Kumpulan Cerita Silat

07/11/2008

Pisau Terbang Li (07)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 1:58 am

Tidak Sengaja Melukai Anak Sahabat

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Setelah Li Xun Huan minum anggur, obat penawarnya bekerja lebih cepat. Setelah dua belas jam, tenaganya berangsur-angsur pulih.

Hari sudah mulai fajar. Sang Kusir sama sekali tidak terlelap, namun ia tetap bersemangat. Hanya saja karena minum terlalu banyak, kepalanya terasa berdenyut-denyut.

Tuan Mei Er memukul-mukul kepalanya, “Sialan. Sialan. Sudah pagi lagi.”

“Kenapa kalau sudah pagi?”

Kata Tuan Mei Er, “Kalau sedang minum, hal yang paling kubenci adalah fajar. Selama di luar masih gelap, aku bisa minum selama-lamanya. Tapi kalau sudah tampak cahaya matahari, aku tidak bernafsu lagi untuk minum.”

Li Xun Huan masih berbaring. Di bibirnya terbayang seulas senyum, “Bukan hanya kau. Itu problem semua pemabuk.”

Sahut Mei Er, “Kalau begitu, sebelum betul-betul terang, mari cepat-cepat kita minum arak ini.”

Li Xun Huan tertawa, “Kurasa kakakmu akan kesal melihat bagaimana kita minum.”

Sahut Mei Er, “Makanya dia sudah tidur dari tadi. Kalau dia tidak melihat kejadiannya, ia takkan merasa gelisah.”

Li Xun Huan hendak minum lagi, namun ia mulai batuk-batuk.

Mei Er memandangnya dan tiba-tiba bertanya, “Berapa lama suda kau batuk seperti ini?”

“Mungkin sepuluh tahun.”

Mei Er berpikir sebentar, lalu berkata, “Kalau begitu, seharusnya kau tidak minum lagi. Batuk terlalu banyak tidak baik untuk hatimu. Kalau kau terus minum…”

Li Xun Huan memotong sambil tertawa, “Tidak baik untuk hatiku? Hatiku sudah rusak total.”

Tiba-tiba ia berhenti bicara. Matanya menyelidik. Ia berkata perlahan, “Ada yang datang.”

Kata Mei Er, “Orang yang datang pagi-pagi buta seperti ini pasti bukan tamu kakakku. Kurasa mereka datang mencari aku.”

Ia mendengar suara itu dengan jelas sekarang. Ada beberapa orang yang datang. Langkah mereka semua sangat ringan.

Dan seseorang berbicara lantang, “Apakah di sini betul Klinik Keluarga Mei?”

Sesaat kemudian terdengarlah suara Mei Da, “Datang pagi-pagi buta macam ini, kalian perampok atau pencuri?”

Orang itu menjawab, “Kami datang berkunjung, bukan untuk merampok atau mencuri. Kami membawa hadiah.”

Mei Da tertawa dingin, “Datang membawa hadiah di pagi buta? Maksud kalian pasti tidak baik. Silakan pergi.”

Kata orang itu sambil tertawa, “Jikalau demikian, aku harus membawa pulang lukisan Wang Muo Jie ini.”

Sebelum kalimatnya selesai, pintu sudah terbuka lebar.

Mei Er mengangkat alisnya, katanya, “Orang-orang ini menyelidiki kesukaan kakakku sebelum datang. Mereka pasti menginginkan sesuatu. Mari kita dengarkan apa permintaan mereka.”

Ia tidak keluar dari ruangan. Dibukanya pintu sedikit saja untuk melihat siapa yang datang.

Ada tiga orang. Yang pertama berusia tiga puluhan. Tubuhnya pendek, wajahnya seram. Matanya berkilat-kilat. Tangannya memegang sebuah kotak panjang.

Orang yang kedua wajahnya seperti buah prun. Jenggotnya panjang sampai ke pinggang. Ia mengenakan jubah ungu. Wajahnya gagah. Tampak seperti seorang pemimpin.

Yang ketiga adalah seorang anak berusia sepuluh tahunan. Mukanya bundar, matanya bundar. Ia mengenakan baju warna merah dengan leher bulu kelinci. Seperti Anak Merah kecil yang didandani.

Selain anak ini, kedua orang yang lain tampak kuatir dan tidak sabar.

Orang berwajah seram itu memegang kotak dan membungkuk ke arah Mei Da. Katanya, “Lukisan ini dibeli oleh majikanku seharga 1000 tail emas. Telah diselidiki keasliannya. Bukalah.”

Mata Mei Da memang tidak pernah lepas dari kotak itu. Namun sahutnya, “Tidak mungkin kau menghadiahkannya kepadaku dengan cuma-cuma. Apa yang kau inginkan?”

Orang itu tersenyum, “Kami hanya ingin tahu di mana Mei Er berada.”

Mei Da langsung bernafas lega, katanya, “Mudah saja.”

Segera disambarnya kotak itu dari tangan orang itu. Teriaknya, “Adik kedua, keluarlah. Ada yang ingin bertemu.”

Mei Er menghela nafas, menggelengkan kepala kesal, “Kurang ajar. Setelah kau dapatkan lukisan, kau tak peduli pada adikmu sendiri.”

Orang tua berjubah ungu dan orang berwajah seram itu langsung melihat Mei Er. Wajah keduanya tampak gembira. Hanya anak kecil itu yang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu bertanya, “Lihatlah orang ini. Apakah dia kelihatan seperti orang yang bisa menyembuhkan?”

Sahut Mei Er, “Aku tak bisa menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi aku takkan membunuh orang yang sakit ringan. Aku ada di tengah-tengah.”

Orang tua berjubah ungu itu kuatir anak itu akan salah bicara lagi, sehingga cepat-cepat dikatakannya, “Telah lama kudengar bahwa kau memiliki ‘tangan yang bisa menghadirkan musim semi’. Jadi aku datang, berharap bisa membawamu pergi sebentar. Berapa banyak uang yang kau minta, aku dapat membayarnya di muka.”

Mei Er tertawa, “Sepertinya kau sudah paham dengan kebiasaanku. Tidakkah kau takut aku akan melarikan diri?”

Orang tua berjubah ungu terdiam, seakan-akan hendak berkata bahwa Mei Er tidak mungkin dapat melarikan diri.

Orang yang pendek itu pun kemudian memaksakan diri tertawa, dan berkata, “Jika Tuan Mei Er bersedia pergi, kami akan memberikan lebih daripada sekedar emas dan perak.”

Mei Er melanjutkan lagi, “Selain pembayaran, tahukah kau bahwa aku punya kebiasaan lain? Perampok tak akan kurawat. Pencuri tak akan kesembuhkan.”

Orang pendek itu tersenyum sambil berkata, “Namaku adalah Ba Ying. Walaupun aku bukan siapa-siapa, orang ini, Qin Xiao Yi, Tuan Qin cukup terkenal dalam dunia persilatan. Pasti Tuan Mei Er pernah mendengar tentang dia.”

Sahut Mei Er sambil memandang orang berjubah ungu itu, “Qin Xiao Yi? Engkau adalah ‘Si Semangat Baja Terbentang ke Delapan Arah’ Qin Xiao Yi?”

Sahut Ba Ying, “Benar. Ia adalah majikanku.”

Mei Er menganggukkan kepalanya, katanya, “Kelihatannya kau cukup bonafid. Baiklah. Datang beberapa hari lagi, dan mungkin aku akan pergi denganmu.

Sebelum ia selesai bicara, Anak Merah itu telah melompat, dan berteriak, “Orang ini sombong betul. Hei, kenapa kita harus membuang-buang waktu berbicara dengan dia? Kita tangkap saja, masalah selesai.”

Ba Ying menarik baju anak ini, dan memaksakan untuk tersenyum, “Jika penyakitnya tidak kritis, tidak apalah menunggu beberapa hari. Tapi kita tidak dapat menunggu bahkan beberapa jam saja.”

Sahut Mei Er, “Jadi pasienmu penting, dan pasienku tidak penting?”

Kata Ba Ying, “Maksud Tuan Mei Er, kau punya pasien di sini?”

“Betul sekali. Sebelum aku memulihkannya aku tak bisa pergi.”

Ba Ying berkata terbata-bata, “Ta..tapi pasienku adalah putra tertua Qin Xiao Yi. Ia adalah murid terbaik Shaolin.”

Sergah Mei Er tak senang, “Lalu kenapa kalau dia adalah putra Qin Xiao Yi. Atau murid Shaolin. Apakah menurutmu dia lebih berharga daripada pasienku?”

Saat ini amarah Qin Xiao Yi sudah meluap, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa.

Mata Anak Merah itu berputar, lalu berkata tiba-tiba, “Bagaimana jika pasienmu mati?”

Mei Er tertawa dingin, “Jika dia mati, tentu saja aku tak perlu lagi merawat dia. Sayangnya, dia tidak mungkin mati.”

Si Anak Merah tertawa cekikikan, katanya, “Jangan terlalu yakin.”

Secepat kilat ia lari masuk ke ruang dalam. Bahkan Sang Kusir pun terpana. Ba Ying dan Qin Xiao Yi hanya saling pandang, namun tidak mencegah anak itu.

Setelah ada di dalam ruangan, Anak Merah itu langsung melihat pada Li Xun Huan, katanya sombong, “Jadi kaulah pasien itu.”

Li Xun Huan tersenyum, “Adik kecil, benarkah kau ingin aku mati sekarang juga?”

Si Anak merah menjawab, “Betul. Jika kau mati, maka si tua bangka itu bisa pergi merawat Kakak Qin.”

Selagi ia masih berbicara, tiga anak panah kecil telah melesat dari lengan bajunya, terarah pada dahi dan tenggorokan Li Xun Huan. Kecepatan dan tenaganya kuat sekali.

Tak ada yang mengira bahwa anak sepuluh tahun ini sungguh berbisa. Jika orang itu bukan Li Xun Huan, pasti ia sudah tergeletak mati.

Namun Li Xun Huan dengan tenang melambaikan tangannya dan menangkap ketiga panah itu. Katanya kemudian, “Kau masih sangat muda, tapi sudah begitu kejam. Aku tak bisa membayangkan seperti apa engkau setelah dewasa.”

Si Anak Merah tertawa dingin, “Kau pikir hanya dengan mempertontonkan kepintaranmu menangkap panah, lalu kau bisa mengguruiku?”

Tiba-tiba, sambil membalikkan badan, dihunusnya sebilah pedang pendek. Dan sebelum berakhir kalimatnya, tujuh sabetan telah menyerang Li Xun Huan.

Anak ini bukan hanya cepat dan gesit, ia juga sangat berbahaya. Banyak pendekar yang lebih berpengalaman pun tak bisa menandinginya. Ia bertempur, seolah-olah lawannya adalah musuh bebuyutannya, dan satu-satunya keinginannya adalah melubangi tubuh Li Xun Huan dengan pedangnya.”

Kata Li Xun Huan, “Sungguh, anak ini akan tumbuh menjadi Yin Wu Ji berikutnya.”

Kata Sang Kusir, “Walaupun julukan Yin Wu Ji adalah Si Pedang Darah, ia tidak pernah membunuh orang yang tidak berdosa. Tapi anak ini…”

Si Anak Merah tersenyum seperti setan kecil, “Bagaimana dengan Yin Wu Ji. Aku sudah membunuh orang sejak umur tujuh tahun. Bagaimana dengan dia?”

Ia melihat Li Xun Huan masih tetap duduk di tempat yang sama, maka diubahlah jurus-jurusnya. Semakin dahsyat dan mematikan.

Li Xun Huan tersenyum getir, “Betul sekali. Bahkan Yin Wu Ji pun mungkin tidak sekejam ini dalam usia semuda engkau.”

Wajah Sang Kusir menjadi kelam, “Jika ia tumbuh dewasa, ia pasti berbahaya untuk masyarakat. Mungkin…”

Si Anak Merah telah mengeluarkan seratus jurus, namun belum juga bisa menang. Akhirnya ia menyadari bahwa dia telah bertemu lawan yang sangat tangguh. Ia merasa sangat marah, sampai matanya pun menjadi merah. Dikertakkan giginya dan katanya, “Tahukah kau siapa orang tuaku? Jika kau lukai aku, mereka akan mencincangmu hidup-hidup.”

Li Xun Huan menjadi berang, katanya, “Jadi hanya kau saja yang boleh membunuh orang, tapi mereka tidak boleh melukaimu?”

Sahut Si Anak Merah, “Jika kau memang punya nyali, silakan saja bunuh aku.”

Li Xun Huan merasa ragu-ragu untuk sesaat. Lalu katanya, “Aku masih tidak ingin membunuhmu, sebab engkau masih sangat muda. Dengan didikan yang baik, engkau masih ada kesempatan menjadi orang yang baik. Pergilah sekarang, sebelum aku berubah pikiran.”

Anak Merah inipun tahu bahwa kali ini dia tidak punya kesempatan untuk menang. Ditariknya pedangnya, lalu bertanya, “Ilmu silatmu sungguh hebat. Siapakah engkau? Mengapa aku belum pernah bertemu denganmu?”

Sahut Li Xun Huan, “Kau tanyakan namaku, supaya bisa membalas dendam?”

Tiba-tiba di wajah Si Anak Merah terbayang senyum yang sangat lugu, katanya, “Kau tidak membunuhku, mengapa aku harus membalas dendam? Aku sungguh menghormati engkau. Aku telah mengeluarkan seratus tujuh jurusku, namun engkau tidak bergerak sejengkalpun.”

Mata Li Xun Huan bercahaya, “Kau ingin belajar dariku?”

Si Anak Merah menjadi sangat girang, tanyanya, “Benarkah kau mau menerima aku sebagai muridmu?”

Li Xun Huan tersenyum, “Jika aku dapat membantu orang tuamu untuk menjagamu, mungkin kau masih punya kesempatan di kemudian hari.”

Sebelum ia selesai bicara, Anak Merah ini telah berlutut di hadapannya, katanya, “Didiklah aku, dan terimalah sembah sujud murid.”

Waktu kata ‘murid’ diucapkannya, tiga kilat sinar melesat dari belakang bajunya.

Tubuh anak ini penuh senjata rahasia.

Li Xun Huan terkejut setengah mati. Jika ia belum berpengalaman, dan jika gerak refleksnya tidak secepat kilat, ia pasti sudah mati di tangan anak ini.

Si Anak Merah, waktu melihat Li Xun Huan belum mati juga, segera bangkit, dan berteriak, “Kau pikir kau ini siapa? Berani-beraninya kau hendak mendidikku menggantikan orang tuaku. Kau pikir kau pantas jadi guruku?”

Wajah Sang Kusir menjadi sedingin es dan berkata, “Seseorang yang punya hati berbisa seperti ini, tidak pantas hidup.”

Li Xun Huan menghela nafas. Diputarnya telapak tangannya dan dihempaskannya ke depan.

Qin Xiao Yi dan Ba Ying tahu bahwa Si Anak Merah masuk ke dalam untuk membunuh orang. Namun seincipun mereka tidak bergerak.

Mei Da melamun memandangi lukisan barunya. Tak peduli apapun yang sedang terjadi di dunia.

Sebaliknya Mei Er bertanya, “Anak yang kalian bawa, saat ini sedang berusaha membunuh orang. Dan kalian diam saja?”

Ba Ying mengangkat tangannya dan tersenyum, “Jujur saja, walaupun kami mau, kami tak dapat mencegahnya.”

Mei Er tersenyum dingin, “Namun kalau dialah terbunuh hari ini, pedulikah engkau?”

Ba Ying tidak menjawab, namun tetap tersenyum.

Kata Mei Er, “Melihat ekspresimu, aku tahu bahwa dalam pandanganmu ilmu silatnya cukup tinggi. Jadi hanya dialah yang dapat membunuh orang. Orang lain takkan sanggup membunuhnya, bukan?”

Ba Ying hanya dapat menahan tawanya, “Jujur saja, ilmu silatnya memang hebat. Banyak pesilat tangguh telah mati di tangannya. Dan lagi, ia punya ayah dan ibu yang hebat. Walaupun banyak orang telah dirugikan, mereka tak dapat berbuat apa-apa.”

“Jadi orang tuanya tidak mau mengaturnya?”

‘Untuk anak sepandai ini, orang tua sebaiknya tidak mengekang terlalu keras.”

Sahut Mei Er, “Kau benar. Waktu orang tuanya melihat dia membunuh orang, mereka mungkin menegurnya di depan orang-orang. Namun dalam lubuk hati mereka, mereka lebih bahagia dari siapapun juga. Sayangnya, hari ini ia bertemu dengan pasienku. Hari ini hari sialnya.”

Lanjut Mei Er, “Pasienku hanya perlu mengibaskan tangannya, dan nyawa anak itupun akan melayang.”

Ba Ying tertawa, “Hanya mengibaskan tangannya untuk membunuh dia? Aku rasa tidak mungkin. Maksudmu, pasien itu adalah Li Tan Hua, Si Pisau Terbang pencabut nyawa, yang tak pernah luput?”

Mei Er mendesah, “Jujur saja, pasienku ini memang Li Xun Huan.”

Waktu didengarnya kalimat ini, wajah Ba Ying langsung pucat pasi. Dia tertawa kering, “Mengapa kau… bercanda seperti ini?”

Sahut Mei Er, “Jika kau tidak percaya, lihat saja sendiri.”

Ba Ying segera merangsak ke dalam sambil berteriak, “Pahlawan Li, Li Tan Hua, sayangkanlah nyawanya!”

Mei Er mengeluh, “Orang-orang yang mengaku gagah ternyata kosong melompong. Hanya hidup anak-anaknya sendiri yang dianggap berharga. Hidup orang lain tak ada artinya. Hanya mereka yang boleh membunuh. Orang lain tak boleh menyentuh mereka.”

Di wajah Qin Xiao Yi yang tegang tiba-tiba terbentuk seulas senyuman.

Ia berusaha keras untuk menahan senyumnya. Malahan berkata, “Jika Li Xun Huan berani membunuh anak itu, ia akan menyesal seumur hidup.”

Waktu telapak tangan Li Xun Huan maju, tidak tampak adanya gerakan yang aneh.

Walaupun Si Anak Merah masih kecil, ia sudah berpengalaman. Ia melihat telapak tangan itu, namun tidak menghindar atau menangkis. Ia pikir, lawan hanya berusaha mengalihkan perhatiannya, dan jurus yang mematikan akan datang sesudahnya. Ia hanya terus menyabetkan pedangnya.

Telapak tangan itu tidak mengandung jurus, namun pedang dapat berubah arah sewaktu-waktu. Walaupun telapak tangan Li Xun Huan dapat memukul anak itu, pedang anak itu pun dapat melukai Li Xun Huan.

Jurus-jurus pedangnya sungguh hebat. Hanya sedikit pesilat saja yang mampu menandingi kecepatannya, tenaganya, ketepatannya, dan perhitungannya. Bukan gurunya yang hebat. Anak ini memang mempunyai bakat alami.

Tapi sayang, kali ini ia berhadapan dengan Li Xun Huan.

Walaupun telapak tangannya tidak mengandung jurus, gerakan sangat sangat cepat. Kecepatannya tak terbayangkan.

Jadi berapa banyak gerak tipu yang dikuasai Si Anak Merah, ia takkan sempat menggunakannya. Sebelum pedangnya mengenai Li Xun Huan, telapak tangannya telah memukul dada anak itu.

Namun Si Anak Merah tidak merasa sakit. Ia hanya merasa suatu sensasi yang aneh menjalar ke sekujur tubuhnya. Rasanya seperti sehabis minum anggur hangat.

Pada saat yang sama, seseorang menubruk masuk sambil berteriak, “Pahlawan Li. Sayangkanlah nyawanya!”

Namun Si Anak Merah telah telentang di tanah. Seakan-akan baru bangun dari tidur. Badannya terasa lemah sekali, dan ia tidak bisa bergerak.

Tanya Ba Ying kuatir, “Tuan Muda Yun, engkau baik-baik saja?”

Si Anak Merah menyadari ada sesuatu yang salah. Matanya merah, “Sep… sepertinya aku telah dilukai dengan dalam oleh orang ini. Cepat. Beritahu ayahku untuk datang membalas dendam.”

Lalu ia pun menangis meraung-raung.

Ba Ying tak tahu apa yang harus dilakukannya. Keringat bercucuran dari dahinya.

Sang Kusir berkata dingin, “Kungfu anak ini telah dimusnahkan, namun setidaknya ia tetap hidup. Itu hanya karena Tuan Mudaku sungguh welas asih. Jika itu aku….”

Ba Ying pura-pura tidak mendengar.

“Jika kau ingin membalas dendam, silakan saja.”

Ba Ying diam saja. Lalu ia berlutut di depan Li Xun Huan.

Li Xun Huan terperangah, tanyanya, “Apa hubunganmu dengan anak ini?”

Sahut Ba Ying, “Namaku Ba Ying. Li Tan Hua pasti tidak mengenal aku. Namun aku mengenal Li Tan Hua.”

Kata Li Xun Huan, “Bagus. Jika orang tua anak ini ingin membalas dendam, beri tahu mereka untuk mencariku.”

Si Anak Merah terus menangis meraung-raung, dan berteriak-teriak, “Kau jahat sekali! Berani-beraninya kau musnahkan kungfuku. Aku tidak mau hidup lagi… tidak mau hidup lagi.”

Sang Kusir membentaknya, “Ini pengajaran bagimu untuk tidak menyakiti orang lain. Jika kau mengerti, kau mungkin dapat hidup lebih lama. Kalau tidak, kau akan segera mati.”

Lalu terdengar seseorang berkata, “Kalau begitu, mengapa Li Tan Hua yang berdarah dingin belum mati juga?”

“Siapa itu?”

Seorang tua berjubah ungu masuk, “Sudah sepuluh tahun. Li Tan Hua tidak mengenaliku lagi?”

Li Xun Huan tersenyum, sahutnya, “Oh, Si Semangat Baja Terbentang ke Delapan Arah, Tuan Qin. Tak heran anak ini dapat membunuh tanpa ragu-ragu. Bersama denganmu, siapa yang tak dapat dibunuhnya?”

Qin Xiao Yi menjawab dingin, “Kurasa orang yang kubunuh tak sampai setengah dari yang Saudara Li bunuh.”

Kata Li Xun Huan, “Tuan Qin tak perlu merendah. Hanya saja, jika aku membunuh, itu karena aku adalah pembunuh berdarah dingin. Jika kau membunuh, itu demi keadilan dunia!”

Ia menjengek dan lanjutnya, “Jika anak ini berhasil membunuhku, kabar yang tersiar pasti adalah bahwa dia membunuh bukan karena berebut tabib, tapi karena dia dan Pahlawan Qin bahu-membahu memberantas kejahatan. Begitu kan?”

Walaupun Qin Xiao Yi telah berpengalaman dan tahu bagaimana menjaga raut wajahnya tetap tenang, tak urung warna merah merayapi selebar wajahnya.

Si Anak Merah yang tadinya mendengarkan dengan seksama, kini mulai meraung-raung lagi, “Paman Qin. Mengapa tak kau bunuh dia untuk membalaskan dendamku?”

Qin Xiao Yi tersenyum dingin, “Jika orang lainlah yang melukaimu, pasti dendammu akan dibalaskan. Tapi karena orang inilah yang melukaimu, kau takkan bisa berbuat apa-apa.”

Kata Si Anak Merah, “Ke…kenapa?”

Qin Xiao Yi memandang Li Xun Huan, lalu bertanya pada anak itu, “Tahukah kau siapa dia?”

Si Anak Merah menggelengkan kepalanya dan berkata keras, “Aku hanya tahu dia adalah seorang penjahat kejam!”

Seulas senyum keji terbayang di wajah Qin Xiao Yi, “Dia adalah ‘Si Jago Golok nomor Satu di Kolong Langit’ yang terkenal di seluruh dunia, Li Xun Huan. Dia dan ayahmu adalah saudara angkat sehidup semati!”

Waktu mendengar kata-kata ini Si Anak Merah sangat terkejut, namun Li Xun Huan merasa hampir pingsan, “Siapa ayahnya?”

Ba Ying mendesah, katanya, “Ia adalah Long Xiao Yun, anak tertua Tuan Keempat Long, Long Xiao Yun!”

[Penulisan nama ayah dan anak dalam huruf romawi sama persis. Untuk selanjutnya, untuk ayahnya akan ditulis sebagai Long Xiao Yun, dan untuk anaknya Long Xiao Yun muda]

Saat itu, nyawa Li Xun Huan seperti terbang meninggalkan raganya. Matanya berkejap-kejap, dan air mata pun mengalir.

Ekspresi Sang Kusir pun berubah. Keringat mulai membasahi dahinya.

Ia tahu benar tentang hubungan Li Xun Huan dengan pasangan Long Xiao Yun dan Lin Shi Yin. Sekaranga ia melukai putra mereka. Dapat dibayangkannya betapa hancur hati Li Xun Huan.

Kata Ba Ying, “Aku tak menyangka akan jadi seperti ini. Semuanya berawal ketika putra Tuan Qin hendak menangkap Si Bandit Bunga Plum. Sayangnya ia terluka dalam pertempuran itu. Dengan obat-obatan kami yang terbaik, kami berhasil menyelamatkan nyawanya. Namun ia perlu pertolongan lebih lanjut untuk terus hidup. Kami tahu bahwa Si Tabib Sakti Tuan Mei Er adalah ahli menyembuhkan luka nomor satu di dunia, terlebih khusus luka akibat senjata rahasia. Oleh sebab itulah kami datang. Siapa sangka malah jadi begini.”

Ia bicara pada dirinya sendiri, tak ada yang mendengarkan.

Mei Er juga dapat merasakan kepdihan pada wajah Li Xun Huan. Ia memeriksa luka Si Anak Merah, lalu bangkit berdiri, “Anak ini tak kurang suatu apapun. Ia dapat melakukan apa saja, sama seperti orang lain.”

“Bagaimana dengan ilmu silatnya?”

Sahut Mei Er dingin, “Mengapa dia perlu ilmu silat? Masih ingin membunuh lagi?”

Kata Ba Ying, “Tuan Mei Er, kau tidak paham. Tuan Keempat Long hanya punya satu putra, dan ia sangat berbakat dalam ilmu silat. Pasangan itu menaruh harapan yang begitu besar padanya. Berharap ia akan dapat membawa kehormatan bagi keluarganya. Jika mereka tahu, ia tidak bisa lagi belajar ilmu silat, betapa sedihnya hati mereka.”

Mei Er tertawa dingin, “Kau hanya bisa menyalahkan pendidikannya yang sangat jelek. Membiarkan putra mereka menjadi begini kejam. Itu bukan salah orang lain!”

Li Xun Huan tidak menangkap satu pun kata percakapan ini.

Entah mengapa, ia tiba-tiba tenggelam ke masa lalu. Begitu banyak kenangan lama, yang tidak seharusnya dibangunkan, bermunculan satu per satu.

Ia ingat hari itu adalah hari ketujuh di tahun yang baru. Ia mempunyai sedikit urusan penting, sehingga ia harus pergi dari rumah sebelum perayaan tahun baru selesai.

Hari itu, juga turun salju. Lin Shi Yin memasak masakan yang khusus. Ia pun duduk menemani Li Xun Huan minum anggur dan menikmati salju yang turun.

Lin Shi Yin tumbuh dewasa di rumahnya. Ayahnya adalah saudara laki-laki istri muda ayah Li Xun Huan. Sebelum mereka meninggal, mereka telah membicarakan tentang pernikahan anak-anak mereka.

Akan tetapi Li Xun Huan dan Lin Shi Yin tidaklah seperti anak-anak orang kaya pada umumnya, yang suka menjaga jarak. Mereka bukan hanya sepasang kekasih, mereka adalah sahabat karib.

Walaupun sepuluh tahun telah berlalu, Li Xun Huan mengingat hari itu bagai hari kemarin saja.

Hari itu bunga plum mekar sangat indah. Namun senyum Lin Shi Yin yang sudah setengah mabuk jauh lebih indah daripada bunga plum. Hatinya yang lugu dipenuhi dengan sukacita dan kebahagiaan.

Namun… tragedi menunggu di depan pintu.

Dalam perjalanan, musuh-musuhnya berkomplot dengan preman-preman lokal untuk membunuh dia. Walaupun sembilan belas orang dapat dibunuhnya, ia pun terluka. Mereka menangkapnya dan memasukkannya ke dalam kurungan.

Saat itulah Long Xiao Yun tiba.

Dengan tombak perak dirusaknya kurungan itu, sehingga nyawa Li Xun Huan selamat. Lalu dirawatnya luka-luka Li Xun Huan dengan sabar, sampai sembuh betul. Lalu diantarnya Li Xun Huan pulang.

Sejak saat itulah mereka menjadi sahabat karib.

Namun tidak berapa lama kemudian, Long Xiao Hun jatuh sakit. Orang yang kuat seperti dia, sakit parah dalam setengah bulan saja, tubuhnya menjadi sangat kurus.

Setelah ia bertanya berkali-kali, baru Li Xun Huan tahu bahwa penyakit Long Xiau Yun disebabkan oleh Lin Shi Yin. Ia telah jatuh cinta, sampai hampir jadi gila.

Ia tidak tahu bahwa Lin Shi Yin adalah tunangan Li Xun Huan. Oleh sebab itu, ia minta izin pada Li Xun Huan untuk boleh menikah dengan ‘sepupunya’. Ia berjanji, ia akan menjaganya sepenuh hati.

Bagaimana Li Xun Huan harus menjawabnya?

Namun bagaimana mungkin ia hanya berpangku tangan melihat penolongnya, sahabat karibnya, mati perlahan-lahan?

Di lain pihak, tidak mungkin ia bisa membujuk Lin Shi Yin untuk menikah dengan orang lain. Ia tidak mungkin mau.

Hatinya menjadi penuh duka cita, penuh kontradiksi. Ia hanya dapat menemukan sedikit ketenangan dalam anggur. Setelah lima hari lima malam minum, akhirnya ia mengambil keputusan bulat. Keputusan yang paling pahit seumur hidupnya.

Ia memutuskan untuk membiarkan Lin Shi Yin meninggalkannya.

Ia harus memberikan jalan bagi Lin Shi Yin dan Long Xiao Yun untuk bertemu.

Ia mulai hidup tidak karuan. Walaupun Lin Shi Yin membujuknya untuk berubah, ia hanya tertawa saja. Bahkan membawa dua pelacur terkenal pulang ke rumah.

Setelah dua tahun, hati Lin Shi Yin akhirnya hancur luluh. Seluruh impiannya hancur berantakan.

Rencana Li Xun Huan telah berhasil. Namun kemenangannya dipenuhi dengan kesedihan, dan rasa sakit bukan kepalang. Bagaimana mungkin dia dapat terus berada di sana dan terus melihat bunga plum itu?

Maka diberikannya seluruh rumah dan isinya sebagai hadiah pernikahan mereka. Lalu ia pergi sendirian. Telah diputuskannya, tak akan pernah ditemuinya Lin Shi Yin lagi.

Namun sekarang, ia telah melukai anak tunggal mereka.

Li Xun Huan menelan kenangan pahit ini, dan menelan air matanya. Ia bangkit berdiri dan berkata, “Di mana Tuan Keempat Long? Aku ikut engkau untuk menemuinya.”

Plakat bertuliskan ‘Taman Li’ kini berganti menjadi ‘Puri Awan Riang’. Namun tulisan di sebelah kiri kanannya masih terpampang.

‘Satu keluarga, tujuh kelulusan ujian’

‘Ayah anak, ketiganya menjadi Tan Hua’

Li Xun Huan memandangi tulisan ini, seakan-akan seseorang menendang perutnya.

Ba Ying telah menggendong Si Anak Merah masuk. Qin Xiao Yi pun menarik Mei Er bersamanya. Namun orang-orang di sana menatap Li Xun Huan.

Mereka semua heran mengapa orang asing ini memandangi tempat ini begitu rupa?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: