Kumpulan Cerita Silat

01/11/2008

Kisah Membunuh Naga (54)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:40 am

Kisah Membunuh Naga (54)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tapi sekarang ia harus mengucapkan sumpah yang begitu hebat. Sumpah yang menyebut roh kedua orang tuanya, sumpah yang menyeret juga anak-anaknya yang belum lahir. Tapi melihat sinar mata gurunya yang berkilat-kilat, ia tidak berani membantah. Dengan kepala puyeng dan dengan suara parau, ia mengucapkan kata-kata yang diucapkan Biat Coat.

Sesudah muridnya itu bersumpah begitu berat, paras si nenek berubah lunak, “Kau bangunlah,” katanya.

Dengan air mata bercucuran, Cie Jiak lantas bangun berdiri.

Sesaat kemudian, Biat Coat berkata pula dengan suara halus bercampur rasa terharu yang sangat besar. “Cie Jiak, aku bukan sengaja menekan kau. Setiap tindakanku adalah untuk kebaikanmu sendiri. Kau masih berusia muda dan mulai dari sekarang, gurumu tidak bisa melihat kau lagi. Apabila kau mengikuti contoh Kie Soecimu, maka di alam baka, gurumu tak akan merasa senang. Di samping itu, ada sesuatu yang sangat penting. Apapula gurumu sekarang ingin menyerahkan tanggung jawab yang sangat berat di atas pundakmu, sehingga kau sedikitpun tak bisa berlaku sembarangan.” Seraya berkata begitu, ia mencabut sebuah cincin besi dari telunjuk kirinya dan berdiri tegak, “Murid wanita Go Bie Pay, Cioe Cie Jiak, kau berlututlah untuk menerima amanat!” katanya dengan suara angker.

Cie Jiak terkejut dan segera menekuk lututnya.

Sambil mengangkat cincin besi itu tinggi-tinggi, Biat Coat Soethay berkata pula, “Ciang Boen Jin Go Bie Pay turunan ketiga pendeta wanita Biat Coat, dengan ini menyerahkan kedudukan Ciang Boen Jin kepada murid wanita turunan keempat, Cioe Cie Jiak.”

Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Sedang kepalanya masih pusing sebagai akibat pengucapan sumpah yang berat itu, ia mendapat lain kekagetan hebat. Ia hanya mengawasi sang guru dengan mulut ternganga dan mata membelalak.

“Cioe Cie Jiak, keluarkan tangan kirimu untuk menerima cincin besi sebagai tanda Ciang Boen Jin dari partai kita,” kata pula si nenek.

Bagaikan seorang linglung, si nona menyodorkan tangan kirinya dan sang guru segera memasukkan cincin itu ke telunjuknya.

Sekarang baru Cie Jiak bisa membuka suara, “Soehoe,” katanya dengan suara bergemetar, “teecoe masih sangat muda dan belum lama belajar ilmu, cara bagaimana teecoe bisa memikul beban yang begitu berat? Soehoe jangan berkata begitu, dengan sesungguhnya teecoe tak dapat… ” ia tak dapat meneruskan perkataannya dan sambil menangis ia memeluk kedua betis gurunya.

Mendengar suara tangisan, Lok Thung Kek yang sudah sangat tidak sabaran, lantas saja mengetuk pintu, “Hei! Apa belum beres?” teriaknya.

“Jangan rewel!” bentak Biat Coat. Ia mengawasi si murid dan berkata dengan suara menyeramkan, “Cie Jiak, apakah kau membantah perintah gurumu?” tanpa menunggu jawaban, ia segera menyebutkan peraturan dan larangan bagi seorang Ciang Boen Jin Go Bie Pay dan menyuruh murid itu menghafal larangan tersebut.

Nona Cioe jadi makin bingung. Dengan air mata bercucuran, ia berkata, “Soehoe, teecoe…. Sungguh-sungguh…. Tak…. Sanggup… ”

“Cie Jiak!” bentak si nenek dengan gusar. “Apa benar-benar kau mau membantah perintahku? Seorang murid yang melawan kemauan guru adalah murid yang menghina guru,” meskipun suaranya keras, hatinya sedih seperti tersayat pisau. Ia merasa kasihan terhadap muridnya itu.

Ia bakal segera meninggalkan dunia ini dan secara mendadak ia menaruh beban seberat itu di atas bahu seorang wanita muda yang lemah. Memang mungkin sekali Cie Jiak tidak menunaikan tugasnya secara memuaskan. Akan tetapi ia tahu, bahwa di antara murid-murid Go Bie Pay, nona Cioe-lah yang paling cerdas otaknya. Demi kepentingan dan kemakmuran Go Bie Pay, hanyalah dia seorang yang pantas menjadi Ciang Boen Jin. Ia dapat membayangkan, bahwa sesudah ia pulang ke alam baka, murid kecil itu akan menghadapi macam-macam kesukaran dan penderitaan.

Mengingat begitu, bukan main rasa dukanya. Dengan kedua tangan ia membangunkan Cie Jiak yang lalu dipeluknya. “Cie Jiak,” katanya dengan suara lembut. “Kau dengarlah, bahwa aku sudah menyerahkan kedudukan Ciang Boen Jin kepadamu dan bukan salah seorang dari para kakak seperguruanmu adalah bukan karena aku memilih kasih. Sebab musababnya ialah seorang Ciang Boen Jin partai kita harus memiliki ilmu silat yang sangat tinggi yang dapat bersaing dengan lain-lain partai.”

“Tapi soehoe,” kata Cie Jiak. “Ilmu silat teecoe kalah jauh dari para suci.”

Biat Coat tersenyum, “kepandaian mereka sangat terbatas,” katanya. “Sesudah mencapai batas tertentu, mereka sukar bisa maju lebih jauh. Inilah soal bakat yang tak dapat diubah dengan tenaga manusia. Biarpun sekarang ilmu silatmu masih kalah jauh dari para sucimu, tapi di hari kemudian kepandaian yang bakal dimiliki olehmu tak dapat diukur bagaimana tingginya, Hm… tak dapat diukur bagaimana tingginya.”

Dalam bingungnya, walaupun mendengar, Cie Jiak tak bisa menangkap maksud perkataan sang guru.

Sesaat kemudian Biat Coat mendekati muridnya dan berbisik di kuping si nona. “Kau sekarang Ciang Boen Jin partai kita dan adalah kewajibanku untuk memberitahukan suatu rahasia besar kepadamu. Couwsoe pendiri partai kita ialah Kwee Liehiap, puteri kedua Tay Hiap Kwee Ceng. Pada waktu tentara goan merampas kota Siang Yang, dalam peperangan yang sangat hebat, Kwee Tayhiap gugur untuk nusa dan bangsa. Sebelum melepaskan napasnya yang penghabisan, ia memberitahukan rahasia besar ini kepada Couwsoe Kwee Liehiap. Pada jaman itu, nama Kwee Tayhiap menggetarkan seluruh dunia. Ia memiliki dua rupa ilmu yang sangat istimewa, pertama ilmu perang dan kedua ilmu silat. Isteri Kwee Tayhiap adalah Oey Yong, Oey Liehiap seorang wanita yang pintar luar biasa. Siang-siang ia sudah menduga, bahwa kota Siang Yang pasti akan dirampas oleh tentara Goan yang sangat kuat. Kedua suami isteri itu telah mengambil keputusan untuk membalas budi negara dengan mengorbankan jiwa. Inilah keputusan yang biasa diambil oleh kesatria-kesatria yang bersetia kepada negara. Tapi bukankah sayang sekali apabila dua rupa ilmu Kwee Tayhiap turut menjadi musnah?”

“Apapun Oey Liehiap sudah menduga, bahwa orang Mongol akan menguasai Tiongkok dan hal itu pasti akan menimbulkan rasa penasaran dalam hati segenap bangsa Han. Di satu waktu bangsa Han tentu akan memberontak untuk menggulingkan pemerintah penjajahan. Pemberontakan itu akan merupakan peperangan hebat. Manakala saatnya tiba, maka kedua ilmu Kwee Tayhiap akan berguna besar, Oey Liehiap merundingkan hal ini dengan suaminya. Akhirnya mereka mengambil suatu keputusan. Ia mengundang tukang yang pandai betul dalam pembuatan senjata. Tukang itu melebur Hian Tiat Kiam, milik Yo Ko Tay Hiap, dan dengan menambahkannya dengan emas murni dari daerah barat, ia membuat Ie Thian Kiam.

Cie Jiak terkejut, ia mengenal Ie Thian Kiam dan sudah lama ia mendengar nama To Liong To. Tapi baru sekarang ia mengetahui sejarah kedua senjata mustika itu.

Biat Coat melanjutkan penuturannya. “Dengan menggunakan waktu sebulan, Oey Liehiap dan Kwee Tayhiap menulis ilmu perang dan ilmu silat yang kemudian disembunyikan dalam pedang dan golok itu. Yang disembunyikan di dalam To Liong To adalah ilmu perang. Golok itu dinamakan To Liong. Nama itu mengandung arti bahwa di kemudian hari, orang bisa mendapatkan kitab ilmu perang di dalam golok tersebut harus mengusir Tat Coe dan membunuh kaisar Tat Coe. Yang disembunyikan di dalam Ie Thian Kiam ialah kitab ilmu silat, antaranya yang paling berharga adalah Kioe Im Cin Keng dan Hang Liong Sip Pat Ciang. Kedua suami isteri mengharap, supaya di belakang hari, orang yang mendapatkannya bisa berbuat kebaikan terhadap sesama manusia, bisa menumpas kejahatan dan menolong rakyat.

“Sesudah pembuatan pedang dan golok mustika itu selesai. Oey Liehiap menyerahkan To Liong To kepada Kwee Kong (paduka Kwee) Poh Louw dan Ie Thian Kiam kepada Kwee Couw Soe. Tak usah dikatakan lagi, Kwee Couw Soe telah mendapat pelajaran ilmu silat dari ayah dan ibunya, sedang Kwee Kong Poh Louw mendapat pelajaran ilmu pedang dari kedua orang tuanya. Tapi Kwee Kong Poh Louw gugur bersama-sama ayah dan ibunya. Bakat Kwee Couw Soe tidak sesuai dengan pelajaran ilmu silat dari ayahandanya. Maka itulah sebabnya mengapa ilmu silat partai kita berbeda dari ilmu silat Kwee Tayhiap.”

Dari para kakek seperguruannya, Cie Jiak memang sudah mendengar cara bagaimana berbagai partai persilatan berebut To Liong To, sehingga belakang mereka naik ke Boe Tong dan sebagai akibatnya, kedua orang tua Boe Kie sampai membunuh diri. Sekarang baru ia tahu, bahwa pedang dan golok itu mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan Go Bie Pay.

Sementara itu, Biat Coat Soethay melanjutkan penuturannya. “Selama kurang lebih seratus tahun, di dalam rimba persilatan timbul gelombang hebat. Beberapa kali, pedang dan golok itu menukar majikan. Belakangan orang hanya tahu, bahwa To Liong To adalah “Boe Lim Cie Coen” (yang termulia dalam rimba persilatan) dan yang dapat menandinginya hanyalah Ie Thian Kiam, tapi orang tak tahu mengapa golok itu dipandang sebagai “Boe Lim Cie Coen”. Kwee Kong Poh Louw mati muda. Ia tak punya keturunan dan tak punya murid yang bisa mewarisi kepandaiannya dan rahasia besar itu. Maka itulah, hanya Couw Soe seorang yang tahu rahasia itu. Selama hidupnya, Couw Soe telah beruasaha sekuat tenaga untuk mencari To Liong To, tapi semua usahanya tinggal sia-sia.

Pada waktu mau meninggal dan CouwSoe telah memberitahukan rahasia ini kepada Insoe (guruku yang besar badannya) It Ceng SoeThay. Insoe adalah seorang yang sangat mulia dan lemas hatinya. Ia mempunyai seorang murid durhaka. Belakangan bukan saja To Liong To tidak dicari, bahkan Ie Thian Kiam dicuri oleh soecieku itu yang mempersembahkannya kepada kaisar Goan. Insoe sangat berduka dan mati mengenaskan. Sebelum menutup mata, ia juga memerintahkan supaya aku mengambil pulang kedua senjata mustika itu.

“Ah, kalau begitu teecoe mempunyai seorang soepeh yang kurang baik.” Kata Cie Jiak.

Paras muka Biat Coat lantas saja berubah dingin bagaikan es. “Kau masih memanggil Soepeh kepada manusia pengkhianat itu?” katanya dengan suara gusar.

Si nona menundukkan kepalanya dan tidak berani menjawab.

“Akhirnya murid pengkhianat itu tidak terlolos dari tanganku.” Kata pula Biat Coat. “Karena hatinya jahat, ilmu silatnya tak terlalu tinggi. Kau boleh merasa bangga bahwa gurumu tak menyia-nyiakan pesan Soecouw-mu. Pada akhirnya aku berhasil membersihkan rumah tangga kita.” (membersihkan rumah tangga kita berarti menyingkirkan kejahatan dalam kalangan sendiri)

“Membersihkan rumah tangga kita?” menegas si nona.

Paras muka Biat Coat berkelebat sinar kebanggaan dan kekejaman. “Benar,” katanya dengan suara angkuh. “Di kaki gunung Gak Louw San, di daerah kota Tiang See, aku menyandak manusia durhaka itu dan dengan pukulan Pwee Hoa Pwee Yan (bukan bunga, bukan asap) aku menikam jantungnya. Dahulu, dialah orang yang mengajarkan pukulan itu. Dia pernah mengejek diriku dengan mengatakan, bahwa seumur hidup, aku tidak akan bisa menggunakan pukulan tersebut. Pada malam itu, di bawah sinar rembulan, aku sebenarnya sudah bisa mengambil jiwanya dalam dua ratus jurus.

“Tapi sebab aku bertekad untuk membinasakannya dengan Pwee Hoa Pwee Yan, maka sesudah bertempur kurang lebih tiga ratus jurus, barulah aku berhasil. Huh! Huh!… itulah kejadian dua puluh tahun berselang.”

Cie Jiak bergidik. Entah mengapa, di dalam lubuk hatinya muncul perasaan kasihan terhadap soepeh yang berkhianat itu.

Tiba-tiba Lok Thung Kek memukul-mukul pintu. “Hei! Sudah beres belum?” teriaknya. “Aku tidak bisa menunggu lagi.”

“Tak lama lagi,” sahut Biat Coat. “Kau tunggulah.” Sesudah itu, ia berkata lagi di kuping muridnya. “Waktu sudah mendesak, kita tak dapat membicarakan lagi hal yang penting. Belakangan, Ie Thian Kiam dihadiahkan kepada Jie Lam Ong oleh kaisar Goan. Aku berhasil mencurinya dari gedung raja muda itu. Hanya sungguh sayang, aku terjebak dan pedang itu jatuh ke tangan Mo Kauw.”

“Bukan,” membantah si murid. “Ie Thian Kiam dirampas oleh Tio Kouw Nio.”

Biat Coat mendelik. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia berkata. “Apa kau tidak tahu bahwa perempuan she Tio itu adalah kawannya si Kauw Coe Mo Kauw? Apa sampai pada detik ini kau masih tidak percaya perkataan gurumu?”

Nona Cioe memang tidak percaya, tapi ia tidak berani membantah lagi.

“Cie Jiak, kau dengarlah,” kata pula sang guru. “Dalam memilih kau sebagai Ciang Boen Jin, gurumu mempunyai suatu maksud yang dalam. Aku jatuh ke dalam tangan orang jahat, sehingga nama besarku yang didapat selama puluhan tahun musnah laksana disapu air. Aku sendiri memang tak sudi keluar dari menara ini dengan masih bernapas, penjahat cabul she Thio itu punya niatan tidak baik atas dirimu. Tapi menurut pendapatku, dia tidak akan mengambil jiwamu. Sekarang aku memerintahkan kau untuk berlagak membalas cintanya dan kemudian begitu mendapat kesempatan, kau rampas pedang Ie Thian Kiam. Golok To Liong To ada di tangan Cia Soen, ayah angkat penjahat she Thio itu. Biar bagaimana jua pun, bocah itu tidak akan membuka rahasia di mana adanya Cia Soen. Tapi di dalam dunia terdapat manusia yang bisa memaksa dia mengambil golok tersebut.”

Cie Jiak tahu, bahwa seorang manusii itu dimaksudkan dirinya sendiri. Ia kaget bercampur malu, girang bercampur takut.

“Orang itu adalah kau sendiri,” kata pula sang guru. “Aku memerintahkan kau mengambil pulang pedang dan golok mustika itu dengan menggunakan kecantikanmu. Aku tahu, tindakan ini memang bukan tindakan seorang kesatria. Akan tetapi dalam usaha besar, orang tak perlu menghiraukan soal-soal remeh. Cobalah kau pikir, Ie Thian Kiam berada dalam tangan si perempuan She Tio, sedang To Liong To jatuh ke dalam tangan bangsat Cia Soen. Jahat bertemu dengan jahat, pedang bertemu dengan golok. Apabila mereka berhasil mengambil ilmu perang dan ilmu silat Kwee Tayhiap, betapa besar penderitaan umat manusia di kolong langit ini. Di samping itu usaha mengusir penjahat Tat Coe pun akan menjadi lebih sukar lagi. Cie Jiak, ku tahu, bahwa beban yang ditaruh di atas pundakmu terlampau berat. Sebenar-benarnya aku merasa tak tega untuk memerintahkan kau memikul yang berat itu. Tapi apakah adanya maksud tujuan orang-orang seperti kita dalam mempelajari ilmu silat” Cie Jiak, demi kepentingan rakyat di seluruh negeri, aku memohon kepada kau.” Seraya berkata begitu, ia berlutut di hadapan muridnya.

Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Buru-buru iapun menekuk kedua lututnya dan berseru dengan suara parau, “Soehoe!… ”

“Ssst! Perlahan sedikit, jangan sampai penjahat di luar mendengarkan pembicaraan kita. Apa kau sudi meluluskan permintaanku? Sebelum kau meng-iya-kan aku, aku tidak akan bangun.”

Cie Jiak merasa kepalanya puyeng. Dalam waktu sependek itu, gurunya telah mengeluarkan tiga perintah sulit. Pertama, ia diperintah untuk mengangkat sumpah berat, bahwa ia tidak akan mencintai Boe Kie. Kedua, ia diperintah menerima kedudukan Ciang Boen Jin dari Go Bie Pay. Akhirnya ia diperintah memancing Boe Kie dengan kecantikannya untuk merampas pulang To Liong To dan Ie Thian Kiam. Sebagai seorang wanita muda belia yang berarti sangat lemah, ia sungguh-sungguh tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kepalanya berputar, matanya berkunang-kunang, ia hampir pingsan. Cepat-cepat ia memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir untuk coba mempertahankan diri.

Tiba-tiba ia merasa bibirnya sakit dan ia membuka kedua matanya. Sang guru masih terus berlutut. “Soehoe… bangunlah!” katanya sambil menangis.

“Apakah kau sudi meluluskan permintaanku?” tanya Biat Coat pula.

Dengan air mata mengucur, si nona menggut-manggutkan kepalanya.

Biat Coat mencekal pergelangan tangan muridnya erat-erat dan berbisik. “Sesudah merampas pulang To Liong To dan Ie Thian Kiam, kau harus segera pergi ke tempat sepi, ke tempat yang tak ada manusianya. Dengan sebelah tangan mencekal golok dan sebelah tangan memegang pedang, kau harus mengerahkan tenaga dalam dan saling membacokkan kedua senjata itu. Bacokan itu akan mematahkan atau memutuskan golok dan pedang dengan berbareng. Sesudah itu, barulah kau bisa mengambil pit-kip (kitab) yang disembunyikan di dalam kedua senjata itu. Cie Jiak, inilah cara satu-satunya untuk mengambil kedua kitab yang berharga itu. Sampai di situ tamatlah riwayat To Liong To dan Ie Thian Kiam. Apa kau ingat pesananku?” walaupun berbicara dengan suara berbisik-bisik, paras muka Biat Coat angker dan kereng.

Si murid mengangguk.

“Cara itu, cara yang diambil kedua pit-kit merupakan rahasia terbesar dari partai kita.” Kata pula sang guru. “Semenjak Oey Liehiap mewariskan tentang rahasia kitab ini kepada Kwee SoeCouw, hanyalah Ciang Boen Jin dari partai kita yang mengetahuinya. To Liong To dan Ie Thian Kiam adalah senjata mustika. Andaikata seseorang bisa memiliki kedua senjata itu dengan berbareng, ia pasti tak akan berlaku begitu gila untuk merusakkan kedua-duanya. Sesudah memiliki kitab ilmu perang, kau harus mencari seorang pecinta negeri yang berhati mulia untuk mewarisi kitab tersebut. Sebelum menyerahkannya, kau harus menyuruh dia bersumpah, bahwa dengan segala usaha dan kepandaiannya, dia akan mencoba untuk mengusir kaum penjajah. Kitab ilmu silat harus dipelajari olehmu sendiri. Dalam seluruh penghidupannya, gurumu mempunyai dua angan-angan, yang pertama adalah mengusir Tat Coe dan merampas pulang negara kita. Yang kedua adalah mengangkat derajat Go Bie Pay sedemikian rupa sehingga partai kita berada di sebelah atas Siauw Lim, Boe Tong dan lain partai. Sehingga partai kita menjadi partai yang paling utama dalam rimba persilatan. Kedua angan itu memang sukar tercapai. Tapi sekarang kita sudah melihat satu jalanan. Apabila kau mentaati pesan gurumu, belum tentu kau tidak akan berhasil, di alam baka gurumu akan merasa sangat berterima kasih terhadapmu.”

Baru ia sampai di situ, pintu sudah digedor oleh Lok Thung Kek.

“Masuklah!” kata Biat Coat.

Pintu terbuka, tapi yang masuk bukan Lok Thung Kek. Yang masuk adalah Kouw Touwtoo. Biat Coat tidak menjadi heran. Baginya Lok Thung Kek atau Kouw Touwtoo tidak berbeda, “Bawa anak itu keluar,” katanya sambil mengibaskan tangan. Ia tidak mau muridnya menyaksikan waktu ia membunuh diri. Karena khawatir si murid tidak dapat mempertahankan diri.

Namun diluar dugaan Kouw Touwtoo mendekati dan berbisik, “Telanlah obat pemunah ini. Sebentar, kalau di luar suara ribut, kau harus turut menerjang keluar.”

Biat Coat heran dan bingung. “Siapa tuan?” tanyanya. “Mengapa tuan menyerahkan obat pemunah kepadaku?”

“Aku dari Kong Beng Yoe Soe dari Beng Kauw dan aku bernama Hoan Yauw. Aku berhasil mencuri obat ini dan aku sengaja datang untuk menolong Soe Thay,” jawabnya.

Darah si nenek lantas saja meluap. “Penjahat Mo Kauw!” bentaknya. “Sampai saat ini kau masih coba mempermainkan aku?”

Hoan Yauw tertawa, “Baiklah!” katanya. “Aku tak membantah anggapanmu. Apa kau mempunyai nyali untuk menelannya? Begitu masuk di perut, racun ini akan memutuskan isi perutmu.”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, si nenek menyambut bubuk yang diangsurkan kepadanya, membuka mulut dan lalu menelannya.

“Soehoe… soehoe!…” teriak Cie Jiak.

“Jangan ribut!” bentak Hoan Yauw. “Kaupun harus menelan racun ini.”

Si nona terkejut, tapi ia tak berdaya karena badannya sudah dipeluk dan mulutnya dibuka. Dengan cepat, Hoan Yauw memasukkan bubuk obat dan menuang air ke dalam mulut si nona sehingga obat pemunah itu lantas saja masuk ke dalam perut.

Tak kepalang gusarnya Biat Coat. Matinya Cie Jiak berarti musnahnya segala harapan. Dengan kalap, ia menubruk Hoan Yauw, tapi sebab tak punya tenaga dalam, ia segera kena dirobohkan.

“Semua pendeta Siauw Lim dan jago-jago Boe Tong sudah menelan racunku itu.” Kata Hoan Yauw sambil menyeringai. “Apa orang Beng Kauw manusia jahat atau manusia baik, kau segera akan mengetahui.” Seraya berkata begitu, ia melompat keluar dan mengunci pintu.

Ajakan Tio Beng untuk mencari Boe Kie sangat membingungkan Hoan Yauw. Bagaimana ia dapat menunaikan tugas untuk merampas obat pemunah? Maka itu, setelah mendapat permisi dari Tio Beng untuk minum arak di ruangan depan, ia segera kabur ke Ban Hoat Sie. Tanpa membuang waktu, ia mendaki menara sampai ke lantai paling atas, di mana ia bertemu dengan Yoe Liong Coe yang sedang menjaga di luar kamar sendiri.

Melihat Hoan Yauw, Yoe Liong Coe menyambut dengan hormat, “Kouw Touwtoo,” katanya sambil membungkuk.

Hoan Yauw manggut-manggutkan kepalanya. “Kurang ajar si tua bangka,” katanya di dalam hati. “Muridnya disuruh menjaga di luar, sedang dia sendiri bercinta-cintaan dengan selir Ong Ya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini.”

Ia melangkah berjalan melewati Yoe Liong Coe dan tiba-tiba, secepat kilat, jari tangannya menotok jalan darah di kempungan murid kepala Lok Thung Kek. Jangankan Yoe Liong Coe tidak berwaspada, sekalipun siap sedia, belum tentu ia bisa meloloskan diri dari totokan Hoan Yauw. Begitu tertotok, badannya tak bisa bergerak lagi dan ia mengawasi si pendeta dengan mata membelalak. Kedosaan apa yang sudah diperbuatnya? Apakah ia berlaku kurang hormat?

Hoan Yauw segera mendobrak pintu dan melompat ke dalam. Sebelum kakinya hinggap di lantai, tangannya menghantam tubuh yang berbaring di ranjang. Ia tahu, bahwa Lok Thung Kek berkepandaian tinggi dan kalau ia tidak membokong dengan pukulan yang membinasakan, ia harus melakukan pertempuran lama dan belum tentu ia bisa menang. Maka itu, dalam pukulan itu, ia menggunakan seantero tenaganya.

“Buk!” kasur pecah dan kapas berhamburan. Tapi waktu membuka kasur, ia kaget, sebab ia hanya melihat sesosok tubuh, yaitu Han Kie yang sudah binasa dengan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Lok Thung Kek sendiri tak kelihatan bayangan-bayangannya. Setelah memikir sejenak, buru-buru Hoan Yauw keluar dan menyeret masuk Yoe Liong Coe yang kemudian digulingkan masuk ke kolong ranjang. Sesudah itu, ia merapatkan pintu dan menunggu.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar teriakan Lok Thung Kek.

“Liong Jie! Liong Jie!” panggilnya dengan suara gusar. “Ke mana kau?”

Sebagaimana diketahui, si kakek telah dijemur Biat Coat. Dengan mendongkol, ia menunggu di luar kamar. Karena tak tahu sampai kapan si nenek baru selesai bicara dengan muridnya, ia segera mengambil keputusan untuk menengok Han Kie dan sebentar kembali lagi. Setibanya di depan kamar Yoe Liong Coe, ia marah besar karena murid itu tak mentaati perintahnya. Ia menolak pintu. Hatinya agak lega karena di dlam kamar tak terjadi perubahan dan si cantik masih berbaring di ranjang dengan tubuh tertutup kasur. Setelah menapal pintu, ia berkata sambil tertawa, “Nona cantik, aku akan membuka jalan darahmu. Tapi aku mengharap kau tak mengeluarkan suara.” Seraya berkata begitu, ia memasukkan tangannya ke bawah kasur untuk menotok punggung Han Kie.

Mendadak, mendadak saja, ia merasa pergelangan tangannya dicengkeram dengan jari-jari tangan yang keras bagaikan besi dan berbareng tenaganya habis. Kasur tersingkap dan dari bawah kasur keluar seorang pendeta rambut panjang, Kouw Touwtoo!

Dengan tangan kanan mencekal pergelangan tangan si kakek, Hoan Yauw segera menotok sembilan belas hiat utama sekujur badan Lok Thung Kek, sehingga jago itu benar-benar tidak berdaya lagi dan hanya bisa mengawasi musuh dengan mata melotot.

Sambil menuding hidung si kakek, Hoan Yauw berkata, “Tua bangka! Aku tak pernah mengubah she atau menukar nama. Aku adalah Kong Beng Yoe Soe dari Beng Kauw, Hoan Yauw namaku. Kau sudah kena ditipu olehku dan cuma-Cuma saja kau selalu membanggakan diri sebagai manusia yang pintar dan cerdas. Sebetulnya kau tak lebih dan tak kurang daripada manusia goblok. Kalau kini aku akan membunuhmu, aku mengampuni jiwamu, jika kau mempunyai nyali, di belakang hari kau boleh mencari Hoan Yauw untuk membalas sakit hatimu.”

Sebab kuatir Lok Thung Kek berhasil membuka jalan darahnya dengan jalan menggunakan Lweekang sendiri. Sesudah berkata begitu, ia menghantam kaki tangan si kakek sehingga tulang-tulangnya patah. Hoan Yauw adalah seorang anggota Beng Kauw yang masih memiliki Sia Khie (sifat-sifat sesat) Sesudah mematahkan tulang si kakek, ia masih belum merasa puas. Sambil menyeringai, ia membuka pakaian Lok Thung Kek dan merendengkannya dengan mayat Han Kie kemudian menggulung dua sosok tubuh itu. Satu manusia hidup, dan satu mayat dengan satu kasur. Sesudah itu, barulah ia mengambil kedua tongkat Lok Thung Kek, membuka salah sebuah cabang tanduk menjangan dan menuang semua obat pemunah. Dengan hati gembira, dia segera pergi ke berbagai kamar tahanan dan membagi obat kepada Kong Boen Taysoe, Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan yang lain-lain. Dalam memberi pertolongan, beberapa kali ia harus menerangkan secara panjang lebar kepada orang-orang yang bersangsi, sehingga ia harus menggunakan waktu banyak sekali. Kamar yang paling akhir dikunjungi ialah kamar Biat Coat Soethay. Melihat sikap si nenek, ia sengaja mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan hawa amarah. Dengan berbuat begitu, hatinya senang, sebab pada hakikatnya ia membenci pemimpin Go Bie Pay itu yang pernah membinasakan banyak anggota Beng Kauw.

Tapi baru saja tugasnya selesai dan hatinya tergirang-girang, sekonyong-konyong di kaki menara terdengar teriakan-teriakan ramai. Dengan kaget, ia mamasang kuping. Di antara suara ramai-ramai itu, ia menangkap teriakan Ho Pit Ong. “Kouw Touwtoo mata-mata musuh! Tangkap! Tangkap dia!”

Hoan Yauw mengeluh. “Celaka! Siapa yang menolong bangsat itu?” ia menengok ke bawah dan melihat, bahwa menara itu sudah dikurung oleh Ho Pit Ong dan sejumlah besar boesoe. Hampir berbareng, dua batang anak panah yang dilepaskan oleh Soem Sam Hwie dan Lie Sie Coei menyambar dirinya. “Bangsat! Hebat sungguh kau menyiksa kami!” caci Soem Sam Hwie.

Siapa yang menolong ketiga orang itu?

Dengan totokan Hoan Yauw, tanpa ditolong tak gampang mereka bisa menolong diri sendiri. Yang menolong adalah rombongan boesoe (pengawal) yang mencari Han Kie. Sebagaimana diketahui, rombongan itu telah menanyakan Lok Thung Kek, tapi diusir oleh si kakek. Sesudah mencari di seluruh Ban Hoat Sie usaha mereka tetap sia-sia. Beberapa orang mencurigai Lok Thung Kek yang dikenal sebagai seorang yang gemar akan paras cantik.

Tapi semua orang merasa jeri terhadap si kakek. Siapa yang berani menepuk kepala harimau?

Belakangan sebab kuatir dimarahi Ong Ya. Pemimpin rombongan yang bernama Ali Chewa mendapat satu tipu. Ia memerintahkan seorang boesoe yang berkedudukan rendah untuk mengetuk kamar Lok Thung Kek. Ia menganggap bahwa orang yang berkedudukan tinggi akan berlaku kejam terhadap orang yang bukan tandingannya. Dengan memberanikan hati, boesoe itu mengetuk pintu. Di luar dugaan, sesudah diketuk beberapa kali dari dalam tak ada jawaban. Sesudah menunggu beberapa lama, Ali Chewa jadi nekat dan mendobrak pintu.

Begitu pintu terbuka, ia terkesiap karena melihat tiga sosok tubuh Ho Pit Ong, Soem Sam Hwie, dan Lie Sie Coei yang tergeletak di lantai. Ketika itu, Ho Pit Ong sudah hampir membuka jalan darahnya sendiri. Dengan bantuan Ali Chewa, jalan darah yang tertotok segera terbuka.

Sesudah Soem Sam Hwie dan Lie Sie Coei tertolong, dengan kegusaran yang meluap-luap Ho Pit Ong segera mengajak rombongan boesoe itu pergi ke menara dan mengurungnya. Dari bawah, ia berteriak-teriak menantang Kouw Touwtoo untuk bertempur sampai ada yang binasa.

“Bangsat tua! Apa kau kira Hoan Yauw takut terhadapmu?” Hoan Yauw balas mencaci. Di dalam hati ia merasa bingung. Rahasianya sudah terbuka, tapi ia tak akan bisa melawan musuh yang jumlahnya begitu besar, sedang anggota keenam partai yang baru saja menelan obat dan belum pulih tenaga dalamnya. Untuk sementara waktu belum bisa memberikan bantuannya.

“Tauw Too jahanam! Kalau kau tidak mau turun, akulah yang akan naik ke atas!” teriak pula Ho Pit Ong.

Tiba-tiba Hoan Yauw mendapat akal. Ia masuk ke kamar Yoe Liong Coe dan keluar pula dengan membungkus tubuh Han Kie dan Lok Thung Kek. Sambil mengangkat kasur itu tinggi-tinggi, ia berteriak, “Tua bangka, begitu kau bertindak masuk pintu menara, begitu aku melemparkan tubuh lelaki dan perempuan cabul ini!”

Para boesoe mengangkat obor dan lapat-lapat mereka bisa melihat muka Lok Thung Kek dan Han Kie.

Bukan main kagetnya Ho Pit Ong. “Soeko! Soeko! Bagaimana kau?” teriaknya. Lok Thung Kek tidak menyahut. Hati Ho Pit Ong mencelos. Ia menduga, bahwa kakak seperguruannya telah dibinasakan Hoan Yauw.

“Tauw Too bangsat!” teriaknya bagaikan kalap. “Kau sudah membinasakan kakakku, aku bersumpah tak akan hidup bersama-sama dengan kau di dunia ini.”

Mendengar itu, Hoan Yauw segera membuka ah-hiat (jalan darah yang mengakibatkan gagu) si kakek yang lantas saja mencaci. “Tauw Too bangsat! Aku bersumpah mencincang badanmu seperti perkedel!… ” Baru mencaci sampai di situ, ah-hiat sudah ditotok lagi.

Sesudah mendapat bukti bahwa soeheng-nya belum mati. Ho Pit Ong merasa lega dan demi keselematan jiwa sang kakak ia tidak berani maju lebih jauh.

Untuk beberapa lama, Ho Pit Ong dan rombongan boesoe tidak berani bergerak. Hoan Yauw sendiri tentus saja sebiwa mungkin ingin mempertahankan keadaan itu. Ia perlu mendapat waktu supaya tokoh-tokoh keenam partai yang baru mendapat obat keburu pulih tenaga dalamnya.

Sambil tertawa terbahak-bahak, ia berteriak, “Tua bangka she Ho! Sungguh besar nyali soehengmu. Dia berani menculik selir Ong Ya. Aku sudah menangkap kedua-duanya. Tua bangka! Apa kau berani melindungi soehengmu yang kotor itu? Ali Chewa Cong Koan, mengapa kau tak lantas membekuk tua bangka itu? Dia dan kakaknya berdosa besar dan harus mendapat hukuman mati. Dengan membekuk dia, kau akan mendapat hadiah besar.”

Ali Chewa melirik Ho Pit Ong. Ia niat turun tangan, tapi ia merasa jeri kepada jago tua yang berkepandaian tinggi itu. Di dalam hati, ia merasa heran Kouw Touwtoo tiba-tiba bisa bicara. Ia tahu, bahwa kejadian itu mesti ada latar belakangnya. Tapi iapun tidak dapat mengabaikan bukti yang nyata dan dengan mata kepala sendiri ia telah melihat Lok Thung Kek dan Han Kie di dalam selembar kasur.

Sesudah memikir sejenak, ia berseru, “Kauw Tay Soe, kau turunlah! Mari kita pergi kepada Ong Ya supaya bisa memutuskan siapa yang salah siapa yang benar. Kalian bertiga adalah Cianpwee yang berkedudukan tinggi. Terhadap siapapun, SiauwJin tidak berani bertindak.”

Hoan Yauw adalah seorang pemberani. Ia segera menghitung-hitung untung -uginya usul Ali Chewa. Ia merasa bahwa dengan menghadap Jie Lam Ong, ia bisa mengulur waktu sampai tenaga dalam tokoh-tokoh keenam partai pulih kembali. Maka itu, ia lantas saja berteriak, “Bagus! Bagus! Aku justru ingin minta hadiah, dari Ong Ya. Ali Cong Koan, tahanlah tua bangka she Ho itu, jangan sampai dia kabur.”

Tapi baru saja Hoan Yauw habis bicara, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kuda yang sangat ramai di lain saat. Sejumlah penunggang kuda menerobos masuk ke pekarangan kelenteng dan terus menghampiri menara.

Para boesoe serentak membungkuk dan berseru, “Siauw Ong Ya!” (Siauw Ong Ya – Raja Muda Kecil berarti putera Jie Lam Ong)

Hoan Yauw mengawasi ke bawah. Ia mendapat kenyataan bahwa yang mengepalai rombongan itu adalah seorang pemuda yang mengenakan jubah sangat indah dengan topi emas dan menunggang seekor kuda bulu putih yang kelihatannya sangat garang. Ia mengenali bahwa pemuda itu bukan lain daripada kkt, alias Ong Po Po, putera Jie Lam Ong.

“Mana Han Kie?” bentak pangeran muda, “Hoe Ong marah besar, beliau memerintahkan aku menyelidiki sendiri.”

Ali Chewa segera menerangkan bahwa Han Kie diculik Lok Thung Kek yang sekarang sudah dibekuk Kouw Touwtoo.

“Dusta!” teriak Ho Pit Ong. “Siauw ong ya, Kouw Touwtoo mata-mata musuh dan dia telah mencelakai soehengku…. ”

Alis Ong Po Po berkerut, “Sudahlah,” katanya, “Semua orang turun dan kita bisa bicara dengan perlahan.”

Sebagai seorang yang sudah berdiam lama di gedung raja muda. Hoan Yauw mengenal Ong Po Po sebagai seorang yang cerdik dan pandai. Kepandaian pemuda itu bahkan melebihi ayahnya sendiri. Ia bisa mendustai orang lain, tapi tak mungkin mengelabui tuan muda itu. Kalau ia turun, hampir boleh dipastikan rahasianya terbuka dan begitu lekas topengnya tercopot, ia pasti akan dikepung. Satu Ho Pit Ong saja sudah sukar dilayani, apalagi begitu banyak orang? Selain begitu, tokoh-tokoh keenam partai juga sukar bisa ditolong lagi.

Sesudah memikir beberapa saat, ia lantas saja berteriak, “Siauw Ong Ya, Ho Pit Ong sangat membenci aku, sebab aku sudah membekuk soehengnya. Kalau aku turun, dia tentu akan membunuhku.”

“Kau turunlah, aku tanggung Ho Sianseng tidak akan menyerang kau,” kata Ong Po Po.

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepalanya. “Di sini lebih selamat,” katanya. “Siauw Ong Ya, selama hidup Kouw Touwtoo tidak pernah bicara. Hari ini karena terpaksa, aku membuka mulut untuk membalas budi Ong Ya yang sangat besar dan untuk memperhatikan kesetiaanku. Kalau kau tidak percaya, lebih baik aku melompat dari sini dan membenturkan kepala di tanah supaya Siauw Ong Ya bisa membuktikan kesetiaanku.”

Mendengar perkataan yang mencurigakan itu, Ong Po Po segera dapat menebak, bahwa si pendeta sedang menjalankan siasat mengulur waktu, “Ali Cong Koan,” bisiknya. “Kurasa ia sedang menjalankan tipu dan mencoba untuk mengulur waktu. Apa kau tahu, siapa lagi yang ditunggu olehnya?”

“Siauwjin tak tahu.” Jawabnya.

“Siauw Ong Ya, penjahat itu telah merampas obat pemunah dari tangan soehengku,” kata Ho Pit Ong. “Ia mau menolong kaum pemberontak yang di tahan di menara.”

Ong Po Po lantas saja tersadar. “Kouw Touwtoo!” teriaknya, “aku tahu kau sangat berjasa, turunlah! Aku akan memberi hadiah besar untukmu.”

“Siauw Ong Ya,aku tidak bisa jalan. Aku kena ditendang Lok Thung Kek dan kedua tulang betisku patah. Tunggulah sebentar, aku akan mengerahkan lweekang untuk mengobati lukaku. Begitu lekas aku bisa berjalan, aku pasti akan segera turun.”

“Ali Cong Koan!” bentak pangeran itu. “Kirim seseorang naik ke atas untuk memapah Kouw Tay soe.”

“Tidak bisa!” teriak Hoan Yauw. “Kalau badanku bergerak, kedua kakiku tak akan bisa digunakan lagi.”

Sekarang Ong Po Po tidak bersangsi lagi. Ia menarik kesimpulan, bahwa pendeta itu seorang musuh yang berselimut. Sesudah Han Kie dan Lok Thung Kek berada dalam satu kasuran. Andaikata mereka tidak main gila, ayahnya tentu tak akan menerima selir itu. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara perlahan, “Ali Cong Koan, bakar menara itu dan siapkan sepasukan pemanah. Binasakan setiap orang yang melompat turun.”

Ali Chewa membungkuk dan segera menjalankan perintah itu. Dalam sekejab, menara itu sudah dikurung oleh para boesoe yang bersenjata gendewa dan anak panah, sedang sejumlah boesoe lainnya mengambil rumput kering, kayu serta bahan api.

Ho Pit Ong kaget tak kepalang, “Siauw Ong Ya,” katanya dengan suara bingung. “Kakakku berada di atas.”

“Tauw Too itu tidak bisa dibiarkan berdiam di atas selama-lamanya.” Kata Ong Po Po dengan suara tawar. “Begitu lekas kaki menara dibakar, ia akan turun sendiri.”

“bagaimana kalau dia melemparkan Soehengku ke bawah?” tanya Ho Pit Ong. “Siauw Ong Ya, janganlah membakar.”

Ong Po Po hanya mengeluarkan suara di hidung dan tidak meladeninya.

Tak lama kemudian para boesoe sudah menumpuk rumput dan kayu kering di seputar menara dan lalu mulai menyulutnya.

Ho Pit Ong adalah seorang ternama besar dalam rimba persilatan. Dengan mendapat undangan yang disertai segala kehormatan ia bekerja kepada Jie Lam Ong dan selama banyak tahun ia dihormati oleh majikan dan rekan-rekannya. Siapa duga hari ini, ia bukan saja ditipu oleh Kouw Touwtoo, tapi juga sudah tidak dipandang sebelah mata oleh Ong Po Po? Karena kakaknya sedang menghadapi bahaya, ia menjadi kalap. Tanpa memperdulikan suatu apa lagi, sambil mengangkat kedua pitnya yang berbentuk patuk burung ho, ia melompat dan menendang dua orang boesoe yang tengah menyulut tumpukan kayu. Hampir berbareng, kedua boesoe itu terpental dan roboh di tanah.

“Ho Sianseng!” Bentak Ong Po Po. “apa kau mau mengacau?”

“Aku takkan mengacau, jika kau tak membakar menara,” jawabnya.

“Bakar!” teriak Ong Po Po dengan gusar. Seraya membentak, ia mengibaskan tangan kirinya. Hampir berbareng dari belakang pangeran muda itu melompat keluar lima orang Hoan ceng yang mengenakan baju merah. Mereka mengambil obor dari lima boesoe dan lalu menyulut tumpukan kayu. Perlahan-lahan api berkobar-kobar.

Ho Pit Ong bingung bukan main. Dari tangan seorang boesoe, ia merampas sebatang tombak yang lalu digunakan untuk memukul-mukul api.

Ong Po Po naik darah, “Tangkap!” bentaknya.

Kelima Hoan Ceng baju merah itu lantas saja menghunus golok dan mengurung. Ho Pit Ong melemparkan tombaknya dan coba merampas golok hoan Ceng yang berdiri di sudut kiri. Tapi pendeta itu bukan sembarang orang. Dengan sekali membalik tangan, ia mengegos sambaran tangan Ho Pit Ong dan terus membacok. Baru saja Ho Pit Ong berkelit, dua golok sudah menyambar pula punggungnya.

Kelima Hoan Ceng (pendeta asing) itu adalah orang-orang kepercayaan Ong Po Po dan mereka termasuk di dalam Thian Liong Sip Pat Po (delapan belas jago Thian Liong). Pemuda itu suka sekali pesiar seorang diri dengan menunggang kuda. Tapi kemanapun ia pergi, dari sebelah kejauhan ia selalu diikuti oleh delapan pengawal pribadinya. Thian Liong Sip Pat Po terdiri dari Ngo To, Ngo Kiam, Sie Thung, dan Sie Poa (lima golok, lima pedang, empat tongkat, dan empat cecer) Lima Hoan ceng yang bersenjata adalah Ngo To Sin (malaikat lima golok) biarpun lihai kalau satu lawan satu, mereka bukan tandingan Ho Pit Ong. Tapi dengan bekerja sama, mereka telah membuat Ho Pit Ong jadi ripu sekali. Tapi keteternya si tua sebagian disebabkan oleh rasa bingungnya dalam memikirkan nasib kakak seperguruannya.

Sesudah Ho Pit Ong dirintangi oleh kelima Hoan Ceng, sejumlah boesoe segera bantu menyalakan api yang makin lama jadi makin besar.

Melihat musuh menggunakan api, Hoan Yauw bingung bercampur kuatir. Sesudah menaruh kasur yang membungkus Lok Thung Kek dan hk di lantai, buru-buru ia masuk ke beberapa kamar tahanan. “Tat Coe membakar menara!” teriaknya, “apa lweekang kalian sudah pulih kembali?”

Tapi teriakannya tidak mendapat jawaban. Ia mendapat kenyataan bahwa Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan yang lain-lain sedang bersemedi. Mereka semua memejamkan mata dan tidak memberi jawaban. Hoan Yauw tahu bahwa mereka berada pada detik yang sangat penting yaitu detik menjelang pulihnya tenaga dalam mereka.

Sementara sejumlah boesoe yang menjaga di beberapa lantai telah dirobohkan dan dilontarkan ke bawah oleh Hoan Yauw sehingga mereka binasa seketika. Juga ada penjaga yang melompat turun sendiri.

Tak lama kemudian api sudah membakar lantai ketiga. Yang dikurung di lantai ini adalah rombongan Hwa San Pay yang terpaksa lari ke lantai empat. Api terus membakar keras. Orang-orang Khong Tong Pay yang ditahan di lantai keempat juga terpaksa naik ke lantai lima bersama-sama rombongan Hwa San Pay.

Makin lama Hoan Yauw jadi makin bingung. Sekonyong-konyong mereka mendengar teriakan seseorang. “Hoan Yoe Soe! Sambutlah!”

Hoan Yauw girang. Itulah teriakan Wie It Siauw yang berdiri di atas wuwungan gedung belakang Ban Hoat Sie. Dengan sekali menghuyun tangan, terbanglah seutas tambang yang lalu disambut Hoan Yauw. “Ikatlah dilainkan supaya menjadi jembatan tambang!” teriak pula Wie Hok Ong.

Tapi baru saja Hoan Yauw mengikat tambang itu, Tio It Siang salah seorang dari Sin Cian Pat Hiong sudah memutuskannya dengan anak panah. Wie It Siauw dan Hoan Yauw mencaci kalang kabut, tapi mereka tahu, bahwa tak guna mencobanya lagi.

“Bangsat! Kau sungguh sudah bosan hidup!” teriak Wie It Siauw seraya menghunus senjata dan melompat turun. Ia menggunakan sepasang gaetan berbentuk kepala harimau yang jarang sekali digunakan kecuali dalam detik-detik berbahaya. Begitu kakinya hinggap di bumi. Lima Hoan Ceng yang berbaju hijau dan bersenjata pedang lantas saja mengepungnya. Kelima pendeta asing itu ialah Ngo Kiam Ceng dari Thian Liong Sip Pat Po.

Sedang api terus berkobar-kobar, dengan rasa bingung Ho Pit Ong bertempur mati-matian. “Siauw Ong ya!” teriaknya. “Kalau kau tak mau memadamkan api, aku takkan berlaku sungkan lagi terhadapmu.”

Ong Po Po tidak meladeninya. Empat Hoan yang bersenjata tongkat lantas berdiri di seputar majikan mereka untuk menjaga serangan di luar dugaan. Ho Pit Ong jadi nekat. Tiba-tiba dengan kedua pit, ia membabat dengan pukulan Hoang Siauw Cian Koen(menyapu ribuan tentara) karena serangan itu hebat luar biasa, tiga hoan ceng terpaksa melompat mundur. Dengan menggunakan kesempatan itu, Ho Pit Ong melompat tinggi dan bagaikan seekor elang, kedua kakinya hinggap di payon lantai menara tinggi yang pertama itu. Melihat api yang berkobar-kobar, kelima pendeta asing itu tidak berani mengejar.

Sambil mengempos semangat, Ho Pit Ong naik ke atas. Waktu ia tiba di lantai keempat, Hoan Yauw yang berdiri di lantai ke tujuh, mengangkat kasur tinggi-tinggi sambil berteriak, “Tua bangka she Ho, berhenti kau! Kalau kau maju setindak lagi, badan soehengmu akan hancur bagaikan perkedel.”

Diancam begitu, benar-benar Ho Pit Ong memberhentikan semua tindakannya. “Kouw Thay Soe!” teriaknya dengan suara memohon. “Soehengku belum pernah berbuat kedosaan terhadapmu dan kita belum pernah bermusuhan, mengapa kau begitu kejam? Kalau kau mau menolong kecintaan Biat Coat Soethay, dan puterimu Cioe Kouw Nio, kau boleh menolong. Kami pasti takkan menghalang-halangi.’

Sekarang marilah kita menengok Biat Coat Soethay. Setelah menelan bubuk yang diberikan Hoan Yauw, ia menduga bahwa ia akan segera mati. Ia tidak takut mati. Yang membuat perasaannya berduka ialah turut matinya Cioe Cie Jiak. Dengan matinya murid itu, habislah harapannya.

Selagi berada dalam kedukaan besar, sekonyong-konyong ia mendengar suara ribut-ribut di kaki menara disusul dengan caci mencaci antara Kouw Touwtoo dan Ho Pit Ong. Sesudah itu, Ong Po Po memerintahkan dibakarnya menara. Semua kejadian itu didengar jelas olehnya. Ia merasa heran dan berkata di dalam hati, “Apa tak bisa jadi touwtoo bangsat itu benar-benar menolong aku?” sambil memikir begitu, ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Sekonyong-konyong ia merasakan naiknya seperti hawa hangat dari bagian tan-tian (pusar). Ia terkesiap. Inilah tanda bahwa tenaga dalamnya mulai pulih.

Dengan wataknya yang sangat keras. Biat Coat menolak untuk memperlihatkan kepandaiannya di hadapat Tio Beng dan telah mogok makan enam tujuh hari sehingga perutnya kosong. Karena perut kosong, obat pemunah bisa bekerja lebih cepat. Berkat lweekangnya yang sangat kuat maka racun Sip Hian Joan Kin san segera terdorong ke luar. Inilah sebabnya mengapa begitu lekas ia mengerahkan tenaga dalam, hawa hangat lantas saja naik ke atas. Tak kepalang girangnya si nenek. Cepat-cepat ia bersila dan mengatur jalan napasnya. Belum cukup setengah jam, kira-kira separuh lweekangnya sudah pulih kembali.

Sambil bersemedi, ia terus memasang kuping. Mendadak ia mendengar perkataan Ho Pit Ong yang tajam bagaikan pisau, “… Kalau kau menolong kecintaanmu, Biat Coat Soethay, dan puterimu, Cioe Kouw Nio, kau boleh menolong…. ”

Biat Coat adalah gadis yang putih bersih. Di waktu masih muda ia bahkan tidak pernah menemui orang lelaki. Dengan demikian dapatlah dibayangkan betapa besar kegusarannya. Dengan mata merah, ia berbangkit dan menghampiri lankan. “Bangsat! Apa kau kata?” teriaknya.

“Toosoethay,” Ho Pit Ong berkata dengan suara memohon. “Bujuklah… sahabatmu. Lepaskanlah soehengku. Aku tanggung keluargamu yang terdiri dari tiga orang akan bisa keluar dari kelenteng ini dengan selamat. Hian Beng Jie Loo tidak pernah menjilat ludah sendiri.”

“Apa itu keluarga dari tiga orang?” teriak pula Biat Coat .

Walaupun tengah menghadapi bencana Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Loo Soethay!” teriaknya, “dia mengatakan bahwa aku adalah kecintaanmu dan Cioe Kouw Nio adalah puteri kita berdua.”

Paras muka si nenek berubah merah padam. Dengan disoroti sinar api, muka itu sungguh menakuti. “penjahat she Ho!” bentaknya. “Naik kau! Mari kita bertempur sampai ada yang mampus!”

Di waktu biasa, Ho Pit Ong pasti akan segera menyambut tantangan itu. Sedikitpun aku tidak merasa takut terhadap Ciang Boen Jin Go Bie Pay. Tapi sekarang kakaknya berada dalam tangan musuh dan ia tidak berani mengubar napsu amarahnya.

“Kouw Touwtoo, itulah keterangan yang diberikan olehmu sendiri,” katanya.

Hoan Yauw kembali tertawa besar. Baru saja ingin mengejek si nenek, di kaki menara terdengar suara ribut yang sangat hebat. Cepat-cepat ia melongok ke bawah. Diantara musuh diringi suara gemerencengnya senjata-senjata yang jatuh di tanah. Orang itu Kauw Coe Thio Boe Kie.

Begitu lekas Boe Kie turun tangan, lima batang pedang dari kelima hc yang mengurung Wie It Siauw lantas saja terpental ke tengah udara. Wie Hok Ong girang tak kepalang. Dengan sekali melompat, ia sudah berada di samping Boe Kie dan berbisik, “Kauw Coe, aku mau pergi ke gedung Jie Lam Ong untuk melepas api.” Boe Kie mengerti maksudnya dan segera mengangguk. Ia tahu, bahwa dengan beberapa orang kalau pihaknya tidak berhasil dalam waktu cepat, musuh segera mengirim bala bantuan maka usaha menolong tokoh-tokoh keenam paraai bisa gagal semua.

Di dalam hati, ia memuji siasat Ceng Ek Hok Ong yang sangat lihai. Begitu lekas Ong Hoe kebakaran, para boesoe pasti akan buru-buru pulang untuk melindungi keluarga raja muda itu.

Di lain saat, dengan sekali berkelebat, Wie Hok Ong sudah berada di atas tembok kelenteng yang tinggi.

Sesudah Wie It Siauw berlalu. Boe Kie menengadah dan berteriak, “Hoan Yoe Soe, bagaimana kau?”

“Celaka besar!” jawabnya, “Jalanan turun terputus, aku tidak dapat meloloskan diri lagi!”

Sesaat itu, empat belas anggota Thian Liong Sip Pat Po serentak menerjang dan mengepung Boe Kie dari berbagai jurusan. Melihat jumlah musuh yang sangat besar, pemuda itu berpendapat bahwa jalan satu-satunya adalah membekuk pemimpin rombongan yang memakai topi emas untuk memaksa dia memadamkan api. Dengan sekali melompat, ia sudah menembus kepungan bagaikan gerakan seekor ikan.

Di lain saat dia sudah berhadapan dengan Ong Po Po. Tapi sebelum ia sempat bergerak, sebatang pedang menyambar dadanya. “Thio Kauw Coe, jangan lukai kakakku!” kata orang yang menikam yang bukan lain daripada Tio Beng. Sambaran pedang itu disertai dengan hawa yang sangat dingin dan Boe Kie tahu, bahwa ia berhadapan dengan Ie Thian Kiam. Bagaikan kilat, ia berkelit ke samping.

“Lekas kau perintah orang memadamkan api dan melepaskan semua tahanan,” kata Boe Kie. “Kalau tidak, aku tak akan berlaku sungkan lagi.”

“Thian Liong Sip Pat Po!” teriak Tio Beng. “Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Kepung dia dengan barisan Thian Liong Tin!”

Tanpa diberitahukan, kedelapan belas orang itu sudah tahu kelihaian Boe Kie. Mereka lantas saja bergerak dan merupakan semacam tembok manusia di antara Boe Kie dan kedua majikan mereka.

Melihat cara bertindak yang sangat aneh dari kedelapan belas lawan itu, Boe Kie tahu bahwa Thian Liong Tin tidak boleh dipandang enteng. Tiba-tiba saja kegembiraannya muncul dan ia mengambil keputusan sebelum ia bergerak. Sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan dan sepotong balok yang apinya berkobar-kobar jatuh ke bawah.

Boe Kie mengawas ke atas. Api sudah membakar lantai ke enam dan di antara sayap ia melihat dua orang yang sedang bertempur mati-matian. Mereka itu adalah Biat Coat Soethay dan Ho Pit Ong. Lantai jatuh yaitu lantai yang tertinggi penuh dengan manusia tokoh-tokoh keenam partai.

Lweekang mereka belum pulih semua, tapi biarpun dalam keadaan sehat, mereka tidak akan bisa melompat dengan selamat dari tempat itu yang tingginya beberapa puluh tombak. Jika mereka melompat juga, mereka pasti celaka. Kalau tidak binasa, sedikitnya patah tulang.

Dalam waktu beberapa detik, Boe Kie mengasah otak. “Kalau aku mencoba untuk memecahkan Thian Liong Tin, usaha itu meminta waktu,” pikirnya. “Apapula andaikata Thian Liong Tin pecah, lain-lain jago pasti akan turun mengepung. Tak gampang untuk aku membekuk pangeran itu, Biat Coat Soethay dan Ho Pit Ong sudah bertempur lama juga dan belum ada yang kalah. Tenaga dalam si nenek sudah pulih kembali. Dengan demikian lweekang toasupeh dan lain-lain cianpwee-pun sudah pulih. Kalau belum semua, sedikitnya sebagian besar. Hanya sayang menara itu terlampau tinggi dan kalau melompat mereka pasti celaka.”

Tiba-tiba ia mendapat satu ingatan baik dan ia segera mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya. Sambil membentak keras, ia lari berputar-putar. Kedua belah tangannya bekerja bagaikan kilat. Dalam sekejap, Sin Cian Pat Hiong roboh dan gendewa mereka dirampas atau dipatahkan. Lain-lain boesoe yang bersenjata gendewa dan anak panah pun diserang. Ada yang senjatanya dipatahkan, ada yang dipukul roboh dan adapula yang ditotok jalan darahnya. Sesudah pasukan anak panah tidak berdaya, Boe Kie mendongak pula dan berteriak, “Para cianpwee yang berada di atas! Lompatlah! Aku akan menyambut kalian.”

Mendengar teriakan itu, orang-orang yang di atas terkejut. Anjuran pemuda itu tak mungkin dilaksanakan. Dengan melompat dari tempat atas menara yang sangat tinggi, tenaga jatuh hebat bukan main. Sedikitnya ribuan kati. Bagaimana dia bisa menyambutnya? Beberapa orang Khong Tong dan Koen Loen lantas saja berteriak-teriak menolak anjuran itu.

“Tak bisa! Terlalu tinggi!”

“Jangan kena diakali oleh bocah itu!”

“Kalau kita menurut, badan kita akan hancur luluh!”

Dengan hati berdebar-debar, Boe Kie mengawasi ke atas. Api sudah mulai menjilat lantai ke tujuh. Waktu sudah mendesak. Ia jadi semakin bingung.

“Boh Cit Siok!” teriaknya dengan suara memohon. “Budimu besar bagaikan gunung. Apa mungkin Siauw Tit mencelakai citsiok! Citsiok, kau lompatlah lebih dulu!”

Boh Seng Kok adalah seorang yang bernyali sangat besar. Dengan segera ia mengambil keputusan. Daripada mati terbakar, memang lebih baik mati terjatuh. “Baiklah!” teriaknya seraya melompat ke bawah.

Boe Kie mengawasi dengan mata tajam. Pada detik tubuh Boh Cit Hiap terpisah kira-kira empat kaki dari bumi, dengan menggunakan tenaga dan gerakan Kian Koen Tay Lo Sin Kang paling tinggi, ia menepuk pinggang sang paman. Begitu “dimuntahkan” sin kang memunahkan tenaga jatuhnya Cit hiap dan mendorongnya ke atas, sehingga tubuh pendekar itu mengapung ke atas kira-kira setombak tingginya.

Tenaga dalam Boh Seng Kok sudah pulih sebagian. Berbareng dengan mengapungnya, ia mengerahkan lweekang dan mengeluarkan ilmu ringan badan, sehingga di lain saat ia melayang ke bawah dan kedua kakinya hinggap di tanah dengan selamat. Tiba-tiba seorang boesoe menyerang. Dengan sekali menghantam, Boh Seng Kok sudah merobohkan pembokong itu. “toasoeko, jiesoeko, siesoeko!” teriaknya dengan girang, “Lekas lompat!”

Berhasilnya Boh Seng Kok disambut dengan sorak sorai oleh semua jago yang sedang dikepung api. Sebagai seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, Song Wan Kiauw berkata, “Ceng Soe, kau lompatlah lebih dahulu!” sedari keluar dari kamar tahanan, Song Ceng Soe terus mendampingi Cioe Cie Jiak. Mendengar anjuran ayahnya, ia segera berkata kepada si nona, “Cioe Kouw Nio, kau lebih dahulu.”

Cie Jiak menggelengkan kepala, “Aku tunggu soehoe,” katanya.

Sementara itu, satu demi satu tokoh-tokoh keenam partai melompat turun dengan disambut Boe Kie. Sebagai ahli-ahli silat kelas utama, biarpun tenaga dalam mereka baru pulih sebagian, mereka sudah bukan tandingan boesoe biasa. Boh Seng Kok dan yang lain-lain segera merampas senjata dan mereka berdiri di seputar Boe Kie untuk melindungi pemuda itu dalam menyambut orang-orang yang melompat turun. Kaki tangan Ong Po Po yang coba menyerang Boe Kie dengan mudah dipukul mundur.

Setiap orang melompat turun berarti penambahan tenaga bagi pihak Boe Kie. Sedari ditangkap, dikurung, dan dihina bahkan ada beberapa orang yang diputuskan jari-jari tangannya. Sakit hati mereka bertumpuk-tumpuk. Sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan sakit hati itu. Mereka berkelahi bagaikan harimau edan dan dalam sekejap, berpuluh-puluh boesoe sudah menggeletak tanpa bernyawa.

Melihat bahaya, Ong Po Po segera berkata, “Panggil pasukan anak panah yang menjadi pengawal pribadiku!”

Tapi sebelum Ali Chewa berlaku untuk menjalankan perintah itu, sekonyong-konyong di sebelah tenggara terlihat api yang berkobar-kobar. Ali Chewa terkejut, “Siauw Ong Ya!” katanya, “Ong Hoe kebakaran! Kita harus melindungi Ong Ya.”

Ong Po Po mengangguk, “Adikku,” katanya kepada Tio Beng. “Aku pulang lebih dulu. Kau harus berhati-hati.” Tanpa menunggu jawaban, ia mengedut les kuda dan segera berangkat dengan dilindungi oleh sejumlah pengiring.

Berlalunya Ong Po Po berarti berlalunya Thian Hoan Sip Pat Po dan sejumlah boesoe. Melihat kebakaran di gedung Ong Hoe, boesoe lainnya yang masih bertempur juga tidak bisa berkelahi dengan hati tenang.

Dengan cepat, terutama setelah turunnya tokoh-tokoh Siauw Lim Sie, keadaan jadi berubah. Pihak Boe Kie jadi lebih kuat. Tio Beng tahu, jika ia bertahan lebih lama lagi, ia sendiri bisa menjadi orang tawanan. Maka itu, ia lantas saja berseru, “Semua orang keluar dari Ban Hoat Sie!”

Ia lalu menengok kepada Boe Kie dan berkata pula sambil tersenyum, “Besok magrib aku mengundang lagi kau minum arak.”

Boe Kie terkejut, sebelum ia sempat menjawab, si nona sudah berlalu dan mundur ke bagian belakang Ban Hoat Sie.

Sekonyong-konyong di atas menara terdengar teriakan Hoan Yauw, “Cioe Kouw Nio, lekas lompat! Api akan segera membakar alismu, apa kau mau menjadi gadis tanpa alis?”

“Aku ingin menemani soehoe,” jawabnya.

Ketika itu, Biat Coat dan Ho Pit Ong tengah melakukan pertempuran mati-matian. Tenaga dalam si nenek belum pulih semua, tapi ia sudah tak memikir hidup. Dengan kalap, ia menyerang tanpa memperdulikan pembelaan diri. Di lain pihak, sebab memikiri keselamatan soeheng-nya, Ho Pit Ong tidak bisa berkelahi dengan hati mantap. Selain begitu, sesudah kena racun Boe Kie, tenaga dan gerak-geriknya pun tak seperti biasa lagi. Maka itulah, sesudah bertempur beberapa lama, keadaan kedua belah pihak masih berimbang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: