Kumpulan Cerita Silat

14/11/2008

Pisau Terbang Li (14)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 2:08 am

Beberapa Hal Tak Bisa Dijelaskan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Sahut Lin Xian Er, “Jadi Tuan Tian belum bisa melihat bahwa ia mengenakan Rompi Benang Emas?”

Mata Tian Qi melebar, “Jadi itulah sebabnya saat Saudara Muo Yun memukulnya, malah tangannya sendiri yang terluka.”

Kata Lin Xian Er, “Aku tidak berniat kembali ke bilikku malam ini. Namun kemudian aku teringat ada sesuatu yang penting tertinggal di sana. Pada saat aku akan kembali, Si Bandit Bunga Plum muncul.”

Di wajahnya yang ayu terbayang ketakutan yang sangat dan ia melanjutkan, “Saat itu aku belum melihatnya. Aku hanya merasa ada seseorang di belakangku. Waktu aku menoleh, ia telah menutup jalan darahku.”

Kata Tian Qi, “Jika demikian, ilmu meringankan tubuh orang ini pasti cukup tinggi.”

Lin Xian Er mendesah, “Gerakannya seperti hantu saja. Aku bahkan tidak menyadari apa yang sedang terjadi saat ia menarik tubuhku. Lalu aku menyadari, ini pastilah Si Bandit Bunga Plum. Maka aku pun bertanya padanya, ‘Apa maumu? Mengapa tak kau bunuh saja aku?’”

“Apa jawabnya?”

Lin Xian Er mengatupkan giginya kesal, lalu katanya, “Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tertawa sinis.”

Mata Tian Qi langsung bersinar, “Jadi ia tidak bilang bahwa dialah Si Bandit Bunga Plum?”

Sahut Lin Xian Er, “Dia tidak perlu mengatakannya. Saat itu, aku berharap segera mati, namun sayangnya aku tak bertenaga lagi. Kemudian tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di hadapan kami.”

Kata Tian Qi, “Pasti orang itu adalah teman kecil kita di sini.”

Sahut Lin Xian Er, “Betul, memang dia.”

Ia memandang Ah Fei dengan pandangan yang sangat berterima kasih, “Ia datang begitu tiba-tiba, sampai Si Bandit Bunga Plum pun terkejut. Segera dilepaskannya tubuhku jatuh ke tanah. Lalu aku mendengar dia bertanya, ‘Apakah engkau Si Bandit Bunga Plum?’. Si Bandit Bunga Plum segera menjawab, ‘Kalau ya, kenapa? Kalau tidak, kenapa? Siapa pun aku, kau akan mati sekarang juga.”

Sebelum ia selesai bicara, senjatanya sudah melesat dari mulutnya. Aku terkejut dan sangat ketakutan. Waktu aku melihat senjata itu terarah pada dada lelaki ini, aku yakin dia pasti akan mati. Namun anehnya, ia terluka pun tidak.”

“Setelah itu, aku hanya melihat kilatan pedang, dan Si Bandit Bunga Plum rebah ke tanah. Kecepatannya begitu rupa, tak terbayangkan.”

Saat itu, semua mata tertuju ke arah pedang di pinggang Ah Fei. Tidak ada yang menyangka pedang itu dapat membunuh orang, apalagi membunuh Si Bandit Bunga Plum!

Tian Qi pun menatap pedang itu lekat-lekat.

Lalu ia tersenyum, “Sepertinya kau memang sudah menunggu di sana.”

Sahut Ah Fei, “Benar.”

Kata Tian Qi, “Maka waktu kau melihat mereka, kau segera mendekat dan bertanya apakah dia itu Si Bandit Bunga Plum?”

“Benar.”

Tian Qi tersenyum lagi, “Jadi kau suka ya bersembunyi dalam gelap, dan bertanya pada orang yang lewat apakah dia itu Si Bandit Bunga Plum?”

Ah Fei menjawab, “Aku tidak punya waktu senggang begitu banyak.”

Tian Qi bertanya lagi, “Tapi kalau kau sedang punya waktu senggang, apa yang kau tanya pada orang-orang yang lewat di jalan?”

Kata Ah Fei, “Mengapa aku harus menanyai mereka? Apa hubungannya mereka dengan aku?”

Tian Qi tersenyum lagi sambil berkata, “Maka dari itu. Kalau kau ingin tahu siapa orang itu, kau akan bertanya, ‘Siapakah engkau?’. Seperti tadi kau bertanya pada Tuan Gong Sun. Kau tidak bertanya apakah dia itu Si Bandit Bunga Plum.”

Sahut Ah Fei, “Aku tahu dia bukan Si Bandit Bunga Plum. Mengapa aku harus bertanya lagi?”

Wajah Tian Qi menjadi serius. Ia menunjuk pada mayat itu dan berkata, “Kalau begitu, mengapa kau bertanya pada orang itu? Mungkinkah kau sudah tahu bahwa ia adalah Si Bandit Bunga Plum? Kalau kau sudah tahu, mengapa harus bertanya lagi?”

“Karena seseorang memberi tahu aku bahwa Si Bandit Bunga Plum akan muncul dalam hari-hari ini.”

Tian Qi kini menatap Li Xun Huan lekat-lekat, “Siapa yang memberi tahu engkau? Apakah Si Bandit Bunga Plum sendiri? Atau sahabatnya?”

Dia tahu Ah Fei tak akan menjawab pertanyaan ini. Namun, hanya dengan bertanya, tujuannya sudah tercapai. Ia memang tidak memerlukan jawaban.

Ketika semua orang mendengar itu, mata mereka pun langsung terarah ke Li Xun Huan. Kini mereka menyadari bahwa semua ini adalah permainan yang telah direncanakan oleh Li Xun Huan dan Ah Fei.

Tian Qi segera maju ke hadapan seorang pemuda dan bertanya keras, “Apakah kau adalah Si Bandit Bunga Plum?”

Pemuda itu menjadi sangat ketakutan dan gelagapan, “A…Aku…”

Sebelum perkataannya selesai, Tian Qi menutup jalan darahnya. Ia memutar badannya dan berseru dengan sinis, “Hei, lihat! Aku telah menangkap seorang lagi bandit bunga plum.”

Ia melanjutkan dengan serius, “Semua orang di sini setuju bahwa tidaklah mudah menangkap Si Bandit Bunga Plum, bukan?”

Meledaklah tawa kerumunan orang itu. Mereka mulai bertanya-tanya di antara mereka sambil bercanda, “Apakah kau Si Bandit Bunga Plum?”

“Sebenarnya, kau lebih mirip untuk jadi Si Bandit Bunga Plum.”

“Mengapa kini jadi ada makin banyak bandit bunga plum?”

Li Xun Huan mengeluh. Katanya pelan, “Saudaraku, pergi sajalah.”

Ah Fei kelihatan sangat gusar, “Pergi?”

Li Xun Huan tersenyum, “Dengan adanya Tuan Zhao yang Terhormat dan Tuan Ketujuh Tian yang terkenal seantero dunia, mana mungkin seorang pemuda yang tidak dikenal bisa membunuh Si Bandit Bunga Plum? Apapun yang kau katakan akan sia-sia belaka.”

Ah Fei menggenggam pedangnya kuat-kuat. Katanya dingin, “Aku pun tak ingin bicara dengan orang-orang ini. Tapi pedangku…”

Kata Li Xun Huan, “Walaupun kau bunuh mereka semua, tetap tidak ada yang akan percaya bahwa kau telah membunuh Si Bandit Bunga Plum. Tidakkah kau mengerti?”

Mata Ah Fei menjadi suram, “Kau benar. Kini aku mengerti. Aku mengerti…”

Li Xun Huan terkekeh, “Jika kau ingin jadi terkenal, kau harus ingat hal ini. Kalau tidak, cepat atau lambat kau akan berakhir seperti aku, menjadi seorang bandit bunga plum.”

Kata Ah Fei, “Jadi maksudmu, jika aku ingin jadi terkenal, aku harus mengikuti kehendak orang lain, bukan?”

Sahut Li Xun Huan, “Tebakanmu sangat tepat. Jika kau biarkan para ‘pahlawan’ inilah yang mendapatkan semua pujian, mereka akan mengangkat engkau sebagai pemuda bermasa depan cerah. Lalu setelah 10 atau 20 tahun, setelah mereka semua mati, kau akan jadi terkenal.”

Ah Fei berdiri mematung untuk sekian lama, lalu ia tersenyum.

Katanya, “Sepertinya aku tak akan mungkin jadi terkenal.”

Sahut Li Xun Huan, “Mungkin itu lebih baik.”

Ketika ia melihat senyuman Ah Fei, senyum Li Xun Huan pun terasa lebih alami. Senyuman mereka seolah-olah sedang membicarakan masalah yang paling menarik di seluruh dunia.

Semua orang memandang kedua orang ini, tak menyadari apa permasalahan pada diri mereka. Tiba-tiba Ah Fei melayang ke samping Li Xun Huan. Ditariknya lengan Li Xun Huan dan berkata, “Ketenaran adalah masalah kecil. Namun hari ini kita bisa bertemu, itu harus dirayakan dengan anggur.”

Sahut Li Xun Huan, “Biasanya aku tak mungkin menolak minum anggur. Tapi hari ini…”

Tian Qi menyambungnya, “Sayangnya hari ini dia tidak bisa.”

Ah Fei berkata dengan dingin, “Kata siapa?”

Tian Qi melambaikan tangannya. Dua orang bertubuh kekar maju. Salah seorang berkata, “Tuan Ketujuh Tian yang mengatakannya. Semua orang tunduk pada kata-katanya.”

Yang seorang lagi menyambung, “Yang membangkang, harus mati!”

Walaupun mereka kelihatannya seperti pelayan, kecepatan mereka maju ke muka menandakan bahwa ilmu silat mereka cukup tinggi.

Selagi mereka masih berbicara, dua batang golok baja berputar sangat cepat, menjadi seperti dua pelangi terbang. Menggulung angin yang dahsyat, kedua golok ini menyambar ke arah Ah Fei. Satu dari kiri, satu dari kanan. Satu ke atas, satu ke bawah. Menebas secepat kilat ke pundak Ah Fei.

Ah Fei hanya menghadapi serangan mereka dengan tatapan dingin. Ia tidak bergerak sama sekali. Tiba-tiba terlihat sekilat cahaya. Dan sekilat lagi. Lalu terdengar dua jerit kesakitan. Dua golok terlontar ke udara. Kedua lengan kiri kedua orang itu memegangi lengan kanan mereka. Wajah mereka sungguh kesakitan. Darah mengalir deras dari antara jari-jari mereka.

Namun pedang Ah Fei masih terselip di pinggangnya. Tidak ada yang melihat dia menghunus pedangnya. Namun kini dari ujung pedangnya menetes darah segar.

Pedang yang luar biasa cepat!

Senyum Tian Qi pun lenyap.

Ah Fei berkata dengan tenang, “Kata-kata Tuan Ketujuh adalah perintah. Sayangnya, pedangku tidak patuh pada perintah. Dia hanya tahu membunuh orang.”

Wajah kedua orang itu sungguh terpana. Mereka mundur beberapa langkah sebelum lari keluar keluar. Pedang memang tak bisa memberi perintah, namun kadang-kadang mereka lebih efektif daripada perintah siapapun juga.

Ah Fei menarik lengan Li Xun Huan, “Mari kita pergi minum arak. Aku tak percaya masih ada orang yang berani menghalangi kita.”

Sebelum Li Xun Huan menjawab, Long Xiao Yun bertanya, “Jika kau ingin dia pergi, mengapa tak kau buka saja jalan darahnya?”

Mulut Ah Fei terkunci. Hati Li Xun Huan tercekat. Ia teringat kejadian hari itu…

Hari itu Ah Fei menangkap Hong Han Min dan meninggalkan dia untuk Li Xun Huan.

Hari itu Li Xun Huan pun merasa heran. Mengapa Ah Fei tidak menutup saja jalan darahnya? Kini ia mengerti sebabnya!

Pedang pemuda ini mungkin tiada tandingannya, tapi ia tidak tahu apa-apa tentang ilmu totok!

Hati Li Xun Huan langsung merosot, namun wajahnya tetap tenang. Katanya sambil tersenyum, “Hari ini aku tak punya uang untuk mentraktirmu.”

Ah Fei berpikir sejenak, lalu berkata, “Hari ini aku yang traktir.”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tidak akan pernah minum anggur yang tidak kubeli dengan uangku sendiri.”

Ah Fei menatapnya. Di wajahnya yang kaku tersirat kesedihan.

Ia mengerti, Li Xun Huan tidak ingin membahayakan dirinya.

Jika ia tidak dapat membuka jalan darah Li Xun Huan, ia harus menggendong Li Xun Huan keluar. Jika ia menggendong Li Xun Huan, maka kemungkinan mereka berdua tak akan bisa keluar lagi selamanya.

Mata Tian Qi berbinar lagi. Ia memandang wajah mereka satu per satu, lalu tersenyum dan berkata, “Li Xun Huan memang adalah pria sejati. Ia tidak mau menyeret orang lain jatuh bersamanya. Sobat muda, sudah saatnya kau pergi.”

Li Xun Huan tahu bahwa rase tua ini melihat di mana kelemahan Ah Fei. Oleh sebab itu ia berkata cepat, “Kau tak perlu memancing dia. Ia tak akan terpengaruh. Lagi pula, walaupun sambil menggendong aku, belum tentu kalian semua dapat mengalahkan dia.”

Ia melanjutkan lagi, “Kau pun tahu aku tak akan pergi dengannya. Jika aku pergi dengan dia sekarang, aku tak akan punya kesempatan untuk membersihkan namaku.”

Kata-kata ini ditujukan pada Ah Fei.

Ah Fei berdiri menatapnya, lalu berkata, “Kalau mereka berkata bahwa engkau adalah Si Bandit Bunga Plum, maka engkau pasti adalah Si Bandit Bunga Plum, bukan?”

Li Xun Huan tertawa, “Kata-kata sebagian orang memang tidak bisa dibedakan dari kentut yang besar.”

Ah Fei bertanya, “Lalu mengapa kau harus peduli jika mereka hanya kentut?”

Tiba-tiba diputarnya tubuhnya dan diangkatnya Li Xun Huan, digendong di punggungnya. Saat itulah Tian Qi bergerak. Bayangan tongkatnya terlihat menusuk ke sebelas titik jalan darah yang terpenting di dada Ah Fei. Jika ujung tongkatnya menyentuh tubuh Ah Fei sedikit saja, maka Ah Fei tidak akan mungkin bergerak lagi.

Ah Fei tidak berusaha menghunus pedangnya!

Ia memang seperti Li Xun Huan. Jika pedangnya terhunus, dia pasti meminta darah.

Namun saat ini, ia tidak tahu bagaimana caranya mengalahkan Tian Qi.

Semua orang memandang bayangan tongkat Tian Qi dengan tegang. Ilmu totok Tian Qi adalah salah satu yang terbaik dalam dunia persilatan, namun sepertinya ia sulit sekali menundukkan anak muda ini.

Zhao Zheng Yi berkata, “Membunuh Si Bandit Bunga Plum adalah penghargaan yang tertinggi. Mengapa ada orang yang menyia-nyiakan kesempatan baik ini?”

Sebelum kalimatnya selesai, tujuh orang telah menghunus senjata mereka. Semuanya tertuju pada Li Xun Huan. Lin Xian Er segera menghampiri Long Xiao Yun dan berkata, “Saudara Keempat, mengapa kau tak menghentikan mereka?”

Long Xiao Yun menyahut, “Kau tidak bisa lihat bahwa jalan darahku telah ditutup?”

Saat itu terdengarlah bunyi yang keras. Tiga orang telah jatuh ke tanah.

Akhirnya Ah Fei menghunus pedangnya!

Ia mungkin tak bisa melukai Tian Qi, namun jika ada yang mencari kematian, pedangnya hanya dapat memberikan bantuan. Darah terlihat di sela-sela kilatan pedang. Jubah Li Xun Huan pun telah bersimbah darah.

Kini semua senjata telah disimpan kembali. Semua senjata, kecuali tongkat pendek Tian Qi, yang serupa ular meliuk-liuk menyerang titik-titik jalan darah Ah Fei.

Lin Xian Er mendesah dan berkata, “Tuan Zhao yang Terhormat adalah pria sejati. Tidak mungkin ia akan main keroyok.”

Mata Zhao Zheng Yi langsung berbinar, katanya, “Tapi menghadapi orang macam Si Bandit Bunga Plum tak perlulah kita memperhatikan aturan dunia persilatan!”

Diraihnya tombak panjang yang berada di sampingnya. Langsung diserangnya punggung Li Xun Huan.

Ternyata reputasinya memang hanya kosong melompong. Gerakan Zhao Zheng Yi cukup mengagumkan.

Tongkat dan tombak itu lebih panjang daripada pedang pendek Ah Fei, sehingga posisinya kurang menguntungkan. Dan lagi, ada seseorang di atas punggungnya.

Pada awalnya, Tian Qi ingin mengambil keuntungan dari senjatanya yang lebih panjang untuk mengalahkan Ah Fei. Namun ia selalu luput pada saat yang terakhir, entah bagaimana.

Setelah begitu banyak jurus, ia baru menyadari bahwa anak muda ini tidak pernah menyerang sekali pun. Namun gerakan Ah Fei sungguh luar biasa. Pada saat ia akan menutup jalan darah Ah Fei, anak muda ini bisa berkelit dengan misterius.

Tian Qi cukup berpengetahuan dalam ilmu silat, namun ia tidak bisa menduga ilmu aliran mana yang digunakan anak muda ini.

Tiba-tiba terpikir olehnya suatu ide. Ia tersenyum, “Sobat muda, mengapa tak kau turunkan saja dia. Kalau tidak, sebelum dia menyeretmu jatuh bersamanya, kaulah yang akan menyeret dia jatuh bersamamu.”

Ah Fei mengertakkan giginya, “Jika kau ingin aku menurunkannya, mengapa kau terus menyerang aku?”

Tian Qi segera menarik tongkatnya dan mundur beberapa langkah. Tombak Zhao Zheng Yi pun terhenti di tengah jalan dan ditarik kembali.

Ah Fei tidak memandang mereka sama sekali. Didudukkannya Li Xun Huan pada sebuah kursi. Wajah Li Xun Huan merah padam. Namun dia berusaha keras menahan diri untuk tidak terbatuk. Ia kuatir kalau batuknya akan mengganggu konsentrasi Ah Fei.

Ah Fei memandang Li Xun Huan, lalu memutar badannya memandang Zhao Zheng Yi dan berkata, “Aku menyesal akan satu hal. Waktu itu, mengapa tak kubunuh kau?”

Selagi berbicara, pedangnya pun terhunus.

Kecepatan pedang ini memang tak terkatakan. Bagaimana mungkin Zhao Zheng Yi dapat menghindarinya. Tepat saat darah akan tertumpah, terdengar suara dari luar, “Amitabha.” Selagi berbicara, sesosok bayangan dari luar masuk ke dalam. Waktu suku kata kedua terdengar, bayangan itu telah berada di belakang Ah Fei. Awalnya Ah Fei akan menyerang Zhao Zheng Yi, namun tiba-tiba dibaliknya pedangnya ke arah sebaliknya, menyerang bayangan itu.

Setelah itu terdengar suara keras, pedangnya menghantam bayangan itu, yang ternyata adalah tasbih pendeta.

Pedangnya masih bergetar, namun Ah Fei tetap berdiri tidak bergeming.

Kini fajar telah tiba.

Berbarengan dengan sinar matahari pagi, enam pendeta berpakaian kelabu masuk ke dalam bangsal. Yang paling depan beralis putih, namun wajahnya masih terang dan pandangan matanya berbinar-binar.

Dibukanya telapak tangannya. Tasbih itu pun kembali ke tangannya.

Setelah pulih dari rasa terkejutnya, Zhao Zheng Yi menenangkan dirinya. Ia membungkuk di depan pendeta beralis putih itu, “Aku tidak tahu bahwa pendeta akan datang. Maaf aku tidak menyambutmu di luar.”

Pendeta beralis putih itu hanya tersenyum. Matanya terarah pada Ah Fei. Lalu katanya, “Pedangmu cepat sekali.”

Kata Ah Fei, “Jika pedangku tidak cepat, aku rasa kau datang tepat waktu untuk menunjukkan kepadaku arah ke neraka.”

Pendeta beralis putih itu berkata, “Aku hanya tak ingin melihat kematian lagi. Oleh sebab itu aku bergerak. Walaupun pedangmu cepat, namun tidak akan lebih cepat daripada mata Sang Buddha.”

Sahut Ah Fei, “Apakah tasbihmu lebih cepat daripada mata Sang Buddha? Jika aku mati oleh tasbihmu, bukankah itu berarti kematian juga?”

Zhao Zheng Yi memotong cepat, “Berani-beraninya kau bicara seperti itu pada seorang Tetua Shaolin!”

Pendeta beralis putih itu hanya tersenyum, “Tidak apa-apa. Mulut anak muda ini setajam pedang juga.”

Tiba-tiba Lin Xian Er tersenyum dan berkata, “Pendeta Xin Mei telah melepaskanmu. Cepatlah pergi sekarang.”

Zhao Zheng Yi berkata dingin, “Kurasa dia tidak bisa lagi pergi sekarang!”

Sahut Ah Fei, “O ya? Kau kira kau bisa menghalangi aku sekarang?”

Sambil berbicara, ia telah melangkah ke luar.

Wajah Zhao Zheng Yi berubah. Katanya, “Pendeta…”

Tian Qi cepat-cepat menyela, “Tetua Xin Mei sungguh pemaaf. Ia hanya seorang pemuda. Biarkanlah ia pergi.”

Xin Mei berbicara dengan serius, “Aku datang setelah menerima surat dari Kepala Shaolin, bahwa seorang murid Shaolin, Qin Zhong, telah terluka parah. Maka aku segera datang.”

Zhao Zheng Yi mendesah. Lalu melirik pada Li Xun Huan, “Sayang pendeta datang terlambat.”

Kini di luar sudah terang. Orang-orang mulai berlalu-lalang di jalan. Ah Fei berjalan di atas salju. Walaupun langkahnya ringan, hatinya sangat berat.

Lalu didengarnya suara orang berseru, “Tunggu! Tunggu!”

Suara itu jernih dan merdu. Ah Fei tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang mengerjar di belakang.

Ini karena semua orang di jalan kini berhenti bicara dan berhenti berjalan. Mereka semua bengong seperti orang tolol memandang orang di belakang Ah Fei.

Ah Fei tidak menoleh. Ia terus berjalan.

Lalu tercium bau harum di belakangnya. Keharumannya sungguh memabukkan. Mau tidak mau, dipalingkannya wajahnya.

Lin Xian Er masih tetap cantik dan menggairahkan.

Mata Ah Fei masih sedingin salju.

Lin Xian Er menundukkan kepalanya. Mukanya bersemu merah, “Aku ingin minta maaf. Aku…”

Kata Ah Fei, “Kau tak perlu minta maaf.”

Lin Xian Er menggigit bibirnya, “Tapi orang-orang itu sungguh salah. Dan begitu kasar.”

Sahut Ah Fei, “Itu tidak ada hubungannya dengan engkau.”

Kata Lin Xian Er, “Tapi kau telah menyelamatkan aku. Bagaimana aku…”

Sahut Ah Fei, “Aku menyelamatkanmu. Aku tidak menyelamatkan mereka. Aku tidak menyelamatkanmu untuk memohon maaf atas kesalahan mereka.”

Lalu ia bertanya lagi, “Ada lagi yang ingin kau katakan?”

Lin Xian Er terdiam. Ia tidak pernah bertemu dengan orang seperti ini. Ia selalu yakin bahwa gunung es sedingin apapun akan mencair di hadapannya.

Lalu Ah Fei berkata, “Selamat tinggal.”

Ia membalikkan badan dan berjalan lagi. Baru beberapa langkah, Lin Xian Er berseru lagi, “Tunggu sebentar. Ada lagi yang hendak kusampaikan.”

Sahut Ah Fei, “Tidak perlu.”

Namun kata Lin Xian Er, “Tapi… jika sesuatu terjadi pada Li Xun Huan, siapakah yang harus kuberi tahu?”

Ah Fei menoleh cepat dan berkata, “Kau tahu penginapan kecil Shen di sebelah barat?”

Sahut Lin Xian Er, “Jangan lupa, aku sudah tinggal di sini enam tahun.”

“Aku akan berada di situ. Sebelum gelap aku tak akan pergi.”

Lalu Lin Xian Er bertanya, “Dan setelah malam?”

Ah Fei menengadah memandang langit. Katanya, “Jangan lupa, Li Xun Huan adalah sahabatku. Aku tidak punya banyak teman. Dan sahabat seperti Li Xun Huan, tidak mungkin dicari gantinya. Jadi kalau dia mati, dunia ini akan menjadi sangat membosankan.”

Lin Xian Er mengeluh, “Aku tahu kau pasti masih berencana untuk menyelamatkannya. Tapi tahukah engkau, sahabat sebaik apa pun tidak berharga sebesar nyawamu.”

Ah Fei memandang Lin Xian Er dalam-dalam, langsung ke bola matanya. Katanya perlahan tapi tegas, “Aku sungguh-sungguh berharap kau tidak akan pernah mengatakannya lagi. Kali ini, aku akan berpura-pura tidak mendengar.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: