Kumpulan Cerita Silat

06/11/2008

Pisau Terbang Li (06)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 1:51 am

Penyelamat di Kampung Halaman Si Pemabuk

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Sang Kusir tiba-tiba melompat, menanggalkan kemejanya, dan menyambut salju dan angin dingin dengan dada telanjang.

Bagai seekor kuda, ditariknya kereta itu.

Li Xun Huan tidak mencegahnya, karena ia tahu bahwa Sang Kusir memerlukan tempat untuk melampiaskan keputusasaannya. Namun sewaktu pintu kereta tertutup, Li Xun Huan tidak dapat menahan setetes air matanya jatuh ke pipinya.

Setelah berjalan satu jam, sampailah mereka ke Kampung Cow.

Kampung ini adalah desa yang sangat kecil. Hari belum lagi gelap, dan hujan salju telah reda. Orang-orang sedang membersihkan salju dari halaman rumah mereka.

Waktu mereka melihat sang kusir menarik kereta masuk ke dalam kampung, mereka sangat terkejut. Beberapa orang sangat ketakutan dan berlari masuk ke dalam rumah.

Sudah pasti, ada warung arak di kampung itu.

Orang-orang kampung ini belum pernah melihat orang sekuat ini. Jadi ketika Sang Kusir berjalan ke arah warung arak, sebagian besar pengunjungnya menjadi ketakutan dan segera berlalu.

Sang kusir menjejerkan tiga buah kursi, lalu mengalasinya dengan serbet yang bersih. Didukungnya Li Xun Huan masuk ke dalam warung, sehingga ia bisa duduk dengan nyaman.

Li Xun Huan tampak pucat lesi. Seakan-akan tidak ada darah yang mengalir ke wajahnya. Semua orang tahu, ia sakit parah. Warung ini sudah buka selama dua puluh tahun, dan belum pernah kedatangan orang hampir mati yang masih ingin minum. Semua orang di situ memandanginya.

Sang Kusir menggebrak meja, dan berteriak, “Ambilkan arak. Yang terbaik! Jika kau encerkan sedikit saja, kupenggal kepalamu.”

Li Xun Huan memandangnya dan tersenyum, “Kau tahu, selama dua puluh tahun terakhir, baru hari ini kau tunjukkan karakter sesungguhnya dari ‘Si Dada Besi Baja Emas’.”

Tubuh Sang Kusir bergidik. Ia terkejut mendengar julukannya disebut. Namun ia masih bisa tertawa keras, “Aku tak menyangka Tuan Muda masih ingat nama itu. Aku malah sudah lupa.”

Kata Li Xun Huan, “Kau… Kau harus melanggar sumpahmu hari ini dan minum bersamaku.”

Sahut Sang Kusir, “Baik! Hari ini, berapa banyak Tuan Muda minum, aku akan mengikutimu.”

Li Xun Huan pun ikut tertawa keras, “Kalau aku bisa membuatmu minum arak lagi, hidupku tidak sia-sia.”

Yang lain, melihat mereka tertawa bahagia, jadi tercenung. Tak seorang pun bisa mengerti bagaimana seseorang yang hampir mati bisa begini bahagia.

Araknya memang bukan yang terlezat, tapi paling tidak arak itu murni.

Kata Sang Kusir, “Tuan Muda, maafkan kelancanganku. Aku ingin bersulang untukmu.”

Li Xun Huan ingin menyambutnya, namun ia tak kuasa memegangi cawannya, dan anggur pun berceceran. Ia batuk-batuk sambil berusaha menyeka bajunya yang basah kena anggur, dan sambil tertawa berkata, “Aku tak pernah menyia-nyiakan arak sebelumnya, tapi hari ini…”

Ia tertawa lagi, “Baju ini telah kumiliki bertahun-tahun, memang pantas aku menghadiahinya secawan anggur. Mari, Saudara Baju, aku berterima kasih padamu engkau telah menghangatkan aku bertahun-tahun ini. Aku bersulang untukmu.”

Lalu dituangnya sisa anggur dalam cawan ke bajunya.

Pemilik warung dan para pegawainya memandang dia, dan berbisik-bisik di antara mereka, “Orang ini bukan hanya sakit, dia sudah gila.”

Kedua orang itu minum dan terus minum. Li Xun Huan harus menggunakan kedua belah tangannya untuk memegang cawan anggurnya.

Sang Kusir menggebrak meja lagi, “Hidup ini tidak adil. Kalau saja aku bisa tidak bangun lagi dari kemabukan ini. Sayang, sayang sekali…”

Kata Li Xun Huan, “Kau harusnya berbahagia hari ini. Apa maksudmu tentang ‘tidak adil’, ‘tidak bangun lagi’? Seseorang harus menikmati hari-hari kehidupannya.”

Sang Kusir tertawa lagi, “Kau betul. Betul!” Lalu wajahnya jatuh menghantam meja.

Wajah Li Xun Huan penuh rasa terima kasih. Katanya pada dirinya sendiri, “Dua puluh tahun ini, jika bukan karena kau, aku… aku mungkin sudah lama mati. Walaupun aku tahu alasanmu, perbuatanmu ini sungguh terlalu merendahkan dirimu. Kuharap suatu hari nanti, kau rebut kembali status dan kejayaanmu di masa lalu. Dengan begitu, walaupun aku telah…”

Sang Kusir tiba-tiba bangun lagi dan memotong cepat, “Tuan Muda, jangan katakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Merusak suasana.”

Mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis, menangis sambil tertawa.

Pemilik warung dan para pegawainya kembali saling pandang, “Sepertinya, dua-duanya gila.”

Saat itulah mereka dikagetkan oleh seseorang yang menyuruk masuk, “Arak. Arak. Bawakan arak sekarang juga.”

Dari wajahnya, kelihatannya ia akan mati jika ia tidak minum arak secepatnya.

Pemilik warung bergumam, “Satu lagi orang gila.”

Orang ini mengenakan baju biru yang sudah terlalu sering dicuci sampai warnanya sudah mendekati putih. Kukunya hitam-hitam. Walaupun mengenakan topi pelajar, rambutnya sungguh acak-acakan. Wajahnya kuning dan tirus. Seperti seorang pelajar miskin.

Pelayan membawakan sebotol arak untuknya.

Siapa sangka, pelajar ini bahkan tidak menggunakan cawan. Ditenggaknya anggur itu langsung dari botolnya. Sekali minum, setengah lebih sudah habis, tapi segera disemburkannya ke luar sambil berteriak, “Kau sebut ini arak? Ini adalah cuka, cuka yang diencerkan lagi…”

Pelayan itu tergagap, “Bukannya kami tidak punya arak yang baik, tapi….”

Pelajar miskin itu berkata, “Kau pikir aku tidak punya uang. Nih, ambil semua.”

Dilambaikannya 50 tail perak.

Semua orang dan para pelayan terperangah. Kali ini mereka menyuguhkan arak yang terbaik.

Sekali ini pun, si pelajar miskin tak peduli dengan cawan dan menenggak sebotol penuh sekaligus. Lalu duduk diam tak bergerak. Semua orang menyangka ia minum terlalu cepat dan sesuatu telah terjadi. Namun Li Xun Huan tahu, ia sedang menikmati kelezatannya.

Setelah beberapa saat, dihembuskan nafasnya. Mata dan wajahnya berbinar-binar, “Walaupun araknya tidak enak, di tempat seperti ini kurasa inilah yang terbaik.”

Pemilik warung ikut tertawa. Katanya, “Sudah kusimpan botol itu selama sepuluh tahun.”

Si pelajar tiba-tiba menggebrak meja, katanya, “Pantas saja rasanya tidak kental. Beri aku arak yang lebih baru, yang difermentasi tiga tahap saja. Lalu bawakan makanan juga.”

“Masakan apa yang kau inginkan.”

“Aku tahu di tempat kumuh seperti ini kau pasti tak punya makanan enak. Bawakan saja Ayam Angin dan Usus Gagak Goreng Pedas. Pastikan ususnya pedas sekali dan ayamnya tidak berbulu sama sekali.”

Orang ini kelihatan miskin, namun ia benar-benar tahu tentang makanan dan anggur. Li Xun Huan sangat tertarik. Dalam keadaan biasa, ia pasti telah mengundang orang itu paling tidak untuk minum bersamanya. Namun saat itu, ia bisa rebah kapan saja. Ia tidak ingin berkenalan dengan siapa pun lagi.

Orang itu terus minum sendirian. Ia minum sangat cepat.

Sepertinya, selain arak, tak ada hal yang cukup berarti baginya.

Saat itu, terdengar derap langkah kuda mendekat, dan berhenti di depan warung. Wajah orang ini berubah sedikit.

Ia bangkit, hendak pergi. Tapi matanya kembali memandang arak di atas meja dan ia pun duduk kembali. Diminumnya tiga cawan lagi, sambil dinikmatinya usus goreng itu.

Dan terdengarlah suara yang menggelegar, “Dasar pemabuk. Kau hendak lari ke mana?”

Seorang yang lain pun berkata, “Sudah kubilang, kita pasti dapat menemukan orang ini di warung arak.”

Kemudian lima enam orang pun masuk, mengelilingi si pelajar miskin. Kelihatannya ilmu silat mereka cukup tinggi.

Seorang yang tinggi kurus mengacungkan pecut kuda ke depan hidung si pelajar miskin dan berkata, “Kau ambil uang kami, tapi kau menolak memeriksa pasien, malah kabur ke sini untuk minum. Apa yang terjadi?”

Si pelajar miskin tersenyum, “Kau tak mengerti apa yang terjadi? Aku perlu minum anggur. Itu saja. Kau seharusnya tahu, jika Tuan Mei Er perlu minum anggur, dia tidak peduli langit runtuh, apalagi hanya seorang pasien.”

Seorang yang bopengan berkata berang, “Kakak tertua Zhao, kau dengarkah itu? Kita sudah tahu pemabuk ini adalah seorang yang sangat jahat. Waktu ia sudah mendapatkan uangnya, ia tidak peduli lagi akan orang lain.”

Orang yang pertama menyahut, “Siapa yang tidak tahu kepribadian pemabuk ini? Namun dia harus menyembuhkan penyakit saudara ke-4. Kita perlu tabib, apa yang dapat kita perbuat?”

Awalnya Li Xun Huan menyangka orang-orang ini datang untuk balas dendam. Setelah mendengar percakapan mereka, tahulah dia bahwa Mei Er adalah seorang tabib yang hanya mau uang, tapi tak mau mengobati pasien.

Waktu orang-orang ini berteriak-teriak, ia tetap duduk diam. Sambil terus minum.

Zhao akhirnya melempar pecutnya, menghantam botol anggur dan cawan, sambil berteriak, “Berhenti menunda-nunda. Karena kami telah menemukanmu, kau harus ikut kami pulang dan mengobati pasien. Jika saudara ke-4 kami sembuh, aku jamin kau akan bisa minum berbotol-botol anggur.”

Tuan Mei Er itu hanya menatap cawan anggur yang sudah pecah, menarik nafas panjang, lalu berkata, “Kau sudah tahu perangaiku. Kau pun pasti tahu, aku takkan pernah menyembuhkan tiga macam orang.”

“Tiga macam orang seperti apa?”

“Yang pertama, aku tidak akan menyembuhkan orang yang tidak bayar di muka. Jika kurang sepeser saja, tak akan kusembuhkan dia.”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami telah memberimu banyak uang!”

Tuan Mei Er meneruskan, “Yang kedua, aku takkan merawat orang yang bersikap kasar padaku. Yang ketiga, aku tak akan pernah merawat penjahat, pencuri, dan pembunuh.”

Ia menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya, “Kau telah melanggar dua aturan terakhir. Kalian masih berharap aku mau menyembuhkannya? Silakan mimpi saja.”

Orang-orang itu menyahut, “Jika kau tidak menyembuhkannya, kami akan membunuhmu.”

“Sekalipun kalian membunuhku, aku tak akan menyembuhkannya!”

Orang yang bopengan itu maju dan menamparnya, sehingga tubuh si tabib terpelanting. Darah keluar dari mulutnya.

Tadinya Li Xun Huan berpikir, tabib ini pura-pura saja tak tahu ilmu silat. Sekarang ia baru sadar, bahwa tabib ini hanya mulutnya keras, tapi tubuhnya tidak.

Kakak tertua Zhao menghunus pisaunya, dan berkata, “Kalau kau berkata ‘tidak’ setengah kali saja, akan kupotong sebelah tanganmu sebelum kau sempat menyelesaikan perkataanmu.”

Tuan Mei Er menyahut, “Kalau aku bilang tidak ya tidak. Kenapa aku harus takut dengan penjahat kelas teri macam kalian?”

Kakak tertua Zhao sudah akan maju, tapi Sang Kusir tiba-tiba menggebrak meja, dan berkata lantang, “Ini adalah tempat minum arak. Jika kalian tidak mau minum, cepat menyingkir!”

Suaranya seperti geledek, Zhao pun merasa jeri, “Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur?”

Li Xun Huan tersenyum, katanya, “Hanya menyuruh mereka pergi, kurang menarik. Suruhlah mereka merangkak ke luar.”

“Tuan Muda menyuruh kalian merangkak ke luar. Dengar tidak?”

Kakak tertua Zhao melihat orang ini sakit dan sangat lemah, juga sangat mabuk. Ia jadi tidak takut lagi, katanya, “Karena kalian berdua sangat berani, mari kurobek perutmu.”

Goloknya berkilauan, menyabet ke arah Li Xun Huan.

Sang Kusir menyorongkan tangannya ke depan, berusaha menghalangi sabetan golok. Namun karena ia sangat mabuk, kelihatannya ia malah berusaha menangkap golok itu dengan tangannya.

Si pemilik warung sungguh kuatir karena pastilah lengan orang itu akan putus kena golok. Siapa sangka, lengan itu masih tetap utuh, malahan golok itulah yang mencelat ke atas. Zhao terkejut luar biasa, pikirnya, “Ilmu silat orang itu membuatnya kebal senjata. Apakah dia ini hantu?”

Orang bopengan itu juga menjadi takut sekali, tapi dipaksakannya untuk tertawa sambil berkata, “Bolehkah kutahu namamu, sobat? Kalau tidak bertempur, mana bisa jadi kawan. Marilah kita berkawan saja.”

Sang Kusir menjawab dingin, “Kau tak pantas jadi temanku. Sana keluar!”

Zhao melompat ke depan, sambil berkata, “Kau tak perlu bersikap kasar. Tidak baik bermusuhan dengan kami, kalau…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, si bopengan membisikkan sesuatu kepadanya. Matanya melirik ke arah pisau di tangan Li Xun Huan.

Wajah Zhao memucat seperti kertas, katanya pelan, “Tidak, tidak mungkin dia.”

“Siapa lagi? Aku dengar setengah bulan yang lalu dari Si Kura-kura Tua bahwa ia telah kembali dari perbatasan. Si Kura-kura Tua mengenalnya sejak dulu. Tidak mungkin ia salah.”

Kata Zhao, “Tapi, pemabuk ini…”

“Orang ini sangat menyukai makanan, anggur, wanita, juga judi. Kesehatannya juga tidak pernah baik. Namun pisaunya…”

Waktu berbicara tentang pisau, suaranya bergetar, “Tidak usahlah kita bermusuhan dengan orang macam dia.”

Zhao tertawa, “Jika aku tahu dia ada di sini, walaupun orang mengancamku dengan pisau, aku takkan mau datang ke sini.”

Ia terbatuk dua kali dan membungkukkan tubuhnya sambil tertawa, “Aku yang kecil ini punya mata, tapi tidak bisa melihat, sehingga tidak mengenali engkau, Tuan. Bahkan aku sudah mengganggu ketenanganmu minum arak. Aku yang kecil ini pantas mati. Kini aku hendak pamit saja.”

Tidak jelas apakah Li Xun Huan mendengar kata-kata ini atau tidak. Ia terus minum dan terus terbatuk-batuk, seperti tidak ada sesuatu pun yang terjadi.

Orang-orang ini datang bagai harimau, kini mereka pergi bagai anjing. Baru sekarang Tuan Mei Er bangkit, namun ia tidak berusaha berterima kasih pada Li Xun Huan. Ia malah berdiri di atas kursinya sambil berteriak-teriak, “Arak! Beri aku arak!”

Para pelayan jadi bingung. Tak bisa dipercaya orang ini baru saja dipukuli.

Pelanggan yang lain sudah pergi semuanya. Yang tinggal hanya ketiga orang ini. Ketiganya terus minum, tak berbicara sepatah katapun.

Li Xun Huan melongok ke luar jendela, dan tiba-tiba tersenyum, “Arak memang sangat aneh. Kalau kau ingin terus sadar, kau akan mabuk lebih cepat. Kalau kau ingin cepat mabuk, kau malah tidak mabuk-mabuk.”

Tuan Mei Er juga terkekeh, “Mabuk dapat menyelesaikan banyak persoalan. Yang paling baik adalah mabuk sampai mati. Tapi sayangnya, Langit tak akan membiarkan seseorang mati semudah itu.”

Alis Sang Kusir terangkat, melihat Tuan Mei Er berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka. Ia menatap Li Xun Huan dan bertanya, “Tahukah kau berapa lama lagi kau akan hidup?”

“Tidak lama.”

“Jika kau tahu hidupmu tidak lama lagi, mengapa tak kau bereskan urusanmu sebelum mati, malahan datang ke sini untuk minum?”

Sahut Li Xun Huan, “Mengapa urusan-urusan sepele, macam hidup dan mati, harus mengganggu acara minumku?”

Mei Er bertepuk tangan, tertawa, “Betul. Betul. Hidup dan mati adalah urusan sepele. Sebaliknya, minum arak adalah peristiwa penting. Kata-katamu sungguh sesuai dengan seleraku.”

Tiba-tiba matanya terbuka lebar, katanya, “Kurasa sekarang kau tahu siapa aku, bukan?”

Jawab Li Xun Huan, “Belum.”

“Kau sungguh tidak tahu siapa aku?”

Sang Kusir memotong kasar, “Kalau dia bilang tidak tahu, ya tidak tahu. Kenapa harus diulang-ulang?”

Tuan Mei Er menatap Li Xun Huan, lalu berkata, “Ternyata kau tidak menyelamatkanku untuk menyembuhkanmu.”

Li Xun Huan tertawa, “Jika kau ingin minum anggur, kita bisa minum bersama. Jika kau datang untuk menyembuhkanku, kusarankan kau pergi saja. Jangan membuang-buang waktu minumku.”

Mei Er terus memandang Li Xun Huan sampai cukup lama. Katanya kemudian, “Beruntung sekali. Sangat beruntung. Kau tahu, kau sangat beruntung bertemu dengan aku.”

Kata Li Xun Huan, “Aku tidak punya uang. Aku juga tidak jauh berbeda dari perampok dan pencuri. Kau boleh pergi.”

Siapa sangka, Mei Er malah menggelengkan kepalanya berkali-kali, “Tidak tidak tidak. Tidak meyembuhkan orang lain, tidak jadi soal. Tapi jikalau kau menolak aku menyembuhkanmu, kau harus membunuhku.”

Mata Sang Kusir berbinar-binar, “Kau sungguh dapat menyembuhkannya?”

Jawab Tuan Mei Er, “Selain Mei Er, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menyembuhkannya.”

Sang Kusir berdiri, dirapikannya kemejanya, sambil bertanya, “Tahukah kau apa penyakitnya?”

Sahut Tuan Mei Er, “Kalau aku tidak tahu, siapa yang bisa tahu? Kau pikir Saudara keenamku, Si Lebah Madu, sanggup meramu ‘Bubuk Ayam Dingin’?”

“Bubuk Ayam Dingin? Racun itu Bubuk Ayam Dingin?”

Tuan Mei Er terkekeh, “Selain Bubuk Ayam Dingin milik keluarga Mei, racun apa yang dapat membunuh Li Xun Huan?”

Sang Kusir terkejut sekaligus gembira, “Jadi maksudmu kaulah yang meramu racun Si Lebah Madu?”

Mei Er tertawa terbahak-bahak, “Selain ‘Si Orang Tengah Sakti’ Tuan Mei Er, siapa yang dapat meracik racun sehebat ini? Sepertinya kau bukan orang berpengetahuan. Hal seperti ini saja tidak tahu.”

Kini Sang Kusir girang bukan kepalang, “Jadi dialah yang meramu racun itu. Tuan Muda, kau pasti akan selamat.”

Li Xun Huan tertawa pahit, “Aku tahu hidup itu sulit, tapi aku baru tahu untuk mati dengan tenang pun sangat sulit.”

Kini mereka sudah ada dalam kereta. Sang Kusir merawat Li Xun Huan, tapi ia juga mengawasi Tuan Mei Er.

Ia masih belum puas. Tanyanya, “Jika kau bisa menyembuhkan keracunannya, mengapa kita harus pergi menemui orang lain?”

Sahut Tuan Mei Er, “Aku tidak mencari orang ‘lain’. Ia kakakku. Rumahnya dekat.”

“Jangan kuatir. Jika aku sudah berkata aku akan menyembuhkan dia, ia tidak akan mati.”

“Mengapa kau perlu bertemu dengan kakakmu?”

“Karena dia punya obat penawarnya. Sudah puas?”

Kini ia benar-benar diam.

Tuan Mei Er menggelengkan kepalanya sambil tertawa, “Aku sungguh tak mengira ada orang yang melatih ilmu silat sebodoh ini. Hanya berguna untuk melawan preman jalanan.”

Sang Kusir menjawab dingin, “Ilmu silat yang bodoh lebih baik dari pada tidak tahu silat.”

Tuan Mei Er sama sekali tidak marah. Ia terus tersenyum, “Yang kudengar, untuk melatih ilmu silat macam ini, kau harus tetap perjaka. Tidakkah pengorbanan semacam itu sedikit terlalu besar?”

“Hmmh.”

Lanjut Mei Er lagi, “Yang kudengar, dalam lima puluh tahun terakhir, hanya ada satu orang yang sungguh bodoh yang mau memperlajari ilmu silat ini. Namanya ‘Si Dada Besi Baja Emas’, Tie Zhuan Jia. Namun dua puluh tahun lalu, terjadi sesuatu padanya. Kini tidak ada yang tahu apakah dia sudah mati, atau masih hidup. Mungkin dia belum mati. Mungkin dia masih bisa minum anggur.”

Mulut Sang Kusir tertutup rapat. Apa pun yang dikatakan Mei Er, ia diam saja.

Tuan Mei Er memejamkan mata, berusaha memulihkan tenaganya.

Setelah beberapa saat, Sang Kusir balas berkata, “Yang kudengar, ‘Tujuh Orang Sakti’ tidak peduli akan reputasi mereka. Sepertinya kau tidak demikian.”

Jawan Mei Er, “Aku mengambil uang orang, lalu menolak untuk menyembuhkannya. Kau pikir itu kurang bejad?”

“Jika kau akhirnya setuju untuk merawat dia, maka kaulah yang akan kehilangan muka. Mengambil uang dan menyembuhkan orang adalah dua hal yang berbeda. Tak ada alasan untuk tidak mengambil uang dari orang-orang macam mereka.”

Mei Er menyahut, “Tampaknya kau tak sebodoh yang kukira.”

Sang Kusir berkata lagi, “Orang yang dianggap licik oleh banyak orang, mungkin sebenarnya tidak terlalu licik. Akan tetapi dari sekian banyak orang yang disangka gagah, berapa banyakkah yang benar-benar gagah?”

Li Xun Huan duduk diam sambil tersenyum. Sepertinya ia mengikuti pembicaraan, tapi sepertinya juga pikirannya ada di tempat lain.

Di luar, salju telah memberi warna putih pada segala sesuatu.

Jika seseorang masih dapat bertahan hidup, bukankah itu suatu hal yang baik?

Bayangan seseorang tergambar dalam benak Li Xun Huan.

Wanita itu mengenakan pakaian ungu, dan mantel berwarna ungu muda tersampir pada pundaknya. Ia berdiri dengan latar belakang salju putih, dan tampak sangat cantik.

Ia ingat Si Dia sangat menyukai salju. Setiap kali turun salju Si Dia akan menarik tangannya ke luar ke halaman, melemparinya dengan bola salju dan menantangnya untuk mengejar Dia.

Ia ingat, hari dia membawa Long Xiao Yun pulang, juga turun salju. Si Dia sedang duduk di paviliun dalam taman plum. Sedang menikmati indahnya salju dan pohon plum.

Ia ingat bahwa tiang-tiang paviliun itu merah cerah. Tapi sewaktu Si Dia duduk di antara tiang-tiang itu, warna kedua tiang dan warna seluruh pohon plum menjadi pudar.

Ia tidak memperhatikan reaksi Long Xiao Yun saat itu. Namun di kemudian hari, ia bisa membayangkannya. Saat itu, hati Long Xiao Yun pasti sudah hancur berantakan.

Kini, apakah paviliun itu masih sama? Masih seringkah Si Dia duduk di sana, menghitung bunga-bunga plum?

Li Xun Huan berusaha bangun dan tersenyum pada Tuan Mei Er, “Ada arak dalam kereta. Mari kita minum.”

Salju, kadang lebat kadang berhenti.

Dengan petunjuk Tuan Mei Er, kereta berbelok ke jalan kecil, dan sampai pada sebuah jembatan kecil. Kereta itu tak dapat menyeberang.

Sang Kusir mendukung Li Xun Huan menyeberangi jembatan. Terlihat sebuah gubug kecil di antara pohon-pohon plum. Sewaktu mereka mendekat, terdengar suara dari dalam hutan. Seorang laki-laki berpakaian rapi menyuruh dua orang pembantunya menyiramkan air pada pohon yang tertutup salju.

Sang Kusir berbisik, “Inikah Tuan Mei Da?”

Jawab Mei Er, “Selain orang tolol ini, siapakah yang menyiramkan air untuk membersihkan es dan salju dari batang pohon?”

Sang Kusir tak dapat menahan tawa, “Maksudmu dia tidak tahu bahwa dengan menyiramkan air, salju akan tetap menempel dan airnya malah akan jadi es?”

Mei Er tertawa getir, dan mengeluh, “Ia bisa tahu keaslian suatu benda seni sekali tengok. Ia juga bisa meramu dalam sekejap racun yang paling mematikan dan penawar yang paling hebat. Namun ia tidak dapat mengerti hal-hal yang sederhana.”

Selagi mereka bercakap-cakap, Mei Da memalingkan wajahnya dan melihat kedatangan mereka. Wajahnya terkesiap seperti sedang memandang anak-anak nakal. Katanya, “Cepat! Cepat sembunyikan seluruh lukisanku yang berharga. Kalau sampai dilihatnya, akan digadaikannya untuk membeli sebotol arak.”

Mei Er tersenyum, “Kakak pertama. Jangan kuatir. Aku sudah minum arak hari ini. Aku datang dengan dua teman…”

Sebelum kalimatnya selesai, Mei Da menutup mata dengan kedua tangannya, katanya, “Aku tak ingin melihat teman-temanmu. Semua temanmu adalah orang jahat. Kalau aku melihat seorang saja, aku akan sial tiga tahun.”

Mei Er jadi kesal, maka katanya, “Baik. Kau menghina aku. Kau pikir aku tak mungkin punya teman yang baik. Mari Li Tan Hua, kita pergi saja.”

Sang Kusir menjadi gusar, “Mana obat penawarnya? Kita tidak bisa pergi begitu saja!”

Tak disangka, ekspresi wajah Mei Da berubah cepat, “Maksudmu dia dari keluarga yang turun-temurun lulus ujian kenegaraan, ayah dan kedua anaknya mendapat gelar Tan Hua, Li Tan Hua yang ITU?’

Mei Er menjawab dingin, “Kau tahu Li Tan Hua yang lain?”

Kata Li Xun Huan, “Ya. Itulah aku.”

Pandangan Mei Da menyelidik dari kepala sampai ke kakinya. Tiba-tiba ia menjabat tangan Li Xun Huan dan tertawa senang, “Terkenal selama dua puluh tahun, tak kusangka akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Saudara Li.”

Ia menjadi sangat ramah setelah tahu siapa tamunya.

Kemudian kata Mei Da, “Tuan Li, maafkanlah kekasaranku tadi. Teman-teman adikku selalu saja menyebalkan. Dua tahun yang lalu ia mengajak dua temannya berkunjung, katanya mereka ini penggemar benda seni. Tapi siapa sangka, setelah kutunjukkan pada mereka dua lukisan yang sangat berharga, mereka menukarnya dengan kertas kosong! Aku sangat marah, sampai-sampai tiga bulan aku tak bisa tidur.”

Li Xun Huan pun tertawa, “Tuan Mei Da, jangan terlalu menyalahkan adikmu. Ketika seorang pemabuk ingin minum arak tapi tidak punya uang, perasaannya pun sangat kacau.”

Tuan Mei Da tersenyum sambil berkata, “Sepertinya Saudara Li juga mempunyai kebiasaan yang sama.”

Li Xun Huan ikut tersenyum, “Minum arak dapat membuat seseorang terbang ke awan.”

Kata Mei Da, “Bagus. Qi He, sudah cukup kau bersihkan pohon itu. Pergi dan ambilkan arak Zhu Ge Ying berusia 20 tahun itu. Aku ingin Saudara Li mencicipinya. Aku telah menyimpan arak ini bertahun-tahun untuk disuguhkan pada tamu yang hebat, seperti Saudara Li ini.”

Kata Mei Er, “Memang betul. Kalau tamu biasa yang datang, cuka saja tidak disuguhkannya. Akan tetapi, Saudara Li datang bukan untuk minum anggur.”

Mei Da memandang sekilas pada Li Xun Huan, katanya, “Racun itu masalah kecil. Saudara Li jangan kuatir, dan mari minum. Aku tahu bagaimana caranya mengurus hal-hal kecil itu.”

Setelah minum tiga cawan, Mei Da tiba-tiba bertanya, “Katanya, lukisan yang sangat langka Qing Ming Da He Tu ada dalam kediamanmu. Apakah itu benar?”

Kini Li Xun Huan tahu mengapa ia sangat ramah menyambut mereka, “Betul.”

Mei Da girang luar biasa, “Dapatkah kau bawa ke sini kapan-kapan supaya aku dapat melihatnya?”

Jawab Li Xun Huan, “Jika Tuan Mei Da sungguh-sungguh ingin melihatnya, aku tak dapat menolak. Tapi sungguh sayang, aku telah memberikan lukisan itu, dan seluruh milikku, pada orang lain.”

Tuan Mei Da melongo memandangnya, seperti kepalanya dipentung orang. Ia terus bergumam, “Sayang… sungguh sayang…”

Lalu katanya, “Qi He, bereskan anggur ini. Li Tan Hua sudah selesai minum.”

Kata Mei Er, “Jadi tanpa Qing Ming Da He Tu, tidak ada anggur?”

Jawab Mei Da dingin, “Arakku bukan untuk diminum sembarang orang.”

Li Xun Huan tidak merasa marah, bahkan ia tersenyum. Ia merasa orang ini labil, sangat lugu, tapi paling tidak ia lebih baik daripada para orang gagah yang palsu.

Namun Sang Kusir tak bisa menahan kekuatirannya, dan ia berkata keras, “Tanpa Qing Ming Da He Tu, tidak ada obat penawar juga?”

Sahut Mei Da, “Jika tidak ada anggur, dari mana datangnya obat penawar?”

Sang kusir menjadi berang dan siap menyerang.

Namun Li Xun Huan menahannya, katanya, “Mei Da tidak mengenal kita. Ia tidak berkewajiban memberikan obat penawar itu. Kita telah berhutang padanya beberapa cawan anggur yang lezat. Mengapa kau ingin bertindak kasar?”

“Tapi Tuan Muda, kau… kau…”

Li Xun Huan mengibaskan tangannya dan tersenyum, “Kurasa kita harus pamit.”

Tiba-tiba Mei Da bertanya, “Kau sungguh tidak mau obat penawarnya?”

Jawab Li Xun Huan, “Kita mempunyai kepentingan masing-masing. Aku tidak suka memaksa orang.”

Kata Mei Da, “Tahukah kau, bahwa tanpa obat penawar itu kau akan segera mati?”

“Hidup dan mati ditentukan oleh Langit. Aku sendiri tidak peduli.”

Mei Da menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan, “Betul. Betul. Jika seseorang bisa menghadiahkan Qing Ming Da He Tu pada orang lain, mengapa dia harus mempedulikan nyawanya? Orang seperti ini sangat langka, sangat sangat langka…”

Lalu ia berteriak, “Qi He, keluarkan lagi araknya.”

Sang Kusir seketika timbul harapannya, “Bagaimana dengan obat penawarnya?”

Mei Da memandangnya sekejap, lalu katanya dingin, “Sekarang sudah ada arak, kau kuatir tidak ada obat penawar?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: