Kumpulan Cerita Silat

18/11/2008

Pisau Terbang Li [18]

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:28 am

Satu Hari Banyak Kejutan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Orang itu mengenakan baju hijau. Baju itu terlalu panjang untuk ukuran orang biasa, namun untuk orang ini baju itu malah tampak terlalu pendek.

Ia dapat membuat orang merasa takut karena tubuhnya yang sangat tinggi. Ia juga mengenakan topi panjang yang tampak aneh. Dari jauh ia kelihatan seperti sebatang pohon.

Kemampuannya untuk menghentikan kuda yang sedang berlari, sangat mengerikan. Namun matanya lebih mengerikan lagi. Mata itu seperti bukan mata manusia.

Matanya hijau, dan berkilauan.

Waktu Tian Qi melihat ke luar, ia segera masuk kembali. Ia kelihatan seperti orang sakit.

Xin Mei bertanya, “Ada seseorang di luar?”

Kata Tian Qi lemah, “Yi Ku.”

Li Xun Huan tersenyum, “Sayangnya ia sama seperti teman-temanku yang lain. Ia hanya menginginkan kepalaku.”

Wajah Xin Mei terlihat muram. Ia membuka pintu kereta dan menyapa, “Tuan Yi.”

Si Setan Hijau memandangnya, lalu berkata dingin, “Apakah engkau Xin Hu? Atau Xin Mei?”

Pendeta Xin Mei menjawab, “Pendeta tidak boleh berdusta. Di sini ada juga Tuan Tian Qi dan Tuan Li.”

Kata Yi Ku, “Bagus. Serahkan saja Li Xun Huan dan kalian boleh pergi.”

Sahut Xin Mei, “Bagaimana jika aku tidak setuju?”

Kata Yi Ku lagi, “Maka aku harus membunuhmu dulu, baru membunuh Li Xun Huan!”

Tiba-tiba ia menyorongkan tangannya. Terlihat kilatan warna hijau, dan Tangan Setan Hijau telah maju terarah pada Xin Mei.

Xin Mei membaca mantra dan empat pendeta muda berjubah abu-abu segera datang. Setelah Xin Mei mengelak dari serangan pertama ini, pendeta-pendeta muda itu mengelilingi Yi Ku.

Lalu Yi Ku tertawa.

Selagi tertawa, disambitkannya sebatang panah yang mengeluarkan asap hijau. Xin Mei langsung berteriak, “Tahan nafas!”

Ia memperingatkan murid-muridnya, namun ia sendiri lupa. Ketika diucapkannya kata ‘tahan’, bau yang aneh masuk ke dalam mulutnya.

Ketika para pendeta yang lain melihat perubahan wajahnya, mereka langsung panik.

Xin Mei segera melayang beberapa meter ke belakang, duduk bersila dan mulai bermeditasi. Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong racun itu keluar.

Para pendeta Shaolin itu langsung membentuk barisan seperti tembok di depannya. Mereka hanya menguatirkan keselamatan Xin Mei. Mereka lupa pada Li Xun Huan.

Namun Yi Ku tidak mempedulikan mereka. Ia berjalan menuju ke kereta.

Li Xun Huan masih di sana, namun Tian Qi sudah pergi.

Yi Ku menatap Li Xun Huan dan bertanya, “Apakah engkau membunuh Qiu Du?”

“Ya.”

Kata Yi Ku, “Bagus. Menukar nyawamu dengan nyawa Qiu Du bukanlah satu kerugian bagimu.”

Ia mengangkat Tangan Setan Hijaunya…

***

Ah Fei menatap langit-langit. Ia tidak berbicara sudah sangat lama.

Kata Lin Xian Er, “Apa yang kau pikirkan?”

Jawab Ah Fei, “Apakah kau pikir ia akan menemui bahaya di tengah jalan?”

Lin Xian Er tersenyum, “Tentu saja tidak. Ada Pendeta Xin Mei dan Tian Qi yang mengawalnya. Siapa yang berani menyerangnya?”

Ia membelai rambut Ah Fei, “Jika kau memperhatikan aku, beristirahatlah. Aku akan tetap di sini. Aku berjanji tidak akan pergi.”

Ah Fei menatapnya. Matanya sungguh penuh kehangatan.

Akhirnya Ah Fei pergi tidur.

***

Yi Ku menatap Li Xun Huan, “Ada lagi yang ingin kau katakan?”

Li Xun Huan memandang Tangan Setan Hijaunya, “Satu kalimat saja.”

“Apa?”

Li Xun Huan mendesah, “Mengapa datang jauh-jauh hanya untuk mati?”

Tiba-tiba ia memutar tangannya.

Pisau berkilat dan Yi Ku terjengkang ke belakang.

Begitu banyak darah menggenang di atas salju.

Kini Yi Ku sudah pergi jauh. Ia berteriak, “Li Xun Huan, jangan lupa. Aku…”

Sampai di situ, ia berhenti.

Angin musim dingin mengiris kulit bagai pisau. Padang salju tiba-tiba hening mencekam.

Tiba-tiba terdengar seseorang bertepuk tangan. Tian Qi keluar dari balik kereta, tersenyum dan bertepuk tangan, “Bagus. Bagus. Bagus. Pisau Terbang Li Kecil memang tidak pernah luput. Sehebat yang dikatakan orang-orang.”

Li Xun Huan terdiam sejenak lalu berkata, “Jika kau bebaskan seluruh jalan darahku, ia tidak akan bisa lolos.”

Tian Qi tertawa, “Jika kubebaskan semua jalan darahmu, maka engkaulah yang lolos. Hanya dengan satu tangan yang bisa bergerak dan satu pisau sajau, kau telah berhasil melukai Yi Ku cukup berat. Aku harus ekstra hati-hati menghadapi orang seperti engkau.”

Saat itu para pendeta itu telah menggotong Xin Mei kembali. Setelah duduk dalam kereta, Xin Mei langsung berkata, “Ayo pergi.”

Setelah beberapa saat ia berkata lagi, “Tangan Setan Hijau sangat berbahaya.”

Tian Qi tersenyum, “Tapi tidak lebih berbahaya daripada Pisau Terbang Li Kecil.”

Xin Mei memandang Li Xun Huan, “Aku tidak menyangka kau akan menyelamatkan kami.”

Li Xun Huan terkekeh, “Aku hanya menyelamatkan diriku sendiri. Jangan pikirkan itu. Jangan repot-repot berterima kasih.”

Kata Tian Qi, “Aku hanya bertanya apakah dia mau pergi dengan kita ke Shaolin atau tinggal dengan Yi Ku. Lalu kubuka jalan darah tangan kanannya dan kuberinya sebilah pisau.”

Lalu ia menyeringai, “Itu saja sudah cukup.”

Kata Xin Mei, “Pisau Li Kecil yang legendaris….sangat sangat cepat!”

Walaupun gerak refleksnya kurang baik, namun ia memiliki tenaga dalam yang sangat hebat. Menjelang malam Xin Mei telah berhasil mendorong keluar semua racun dari dalam tubuhnya. Keesokan paginya, ia hampir pulih sepenuhnya.”

Lalu mereka melihat ada sebuah kedai di tepi jalan. Makanan tanpa arak, sama seperti masakan tanpa garam. Kering dan hambar.

Kata Tian Qi, “Sudah bagus ada makanan. Jangan berharap terlalu muluk.”

Peraturan Shaolin sangat ketat. Para pendeta ini tidak mengeluarkan suara sedikit pun selagi makan. Walaupun hanya sayuran rebus, mereka sudah terbiasa. Lagi pula, setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka sangat lapar. Jadi mereka pun makan cukup lahap.

Hanya Xin Mei, yang baru pulih dari racun itu, tidak makan apa-apa.

Li Xun Huan akhirnya menyumpit sepotong tahu. Baru akan dimakannya, diletakkannya kembali. Wajahnya berubah, “Kita tidak bisa makan ini.”

Kata Tian Qi, “Jika Tuan Tan Hua tidak mau makan makanan biasa seperti ini, silakan saja pergi dengan perut kosong.”

Li Xun Huan hanya menyahut datar, “Makanan ini beracun.”

Tian Qi tertawa, “Hanya karena kami tidak mengijinkanmu minum arak, bukan berarti…”

Tiba-tiba ia berhenti tertawa. Seakan-akan tenggorokannya tersumbat.

Ini karena ia melihat wajah keempat pendeta Shaolin itu menjadi abu-abu. Mereka sendiri tidak menyadarinya dan terus saja makan.

Xin Mei segera berkata, “Semua berhenti makan! Segera bermeditasi dan lindungi organ-organ penting.”

Para pendeta itu tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka hanya tersenyum, “Apakah paman guru menyuruh kami?”

Xin Mei berkata cepat, “Tentu saja. Tak tahukah kalian bahwa kalian sudah keracunan?”

“Siapa yang keracunan?”

Lalu keempat orang ini saling pandang. Semua bersama-sama berkata, “Wajahmu…”

Sebelum kalimat mereka selesai, keempatnya jatuh tergeletak. Dalam sekejap saja tubuh mereka sudah mulai membusuk.

Racun itu bukan hanya tidak berasa dan tidak berbau, juga bisa membuat orang yang keracunan tidak merasa apa-apa. Waktu mereka sadar mereka telah keracunan, mereka sudah tidak tertolong lagi.

Tian Qi bergidik, “Racun apakah ini? Bagaimana racun ini bisa begitu hebat? Siapakah pelakunya?”

Li Xun Huan memandang pada kalajengking di dinding, “Aku tahu ia akan datang, cepat atau lambat.”

Tian Qi bertanya dengan tak sabar, “Siapa? Kau tahu siapa dia?”

Kata Li Xun Huan, “Ada dua jenis racun di dunia ini. Yang satu berasal dari rumput dan tanaman. Yang satu lagi dari ular dan serangga. Banyak orang yang bisa membuat racun dari tanaman, tapi sangat sedikit yang bisa membuat racun dari ular dan serangga. Dan hanya satu orang yang dapat membuat racun yang bisa membunuh orang tanpa disadari korbannya.”

Tian Qi terbelalak, “Maksudmu Si Anak Lima Racun?”

Kata Li Xun Huan, “Aku berharap bukan dia.”

“Mengapa ia datang ke sini? Untuk apa ia datang ke sini?”

Sahut Li Xun Huan, “Ia datang mencari aku.”

Ia tahu Li Xun Huan pasti tidak mempunyai teman seperti ini. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun diurungkannya, “Tampaknya kau tidak punya banyak teman, tapi punya segudang musuh.”

Kata Li Xun Huan, “Aku tidak keberatan punya banyak musuh. Namun seseorang hanya perlu sedikit saja sahabat, karena kadang-kadang sahabat itu lebih mengerikan daripada musuh.”

Xin Mei tiba-tiba memotong dan bertanya, “Bagaimana kau tahu ada racun dalam makanan itu?”

Kata Li Xun Huan, “Sama seperti waktu berjudi. Aku hanya bergantung pada perasaanku. Jika seseorang menanyakan sebabnya, aku tidak bisa menjawabnya.”

Xin Mei memandang dia penuh curiga, lalu katanya, “Mulai sekarang, kita hanya makan apa yang dia makan.”

Mereka meninggalkan keempat jenazah pendeta itu di biara setempat dan melanjutkan perjalanan.

Walaupun mereka bisa terus berjalan tanpa makan, kusir kereta tidak mau ikut lapar bersama dengan mereka. Jadi waktu mereka lewat sebuah kedai, ia berhenti dan makan di situ. Ia membeli beberapa buah roti dan makan dalam perjalanan.

Tian Qi terus memandangnya. Setelah beberapa saat ia bertanya, “Berapa harga roti ini?”

Kusir kereta itu tersenyum, “Murah sekali, dan cukup lezat. Cobalah sedikit.”

Tian Qi tersenyum, “Roti ini tidak mungkin beracun. Mengapa tak kau coba sedikit, Pendeta?”

Xin Mei berkata, “Makanlah sedikit, Tuan Li.”

Li Xun Huan terkekeh, “Tak kusangka kalian berdua sungguh penuh kesopanan.”

Ia mengambil satu dengan tangan kirinya, karena hanya tangan kirinya yang bisa bergerak. Lalu dia berkata, “Kita tidak bisa makan ini.”

Kata Tian Qi, “Namun kusir kereta itu makan, dan tidak terjadi apa-apa.”

Sahut Li Xun Huan, “Dia bisa makan, namun kita tidak.”

“Mengapa?”

“Karena ia bukanlah orang yang hendak dibunuh oleh Si Anak Lima Racun!”

Tian Qi tertawa dingin, “Apakah kau ingin menipu kami dan membuat kami mati kelaparan?”

Sahut Li Xun Huan, “Jika kau tidak percaya, makan saja.”

Tian Qi menatapnya, lalu menyuruh kusir kereta untuk berhenti. Ia belah roti itu menjadi dua, dan memberikan setengah bagian pada kusir kereta itu. Kusir itu makan dan tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan sama sekali. Tian Qi berkata dingin, “Kau masih berpikir bahwa kita tidak bisa makan roti itu?”

Sahut Li Xun Huan, “Tidak.”

Ia menguap. Lalu seolah-oleh tertidur.

Tian Qi sungguh kesal, lalu katanya, “Aku akan makan untuk membuktikan bahwa kau salah.”

Walaupun ia berkata begitu, ia tidak makan roti itu. Lalu dilihatnya seekor anjing liar lewat dekat kereta mereka. Kelihatannya anjing itu pun sedang kelaparan.

Tian Qi memberikan setengah bagian roti yang sisa pada anjing itu. Anjing itu mengendus-endus, makan sedikit lalu pergi. Sepertinya ia tidak suka roti itu.

Namun setelah beberapa langkah, tiba-tiba anjing itu melolong nyaring, melompat dan terkapar mati.

Tian Qi dan Xin Mei sungguh terkejut.

Li Xun Huan menghela nafas, “Sudah kubilang. Masih untung, hanya seekor anjing yang mati, bukan kalian.”

Sebelumnya, Tian Qi kelihatan begitu percaya diri. Namun kini wajahnya berubah total. Ia memandang pada kusir itu dan bertanya menyelidik, “Ada apa ini?”

Kusir itu sangat ketakutan, “Aku sungguh tidak tahu. Aku membeli roti itu dari warung tadi.”

Tian Qi mengguncang-guncangkan tubuh kusir itu, “Lalu mengapa anjing itu mati dan kau masih hidup? Siapa yang menaruh racun pada roti itu kalau bukan engkau?”

Kusir itu hanya gemetar, tak tahu harus menjawab apa.

Kata Li Xun Huan, “Tidak ada gunanya mengancam dia. Dia sendiri pun tidak tahu apa yang terjadi.”

“Jika dia tidak tahu, siapa yang tahu?”

“Aku tahu.”

Tian Qi berusaha menenangkan dirinya, “Kau tahu? Cepat jelaskan!”

Sahut Li Xun Huan, “Roti itu beracun, namun sup yang dimakannya di warung itu mengandung obat penawarnya.”

Tian Qi berkata dingin, “Kita kan mungkin saja turun juga untuk makan sup itu.”

Kata Li Xun Huan, “Jika kita makan sup itu, racunnya tidak akan dimasukkan ke dalam roti.

Tipuan Si Anak Lima Racun memang tidak dapat ditebak. Dalam menghadapi orang seperti itu, kau hanya bisa menutup mulutmu rapat-rapat.”

Xin Mei berkata, “Ya sudah, kalau begitu kita tidak usah makan saja untuk beberapa hari ini. Ayo lekas jalan lagi.”

Tian Qi berkata, “Walaupun kita tidak makan, aku kuatir bahaya itu akan tetap ada.”

“Mengapa?”

“Karena kemungkinan ia akan menunggu sampai kita sangat lemah, baru menyerang.”

Xin Mei tidak tahu harus menjawab apa.

Lalu mata Tian Qi berbinar, “Aku ada ide.”

“Apa?”

Tian Qi berbisik, “Tujuannya kan bukan kita. Maka kalau kita…”

Ia melirik pada Li Xun Huan dan berhenti bicara.

Wajah Xin Mei menjadi murung. Aku sudah berjanji akan membawanya ke Shaolin. Aku tidak dapat membiarkannya mati di tengah jalan.”

Tian Qi tidak berkata apa-apa lagi. Namun setiap kali ia memandang Li Xun Huan, matanya menyiratkan niat membunuh.

Pendeta bukan hanya harus makan dan tidur, mereka pun harus buang hajat.

Xin Mei menyadari juga akan hal ini. Namun apapun yang sedang dilakukannya, dia tidak mau Li Xun Huan berada di luar pengamatannya.

Tian Qi menjadi sungguh kesal dan tidak sabar, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Keesokan harinya, mereka melihat sebuah warung menjual roti. Warung itu cukup ramai. Orang mengantri untuk membeli. Waktu mereka mendapatkan roti itu, mereka segera memakannya. Tak seorang pun mati keracunan.

Tian Qi tidak bisa menahan diri lagi, “Bisakah kita makan ini?”

Kata Li Xun Huan, “Mereka boleh memakannya. Namun kita tidak bisa. Walaupun sepuluh ribu orang memakannya dan tidak terjadi apa-apa, jika kita makan, kita pasti keracunan sampai mati!”

Jika Li Xun Huan mengatakan ini dua hari yang lalu, Tian Qi tidak mungkin percaya. Namun sekarang, Tian Qi harus mempercayainya.

Lalu terdengar seorang anak berteriak, “Ibu! Ibu! Aku mau makan roti.”

Mereka melihat dua orang anak berusia sekitar tujuh tahun sedang berada dekat warung itu. Mereka berteriak-teriak dan melompat-lompat. Seorang wanita keluar dari warung itu dan menampar mereka.

Anak itu menangis, “Kalau aku sudah jadi orang kaya nanti, aku tidak mau lagi makan roti. Aku hanya mau makan mi telur saja.”

Li Xun Huan mengeluh. Begitu besar jurang antara yang kaya dengan yang miskin. Dalam bayangan anak-anak ini, bahkan mi telur pun adalah suatu kemewahan.

Jalan itu sempit dan begitu banyak orang di sana. Cukup lama kereta mereka tidak bisa lewat.

Kini terlihat kedua anak itu masing-masing membawa semangkuk bubur. Mata mereka tetap tertuju pada orang-orang yang sedang makan roti.

Tiba-tiba, Tian Qi turun dari kereta. Ia menaruh beberapa keping uang di meja si penjual roti, dan mengambil beberapa buah roti. Lalu ia menghampiri kedua anak ini dan berkata, “Aku beri kalian roti ini. Kalian beri padaku bubur itu. Bagaimana?”

Mata kedua anak itu langsung bersinar-sinar. Mereka belum pernah bertemu dengan orang sebaik ini.

“Aku beri kalian uang untuk membeli permen juga. Bagaimana?”

Melihat ini, Xin Mei terkekeh. Akhirnya Tian Qi membawa dua mangkuk bubur itu ke dalam kereta. Xin Mei tersenyum, “Kau cerdik juga rupanya.”

Tian Qi tertawa, “Yah, kita kan perlu tenaga untuk bisa meneruskan perjalanan.”

Ia memberikan semangkuk kepada Xin Mei.

Walaupun bubur ini terasa hambar, mereka memakannya seperti makanan yang sedap luar biasa, karena mereka yakin bubur itu tidak beracun.

Tian Qi memandang Li Xun Huan dan terkekeh, “Apakah kau pikir ini bisa dimakan?”

Sebelum menjawab, Li Xun Huan mulai terbatuk-batuk.

Tian Qi tersenyum sambil berkata, “Jika Si Anak Lima Racun sudah tahu sebelumnya bahwa anak-anak itu ingin makan roti, dan sudah tahu bahwa kita akan menggunakan roti itu untuk barter dengan bubur ini, sehingga ia telah menaruh racun dalam bubur ini, maka aku rela mati.”

Setelah mengatakannya, dihabiskannya semangkuk bubur itu dengan sekali telan.

Xin Mei pun merasa bahwa bubur itu tidak mungkin beracun. Karena betapa pun hebatnya dia, Si Anak Lima Racun tidak mungkin dapat menebak apa yang akan terjadi!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: