Kumpulan Cerita Silat

03/11/2008

Kisah Membunuh Naga (55)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:46 am

Kisah Membunuh Naga (55)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Mendengar perkataan muridnya, Biat Coat berkata, “Cie Jiak, lekas turun, jangan perdulikan aku!
Penjahat ini terlalu mengejek aku. Tak bisa aku mengampuni jiwanya.”

Ho Pit Ong mengeluh. Ia ingin menolong soehengnya dan di luar dugaan, si nenek menyerang secara
nekat-nekatan. “Biat coat Soethay!” teriaknya. “Omongan itu berasal dari Kouw Touwtoo, bukan
karanganku.”

Sambil menghantam Ho Pit Ong dengan telapak tangan, Biat Coat menengok dan bertanya, “Touwtoo
bangsat, apa benar kau yang mengeluarkan omongan gila-gila itu?”

“Omongan apa?” Hoan Yauw balas menanya. Dengan menanya begitu, ia ingin si nenek mengulangi
ejekannya, bahwa ia dan Biat Coat adalah kecintaan dan bahwa Cie Jiak adalah anak mereka. Tapi
si nenek tentu saja tidak dapat mengulangi kata-kata itu.

Mendengar nada suara Ho Pit Ong, ia tahu bahwa musuh itu tidak berdusta. Darahnya bergemetaran.

Sesaat itu, selagi Biat Coat menengok kepada Hoan Yauw, segulung asap tiba-tiba menyambar. Ho
Pit Ong sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Sambil melompat menerjang ia menghantam
punggung si nenek.

“Soeboe, hati-hati!” teriak Cie Jiak.

“Niekouw tua, hati-hati!” seru Hoan Yauw.

Bagaikan kilat Biat Coat berbalik dan menangkis. Tangan kirinya menyambut tangan kiri Ho Pit
Ong, tapi ia tidak keburu menangkis tangan kanan musuh yang memukul dengan Hian beng Sin Ciang.
Begitu punggungnya terpukul, badan si nenek bergoyang-goyang, hampir-hampir ia jatuh terguling.

Cie Jiak terkesiap, ia melompat dan memeluk gurunya.

“Manusia licik!” bentak Hoan Yauw dengan gusar. “Tak bisa kau dan kakakmu diberi hidup lebih
lama lagi,” seraya berkata begitu, ia melemparkan ke bawah kasur yang menggulung tubuh Lok
Thung Kek dan Han kie.

Hati Ho Pit Ong mencelos. Tanpa memikir lagi, ia turut melompat tapi kasur itu sudah melayang
agak jauh dan ia hanya bisa menjambret ujungnya. Dengan kecepatan luar biasa, ia pun turut
melayang ke bawah.

Karena tertutupi asap dan api, Boe Kie tak tahu apa yang terjadi di puncak menara. Tiba-tiba ia
melihat jatuhnya serupa benda dan seorang manusia. Ia tak tahu apa adanya benda itu, tapi ia
segera mengenali, bahwa manusia itu adalah Ho Pit Ong. Kakek itu adalah musuh besar yang sudah
menyebabkan banyak penderitaannya. Bahkan kebinasaan kedua orang tuanya pun adalah gara-gara
Hiam beng Jie lo. Tapi ia seorang berhati mulia yang tak bisa mengawasi kebinasaan dengan
berpeluk tangan. Pada detik itu, dengan melupakan sakit hatinya, ia melompat ke atas dan
menepuk dengan kedua tangannya, sehingga kasur dan Ho Pit Ong terpental ke kiri-kanan kurang
lebih tiga tombak jauhnya.

Sesudah berjungkir-balik, kedua kaki Ho Pit Ong hinggap di tanah. “Hah! Sungguh berbahaya,”
katanya. Ia tak pernah mimpi, bahwa Boe Kie akan membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi ia
tidak sempat memikir lain dan segera menengok ke sana sini untuk mencari soehengnya.

Tiba-tiba ia terkejut, karena kakak itu menggeletak di tumpukan api. Dalam usaha untuk
menolong, kali ini Boe Kie harus menggunakan kedua tangannya. Menggunakan kedua tangan tentu
saja lebih berat daripada menggunakan sebelah tangan. Apa pula karena di dalam kasur itu
terdapat dua manusia, maka tenaga jatuh kasur itu pun jadi lebih hebat. Oleh karena itu waktu
menepuk kasur, ia tidak bisa memperdulikan lagi arahnya. Begitu tertepuk, kasur terbuka dan dua
sosok tubuh manusia ambruk di tumpukan api. Karena jalan darahnya tertotok, Lok Thung kek tak
bisa bergerak dan rambutnya lantas saja terbakar.

“Soeko!” teriak Ho Pit Ong seraya menubruk dan memeluk tubuh kakaknya. Selagi ia melompat
keluar dari api yang berkobar-kobar waktu kedua kakinya belum keluar dan menginjak bumi, Jie
Lian Cioe memapaki dengan pukulan pada pundaknya.

“Sambutlah!” bentak pendekar Boe tong itu.

Ho Pit Ong tidak dapat menangkis dan coba berkelit dengan miringkan pundaknya, tapi telapak
tangan Jie Lian Cioe menyusul ke bawah.

“Plak!”

Badan si kakek she Ho bergemetaran dan keringat dingin keluar dari dahinya. Sambil menggigit
gigi ia melompat ke atas tembok.

Sesaat itu sebatang balok yang berkobar-kobar jatuh dan menimpa tubuh Han kie yang lantas saja
terbakar.

Sementara itu, semua orang yang sudah berada di bawah mendongak mengawasi ke atas sambil
berteriak-teriak.

“Turun! Hayo, lekas!”

“Lompat! Lompat!”

Di antara api dan asap Hoan Yauw kelihatan melompat ke sana sini untuk meloloskan diri dari
kobaran api. Satu demi satu balok balok jatuh ke bawah diiringi meluruknya genteng dan bata.
Puncak menara mulai goyang-goyang.

“Cie Jiak lompatlah!” bentak Biat coat.

“Soeboe, sesudah kau, baru aku,” jawabnya.

Sekonyong-konyong si nenek melompat dan menghantam pundak Hoan Yauw. “Bangsat Mo kauw mampus
kau!” teriaknya.

Sambil tertawa nyaring Hoan Yauw berkelit dan menerjun ke bawah.

Boe Kie segera menyambutnya dengan tepukan Kian kun tay lo ie Sin kang. “Hoan Yoesoe, kau telah
berhasil dan kami menghaturkan terima kasih,” kata Thio Kauwcoe.

“Ini semua bukan jasaku,” jawabnya dengan merendahkan diri. “Kalau Kauwcoe tak menolong dengan
sin kang, semua orang akan menjadi babi panggang di puncak menara.”

Melihat Hoan Yauw sudah melompat ke bawah, sambil menghela napas Biat coat memeluk pinggang
muridnya dan segera meninggalkan puncak menara yang hampir roboh. Waktu terpisah kira-kira
setombak dari bumi, mendadak ia mendorong dengan kedua tangannya, sehingga tubuh nona Cioe
mengapung ke atas kurang lebih setombak, sedang tenaga jatuh si nenek sendiri jadi makin hebat.

Sambil mengawasi dengan mata tajam, Boe kie menepuk pinggang Biat coat dengan Kian koen tay loe
ie sin kang. Di luar dugaan, Biat coat yang telah mengambil keputusan untuk mati dan sungkan
menerima budinya Beng kauw, sekonyong-konyong menghantam dengan seantero sisa tenaganya.

Dengan bentroknya kedua tangan, Sin kang terdorong ke lain arah dan “bruk”.

Si nenek ambruk di tanah dengan patah beberapa tulangnya, Boe kie sendiri merasa dadanya
menyesak dan ia terhuyung beberapa tindak. Ia sungguh tidak mengerti sikap si nenek, karena
pukulannya itu berarti membunuh diri sendiri.

Cie Jiak menubruk dan memeluk tubuh gurunya, “Soeboe… soeboe….”, jeritnya dengan suara
menyayat hati. Para murid Go bie segera mengerumuni sang guru.

Perlahan lahan Biat coat Soethay membuka kedua mata. “Cie Jiak,” katanya dengan suara lemah,
“mulai hari ini kau menjadi Ciang boenjin dari partai kita. Apakah kau masih mau berjanji untuk
menaati perintahku?”

“Ya… soeboe…”

Si nenek tersenyum. “Kalau begitu,” bisiknya, “aku bisa mati dengan mata meram…”

Sesaat itu Boe Kie menghampiri dan memegang nadi si nenek untuk melihat apa orang tua itu masih
bisa ditolong.

Tiba tiba Biat coat membalik tangannya dan mencengkeram pergelangan Boe Kie. “Murid cabul Mo
kauw!” bentaknya. “Jika kau menodai kesucian muridku, biarpun sudah menjadi setan aku tak akan
mengampuni…” Ia tak bisa meneruskan perkataannya dan segera menghembuskan napas yang
penghabisan, tapi jari-jari tangannya masih tetap mencekal pergelangan tangan Boe Kie.

Mendadak terdengar teriakan Hoan Yauw, “Semua orang ikut aku! Kita keluar dari pintu kota
sebelah barat. Kalau terlambat, tentara musuh bangsat itu akan mengepung kita.”

Sambil mendukung jenazah Biat coat, Boe Kie berkata, “Baiklah kita berangkat sekarang.”

Cie Jiak menyodorkan kedua tangannya dan menyambut jenazah gurunya dari tangan Boe Kie. Sesudah
itu tanpa mengeluarkan sepatah kata ia bertindak keluar dari Ban hoat sie.

Sementara itu, orang-orang Koen loen, Khong tong dan Hwa san pay sudah keluar lebih dahulu.
Yang terus berdiam menemani Boe kie adalah Kong boen dan Kong tie. Setelah rombongan lain lain
partai berangkat semua, sambil merangkap kedua tangannya menghaturkan terima kasih kepada Boe
Kie yang menjawabnya dengan kata kata merendahkan diri. Akhirnya bersama pendekar-pendekar Boe
tong dan Boe kie, Kong boen dan Kong tie juga turut meninggalkan Ban hoat sie.

Berjalan belum beberapa jauh, Boe Kie ternyata telah terlalu lelah, karena dalam menolong
rombongan keenam partai, ia sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan bentrokan dengan Biat
coat juga telah melukai bagian dalam dari tubuhnya. Boh Seng Kok segera menggendong
keponakannya, yang sambil digendong perlahan-lahan mengerahkan Kioe yang sin kang untuk
memulihkan tenaga dalamnya.

Waktu fajar menyingsing rombongan itu tiba di pintu kota sebelah barat. Dengan tak banyak
sukar, mereka mengusir tentara yang menjaga pintu. Di tempat yang jauhnya beberapa li dari
pintu kota, Yo Siauw telah menunggu dengan kuda-kuda dan kereta. Sambil tertawa ia memberi
selamat kepada orang-orang yang baru saja terlolos dari lubang jarum.

“Tanpa pertolongan Thio Kauwcoe dan anggota-anggota Beng kauw, rombongan keenam partai pasti
menemui kebinasaan,” kata Kong boen Taysoe. “Untuk budi yang besar itu, kami hanya bisa
menghaturkan banyak terima kasih. Kini kita harus memikiri tindakan selanjutnya dan kuharap
Thio Kauwcoe suka memutuskannya.”

“Aku yang rendah berpengetahuan sangat cetek,” kata Boe Kie. “Dalam hal ini, aku mohon perintah
Hong thio.”

Tapi, biarpun dipaksa, Kong boen Taysoe menolak untuk memegang pimpinan.

“Tempat ini tak jauh dari kota raja,” kata Thio Siong kee. “Sesudah kita mengacau hebat, raja
muda pasti tidak akan menyudahi saja. Dia pasti akan segera mengirim tentara yang kuat untuk
mengejar kita. Biar bagaimana pun jua kita tak boleh berdiam lama-lama di sini dan harus pergi
ke tempat lain.”

“Paling baik bila raja muda bangsat itu mengirim tentaranya,” kata Ho Thay ciong. “Kita bisa
menghajar mereka sepuas hati.”

Thio Siong kee menggelengkan kepala. “Aku tidak setuju,” katanya. “Lweekang kita belum pulih
seanteronya dan pada hakekatnya kita masih mempunyai banyak waktu untuk menghajar Tat coe. Pada
saat ini, jalan yang paling baik ialah menyingkirkan diri.”

“Thio Shiehiap benar,” kata Kong boen. “Kalau bertempur, biarpun kita bisa membinasakan banyak
Tat coe, pihak kitapun pasti akan menderita kerusakan besar. Memang sebaiknya kita menyingkir
untuk sementara saat.

Sesudah Kong boen menyatakan pendapatnya, yang lain tak berani membantah lagi.

“Thio Siehiap, menurut pendapatmu, ke mana kita harus pergi?” tanya Kong boen.

“Tat coe tentu menduga, bahwa kita pergi ke selatan atau ke tenggara,” jawabnya. “Untuk
menyelesaikannya, kita menyingkir ke tempat yang tidak diduga mereka. Sebaiknya kita pergi ke
Monggolia. Bagaimana pendapat kalian?”

Semua orang kaget. Monggolia adalah negeri Tat coe. Cara bagaimana mereka mau diajak masuk ke
sarang musuh?

Tapi Yo Siauw menepuk nepuk tangan dan berkata sambil tertawa. “Tepat benar pendapat Thio
Siehiap. Monggolia sedikit penduduknya dan di gurun pasir yang luas, dengan mudah kita mencari
tempat sembunyi. Tat coe tentu menganggap kita bakal kembali ke Tiong goan. Mereka tak akan
mimpi, bahwa kita berbalik menyatroni sarang mereka.”

Sekarang semua orang tersadar. Diam-diam mereka memuji kecerdasan Thio Siog Kee. Semua orang
lalu menunggang kuda atau naik kereta dan segera berangkat ke arah utara.

Sesudah melalui kira kira lima puluh li, rombongan itu berhenti di sebuah selat gunung. Yo
Siauw segera mengeluarkan makanan kering dan arak yang memang sudah disediakannya. Sambil
beromong-omong, tokoh keenam partai menyatakan rasa terima kasihnya terhadap Boe Kie dan Hoan
Yauw yang sudah menolong jiwa mereka.

Sementara itu, Cioe Cie Jiak dan murid murid Go bie lainnya menggali lubang dan menguburkan
jenazah guru mereka. Kong boen, Kong tie, Sen Wan Kiauw, Boe Kie dan yang lain-lain
bersembahyang dan memberi hormat terakhir kepada si nenek.

Biat coat soethay adalah salah seorang pendekar kenamaan pada jaman itu. Biarpun adatnya aneh,
ia seorang jujur dan selama hidupnya banyak menolong sesama manusia, sehingga segenap Rimba
Persilatan menghormatinya.

Waktu bersembahyang para murid Go bie menangis sedu-sedan, sedang jago jago keenam partai turut
merasa sedih.

“Orang yang mati tak bisa hidup kembali,” kata Kong boen taysoe dengan suara nyaring. “Para
pendekar Go bie janganlah terlalu berduka. Asal kalian bisa penuhi mendiang gurumu, maka
biarpun Soethay sudah meninggal dunia, ia seperti juga masih hidup di dalam dunia. Kali ini
musuh menggunakan racun dan kita semua sama-sama menderita. Kong seng Soetee dari partai kami
juga binasa dalam tangan Tat coe. Sakit hati ini pasti mesti dibalas. Cara bagaimana kita harus
membalasnya, kita sekarang harus berunding masak masak.”

“Benar,” menyambung Kong tie. “Dalam waktu yang lampau enam partai bermusuhan keras dengan Beng
kauw. Tak dinyana Thio Kauwcoe membalas kejahatan dengan kebaikan dan sudah menolong kita
semua. Mulai dari sekarang kedua belah pihak meniadakan permusuhan dan melupakan segala apa
yang sudah terjadi. Hari ini dengan meminjam kesempatan dari kumpulnya semua partai, loolap
ingin mengajukan sebuah usul. Usul itu ialah kita beramai ramai mengangkat Thio Kauwcoe sebagai
Beng coe (kepala perserikatan) dari perserikatan partai-partai Rimba Persilatan di wilayah
Tiong goan. Dengan berserikat dan bekerja sama dan bersatu padu, kita berusaha untuk mengusir
Tat coe dari tanah air kita.”

Usul itu disambut dengan sorak-sorai gegap-gempita oleh para hadirin. Hanya Cioe Cie Jiak
seorang yang tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia menunduk dan memikirkan janji yang telah
diberikannya kepada sang guru.

Boe Kie kaget. Ia menggoyang-goyangkan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak
bisa! Tidak bisa!” katanya dengan suara gugup. “Dalam Rimba Persilatan, sejak dulu Siauw lim
pay selalu dianggap sebagai tetua. Dan mengenai perseorangan yang paling tua dan paling
dihormati dapat dikatakan ialah Thay soehoeku, Thio Cinjin. Di samping itu, Boe Kie Coe hiap
(para pendekar Boe tong) adalah paman-pamanku. Biar bagaimanapun juga, tak dapat aku si bocah
menduduki kursi Bengcu secara melampaui orang orang tua yang berkedudukan banyak lebih tinggi
daripada aku.”

“Boe Kie,” kata Song Wan Kiauw. “Bahwa hari ini kita beramai-ramai mengangkat kau sebagai
Bengcoe, memang juga sebagian disebabkan oleh pertolonganmu. Tapi selain itu, pengangkatan ini
adalah demi kepentingan umat manusia di kolong langit. Dengan pengangkatan ini kita semua
mengharap supaya berbagai partai bisa bekerja sama tidak saling bermusuhan dan lagi bersatu
padu dalam menghadapi kaum penjajah. Kalau Rimba persilatan Tiong goan tak punya pemimpin umum,
mungkin sekali usaha mengusir Tat coe tak gampang diwujudkan.”

“Boe Kie, usul kedua Sen ceng Siauw lim pay keluar dari hati yang sejujurnya,” Siong Kee turut
membujuk. “Thay soehoemu sudah berusia begitu lanjut. Apakah kau ingin beliau memikul beban
yang berat itu?”

Berganti-ganti lain-lain tokoh partai coba membujuk, tapi Boe Kie tetap menolak. “Aku masih
terlalu muda dan berpengetahuan terlalu cetek,” katanya. “Apa yang aku mempunyai hanyalah ilmu
silat. Tanggung jawab seorang Bengcoe yang sangat berat hanya dapat dipikul oleh orang orang
seperti Hong thio Seng ceng dari Siauw lim pay atau Song soepeh.”

“Kauwcoe,” kata Yo Siauw, “kalau kesempatan ini lewat dengan cuma-cuma, kita tidak akan
mendapatkan lagi. Adalah maunya Tuhan, bahwa hari ini tokoh-tokoh Rimba Persilatan berkumpul di
sini dan semua bersamaan pendapat. Apabila Kauwcoe tetap menolak kedudukan Bengcoe, maka tiada
orang lain yang bisa disetujui dengan suara bulat oleh segenap orang orang gagah. Kalau mereka
sudah berpencaran, adalah sangat sukar untuk mengumpulkannya kembali. Hari itu, di atas Kong
beng teng, Kauwcoe menghendaki supaya kita mengakhiri permusuhan dengan keenam partai dan
bekerja sama dengan satu hati. Apakah Kauwcoe sudah melupakan itu?”

“Kauwcoe!” teriak Hoan Yauw dengan suara tak sabaran. “Menjadi Bengcoe bukan menjadi kaisar.
Kami bukan ingin menjual lagak dan mengunjuk keangkeranmu. Kami mengangkat kau demi kepentingan
nusa dan bangsa. Kami ingin kau memikul beban penderitaan rakyat. Apa kau bukan seorang lelaki?
Mengapa kau terus menolak untuk memikul beban yang berat itu? Dengan menganggap kau sebagai
seorang gagah, Hoan Yauw rela mengabdi di bawah perintahmu. Sungguh tak nyana, dalam menghadapi
tugasmu, kau menyembunyikan kepala dan buntut!”

Mendengar teguran pedas itu, muka Boe Kie berubah merah. Sambil merangkap kedua tangannya dan
membungkuk, ia berkata. “Hoan Yoesoe benar. Aku menghaturkan terima kasih untuk teguran itu.
Memang juga seorang lelaki yang hidup di antara langit dan bumi tidak melarikan diri dari
kesukaran dan penderitaan.”

Seraya menyoja semua orang, ia berkata. “Aku tak menolak lagi kecintaan Coe wie (tuan tuan).
Semoga usaha kita akan berhasil dan cita cita kita akan tercapai dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya.”

Sorak-sorai dan tepuk tangan yang menyambut pernyataan Boe Kie itu, menggetarkan seluruh selat.

Yo Siauw segera mengambil sebuah kantong kulit yang berisikan arak, menggores jari tangannya
dan meneteskan darahnya ke dalam arak. Satu persatu, para tokoh persilatan menuruti contoh itu
dan kemudian menceguk arak yang tercampur darah. Upacara tersebut merupakan suatu sumpah, bahwa
mulai hari itu mereka bersepakat, bersatu padu dan bekerja sama untuk mengusir penjajah dari
bumi Tiong kok.

Boe Kie girang bercampur kuatir. Ia berkuatir karena bebannya sungguh-sungguh berat. Tapi
mengingat perkataan Hoan Yauw, hatinya menjadi tenang. Seorang laki-laki tidak boleh melarikan
diri dari tugasnya. Seorang manusia hanya bisa berusaha sekuat kuatnya dengan seantero tenaga.
Apa usaha itu akan berhasil atau tidak, terserah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selama beberapa bulan, Boe Kie telah menghadapi macam-macam gelombang. Hari ini, waktu menerima
kedudukan Bengcoe, di dalam hati ia merasa terlebih tenang daripada waktu menerima kedudukan
Kauwcoe dari Bengkauw. Hari ini, ia menjadi Bengcoe dengan tujuan yang nyata dan tekad yang
bulat. Hari itu, ia rasa bimbang sebab ia mengenal Bengkauw sebagai agama yang lurus tercampur
jahat.

Sesudah selesai upacara membentuk perserikatan, Boe Kie berkata. “Sekarang dunia berada dalam
ketakutan. Para anggota Bengkauw telah disebar keempat penjuru untuk menunggu ketika yang baik
guna memulai usaha kita. Aku mengharap para tetua berbagai partai menturuti tindakan murid
murid Bengkauw dalam membentuk pasukan-pasukan sukarela. Aku mengharap supaya semua
menyampingkan kepentingan pribadi dan menyingkirkan setiap kemungkinan yang bisa mengakibatkan
permusuhan antara kawan sendiri. Jika terjadi suatu perselisihan, orang yang tersangkut harus
melaporkan kepada Ciang boen jin dari partainya. Maka soal itu tidak dapat dibereskan oleh
Ciangboen tersebut, maka dengan bantuan para tetua partai, aku sendiri yang akan coba
membereskannya.

Semua orang mengiakan permintaan Bengcoe.

“Sesudah urusan ini mendapat keberesan, aku perlu kembali ke kota raja guna sebuah urusan
pribadi,” kata pula Boe Kie. “Di sini saja aku meminta diri. Dalam beberapa tahun bakal datang
dengan bahu-membahu, kita harus melakukan pertempuran mati hidup melawan Tat coe.”

Dengan sorak-sorai seluruh rombongan mengantarkan Bengcoe sampai di luar selat. Waktu mau
berpisahan Yo Siauw berkata, “Kauwcoe! Kau adalah harapan orang orang gagah di seluruh negeri.
Kuharap kau bisa menjaga diri.”

“Aku akan perhatikan pesanan saudara,” kata Boe Kie sambil mencambuk kudanya yang segera lari
ke arah selatan.

Waktu sudah dekat dengan kota raja, Boe Kie ingat bahwa sesudah terjadinya pertempuran di Ban
hoat sie, ia tentu dikenali oleh banyak kaki tangan Jie lam ong. Jika bertemu dengan mereka
mungkin sekali ia akan menghadapi banyak kesukaran.

Mengingat begitu, ia segera mampir di rumah seorang petani, membeli seperangkat pakaian petani,
memakai tudung dan memoles mukanya dengan tanah liat. Sesudah itu ia barulah masuk ke dalam
kota.

Setibanya di depan rumah penginapan di See shia, sesudah mengamat-amati keadaan barulah ia
masuk ke kamarnya. Siauw Ciauw kelihatan berduduk di samping jendela. Ia sedang menjahit.
Melihat masuknya seorang muka coklat, si nona terkejut dan sesaat kemudian barulah ia mengenali
Boe Kie. Dengan paras berseri-seri, ia berkata,” Kauwcoe, kau membuat aku kaget sekali. Kukira
seorang petani tolol kesalahan masuk ke kamar ini.”

“Kau jahit apa?” tanya Boe Kie.

Paras muka si nona berubah merah, buru-buru ia menyembunyikan pakaian yang sedang dijahitnya
dibelakangnya. “Tak apa-apa,” jawabnya serta menyelipkan pakaian itu di bawah bantal.

Ia lalu menuang teh untuk Boe Kie dan berkata sambil tertawa, “Apa Kongcoe mau cuci muka?”

“Tidak,” sahutnya sambil mengangkat cangkir teh. Sambil meneguk teh ia berpikir, “Tio Kauwnio
ingin aku menemaninya untuk meminjam To liong-to. Aku tidak bisa menolak. Pertama, sebagai laki
laki aku tidak bisa menarik pulang janji dan kedua aku memang ingin menyambut Gie hoe pulang ke
Tiong goan. Gie hoe mempunyai musuh dan sesudah kedua matanya buta, ia pasti tak akan bisa
membela dirinya sendiri. Tapi sekarang sesudah berserikatnya berbagai partai, semua permusuhan
lama sudah disingkirkan. Asal aku berada sama-sama orang pasti tak akan mengganggu Gie hoe.
Tapi pelayaran sangat berbahaya. Siauw Ciauw tidak boleh mengikut. Bagaimana baiknya? Hmm…ya
begini saja. Aku akan minta bantuan Tio Kauwnio supaya Siauw Ciauw bisa dititipkan di Ong hoe
untuk sementara waktu. Dengan berdiam di gedung raja muda keselamatannya lebih terjamin
daripada di tempat lain.” Memikir begitu, ia tersenyum.

“Kongcoe, mengapa kau tertawa? Kau lagi pikir apa?” tanya si nona.

“Aku mau pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh,” jawabnya. “Tak bisa aku membawa kau. Aku
telah memikir sebuah tempat, di mana kau bisa berdiam sementara waktu.”

Paras muka Siauw Ciauw lantas saja berubah. “Kongcoe, kemanapun kau pergi aku mau mengikut,”
katanya. “Siauw Ciauw sudah biasa melayani kau setiap hari. Aku tidak mau berdiam di tempat
orang yang belum dikenal.”

“Aku mengambil keputusan itu untuk kebaikanmu sendiri,” Boe Kie membujuk. “Tempat itu sangat
jauh dan perjalanan penuh dengan bahaya. Aku sendiri tak tahu, sampai kapankah aku kembali.”

“Kongcoe, waktu berada di gua di Kong beng teng, Siauw Ciauw telah mengambil keputusan untuk
terus mengikuti kau, kemana juga kau pergi. Kau hanya bisa menolak tekadku dengan membunuh aku.
Kongcoe, apakah kau merasa sebal terhadapku dan tidak mau aku terus mengikuti?”

“Tidak! Kau tahu, bahwa aku sangat menyayang kau dan aku hanya tidak mau kau menempuh bahaya
yang sebenarnya tidak perlu ditempuh. Begitu lekas kembali, aku akan mencarimu.”

Si nona menggeleng-gelengkan kepala. “Aku bersedia untuk menghadapi bahaya apapun jua,” katanya
dengan suara mantap.

Boe Kie terharu. Sambil memegang tangan si nona, ia berkata dengan suara lemah lembut. “Siauw
Ciauw, aku tidak mau mendustai kau. Aku telah meluluskan permintaan Tio Kouwnio untuk mengawani
dia dalam menyeberangi lautan. Kau tahu, pelayaran penuh bahaya. Tapi aku mesti pergi juga. Aku
sungguh tak mau kau turut menghadapi bahaya.”

Paras muka Siauw Ciauw bersemu merah. “Kalau kau pergi bersama-sama Tio Beng, lebih-lebih aku
mesti mengikut,” katanya. Sesudah berkata begitu, ia kelihatan kemalu-maluan dan air mata
berlinang-linang di kedua matanya.

“Mengapa kau lebih-lebih mau mengikut?”

“Karena Tio Kouwnio seorang yang hatinya beracun. Kita tidak bisa menaksir apa yang akan
diperbuatnya terhadapmu. Dengan berada bersama-sama, aku bisa turut mengamat-amati
keselamatanmu.”

Tiba-tiba jantung Boe Kie melonjak. “Ah! Apa Siauw Ciauw jatuh cinta kepadaku?” tanyanya di
dalam hati. Sesudah memikir beberapa saat, ia berkata sambil tertawa. “Baiklah, kau boleh ikut.
Tapi kau tak boleh menyesal.”

Tak kepalang girangnya si nona. “Kalau aku menyusahi kau dengan pernyataan menyesal, kau boleh
melemparkan diriku ke lautan supaya aku dimakan ikan besar,” katanya sambil tersenyum.

Boe Kie tertawa nyaring. “Bagaimana aku tega berpisahan dengan kau?” katanya.

Persahabatan antara Boe Kie dan Siauw Ciauw sudah berjalan lama. Di dalam perjalanan, kalau
rumah penginapan kekurangan kamar, kadang-kadang mereka terpaksa tidur dalam satu kamar. Tapi
belum pernah mereka berbicara atau melakukan sesuatu yang melampaui batas-batas kepantasan.

Siauw Ciauw selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan, sedang Boe Kie yang bersikap sebagai
seorang kakak, belum pernah mengeluarkan perkataan yang tidak pantas. Sekarang, begitu
perkataan “bagaimana aku tega berpisahan dengan kau” keluar dari mulutnya, begitu ia merasa
bahwa ia telah kesalahan omong. Mukanya berubah merah dan buru-buru ia memalingkan muka ke
jurusan lain.

Siauw Ciauw menghela napas.

“Mengapa kau menghela napas?” tanya Boe Kie.

“Ada banyak orang yang tak tega kau berpisahan. Cioe Kouwnio dari Go bie pay. Tio Kouwnio dari
gedung Jie lam ong dan di hari kemudian, entah masih ada berapa banyak orang lagi. Di dalam
hatimu, mana bisa jadi kau memikiri seorang pelayan kecil seperti aku?”

“Siauw Ciauw, kau selalu berlaku sangat baik terhadapku. Apa aku kira aku tak tahu? Apakah aku
seorang manusia yang tak ingat budinya orang?” Waktu bicara begitu, suara Boe Kie mengunjuk,
bahwa ia berbicara dari lubuk hatinya yang putih bersih.

Si nona malu bercampur girang. Sambil menundukkan kepala, ia berkata dengan suara perlahan.
“Aku belum pernah melakukan sesuatu yang berharga untukmu. Asal saja kau mempermisikan aku
untuk melayani selama-lamanya, asal aku bisa menjadi pelayanmu seterusnya, hatiku sudah merasa
puas. Kongcoe, semalam suntuk kau tak tidur. Kau tentu capai. Pergilah tidur.” Sehabis berkata
begitu, ia membuka kasur. Boe Kie merebahkan diri, maka ia sendiri menjahit di bawah jendela.
Tak lama kemudian Boe Kie tertidur.

Sampai magrib, Boe Kie baru tersadar dari pulasnya.

Sesudah makan semangkok mie, ia berkata, “Siauw Ciauw, aku mau ajak kau pergi menemui Tio
Kouwnio untuk meminjam Ie thian kiam guna memutuskan rantai yang mengikat kaki tanganmu.”

Di tengah jalan, mereka bertemu dengan banyak tentara Mongol dan penjagaan sangat ketat. Boe
Kie tahu, bahwa diperketatnya penjagaan adalah akibat kekacauan semalam.

Tak lama kemudian mereka tiba di rumah makan kecil yang semalam. Setelah masuk, Tio Beng sudah
berada di situ. Ia sedang minum arak sendirian. Ia berbangkit dan berkata sambil tertawa, “Thio
Kongcoe, kau seorang yang boleh dipercaya.”

Boe Kie mengawasi nona Tio. Ia mendapat kenyataan, bahwa paras si nona tenang tenang saja,
sedikitpun tak mengunjuk rasa gusar. Dengan meja sudah tersusun dua pasang sumpit, sesudah
membungkuk Boe Kie segera duduk di sebuah kursi dan Siauw Ciauw sendiri berdiri menunggu di
tempat yang agak jauh.

Sambil menyoja Boe Kie berkata, “Tio Kouwnio, dalam kejadian semalam, aku telah berdosa
terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.”

“Aku merasa sangat sebal melihat Hankie yang seperti siluman,” kata si nona. “Bahwa kau sudah
menyuruh orang untuk membunuhnya, aku sebenarnya harus menghaturkan terima kasih. Ibu memuji
kau sebagai pemuda pintar.”

Boe Kie terkejut.

Nona Tio tersenyum dan berkata pula, “Bahwa kau sudah menolong orang-orang itu, pada hakekatnya
kau tak merasa keberatan. Mereka tak suka menakluk. Perlu apa aku menahan lama-lama. Sesudah
kau menolong mereka, mereka tentu merasa sangat berterima kasih terhadapmu. Di dalam Rimba
Persilatan kau sekarang menjadi orang gagah yang terutama. Semua orang merasa berhutang budi
terhadapmu. Thio Kongcoe, untuk itu aku memberi selamat dengan secawan arak,” ia tertawa dan
mengangkat cawannya.

Sesaat itu tiba-tiba berkelebat bayangan manusia dan Hoan Yauw bertindak masuk. Lebih dulu ia
memberi hormat kepada Boe Kie dan kemudian berlutut di hadapan Tio Beng. “Kongcoe,” katanya,
“Kouw Tauwtoo mohon meminta diri.”

Tio Beng tak membalas pemberian hormat itu. “Kouw Taysoe,” katanya dengan suara dingin. “Hebat
sungguh kau mendustai aku.”

Hoan Yauw bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk. “Kouw Tauwtoo she Hoan bersama Yauw
Kong beng Yoeseo dari Bengkauw. Karena kerajaan memusuhi Beng kauw, maka waktu masuk ke gedung
Jia lam ong, aku terpaksa menyamar. Koen Coe telah memperlakukan aku secara baik sekali,
sehingga oleh karenanya, aku sekarang menghadap Koencoe untuk berpamitan.

“Kau mau pergi boleh pergi,” kata Tio Beng. “Tak usah kau unjuk banyak peradatan.”

“Seorang lelaki harus berlaku terus-terang,” kata Hoan Yauw. “Mulai dari sekarang, aku yang
rendah merupakan seorang musuh dari Koencoe. Kalau aku tidak bisa memberitahukan secara terang
terangan, hatiku merasa tak enak dan aku berbuat tak pantas terhadap Koencoe yang sudah
memperlakukan aku secara pantas.”

Tio Beng menengok pada Boe Kie dan berkata, “Ilmu apa yang dimiliki olehmu, sehingga orang-
orangmu semua rela membela kau dengan jiwa mereka?”

“Kami bekerja untuk negara, untuk rakyat, untuk menolong sesama manusia dan untuk
mempertahankan gie khie (semangat persahabatan yang paling tinggi). Hoan Yoesoe dan aku belum
kenal satu sama lain. Tapi begitu bertemu, kita lantas menjadi sahabat karib. Kita mempunyai
pendapat dan tujuan yang sama. Dengan demikian usaha kita untuk mempertahankan gie kie dan
kawan kawan sendiri, tidaklah tersia-sia.”

Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Kauwcoe,” katanya, “perkataanmu memang cocok sungguh dengan
apa yang dipikir olehku. Kauwcoe, kuharap kau menjaga diri baik-baik. Nona ini sangat lihay.
Dia bukan wanita biasa. Kuharap Kauwcoe suka berwaspada.”

Tio Beng tertawa. “Terima kasih untuk pujian Kouw Taysoe,” katanya.

Sesudah mengangguk, Hoan Yauw segera berlalu. Waktu lewat di depan Siauw Ciauw, ia kelihatan
terkejut, paras mukanya berubah pucat dan seolah-olah ia melihat sesuatu yang sangat
menakutkan. “Kau… kau!…” katanya.

“Mengapa aku?” tanya Siauw Ciauw.

Hoan Yauw mengawasi dengan mata membelalak. Selanjutnya ia menggeleng gelengkan kepala dan
berkata, “Bukan… bukan… aku… aku salah lihat.” Ia menolak pintu dan berjalan keluar,
sedang mulutnya berkata, “Sungguh sama… sungguh sama…”

Tio Beng dan Boe Kie saling mengawasi. Mereka merasa heran dan tak tahu siapa yang dimaksudkan
oleh Hoan Yauw.

Sekonyong konyong di tempat jauh terdengar suara dan teriakan tiga kali panjang, dua kali
pendek. Suara itu nyaring dan tajam, seperti seseorang memanggil kawan. Tiba-tiba Boe Kie
terkejut. Ia ingat, bahwa teriakan itu tanda rahasia Go bie pay dalam mengumpulkan kawan. Waktu
bertemu dengan rombongan Biat coat Soethay di See hek, beberapa kali ia pernah mendengar tanda
rahasia itu untuk menghadapi Beng kauw.

“Mengapa Go bie pay kembali lagi di kota raja?” tanyanya di dalam hati. “Apa mereka bertemu
dengan musuh?”

Sebelum ia mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya, Tio Beng sudah berkata, “Ah, itulah
tanda Go bie pay. Mereka rupa-rupanya sedang menghadapi persoalan yang sangat mendesak. Mari
kita menyelidiki. Apa kau setuju?”

“Bagaimana kau tahu teriakan itu tanda rahasia Go bie pay?” tanya Boe Kie.

“Mengapa aku tak tahu?” kata si nona sambil tersenyum. “Di See hek, sebelum mendapat kesempatan
untuk turun tangan, empat hari dan empat malam, dengan orang-orangku aku menguntit mereka.”

“Baiklah, aku setuju untuk menyelidiki,” kata Boe Kie. “Tapi Tio Kouwnio lebih dahulu aku ingin
meminta pinjam Ie thian kiam.”

Si nona tertawa. “Sungguh jempol ilmu hitungmu. Sebelum aku meminjam To liong to, kau sudah
mendahului meminjam Ie thian kiam,” katanya seraya membuka tali ikatan pedang dan
menyodorkannya kepada Boe Kie.

Sambil menghunus senjata mustika itu, Boe Kie berkata, “Siauw Cie Coe kemari!”

Siauw Ciauw menghampiri dan dengan beberapa kali membabat semua rantai yang mengikat kaki
tangannya sudah terputus. Ia berlutut dan berkata, “Terima kasih Kongcoe, terima kasih
Koencoe.”

Boe Kie segera memasukkan Ie thian kiam ke dalam sarung dan memulangkannya kepada Tio Beng.
Ketika itu teriakan-teriakan Go bie pay makin menghebat.

“Mari kita pergi!” kata Boe Kie.

Tio Beng mengeluarkan sepotong emas dan melemparkannya di atas meja, bersama Boe Kie dan Siauw
Ciauw ia segera berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Karena kuatir ilmu mengentengkan badan Siauw Ciauw masih terlalu cetek dengan tangan kanan Boe
Kie menarik tangan si nona sedang tangan kirinya mendorong pinggang. Sambil memberi bantuan
itu, ia mengikuti di belakang Tio Beng. Sesudah berlari-lari beberapa puluh tombak, ia merasa
bahwa badan Siauw Ciauw sangat enteng dan tindakannyapun sangat cepat. Ia heran dan menarik
pulang bantuannya. Tapi biarpun sudah tidak dibantu, nona itu masih terus dapat merendenginya.
Walaupun waktu itu Boe Kie menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi, tindakannya sudah
cukup cepat. Bahwa Siauw Ciauw dapat mengikutinya merupakan bukti bahwa kepandaian si nona
tidak dapat dipandang rendah.

Tak lama kemudian sesudah melewati beberapa jalanan kecil mereka tiba di luar sebuah tembok tua
yang sudah runtuh di sana-sini. Tiba-tiba Boe Kie mendengar pertengkaran antara beberapa orang
wanita dan ia tahu, bahwa murid-murid Go bie berada di dalam tembok itu. Sambil menarik tangan
Siauw Ciauw ia melompati tembok dan hinggap di antara rumput alang-alang. Ia mendapat
kenyataan, bahwa mereka berada di dalam sebuah taman yang sudah lama tidak terurus. Di lain
saat, Tio Beng menyusul dan mereka bertiga lalu bersembunyi di antara rumput tinggi.

Di sebelah utara taman terdapat sebuah pendopo rusak di mana terlihat bayangan beberapa belas
orang. Sekonyong-konyong terdengar suara seorang wanita. “Kau adalah murid termuda dalam partai
kita. Baik dalam nama atau kepandaian, tak pantas kau jadi Ciangboenjin dari partai kita…”

Boe Kie segera mengenali bahwa yang berbicara adalah Teng Bin Koen. Dengan merangkak ia maju
mendekati pendopo itu dan menyembunyikan diri pada jarak beberapa tombak.

Malam itu malam tak berbulan dan di langit hanya terdapat bintang-bintang yang berkelap kelip.
Tapi mata Boe Kie sangat awas. Sayup-sayup ia melihat murid-murid Go bie pay ada kepala Biat
coat soethay. Di samping murid kepala itu berdiri seorang wanita yang bertubuh agak jangkung
dan mengenakan baju warna hijau. Orang itu adalah Cioe Cie Jiak.

Teng Bing kun terus mendesak dengan suara menyeramkan. “Coba kau bilang… Bilang, lekas
bilang!…”

“Apa yang dikatakan Teng soecie memang tak salah,” kata nona Cioe. “Siauw moay adalah murid
termuda dari partai kita. Baik dalam nama, maupun dalam ilmu silat, kepandaian, kecerdasan dan
kemuliaan siauwmoay tidak pantas untuk menjadi Ciangboenjin. Pada waktu Siansoe (mendiang guru)
menyerahkan beban yang berat ini, siauwmoay telah menolak sekeras-kerasnya. Tapi siansoe marah
besar. Beliau memaksa supaya siauwmoay bersumpah berat untuk tidak melanggar kemauannya.”

“Memang benar,” kata seorang wanita yang mengenakan pakaian pendeta. “Memang benar, ketika
siansoe mau berangkat pulang ke alam baka beliau telah mengatakan bahwa Cioe Soemoay harus
menjadi Ciangboenjin dari partai kita. Pesanan itu telah didengar oleh kita semua. Bahkan para
orang gagah dari Siauw lim, Boe tong, Koen loen, dan Khong tong pun bisa menjadi saksi.”

“Siansoe adalah seorang yang sangat cerdas dan berpemandangan jauh,” menyambung seorang murid
pria yang berusia setengah tua. “Dengan menghendaki bahwa Cioe soemoay menjadi pemimpin kita,
beliau tentu mempunyai maksud yang mendalam. Kita semua telah menerima budi Siansoe yang sangat
besar dan adalah selayaknya jika mentaati pesanan siansoe. Kita harus menunjang Cioe soemay
dalam usaha menaikkan derajat partai kita.”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Pang soeko mengatakan, bahwa Siansoe pasti mempunyai maksud yang
mendalam,” katanya dengan nada mengejek. “Kata-kata itu, siansoe pasti mempunyai maksud yang
mendalam adalah tepat sekali. Bukankah semua orang, baik yang di atas maupun di bawah menara
telah mendengar perkataan Kouw Tauwtoo dan Ho Pit Ong? Siapa ayah dan ibunya Cioe soemoay?
Mengapa siansoe memilih kasih? Apakah kita semua masih mengerti?”

Sebagaimana diketahui, sebagai guyon-guyon Hoan Yauw telah mengatakan bahwa Biat coat soethay
adalah kecintaannya dan bahwa Cioe Jiak adalah anak mereka. Hoan Yauw memang gila-gilaan dan
masih memiliki sie khie (sifat-sifat yang sesat). Tapi perkataan Ho Pit Ong telah terdengar
oleh banyak orang. Biar bagaimanapun jua, mendengar itu, banyak orang jadi bersangsi, karena
percintaan lelaki dan perempuan, tak peduli siapa adanya mereka, adalah kejadian yang lumrah di
dalam dunia. Dengan demikian, tuduhan Teng Bin Koen, bahwa Biat coat memilih kasih sebab Cie
Jiak adalah anaknya sendiri, memang kedengarannya beralasan juga. Maka itulah, sehabis
perempuan itu melepaskan racunnya, murid-murid Go bie pay membungkam semua.

Tak kepalang gusarnya nona Cioe. Dengan suara bergemetaran, ia berkata. “Teng Soecie! Jika kau
tak setuju siauwmoay menjadi Ciangboenjin, kau boleh mengatakan terang-terangan. Tapi dengan
menjatuhkan fitnah membabi buta kepada Siansoe dan merusak nama Siansoe yang putih bersih, kau
berdosa besar. Mendiang ayah she Cioe bernama Coe Ong, sedang mendiang ibuku seorang she Sie.
Atas pertolongan Cinjin dari Boe tong pay, siauwmoay berguru kepada Siansoe. Sebelum itu,
siauwmoay belum pernah mengenal siansoe. Teng Soecie! Kau telah menerima budi Siansoe, tapi
hari ini sedang tulang belulangnya Siansoe belum menjadi dingin, kau sudah berani melontarkan
tuduhan yang sangat keji itu…” Ia tak meneruskan perkatatannya dan air matanya mulai
mengucur.

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Siapapun juga tahu, bahwa kau sangat mengilar untuk menjadi
Ciangboenjin,” katanya. “Tapi sebelum disetujui saudara-saudara kita, kau telah coba-coba
mengunjuk keangkeranmu dan menjual lagak galak. Merusak nama Siansoe! Berdosa sangat besar! Kau
ingin menghukum aku bukan? Kini aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan: “Sesudah menerima pesan
Siansoe untuk menjadi Ciangboenjin, kau sebenarnya harus segera pulang ke Go bie guna mengurus
urusan-urursan partai. Tapi mengapa kau kembali ke kota raja? Sesudah Siansoe meninggal dunia
di dalam partati terdapat banyak sekali urusan yang harus segera diurus. Aku tanya, mengapa kau
balik ke kota raja?”

“Siauwmoay kembali ke kota raja untuk menunaikan tugas berat yang diberikan Siansoe,” jawabnya.

“Tugas apa?” mendadak si perempuan she Teng bertanya. “Kita berada di antara saudara saudara
sendiri, kau boleh memberitahukan terang terangan.”

“Tugas ini merupakan rahasia besar bagi partai kita,” sahut nona Cioe. “Rahasia itu hanya boleh
diketahui oleh seorang Ciangboenjin. Aku menyesal tak bisa memberitahukan kepada siapapun jua.”

Teng Bin Koen mengeluarkan suara di hidung. “Huh! Huh!” katanya. “Kau mau coba berlindung di
balik pangkat Ciangboenjin. Huh! Tak bisa kau memperdayai aku. Partai kita bermusuhan hebat
dengan Mo kauw. Banyak sekali saudara0saudara kita yang binasa di dalam tangan Mo kauw dan
orang orang Mo kauw yang mampus di bawah pedang Ie thian kiam tidak bisa dihitung berapa
banyaknya. Meninggalnya siansoe juga kalau beliau tak sudi menerima pertolongan pemimpin Mo
kauw. Tapi mengapa jenazah Siansoe masih belum dingin, kau kembali ke kota raja untuk mencari
penjahat cabul she Thio itu, si kepala siluman?”

Boe Kie menggigil. Sesaat itu, tiba-tiba pipinya dicolek orang. Ia menengok. Orang yang
mencoleknya ialah Tio Beng. Muka Boe Kie lantas berobah merah.

“Apa benar Cioe Kauwnio mencari aku?” tanyanya di dalam hati.

Cie Jiak merasa dadanya seperti mau meledak. Sambil menuding ia membentak dengan suara
terputus-putus. “Kau!… kau!… bagaimana kau berani mengeluarkan kata kata itu?”

Teng Bin Koen menyeringai. “Kau masih mau menyangkal?” tanyanya. Kau menyuruh kami pulang ke Go
bie lebih dahulu. Waktu ditanya mengapa kau kembali ke kota raja, kau menjawab secara tidak
terang. Itulah sebabnya mengapa kami menguntit kau. Kau telah menanyakan ayahmu, Kauw Tauwtoo,
tentang tempat kediamannya si penjahat cabul. Apa kau kira kami tak tahu? Kau telah pergi ke
rumah penginapan untuk mencari penjahat cabul itu. Apa kau rasa kami tak tahu?”

Mendengar cacian “penjahat cabul” yang dikeluarkan berulang-ulang, biarpun sabar, darah Boe Kie
meluap juga. Tiba-tiba ia merasa lehernya ditiup orang. Ia tahu bahwa nona Tio mengejeknya
kembali.

Sementara itu, si perempuan she Teng sudah menyemburkan lagi racunnya. “Siapa yang mau dicari
olehmu dan dengan siapa kau ingin bersahabat, orang luar memang tak dapat mencampuri. Tapi
penjahat cabul she Thio itu adalah musuh besar partai kita. Waktu orang mengangkat dia menjadi
Bengcoe sebagai Ciangboenjin Go bie pay mengapa kau tidak menentang? Biarpun kita kalah suara,
tapi sedikitnya kita sudah menyatakan di hadapan umum bahwa partai kita tidak menyetujui
pengangkatan itu. Waktu itu aku memperhatikan kau. Ah! Kau kelihatannya girang sungguh. Paras
mukamu berseri-seri. Waktu di Kong beng teng, Siansoe memerintahkan kau membunuh penjahat cabul
itu, dia sama sekali tidak coba membela diri. Sebaliknya dari itu bermain mata dengan kau. Kau
sengaja memberi tikaman yang sangat enteng. Siapa bisa percaya bahwa kau tidak mempunyai
perhubungan rahasia dengan penjahat itu?”

Kepala nona Cioe puyeng. Ia mendekap muka dan menangis. “Siapa… bermain mata…,” katanya
dengan suara parau. “Mengapa kau memfitnah orang dengan kata-kata yang tidak enak didengar
itu?”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Kata kataku tak enak didengar?” ejeknya. “Tapi bagaimana
perbuatanmu? Perbuatanmu yang tidak enak dilihat, perkataanmu memang sedap sekali. Huh…
huh… misalnya tadi siang kau berkata begini kepada pengurus rumah penginapan. Mohon tanya,
apa disini ada seorang tamu she Thio? Kata kau lagi, ia berusia kira kira dua puluh tahun,
tubuhnya jangkung. Mungkin sekali ia menggunakan lain she. Kau mengatakan itu semua dengan
suara yang sungguh merdu.” Dalam ejekannya itu, Teng Bin Koen meniru suara Cioe Cie Jiak dengan
lagak yang genit sekali. Di tengah malam yang sunyi sekali suaranya membangunkan bulu roma.

Tak kepalang gusarnya Boe Kie. Hampir-hampir ia melompat keluar. Syukur juga ia masih dapat
mempertahankan diri, karena ia ingat bahwa ia tidak boleh mencampuri urusan dalam Go bie pay
dan jika ia turun tangan, tindakannya akan lebih merugikan nona Cioe. Dengan demikian biarpun
darahnya meluap ia tidak bisa bergerak.

Dalam Go bie pay, semula terdapat sejumlah murid yang ingin mentaati kemauan guru mereka dan
menyokong Cie Jiak sebagai Ciangboenjin. Tapi sesudah mendengar perkataan Teng Bin Koen, hati
mereka menjadi goncang. Go bie pay dan Beng kauw memang bermusuhan keras sedang mereka harus
mengakui memang ada suatu perhubungan antara Cie Jiak dan Boe Kie. Bagaimana kalau Cie Jiak
menyerahkan Go bie pay ke dalam tangan Beng kauw? Itulah jalan pikiran mereka.

Sementara itu, Teng Bin Koen berkata pula, “Cioe soemoay, kau masuk dalam partai kita atas
pujian Thio Cinjin dari Boe tong pay. Penjahat cabul she Thio itu adalah anaknya Thio Ngo hiap
dari Boe tong pay. Tak seorangpun bisa menanggung bahwa di dalam hal ini tidak terselip suatu
siasat yang aneh.” Sehabis berkata begitu seraya berpaling kepada saudara saudari
seperguruannya, ia berteriak. “Saudara saudari sekalian! Memang Siansoe telah memesan untuk
mengangkat Cioe moay sebagai Ciangboenjin partai kita. Tapi beliau pasti tak menduga, bahwa
begitu beliau menutup mata Ciangboenjin kita lantas saja pergi mencari Kauwcoe dari Mo kauw.
Kejadian ini bersangkut paut dengan mati hidupnya partai kita. Kejadian ini bukan kejadian
kecil yang dapat dikesampingkan dengan begitu saja. Kalau malam ini Siansoe masih hidup, beliau
pasti akan mengangkat seorang lain. Cita-cita Siansoe adalah kegemilangan partai kita. Siansoe
pasti tidak menghendaki bahwa partai kita musnah di dalam tangan Mo kauw. Maka itulah menurut
pendapat Siauwmoay, kita semua harus berusaha untuk mewujudkan cita cita Siansoe yang sangat
luhur itu. Kita sekarang menuntut supaya Cioe Soemoay menyerahkan cincin Ciangboenjin supaya
kita bisa mengangkat seorang yang cocok untuk menjadi pemimpin kita, untuk menjadi Ciangboenjin
dari Go bie pay. Inilah usul Siauwmoay.”

Usul itu segera disetujui oleh lima enam orang.

“Aku telah menerima perintah Siansoe untuk menjadi Ciangboenjin dan tak dapat aku menyerahkan
cincin ini,” kata Cie Jiak. “Sebenarnya aku tak kepingin untuk menjadi Ciangboenjin, tapi aku
sudah bersumpah berat dan aku pasti tak bisa menyia-nyiakan harapan Siansoe.”

“Kau mau serahkan atau tidak?” bentak Teng Bin Koen. “Menurut peraturan partai, larangan
pertama tak boleh menghina guru dan larangan kedua tak boleh berjina. Dan kau masih mau
mengurus partai kita?”

“Nonamu bakal celaka!” bisik Tio Beng di kuping Boe Kie. “Jika kau suka memanggil aku dengan
kata-kata Ciecie yang baik, aku bersedia untuk menolong dia.”

Boe Kie tahu, bahwa nona Tio yang sangat pintar tentu sudah mempunyai akal untuk menolong Cie
Jiak. Tapi karena ia berusia lebih tua, maka ia merasa agak jengah untuk memanggil Ciecie
kepadanya. Selagi ia bersangsi, Tio Beng berkata pula. “Kalau kau tak suka terserahlah
kepadamu. Aku sekarang ingin berlalu.”

Dengan apa boleh buat, Boe Kie segera berkata dengan suara perlahan. “Ciecie yang baik…”

Si nona tertawa, tapi baru saja ia mau melompat keluar, orang-orang Go bie rupa-rupanya sudah
merasakan bahwa sedang diintip orang. “Siapa disitu?” bentak Teng Bin Koen.

Sekonyong konyong di luar tembok terdengar batuk batuk, diiringi dengan suara orang nenek
nenek. “Apa yang dilakukan oleh kamu di tengah malam buta?” Di lain saat dua manusia lain sudah
berada di pendopo itu.

Boe Kie segera mengenali bahwa nenek yang bertongkat adalah Kim Hoa po po, sedangkan kawannya,
seorang wanita yang bermuka jelek, bukan lain daripada Coe Jie atau A-iee, saudara sepupunya
sendiri.

Sebagaimana diketahui, pada waktu enam partai persilatan menyerang Kong beng teng Cie Jie telah
dibawa lari oleh Wie It Siauw. Waktu mendekati Kong beng teng dengan diuber oleh In Ya Ong
(ayah Coe Jie) dan Boe Kie, Wie Hok tong melepaskan si nona di lereng gunung, dan belakangan,
ketika ia mencarinya kembali Coe Jie sudah menghilang.

Semenjak perpisahan, Boe Kie seringkali memikiri nasib nona itu. Sekarang secara tak diduga
duga, ia muncul bersama Kim Hoa po po. Bukan main girangnya Boe Kie hampir-hampir ia berteriak
memanggilnya.

“Kim hoa po po, perlu apa kau datang ke sini?” tanya Teng Bin Koen.

“Mana gurumu?”

“Kemarin siansoe meninggal dunia. Huh! Kau sudah mencuri dengar di luar tembok, tapi kau masih
menanya juga.”

“Ah! Biat Coat mati? Bagaimana matinya? Mengapa ia tak menunggu untuk bertemu denganku? Hai!
Sayang… sungguh sayang…” Selagi berkata begitu, si nenek batuk tak henti-hentinya.

Sambil menumbuk-numbuk punggung orang tua itu, Coe Jie menengok kepada Teng Bin Koen dan
berkata dengan suara tawar. “Siapa kesudian mencuri dengar pembicaraan kamu? Po po dan aku
lewat di sini. Secara kebetulan saya dengar suara bicaranya manusia dan sebab aku mengenali
suaramu, barulah kami masuk ke sini. Po po menanya kau, kau dengar tidak? Bagaimana cara
matinya gurumu?”

“Bukan urusan kamu!” bentak Teng Bin Koen dengan gusar.

Sesudah batuknya agak mereda, Kim hoa po po berkata dengan suara lebih sabar. “Selama hidupku
baru pernah satu kali aku kalah dalam pertempuran. Aku kalah dari gurumu. Kekalahan itu bukan
lantaran lebih unggulnya ilmu silat gurumu, tapi sebab tajamnya Ie thian kiam. Selama beberapa
tahun aku mencari cari senjata mustika untuk bertempur lagi melawan Biat coat. Aku menjelajah
empat penjuru dunia dan pada akhirnya dapat dikatakan capai lelahku tak tersia-sia. Seorang
sahabat lama bersedia untuk meminjamkan sebatang golok mustika kepadaku. Belakangan aku
mendengar bahwa orang-orang Go bie pay telah ditawan oleh kerajaan dan dikurung di kelenteng
Ban hoat sie. Aku segera mengambil keputusan untuk menolong gurumu supaya kita berdua bisa
menjajal lagi kepandaian yang sesungguhnya. Siapa nyana menara di Ban hoat sie yang digunakan
sebagai penjara gurumu sudah berubah menjadi tumpukan puing. Hai!.. itulah maunya nasib. Seumur
hidup Kim hoa po po tak akan dapat mencuci lagi hinaan atas dirinya itu. Biat Coat! Mengapa
tidak bisa menunggu sehari dua?”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Jika soehoe masih hidup, apa yang akan didapat olehmu hanyalah
kekalahan yang kedua kalinya,” katanya. “Sesudah keok untuk kedua kalinya, kau pasti tak akan
merasa penasaran lagi…”

“Plak!…plak!…plak!…plak!…”, tiba tiba terdengar suara gaplokan. Pipi Teng Bin Koen
digaplok empat kali beruntun, sehingga matanya berkunang-kunang dan hampir-hampir ia jatuh
terguling. Empat gaplokan itu dikirim secara cepat luar biasa, dalam gerakan yang sangat aneh
dan Teng Bin Koen sama sekali tidak dapat membela diri.

Ia kaget bercampur gusar, menghunus pedang dan menuding si nenek. “Pengemis tua!” bentaknya,
“Apa kau sudah bosan hidup?”

Tapi Kim hoa po po seolah olah tidak mendengar cacian itu dan tidak memperdulikan pedang yang
ditudingkan kepadanya. Dengan suara menyesal dan putus harapan, ia bertanya lagi. “Cara
bagaimana matinya gurumu?”

“Tak perlu aku memberitahukan kepadamu,” jawab Teng Bin Koen.

Si nenek menghela napas dan berkata, “Biat coat Soethay, selama hidup kau adalah salah seorang
gagah dalam jaman ini dan merupakan juga salah seorang tokoh paling terkemukan dalam Rimba
Persilatan. Sungguh sayang, sesudah kau mati murid-muridmu tolol semua. Apakah kau tak punya
murid yang mendingan untuk mewariskan kedudukan Ciangboenjin?”

Tiba-tiba seorang pendeta wanita setengah tua yang bertubuh jangkung maju setindak. Sambil
merangkapkan kedua tangannya, ia berkata: “Pie-pie Congsoe menghadap kepada Po po. Pada waktu
Siansoe mau menutup mata, beliau telah mengangkat Cioe Cie Jiak Cioe Soe moay sebagai
Ciangboenjin partai kami. Kami di sini karena masih ada sejumlah saudara seperguruan yang
merasa tidak setuju dengan pengangkatan itu. Bahwa Siansoe sudah keburu meninggal dunia dan Po
po tidak dapat mencapai keinginan yang sudah dikandung lama, memang juga adalah maunya nasib.
Manusia tidak bisa melawan takdir. Karena urusan Ciangboenjin partai kami masih belum beres,
maka kami masih belum bisa membuat janjian apapun juga dengan Po po. Tapi sebagai salah sebuah
partai besar dalam Rimba Persilatan, Go bie pay tidak dapat menjatuhkan nama besarnya Siansoe.
Jika Po po mau memberi pesanan apa apa, berikanlah sekarang. Di hari kemudian, sesuai dengan
peraturan-peraturan dalam Rimba Persilatan, Ciangboenjin kami pasti akan pergi menemui Po po.
Akan tetapi, jika dengan mengandalkan kekuatan sendiri Po po mau menghina kami, maka biarpun
pada saat ini Go bie pay masih berkabung, kami pasti akan melayani Po po sampai pada titik
darah yang penghabisan.”

Boe Kie dan Tio Beng merasa kagum akan perkataan niekouw itu yang diucapkan secara tetap dan
sopan santun.

Sambil menyapu murid murid Go bie dengan kedua matanya, si nenek berkata, “Pada waktu gurumu
mau menutup mata, ia telah mengangkat seorang Ciangboenjin. Itulah bagus. Siapa adalah
Ciangboenjin itu? Aku ingin bertemu dengan dia,” sesudah berkata begitu, nada suara Kim hoa po
po sudah banyak lebih lunak daripada waktu ia bicara dengan Teng Bin Koen.

Cioe Cie Jiak lantas saja maju sambil memberi hormat. “Po po, selamat bertemu,” katanya.
“Ciangboenjin turunan keempat dari Go bie pay memberi hormat kepada Po po.”

“Tak malu kau!” bentak Teng Bin Koen. “Kau berani menamakan diri sendiri sebagai Ciangboenjin
turunan keempat!”

Coe Jie tertawa dingin. “Cioe Ciecie adalah seorang yang sangat baik,” katanya. “Waktu berada
di See hek, ia telah memperlihatkan kasih sayangnya terhadapku. Jika ia tidak pantas menjadi
Ciangboenjin, apakah kau kira dirimu cocok untuk menjadi Ciangboenjin? Di hadapan Po po, kau
jangan banyak tingkah. Apakah kau mau digaplok lagi?”

Teng Bin Koen meluap darahnya. Ia menghunus pedang dan menikam si nona yang lidahnya tajam. Coe
Jie berkelit seraya menggaplok. Gerakannya menyerupai gerakan si nenek, tapi banyak lebih
lambat. Teng Bin Koen buru-buru menundukkan kepalanya, sehingga telapak tangan Coe Jie
menyampok angin, tapi tikamannyapun jatuh di tempat kosong.

Si nenek tertawa, “Bocah!” katanya. “Aku telah mengajar kau berulang kali, tapi kau masih belum
mampu juga dalam menggunakan pukulan yang begitu gampang. “Lihatlah!” Seraya berkata begitu,
tangan kanannya menyambar dan mampir tepat di pipi kanan Teng Bin Koen. Hampir berbareng ia
membalik tangan dan menggaplok pipi kiri, setelah pipi kiri, pipi kanan pula dan sesudah pipi
kanan pipi kiri lagi û semuanya empat gaplokan. Gerakan tangan si nenek tak begitu cepat dan
bisa dilihat nyata oleh semua orang. Tapi Teng Bin Koen sendiri merasakan, bahwa dirinya
ditindih… dengan semacam tenaga yang tak kelihatan, sehingga kaki tangan tak bisa bergerak.

“Po po, aku sudah mahir dalam pukulan itu,” kata Coe Jie sambil tertawa. “Aku hanya tak
mempunyai tenaga dalam yang besar. Coba kujajal lagi!”

Sesaat itu Teng Bin Koen masih berada di bawah kekuasaan si nenek dan ia masih belum bisa
bergerak. Melihat sambaran telapak tangan Coe Jie, bahna gusarnya, ia merasa seolah olah
dadanya mau meledak.

Pada detik terakhir, tiba-tiba Cioe Jiak melompat dan menangkis tangan Coe Jie. “Ciecie,
tahan!” katanya. Ia berpaling dan berkata pula. “Po po, barusan Cengcoe Soecie telah
menyatakan, bahwa biarpun ilmu silat kami tidak bisa menandingi Po po, tapi kami tidak bisa
membiarkan Po po menghina kami.”

Si nenek tertawa dan berkata, “Lidah perempuan she Teng itu sangat beracun. Dia menentang kau
sebagai Ciangboenjin, tapi kau masih mau melindungi dia.”

“Orang luar tidak dapat mencampuri urusan dalam dari partai kami,” kata nona Cioe. “Aku yang
rendah telah menerima warisan Siansoe dan meskipun berkepandaian cetek, tak bisa aku
mempermisikan orang luar menghina saudari seperguruanku.”

Si nenek tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Bagus!” katanya. Baru saja berkata begitu, ia batuk-
batuk lagi dengan hebatnya. Buru-buru Coe Jie menyodorkan sebutir pel yang lalu ditelannya
dengan napas tersengal.

Beberapa saat kemudian, sesudah batuknya mereda, kedua tangan si nenek tiba-tiba menyambar,
sebelah tangannya menekan punggung dan sebelah tangan menindih dada Cie Jiak. Gerakan itu
dilakukan dalam kecepatan kilat dan nona Cioe tidak berdaya lagi, karena jari-jari tangan Kim
hoa po po sudah menempel pada jalan darahnya yang membinasakannya. Dengan mata membelalak, Cie
Jiak mengawasi lawannya.

Advertisements

2 Comments »

  1. HMM…….kelanjutan nya donk…Please………..thank’s ya..

    Comment by ian — 11/04/2009 @ 7:10 am

  2. makasih banget dheh klo kelanjutannya di terusin soalnya Di film nya ga selesai …Thank’s ya..

    Comment by ian — 11/04/2009 @ 10:55 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: