Kumpulan Cerita Silat

18/11/2008

Pisau Terbang Li (17)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:21 am

Sifat Aslinya Ketahuan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Sewaktu Long Xiao Yun mendengarnya, ia menundukkan kepalanya cukup lama.

“Besok…besok kau akan pergi. Aku…”

Kata Li Xun Huan, “Tak perlu repot-repot mengantar. Aku tidak suka mengantar kepergian orang dan akupun tidak suka orang berbuat begitu padaku. Waktu aku melihat air wajah orang saat mengantar, aku malah jadi ingin muntah.”

Ia terkekeh lalu melanjutkan, “Lagi pula, aku kan tidak pergi jauh. Mungkin dalam beberapa hari aku akan kembali.”

Long Xiao Yun pun kelihatan bersemangat lagi, “Kau benar. Waktu kau datang nanti, aku pasti akan menyambutmu. Lalu kita bisa mabuk bersama.”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata, “Kau tahu pasti dia tidak akan kembali. Mengapa kau masih membohongi dirimu sendiri?”

Lin Shi Yin masuk. Wajahnya yang cantik kelihatan sangat rapuh.

Hati Li Xun Huan serasa ditusuk sembilu. Namun ia masih tersenyum, “Mengapa aku tidak akan kembali? Ini adalah tempat tinggal sahabat-sahabat karibku. Aku…”

Lin Shi Yin segera memotong dengan dingin, “Siapa sahabatmu? Kau sama sekali tidak punya teman di sini.”

Ia menuding ke arah Long Xiao Yun, “Kau pikir dia ini sahabatmu? Jika dia memang sahabatmu, seharusnya dia membebaskanmu sekarang juga.”

Long Xiao Yun berusaha membela diri, “Tapi dia…”

Lin Shi Yin memotong lagi, “Dia tidak mau pergi karena dia tidak mau kau mendapat kesulitan. Namun mengapa kau tidak melepaskan dia? Dia bisa memutuskan apakah dia mau lari atau tidak. Namun, kaulah yang harus memutuskan apakah kau akan melepaskan dia atau tidak.”

Ia tidak menunggu Long Xiao Yun untuk menjawab. Ia memutar badannya dan berlalu dari situ.

Long Xiao Yun berdiri dan berkata, “Apapun yang akan kau lakukan, aku harus melepaskan engkau.”

Li Xun Huan tertawa keras-keras.

Long Xiao Yun kelihatan bingung, “Meng…mengapa kau tertawa?”

Sahut Li Xun Huan, “Sejak kapan kau mau diperintah oleh seorang wanita? Long Xiao Yun yang kuingat adalah seorang pria tulen. Bukan seorang pria lemah yang takut pada istrinya.”

Long Xiao Yun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bahkan air mata mulai tampak di sudut matanya, “Saudaraku, kau… kau sangat baik padaku. Bukannya aku tidak tahu apa maksudmu. Hanya…hanya saja, bagaimana harus kubalas budimu?”

Kata Li Xun Huan, “Kebetulan aku perlu bantuanmu.”

“Apa yang kau perlukan? Katakan saja, aku lakukan apapun keinginanmu.”

Kata Li Xun Huan, “Ingatkah kau pada pemuda Ah Fei yang datang semalam?”

“Tentu saja.”

Li Xun Huan berkata, “Jika ia terlibat kesulitan, tolong bantu dia.”

Long Xiau Yun mendesah, “Bahkan dalam situasi seperti ini, kau masih begitu memperhatikan orang lain. Apakah kau pernah memperhatikan dirimu sendiri?”

Kata Li Xun Huan kering, “Katakan padaku, apakah kau akan melakukannya atau tidak.”

“Tentu saja akan kupenuhi permintaanmu. Tapi mungkin aku takkan pernah berjumpa dengan dia.”

Li Xun Huan sangat terkejut, “Kenapa? Mungkinkah dia…”

Long Xiao Yun berusaha keras untuk tersenyum, “Kau melihat dai pergi kemarin. Apakah mungkin dia kembali lagi?”

Li Xun Huan mengeluh, “Aku sangat berharap ia tidak kembali lagi. Namun aku tahu ia pasti datang.”

Long Xiao Yun bertanya, “Jika ia datang untuk menyelamatkanmu, mengapa dia belum tiba?”

Ia menarik nafas panjang dan melanjutkan, “Saudaraku, aku tahu kau memperhatikan sahabatmu lebih dari apapun juga di dunia ini. Namun tidak semua orang seperti engkau.”

Li Xun Huan berusaha tersenyum, “Apa yang akan dilakukannya adalah keputusannya sendiri. Aku hanya berharap engkau mengingat bahwa ia adalah sahabatku, sewaktu engkau berjumpa dengan dia.”

Sahut Long Xiao Yun, “Sahabatmu adalah sahabatku juga.”

Tiba-tiba seseorang berteriak dari luar, “Tuan Keempat Long… Tuan Keempat Long.”

Long Xiao Yun segera bangkit, namun segera duduk kembali, “Saudaraku, kau…”

Li Xun Huan tersenyum lalu berkata, “Aku tidak ingin minum lagi. Kau pergilah. Dan jangan lupa, besok kau tidak perlu mengantar.”

Long Xiao Yun berjalan keluar dan dilihatnya Tian Qi berdiri di bawah pohon. Ia segera berjalan ke sana dan bertanya dengan berbisik, “Apakah kau berhasil menangkapnya?”

Sahut Tian Qi, “Tidak.”

“Apa? Begitu banyak orang yang telah kau kerahkan, ditambah dengan Pendeta Xin Mei dan Tuan Suling Besi… tidak dapat menyelesaikan satu anak muda saja?”

Kata Tian Qi, “Tapi anak muda ini sangat luar biasa. Bahkan sedikit menakutkan. Ia tidak hanya telah melukai Kakak Zhao, kini ia pun melukai Tuan Suling Besi!”

Long Xiao Yun menghentakkan kakinya, “Aku tahu anak muda ini tidak mudah ditundukkan. Tapi katamu Tuan Suling Besi pasti dapat mengatasinya.”

Kata Tian Qi, “Walaupun ia berhasil lolos, ia kena dilukai oleh telapak tangan Xin Mei.”

Sahut Long Xiao Yun, “Kalau begitu, ia tidak mungkin lari terlalu jauh. Mengapa tidak kau kejar dia?”

Tian Qi berkata, “Pendeta-pendeta Shaolin itu sedang mengejarnya. Begitu ada kabar baik, aku akan segera mengabarimu.”

Kata Long Xiao Yun, “Aku akan pergi menyelidiki. Kau tempatkan seseorang untuk berjaga di sini.”

Di belakang pohon plum itu ada gunung-gunungan.

Setelah kedua orang itu pergi, seseorang muncul dari balik gunung-gunungan itu. Matanya yang cantik penuh dengan keheranan dan tidak percaya. Juga sakit hati dan kebencian.

Seluruh badannya menggigil, dan air mata membasahi wajahnya.

Hati Lin Shi Yin hancur berkeping-keping. Lalu dengan langkah mantap ia berjalan ke arah kamar Li Xun Huan.

Namun segera didengarnya ada langkah-langkah orang, sehingga Lin Shi Yin kembali bersembunyi di balik gunung-gunungan itu.

Tian Qi membawa delapan orang ke situ dan berkata, “Jaga dia. Jangan biarkan seorang pun masuk ke sini. Siapapun yang masuk, bunuh.”

Ia sedang tergesa-gesa hendak menangkap Ah Fei, sehingga belum habis kalimatnya, dia sudah berlari pergi.

Lin Shi Yin menggigit bibirnya. Begitu kerasnya sampai darah keluar.

Ia menyesali dirinya sendiri, mengapa malas berlatih ilmu silat.

Kini ia baru menyadari bahwa ada hal-hal yang hanya dapat diselesaikan dengan bertempur.

Ia tidak punya ide bagaimana ia bisa masuk ke kamar itu.

Tapi tiba-tiba ia mendengar sesuatu. Langkah-langkah orang. Langkah itu tidak terlalu berirama, namun sangat cepat.

Lin Shi Yin menyadari, ini adalah Tuan Suling Besi.

Ia mendengar Tuan Suling Besi berseru nyaring, “Apakah orang marga Li itu ada di kamar ini?”

Seorang penjaga menjawab, “Kami tidak tahu pasti.”

Tuan Suling Besi berkata, “Kalau begitu, biarkan aku masuk dan memeriksa.”

Penjaga itu menjawab, “Tuan Tian berpesan bahwa tidak seorang pun boleh masuk.”

Kata Tuan Suling Besi, “Tian Qi? Siapa yang peduli? Tidakkah kalian tahu siapa aku?”

Penjaga itu memandang dengan curiga ke arah pakaian Tuan Suling Besi yang belepotan darah, “Siapapun tidak boleh masuk.”

Tuan Suling Besi menjawab, “Baiklah.”

Ia mengangkat tangannya sedikit. Segenggam jarum pun segera melesat.

Mata Li Xun Huan terpejam, seakan-akan tertidur.

Tiba-tiba didengarnya jeritan orang kesakitan. Suara itu tidak terlalu keras, dan pendek saja.

Ia mengangkat alisnya, “Apakah ada yang sedang berusaha menolongku?”

Lalu ia melihat seseorang yang membawa seruling besi masuk ke kamarnya. Wajahnya penuh dengan hawa membunuh.

Pandangan Li Xun Huan berhenti pada seruling besi itu, “Tuan Suling Besi.”

Tuan Suling Besi memandangi wajahnya, “Jalan darahmu tertutup?”

Li Xun Huan tersenyum, “Kau tahu, jika ada anggur di hadapanku dan aku tidak minum, pasti artinya aku tidak bisa bergerak.”

Kata Tuan Suling Besi, “Kalaui kau tidak bisa bergerak, seharusnya aku tidak membunuhmu. Tapi aku harus membunuhmu.”

“Hah?”

Tuan Suling Besi menatapnya lekat-lekat, “Engkau tidak ingin tahu sebabnya?”

Li Xun Huan terkekeh, “Jika aku bertanya, pasti engkau akan menerangkan dan menjadi marah. Jika kemudian aku berusaha membela diri, kau pasti tidak akan percaya, dan masih tetap akan membunuhku. Jadi buat apa susah-susah bicara?”

Wajah Tuan Suling Besi tiba-tiba menjadi sangat sedih, “Ru Yi, kau sungguh mati mengenaskan. Tapi paling tidak sekarang aku akan membalaskan dendammu.”

Ia mengangkat seruling besinya.

Li Xun Huan menghela nafas, “Ru Yi, waktu kau melihat aku, pasti kau akan sangat terkejut. Karena walaupun kau tidak mengenal aku, aku mengenalmu…”

Tiba-tiba Lin Shi Yin masuk ke dalam kamar itu, “Tunggu sebentar. Ada yang ingin kukatakan.”

Tuan Suling Besi menoleh terkejut, “Nyonya? Aku sarankan agar kau tidak terlibat urusan ini. Tidak ada seorang pun yang boleh ikut campur.”

Wajah Lin Shi Yin menjadi hijau, “Aku tidak bermaksud mencegahmu melakukan apa yang kau inginkan. Tapi ini adalah rumahku. Jika seseorang harus dibunuh, biarkan aku yang melakukannya.”

“Tapi mengapa kau ingin membunuhnya?”

Sahut Lin Shi Yin, “Aku punya lebih banyak alasan untuk membunuhnya daripada engkau. Kau ingin membunuhnya untuk membalaskan dendam istrimu. Namun aku ingin melakukannya demi anakku. Aku hanya punya satu orang anak.”

Maksudnya sudah jelas. Tuan Suling Besi punya lebih dari satu istri.

Tuan Suling Besi berpikir cukup lama, lalu berkata, “Baiklah, kau boleh maju lebih dulu.”

Ia sangat percaya diri bahwa jarum suling besinya sangat cepat bagai kilat. Jadi walaupun Lin Shi Yin maju lebih dulu, ia masih dapat mendahuluinya membunuh Li Xun Huan. Namun ketika Lin Shi Yin berjalan melewatinya, ia tiba-tiba berputar dan menyerangnya.

Walaupun ilmu silat Lin Shi Yin cetek, ia pun bukan wanita yang lemah. Ia menggunakan seluruh kekuatannya mendorong dengan telapak tangannya. Lagi pula, Tuan Suling sama sekali tidak menyangka, jadi serangannya cukup ampuh.

Dan karena luka sebelumnya terbuka lagi, tubuh Tuan Suling Besi gemetar hebat, darah mulai mengucur keluar dan akhirnya dia pingsan.

Lin Shi Yin sendiri sangat terkejut melihatnya, dan hampir ikut pingsan.

Li Xun Huan tahu bahwa dia tidak pernah menginjak seekor semut sekalipun! Kini, melihat Lin Shi Yin melukai seseorang, ia tidak tahu apakah ia harus merasa sedih atau gembira. Tapi ia menekan seluruh emosinya dan hanya berkata, “Mengapa kau datang lagi?”

Lin Shi Yin mengambil nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri, “Aku datang kembali untuk membebaskanmu.”

Li Xun Huan mengeluh, “Apakah kau belum jelas juga? Aku tidak akan pergi.”

Kata Lin Shi Yin, “Aku tahu, kau tidak ingin pergi karena Long Xiao Yun. Tapi kau tidak tahu bahwa dia…dia…”

Tubuhnya mulai menggigil lagi, bahkan lebih dari sebelumnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, sampai kuku-kukunya melukai kulitnya. Dengan segenap tenaganya ia berkata, “Ia telah mengkhianatimu. Ia bersekongkol dengan mereka semua.”

Setelah ia mengatakan itu, tenaganya habis terkuras. Jikalau tidak ada kursi di dekatnya, mungkin ia sudah jatuh rebah di tanah. Ia pikir Li Xun Huan pun pasti sangat terkejut.

Namun ternyata wajah Li Xun Huan tidak berubah sedikitpun. Malahan ia terkekeh, “Pasti ada kesalahpahaman. Bagaimana mungkin ia mengkhianati aku?”

Lin Shi Yin kembali mengumpulkan tenaganya dan berpegangan pada meja. Seluruh meja itu pun ikut bergetar.

Katanya, “Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dan mendengarnya dengan telingaku sendiri.”

Sahut Li Xun Huan, “Mata dan telingamu pasti salah.”

Kata Lin Shi Yin gusar, “Kau tidak mempercayaiku?”

Li Xun Huan berkata dengan lembut, “Kau terlalu lelah dua hari belakangan ini. Jadi tidak heran kalau pikiranmu kacau. Pergilah beristirahat. Besok pasti kau akan kembali menyadari bahwa suamimu adalah laki-laki yang baik.”

Lin Shi Yin memandang dia. Pikirannya sungguh galau. Setelah sekian lama, akhirnya ia menelungkup di atas meja dan mulai menangis.

Li Xun Huan memejamkan matanya. Ia tidak mampu memandangnya. Suaranya bergetar, katanya, “Mengapa kau…”

Sebelum ia selesai bicara, ia mulai batuk-batuk. Kali ini darah ikut tersembur.

Akhirnya Lin Shi Yin tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Sepuluh tahun perasaan yang tertahan, meledak keluar saat itu.

Ia segera menubruk ke arah Li Xun Huan, “Jika kau tidak pergi, aku akan mati di hadapanmu.”

Li Xun Huan mengatupkan giginya. Ia berkata perlahan-lahan, “Apa hubungannya kematianmu dengan diriku?”

Lin Shi Yin menengadah memandangnya. Suaranya sangat lemah, “Kau…kau…kau…”

Setiap kali dia bicara satu kata, ia mundur selangkah. Tiba-tiba ia menabrak seseorang di belakangnya.

Wajah Long Xiao Yun terlihat kaku seperti baja.

Ia melingkarkan tangannya kuat-kuat di pinggang istrinya. Seakan-akan kuatir jika ia melepaskannya, istrinya akan pergi dan tak kembali lagi.

Lin Shi Yin memandang tangan suaminya. Setelah kembali tenang, ia berkata dengan dingin, “Lepaskan tanganmu. Dan ingatlah, jangan sekali-kali menyentuhku lagi.”

Akhirnya dilepaskannya pelukannya dan memandang istrinya, “Kau sudah tahu semuanya?”

Lin Shi Yin menjawab dingin, “Tidak ada rahasia yang abadi di dunia ini.”

“Kau…kau telah memberitahukan padanya?”

Li Xun Huan tersenyum, “Sebenarnya dia tidak perlu memberitahukan padaku. Aku sudah tahu dari semula.”

Awalnya Long Xiao Yun tidak punya muka memandangnya. Baru sekarang ia mengangkat kepalanya, “Kau sudah tahu?”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

Li Xun Huan menghela nafas, “Waktu kau menarik tanganku dan membiarkan Tian Qi menutup jalan darahku. Tapi… walaupun aku tahu kau terlibat, aku tidak menyalahkanmu.”

Kata Long Xiao Yun, “Jika kau sudah tahu, mengapa kau tak mengatakan apa-apa?”

“Buat apa?”

Lin Shi Yin memandang Li Xun Huan, “Kau tidak mengatakannya karena aku, bukan?”

Li Xun Huan mengangkat alisnya, “Karena kau?”

Kata Lin Shi Yin lagi, “Kau tidak ingin menyakiti diriku, atau merusak keluarga kami. Karena keluarga ini adalah…”

Ia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Air mata kembali membasahi wajahnya.

Tawa Li Xun Huan meledak tiba-tiba, “Mengapa wanita selalu berpikir bahwa segala sesuatu berputar mengelilingi mereka? Aku tidak mengatakannya karena aku tahu itu tidak ada manfaatnya. Aku juga tidak pergi karena aku tahu mereka tidak akan membiarkan aku pergi.”

Kata Lin Shi Yin, “Tidak peduli apa yang kau katakan sekarang. Karena aku sudah tahu…”

Potong Li Xun Huan, “Apa yang kau tahu? Tahukah kau mengapa ia melakukannya? Ia kuatir kalau aku akan merusak keluarga kalian. Itu sebabnya ia melakukan semua ini! Karena dalam pandangannya, keluarga lebih penting dari apa pun juga di dunia ini. Ia merasa bahwa engkaulah orang yang paling berharga dalam hidupnya.”

Lin Shi Yin menatap dia lekat-lekat, lalu tiba-tiba juga tertawa terbahak-bahak, “Ia telah menghancurkanmu, tapi kau masih juga membelanya? Bagus. Kau memang sahabat sejati. Tapi, sadarkah engkau bahwa aku juga manusia? Tega-teganya kau berbuat seperti ini padaku!”

Li Xun Huan mulai terbatuk-batuk lagi. Darah mengotori sekelilingnya.

Kini Long Xiao Yun pun kehilangan kendali dan mulai berteriak, “Tadinya aku adalah kepala keluarga di sini. Tapi begitu kau muncul, aku merasa seperti seorang tamu. Aku mempunyai anak yang hebat. Tapi begitu kau datang, ia menjadi anak yang cacad.”

Li Xun Huan mendesah, “Kau benar. Seharusnya aku tidak datang kembali.”

Lin Shi Yin memejamkan matanya. Air mata terus mengalir membasahi seluruh wajahnya, “Jika kau pernah memikirkan aku sekejap saja, seharusnya kau tidak berbuat seperti ini.”

Sahut Long Xiao Yun, “Aku tahu. Tapi aku terlalu kuatir.”

Lin Shi Yin bertanya, “Kuatir apa?”

Jawab Long Xiao Yun, “Kuatir kau akan meninggalkan diriku. Walaupun kau tidak mengatakannya, aku tahu bahwa kau… kau tidak bisa melupakan dia. Aku kuatir kau akan kembali ke dalam pelukannya.”

Lin Shi Yin melompat dari kursinya dan berteriak dengan marah, “Singkirkan tanganmu! Kau bukan hanya seorang yang licik, tapi kau pikir aku ini orang macam apa? Kau pikir dia itu orang macam apa?”

Lin Shi Yin bersimpuh di lantai dan menangis meraung-raung tidak terkendali, “Apakah kau sudah lupa bahwa aku… aku adalah istrimu?”

Long Xiao Yun berdiri mematung di tempatnya. Hanya air matanya yang bergulir di pipinya.

Li Xun Huan memandang mereka berdua dan berpikir dalam hatinya, “Salah siapakah ini semua? Siapa yang salah…”

***

Dan terdengar seseorang berkata, “Apakah kau sudah bangun?”

Suara ini sungguh merdu, sungguh lembut.

Waktu Ah Fei membuka matanya, ia melihat wajah seorang dewi. Wajah ini memiliki senyum yang termanis, yang terlembut di seluruh dunia. Matanya penuh dengan cinta kasih yang murni.

Wajah ini hampir mirip dengan ibunya.

Ia teringat waktu ia masih kecil dan jatuh sakit, ibunya selalu duduk di sampingnya seperti ini, dan mengawasi dia dengan sabar.

Namun itu sudah lama sekali. Sangat lama, sampai ia hampir melupakannya…

Ah Fei berusaha bangkit dari tempat tidur itu, “Di manakah aku?”

Waktu ia berusaha duduk, ia terjatuh rebah kembali.

Lin Xian Er membantu ia duduk dengan telaten dan berkata dengan lembut, “Jangan kuatir di mana engkau berada. Anggap saja ini rumahmu.”

“Rumahku?”

Ia tidak pernah punya rumah.

Kata Lin Xian Er, “Aku rasa rumahmu pasti sangat hangat, karena kau memiliki ibu yang sangat baik. Ia pasti sangat lembut, sangat cantik dan kau sangat mencintainya.”

Ah Fei hanya duduk terdiam. Setelah beberapa saat ia berkata, “Aku tidak punya rumah, juga tidak punya ibu.”

Lin Xian Er kelihatan bingun, “Tapi…tapi waktu engkau pingsan, kau terus-menerus memanggil ibumu.”

Ah Fei diam saja, tidak bergerak dan wajahnya pun tidak berubah, “Beliau sudah meninggal waktu aku berusia tujuh tahun.”

Walaupun wajahnya menatap kosong, matanya mulai basah.

Lin Xian Er menunduk, “Maafkan aku. Aku…seharusnya aku tidak mengungkit kenangan sedih itu.”

Kemudian Ah Fei bertanya, “Apakah engkau yang menolongku?”

Sahut Lin Xian Er, “Waktu aku tiba, kau sudah pingsan. Lalu aku membawamu ke sini. Selama kau berada di sini, aku berjanji tidak ada orang lain yang akan masuk.”

Kata Ah Fei, “Sebelum ibuku meninggal, beliau berpesan supaya aku tidak menerima kebaikan orang lain. Aku tidak pernah melupakannya. Namun sekarang…”

Wajahnya yang kaku kini menjadi hidup dan ia berteriak, “Kini aku berhutang nyawa padamu!”

Lin Xian Er menjawab dengan lembut, “Kau tidak berhutang apa-apa. Jangan lupa, kau pun pernah menyelamatkan nyawaku.”

Ah Fei terus mengeluh, “Mengapa kau tolong aku? Mengapa kau tolong aku?”

Lin Xian Er memandangnya dengan sabar. Ia meletakkan tangannya di wajah Ah Fei, “Jangan pikir apa-apa sekarang. Nanti… nanti kau akan tahu mengapa aku… aku menolongmu. Mengapa aku berbuat ini padamu.”

Tangannya benar-benar cantik.

Ah Fei memejamkan matanya.

Ia tidak tahu bahwa ia dapat mempunyai perasaan seperti ini.

Ia bertanya, “Jam berapa sekarang?”

“Belum tengah malam.”

Ah Fei berusaha bangkit lagi.

Lin Xian Er bertanya, “Ke mana kau mau pergi?”

Ah Fei mengertakkan giginya, “Aku tak bisa membiarkan mereka membawa Li Xun Huan.”

Kata Lin Xian Er, “Tapi mereka sudah pergi.”

Ah Fei jatuh terduduk ke atas tempat tidur. Wajahnya berkeringat, “Tapi katamu ini belum tengah malam?”

Sahut Lin Xian Er, “Memang betul. Tapi Li Xun Huan sudah dibawa pergi kemarin pagi.”

Ah Fei terpana, “Aku tidur begitu lama?”

Kata Lin Xian Er, “Luka-lukamu sangat berat. Jika orang itu bukan engkau, aku rasa orang itu tidak akan dapat bertahan hidup. Jadi sekarang engkau harus patuh padaku dan menunggu sampai kesehatanmu pulih.”

“Tapi Li…”

Potong Lin Xian Er cepat, “Jangan bicara tentang dia lagi. Keadaannya saat ini tidak segawat keadaanmu. Jika kau ingin pergi menolongnya, tunggu sampai luka-lukamu sembuh.”

Ia menggeser tubuh Ah Fei, sehingga kepala Ah Fei ada di atas bantal, “Jangan kuatir. Pendeta Xin Mei sendiri yang membawa dia. Dia tidak akan menemui kesulitan di jalan.”

***
Li Xun Huan duduk di atas kereta, memandang Tian Qi dan Xin Mei. Ia berpikir ini sungguh menarik, sehingga ia tidak dapat menahan senyumnya.

Tian Qi menatapnya dan bertanya, “Apa yang lucu?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku hanya berpikir bahwa ini sangat menarik.”

“Apa yang menarik?”

Li Xun Huan menguap, memejamkan matanya, seolah-olah akan tidur.

Tian Qi mengguncang-guncangkan tubuhnya, “Apa yang menarik pada diriku?”

Sahut Li Xun Huan, “Maaf, aku bukan berbicara tentang engkau. Ada banyak orang yang menarik di dunia ini, tapi kau tidak termasuk. Kau sangat membosankan.”

Tian Qi sungguh geram, tapi akhirnya dilepaskannya cekalannya.

Xin Mei tidak tahan untuk tidak bertanya, “Apakah menurutmu aku menarik?”

Ia tidak pernah bertemu dengan orang yang menanggap dia menarik.

Li Xun Huan menguap lagi. Katanya sambil tersenyum, “Aku berpikir kau cukup menarik karena sebelum ini aku belum pernah berada di kereta kuda bersama dengan seorang pendeta. Aku selalu berpikir bahwa pendeta tidak pernah naik kuda atau kereta kuda.”

Xin Mei juga tersenyum, “Pendeta kan juga manusia. Kami tidak hanya naik kereta kuda, kami juga perlu makan.”

Kata Li Xun Huan, “Tapi jika mau duduk di atas kereta, mengapa tidak duduk dengan nyaman? Caramu duduk membuat orang berpikir bahwa kau mempunyai semacam penyakit kulit.”

Wajah Xin Mei langsung berubah, “Kau ingin aku menutup mulutmu?”

Xin Mei memandang Tian Qi. Tangan Tian Qi telah bergerak ke arah salah satu jalan darah Li Xun Huan. Ia tersenyum, “Jika aku menekan di sini, kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?”

Li Xun Huan terkekeh, “Jika kau menekan di situ, maka kau tidak akan mendengar banyak kisah yang menarik.”

Kata Tian Qi, “Kalau begitu, aku rasa aku akan…”

Di tengah-tengah perkataannya itu, tiba-tiba kuda-kuda meringkik keras, dan berhenti.

Tian Qi berteriak pada orang-orang yang di luar, “Apa yang terjadi? Apa….”

Waktu ia menyingkapkan tirai dan melihat ke luar, wajahnya seketika pucat pasi.

Seseorang berdiri di atas salju. Tangan kanannya memegangi kereta kuda, sehingga kuda-kuda itu tidak dapat maju. Ia hanya berdiri di situ, tidak bergerak sedikitpun.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: