Kumpulan Cerita Silat

15/11/2008

Pisau Terbang Li (15)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:09 am

Cinta Sejati

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Setelah hujan salju terus menerus untuk beberapa hari, matahari muncul kembali hari ini.

Namun cahayanya tidak sampai ke ruangan yang satu ini. Sungguh pun demikian, Li Xun Huan tidak putus asa. Ia tahu beberapa tempat di dunia ini tidak pernah merasakan cahaya matahari.

Lagi pula, ia kenal baik dengan keputusasaan.

Ia tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh Tian, Zhao dan yang lain terhadapnya. Ia malas memikirkan hal-hal seperti itu. Saat itu, Tian Qi sedang mengantarkan para pendeta Shaolin menemui Qin Xiao Yi dan putranya. Mereka melemparkan Li Xun Huan ke sebuah gudang kosong. Akan tetapi, Long Xiao Yun diam saja.

Li Xun Huan tidak menyalahkan Long Xiao Yun.

Long Xiao Yun punya alasannya sendiri. Lagi pula, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Li Xun Huan hanya berharap Ah Fei tidak kembali untuk menyelamatkannya. Ia tahu bahwa walaupun pedang Ah Fei sangat cepat, ilmu silatnya mempunyai banyak lubang kelemahan. Jika ia bertemu dengan orang seperti Tian Qi atau Pendeta Xin Mei, dan pedangnya tidak melihat darah pada gebrakan pertama, mungkin pedang itu takkan dapat melihat darah untuk selama-lamanya.

Hanya dalam waktu tiga tahun, Ah Fei akan dapat memperbaiki kekurangannya. Pada saat itulah ia tidak akan terkalahkan.

Jadi paling tidak dia harus hidup tiga tahun lagi.

Lantai di situ amat basah. Li Xun Huan terbatuk-batuk lagi. Ia berharap bisa minum arak.

Namun sekarang, harapan sesederhana itu pun tak bisa terwujud. Jika orang lain ada dalam posisinya, mungkin orang itu sudah menangis meraung-raung.

Namun Li Xun Huan malah tertawa. Ia berpikir bahwa beberapa hal di dunia ini sungguh menggelikan.

Rumah ini dulu adalah miliknya. Semua yang berada di sini adalah kepunyaannya. Tapi kini semua orang menganggap dia adalah seorang pencuri, bahkan mengurungnya di kamar sempit seperti ini seperti seekor anjing. Siapa yang menyangka?

Tiba-tiba pintu terkuak.

Mungkin Zhao Zheng Yi sudah tidak sabar lagi menunggu dan ingin membunuhnya sekarang juga?

Namun ternyata bukan Zhao Zheng Yi yang datang. Ia mencium wangi anggur. Dan dilihatnya tangan yang memegang botol anggur.

Tangan itu kecil dan pergelangan tangannya tertutup oleh baju berwarna merah.

Tanya Li Xun Huan, “Xiao Yun muda, kaukah itu?”

Si Anak Merah masuk sambil cekikikan. Ia memegang botol anggur itu dengan kedua tangannya dan mencium wangi anggur itu. Katanya sambil tersenyum lebar, “Aku tahu, kau pasti ingin minum anggur, bukan?”

Li Xun Huan tersenyum, “Karena kau tahu aku ingin minum anggur, kau membawakannya untukku, bukan?”

Si Anak Merah mengangguk. Dituangnya anggur itu ke dalam cawan, dan disodorkannya ke hadapan Li Xun Huan. Baru Li Xun Huan membuka mulutnya, Si Anak Merah menarik kembali tangannya. Lalu sambil tersenyum berkata, “Sebelum minum, kau harus menebak anggur apakah ini.”

Li Xun Huan memejamkan matanya. Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu berkata, “Ini adalah anggur tua Zhu Ye Qing. Anggur kesukaanku. Jika aku tak mengenali anggur ini, aku memang pantas mati.”

Si Anak Merah tersenyum, “Tak heran semua orang bilang bahwa Li Tan Hua Kecil adalah ahli dalam hal wanita dan anggur. Jika kau ingin minum anggur ini, maka jawablah pertanyaanku.”

“Apa pertanyaanmu?”

Senyumnya yang lebar kini lenyap.

Ia menatap wajah Li Xun Huan dan bertanya, “Apa hubunganmu dengan ibuku? Apakah ia sangat menyukaimu?”

Wajah Li Xun Huan langsung berubah. Katanya, “Apakah kau sungguh-sungguh ingin tahu?”

Jawab Si Anak Merah, “Mengapa seorang anak tidak boleh bertanya tentang ibunya?”

Li Xun Huan berkata dengan marah, “Tidakkah kau menyadari betapa ibumu mengasihi ayahmu dengan segenap hatinya? Mengapa kau malah berpikir sebaliknya?”

Si Anak Merah tertawa dingin, “Kau pikir kau bisa menyembunyikan ini dari diriku? Jangan mimpi.”

Dikertakkan giginya, “Waktu ibu mendengar apa yang terjadi padamu, ia menutup pintu kamarnya dan menangis tersedu-sedu. Waktu aku hampir mati pun, ia tidak menangis seperti itu. Maka aku bertanya sekarang. Kenapa?”

Hati Li Xun Huan merosot jatuh. Ia merasa seperti segumpal lumpur, diinjak-injak oleh orang yang lewat. Setelah sekian lama, diteguhkannya hatinya, “Akan kuberitahukan padamu sekarang. Kau boleh meragukan siapapun juga. Tapi jangan ragukan ibumu. Karena tidak ada sesuatupun yang disembunyikannya. Sekarang, ambil arak itu dan pergi.”

Si Anak Merah menatapnya, “Arak ini untukmu. Mana mungkin kubawa kembali?”

Ditumpahkannya secawan arak itu ke muka Li Xun Huan.

Li Xun Huan tidak bergerak. Ia tidak memandang wajah Si Anak Merah sama sekali. Ia hanya berkata, “Kau masih kecil. Aku tidak menyalahkanmu.”

Si Anak Merah tertawa dingin, “Kalaupun aku bukan anak kecil, apa yang dapat kau perbuat?”

Tiba-tiba dikeluarkannya sebilah pisau, dilambai-lambaikannya di depan wajah Li Xun Huan, “Lihat pisau ini baik-baik. Ini kan pisaumu. Ibu bilang bahwa jika aku mempunyai pisau ini, maka kau akan melindungi aku. Tapi bisakah kau melindungi aku sekarang? Kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri!”

Li Xun Huan mengeluh, “Kau benar. Lagi pula, pisau itu untuk membunuh, bukan untuk perlindungan.”

Wajah Si Anak Merah memucat. Dengan berdesis ia berkata, “Kau telah membuatku cacad. Kini akan kubuat kau merasakan kesakitan yang sama. Kau…”

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, “Xiao Yun Kecil? Apakah kau ada di dalam?”

Suara ini hangat dan tenang. Namun ketika Li Xun Huan dan Si Anak Merah mendengarnya, wajah mereka langsung berubah. Si Anak Merah segera menyimpan pisaunya dan segera seulas senyum lugu menghiasi wajahnya, “Ibu, aku di sini. Aku membawa anggur untuk Paman Li. Tapi waktu ibu memanggil, aku terkejut, Aku jadi tidak sengaja menumpahkan anggur itu ke wajah Paman Li.”

Lin Shi Yin muncul di pintu. Matanya yang cantik tampak sembap, penuh kesedihan.

Namun waktu ia melihat Si Anak Merah, wajahnya menjadi hangat, “Paman Li tidak mau minum anggur sekarang. Dan kau pun harus tidur sekarang. Ayo.”

Si Anak Merah berkata, “Paman Li tidak bersalah, bukan? Mengapa kita tidak menolongnya?”

Lin Shi Yin menjawab dengan lembut, “Anak kecil jangan berbicara seperti itu. Sana pergi tidur.”

Si Anak Merah menoleh dan menatap Li Xun Huan, “Paman Li, aku harus pergi sekarang. Besok aku bawakan anggur lagi untukmu.”

Li Xun Huan memandang senyum lugu anak itu dan keringat dingin pun membasahi sekujur tubuhnya.

Didengarnya Lin Shi Yin mendesah, “Awalnya aku kuatir ia akan mencoba melukaimu. Tapi sekarang…sekarang aku tidak kuatir lagi. Walaupun dia telah melakukan banyak kesalahan, ia adalah anak yang baik.”

Li Xun Huan hanya dapat tersenyum.

Lin Shi Yin tidak memandangnya. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Dulu kau selalu menepati janjimu. Mengapa kau berubah?”

Li Xun Huan merasa tenggorokannya tersumbat, ia tidak bisa bicara.

“Kau berjanji tidak akan menemui Lin Xian Er. Tapi mereka malah menemukanmu di bilik Lin Xian Er.”

Li Xun Huan tertawa. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tertawa. Sambil memandangi kakinya ia berkata, “Aku ingat gudang ini dibangun baru lima belasan tahun yang lalu.”

“Ya.”

“Akan tetapi kini tempat ini terasa sangat tua. Jendelanya sudah pecah. Atapnya berlubang. Ini artinya bahwa sepuluh tahun memang waktu yang lama. Jika suatu bangunan bisa berubah, mengapa manusia tidak?”

Lin Shi Yin meremas-remas tangannya sendiri, lalu bertanya, “Sejak…Sejak kapan kau jadi seorang penipu?”

Sahut Li Xun Huan, “Aku selamanya adalah seorang penipu. Hanya saja sekarang aku lebih berpengalaman.”

Li Xun Huan tetap tersenyum. Tujuannya telah tercapai.

Ia ingin menyakiti wanita ini. Menyakitinya supaya ia pergi. Ia tidak akan menyeret siapapun jatuh bersama dengan dia. Jadi dia pasti tak berperasaan, menyakiti orang-orang yang dicintainya.

Karena inilah orang-orang yang disayanginya.

Menyakiti mereka sama dengan menyakiti diri sendiri. Walaupun senyum masih menghiasi bibirnya, hatinya telah hancur berantakan.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat supaya air mata tidak keluar. Waktu ia membuka matanya, Lin Shi Yin masih ada di situ, sedang menatap langsung ke matanya.

“Me…Mengapa kau masih ada di sini?”

Sahut Lin Shi Yin, “Aku hanya ingin memastikan. Apakah kau…apakah kau memang Si Bandit Bunga Plum?”

Tawa Li Xun Huan langsung meledak, “Apakah aku Si Bandit Bunga Plum? Kau bertanya apakah aku Si Bandit Bunga Plum…”

Kata Lin Shi Yin, “Walaupun aku tidak percaya, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri.”

Li Xun Huan masih tertawa, “Jika kau tidak percaya, mengapa masih bertanya? Jika kau tahu aku adalah penipu, mengapa bertanya juga? Jika aku berbohong satu kali, aku bisa berbohong seratus kali! Bahkan seribu kali!”

Wajah Lin Shi Yin makin pucat. Seluruh tubuhnya gemetar.

Setelah sekian lama ia berkata, “Aku akan membebaskan engkau. Aku tidak peduli apakah kau itu Si Bandit Bunga Plum atau bukan. Aku tetap akan membebaskan engkau. Aku hanya berharap kali ini kau tak akan kembali lagi!”

Li Xun Huan berseru, “Berhenti! Kau pikir aku akan pergi melarikan diri seperti seekor anjing? Kau pikir orang macam apakah aku?”

Lin Shi Yin tidak menghiraukan dia. Ia mendekat untuk membuka jalan darah Li Xun Huan.

Saat itu terdengar suara berkata, “Shi Yin. Apa yang sedang kau lakukan?”

Itu suara Long Xiao Yun.

Lin Shi Yin menoleh dan menatap Long Xiao Yun. Ia berbicara sekata demi sekata, “Kau tidak tahu apa yang sedang kulakukan?”

Wajah Long Xiao Yun memucat, “Tapi…”

Kata Lin Shi Yin, “Tapi apa? Kaulah yang seharusnya melakukan ini! Sudah lupakah kau akan segala budi baiknya pada kita? Sudah lupakah kau akan masa lalu? Apakah kau akan berpangku tangan melihat dia mati seperti ini?”

Long Xiao Yun meremas-remas tangannya. Lalu ia memukul-mukul dadanya, “Aku memang tidak punya nyali. Aku penakut. Aku pengecut. Tapi pikirlah sebentar saja. Bagaimana kita dapat melakukan ini? Jika kita melepaskan dia, apakah mereka akan melepaskan kita?”

Lin Shi Yin memandang suaminya seakan-akan memandang seorang yang tidak dikenalnya. Ia mundur beberapa langkah, “Kau telah berubah. Kau juga telah berubah… Dulu kau tidak seperti ini!”

Long Xiao Yun mendesah, “Kau memang benar. Aku telah berubah. Karena kini aku telah mempunyai anak dan istri. Apapun yang kuperbuat, merekalah prioritasku.”

Sebelum ia selesai bicara, istrinya sudah menangis. Di dunia ini tidak ada yang dapat menggerakkan hati seorang ibu lebih kuat daripada anaknya sendiri.

Long Xiao Yun berlutut di hadapan Li Xun Huan, wajahnya penuh dengan air mata, “Saudaraku, aku telah mengecewakan engkau. Aku hanya dapat memohon pengampunanmu.”

Sahut Li Xun Huan, “Mengampunimu? Aku tak mengerti apa maskudmu. Aku telah mengatakannya padamu. Ini bukanlah kesalahanmu. Jika aku ingin pergi, aku sudah pergi. Aku tidak memerlukan engkau untuk menyelamatkanku.”

Ia masih memandangi kakinya, karena ia tidak tahan memandang wajah mereka berdua. Ia kuatir ia tak akan dapat membendung air matanya.

Long Xiao Yun berkata, “Saudaraku, aku tahu penderitaanmu, namun aku jamin, mereka tidak akan membunuhmu. Kau hanya perlu bertemu dengan Xin Hu Dai Tze dan engkau akan baik-baik saja.”

Li Xun Huan mengernyitkan keningnya, “Xin Hu Dai Tze? Apakah mereka berencana membawaku ke Shaolin?”

Sahut Long Xiao Yun, “Benar. Qin Zhong adalah murid kesayangan Xin Hu Dai Tze. Tapi Xin Hu Dai Tze tak akan menuduh orang sembarangan. Lagi pula Tetua Bai Xiao Sheng pun sedang berada di Shaolin. Ia pun akan membantumu mendapatkan keadilan.”

Li Xun Huan diam saja. Ia melihat Tian Qi datang.

Tian Qi memandangnya dengan senyum mengejek.

Pada saat Tian Qi datang, sekejap Lin Shi Yin telah menenangkan dirinya, mengangguk sedikit lalu berjalan keluar.

Angin malam terasa menusuk tulang. Ia melangkah dua tindak, lalu berseru, “Yun Er, keluarlah engkau.”

Si Anak Merah muncul malu-malu dari balik gudang itu dan tersenyum takut-takut, “Bu, aku tidak bisa tidur, jadi…aku…”

Potong Lin Shi Yin gemas, “Jadi kau antarkan mereka ke sini. Betul kan?”

Si Anak Merah tertawa dan menubruk ke pelukan ibunya. Tapi segera terlihat wajah ibunya yang murung, sehingga diurungkan niatnya. Ia berhenti dan menundukkan kepalanya.

Lin Shi Yin hanya memandangnya dengan terdiam. Ini adalah anak kesayangannya, darah dagingnya. Setetes air mata jatuh ke pipinya.

Setelah sekian lama, ia menghela nafas panjang. Ditengadahkannya wajahnya memandang ke langit dan berkata, “Mengapa kebencian jauh lebih sulit dilupakan daripada budi baik…”

***
Tie Zhuan Jia mengepalkan tangannya dan berjalan mondar-mandir di halaman sebuah kuil. Setelah sekian lama, api telah padam namun tidak seorang pun berniat menyalakannya lagi.

Ah Fei duduk di situ diam saja, tidak bergerak.

Tie Zhuan Jia berkata dengan gusat, “Aku sudah mengira, walaupun kau telah membunuh Si Bandit Bunga Plum, para ‘pahlawan besar’ itu takkan mau mengakuinya. Jika sekawanan serigala melihat sebongkah daging, bagaimana mungkin mereka mau melepaskannya?”

Kata Ah Fei, “Kau sudah memperingatkanku, namun aku tetap pergi. Aku harus pergi!”

Tie Zhuan Jia mengeluh, “Untungnya kau pergi. Kalau tidak kau tidak akan tahu bagaimana muka para ‘pahlawan besar’ itu yang sebenarnya.”

Ia menoleh dan menatap Ah Fei lekat-lekat, “Kau benar-benar tidak melihat Tuanku?”

Sahut Ah Fei, “Tidak.”

Tie Zhuan Jia memandang onggokan kayu yang sudah tidak berapi itu dan mulai mondar-mandir lagi, sambil menggumam sendiri, “Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukannya…”

Kata Ah Fei, “Dia tidak pernah mau orang menguatirkan dirinya.”

Tie Zhuan Jia tertawa lepas, “Benar sekali. Walaupun para ‘pahlawan’ itu menganggap dia seperti duri dalam daging, seperti paku yang mencucuk mata, tapi tidak seorang pun dari mereka berani menyentuhnya.”

Ah Fei hanya menggumam tidak jelas.

Tie Zhuan Jia melihat ke luar pagar, “Langit sudah cerah, aku harus pergi.”

Sahut Ah Fei, “Baiklah.”

Tie Zhuan Jia berkata, “Jika kau kebetulan bertemu dengan Tuanku, tolong sampaikan ‘Setelah Tie Zhuan Jia berhasil mengatasi permasalahannya, pasti ia akan kembali mencari Tuannya’.”

Sahut Ah Fei, “Baiklah.”

Tie Zhuan Jia menatap wajahnya yang tirus, menggenggam tangannya, dan berkata, “Selamat tiggal.”

Walaupun di matanya terbayang kekuatiran, ia memutar badannya dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Ah Fei masih berdiri mematung di sini, namun di matanya yang bersinar tajam, kelihatan ada setitik kecil air mengambang.

Ah Fei segera memejamkan matanya, namun setetes air mata lolos dari sudut matanya, seperti tetesan embun dingin di padang rumput.

Ia tidak menceritakan pertemuannya dengan Li Xun Huan kepada Tie Zhuan Jia, karena ia tidak ingin Tie Zhuan Jia menggadaikan nyawanya untuk Li Xun Huan. Dialah yang akan pergi menggadaikan nyawanya untuk menyelamatkan Li Xun Huan!

Apakah harga sepotong nyawa dalam persahabatan?

Setelah sekian lama, cahaya matahari membentuk bayangan seseorang di halaman kuil itu. Bayangan yang hitam panjang itu datang menghampiri Ah Fei.

Ah Fei tidak membuka matanya, ia hanya bertanya, “Apakah engkau yang datang? Ada kabar apa?”

Naluri Ah Fei memang bagaikan binatang buas. Yang datang memang adalah Lin Xian Er. Sahutnya, “Kabar baik.”

Kabar baik?

Ah Fei hampir tidak bisa mempercayai bahwa masih ada kabar baik di dunia ini.

Sambung Lin Xian Er, “Walaupun ia belum dibebaskan, setidaknya ia tidak ada dalam bahaya.”

“Oh?”

Lin Xian Er menerangkan, “Tian Qi dan yang lainnya hanya dapat menuruti usul Pendeta Xin Mei untuk membawa dia ke Shaolin. Kepala Shaolin, Xin Hu, selalu bersikap adil. Dan kudengar Bai Xiao Sheng sedang berada di sana pula. Jika kedua orang ini tidak bisa membersihkan namanya, tak ada seorang pun di dunia yang bisa.”

Tanya Ah Fei, “Siapakah Bai Xiao Sheng?”

Lin Xian Er mengikik geli, “Orang ini adalah orang yang paling terpelajar di seluruh dunia. Tidak ada sesuatu pun yang dia tidak tahu. Katanya dia bisa tahu apakah Si Bandit Bunga Plum itu asli atau palsu.”

Ah Fei terdiam beberapa saat. Tiba-tiba dibukanya matanya dan ditatapnya Lin Xian Er lekat-lekat, “Tahukah kau orang yang paling menjijikkan di dunia itu orang macam apa?”

Lin Xian Er tersenyum, “Apakah seperti Zhang Zheng Yi, pahlawan yang palsu?”

Sahut Ah Fei, “Pahlawan yang palsu memang pantas dibenci, namun yang paling menjijikkan adalah orang yang sok pintar.”

Tanya Lin Xian Er, “Sok pintar? Apakah maksudmu seperti Bai Xiao Sheng?”

Sahut Ah Fei, “Betul. Orang semacam ini selalu menganggap dirinya lebih daripada orang lain. Ia menganggap dirinya sangat pandai, tidak ada sesuatu pun yang ia tidak tahu. Hanya dengan kata-katanya ia bisa menentukan nasib orang lain. Namun sebenarnya seberapa banyak yang dia tahu?”

Lin Xian Er berkata, “Tapi kata orang…”

Ah Fei tertawa dingin, “Hanya karena semua orang berkata bahwa tidak ada sesuatu pun yang dia tidak tahu, akhirnya ia menipu dirinya sendiri. Dia jadi benar-benar percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dia tidak tahu.”

Lanjut Ah Fei lagi, “Aku malah lebih mempercayai orang yang merasa tidak tahu apa-apa.”

Jika seseorang ingin memberikan kesan yang baik tentang dirinya, cara yang terbaik adalah membiarkan orang lain tahu bahwa ia menyukai dirinya sendiri. Lin Xian Er telah menggunakan cara ini berulang kali.

Namun kali ini ia tidak berhasil. Ah Fei memandang salju yang telah turun lagi. Lalu ia bertanya, “Kapan mereka akan membawanya pergi?”

Jawab Lin Xian Er, “Besok pagi.”

Tanya Ah Fei, “Mengapa mereka menunggu sampai besok pagi?”

Sahut Lin Xian Er, “Malam ini mereka mengadakan jamuan makan malam untuk Pendeta Xin Mei.”

Ah Fei menoleh cepat dan menatap Lin Xian Er dengan tajam, “Tidak ada alasan lain?”

Tanya Lin Xian Er, “Mengapa harus ada alasan lain?”

Sahut Ah Fei, “Pendeta Xin Mei tidak mungkin mau menyia-nyiakan satu hari hanya untuk makan malam.”

Lin Xian Er memutar matanya, “Ia tidak ingin tinggal hanya karena makan malam. Ia harus menunggu karena malam ini akan datang tamu penting yang lain.”

“Siapa?”

Sahut Lin Xian Er, “Tie Di Xian Sheng, Tuan Suling Besi.”

Ah Fei bertanya, “Tie Di Xian Sheng? Siapakah dia?”

Mata Lin Xian Er melebar, ia sangat terkejut, “Kau tidak tahu siapa Tie Di Xian Sheng?”

Kata Ah Fei, “Mengapa aku harus tahu siapa dia?”

Lin Xian Er mengeluh, “Karena walaupun Tie Di Xian Sheng bukanlah yang TERhebat di dunia persilatan saat ini, ia tidak jauh dari posisi itu.”

“Oh.”

Lanjut Lin Xian Er, “Katanya ilmu silat orang ini sungguh tinggi, bahkan tidak lebih rendah dari ketua Tujuh partai besar dunia persilatan.”

Pada saat berbicara, ia memperhatikan reaksi Ah Fei.

Sekali lagi, Ah Fei mengecewakan dia.

Di wajahnya tidak terbayang rasa takut sedikit pun. Bahkan kini dia tertawa, “Jadi mereka membawa Tie Di Xian Sheng untuk mengatasi aku.”

Lin Xian Er memandang ke bawah, “Pendeta Xin Mei selalu merencanakan segala sesuatu dengan teliti. Ia kuatir…”

Ah Fei memotong ucapannya, “Ia kuatir aku akan pergi menyelamatkan Li Xun Huan, jadi dipanggilnya Tie Di Xian Sheng untuk menjadi pengawal.”

Kata Lin Xian Er, “Walaupun mereka tidak memanggilnya, Tie Di Xian Sheng tetap akan datang.”

“Kenapa?”

Jawab Lin Xian Er, “Karena selir yang dikasihinya juga mati di tangan Si Bandit Bunga Plum.”

Lalu kata Ah Fei, “Jadi mereka akan makan malam sebelum pergi.”

Lin Xian Er berpikir sejenak, “Atau mungkin…”

Ah Fei menyelesaikan kalimatnya, “Atau mungkin mereka takkan pernah pergi.”

Tanya Lin Xian Er, “Mengapa?”

Sahut Ah Fei, “Jika istriku mati di tangan seseorang, aku tak akan membiarkannya hidup dan pergi ke Shaolin.”

Wajah Lin Xian Er berubah, “Kau kuatir bahwa begitu Tie Di Xiang Sheng tiba ia akan segera turun tangan terhadap Li Xun Huan?”

“Mmmmm.”

Lin Xian Er terdiam. Lalu ia mendesah, katanya, “Benar juga. Ada kemungkinan begitu. Tie Di Xian Sheng bukan orang yang bisa dibujuk. Jika ia sudah berniat turun tangan, bahkan Pendeta Xin Mei tak akan dapat mencegahnya.”

Lalu Ah Fei berkata, “Kau sudah cukup berbicara. Sekarang kau boleh pergi.”

Lin Xian Er masih terus bertanya, “Apakah kau berencana menyelamatkan Li Xun Huan sebelum Tie Di Xian Sheng tiba?”

Sahut Ah Fei, “Apa pun yang kurencanakan, tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Selamat tinggal.”

Lin Xian Er terus mendesak, “Tapi kalau hanya dengan kekuatanmu seorang, tak mungkin kau dapat menyelamatkan dia!”

Dilanjutkannya lagi, “Aku tahu ilmu silatmu cukup tinggi, namun Tian Qi dan Zhao Zheng Yi pun bukan orang lemah. Dan lagi, masih ada Pendeta Xin Mei yang merupakan orang nomor dua di Shaolin. Tenaga dalamnya sangat murni…”

Ah Fei hanya memandangnya dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Lin Xian Er terus bicara, “Puri Awan Riang saat ini bisa dikatakan penuh dengan ahli-ahli silat. Jika kau ingin melakukan penyelamatan, itu… itu…”

Ah Fei melanjutkannya, “Itu tindakan gila, bukan?”

Lin Xian Er menundukkan kepalanya, tidak berani menatap matanya.

Ah Fei tertawa keras-keras, “Setiap orang ada saatnya melakukan tindakan yang sedikit gila. Sekali-sekali saja, itu bukanlah hal yang buruk.”

Lin Xian Er menunduk lagi, “Aku tahu maksudmu.”

“Oh.”

Kata Lin Xian Er, “Tidak ada seorang pun yang menyangka kau akan berani bertindak di siang hari bolong. Pengawasan mereka pasti tidak terlalu ketat. Dan lagi, semalam mereka sangat sibuk. Mungkin mereka akan tertidur sampai siang…”

Kata Ah Fei, “Kau sudah bicara terlalu banyak…”

Sahut Lin Xian Er, “Baik, aku akan pergi sekarang. Tapi kau… kau harus berhati-hati. Jika terjadi sesuatu, jangan lupa ada seseorang di Puri Awan Riang yang berhutang nyawa padamu.”

***
Ah Fei menunggu satu jam di luar Puri Awan Riang.

Ia merunduk di sana, seperti menunggu di luar sarang tikus. Ujung rambut sampai kakinya tidak bergerak sama sekali. Yang bergerak hanya sepasang bola matanya yang setajam burung elang.

Angin dingin menyayat kulitnya, seperti pisau.

Namun ia tidak peduli sedikit pun. Waktu dia berumur sepuluh tahun, untuk menangkap seekor rubah ia menunggu di atas salju tanpa bergerak selama dua jam penuh.

Saat itu dia bisa bertahan karena ia lapar. Jika ia tidak mendapatkan rubah itu, ia akan mati kelaparan. Untuk bertahan hidup, tidaklah sulit bagi manusia untuk menanggung penderitaan.

Namun menanggung penderitaan demi orang lain, supaya mereka bisa tetap hidup, tidaklah semudah itu. Hanya sedikit sekali orang yang dapat melakukannya.

Saat itu terlihat seseorang terhuyung-huyung keluar dari Puri Awan Riang. Walaupun jaraknya cukup jauh, Ah Fei bisa melihat bahwa wajah orang ini burikan.

Ia tidak tahu bahwa orang burikan ini adalah ayah Lin Xian Er, namun dia tahu bahwa orang ini adalah pelayan yang berkedudukan tinggi di Puri Awan Riang.

Seorang pelayan biasa tak mungkin bersikap angkuh seperti itu. Dan jika ia bukan seorang pelayan, sikapnya pun tak mungkin angkuh seperti itu.

Perut orang ini sepertinya penuh dengan arak.

Kini ia sedang berjalan sempoyongan ke arah warung the untuk membual besar-besaran. Tidak disangkanya, saat ia tiba di ujung gang, sebilah pedang telah terarah ke tenggorokannya.

Ah Fei sebenarnya tidak suka menggunakan pedangnya terhadap orang semacam ini. Tapi menggunakan pedang untuk berbicara kadang-kadang lebih efektif daripada menggunakan lidah. Ia berkata dingin, “Aku tanya satu kali, kau jawab satu kali. Jika kau tidak menjawab, akan kubunuh kau. Jika jawabanmu salah, akan kubunuh kau. Mengerti?”

Si burik ingin mengangguk, tetapi ia takut pedang itu malah akan menusuknya. Ia ingin berbicara, namun suaranya tidak keluar. Arak dalam perutnya telah berubah menjadi keringat dingin.

Tanya Ah Fei, “Aku bertanya, apakah Li Xun Huan masih berada di dalam Puri?”

Sahut si burik, “Ya…”

Bibirnya bergetar beberapa kali sebelum kata itu bisa terucapkan.

Tanya Ah Fei, “Di mana?”

Jawab si burik, “Di gudang kayu bakar.”

Kata Ah Fei, “Antarkan aku ke sana!”

Si burik menjadi sangat ketakutan, “Bagaimana aku bisa mengantarkan kau ke sana… Aku…Aku tidak tahu bagaimana…”

Kata Ah Fei, “Kau bisa memikirkan caranya.”

Tiba-tiba digerakkannya pedangnya. Terdengar bunyi ‘chi’, dan pedang itu menancap ke dinding.

Tatapan Ah Fei menembus mata si burik dan ia berkata dingin, “Kau bisa memikirkan suatu cara, bukan?”

Gigi si burik gemeletuk, “Y…ya…”

Kata Ah Fei, “Bagus. Berbaliklah dan berjalanlah ke dalam. Jangan lupa, aku ada di belakangmu.”

Ini bukan kali pertama si burik mengajak temannya datang berkunjung. Jadi waktu Ah Fei mengikutinya dari belakang, si penjaga pintu tidak begitu memperhatikan.

Gudang kayu bakar itu tidak jauh dari dapur, namun dapur terletak jauh dari ruang utama. Karena tempat seorang pria bukanlah di dapur dan pemilik Puri Awan Riang yang terdahulu adalah seorang pria sejati.

Si burik mengambil jalan pintas ke arah gudang kayu bakar. Mereka tidak bertemu dengan siapapun. Walaupun ada yang memergoki, mereka akan berpikir kedua orang ini pasti sedang menuju ke dapur untuk mengambil makanan dan anggur.

Dalam halaman yang sepi itu, tampak sebuah bangunan yang menyendiri. Di luar sebuah pintu yang sudah bobrok terlihat sebuah gembok yang besar.

Si burik berkata terbata-bata, “Tuan…Tuan Li terkunci di dalam sana. Tuan, Anda…”

Ah Fei menatapnya lekat-lekat, “Kurasa kau tak akan berani membohongi aku.”

Si burik tertawa gelisah, “Mana mungkin seorang pelayan berani berbohong. Aku tak berani menggadaikan kepalaku untuk berkelakar seperti itu.”

Sahut Ah Fei, “Bagus.”

Setelah mengucapkan kata ini, ia mengulurkan tangan dan memukul jatuh si burik sampai pingsan. Ia berlari dan menendang pintu bobrok itu hingga terbuka.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: