Kumpulan Cerita Silat

19/11/2008

Pisau Terbang Li (19)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 3:35 am

Aneh tapi Nyata

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Xin Mei yakin bubur itu tidak beracun, namun bagaimana pun juga, ia adalah seorang pendeta. Jadi sewaktu Tian Qi sudah menghabiskan mangkuknya, ia masih pada suapan kedua.

Tian Qi tersenyum, “Dengan kecepatan seperti ini, kita akan tiba di Gunung Song besok pagi.”

Xin Mei juga terlihat lega. Katanya, “Akan ada murid-murid yang menyambut kita satu dua hari ini. Selama…”

Tiba-tiba ia berhenti bicara. Tubuhnya gemetar hebat, dan mangkuknya terjatuh dari tangannya. Buburnya tumpah membasahi bajunya.

Wajah Tian Qi memucat, “Pendeta… Kau…”

“Ada racun dalam bubur ini?”

Xin Mei menghela nafas. Tidak sanggup bicara.

Tian Qi mencekal baju Li Xun Huan, “Lihat wajahku. Apakah wajahku…”

Lalu ia terdiam, karena ia tahu tidak ada gunanya bertanya.

Li Xun Huan mendesah, “Walaupun aku selalu menganggapmu memuakkan, aku tetap tidak ingin melihatmu mati.”

Wajah Tian Qi putih seperti kertas. Tubuhnya gemetar, dan ia menatap Li Xun Huan. Lalu ia tertawa terbahak-bahak, “Walaupun kau tidak ingin melihatku mati, aku ingin melihatmu mati! Seharusnya aku sudah membunuhmu sejak lama!”

Kata Li Xun Huan, “Kau pikir sekarang sudah terlambat untuk membunuhku?”

Tian Qi mengertakkan giginya, “Benar. Terlambat untuk membunuhmu sekarang. Untungnya, belum terlalu terlambat.”

Tiba-tiba tangannya mencengkeram leher Li Xun Huan.

***

Ah Fei bangkit berdiri.

Wajahnya masih pucat, namun tubuhnya berdiri tegap.

Ah Fei berjalan mengelilingi kamar itu dua kali, lalu bertanya, “Apakah kau pikir ia akan sampai di Shaolin dengan selamat?”

Kata Lin Xian Er, “Kau tidak bisa bercakap-cakap lebih dari tiga kalimat tanpa menyinggung tentang Li Xun Huan, ya? Dapatkah kita tidak membicarakan dia? Mengapa kau tidak berbicara tentang aku? Atau tentang dirimu?”

Ah Fei memandangnya dengan tenang dan bertanya, “Apakah dia bisa sampai dengan selamat di Shaolin?”

Apapun yang dikatakan Lin Xian Er, ia hanya punya satu pertanyaan ini.

Lin Xian Er tertawa, “Ah, kau. Aku benar-benar tidak bisa mengubahmu.” Ia menarik tangan Ah Fei untuk duduk di sampingnya, lalu katanya dengan manis, “Jangan kuatir. Mungkin saat ini ia sedang minum teh dengan Pendeta Xin Hu. Kau tahu, teh dari Shaolin sangatlah terkenal.”

Akhirnya Ah Fei merasa tenang, bahkan tersenyum santai, “Dari yang aku tahu, walaupun ia sudah ditawan, ia tidak akan pernah minum teh.”

***

Li Xun Huan tidak dapat bernafas.

Wajah Tian Qi juga tampak semakin aneh. Ia pun kini sulit bernafas. Namun sepertinya ia tidak bisa melepaskan cengkeramannya, sekalipun dalam kematian.

Li Xun Huan hanya merasa bahwa sekelilingnya menjadi gelap. Wajah Tian Qi terlihat makin samar. Ia tahu, sebentar lagi ia akan mati.

Dalam keadaan ini, ia pikir ia akan teringat akan banyak hal dalam hidupnya. Seseorang pernah memberitahu hal ini padanya.

Namun kenyataannya, saat ini ia tidak teringat apapun juga. Tidak ada kenangan pahit. Hanya ada sesuatu yang lucu. Ia jadi ingin tertawa.

Ia tidak pernah menyangka ia akan mati bersama-sama dengan Tian Qi. Sepertinya Tian Qilah yang akan menemaninya berjalan ke alam baka.

Tiba-tiba ia mendengar suara Tian Qi, “Li Xun Huan, nafasmu panjang sekali. Mengapa kau tidak mati-mati?”

Sebenarnya Li Xun Huan ingin menjawab, “Aku menunggumu mati lebih dulu.”

Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Bernafas pun ia tidak bisa.

Lalu terdengar suara keras. Sepertinya dari jauh, namun sepertinya juga berasal dari Tian Qi.

Kini sekelilingnya menjadi terang kembali.

Ia melihat Tian Qi.

Tian Qi telah tergeletak jatuh dari kursi kereta. Matanya yang mati masih menatap Li Xun Huan.

Terlihat Xin Mei bernafas tidak teratur, sepertinya ia baru saja menggunakan tenaga yang cukup besar.

Li Xun Huan memandangnya beberapa saat, lalu bertanya, “Mengapa kau menyelamatkan aku?”

Xin Mei tidak menjawab. Ia malah terus membuka jalan darah Li Xun Huan, “Sebelum Si Anak Lima Racun datang, kau pergilah cepat.”

Li Xun Huan tidak bergerak sama sekali, “Mengapa kau menyelamatkan aku? Apakah sekarang kau sudah yakin bahwa aku bukan Si Bandit Bunga Plum?”

Sahut Xin Mei, “Pendeta selalu tidak ingin tangannya berlumuran darah sebelum mati. Siapapun engkau, cepatlah pergi.”

Li Xun Huan memandangi wajah Xin Mei yang menghitam, lalu mendesah, “Terima kasih. Sayangnya, walaupun aku bisa melakukan begitu banyak hal, melarikan diri bukanlah salah satunya.”

Xin Mei berkata tergesa-gesa, “Ini bukan waktunya menjadi pahlawan. Tenaga dalammu belum pulih. Kau tidak akan dapat mengalahkan dia.”

Tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik keras. Kusir kereta menjerit dan kereta mereka menabrak sebatang pohon.

Xin Mei tergeletak di samping kereta dan bertanya, “Mengapa kau belum pergi juga? Apakah kau ingin menyelamatkanku?”

Li Xun Huan berkata dengan tenang, “Jika kau bisa meyelamatkan aku, mengapa aku tidak bisa menyelamatkan engkau?”

Kata Xin Mei, “Namun kematianku tidak jauh lagi. Mengapa harus dipermasalahkan kapan aku mati?”

Kata Li Xun Huan, “Tapi kau belum mati, bukan?”

Ia berhenti bicara dan mengeluarkan sebilah pisau.

Sebilah pisau yang kecil, tipis.

Pisau Terbang Li Kecil!

Senyum terbayang di bibir Li Xun Huan.

Kereta itu sudah terguling ke samping. Rodanya masih berputar, berderak-derak nyaring. Di tempat yang sunyi seperti itu, suara itu sungguh menyakitkan telinga.

Kata Li Xun Huan, “Roda ini perlu diminyaki.”

Dalam keadaan seperti ini ia masih berpikir bahwa roda itu perlu diminyaki! Xin Mei merasa orang ini sungguh aneh luar biasa.

Ia sudah hidup selama 60 tahun, tapi baru kali ini bertemu dengan orang seperti ini.

Li Xun Huan mendukung dia keluar dari kereta. Angin dingin menerpa muka mereka.

Kata Xin Mei, “Kau tak perlu melakukan ini. Sudah…pergi saja.”

Malam ini tidak ada bulan. Xin Mei berusaha keras, namun tetap tidak bisa melihat apa-apa.

Terdengar Li Xun Huan berseru, “Apakah engkau Si Anak Lima Racun?”

Tidak ada jawaban.

Kata Li Xun Huan, “Jika kau tidak ada di sini, maka kami akan pergi.”

Xin Mei bertanya, “Ke mana kita akan pergi?”

“Kuil Shaolin, tentunya.”

Xin Mei sungguh terkejut, “Shaolin?”

Kata Li Xun Huan, “Kita sudah begitu bersusah-payah untuk pergi ke Shaolin, bukan?”

Kata Xin Mei, “Ta…tapi sekarang kau tak perlu lagi pergi ke sana.”

Sahut Li Xun Huan, “Sebenarnya, aku harus pergi ke sana.”

“Mengapa?”

“Karena di Shaolin ada obat penawar untuk racun ini.”

Xin Mei sungguh tidak habis pikir, “Kenapa kau menyelamatkan aku? Aku ini musuhmu.”

Kata Li Xun Huan, “Aku menyelamatkanmu karena engkau adalah seorang manusia.”

Xin Mei mengeluh, “Jika kita benar-benar bisa sampai di Shaolin, akan kuberitahukan pada semua orang bahwa kau sungguh tidak bersalah. Aku yakin sekarang, kau tidak mungkin adalah Si Bandit Bunga Plum.”

Li Xun Huan hanya tersenyum. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Kata Xin Mei, “Sayangnya, jika kau terus menggendongku, kau tidak akan pernah sampai di Shaolin. Walaupun Si Anak Lima Racun tidak mau memperlihatkan dirinya, ia tidak akan membiarkan engkau lolos.”

Li Xun Huan terbatuk sedikit.

Kata Xin Mei lagi, “Dengan ilmu meringankan tubuhmu, kau mungkin bisa lolos. Mengapa kau harus membawa aku? Aku sudah sangat berterima kasih karena engkau berpikir untuk menyelamatkanku.”

Tiba-tiba terdengar suara tawa, “Wah. Seorang pendeta Shaolin berteman akrab dengan Tan Hua, pemabuk yang gemar wanita. Siapa yang bisa percaya?”

Suara tawa kadang terdengar dekat, kadang terdengar sangat jauh. Tidak dapat di duga dari mana datangnya.

Xin Mei bertanya, “Si Anak Lima Racun?”

Suara itu menjawab, “Bagaimana rasanya bubur itu? Sedap, bukan?”

Kata Li Xun Huan, “Jika kau ingin membunuhku, mengapa tidak keluar saja dan melakukannya?”

Si Anak Lima Racun menjawab, “Aku tidak perlu keluar untuk membunuhmu.”

“O ya?”

“Sampai hari ini, aku sudah membunuh 392 orang. Tidak seorangpun dari mereka yang pernah melihat aku. Bahkan bayanganku pun tidak mereka lihat.”

Li Xun Huan tersenyum, “Kata orang kau adalah seorang cebol dan rupamu sangat buruk. Oleh sebab itu kau tidak ingin dilihat orang. Kelihatannya memang betul.”

Setelah hening beberapa saat, Si Anak Lima Racun menjawab, “Aku akan membiarkanmu hidup sampai besok pagi.”

Li Xun Huan tertawa, “Tentu saja aku akan hidup sampai besok pagi. Tapi aku kuatir, tidak demikian dengan engkau.”

Sebelum ia selesai tertawa, terdengar bunyi seruling.

Tiba-tiba tampak bayangan benda-benda besar dan kecil di atas salju. Ia tidak tahu benda apakah itu. Apapun benda itu, ia harus menahan nafasnya.

Kata Xin Mei, “Ketika Si Anak Lima Racun muncul, tubuh orang-orang mulai membusuk. Jika kau tidak pergi sekarang, kapan lagi?”

Li Xun Huan seolah-olah tidak mendengarnya. Lalu katanya, “Katanya dia punya ribuan hewan beracun. Mengapa aku hanya lihat beberapa saja? Apa yang lainnya sudah mati?”

Suara seruling terdengar makin cepat. Beberapa hewan melata itu sudah merayapi kaki mereka. Xin Mei sudah hampir muntah.

Si Anak Lima Racun lalu tertawa, “Ini adalah hewan-hewan kesayanganku, mereka mengandung tujuh macam racun. Mereka tidak hanya makan daging, tapi sesudah itu mereka akan menghabiskan tulang-tulangmu juga.”

Sebelum ia selesai bicara, sebilah pisau telah melesat!

Xin Mei hampir terpekik.

Ia tahu, pisau Li Xun Huan adalah satu-satunya harapan mereka. Tapi Li Xun Huan tidak dapat melihat apa-apa.

Jika pisaunya meleset, matilah mereka berdua.

Ia sedang bertaruh dengan nyawanya.

Dan kesempatan mereka tipis sekali.

Xin Mei tidak menyangka Li Xun Huan akan mengambil resiko sebesar itu.

Saat itu kilau pisau telah tertelan kegelapan. Namun tiba-tiba kegelapan itu mengeluarkan jeritan yang melengking!

Seseorang keluar dari kegelapan itu.

Orang itu kelihatan seperti seorang anak kecil. Ia mengenakan baju pendek. Kakinya yang kecil bisa terlihat. Dalam malam musim dingin ini, ia tidak tampak kedinginan.

Kepalanya kecil, namun matanya bersinar tajam.

Matanya penuh dengan kemarahan dan ketidakpercayaan. Mata itu menatap Li Xun Huan lekat-lekat. Ia ingin bicara, namun kata-kata tak dapat keluar.

Xin Mei lalu melihat pisau kecil Li Xun Huan telah tertancap di lehernya. Ia tidak tahan untuk mencabut pisau itu. Waktu ia mencabutnya, darah menyembur ke luar.

Si Anak Lima Racun akhirnya berkata, “Pisau yang sangat berbahaya.”

Saat itu, hewan-hewan itu telah merayapi tubuh Li Xun Huan dan Xin Mei. Namun kini mereka tidak bergerak lagi.

Pisau Si Li Kecil memang tidak ada duanya, namun mereka berdua tetap saja bisa dimakan hidup-hidup oleh hewan-hewan beracun itu.

Siapa sangka, ketika darah Si Anak Lima Racun menyembur, hewan-hewan itu langsung melompat ke arah tenggorokannya.

Dalam waktu singkat, seluruh tubuhnya habis. Namun setelah hewan-hewan itu memakannya habis, mereka pun berhenti bergerak.

Sangat ironis bahwa Si Anak Lima Racun mati oleh racunnya sendiri.

Xin Mei akhirnya menghela nafas lega, “Bukan saja pisaumu yang tidak ada duanya di dunia ini, namun ketenanganmu juga.”

Li Xun Huan tersenyum, “Bukan masalah besar. Aku hanya berpikir bahwa hewan-hewan itu pasti akan tertarik pada darah. Sebenarnya, aku pun takut juga.”

“Kau pun merasa takut?”

Li Xun Huan tersenyum lagi, “Selain orang mati, adakah orang yang tidak pernah merasa takut?”

Xin Mei mendesah, “Kau memang sungguh luar biasa.”

Suaranya lemah, dan akhirnya tubuhnya pun rebah.

Hari sudah pagi.

Li Xun Huan duduk di samping Xin Mei, ia tertidur.

Ketika ia terbangun, ia menemukan sebuah kereta kuda yang bisa membawa mereka sampai ke kaki Gunung Song. Lalu Li Xun Huan menggendong Xin Mei ke atas.

Dalam perjalanan ke atas, ia bertemu dengan sekelompok pendeta yang sedang mengumpulkan kayu bakar. Ketika mereka melihat seseorang naik ke atas gunung dengan ilmu meringankan tubuh, mereka langsung bersiaga.

Salah seorang bertanya, “Dari manakah engkau? Apakah engkau…”

Salah seorang yang lain melihat bahwa ia sedang menggendong seorang pendeta. Ia bertanya, “Apakah yang di punggungmu itu murid Shaolin?”

Sebelumnya Li Xun Huan hanya berjalan biasa, namun ketika ia melihat pendeta-pendeta ini, ia melompat tinggi melampaui kepala mereka, dan terus berjalan ke atas.

Ketika kedua pendeta itu berusaha mengejar, Li Xun Huan telah menghilang.

Butuh kurang lebih dua jam untuk tiba di Shaolin. Terlihat banyak pagoda, besar dan kecil. Ia tahu ini adalah hutan pagoda yang suci. Di sinilah semua ketua Shaolin yang terdahulu dikuburkan.

Ini bukanlah tempat yang cocok untuk orang seperti dia.

Tiba-tiba ia mulai terbatuk-batuk.

Lalu terdengar suara yang berkata, “Siapa yang berani memasuki wilayah suci Shaolin? Kau benar-benar sombong.”

Kata Li Xun Huan, “Pendeta Xin Mei terluka berat. Aku membawanya ke sini, supaya ia bisa diobati. Bawalah aku pada pendeta ketua.”

Tiba-tiba muncul begitu banyak pendeta. Salah seorang bertanya, “Bolehkah kutahu namamu?”

Li Xun Huan mendesah, “Namaku Li Xun Huan.”

Dalam hutan bambu, dua orang sedang bermain Go [semacam permainan catur].

Di sebelah kanan adalah seorang pendeta yang wajahnya agak aneh.

Di sebelah kiri adalah seorang tua yang kurus dan pendek. Matanya sangat terang dan tajam, membuat orang tidak memperhatikan lagi tubuhnya yang pendek. Ia sangat berwibawa.

Siapakah selain Bai Xiao Sheng yang layak bermain Go dengan Pendeta Xin Hu?

Ketika dua orang ini sedang bermain Go, tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu. Namun ketika mereka mendengar kata ‘Li Xun Huan’, mereka berhenti.

Xin Hu bertanya, “Di manakah dia?”

Pendeta yang membawa pesan itu menjawab bahwa ia berada di luar kamar Paman Kedua.

Tanya Xin Hu, “Apa yang terjadi dengan Paman Kedua?”

Pendeta itu menjawab, “Lukanya tidak terlalu berat. Saat ini, Paman Kelima dan Keenam sedang merawatnya.”

Li Xun Huan berdiri di aula, ia melihat-lihat sekitarnya.

Ia merasa bahwa ada seseorang yang datang medekat, namun ia tidak berusaha menoleh.

Ketika mereka berada kurang lebih sepuluh langkah dari Li Xun Huan, Xin Hu dan Bai Xiao Sheng berhenti. Walaupun Xin Hu telah mendengar tentang Li Xun Huan, inilah untuk yang pertama kalinya mereka berjumpa.

Ia tidak bisa percaya bahwa orang di depannya ini adalah pahlawan pengelana yang terkenal itu.

Ia mengamati Li Xun Huan dari kepala sampai ujung kaki. Tidak ada yang terlewatkan. Khususnya tangannya yang kurus panjang.

Apa istimewanya tangan itu?

Bagaimana sebilah pisau biasa dapat berubah menjadi pisau yang legendaris jika dipegang oleh tangan itu?

Bai Xiao Sheng pernah berjumpa dengannya sepuluh tahun yang lalu. Ia merasa Li Xun Huan tidak berubah sama sekali dalam sepuluh tahun ini, tapi ia merasa dirinya sudah berubah begitu banyak.

Bai Xiao Sheng akhirnya tertawa, “Apa kabarmu, Tuan Tan Hua?”

Li Xun Huan pun tertawa, “Tak kusangka, kau masih mengingatku.”

Xin Hu berkata, “Aku tidak tahu apakah engkau mengenalku.”

Kata Li Xun Huan, “Siapakah yang tidak tahu nama besar pendeta? Ketenaranmu telah tersiar ke seluruh dunia. Aku merasa terhormat bisa bertemu denganmu hari ini.”

Kata Xin Hu, “Tidak usah merendah. Terima kasih kau telah membawa saudara seperguruanku kembali.”

Sahut Li Xun Huan, “Itu bukan apa-apa.”

Kata Xin Hu lagi, “Sekarang aku adakan memeriksa keadaan saudaraku. Setelah itu kita bisa melanjutkan pembicaraan kita.”

Setelah ia pergi, Bai Xiao Sheng tersenyum, “Para pendeta ini sungguh bisa mengendalikan perasaan mereka. Aku tidak mungkin bisa berbuat seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

“Jika seseorang telah melukai muridmu dan juga saudara seperguruanmu, bisakah engkau tetap bersikap sopan kepadanya?”

Kata Li Xun Huan, “Apakah maksudmu akulah yang melukai Xin Mei dan muridnya?”

Bai Xiao Sheng meletakkan tangannya di belakang punggungnya, “Selain Li Tan Hua, siapakah yang dapat melukainya?”

Kata Li Xun Huan, “Jika aku melukainya, mengapa aku membawanya ke sini?”

Sahut Bai Xiao Sheng, “Itulah. Kau memang sangat pandai.”

“O ya?”

“Siapapun juga yang melukai pendeta Shaolin, akan dihantui persoalan seumur hidupnya. Ribuan murid Shaolin akan mencarinya untuk membalas dendam.”

Li Xun Huan tersenyum, “Bai Xiao Sheng memang tahu segala sesuatu. Tidak heran, semua orang dalam dunia persilatan ingin bersahabat denganmu. Memang sangat menguntungkan untuk menjadi sahabatmu.”

Wajah Bai Xiao Sheng tidak berubah, “Aku hanya menyatakan fakta.”

Kata Li Xun Huan, “Namun kau lupa satu hal. Xin Mei masih hidup. Ia tahu siapa yang melukainya. Pada saat itu, kurasa kau harus menelan kembali kata-katamu.”

Bai Xiao Sheng mendesah, “Jika perhitunganku benar, Xin Mei tidak akan punya kesempatan untuk bicara sepatah kata pun.”

Tiba-tiba terdengar suara bertanya, “Jika bukan kau yang melukai Xin Mei, siapa yang melukainya?”

Tidak jelas kapan ia kembali, namun wajahnya terlihat sangat dingin.

Kata Li Xun Huan, “Kau tidak tahu bahwa ia keracunan?”

Xin Hu tidak menjawab. Ia menoleh dan berkata, “Saudara Ketujuh?”

Seorang pendeta berwajah kuning dan tampak seperti orang sakit menjawab, “Ia keracunan ‘Air Lima Racun’ dari Si Anak Lima Racun. Racun ini tidak berbau dan tidak berasa. Tidak berwarna, seperti air. Jika tidak segera diberi penawar, ia akan segera membusuk.”

Li Xun Huan tertawa, “Kau sungguh hebat.”

Xin Jian berkata dengan dingin, “Aku hanya tahu ia keracunan Air Lima Racun. Aku tidak tahu siapa yang meracuninya.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Benar sekali. Walaupun orang yang keracunan sudah mati, pelakunya masih hidup.”

Kata Xin Jian, “Si Anak Lima Racun tidak punya dendam dengan Shaolin, mengapa ia meracuni Saudara Kedua?”

Li Xun Huan mengeluh, “Karena sebenarnya ia ingin meracuni aku.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Aneh sekali. Jika ia bermaksud meracunimu, mengapa engkau masih di sini? Mengapa yang mati adalah Saudara Xin Mei?”

Ia menatap Li Xun Huan, “Jika kau dapat menjelaskannya, aku akan menyembah engkau.”

Li Xun Huan berpikir lama, kemudian ia tersenyum, “Aku tidak dapat. Karena apapun yang kukatakan, kau tidak akan percaya.”

Kata Bai Xiao Sheng, “Kau sendirilah yang membuat kami susah untuk percaya.”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tidak bisa. Namun ada yang bisa.”

Xin Hu segera bertanya, “Siapa?”

Kata Li Xun Huan, “Pendeta Xin Mei. Mengapa tidak kau tanyakan padanya setelah ia bangun.”

Xin Jian berkata dengan dingin, “Saudara Kedua tidak akan pernah bangun lagi!”

Advertisements

1 Comment »

  1. Mas moderator, PTL bag 18 kok gak ada ya…tlg donk di upload lg…trims

    Comment by ivan gindink — 13/04/2010 @ 12:27 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: