Kumpulan Cerita Silat

16/11/2008

Pisau Terbang Li (16)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:10 am

Kebaikan Hati yang Palsu

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Tidak ada orang yang menjaga di depan pintu. Mungkin tidak ada yang menyangka Ah Fei akan datang di siang hari bolong. Atau mungkin mereka ingin tidur siang hari itu.

Di gudang itu ada satu jendela kecil. Di dalam sangat gelap, seperti sebuah penjara. Di dekat gundukan kayu bakar seseorang tergolek.

Sewaktu Ah Fei melihat mantel bulu itu, darah di dadanya langsung bergolak. Ia sendiri pun tidak tahu mengapa ia merasakan persahabatan yang begitu dalam dengan orang ini.

Ia melangkah mendekat dan berkata, “Kau…”

Pada saat itulah, sebilah pedang berkilat dari bawah jubah itu!

Sambaran pedang yang secepat kilat ini sungguh mengagetkan Ah Fei.

Sangat tidak terduga. Dan sangat sangat cepat.

Untungnya pedang Ah Fei masih tergenggam di tangannya. Pedangnya lebih cepat lagi, kecepatannya tak terbayangkan. Walaupun orang itu menyerang lebih dulu, Ah Fei masih lebih cepat.

Pedang Ah Fei mengenai pegangan pedang orang itu.

Pergelangan tangan orang itu langsung kesemutan dan pedangnya terlepas dari tangannya.

Orang ini pun ahli pedang tingkat tinggi. Dalam keadaan seperti inipun ia tidak lengah. Ia berguling dan menjauh beberapa meter. Saat itulah Ah Fei melihat wajahnya. Ia adalah You Long Sheng.

Namun Ah Fei tidak tahu siapa dia, sehingga konsentrasinya tidak terganggu. Ia menyerang lagi sambil keluar dari tempat itu. Walaupun gerakannya sangat cepat, tapi sudah terlambat.

Sebuah golok emas dan tongkat telah menghadang langkahnya. Juga beberapa orang muncul dari balik gundukan kayu bakar itu. Tiap-tiap orang dengan busur dan anak panah yang terbidik padanya. Pada jarak sedekat ini, anak panah sangatlah mematikan.

Betapa pun kuat dan hebatnya seseorang, jika ia berharap bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu, ia sedang bermimpi.

Tian Qi tertawa, “Adakah yang ingin kau sampaikan, Sobat?”

Ah Fei mendesah, “Silakan saja.”

Tian Qi berkata, “Kau tidak mau membuang-buang waktu. Baik, akan kukabulkan keinginanmu.”

Ia melambaikan tangannya dan anak-anak panah itu datang menghujaninya.

Saat itulah Ah Fei berguling di tanah. Tangannya meraih pedang yang jatuh dari tangan You Long Sheng. Dalam tangannya, pedang itu seakan-akan menari-nari menahan anak-anak panah yang berhamburan datang. Sekejap saja, ia telah sampai di pintu.

Zhao Zheng Yi mengaum keras dan golok emasnya menusuk ke arah Ah Fei.

Sebelum jurusnya selesai, ia melihat kilatan cahaya di depannya.

Jurus pedangnya bukan main cepatnya.

Waktu Zhao Zheng Yi berusaha mengelak, sudah terlambat baginya. Pedang Ah Fei telah menembus tenggorokannya. Darah pun muncrat keluar.

Tian Qi tercekat.

Namun Ah Fei sudah meninggalkan tempat itu.

Tian Qi hendak mengejar Ah Fei, namun diurungkannya. Zhao Zheng Yi masih memegangi lehernya. Sungguh ajaib, dia masih belum mati.

Ah Fei melayang meninggalkan taman itu. Sebelum pergi, dilemparkannya pedang You Long Sheng ke arah Tian Qi.

Tian Qi ingin mengejar, namun tidak jadi.

You Long Sheng mengeluh panjang, “Anak muda itu sungguh luar biasa cepat!”

Tian Qi pun terkekeh, “Peruntungannya pun tidak jelek.”

You Long Sheng bertanya, “Peruntungan?”

Kata Tian Qi, “Tak kau lihatkah dua anak panah yang menembus tubuhnya?”

Sahut You Long Sheng, “Kau benar. Jurus pedangnya belum sempurna benar, sehingga ia masih belum dapat menahan seluruh anak panah itu. Namun ia bisa melindungi dirinya begitu rupa sampai tidak terluka.”

Kata Tian Qi, “Itu karena ia mengenakan Rompi Benang Emas. Aku memperhitungkan segala sesuatu, namun aku lupa akan hal ini. Kalau tidak, tidak mungkin ia bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup.”

You Long Sheng memandang pedang itu dan mengeluh lagi, “Tidak seharusnya ia datang kembali hari ini.”

Tian Qi tertawa, “Jangan terlalu memikirkan kekalahanmu. Lagi pula, walaupun ia berhasil lolos dari perangkap kita, belum tentu ia bisa meninggalkan Puri ini.”

Saat Ah Fei keluar dari pintu, ia mendengar lantunan lagu Buddha. Lagu itu terdengar sangat keras dan sepertinya bersumber dari segala arah.

Lalu lima orang pendeta mengelilinginya.

Yang pertama adalah Pendeta Xin Mei.

Ah Fei segera melihat ke sekelilingnya dan berusaha tetap tenang. Ia hanya berkata, “Jadi sekarang pendeta pun menjebak orang.”

Pendeta Xin Mei menjawab dengan tenang, “Aku tidak bermaksud melukai siapapun. Kata-katamu sangat tajam. Namun kata-kata tidak dapat melukai siapapun juga, kecuali dirimu sendiri.”

Ia berbicara dengan nada datar. Namun ketika kata-kata ini sampai ke telinga Ah Fei, suara itu bergetar dengan kuat.

Kata Ah Fei, “Kelihatannya ada juga yang dapat menggunakan kata-kata sebaik aku.”

Ia tahu, jika ia ingin melarikan diri ke atas, tasbih pendeta itu akan dapat melukai kakinya. Jadi kesempatannya hanyalah dengan meloloskan diri dari antara dua pendeta.

Namun ketika ia bergerak sedikit, pendeta-pendeta itu telah berputar mengelilingi dia. Kelimanya bergerak sangat cepat, Ah Fei tak mungkin meloloskan diri.

Begitu Ah Fei berhenti, pendeta-pendeta itu pun berhenti.

Pendeta Xin Mei berkata, “Sebagai pendeta, kami tidak ingin membunuh. Kau mempunyai pedang di tanganmu dan sepatu di kakimu. Jika kau dapat memecahkan formasi Luo Han kami, kau boleh pergi.”

Ah Fei mulai bernafas dalam-dalam. Tubuhnya diam tidak bergerak.

Ia bisa melihat bahwa ilmu silat pendeta-pendeta ini sangat tinggi, dan kerja sama mereka sangat baik. Formasi mereka tidak punya kelemahan sama sekali.

Ketika Ah Fei berusia sembilan tahun, ia melihat seekor burung bangau dikelilingi oleh seekor ular besar. Walaupun burung bangau itu berparuh tajam, ia diam saja tidak bergerak.

Awalnya ia tidak mengerti apa sebabnya. Belakangan ia tahu bahwa ternyata si bangau mengerti perangai si ular. Setelah mengelilingi si bangau, si ular dapat menyerang dengan kepala atau dengan ekornya. Jika si bangau menyerang kepalanya, ekor si ular akan menjerat. Jika si bangau menyerang ekornya, kepala si ular akan memagut.

Oleh sebab itu, si bangau hanya berdiri di situ. Si ular menjadi tidak sabar, dan menyerang lebih dulu. Hanya dengan cara itulah si bangau dapat menghadapi serangan dengan sigap dan mengalahkan ular itu.

Mengalahkan kecepatan dengan ketenangan.

Oleh sebab itu, selama para pendeta itu tidak bergerak, ia pun tetap diam.

Setelah beberapa saat, tampak para pendeta itu menjadi tidak sabar, “Apakah engkau sudah menyerah.”

“Belum.”

Pendeta Xin Mei bertanya, “Lalu mengapa engkau tidak berusaha pergi?”

Sahut Ah Fei, “Kalian tidak ingin membunuh aku dan aku tidak bisa membunuh kalian. Jadi aku tidak bisa pergi.”

Xin Mei terkekeh, “Jika kau bisa membunuhku, aku tidak akan menyesal.”

Sahut Ah Fei, “Bagus.”

Dengan kilatan pedang yang sangat tiba-tiba, Ah Fei menyerang Xin Mei.

Pendeta Shaolin ini segera menyerang balik.

Namun tiba-tiba Ah Fei mengubah gerakannya. Tidak seorang pun tahu bagaimana ia melakukannya. Mereka hanya tahu, tiba-tiba ia berbalik ke arah lain.

Awalnya jurus itu diarahkan ke Xin Mei, namun kini terarah pada tangan salah seorang pendeta yang lain.

Kata Xin Mei, “Bagus sekali.”

Sambil berbicara, ia menggulung lengan bajunya. Lengan baju pendeta Shaolin sangat tajam, setajam pisau. Ia bersiap-siap menyerang Ah Fei.

Walaupun keempat pendeta yang lain sedang diserang, ia tidak perlu membantu mereka mempertahankan diri. Inilah kelebihan formasi Luo Han.

Tidak ada yang menyangka bahwa saat itu Ah Fei kembali mengubah gerakannya lagi.

Ketika ahli pedang yang lain berganti jurus, mereka hanya mengubah asal arah serangan atau tujuan arah serangan. Namun Ah Fei dapat mengubah arah seluruh tubuhnya.

Jurus yang tadinya mengarah ke timur, bisa berubah tiba-tiba ke barat.

Tidak ada yang berubah, hanya gerakan kakinya saja yang secepat kilat.

Di detik berikutnya, pedangnya telah merobek lengan baju Xin Mei. Pedang dan tubuh telah menyatu. Jika pedang lolos, tubuh pun lolos.

Xin Mei lalu berkata, “Hati-hati di jalan. Kuantarkan kau keluar.”

Ah Fei lalu merasa serangkum tenaga di belakangnya, seolah olah batang besi yang besar memukul punggungnya. Walaupun ia memakai Rompi Benang Emas, ia masih merasa sangat kesakitan.

Salah seorang pendeta itu berseru, “Kejar dia!”

Namun Xin Mei berkata, “Tidak perlu.”

Kata pendeta itu, “Ia tak mungkin pergi terlalu jauh. Mengapa membiarkan dia lolos?”

“Jika ia tidak mungkin pergi jauh, buat apa susah-susah mengejarnya?”

Pendeta itu berpikir sejenak, lalu berkata, “Paman guru memang benar.”

Xin Mei memandang ke arah Ah Fei pergi, lalu berkata, “Seorang pendeta tidak boleh melukai orang, sebisa mungkin.”

Tian Qi pun mengawasi kejadian itu dari kejauhan. Ia terkekeh, “Pendeta-pendeta ini memang pandai. Jika orang lainlah yang membunuh orang itu untuk mereka, mereka tidak akan peduli.”

Tenaga yang disalurkan melalui tapak tangan pendeta Shaolin itu memang benar-benar kuat. Ah Fei perlu cukup lama untuk mengembalikan keseimbangannya.

Ia tahu ia telah terluka dalam cukup parah. Namun paling tidak ia bisa sembuh dari luka seperti ini.

Setelah bertahun-tahun menjalani latihan dan penderitaan, ia menjadi sangat tahan bantingan. Tubuhnya seperti terbuat dari baja.

Jika Ah Fei bisa lolos, ia memang sungguh seorang yang beruntung. Sangat sedikit orang yang dapat lolos dari serangan bersama lima pesilat tangguh Shaolin.

Hanya saja, Ah Fei tidak ingin lolos.

Di manakah mereka menyembunyikan Li Xun Huan?

Bagaikan elang, mata Ah Fei memantau sekelilingnya. Ia segera berlari menuju ke halaman belakang. Di sana lebih bayak tempat untuk bersembunyi.

Tiba-tiba terdengar suara tawa.

Di depan sana terlihat sebuah paviliun. Orang yang tertawa itu sedang duduk di sana, membaca buku. Sepertinya ia sangat asyik dengan bacaannya.

Ia mengenakan baju yang biasa, bahkan agak lusuh. Wajahnya kurus, berwarna kuning, dengan jenggot panjang. Ia tampak seperti seorang pelajar tua yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Namun hanya pesilat tangguhlah yang dapat membuat suara tertawanya terdengar begitu jelas dari jarak yang begitu jauh.

Ah Fei berhenti. Dipandangnya orang itu menyelidik.

Orang tua itu seperti tidak melihat Ah Fei. Ia membalik halaman bukunya terus membaca dengan serius.

Ah Fei melangkah mundur. Setelah sepuluh langkah, ia memutar badan dan melayang pergi. Dalam dua langkah ia sudah ada dalam hutan plum.

Ah Fei menarik nafas panjang, menelan darah di kerongkongannya.

Lukanya ternyata lebih parah daripada sangkaannya. Ia tidak dapat bertempur lagi dengan keadaannya sekarang.

Pada saat itulah terdengar suara seruling.

Suara seruling itu sangat jernih dan keras. Kelopak-kelopak bunga plum berjatuhan di sekeliling Ah Fei.

Lalu dilihatnya seseorang sedang meniup seruling di bawah pohon plum di belakangnya. Orang itu adalah si pelajar tua yang dilihatnya semenit yang lalu.

Kali ini, Ah Fei tidak menghindar. Sambil memandang orang tua itu dan menyapa, “Tuan Suling Besi?”

Suara seruling itu perlahan-lahan lenyap.

Ia memandang Ah Fei cukup lama, lalu tiba-tiba bertanya, “Kau terluka?”

Ah Fei sangat terkejut. Penglihatan orang ini sangat tajam.

Tuan Suling Besi bertanya lagi, “Terluka di punggungmu?”

Sahut Ah Fei, “Kalau sudah tahu, mengapa bertanya lagi?”

“Xin Mei melukaimu?”

Ah Fei hanya menggeram, “Hmmmmh.”

Tuan Suling Besi menggelengkan kepalanya, “Sepertinya pendeta Shaolin itu tidak sungguh-sungguh hebat.”

Ah Fei bertanya, “Mengapa?”

Tuan Suling Besi menerangkan, “Untuk orang setingkat dia, tidak seharusnya dia menyerangmu dari belakang. Dan jika dia melakukannya, seharusnya dia tidak membiarkanmu hidup cukup lama dan bertemu dengan aku.”

Ia tiba-tiba tersenyum, “Mungkinkah pendeta tua itu ingin menggunakan tangan orang lain untuk membunuhmu?”

Kata Ah Fei, “Aku akan memberi tahu engkau tiga hal. Pertama, jika ia tidak menyerangku dari belakang, ia tidak mungkin bisa melukaiku. Kedua, walaupun dia memukulku, dia tetap tidak bisa membunuhku. Ketiga, kau pun tak mungkin dapat membunuhku!”

Tuan Suling Besi tertawa terbahak-bahak, “Kau sombong sekali, anak muda.”

Tiba-tiba ia berhenti tertawa, “Karena kau terluka, aku tidak seharusnya menantangmu. Namun karena engkau begitu sombong, aku harus memberimu pelajaran.”

Ah Fei merasa ia sudah terlalu banyak bicara. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tuan Suling Besi berkata lagi, “Karena kau sudah terluka, kau boleh mulai tiga jurus lebih dulu.”

Ah Fei memandangnya, lalu terkekeh.

Sambil terkekeh ia menyelipkan pedangnya kembali ke pinggangnya. Ia berbalik dan berjalan pergi.

Tuan Suling Besi berkata, “Kau sudah bertemu denganku. Kau pikir kau bisa pergi hidup-hidup?”

Ah Fei tidak menoleh. Ia menyahut dingin, “Jika aku tidak pergi, maka kau pasti mati.”

Tuan Suling Besi tak bisa menahan tawanya, “Siapa yang mati? Kau atau aku?”

Kata Ah Fei, “Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan aku keuntungan tiga jurus awal.”

“Jadi kalau aku memberi, aku akan mati?”

“Ya.”

Kata Tuan Suling Besi, “Mengapa tidak kita coba saja?”

Ah Fei diam saja. Dibalikkannya tubuhnya dan ditatapnya orang itu dalam-dalam.

Tuan Suling Besi belum pernah melihat mata seperti itu.

Sepasang mata ini tidak berperasaan. Seperti terbuat dari batu. Jika mata itu menatapmu, mata itu seperti seorang dewa yang menatap mahluk ciptaanya.

Tanpa disadarinya, Tuan Suling Besi mundur beberapa tindak.

Saat itulah Ah Fei memulai serangannya.

Sekali pedangnya menyerang, tidak akan luput.

Ini adalah filosofi Ah Fei. Jika ia tidak yakin akan menang, ia tidak akan menghunus pedangnya!

Butiran salju dan bunga-bunga plum beterbangan di udara, sungguh pemandangan yang sangat cantik. Tubuh Tuan Suling Besi pun melayang-layang menari di tengah-tengahnya.

Ah Fei tidak melihat ke atas. Ia hanya menarik kembali pedangnya.

Tuan Suling Besi melayang turun. Mengapung perlahan-lahan seperti kertas yang tertiup angin. Terlihat genangan darah di atas salju.

Ah Fei memandangi darah di tanah, katanya, “Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan aku keuntungan tiga jurus awal. Satu jurus pun tidak!”

Tuan Suling Besi bersandar pada sebatang pohon. Wajahnya sangat pucat. Dadanya penuh dengan noda darah.

Ia tidak sempat menggunakan suling besinya yang terkenal sedunia itu!

Ah Fei berkata lagi, “Namun kau tidak mati, karena kau memegang kata-katamu.”

Ia terkekeh, “Paling tidak kau lebih baik dari Xin Mei.”

Xin Mei berkata bahwa ia tidak akan melukai Ah Fei. Jikalau Ah Fei bisa lolos dari formasi mereka, ia boleh pergi. Namun ia malah membokong Ah Fei. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga, yang tak akan pernah dilupakan Ah Fei.

Tuan Suling Besi kemudian berkata, “Kau masih punya dua jurus lagi.”

“Dua lagi?”

Ah Fei memandangnya sesaat, lalu menjawab, “Baik.”

Ia menyerang perlahan dan ringan. Dua tinju yang hampir tidak menyentuh tubuh Si Suling Besi, “Nah, aku sudah memberimu tiga…”

Saat itulah terdengar suara mendesing pelan, Sepuluh ‘Jarum Bintang Beku Badai Hujan’ melesat keluar dari suling besi!

Wajah Tuan Suling Besi yang mucat, kini berbinar-binar. Katanya, “Hari ini aku mendapat sebuah pelajaran berharga. Jangan pernah memberi keuntungan tiga jurus awal pada siapapun. Kau pun harus belajar satu hal. Jika kau sudah menyerang, lebih baik kau bunuh musuhmu. Kalau tidak, lebih baik tidak menyerang sama sekali!”

Ah Fei mengertakkan giginya sambil memandang jarum-jarum di kakinya. Ia menjawab sekata-demi sekata, “Aku tak akan pernah melupakannya!”

Tuan Suling Besi berkata, “Bagus. Sekarang, pergilah.”

Sebelum Ah Fei sempat menjawab, terdengar seruan dari jauh.

“Tetua… Tetua Suling Besi… Apakah kau telah menangkapnya?”

Tuan Suling Besi segera mendesak Ah Fei, “Cepatlah. Aku tak dapat membunuhmu, tapi aku pun tak ingin kau mati di tangan orang lain!”

Ah Fei segera berguling pergi.

Kakinya tak dapat bergerak, namun tangannya masih lincah.

Ia merasa darah naik ke kerongkongannya. Walaupun dia mati-matian menahannya, ia tidak berhasil.

Walaupun tidak ada yang mengejar, dia tidak yakin bisa hidup lebih lama. Ia hanya ingin bertemu dengan Li Xun Huan, dan mengatakan padanya bahwa ia telah berusaha sekuat tenaga.

Sebelum ia jatuh pingsan, ia melihat sesosok bayangan menghampirinya.

***
Hanya ada satu lilin dalam ruangan.

Long Xiao Yun sedang memandangi Li Xun Huan. Dibiarkannya Li Xun Huan selesai batuk-batuk, lalu diberinya minum secawan anggur.

Setelah ia menghabiskan cawan itu, Li Xun Huan tersenyum, “Saudaraku, lihatkah engkau bahwa tak ada setetes pun yang tumpah.? Walaupun aku digantung terbalik seperti ini, aku masih bisa minum anggur dengan baik.”

Long Xiao Yun pun ingin tersenyum, namun tidak bisa, “Mengapa tak kau biarkan aku membuka jalan darahmu?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tak bisa menahan godaan. Jika kau membuka jalan darahku, aku pasti akan kabur.”

Long Xiao Yun berkata, “Nam…namun sekarang tidak ada siapa-siapa. Tidakkah kau mengerti apa yang sedang kulakukan?”

Li Xun Huan menjawab cepat, “Saudaraku, tidakkah kau mengerti apa yang sedang kulakukan?”

Sahut Long Xiao Yun, “Aku tahu, tapi….”

Li Xun Huan tersenyum, “Aku tahu apa yang hendak kau katakan. Tapi kau tidak berbuat kesalahan apapun. Dan hanya untuk secawan anggur itu, aku tak akan pernah menyesali persahabatan kita.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: