Kumpulan Cerita Silat

20/11/2008

Pisau Terbang Li (20)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 8:52 am

Hati Manusia Tidak Terselami

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Genta di kuil itu terus berkumandang. Tanda bahwa seorang pendeta telah wafat.

Dalam angin musim dingin yang menusuk, Li Xun Huan terus terbatuk-batuk. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa marah, menyesal, atau sedih.

Ketika ia berhenti batuk, dilihatnya para pendeta itu memasuki halaman kecil dekat situ. Wajah mereka sedingin es.

Mereka menatapnya dengan mulut terkunci. Suara genta pun telah lenyap. Suasana sungguh hening, kecuali suara langkah kaki di atas salju.

Ketika suara langkah itu akhirnya berhenti, Li Xun Huan merasa tubuhnya diselimuti oleh lapisan es yang tebal.

Kata Xin Hu, “Adakah yang ingin kau sampaikan?”

Li Xun Huan berpikir lama. “Tidak.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Seharusnya kau tidak datang ke sini.”

Li Xun Huan berpikir lagi, lalu tiba-tiba tertawa. “Mungkin memang seharusnya aku tidak datang. Namun jika aku dapat mengulangnya, aku akan tetap datang.”

Ia melanjutkan dengan tenang. “Walaupun aku telah membunuh banyak orang dalam hidupku, aku tidak pernah hanya berpangku tangan melihat orang yang akan mati.”

Xin Hu berteriak dengan marah, “Jadi kau masih tidak mengaku?”

Kata Li Xun Huan, “Pendeta seharusnya dapat mengendalikan perasaannya. Mengapa kau begitu cepat marah?”

Lanjutnya, “Kalau begitu, silakan terus berteriak. Hanya saja, jangan sampai sakit tenggorokan.”

Xin Hu membentak, “Bahkan sekarang, kau tidak menunjukkan rasa penyesalan sedikit pun. Sepertinya aku harus melanggar aturan untuk tidak membunuh hari ini.”

Sahut Li Xun Huan, “Silakan saja. Engkau bukan satu-satunya pendeta yang pernah membunuh.”

Kata Xin Jian, “Kami tidak membunuhmu untuk membalas dendam, tapi kami membunuh seorang setan yang keji.”

Lalu terlihat kilatan sebilah pisau. Ia tidak tahu bagaimana pisau itu berada di tangan Li Xun Huan. Pisau Terbang Li Kecil!

Li Xun Huan lalu berkata, “Kusarankan agar kalian tidak membunuh setan keji itu, karena kalian tidak akan bisa mengalahkan dia!”

Kata Xin Hu, “Maksudmu, sekarang ini pun kau tetap akan melawan mati-matian?”

Li Xun Huan mengeluh. “Walaupun hidupku tidak mudah, namun aku belum mau mati sekarang.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Walaupun pisaumu tak pernah luput, berapa banyak pisau yang kaumiliki? Berapa banyak orang yang bisa kau bunuh?”

Li Xun Huan tersenyum, ia tidak menjawab.

Xin Hu menatap tangan Li Xun Huan, lalu tiba-tiba berkata, “Baiklah. Hari ini akan kucoba pisaumu yang legendaris itu!”

Segera ia bersiap.

Namun Bai Xiao Sheng menghalanginya. “Pendeta, jangan!”

“Mengapa?”

Bai Xiao Sheng mendesah. “Karena tidak seorang pun di dunia ini yang dapat luput dari pisaunya!”

“Tidak seorangpun bisa luput?”

Kata Bai Xiao Sheng tegas, “Tidak seorang pun!”

Xin Hu menghirup nafas panjang. “Jika aku tidak pergi ke alam baka, siapakah yang akan pergi?”

Xin Jian pun maju mendekatinya. “Kakak, kau harus memikirkan kuil kita. Kau tidak boleh menempatkan dirimu sendiri dalam bahaya.”

Kata Li Xun Huan, “Betul sekali. Kalian tidak perlu mengambil resiko ini. Kalian memiliki begitu banyak murid. Satu kata saja, dan mereka pun akan rela mati bagi kalian.”

Wajah Xin Hu berubah, lalu berteriak lantang, “Tanpa perintahku, tidak ada yang bergerak. Yang melanggar akan dihukum. Kalian mengerti?”

Semua pendeta di situ menundukkan kepala mereka.

Li Xun Huan tersenyum. “Shaolin memang berbeda dari perguruan lain yang memandang rendah akan hidup manusia. Kalau tidak, bagaimana mungkin tipu muslihat kecilku ini dapat berhasil?”

Bai Xiao Sheng berkata dengan dingin, “Pendeta Shaolin mungkin tidak ingin menukar nyawa murid-muridnya dengan nyawamu. Tapi apa kau pikir kau bisa lolos dari sini?”

Kata Li Xun Huan, “Siapa bilang aku hendak pergi?”

Bai Xiao Sheng tergagap, “Kau….kau mau tinggal?”

Sahut Li Xun Huan, “Kebenaran belum terungkap. Bagaimana mungkin aku pergi?”

Kata Bai Xiao Sheng, “Apa kau bermaksud mengundang Si Anak Lima Racun datang ke Shaolin dan mengakui perbuatannya?”

Jawab Li Xun Huan, “Tidak, karena dia sudah mati.”

Tanya Bai Xiao Sheng, “Kau yang membunuhnya?”

Li Xun Huan menjawab kalem, “Dia kan juga manusia. Oleh karena itu, ia pun tak bisa luput dari pisauku!”

Xin Hu menyela, “Jika kau bisa menunjukkan mayatnya pada kami, paling tidak kami tahu kau tidak berbohong.”

Sahut Li Xun Huan, “Sayangnya, walaupun kita bisa menemukan mayatnya, tidak ada seorangpun yang akan dapat mengenalinya.”

Bai Xiao Sheng pun tertawa dingin. “Jadi kau tidak dapat mengajukan siapapun yang dapat membuktikan bahwa kau tidak bersalah?”

Jawab Li Xun Huan, “Sekarang? Tidak bisa.”

“Lalu apa yang hendak kau lakukan?”

Jawab Li Xun Huan, “Saat ini aku ingin minum anggur.”

***

Ah Fei terlihat tidak nyaman duduk di atas kursi. Ia tidak pernah dapat duduk dengan santai seperti Li Xun Huan dia atas kursi. Sepertinya ia belum pernah duduk di atas kursi seumur hidupnya.

Lin Xian Er tidur di sebelah perapian untuk menghangatkan badannya.

Beberapa hari ini, ia tidak dapat beristirahat dengan tenang. Hanya setelah ia pasti bahwa Ah Fei telah sembuh betul, barulah ia dapat tidur nyenyak.

Ah Fei memandangnya tanpa suara. Menatapnya seperti seorang tolol.

Hanya terdengar suara nafasnya yang halus di kamar itu. Salju di luar telah mencair. Langit dan bumi penuh damai sejahtera.

Tiba-tiba di mata Ah Fei terbayang kepedihan.

Ia bangkit berdiri dan mulai mengenakan sepatunya.

Ia menarik nafas panjang dan mengambil pedangnya.

Diselipkannya pedangnya di pinggang.

Tiba-tiba Lin Xian Er berbalik dan berkata, “Apa yang kau….kau perbuat?”

Ah Fei tidak berani menoleh untuk memandangnya. Ia mengatupkan giginya lalu berkata, “Aku hendak pergi.”

Lin Xian Er terperangah, “Pergi?”

Ia segera bangun berdiri. “Kau bahkan tidak mau berpamitan? Kau hendak pergi diam-diam?”

Kata Ah Fei, “Karena aku tidak akan kembali, buat apa berpamitan.”

Tubuh Lin Xian Er serasa meleleh dan ia pun jatuh terduduk ke atas kursi. Air matanya bercucuran.

Hati Ah Fei terasa pedih. Ia tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini sebelumnya. Ini tidak menyerupai apapun yang pernah dihadapinya dalam hidupnya.

Apakah ini cinta?

Kata Ah Fei, “Kau telah menolongku. Aku akan membalas budimu, cepat atau lambat.”

Lin Xian Er tiba-tiba tersenyum getir. “Baiklah. Balas budiku sekarang juga. Aku hanya menolongmu supaya kau dapat membalas budiku.”

Ia tertawa, namun air matanya keluar lebih banyak lagi.

Kata Ah Fei, “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Namun aku harus menemukan Li Xun Huan.”

Sahut Lin Xian Er, “Mengapa kau pikir aku tidak mau mencarinya juga? Mengapa kau tidak mengajak aku pergi bersama?”

Jawab Ah Fei, “Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam persoalan ini.”

Sambil menangis Lin Xian Er berkata, “Tapi apakah kau pikir aku akan berbahagia jika engkau pergi?”

Ah Fei ingin mengatakan sesuatu, namun hanya bibirnya yang bergerak-gerak.

Lin Xian Er memeluk pinggangnya erat-erat, seperti berpegangan pada hidupnya. Ia berteriak keras, “Bawalah aku. Bawalah aku bersamamu. Jika kau tidak membawa aku, aku akan mati di hadapanmu.”

Malam sunyi senyap.

Ah Fei berjalan keluar pintu. Selama ini ia tinggal di bilik Lin Xian Er. Sungguh lucu. Mereka mencari Ah Fei ke segala penjuru beberapa hari terakhir ini. Tapi tidak seorangpun berpikir untuk mencarinya di bilik Lin Xian Er.

Mengapa mereka begitu percaya pada Lin Xian Er?

Lin Xian Er menggenggam tangan Ah Fei. “Aku harus memberi tahu kakakku bahwa aku akan pergi.”

Sahut Ah Fei, “Baiklah.”

Lin Xian Er tersenyum. “Namun aku tidak ingin meninggalkan engkau sendirian di sini. Mari kita pergi bersama.”

Kata Ah Fei, “Tapi kakakmu….”

Kata Lin Xian Er, “Jangan kuatir. Kakakku adalah sahabat Li Xun Huan.”

Di rumah itu hanya ada satu lilin yang menyala di kamar atas.

Lin Shi Yin duduk termenung, menatap kosong ke kejauhan.

Lin Xian Er menarik tangan Ah Fei, menaiki tangga tanpa suara. Lalu ia berbisik, “Kakak, apakah engkau masih terjaga?”

Lin Shi Yin tetap duduk diam, menolehpun tidak.

Kata Lin Xian Er lagi, “Kakak, aku datang untuk berpamitan. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu padaku. Aku pasti akan datang mengunjungimu lagi nanti.”

Lin Shi Yin seakan-akan tidak mendengar apa-apa. Setelah cukup lama, ia perlahan-lahan mengangguk. “Pergilah. Memang lebih baik kau pergi. Tidak ada apa-apa lagi bagimu di sini.”

Lin Xian Er bertanya, “Di mana kakak ipar?”

Sahut Lin Shi Yin, “Kakak ipar? Kakak ipar siapa?”

Kata Lin Xian Er, “Tentunya kakak iparku.”

Kata Lin Shi Yin, “Aku tidak tahu apa-apa lagi tentang kakak iparmu. Aku tidak tahu….tidak tahu.”

Lin Xian Er tidak tahu harus bicara apa. Setelah pulih dari rasa terkejutnya, ia berkata, “Kami akan pergi melalui jalan pintas ke kuil Shaolin.”

Lin Shi Yin melompat dari kursinya dan berseru, “Pergi sekarang juga. Cepatlah….jangan katakan apa-apa lagi. Pergi!”

Ia mendorong Lin Xian Er dan Ah Fei ke arah tangga. Lalu berjalan lunglai kembali ke cahaya lilin itu. Air mata membasahi pipinya.

Dari dalam muncul seseorang. Long Xiao Yun.

Ia menatap Lin Shi Yin. Seulas senyum jahat terbentuk di bibirnya. Katanya dingin, “Percuma saja mereka pergi ke Shaolin. Tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menyelamatkan Li Xun Huan.”

***

Walaupun Ah Fei makan banyak, ia tidak makan cepat-cepat.

Ia juga tidak makan seperti Li Xun Huan, yang suka menikmati kelezatan makanannya. Ah Fei hanya peduli terhadap gizi dan jumlah makanannya.

Setiap kali selesai makan, ia tidak tahu kapan ia bisa makan lagi. Jadi ia tidak pernah menyia-nyiakan makanan sedikitpun.

Lin Xian Er menatapnya penuh perhatian.

Ia tidak pernah bertemu dengan orang yang begitu menghargai makanannya. Hanya orang yang pernah merasa kelaparan yang tahu betapa berharganya makanan.

Lin Xian Er tersenyum, “Sudah kenyang?”

Kata Ah Fei, “Kenyang sekali.”

Lin Xian Er tertawa lalu berkata, “Sangat menarik melihat engkau makan. Sekali kau makan, lebih banyak daripada seluruh makananku dalam tiga hari.”

Ah Fei tertawa. “Tapi aku juga bisa hidup tiga hari tanpa makan. Kau bisa?”

Lin Xian Er hanya memandang senyumannya, tak tahu harus menjawab apa.

Setelah beberapa saat, ia tiba-tiba berkata, “Kau lupa sesuatu.”

“Apa?”

“Rompi Benang Emasmu ada padaku.”

Ia membuka tasnya dan mengeluarkan rompi itu.

Kata Lin Xian Er, “Untuk merawat luka-lukamu, aku harus mencopotnya. Aku lupa terus mengembalikannya padamu.”

Ah Fei tidak melirik sedikitpun pada rompi itu. “Simpan saja.”

Wajah Lin Xian Er tampak sangat senang, tapi kemudian digelengkannya kepalanya. “Ini adalah milikmu. Kapan-kapan kau akan memerlukannya. Mengapa semudah itu kau berikan pada orang lain?”

Ah Fei memandangnya. Suaranya berubah hangat. “Tapi aku tidak memberikannya pada orang lain. Aku takkan pernah memberikannya kepada orang lain. Aku memberikannya kepadamu.”

Lin Xian Er menatapnya bengong. Matanya penuh rasa terima kasih dan suka cita. Lalu ia menjatuhkan diri dalam pelukan Ah Fei.

Hati Ah Fei berdegup kencang tak terkendali.

Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

Lin Xian Er diam-diam tersenyum.

Karena ia tahu, sekarang ia telah memiliki hati pemuda yang kuat dan gagah ini, yang akan selamanya mengikuti semua keinginannya.

Ah Fei mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ke arah tempat tidur. Lalu dengan lembut dibentangkannya selimut tipis menutupi tubuhnya. Dalam hati Ah Fei, wanita ini adalah wanita yang sempurna.

Lin Xian Er berbaring tenang di atas tempat tidur, masih tersenyum diam-diam.

Tiba-tiba jendela terbuka dan angin dingin pun masuk ke dalam. Lin Xian Er terkesiap, “Siapa?”

Ketika ia bertanya, ia melihat wajah orang itu. Wajah itu hijau berkilauan, tampak seperti hantu dalam kegelapan.

Lin Xian Er segera berbaring lagi. Ia tidak terkejut atau pingsan, hanya memandangnya tanpa suara, juga tanpa rasa takut.

Orang ini pun menatapnya. Matanya berkobar-kobar.

Lin Xian Er tertawa. “Kalau sudah datang, mengapa tidak masuk saja?”

Tubuh orang ini sangat jangkung. Muka dan lehernya juga panjang. Namun sekeliling lehernya diperban, membuat dia terlihat kaku.

Kata Lin Xian Er, “Apakah kau dilukai Li Xun Huan?”

Wajah orang ini berubah, “Bagaimana kau bisa tahu?”

Lin Xian Er mengeluh. “Tadinya kupikir kau akan dapat membunuh dia. Siapa sangka malah dia yang berhasil melukaimu.”

Wajah orang itu bertambah hijau. “Bagaimana kau bisa tahu aku berusaha membunuhnya?”

Sahut Lin Xian Er, “Karena ia telah membunuh Qiu Du. Dan Qiu Du adalah anak harammu.”

Yi Ku menatapnya dalam-dalam. “Aku juga mengenalimu.”

Lin Xian Er menjawab dengan tenang, “O ya? Aku sungguh merasa bangga.”

Kata Yi Ku, “Waktu Qiu Du mati, Tangan Setan Hijaunya pun menghilang.”

Sahut Lin Xian Er, “Betul, memang hilang.”

Tanya Yi Ku, “Ia memberikannya padamu?”

Sahut Lin Xian Er, “Kelihatannya begitu.”

Yi Ku sungguh amat marah. “Jika ia tidak memberikan Tangan Setan Hijaunya padamu, ia tidak mungkin mati di tangan Li Xun Huan!”

Kata Lin Xian Er, “Kau tidak memberikan Tangan Setan Hijaumu padaku, namun tetap saja Li Xun Huan dapat melukaimu.”

Yi Ku mengertakkan giginya, dan tiba-tiba menjambak rambutnya kasar.

Lin Xian Er sama sekali tidak merasa takut. Ia bahkan tersenyum lebih menawan. Ia berkata setengah berbisik, “Ia bangga bisa mati untukku. Ia pikir itu sangat layak.”

Cahaya lilin menyapu wajahnya yang putih mulus. Yi Ku tersenyum kaku. “Aku ingin tahu apakah kau memang layak.”

Tiba-tiba direnggutnya selimut yang menutupi tubuhnya.

Lin Xian Er terus tersenyum. “Mengapa tidak kau buktikan sendiri apakah aku layak atau tidak?”

Yi Ku menampar mukanya, lalu memeluknya erat-erat.

Lalu Yi Ku meninju perutnya dan berseru, “Jadi kau suka dipukuli!”

Lin Xian Er tidak menampakkan sedikitpun rupa kesakitan.

Tanya Yi Ku, “Kau tidak takut padaku?”

Sahut Lin Xian Er, “Mengapa aku harus takut padamu? Walaupun wajahmu jelek luar biasa, kau tetap seorang laki-laki.”

Advertisements

2 Comments »

  1. Saya tidak bisa menemukan bagian 19. Trims

    Comment by liemjerry — 20/05/2009 @ 3:51 am

  2. Kepada Liemjerry: “Sudah saya post, Mas. Terima kasih atas koreksinya.”

    Comment by ceritasilat — 22/05/2009 @ 3:29 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: