak pernah disangkanya bahwa Ah Fei akan jatuh ke tangan mereka.

Bai Xiao Sheng hanya berdiri saja di situ dengan wajah sok tahu. Katanya, “Li Tan Hua, kurasa kau mengenalnya, bukan? Demi engkau, ia ingin dianggap sebagai Si Bandit Bunga Plum. Bagaimana kau akan berterima kasih padanya?”

Xin Jian berseru, “Jika kau ingin menyelamatkan dia, lebih baik kau keluar dan menyerah!”

Tangan Li Xun Huan gemetar. Ia tidak melihat wajah Ah Fei, karena wajahnya menelungkup di tanah. Kelihatannya ia terluka parah.

Xin Jian tiba-tiba mengangkat tubuh Ah Fei, “Li Xun Huan kuberi kau waktu empat jam. Jika kau tidak keluar dengan Saudara Kelimaku, kau tak akan pernah melihat temanmu ini lagi.”

Bai Xiao Sheng berkata, “Li Tan Hua, orang ini sangat memperhatikan engkau. Sepantasnya kau pun membalas kebaikannya.”

Li Xun Huan sungguh tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Ia melihat bagaimana mereka menyeret Ah Fei seperti seekor anjing, dan melihat luka-lukanya akibat penganiayaan mereka.

Anak muda itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ia hanya memandang sekilas ke arah jendela, wajahnya sungguh tenang. Seakan-akan berkata pada Li Xun Huan bahwa ia tidak takut mati.

Li Xun Huan mengeluh, “Sahabatku… Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau tidak ingin aku menolongmu.”

Xin Shu terus memandangnya, lalu tiba-tiba bertanya, “Apa yang akan kau lakukan?”

Li Xun Huan minum tiga cawan lagi, baru menjawab, “Tentu saja aku akan menyerah. Kapan kau mau, silakan ikat aku dan bawa aku keluar.”

Kata Xin Shu, “Kau pasti mati kalau keluar!”

“Aku tahu.”

“Tapi kau masih mau keluar juga?”

“Tentu saja.”

Jawabannya begitu pasti, tidak bisa didebat lagi.

Kata Xin Hu, “Bukankah itu sangat bodoh?”

Li Xun Huan tersenyum, “Kita semua pernah berbuat kebodohan dalam hidup kita. Jika setiap orang mengambil keputusan yang benar, bukankah hidup ini akan menjadi terlalu membosankan?”

Xin Shu merenungkan kata-kata ini, lalu berkata, “Kau memang benar. Kadang-kadang tidak ada jalan lain. Kau tahu dengan melakukan hal ini, kau pasti mati. Tapi, tetap saja kau harus melakukannya!”

Li Xun Huan terkekeh, “Setidaknya kau tahu cara berpikirku.”

Lanjut Xin Shu, “Persahabatan adalah yang terutama, lebih penting daripada hidup dan mati. Li Xun Huan memang benar-benar Li Xun Huan.”

Li Xun Huan tidak memandangnya lagi, dan berkata, “Aku jalan duluan.”

Xin Shu tiba-tiba berseru, “Tunggu dulu.”

Seolah-olah ia baru saja mengambil keputusan penting. Matanya menatap Li Xun Huan lekat-lekat, “Aku belum selesai bicara.”

“O ya?”

Kata Xin Shu, “Tadi sudah kukatakan bahwa aku punya alasan lain menyelamatkanmu.”

“Benar.”

Kata Xin Shu, “Ini adalah rahasia besar Shaolin, dan menyangkut banyak orang, sehingga tadinya aku tidak ingin memberi tahu padamu.”

Li Xun Huan berdiri saja, mendengarkan.

Lanjut Xin Shu, “Di Shaolin ada begitu banyak buku langka. Sebagian kitab suci agama Budha, sebagian lagi buku-buku ilmu silat.”

“Tentu saja aku tahu.”

Kata Xin Shu lagi, “Selama beberapa ratus tahun terakhir ini, segelintir orang berusaha untuk mencuri buku-buku ini dari Shaolin, namun tidak ada yang berhasil.

Walaupun pendeta tidak seharusnya membunuh, tetap saja, buku-buku ini adalah dasar kuil Shaolin. Jadi setiap orang yang berusaha mencurinya akan menjadi sasaran kemarahan seluruh murid Shaolin.”

Kata Li Xun Huan, “Aku hampir tidak pernah mendengar ada orang yang berani mencuri dari sini.”

Sahut Xin Shu, “Kau orang luar, tentu saja kau tidak tahu secara detil. Sebenarnya Shaolin pernah kecurian buku sebanyak tujuh kali. Satu buku adalah petunjuk untuk ketenangan hati dan yang lain adalah kitab ilmu silat tingkat tinggi.”

Li Xun Huan sungguh terkejut mendengarnya, “Siapa yang berbuat?”

Jawab Xin Shu, “Anehnya, tidak ada tanda-tanda pencurian ataupun jejak apa pun yang dapat diselidiki.

Setelah dua pencurian yang pertama, kami telah meningkatkan penjagaan. Namun pencurian itu tetap berlanjut. Pada awalnya, Saudara Ketigalah yang menjaga perpustakaan, namun sejak peristiwa itu ia mengundurkan diri.”

Kata Li Xun Huan, “Ini kan persoalan besar. Mengapa tidak tersiar ke mana-mana?”

Sahut Xin Shu, “Justru karena ini adalah masalah yang sangat besar, pendeta kepala sudah wanti-wanti pada semua orang yang tahu untuk tutup mulut. Jadi sekarang, termasuk engkau, hanya sembilan orang yang tahu akan hal ini.”

Tanya Li Xun Huan, “Selain ketujuh pendeta tetua, siapakah orang yang kedelapan?”

“Bai Xiao Sheng.”

Li Xun Huan mengeluh, “Orang ini benar-benar suka ikut campur urusan orang lain.”

Kata Xin Shu lagi, “Setelah Saudara Ketiga mengundurkan diri, Saudara Kedua dan akulah yang menjaga perpustakaan, sejak setengah bulan yang lalu.”

Li Xun Huan bertanya, “Jika Xin Mei bertugas menjaga perpustakaan, mengapa dia pergi?”

Jawab Xin Shu, “Sebab Saudara Kedua curiga bahwa Si Bandit Bunga Plum terlibat dalam pencurian itu, jadi ia pergi untuk menyelidiki. Siapa sangka ia tidak pernah kembali lagi.”

Setelah diam beberapa saat, Xin Shu melanjutkan, “Aku dan Saudara Kedua adalah teman lama. Sebelum ia pergi, ia mengambil tiga kitab yang paling berharga dari perpustakaan dan menyembunnyikannya di tiga tempat. Hanya pendeta kepala dan aku yang tahu tempat persembunyiannya.”

“Satu ada dalam ruangan ini bukan?”

“Betul.”

Kata Li Xun Huan, “Pantas saja mereka begitu enggan menyerbu ke sini.”

Kata Xin Shu lagi, “Karena pencurian itu begitu aneh, aku dan Saudara Kedua berpendapat bahwa mungkin ada orang dalam yang terlibat.

Namun, walaupun kami berdua sudah curiga, kami tidak berani mengatakannya. Karena selain dari kami bertujuh pendeta tetua, tidak ada seorang pun yang dapat mencuri kitab-kitab itu.”

Mata Li Xun Huan berbinar, “Jadi pencurinya pasti salah satu dari kalian bertujuh?”

Sahut Xin Shu, “Kami tujuh bersaudara telah hidup bersama di sini selama lebih dari sepuluh tahun. Kami pun saling mempercayai satu dengan yang lain. Hanya saja…”

“Apa?”

“Sebelum Saudara Kedua pergi, ia sempat mengatakan padaku bahwa ia sangat curiga pada salah seorang dari kami bertujuh.”

Li Xun Huan bertanya cepat, “Siapa?”

Xin Shu menggelengkan kepalanya, “Ia tidak menyebutkan namanya, karena ia tidak mau asal tuduh. Ia masih berharap bahwa pencurinya adalah Si Bandit Bunga Plum.”

Sampai di sini, tenggorokan Xin Mei mengering, tak bisa bicara lebih lanjut.

Kata Li Xun Huan, “Aku mengerti perasaan Xin Mei. Namun bagaimana mungkin ia hanya berpangku tangan sementara si pencuri masih bebas berkeliaran, bahkan menyebutkan namanya pun tidak mau.”

Xin Shu pun berkata, “Saudara Kedua pun telah berpikir demikian. Jadi sebelum ia pergi, ia sudah berpesan, jika sampai terjadi apa-apa pada dirinya, aku harus membaca buku hariannya. Nama orang yang dicurigainya tertulis di halaman terakhir.”

Li Xun Huan bertanya tidak sabar, “Lalu di mana buku harian itu?”

“Tadinya ada bersama dengan kitab-kitab berharga itu. Sekarang ada padaku.”

Ia mengeluarkan sebuah buku, yang kemudian segera direbut oleh Li Xun Huan. Seluruh buku itu berisi tentang ajaran-ajaran agama Budha, tidak ada tulisan tentang orang yang dicurigai.

Tanya Li Xun Huan, “Halaman terakhirnya sudah dirobek oleh si pencuri?”

Jawab Xin Shu, “Bukan hanya itu. Kitab-kitab itu pun telah berubah menjadi kitab-kitab kosong!”

Kata Li Xun Huan, “Ini berarti si pencuri sudah tahu bahwa Saudara Kedua mencurigainya.”

“Betul.”

“Tapi hanya engkau dan pendeta kepala yang tahu tempat persembunyiannya. Jadi kau curiga…”

Kata Xin Shu, “Tidak sepenuhnya. Jika si pencuri tahu bahwa Saudara Kedua mencurigainya, ia pasti akan membayangi Saudara Kedua kemana saja. Dengan cara itu, kemungkinan ia bisa mengetahui tempat persembunyiannya. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Sebenarnya, sewaktu kau membawa Saudara Kedua kembali ke sini, ia masih hidup. Dan ia tidak seharusnya mati!”

Li Xun Huan kaget setengah mati.

Ia melihat Xin Shu mengepalkan tangannya, “Walaupun aku bukan ahli tentang racun, aku telah belajar cukup banyak beberapa tahun terakhir ini dari buku-buku kami. Jadi, sewaktu aku melihat keadaan Saudara Kedua waktu ia sampai, aku tahu ia pasti akan tertolong. Paling tidak ia tidak mungkin mati secepat itu!”

Kata Li Xun Huan, “Jadi maksudmu…”

Kata Xin Shu, “Siapapun yang mencuri kitab-kitab itu, dialah yang membunuh Saudara Kedua.”

Tiba-tiba Li Xun Huan merasa ruangan itu menjadi sangat sempit, ia menjadi sulit bernafas.

Ia mengelilingi ruangan itu untuk menenangkan diri, lalu bertanya, “Berapa orang yang datang menjenguknya?”

Jawab Xin Shu, “Kakak pertama, Saudara Keempat, dan Saudara Ketujuh.”

“Jadi salah satu dari merekalah pembunuhnya?”

Xin Shu mengangguk, “Ini adalah petaka besar bagi biara ini. Seharusnya aku tidak mengatakannya padamu, namun aku tahu sekarang bahwa kau bukanlah orang yang mengkhianati sahabatmu. Jadi aku ingin kau…”

“Kau ingin aku membantumu menangkap si pembunuh?”

“Betul.”

Li Xun Huan berpikir sejenak, lalu ia bertanya perlahan, “Bagaimana jika ternyata pembunuhnya adalah Xin Hu?”

Tubuh Xin Shu menegang, keringat membasahi keningnya.

Kata Li Xun Huan, “Walaupun seluruh murid Shaolin akhirnya mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Xin Hu, tidak ada seorang pun yang mau mengakuinya, bukan?”

Xin Shu tidak menjawab, karena memang pertanyaan ini tidak butuh jawaban. Semua orang menganggap Shaolin sebagai perguruan silat yang terhormat. Apa jadinya jika Ketua Shaolin ternyata adalah seorang pembunuh?”

Li Xun Huan berkata lagi, “Walaupun aku bisa membuktikan bahwa pembunuhnya adalah Xin Hu, aku yakin kau tak akan mendukungku, demi mempertahankan reputasimu.”

Xin Shu mendesah, “Kau benar. Demi reputasi Shaolin, aku akan mengorbankan apapun juga.”

Tanya Li Xun Huan, “Lalu mengapa kau minta aku melakukannya?”

Jawab Xin Shu, “Walaupun aku tidak mau merusak reputasi Shaolin, jika kau bisa membuktikan siapa pembunuh Saudara Xin Mei, aku jamin ia akan mati bersama denganku.”

Kata Li Xun Huan, “Bagaimana bisa seorang pendeta berbicara mengenai pembunuhan? Kelihatannya kau masih terikat dengan dunia luar.”

Sahut Xin Shu, “Sang Budha sendiri pun pernah marah, apalah artinya seorang pendeta kecil.”

Kata Li Xun Huan, “Mendengar jawabanmu, aku sudah puas.”

Tanya Xin Shu, “Kau sudah tahu siapa pembunuhnya?”

Sahut Li Xun Huan, “Belum. Tapi aku tahu seseorang yang tahu.”

Kata Xin Shu, “Si pembunuhnya pasti tahu.”

Kata Li Xun Huan, “Selain si pembunuh, ada seorang lagi yang tahu. Orang itu berada di ruangan ini.”

“Siapa?”

Li Xun Huan menunjuk pada jenazah Xin Mei, “Dia!”

Kata Xin Shu, “Sayang sekali, dia sudah tidak bisa berbicara.”

Li Xun Huan terkekeh, “Kadang-kadang orang mati pun bisa bicara.”

Ia menyingkapkan kain yang menutupi tubuh Xin Mei. Sinar matahari menyinari wajahnya yang sudah berwarna abu-abu gelap.

Li Xun Huan bertanya, “Pernahkah kau melihat korban Si Anak Lima Racun?”

“Tidak.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: