Kumpulan Cerita Silat

21/11/2008

Pisau Terbang Li (21)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 8:54 am

Sahabat yang Dapat Dibanggakan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Yi Ku berdiri di samping tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya.

Setelah beberapa saat, Lin Xian Er tersenyum padanya, “Kini kau tahu bahwa aku memang layak, bukan?”

Kata Yi Ku, “Seharusnya aku membunuhmu. Kalau tidak, aku tidak tahu berapa banyak orang yang akan mati di tanganmu.”

Kata Lin Xian Er, “Pada awalnya kau memang berniat membunuhku, bukan?”

“Hmmmh.”

Ia masih tersenyum manis, “Namun kini kau tidak tega membunuhku, bukan?”

Yi Ku hanya memandangnya, lalu bertanya, “Siapa anak yang datang bersamamu itu?”

Lin Xian Er tertawa, “Kenapa? Kau cemburu? Atau takut?”

Matanya berputar. Lanjutnya, “Ia adalah anak yang baik, tidak nakal seperti engkau. Ia sudah tidur di kamarnya sendiri. Jika ia mendengar suara dari kamar ini, kau tidak mungkin punya kesempatan untuk menggangguku.”

Yi Ku tertawa dingin, “Ia beruntung tidak mendengar apa-apa.”

Kata Lin Xian Er, “Benarkah? Benarkah kau akan membunuhnya?”

“Ya.”

Lin Xian Er tersenyum, “Tapi kau takkan bisa membunuhnya. Ilmu silatnya amat hebat, dan dia adalah sahabat Li Xun Huan. Aku pun sangat suka padanya.”

Wajah Yi Ku langsung berubah.

Kata Lin Xian Er lagi, “Kamarnya ada di ujung lorong ini. Apakah kau punya nyali untuk menemuinya?”

Sebelum kalimatnya selesai, Yi Ku telah pergi.

Ia tertawa senang, lalu ditariknya kembali selimutnya menutupi tubuhnya. Ia merasa seperti seorang gadis kecil yang makan permen diam-diam, dan tidak ketahuan oleh ayah ibunya.

Ketika ia membayangkan Tangan Setan Hijau Yi Ku mengoyakkan kepala Ah Fei dari badannya, matanya berbinar-binar. Lalu ia membayangkan pedang Ah Fei menembus tenggorokan Yi Ku, dan ia pun jadi bersemangat.

Sambil memikirkan hal itu, ia pun jatuh tertidur. Dalam tidur pun ia tersenyum, karena siapapun yang mati, ia tetap bergembira.

Ia sangat puas atas apa terjadi malam ini.

Tempat tidurnya sangat empuk. Seprainya pun bersih. Namun Ah Fei tidak bisa tidur. Sebelumnya ia tidak pernah kesulitan tidur.

Baru saja diselipkannya pedang di pinggangnya, daun jendela terbuka.

Ia melihat sepasang mata yang lebih menyeramkan daripada hantu.

Kata Yi Ku, “Apakah kau datang bersama Lin Xian Er?”

Sahut Ah Fei, “Ya.”

“Bagus. Keluarlah.”

Ah Fei tidak menjawab. Ia tidak suka berbicara, tidak suka memulai suatu percakapan.

Kata Yi Ku, “Aku akan membunuhmu.”

Tapi Ah Fei malah menjawab, “Aku tidak ingin membunuh siapapun hari ini. Pergilah.”

Kata Yi Ku lagi, “Aku juga tidak ingin membunuh siapapun hari ini. Cuma kau saja.”

“O ya?”

“Seharusnya kau tidak datang bersama dengan Lin Xian Er hari ini.”

Mata Ah Fei berkilat tajam seperti pisau, “Jika kau menyebut namanya lagi, aku akan membunuhmu.”

Yi Ku terkekeh, “Kenapa?”

“Karena kau tidak pantas.”

Yi Ku tidak bisa menahan tawanya, “Bukan saja aku akan menyebut namanya, aku akan tidur dengan dia. Apa yang akan kau perbuat?”

Wajah Ah Fei terasa seperti terbakar.

Ia biasanya adalah seorang yang sabar dan tidak mudah terpancing. Ia belum pernah merasa marah seperti saat ini.

Tangannya sampai bergetar.

Dalam kemarahannya, pedangnya terhunus.

Namun Tangan Setan Hijau pun berkelebat!

Terdengar bunyi nyaring. Pedang itu patah.

Yi Ku tertawa, “Kau berani menghadapiku dengan kungfu kacangan seperti ini? Kata Lin Xian Er ilmu silatmu cukup tinggi.”

Sambil mengatakannya, Yi Ku telah maju sepuluh jurus.

Ah Fei hampir tak dapat menahan serangannya. Ia hanya punya sebilah pedang patah, dan harus bergantung penuh pada kecepatannya menghindari serangan Yi Ku.

Tawa Yi Ku makin keras, “Jika kau bisa menjawab dua pertanyaan dengan jujur, akan kuampuni nyawamu.”

Ah Fei mengertakkan giginya. Keringatnya mengucur deras.

Tanya Yi Ku, “Apakah Lin Xian Er sering tidur dengan laki-laki? Apakah kau pernah tidur dengannya?”

Ah Fei hanya dapat berguling di tanah untuk menghindari serangan Yi Ku. Ia merasa sangat lelah.

Yi Ku mendesak, “Ayolah. Beri tahu aku dan aku akan mengampunimu.”

Sahut Ah Fei, “Aku…aku akan jawab.”

Lalu Yi Ku tertawa lagi dan serangannya mengendur. Tiba-tiba pedang berkelebat.

Yi Ku tidak pernah melihat pedang yang bergerak secepat itu. Waktu ia menyadarinya, pedang itu sudah tertancap di tenggorokannya. Wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya.

Sampai mati pun ia tidak tahu dari mana datangnya pedang itu.

Dalam mati pun ia tidak dapat mempercayai pemuda itu memiliki pedang yang luar biasa cepatnya.

Wajah Ah Fei sedingin es. Ia berkata, sekata demi sekata, “Siapa yang menghina dia, akan mati.”

Tenggorokan Yi Ku masih mengeluarkan suara-suara aneh. Ia mengangkat alisnya, karena ia ingin tertawa. Ia ingin memberi tahu Ah Fei, “Cepat atau lambat, kau pun akan mati di tangannya.”

Sayangnya, tak sepatah kata pun bisa keluar.

Waktu Lin Xian Er terjaga, ia melihat sesosok bayangan di luar jendela. Bayangan itu mondar-mandir saja di luar. Ia tahu orang itu pasti Ah Fei. Ia pasti ingin masuk, namun tidak ingin membangunkannya.

Jika itu adalah Yi Ku, ia tidak mungkin masih ada di luar.

Ia terus berbaring dengan santai di atas tempat tidurnya sampai agak lama. Lalu ia berkata, “Apakah engkau yang di luar, Fei Kecil?”

Bayangan Ah Fei berhenti, “Ya, ini aku.”

Kata Lin Xian Er, “Mengapa kau tidak masuk?”

Ah Fei mendorong pintu itu perlahan, dan pintu segera terbuka. Ia bertanya, “Kau tidak mengunci pintu?”

Ah Fei tergesa-gesa menghampirinya, dan menatap wajahnya lama. Wajahnya terlihat sedikit pucat, bersemu hijau. Wajah Ah Fei berubah, “Ada…Ada sesuatu yang terjadi padamu?”

Sahut Lin Xian Er, “Wajahku pasti terlihat pucat, karena semalam aku tidak bisa tidur. Aku berbalik ke sana dan ke sini saja, tidak bisa tidur.”

Hati Ah Fei mencair.

Lin Xian Er bertanya, “Bagaimana dengan engkau? Tidurmu nyenyak?”

Jawab Ah Fei, “Tidak. Ada anjing gila yang semalaman menggonggong di luar.”

Lin Xian Er mengerjapkan matanya, “Anjing gila?”

Sahut Ah Fei, “Ya. Tapi aku sudah membunuhnya, dan kulemparkan dia ke danau.”

Tiba-tiba terdengar suara tambur di luar. Ah Fei membuka jendela dan terlihat seorang pegawai penginapan sedang memukul tambur, “Para tamu yang terhormat, apakah Anda ingin mendengar berita yang paling hangat saat ini? Berita yang menggegerkan dunia persilatan? Aku jamin berita ini hangat dan menarik. Lagi pula, Anda bisa makan dan minum sambil mendengarkannya.”

Ah Fei menutup jendela sambil menggelengkan kepala.

Tanya Lin Xian Er, “Kau tidak ingin mendengarkan?”

“Tidak.”

Kata Lin Xian Er, “Tapi aku mau. Lagi pula, kita kan harus makan.”

Ah Fei tersenyum, “Sepertinya orang-orang ini tahu bagaimana caranya berdagang.”

Lin Xian Er menyingkapkan selimutnya hendak bangkit. Namun segeranya ditariknya selimutnya kembali menutupi tubuhnya. Wajahnya bersemu merah, “Apakah kau tak akan memberikan pakaianku?”

Wajah Ah Fei pun menjadi merah. Hatinya berdebar kencang.

—–

Rumah makan itu hampir penuh. Kisah-kisah dunia persilatan memang sungguh menarik, sehingga semua orang ingin mendengarnya.

Sewaktu mendengar kisah ini, orang-orang merasa bahwa mereka seperti bagian dari cerita itu.

Di kursi dekat jendela, duduk seorang tua berpakaian kain katun biru, menghisap pipanya dengan mata terpejam.

Di sebelahnya duduk seorang gadis muda. Rambutnya dikuncir dua, matanya besar dan tajam. Waktu mata itu berputar, seakan-akan bisa merenggut jiwa laki-laki.

Saat Ah Fei dan Lin Xian Er memasuki ruangan, mata mereka berbinar. Mata gadis berkuncir dua itu terus menatap mereka.

Lin Xian Er juga menatap gadis itu, lalu tersenyum. Bisiknya, “Kau lihatkah mata gadis itu? Aku harus berhati-hati supaya dia tidak membawamu lari.”

Mereka memesan makanan. Orang tua itu berdehem lalu berkata, “Hong Er, sudah tibakah waktunya?”

Si gadis berkuncir menjawab, “Ya, sudah waktunya.”

Orang tua itu membuka matanya. Walaupun ia terlihat sangat tua, ia masih penuh semangat, terlebih lagi matanya.

Orang tua itu meniup cawannya dan menghirup tehnya sedikit. Tiba-tiba ia berkata, “Si Bandit Bunga Plum hanya melakukan kejahatan, Pelajar Tan Hua berbudi luhur dan berbakat besar.”

Ia memandang para pemirsa, “Tahukah kalian siapa yang kubicarakan?”

Kata si gadis berkuncir, “Siapakah kedua orang itu? Aku tidak pernah mendengar tentang mereka.”

Si Tua Sun terkekeh, “Kau pasti tidak begitu terpelajar. Kedua orang ini sangat terkenal. Si Bandit Bunga Plum hanya muncul dua kali dalam tiga puluh tahun ini. Namun ribuan bandit digabung pun belum dapat menyaingi kejahatan yang telah diperbuatnya.”

Si gadis berkuncir tersenyum, “Bagaimana dengan Si Tan Hua itu?”

Si Tua Sun berkata, “Ia adalah putra seorang pejabat besar. Keluarga itu sungguh luar biasa. Dalam tiga generasi, tujuh orang anggota keluarga itu lulus ujian kekaisaran. Hanya saja, tidak seorang pun berhasil meraih gelar Zhuan Yan [Zhuan Yan adalah gelar untuk ranking pertama dalam ujian kekaisaran. Tan Hua adalah gelar untuk ranking ketiga]. Kedua kakak beradik generasi terakhir ini lebih berbakat lagi daripada para pendahulunya. Maka ayah mereka sangat berharap bahwa salah satu dari mereka bisa memperoleh gelar Zhuan Yan.”

Si gadis berkuncir tersenyum dan berkata, “Gelar Tan Hua saja sudah sangat bagus. Mengapa terlalu berharap mendapat gelar Zhuan Yan?”

Si Tua Sun terus melanjutkan kisahnya, “Siapa sangka, waktu Tuan Muda yang pertama mengikuti ujian, dia pun hanya berjasil memperoleh gelar Tan Hua. Seluruh keluarga merasa kecewa. Harapan mereka tertumpu pada Tuan Muda yang kecil. Namun sayangnya, nasib begitu kejam terhadap keluarga Li. Putra kedua inipun hanya mendapat gelar Tan Hua. Ayah mereka sangat sedih dan kecewa, akhirnya meninggal dua tahun kemudian. Putra pertamanya pun terkena penyakit parah dan akhirnya meninggal tak lama kemudian. Hati Li Tan Hua Kecil pun mati bersama mereka berdua. Ia mundur dari jabatannya dan mengasingkan diri.”

Sampai di sini, ia menghirup tehnya sedikit lagi.

Ah Fei pun hanyut dalam kisah itu. Ia merasa berbahagia waktu orang-orang memuji Li Xun Huan, lebih daripada waktu mereka memuji dirinya.

Lalu si orang tua melanjutkan lagi, “Orang ini bukan saja pelajar yang sangat berbakat, ia juga seorang ahli silat. Sejak kecil ia telah berlatih ilmu silat yang tinggi.”

Si gadis berkuncir pun bertanya, “Jadi ceritamu hari ini adalah mengenai kedua orang ini?”

Jawab si orang tua, “Betul.”

Kata si gadis berkuncir lagi, “Pasti cerita itu amat menarik. Tapi…tapi bagaimana mungkin seorang Tan Hua dapat berhubungan dengan kriminal seperti Si Bandit Bunga Plum itu?”

Sahut si orang tua, “Pasti ada alasannya.”

“Apa alasannya?”

Kata Si Tua Sun sekata demi sekata, “Karena Li Xun Huan adalah Si Bandit Bunga Plum. Si Bandit Bunga Plum adalah Li Xun Huan.”

Ah Fei menjadi sangat gusar, ingin sekali ia menyanggahnya. Namun ia keduluan oleh si gadis berkuncir, “Tuan Tan Hua ini pasti seorang yang sangat kaya. Mana mungkin ia mau menjadi bandit dan pemerkosa? Tidak masuk akal. Aku tidak percaya.”

Si Tua Sun menjawab, “Bukan hanya kau. Aku pun tidak percaya. Jadi kuselidiki persoalan ini.”

Si gadis berkuncir bertanya, “Pasti kau sudah menemukan sesuatu, bukan?”

Jawab Si Tua Sun, “Tentu saja. Kisah ini sungguh berbelit-belit, menarik, dan juga amat aneh…”

Sampai di sini, tiba-tiba ia berhenti bicara dan memejamkan matanya seperti hendak tidur.

Si gadis berkuncir berlaku seolah-olah ia tidak sabar dan mulai merecoki kakeknya, “Mengapa kau berhenti?”

Si Tua Sun meniup pipanya.

Si gadis berkuncir lalu berkata, “Kau memang pandai menarik perhatian pemirsa. Berhenti pada bagian yang lagi tegang-tegangnya.”

Wajah gadis itu pun berseri-seri, “Oh…aku mengerti. Kau ingin minum anggur.”

Bukan hanya gadis itu yang mengerti, semua pendengar pun mengerti. Mereka semua merogoh saku dan mengeluarkan uang. Pelayan pun berkeliling mengumpulkan uang sumbangan.

Kini si orang tua mulai bicara lagi, “Semuanya berawal dari Puri Awan Riang.”

Si gadis berkuncir segera memotong, “Puri Awan Riang? Itu kan tempat kediaman Tuan Keempat Long? Tempat itu sangat indah.”

Si Tua Sun berkata, “Sudah tentu. Namun tempat yang indah itu adalah pemberian Li Xun Huan baginya. Karena mereka adalah saudara angkat dan istrinya adalah sepupu Li Xun Huan.”

Kakek-cucu ini seakan-akan sedang berbincang-bincang berdua, namun dengan cara itu mereka berhasil menceritakan keseluruhan cerita. Ketika ia sampai di bagian Li Xun Huan tidak sengaja melukai Long Xiao Yun muda, lalu tertangkap, semua pendengar menghela nafas prihatin. Ketika ia sampai di bagian Lin Xian Er terperangkap dan bagaimana cepatnya pedang si pemuda Ah Fei, matanya seolah-olah melayang pada Lin Xian Er dan Ah Fei. Mata si gadis berkuncir pun sebentar-sebentar hinggap di meja mereka.

Walaupun ia tidak menunjukkannya, Ah Fei sungguh merasa bahwa kedua orang ini mengenali mereka berdua. Mungkinkah kakek-cucu ini menceritakan cerita ini khusus bagi mereka?

Kemudian si gadis berkuncir berkata, “Kalau begitu, Si Bandit Bunga Plum sudah mati di tangan Ah Fei, bukan?”

Kata Si Tua Sun, “Tuan Zhao dan Tuan Tian tidak percaya bahwa yang dibunuhnya adalah Si Bandit Bunga Plum. Mereka berkeras bahwa Li Xun Huanlah Si Bandit Bunga Plum.”

Si gadis berkuncir lalu bertanya, “Jadi siapa sebenarnya Si Bandit Bunga Plum?”

Jawab Si Tua Sun, “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajah asli Si Bandit Bunga Plum. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun Tuan Zhao dan Tuan Qiao adalah orang-orang terhormat. Kata-kata mereka dianggap sebagai kebenaran. Jikalau mereka telah menyatakan bahwa Li Xun Huan adalah Si Bandit Bunga Plum, siapakah yang berani membantah? Oleh sebab itu, Pendeta Xin Mei memutuskan untuk mengadili dia di Kuil Shaolin.”

Ia menyedot pipanya lalu melanjutkan, “Namun ketika mereka tiba di Kuil Shaolin, malah Li Xun Huanlah yang membawa Pendeta Xin Mei ke sana.”

Waktu ia mengatakan itu, bahkan Lin Xian Er pun terkejut. Ah Fei hampir jatuh pingsan. Mereka berdua mulai menduga-duga apa yang terjadi dalam perjalanan.

Untungnya, si gadis berkuncir membantu mereka bertanya pada si orang tua.

Jawab Si Tua Sun, “Ternyata dalam perjalanan mereka dijebak oleh Si Anak Lima Racun. Tuan Ketujuh Tian dan empat pendeta Shaolin pun terbunuh. Pendeta Xin Mei akhirnya memutuskan untuk membebaskan Li Xun Huan setelah ia kena racun. Li Xun Huan mengetahui bahwa hanya di Shaolinlah ada obat penawar untuk racun yang melukai Xin Mei, sehingga dibawanyalah pendeta itu kembali ke Shaolin.”

Si gadis berkuncir mengacungkan jempolnya, “Li Tan Hua ini memang seorang pahlawan. Jika orang lain yang berada di tempatnya, orang itu pasti sudah kabur.”

Sahut Si Tua Sun, “Kau memang benar. Sayangnya, para pendeta di Shaolin tidak berterima kasih padanya, mereka bahkan ingin membunuhnya.”

Mata si gadis berkuncir terbelalak kaget, “Kenapa?”

Jawab Si Tua Sun, “Karena kisah ini diceritakan oleh Li Tan Hua sendiri. Para pendeta Shaolin tidak mempercayainya sedikitpun.”

Si gadis berkuncir berkata terbata-bata, “Tapi…tapi kan Pendeta Xin Mei bisa membelanya?”

Si Tua Sun tertawa getir, “Sayangnya Pendeta Xin Mei meninggal sesaat setelah sampai di Shaolin. Selain Xin Mei, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat membuktikan kata-katanya!”

Terdengar desahan dari segala penjuru rumah makan itu.

Ah Fei sudah hampir meledak, dia tidak tahan lagi dan bertanya, “Apakah Tuan Li sudah mereka bunuh?”

Mata Si Tua Sun berbinar, “Walaupun Shaolin cukup terkenal dan memiliki banyak pesilat tangguh, tetap sulit bagi mereka untuk membunuh seorang Li Xun Huan.”

Si gadis berkuncir pun melirik Ah Fei , “Namun jika sampai terjadi pertempuran, bahkan orang yang terhebat sekalipun tidak akan mampu menandingi banyak musuh sekaligus. Pisau terbang Li Tan Hua memang tidak ada duanya di dunia persilatan, namun tetap saja ia tidak mungkin membunuh seluruh murid Shaolin.”

Si Tua Sun pun berkata, “Walaupun Shaolin mempunyai banyak murid dan tiap orang adalah ahli silat, siapa yang akan menyerang paling dulu? Siapakah yang berani menantang pisau Li Xun Huan yang pertama?”

Si gadis berkuncir pun menjadi gembira lagi dan bertepuk tangan, “Kakek benar. Pisau legendaris Si Li Kecil tidak pernah luput. Tidak seorang pun akan berani mendekatinya. Jadi pastilah saat ini dia sudah pergi jauh.”

Kata Si Tua Sun, “Tapi dia tidak pergi.”

“Mengapa?”

Sahut Si Tua Sun, “Walaupun tidak seorang pun di Shaolin berani menghadapinya, Li Xun Huan pun tidak punya jalan keluar. Lagi pula, dengan keadaan yang menggantung seperti ini, ia tidak mungkin pergi begitu saja.”

Si gadis berkuncir menjadi bingung, “Jika ia tidak bisa pergi, dan juga tidak bisa bertempur, apa yang bisa dilakukannya?”

Si Tua Sun menjawab, “Ia dikelilingi oleh ratusan pendeta Shaolin. Ia sadar bahwa sekali ia menyambitkan pisaunya, ia akan mati. Bagaimana pun, sebilah pisau tak akan mampu membunuh ratusan orang sekaligus.”

Si gadis berkuncir pun berkata, “Ini adalah kerugiannya. Seseorang tak mungkin bertahan untuk selama-lamanya.”

Ini sama dengan kekuatiran Ah Fei. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Kata Si Tua Sun lagi, “Mereka berbicara di depan ruangan tempat mereka menyemayamkan jenazah Pendeta Xin Mei. Setelah itu, Li Xun Huan berhasil menyelinap ke dalam ruangan itu.”

Si gadis berkuncir tercekat, “Jadi dia terkurung di situ?”

Sahut Si Tua Sun, “Pendeta-pendeta Shaolin pun beranggapan bahwa dia akan berusaha kabur. Kini mereka menyesal.”

“Kenapa? Bukankah mereka seharusnya senang bahwa ia sudah terperangkap?”

Jawab Si Tua Sun, “Dalam ruangan itu bukan hanya ada jenazah Pendeta Xin Mei. Di situ juga tersimpan naskah-naskah kuno yang sangat berharga untuk Shaolin.”

Si gadis berkuncir itu pun menyanggah, “Tapi kan mereka hanya perlu menunggu di luar beberapa hari. Setelah itu Li Xun Huan akan mati kelaparan dan kehausan di dalam.”

Kata Si Tua Sun, “Awalnya mereka pun berpendapat demikian. Tapi Li Xun Huan berhasil menawan Pendeta Xin Shu bersamanya di dalam kamar. Mereka tidak mungkin membiarkan Xin Shu mati bersama dengan Li Xun Huan.”

“Tentu saja tidak.”

“Jadi mereka harus mengantarkan makanan dan minuman setiap hari, supaya Xin Shu dan Li Xun Huan tidak mati.”

Si gadis berkuncir pun bertepuk tangan, “Sudah lama Shaolin dianggap tempat suci dunia persilatan. Selama beratus-ratus tahun tidak ada orang yang berani bertindak ugal-ugalan di sana. Namun seorang Li Xun Huan saja sudah bisa memporak-porandakan tempat itu. Pendeta-pendeta itu bukan hanya tidak bisa berbuat apa-apa, mereka bahkan harus menyediakan makanan baginya setiap hari. Sungguh menggelikan.”

Ia menjadi sangat ceria sekarang, “Li Tan Hua ini benar-benar karakter yang hebat ya, Kek. Ceritamu sungguh luar biasa.”

Saat ini, Ah Fei tenggelam dalam kegembiraan juga. Ia harus menahan dirinya kuat-kuat untuk tidak berteriak keras-keras bahwa Li Xun Huan adalah sahabatnya.

Namun Si Tua Sun kini menghela nafas, “Kau benar. Akan tetapi, cepat atau lambat Li Xun Huan akan terkubur di Shaolin.”

Si gadis berkuncir menjadi heran, “Mengapa?”

Si Tua Sun seperti melirik pada Ah Fei, “Selama tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa Li Xun Huan bukan Si Bandit Bunga Plum, dan bahwa Pendeta Xin Mei memang dibunuh oleh Si Anak Lima Racun, Shaolin tidak akan pernah melepaskannya!”

Si gadis berkuncir pun bertanya, “Siapakah yang dapat membuktikannya?”

Si Tua Sun terdiam. Akhirnya ia berkata, “Sayangnya, tidak ada seorangpun!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: