Kumpulan Cerita Silat

22/11/2008

Pisau Terbang Li (22)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:26 am

Si Bandit Bunga Plum Muncul Kembali

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Makan siang sudah selesai, cerita pun sudah selesai. Orang-orang mulai bubar, dan sambil berjalan keluar, mereka membicarakan keadaan Li Xun Huan.

Lin Xian Er terus memandangi Ah Fei. Ah Fei sendiri tenggelam dalam pikirannya. Makanan di meja mereka tidak tersentuh sedikit pun.

Di meja yang lain, si gadis berkuncir meletakkan sumpitnya dan bertanya, “Kakek, menurutmu apakah Li Tan Hua tidak bersalah?”

Jawab Si Tua Sun, “Sekalipun aku tahu bahwa ia tidak bersalah, apa yang dapat kulakukan?”

Kata si gadis berkuncir, “Bagaimana dengan sahabatnya? Tidak ada seorang pun yang mau menolong dia?”

Jawab Si Tua Sun, “Jika ia terperangkap di tempat lain, mungkin ada orang yang berusaha menolongnya. Tapi ia terperangkap di kuil Shaolin. Aku rasa tidak akan ada seorang pun yang dapat menolong dia.”

Si gadis berkuncir tampak sedih, “Jadi akhirnya dia akan mati di Shaolin?”

Si Tua Sun berpikir cukup lama, lalu berkata, “Sebetulnya ada jalan. Namun kemungkinan berhasilnya sangat tipis.”

Waktu Ah Fei mendengarnya, matanya langsung cerah.

Si gadis berkuncir langsung bertanya, “Bagaimana?”

Kata Si Tua Sun, “Jika Si Bandit Bunga Plum yang sesungguhnya masih hidup dan muncul lagi, maka Li Xun Huan akan terbebas. Jika dia bukan Si Bandit Bunga Plum, ia tidak punya alasan untuk membunuh Pendeta Xin Mei.”

Si gadis berkuncir pun mendesah, “Kemungkinannya memang kecil sekali. Sekalipun Si Bandit Bunga Plum masih hidup, ia pasti sedang bersembunyi sekarang. Menunggu mereka membunuh Li Xun Huan.”

Si Tua Sun meletakkan pipanya di atas meja, “Kau sudah selesai makan mi?”

Sahut si gadis berkuncir, “Tadinya aku lapar sekali. Tapi setelah mendengar cerita itu, nafsu makanku jadi hilang.”

Kata Si Tua Sun, “Kalau begitu, ayo kita pergi. Kita tak bisa menyelamatkan Li Tan Hua hanya dengan duduk-duduk di sini.”

Ketika si gadis berkuncir itu keluar dari pintu, ia menoleh pada Ah Fei dan memandangnya, seolah-olah berkata, “Jika kau hanya duduk-duduk di situ, bagaimana kau dapat menolongnya?”

Sambil memandang kepergian mereka, Lin Xian Er tertawa dingin, “Tahukah kau, orang macam apakah mereka itu?”

“Apa?”

Sahut Lin Xian Er, “Dari penampilan mereka, tenaga dalam orang tua itu sangat tinggi. Langkah gadis kecil itu ringan dan cepat. Ilmu meringankan tubuhnya paling tidak setaraf denganku.”

“O ya?”

“Dalam pandanganku, mereka bukan tukang cerita biasa. Mereka pasti punya alasan lain datang ke sini.”

Lanjut Lin Xian Er, “Mereka sengaja menceritakan kisah itu padamu, supaya kau pergi bunuh diri.”

“Bunuh diri?”

Lin Xian Er mendesah, “Jika kau tahu bahwa Li Xun Huan terperangkap di Shaolin, pasti kau akan berusaha keras untuk membebaskannya. Namun bagaimana kau bisa melawan seluruh kuil Shaolin?”

Ah Fei berpikir dalam-dalam, ia tidak menjawab.

Kata Lin Xian Er, “Lagi pula mungkin saja mereka berdusta. Supaya kau juga terjebak.”

Ia menggenggam tangan Ah Fei dan berkata dengan manis, “Walaupun mereka tidak berbohong bahwa Li Xun Huan ada dalam bahaya, jika kau pergi, kau hanya akan mengacaukan konsentrasinya. Dan jika para pendeta itu berhasil menangkapmu, maka ialah yang harus menyelamatkanmu. Kau malah akan mempersulit dia, bukan menolongnya.”

Setelah Ah Fei berpikir lama, akhirnya dia berkata, “Kau betul.”

Kata Lin Xian Er, “Jadi kau berjanji tidak akan pergi ke Shaolin?”

“Ya.”

Ia menjawab sangat cepat, sehingga Lin Xian Er tidak yakin bahwa Ah Fei berkata jujur.

Ketika mereka kembali ke penginapan, Ah Fei berkata, “Karena kita tidak jadi pergi ke Shaolin, kau lebih baik pulang saja.”

“Lalu engkau?”

Jawab Ah Fei, “A…aku mau berjalan-jalan sebentar.”

Lin Xian Er langsung menyambar tangannya, suara bergetar waktu dia berbicara, “Apakah kau akan berpura-pura menjadi Si Bandit Bunga Plum?”

Ah Fei hanya memandangi lantai. Lalu ia menghela nafas panjang dan akhirnya menjawab, “Ya.”

Kata ‘ya’ itu diucapkannya dengan sangat tegas, seakan-akan menyatakan bahwa tak akan ada yang bisa mengubah pikirannya.

Kata Lin Xian Er, “Lalu…lalu mengapa kau suruh aku pulang?”

Sahut Ah Fei, “Karena ini adalah persoalanku.”

Kata Lin Xian Er lagi, “Persoalanmu adalah persoalanku.”

Kata Ah Fei, “Tapi Li Xun Huan bukanlah sahabatmu.”

Wajah Ah Fei penuh rasa terima kasih, namun ia tidak mengatakannya.

Sahut Lin Xian Er, “Kau dapat menghargai suatu persahabatan begitu tinggi. Mengapa aku tidak? Walaupun aku tidak berguna, paling tidak aku bisa memberimu dukungan moral.”

Ah Fei menggenggam tangan Lin Xian Er erat-erat. Walaupun ia tidak bicara, matanya, air mukanya, sudah mewakilinya berbicara.

Dengan diamnya, ia telah berbicara lebih banyak.

Lin Xian Er tersenyum manis, “Jika kau ingin berpura-pura menjadi Si Bandit Bunga Plum, kau perlu seseorang untuk dirampok.”

“Betul.”

Kata Lin Xian Er, “Tidak bisa sembarang orang, bukan?”

Sahut Ah Fei, “Yang pasti, kita harus menemukan orang kaya yang kekayaannya tidak halal.”

Mata Lin Xian Er berputar, “Aku tahu orang yang tepat.”

“Siapa?”

Sahut Lin Xian Er, “Orang ini dulunya seorang bandit. Lalu dia berhenti waktu usianya 50 tahun. Namun sampai sekarang dia masih berbisnis gelap.”

Tanya Ah Fei, “Siapa namanya?”

Lin Xian Er berpikir keras, lalu jawabnya, “Ah, aku ingat. Namanya Zhang Sheng Qi. Namun sekarang ia dipanggil Zhang Yuan Wai, Dermawan Besar Zhang.”

Ah Fei mengangkat alisnya, “Dermawan besar?”

Kata Lin Xian Er, “Ia merampok sepuluh ribu tail perak, lalu menyumbangkan seratus tail untuk memperbaiki jalan. Di malam hari ia membunuh seratus orang, namun di siang hari ia menolong orang sakit.

Mudah sekali bagi seorang bandit untuk menjadi dermawan.”

—–

Zhang Sheng Qi sedang berbaring di kursi panjangnya sambil memandang ke kuali di atas api yang sedang memanaskan sup sarang burung.

Di luar salju sudah turun lagi, namun di dalam rumahnya, hangat bagaikan musim semi.

Ia memejamkan matanya, bermaksud untuk tidur sejenak. Tapi ia dikagetkan oleh suara kuali yang terguling dan pecah berantakan.

Ia segera membuka matanya dan dilihatnya seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Tidak ada yang tahu dari mana ia datang.

Walaupun Zhang Sheng Qi telah mengundurkan diri, ilmu silatnya masih terlatih dengan baik. Ia berteriak, “Pencuri kecil, berani-beraninya kau masuk ke rumahku!”

Segera ia memasang kuda-kuda, siap menyerang si lelaki baju hitam itu.

Saat itulah, terlihat suatu kilatan di depannya.

Zhang Sheng Yi tidak tahu dari mana datangnya atau macam apakah senjata yang menyerangnya. Tiba-tiba saja lima tanda luka telah menghiasi dadanya.

Si Bandit Bunga Plum telah muncul kembali!

Di rumah-rumah minum teh, warung-warung arak, semua orang membicarakannya. Apakah pembunuh Zhang Sheng Yi adalah Si Bandit Bunga Plum yang sebenarnya?

Siapa korban berikutnya?

Orang-orang kaya itu mulai sulit tidur lagi.

—–

Di waktu senja, suara genta menggema di lingkungan kuil, dan para pendeta dengan wajah tegang dan dingin masuk satu per satu ke dalam ruangan.

Langkah mereka terasa lebih ringan daripada biasanya, karena beberapa hari terakhir ini pikiran mereka sungguh galau.

Di atas Gunung Song, hawa dingin terasa lebih kejam dan salju meliputi seluruh pegunungan. Seseorang menaiki gunung dengan tergesa-gesa. Ia adalah salah satu murid Shaolin yang bukan pendeta, ‘Pahlawan dari Nan Yang’, Xiao Jing.

Langkah Xiao Jing sangat ringan, tidak bersuara saat menyentuh tanah. Namun saat memasuki halaman, Pendeta Xin Hu yang sedang berada di ruang kerjanya berseru, “Siapa itu?”

Langkah Xiao Jing terhenti. Ia membungkuk dan berkata, “Murid Xiao Jing datang untuk memberi laporan.”

Ada tiga orang dalam ruangan itu. Xin Hu, Xin Jian, dan Bai Xiao Sheng.

Xiao Jin tidak berani banyak bicara. Ia masuk ke dalam, membungkuk lagi dan berkata, “Si Bandit Bunga Plum telah muncul kembali!”

Lanjutnya lagi, “Tiga hari yang lalu, mantan bandit Zhang Sheng Qi mendadak terbunuh dan barang-barang berharganya dicuri. Satu-satunya tanda adalah luka berbentuk bunga plum di dadanya.”

Xin Jian dan Bai Xiao Sheng saling pandang. Wajah mereka memucat.

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Xin Hu mendesah, “Kini Si Bandit Bunga Plum telah muncul kembali. Mungkin Li Xun Huan memang tidak bohong.”

Bai Xiao Sheng memandang Xin Jian, tapi tidak berkata apa-apa.

Xin Jian berjalan perlahan-lahan ke jendela, memandangi salju di luar, “Namun ini pun bisa membuktikan bahwa memang Li Xun Huanlah Si Bandit Bunga Plum!”

Kata Xin Hu, “Apa maksudmu?”

Sahut Xin Jian, “Jika aku adalah Si Bandit Bunga Plum dan aku tahu bahwa kesalahanku telah dituduhkan pada orang lain, aku akan bersembunyi untuk sementara sampai orang itu dihukum. Kalau aku beraksi, bukankah itu berarti menyelamatkan nyawa Li Xun Huan?”

Bai Xiao Sheng mengangguk, “Kau benar. Satu-satunya alasan mengapa Si Bandit Bunga Plum muncul sekarang adalah untuk membersihkan nama Li Xun Huan. Jika aku adalah Si Bandit Bunga Plum, aku pun tidak akan pernah melakukannya.”

Tanya Xin Hu, “Kalau begitu, apa saranmu?”

Sahut Xin Jian, “Jika Li Xun Huan bukan Si Bandit Bunga Plum yang sebenarnya, maka teman-temannya tidak mungkin melakukan ini.”

Xin Hu bangkit berdiri dan berjalan ke jendela, “Siapa yang menjaga Li Xun Huan sekarang?”

Sahut Xin Jian, “Murid-murid Saudara Kedua, Yi Rui dan Yi Chen.”

Kata Xin Hu, “Suruh mereka kemari.”

Ketika Yi Rui dan Yi Chen masuk, ia tidak menoleh, hanya bertanya, “Apakah kalian sudah mengantar makanan untuk Paman Kelima?”

Sahut Yi Rui, “Sudah. Tapi…”

Xin Hu memotong, “Tapi apa?”

Kata Yi Rui, “Aku mengikuti perintahnya untuk menaruh makanan di depan pintu. Banyaknya sama dengan kemarin, dua kali ukuran normal tambah satu gelas air.”

Sambung Yi Chen, “Aku membawa keranjang makanan itu karena aku ingin melihat apa yang terjadi di dalam. Aku mundur sedikit dan aku melihat Li Xun Huan mengambil keranjang itu, melihat makanan itu dan melemparkannya ke luar.”

“Kenapa?”

Sahut Yi Rui, “Katanya makanannya tidak enak dan tidak ada arak, jadi dia tidak mau makan.”

Xin Hu menjadi sangat geram, “Dipikirnya dia itu ada di mana? Di rumah makan?”

Yi Rui dan Yi Chen sudah berada di kuil selama sepuluh tahun dan baru kali ini mereka melihat ketua Shaolin ini marah. Mereka tidak berani memandangnya.

Setelah beberapa saat, ia pun menjadi tenang, lalu bertanya, “Lalu ia ingin makan apa?”

Sahut Yi Rui, “Ia menulis daftar dan melemparkannya ke luar. Ia bahkan menyertakan cara memasaknya. Jika ada kesalahan, dia bilang makanan itu akan dilemparkannya ke luar lagi.”

Daftar makanan itu adalah:
Rebung Merah Rebus
Sup Sayur Campur
Sayur asin dengan jamur
Sayur masak
Tahu dengan jamur dan rebung

[Terjemahannya mungkin kurang tepat]

Selain empat jenis masakan dan satu sup itu, ia pun ingin 1.5 kg arak Zhu Ye Qing kualitas super. Seakan-akan Shaolin adalah rumah makan vegetarian kelas atas di Ibu Kota.

Siapapun yang melihat daftar itu takkan tahu apakah mereka harus tertawa atau menangis. Namun Xin Hu menjawab pendek, “Berikan saja keinginannya.”

Xin Jian cepat berkata, “Kakak, kau…”

Xin Hu memotongnya, “Jika Li Xun Huan tidak makan, Saudara Kelima pun kelaparan. Kesehatannya telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir ini. Ia takkan mampu bertahan lama tanpa makan.”

Xin Jian menunduk, “Tapi jika kita melakukannya, bukannkah itu berarti membiarkan Li Xun Huan memegang kendali?”

Mata Xin Hu berbinar, “Aku sudah punya rencana. Tidak jadi soal kalau dia yang memegang kendali satu dua hari ini.”

—–

Ah Fei berbaring di ranjang.

Sudah empat jam. Ia berbaring saja, tidak bergerak, seakan-akan tubuhnya menjadi batu.

Ia hanya menunggu.

Dengan tidak bergerak, ia dapat menghemat tenaganya. Ia memerlukan tenaga untuk mencari makanan, dan memerlukan makanan untuk bertahan hidup, untuk menghadapi alam.

Beberapa kali, bahkan kelinci liar pun menyangka bahwa ia hanyalah sebuah batu. Pernah suatu ketika, ia sangat lemah dan kelaparan, tidak ada tenaga sedikit pun. Jika kelinci liar itu tidak melompat dan hinggap di tangannya, mungkin ia sudah mati kelaparan waktu itu.

Kali lain, ia berpura-pura mati selama dua hari, sampai seekor anjing liar menghampirinya.

Kesabaran dan daya tahan semacam ini tidak dapat dimiliki secara alamiah. Hanya dapat diperoleh dengan latihan yang tak kenal lelah.

Mulanya, ia pun tidak bisa melakukannya dengan baik. Ia tidak tahan untuk tidak meringkuk dalam hawa dingin. Tapi kini, ia tidak merasa apa-apa lagi. Selama ia tidak perlu bergerak, ia tidak akan bergerak seinci pun.

Ketika Lin Xian Er kembali, ia menyangka Ah Fei telah tidur.

Hari ini pakaiannya sungguh aneh. Ia berpakaian kain abu-abu polos yang menutupi seluruh tubuhnya.

Ia telah pergi selama empat jam untuk mencari informasi.

Ah Fei tiba-tiba bangkit, mengagetkan Lin Xian Er. Tapi Lin Xian Er lalu tersenyum, “Jadi kau cuma pura-pura tidur saja. Mau menakut-nakuti aku ya?”

Ah Fei diam saja.

Lin Xian Er menyisir rambutnya yang hitam legam, lalu menggigit bibirnya, “Kau tidak menyukai aku?”

Ah Fei menggelengkan kepalanya.

Lin Xian Er menatapnya dengan matanya yang bening, lalu menghampirinya dan mencium pipinya, “Kau sangat baik.”

Ah Fei berdiri dan bertanya, “Ada berita apa?”

Lin Xian Er menggelengkan kepalanya, “Shaolin selalu berhati-hati. Mereka harus mengawasi lebih dulu sampai cukup lama, baru bertindak. Bagi mereka, lebih baik tidak berbuat apa-apa daripada berbuat yang salah.”

Kata Ah Fei, “Tapi ini sudah enam hari.”

Kata Lin Xian Er, “Mungkin mereka tidak percaya bahwa Si Bandit Bunga Plumlah yang membunuh Zhang Sheng Qi. Karena setiap kali Si Bandit Bunga Plum berbuat ulah, kejadiannya selalu berturut-turut, bukan hanya satu saja.”

Ah Fei berpikir lama, lalu katanya, “Cepat atau lambat mereka harus percaya. Aku akan membuat mereka percaya.”

Kata Lin Xian Er, “Mari kita pergi. Aku akan tunjukkan suatu tempat kepadamu.”

“Di mana?”

“Korbanmu yang kedua.”

—–

Malam pun tiba. Salju telah mencair. Mereka mengganti pakaian supaya tidak dapat dikenali.

Tiba-tiba Lin Xian Er menunjuk pada papan nama sebuah rumah gadai. Rumai gadai itu cukup besar, dengan papan nama yang besar pula, bertuliskan, ‘Rumah Gadai Shen Ji’

Tanya Ah Fei, “Apa istimewanya papan nama itu?”

Lin Xian Er tidak menjawab, malah kini ia menunjuk pada papan nama yang lain, papan nama sebuah rumah makan, “Coba lihat yang itu.”

Rumah makan itu sangat laris. Bangunan yang bertingkat itu penuh dengan pembeli. Papan namanya berbunyi ‘Rumah Makan Shen Ji’.

Sebenarnya, tiap lima atau enam usaha di jalan itu mempunyai papan nama dengan tulisan ‘Shen Ji’. Dan semuanya adalah usaha yang laris.

Kata Lin Xian Er, “Semua usaha ini adalah milik Saudara Ketiga Shen.”

Kata Ah Fei, “Ke mana kita pergi?”

Sahut Lin Xian Er, “Mari ikut aku.”

Ah Fei memang tidak suka banyak bertanya, sehingga ia pun mengikuti Lin Xian Er tanpa banyak bertanya.

Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba Lin Xian Er menunjuk ke langit, “Lihat, ada meteor.”

Ah Fei terdiam sesaat, lalu bertanya, “Apakah engkau memohon sesuatu?”

Jawab Lin Xian Er, “Meteor selalu lewat terlalu cepat. Tidak ada yang sempat memohon apapun juga, kecuali orang itu sudah tahu sebelumnya bahwa meteor itu akan muncul. Tapi siapa yang bisa menebak kapan meteor akan muncul? Aku rasa itu hanya dongeng saja.”

Kata Ah Fei, “Walaupun begitu, meteor membuat orang mempunyai harapan dan mimpi. Itu kan sangat bagus.”

Sahut Lin Xian Er, “Aku tidak pernah menyangka kau tahu segala omong kosong macam itu.”

Ah Fei hanya memandangi kejauhan, ke arah meteor itu menghilang. Di matanya terbayang kesedihan yang mendalam, lalu berkata, “Aku sudah tahu sejak kecil.”

Lin Xian Er menatap mata itu lekat-lekat, lalu berkata dengan halus, “Kau ingat akan ibumu, kan? Apakah beliau yang mengatakannya padamu?”

Ah Fei tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya.

Awalnya Ah Fei mengira ia melihat sebuah puri yang megah di depan sana. Namun setelah mendekat, puri itu sepertinya menghilang.

Lin Xian Er memandangi tembok besar yang mengelilingi tempat itu, “Tembok ini tinggi sekali. Mungkin tingginya 12 meter?”

“Kira-kira.”

Tanya Lin Xian Er, “Kau bisa melompatinya?”

Sahut Ah Fei, “Tidak ada seorang pun yang dapat melompat setinggi itu. Jika kau ingin masuk ke dalam, aku akan memikirkan cara lain.”

Kata Lin Xian Er, “Ini adalah rumah Saudara Ketiga Shen.”

Tanya Ah Fei, “Apakah dia itu korbanku yang kedua?”

Jawab Lin Xian Er, “Aku tahu kau tidak ingin menyakiti pedagang. Tapi ada bermacam-macam jenis pedagang.”

“Macam apakah dia?”

“Yang paling buruk, yang paling kotor.”

Lin Xian Er tersenyum sambil melanjutkan, “Coba bayangkan. Bagaimana caranya dia membuka begitu banyak usaha di kota ini? Dan mengapa ia membangun tembok setinggi ini di sekeliling rumahnya?”

Sahut Ah Fei, “Tidak ada salahnya membangun tembok yang tinggi. Dan tidak ada hukum yang melarangmu mempunyai begitu banyak usaha.”

Lin Xian Er berusaha menjelaskan, “Tembok yang begini tinggi berarti dia takut karena usahanya yang tidak bersih. Dalam generasi ini ada 16 bersaudara. Dan 16 bersaudara ini membuka lebih dari 40 usaha.”

Kata Eh Fei, “Jadi tiap orang punya sekitar tiga usaha. Itu kan biasa.”

Sahut Lin Xian Er, “Namun keempat puluh usaha itu dimiliki oleh Saudara Ketiga Shen.”

“Kenapa?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: