Kumpulan Cerita Silat

25/10/2008

Duke of Mount Deer (44)

Filed under: +Darah Ksatria, Duke of Mount Deer — ceritasilat @ 1:37 pm

Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

“Tempat untuk meneduh sih ada, tapi tidak berbeda jauh dengan kuil-kuil rusak itu…” kata orang tua yang pertama.

“Yang betul, ada atau tidak?” bentak seorang lainnya. Ditilik dari suaranya, tampaknya orang yang satu ini lebih berangasan.

“Ada. Letaknya di sebelah barat daya. Di dalam lembah.” sahut orang yang di tegur. “Sebenarnya tempat itu merupakan sebuah rumah hantu. Hantu yang menghuni di dalamnya juga jahat sekali. Tidak ada seorang pun yang berani berdiam di tempat itu. Itulah sebabnya aku mengatakan tidak berbeda dengan kuil-kuil rusak itu…”

Mendengar kata-kata si orang tua, beberapa temannya langsung tertawa terbahak-bahak. Beberapa ternan yang lain mencaci dan menggerutu.

“Lohu tidak takut setan!” teriak seseorang.

“Malah lebih bagus kalau ada hantunya,” teriak seorang lainnya lagi, “Kita tangkap saja dan kita jadikan hidangan pengisi perut!”

“Lekas tunjukkan jalannya! Kita toh bukan sedang mandi, untuk apa kita berdiam di sini lama lama? Memangnya enak ditimpa air hujan terus-terusan?”

Orang yang dipanggil Tio losam berkata kembali.

“Tuan-tuan, aku yang tua tidak menyayangi selembar jiwa ini tetapi sesungguhnya aku tidak berani. Tuan-tuan, aku ingatkan, kita jangan pergi ke tempat itu. Lebih baik kita menuju utara saja, kurang lebih tiga puluh Ii lagi ada sebuah pasar…”

“Hujan begini lebat kita harus menempuh perjalanan sejauh tiga puluh Ii lagi?” bentak beberapa penunggang kuda serentak. “Sudahlah, jangan banyak bacot! Jumlah kita toh banyak, mengapa kita harus takut kepada setan?”

“Baiklah kalau begitu!” kata Tio losam. “Mari kita pergi ke barat daya, setelah membelok di tikungan bukit sana, kita memasuki lembah. Di sana hanya ada sebuah jalan, tidak mungkin kita kesasar!”

Para penunggang kuda lainnya tidak menunggu kata-katanya selesai, mereka segera melarikan kuda-kudanya ke arah yang disebutkan tadi. Tio losam justru sebaliknya. Dia menunggang keledai, setelah ragu-ragu sejenak, dia memutar batik keledainya ke arah tenggara, arah mereka datang tadi.

“Gouw jiko, Wi hiocu!” panggil Ci Tian Coa… “Bagaimana kita?”

“Menurut aku…” sahut Gouw Lip Sin yang langsung menghentikan kata-katanya. Sebab dia merasa seharusnya Siau Po menentukan keputusan yang harus mereka ambil. Karena itu dia melanjutkan. “Sebaiknya Wi hiocu saja yang mengambil keputusan…”

Siau Po memang aneh. Dia cerdas dan berani , tetapi terhadap setan atau hantu, justru paling takut. Mungkin karena usianya masih tcrlalu muda dan pcngaruh sejak kecil sering ditakut-takuti cerita setan.

“Biar paman Gouw saja yang memutuskan…” sahutnya cepat.

“Sebenarnya apa sih yang dinamakan setan?” kata Gouw Lip Sin. “Itu toh hanya ocehan orang kampung yang pikirannya masih bodoh. Kalau pun benar ada setan, kita pun tidak perlu takut. Kita pasti bisa melawan!”

“Bukan begiru…” kata Siau Po. “Ada setan yang tidak berwujud dan tahu-tahu muncul di depan kita sehingga kita tidak sempat lari lagi…”

Lau It Cou merasa tidak puas mendengar ucapan Siau Po, saingannya. Karena itu dia segera menukas dengan suara keras.

“Kita berkecimpung di dalam kang ouw, mana ada yang takut terhadap hantu atau setan? Mana bisa kita kehujanan terus seperti ini’! Bisa-bisa kita semua jatuh sakit.,..” ubuh Kiam Peng menggigil. Kebetulan Siau Po melihatnya. Pikirannya segera terbuka.

“Baiklah! Mari kita pergi kesana! Tapi, aku ingatkan kalian agar berhati-hati apabila bertemu dengan setan!”

Kemudian mereka bertujuh pun berjalan menuju barat daya seperti yang dikatakan Tio losam tadi. Cuaca masih gelap, agak sukar bagi mereka menemukan jalanan. Untung saja mereka melihat sesuatu yang berkilauan. Rupanya sebuah saluran air.

“Kalau kita tidak berhasil menemukan jalanan…” kata Siau Po. “Ini yang dinamakan ’Setan menghajar tembok’ artinya, setan telah menyesatkan langkah kita.”

“Tapi saluran ini justru menunjukkan jalan,” kata Tian Coan. “Kita tinggal mengikutinya saja!” “Benar!” Sahut Lip Sin yang segera mendahului lainnya.

Mereka bertujuh pun berjalan mengikuti saluran air itu. Meskipun lambat, tapi mereka toh bisa meneruskan perjalanan.

Tidak lama kemudian, dari arah sebelah kiri yang terdapat banyak pepohonan lebat, terdengar suara ringkikan kuda. Mereka yakin itulah suara kuda-kuda rombongan tadi.

Entah siapa orang-orang itu… tanya Tian Coan dalarn hatinya. Hatinya diliputi kecurigaan. Tapi ada Gouw Lip Sin bersama kami, meskipun seandainya mereka berniat jahat, asal kepandaiannya tidak terlalu tinggi, maka tidak perlu terlalu dicemaskan. Karena itu dia pun jalan terus tanpa mengutarakan perasaannya.

Mereka tetap berjalan terus mengikuti aliran sungai. Tapi sekarang arahnya menuju dalam hutan. Jalanan di sana tidak rata, kadang-kadang tinggi, kadang-kadang rendah.

Begitu melangkah ke dalam lembah, mereka dapat merasakan kegelapan yang terlebih parah. Tiba-tiba telinga mereka mendengar suara gedoran pintu. Hal ini membuktikan bahwa di sana memang terdapat rumah penduduk.

Siau Po terkejut sekaligus senang. Dia terkejut bila mengingat tentang setan yang dikatakan Tio losam tadi. Hatinya senang karena mengetahui adanya rumah untuk berteduh.

Tiba-tiba Siau Po merasa ada sebuah tangan yang menjamahnya. Tangan yang halus dan lembut itu langsung menariknya kemudian telinganya mendengar suara yang merdu.

“Jangan takut!” Siau Po segera mengenalinya sebagai suara Pui Ie.

Suara gedoran pintu masih terdengar. Hal ini menandakan bahwa pintu masih belum dibukakan juga. Siau Po dan yang lainnya maju terus. Akhirnya mereka tiba di dekat rombongan itu. Mungkin karena kesal menunggu, sekarang mereka pun berteriak-teriak. “Lekas bukakan pintu! Cepat! Kami orangorang yang kehujanan dan ingin numpang berteduh!”

Teriakan itu tidak mendapat jawaban. Pintu tetap tidak dibukakan. Dari dalam rumah tidak terdengar suara apa pun. Keadaan di tempat itu tetap sunyi senyap.

“Rupanya rumah itu kosong. Tidak ada penghuninya!” teriak seseorang.

“Tio losam sudah mengatakan bahwa inilah rumah hantu.” kata seseorang. “Mungkin dia benar. Siapa yang berani sembarangan masuk ke dalam rumah ini? Mungkin kita harus melompat lewat. tembok apabila ingin masuk ke dalamnya.”

Seiring dengan ucapan itu, tampak dua berkas cahaya berkelebai. Rupanya dua orang segera melompat naik ke atas tembok pagar sembari menghunus goIok masing-masing. Sesaat kemudian pintu pekarangan sudah terpentang lebar karena dibuka oleh kedua orang tadi. Dengan demikian semua orang yang ada di luar bisa masuk kedalam. Begitu masuk, tampaklah sebuah halaman. Ci Tian Coan mengajak rekan-rekannya masuk ke dalam. Diam diam dia berpikir.

Mereka orang-orang dari dunia kang ouw, tapi kalau ditilik dari gerak-geriknya, kepandaian mereka tidak seberapa tinggi…

Di hadapan mereka terdapat sebuah pendopo yang luas. Rombongan itu segera rnasuk ke dalam. Salah seorang dari penunggang kuda itu membuka buntalannya dan mengeluarkan batu api kemudian menyulut lilin yang terdapat di atas meja. Dalam sekejap maka ruangan itu jadi terang. Perasaan setiap orang pun terasa lebih lega.

Meja dan kursi yang terdapat dalam ruangan itu terbuat dari kayu cendana. Hal ini membuktikan bahwa bekas penghuni rumah itu seseorang yang berperasaan halus. Seleranya uniuk perabotan rumah tangga pun cukup tinggi.

Tian Coan memperhatikan keadaan di dalam ruangan itu, dalam hatinya dia berpikir.

“Meja dan kursi-kursi di sini bersih tanpa debu sedikit pun. Lantai pun tersapu bersih. Mengapa rumah ini tidak ada penghuninya?”

Ternyata bukan hanya Tian Coan saja yang berpikiran dernikian. Salah seorang dari penunggang kuda itu pun mengeluarkan seruan heran.

“Rumah ini bersih sckali, pasti ada penghuninya! ”

“Hai! Hai!” teriak seseorang lainnya.”Hai! Apakah ada orang yang menghuni rumah ini’! Apakah ada orang di dalam?”

Ruangan pendopo itu besar serta tinggi. Suara teriakan orang tersebut langsung berkumandang ke mana-mana menimbulkan gema. Tapi lambat laun suara itu menghilang dan kesunyian kembali melanda. Hanya suara air hujan yang berderai jatuh di atas genteng menimbulkan kebisingan yang mencekam.

Untuk sesaat orang-orang dari rombongan itu berdiam diri dan saling mernperhatikan. Mimik wajah mereka menyiratkan perasaan heran.

Kemudian salah satunya yang sudah lanjut usia dan rambutnya penuh uban menegur Ci Tian Coan. “Tuan-tuan sekalian, apakah kalian orang-orang dunia Ka ng ouw?”

Ci Tian Coan hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku yang rendah she Kho.” sahutnya kernudian. “Rombongan kami terdiri dari sanak saudara dan keluarga. Karni ingin pergi ke Shoa say untuk menjenguk famili, Sayangnya hujan turun dengan deras sehingga kami terpaksa singgah di sini. Bagaimana dengan tuan-tuan sendiri? Siapakah she dan nama tuan besar yang mulia?”

Orang itu menganggukkan kepalanya, tapi dia tidak langsung memberikan jawaban. Diam-diam dia memperhatikan rombongan Ci Tian Coan. Dia mendapat kenyataan bahwa di antaranya ada beberapa wanita dan ada bocah cilik pula. Dia tidak merasa curiga sedikit pun. Tapi dia tetap tidak memberikan jawaban dan hanya berkata dengan suara menggumam.

“Rumah ini aneh sekali!”

Kembali terdengar sescorang lainnya berteriak lantang.

“Hai! Apakah di dalam rumah ada penghuninya? Atau para penghuninya sudah mampus semua?”

Tak perlu diragukan lagi kalau orang itu sudah kesal sekali sehingga tegurannya jadi sengit. Beberapa menit kembali berlalu, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam rumah. Akhirnya orang tua tadi menunjuk enam orangnya seraya memerintahkan.

“Kalian berenam masuk terus sampai ke dalam dan lihat, apakah rumah ini benar-benar kosong?”

Orang tua itu langsung menghampiri sebuah kursi dan duduk di sana. Enam orang yang ditunjuknya segera mengiyakan. Mereka mencabut senjatanya masing-masing lalu terus melangkah ke dalam. Salah satu diantaranya membawa sebatang lilin sebagai penerangan. Ketika mereka berjalan ke dalam, langkah mereka perlahan sekali. Agaknya mereka bersikap hati-hati dan teliti. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Setelah masuk jauh ke dalam, terdengarlah suara panggilan dan gedoran dari keenam orang itu. Rupanya mereka memeriksa setiap ruangan dan mencoba memanggil-manggil untuk meyakinkan bahwa dalam rumah itu tidak ada penghuninya.

Setelah lewat beberapa detik, suara panggilan dan gedoran pun tidak terdengar lagi. Tentunya keenam orang itu sudah pergi jauh ke belakang.

Sambil menantikan, si orang tua menunjuk kepada empat orang lainnya sambil memerintahkan.

“Kalian pergi mencari kayu untuk obor, kemudian susul mereka ke dalam!”

Mereka menuruti perintah itu. Keempat orang itu segera ke luar melaksanakan tugas yang diperintahkan itu.

Siau Po dan yang lainnya tidak mengambil tindakan apa-apa. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik rombongan penunggang kuda itu. Mereka duduk berkumpul di bawah jendela besar ruangan pendopo. Semuanya memang sengaja memisahkan diri dari rombongan tersebut.

Dengan kepergian sepuluh orang tadi, dalam ruangan itu masih tersisa delapan orang dari rombongan tersebut. Mereka semua mengenakan pakaian yang serupa. Kemungkinan seragam dari suatu perkumpulan tertentu. Mungkin juga para piau su (pegawai sebuah ekspedisi) yang sedang menjalankan tugas mengawal semacam barang.

Cukup lama Siau Po berdiam diri, akhirnya dia bertanya juga kepada Pui Ie. “Cici, coba kau katakan, apakah benar rumah ini berhantu?”

“Kemungkinan memang ada.” sahut gadis itu. “Mana sih ada rumah yang belum pernah ada kematian penghuninya?”

Tubuh Siau Po bergidik. Dia meringkukkan tubuhnya sedikit. Padahal dia tidak pernah takut terhadap apa pun, tetapi mendengar setan, nyalinya langsung ciut.

“Para setan di dunia ini paling benci kepada orang yang menghina sesamanya yang berhati baik dan suka terhadap orang yang benar-benar jahat. Apalagi bocah langgung. Sebab kalau orang dewasa hawanya hangat, setan jadi takut, Bahkan segala setan, baik yang mati dibunuh atau pun yang menggantung diri, jarang berani mcndekati orang dewasa!” kala Lau It Cou menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Diam-diam Pui Ie menjulurkan lengannya untuk menggenggam lengan Siau Po. “Manusia takut kepada setan, tapi setan lebih takut lagi kepada manusia. Asal ada cahaya api atau terang, setan pasti akan lari ketakutan.” kalanya menghibur hati Siau Po. Kemudian terdengar suara langkah kaki yang riuh. Ternyata ke enam orang yang pertama pergi tadi sudah muncul kembali. Tampak jelas wajah mereka menyiratkan perasaan yang heran tidak ke palang tanggung. Hampir serentak mereka memberikan laporannya. “Tidak tampak seorang pun di mana-mana, tapi setiap ruangan terawat dengan baik.” “Seluruh tempat tidur dialasi sprei dan kelambu, semuanya bersih, Di depan setiap pembaringan ada sepasang sandal wanita.” “Di dalam lemari yang ada dalam setiap ruangan, penuh dengan pakaian wanita. Tidak tampak sepotong pun pakaian pria.”

Tiba-tiba Lau It Cou berteriak dengan nyaring. “Setan perempuan! Setan perempuan! Tidak salah lagi rumah ini dihuni oleh setan perernpuan!”

Suaranya begitu keras sehingga pandangan semua mata tertuju padanya, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan komentar .

Setelah hening sejenak, si orang tua baru mengajukan pertanyaan.

“Ada barang apa saja yang terdapat di dapur?”

“Piring-piring dan mangkok-mangkok Telah tercuci bersih.”sahut salah seorang bawahannya. “Tetapi tidak ada sebutir beras pun di dalam pendaringan.”

Tepat pada saat itu, dari dalam rumah terdengar suara berisik keempat orang yang menjadi rombongan kedua tadi. Mereka berteriak-teriak aneh sambil berlari serabutan. Ketika masuk ke dalam, mereka sernua mernbawa obor yang masih menyala, sekarang obor mereka telah padam semua.

“Orang mati! Banyak orang mati!” Terdengar suara teriakan mereka yang jelas. Wajah mereka menyiratkan perasaan terkcjut sekaligus takut.

“Kalian hanya membuat keributan! Aku kira kalian telah bertemu dengan lawan yang langguh. ” tegur si orang tua. “Ternyata kalian hanya melihat orang mati. Kalau hanya mayat, apa yang perlu di takuti?”

“Bukan takut.” sahut orang-orang itu. “Kami hanya merasa aneh.”

“Apanya yang aneh?” tanya orang tua itu kernbali. “Cepat katakan!”

“Di ruang sebelah timur… terdapat banyak leng tong (meja abu orang mati). Di mana-mana ada, entah berapa banyak jumlahnya…”sahut seseorang.

“Apakah ada jenasah atau peti matinya?” tanya si orang tua kembali.

Dua orang yang terakhir langsung saling lirik.

“Tidak… tidak jelas…” sahut mereka. “Rasanya tidak ada…”

“Kalau begitu, cepat kalian persiapkan obor obor lagi! Kita masuk bersama-sama. Kemungkinan tempat ini merupakan sebuah rumah abu. Bukankah tidak mengherankan kalau banyak leng tongnya?”

Cara bicara si orang tua enak sekali, tapi nadanya mengandung sedikit kebimbangan. Rupanya dia sendiri ikut terpengaruh bahwa tempat itu bukan rumah sembarangan.

Orang-orang dari rombongan itu segera bekerja. Tidak sulit bagi mereka untuk membuat obor, sebab mereka tinggal mematahkan kaki meja dan kursi. Dalam sekejap mata pekerjaan mereka pun selesai. Beramai-ramai mereka masuk ke dalam.

“Biar aku ikut pergi melihatl” kata Tian Coan. “Gouw toako, harap kalian tunggu dulu di sini!” selesai berkata, Ci Tian Coan segera menyusul orang-orang rombongan itu.

“Suhu,” tanya Go Pi kepada gurunya. “Siapakah orang-orang dari rombongan itu?”

“Entahlah!” sahut Gouw Lip Sin. “Aku tidak mengenali atau membedakan orang-orang dari golongan mana mereka itu. Kalau ditilik dari aksennya, tampaknya, mereka orang-orang dari Ki barat. Tampang mereka juga tidak mirip dengan pembesar sipil. Mungkinkah mereka rombongan orang-orang yang sering menyelundupkan barang gelap? Tapi mereka semua berkosong tangan. Tidak ada yang membawa apa pun.”

“Rombongan itu bukan orang-orang yang perlu diperhatikan secara istimewa.” terdengar suara Lau It Cou menukas. “Yang perlu dikhawatirkan justru para hantu perempuan di rumah ini. Mereka tentunya lihay-lihay sekali.”

Pemuda ini selalu menyebut-nyebut soal setan, seakan sengaja ingin menimbulkan perang dingin dengan Siau Po. Rupanya dia masih merasa panas dan mendendam dalam hati.

Sembari berbicara, Lau It Cou melirik ke arah si bocah sambil menjulurkan lidahnya dan membelalakkan matanya. Wajahnya menunjukkan seakan dia pun ketakutan.

Siau Po bergidik. Dia menggenggam tangan Pui Ie erat-erat. Telapak tangannya terasa dingin sekali, karena itu Pui Ie juga menggenggamnya erat erat agar dia bisa merasakan sedikit kehangatan.

“Lau… suko!” panggil Kiam Peng. “Kau jangan menakut-nakuti orang!” Tentu saja dia dapat menduga maksud hati pemuda itu. Sedangkan dia sendiri pun merasa agak takut.

“Siau kuncu, kau tidak perlu khawatir!” kata Lau It Cou. “Kau putri seorang bangsawan, setan apa pun tidak akan berani mendekatimu. Setiap setan yang melihat kau pasti akan lari terbirit-birit. Mereka tidak akan berani mengganggumu. Kau tahu, setan jahat paling sebal melihat thaykam yang perempuan bukan, laki-laki pun bukan.”

Sepasang alis Pui Ie langsung menjungkit ke atas. Dia mendongkol sekali melihat tingkah kakak seperguruannya yang sernakin konyol. Hampir saja dia membuka mulutnya memaki. Untung saja dia masih bisa mengekang diri.

Tidak lama kemudian, terdengarlah suara ramai langkah kaki yang mendatangi. Ternyata orang orang yang masuk ke dalam tadi sudah ke luar kembali.

Melihat tampang orang-orang itu, hati Siau Po menjadi agak lega, sehingga dia menarik nafas panjang.

“Memang benar.” kata Tian Coan kepada rombongannya dengan suara perlahan sekali. “Di dalam setiap kamar ada empat puluh meja abu. Dan di setiap meja dirawat enam atau tujuh buah leng wi (Tempat abu jenasah). Rupanya di atas setiap meja disimpan abu jenasah sebuah keluarga…”

“Hm! Hm!” Lau It Cou memperdengarkan suaranva yang tawar. “Dengan demikian, berarti di dalam rumah ini terhuni beberapa ratus setan jahat?”

Tian Coan menggeleng-gelengkan kepalanya. Seumur hidupnya, baru kali ini dia menghadapi pengalaman yang demikian aneh. Sesaat kemudian dia baru berkata kembali dengan nada sabar.

“Yang anehnya, di atas setiap meja terpasang lilin…” Kiam Peng, Siau Po, dan Pui Ie merasa heran sehingga serentak mengeluarkan seruan terkejut.

“Ketika kami sampai di ruangan dalam tadi, lilin itu masih belum dinyalakan.” salah seorang dari rombongan penunggang kuda yang tadi masuk kedalam memberikan keterangan.

“Apa kau tidak salah ingat?” tanya si orang tua.

Keempat pengikut itu saling memandang sejenak, kemudian sama-sama menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, kita bukan bertemu dengan setan.” kata si orang tua setelah lewat sejenak. “Sebaliknya, kita justru bertemu dengan orang-orang yang lihay sekali. Bukan hal yang mudah apabila ingin menyalakan lilin dari empat puluh buah leng tong. Siapakah kiranya orang yang demikian hebat? Kho loyacu, bagaimana pendapatmu, benar atau tidak apa yang kukatakan ini?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada Ci Tian Coan yang mengaku dirinya she Kho.

Ci Tian Coan berlagak tolol.

“Kemungkinan kita telah melanggar peraturan tuan rumah tanpa setahu kita.” sahutnya. “Tidak ada salahnya kalau kita memberi hormat dihadapan leng tong-Ieng to ng itu…”

“Hm!” Orang tua itu mendengus dingin. Sesaat kemudian dia baru berkata dengan suara lantang. “Tuan-tuan yang terhormat! Kami sedang melakukan perjalanan. Ketika lewat di ternpat tuan ini, kami terhalang oleh hujan deras, oleh karena itu kami lancang masuk ke rumah Tuan ini untuk berlindung.Tuan yang terhormat, apakah Tuan sudi rnenernui kami?”

Sesaat kembali berlalu, meskipun suara si orang tua lantang sekali, bahkan menggaung di dalam rumah, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Si orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menunggu lagi beberapa saat, lalu berkata lagi dengan suara yang lebih keras.

“Kalau tuan rumah tidak bersedia bertemu dengan kami yang hanya terdiri dari orang-orang kasar ini, harap Tuan sudi memaafkan karni yang lancang berlindung di sini. Sebentar lagi, apabila hujan sudah reda, kami semua akan berangkat melanjutkan perjalanan.”

Sembari berkata, orang tua itu menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada rekan-rekannya agar jangan mernbuka suara. Dengan demikian mereka bisa sama-sama memasang telinga.

Akan tetapi,sampai sekian lama tetap saja tidak ada jawaban at au pun teguran.

“Ciong losam,” kata seseorang. “Perduli apa dia manusia atau hantu, kita tunggu saja sarnpai pagi, lalukitapergisaja darisini.Se baiknyasebelumkita berangkai, kita ba kar saja dulu ternpat ini sampai ludes.” Tampaknya orang yang satu ini agak berangasan dan tidak sabaran. Si orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya. “Urusan penting kita rnasih belum terlaksanakan, jangan kita mencari kesulitan lain.” katanya. “Marilah kita duduk bersama!” Mereka pun duduk beristirahat. Pakaian mereka basah kuyup. Mereka duduk mengitari api unggun untuk mengeringkan pakaiannya. Salah satu orang dari rombongan itu mengeluarkan poci araknya. Dibukanya tutup poci itu kernudian diserahkannya kepada orang tua tadi untuk meneguknya agar perutnya hangar. Setelah menenggak beberapa teguk arak, si orang tua kembali menolehkan kepalanya ke arah rombongan Siau Po. Sinar matanya berhenti pada diri Ci Tian Coan. “Kho Loyacu, Tadi kau mengatakan bahwa kalian terdiri dari orang-orang sendiri, tetapi mcngapa aksen bicara kalian berlainan?”tanyanya. Ci Tian Coan tertawa. “Loyacu,telingamu sangat tajam.” pujinya.”Anda tentunya seorang tokoh dunia kang ouw yang sudah banyak pengalaman dan luas pengetahuannya. Sebenarnya keponakanku ini telah menikah di propinsi In Lam. Sedangkan adik perempuanku yang kedua menikah di propinsi Shoa Say. Begitulah kami terpencar. Satu di timur, satu di barat. Selama belasan tahun juga sukar mendapatkan kesempatan untuk bertemu.”

Orang tua itu menganggukkan kepalanya, kernbali dia meneguk arak yang ada dalam pod. Sekali sekali matanya masih melirik ke arah rombongan Ci Tian Coan.

“Apakah Tuan-tuan ini datang dari Pe King’!” tanyanya kembali.

“Betul.” sahut Tian Coan.

“Numpang tanya, selama dalam perjalanan, apakah kalian melihat seorang thaykam muda yang usianya sekitar lima belas tahun?” tanya orang tua itu pula.

Mendengar pertanyaan itu, jantung Ci Tian Coan langsung berdegup keras. Untung saja dia sudah berpengalaman menghadapi bahaya sebesar apa pun sehingga dia dapat menyembunyikan perasaan hatinya dengan baik. Orang tua itu tidak menaruh curiga apa-apa meskipun pada saat itu sedang menatapnya. Sebaliknya, wajah Go Piu dan Kiam Peng langsung berubah hebat. Uniungnya, justru tidak ada orang yang mernperhatikan mereka.

“Thaykarn?” Tanya Ci Tian Coan berlagak pilon. “Di kerajaan thay kam-thay kam memang banyak sekali. Ada yang tua dan ada juga yang muda, aku sendiri sempat bertemu dengan beberapa diantaranya.” “Yang aku tanyakan ialah yang kau temui dalam perjalanan menuju ke sini.” kata si orang tua menjelaskan. “Bukan yang ada di Kotaraja.” “Oh, loyacu, pertanyaanmu itu benar-benar tidak tepat.” kata Ci Tian Coan yang terus memainkan peranannya. “Menurut peraturan dari pcmerintah Ceng kita yang agung, sekali saja seorang thaykam berani melangkahkan kakinya ke luar dari Kotaraja, dia akan segera mendapat hukuman mati. Thaykam jaman sekarang tidak bisa dibandingkan dengan thay kam kerajaan Beng yang lagaknya sok benar. Karena itu pula, sekarang tidak ada seorang thay kam pun yang berani meninggalkan Kotaraja dengan sembarangan.” Sengaja Ci Tian Coan memuji kerajaan Ceng yang agung dan mencela kerajaan Beng.

“Oh!” seru si orang tua yang langsung sadar bahwa dia telah salah bicara. Cepat-cepat dia menambahkan. “Siapa tahu dia ke luar dengan cara menyamar?”

Tian Coan menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan. “Tidak mungkin!” katanya. “Mana ada thay kam yang nyalinya begitu besar? Tapi, eh… Loyacu, mohon tanya, bagaimana tampang thay kam muda yang kau maksudkan itu? Siapa tahu sekembalinya dari Shoa say, aku bisa membantu mencari tahu tentang dirinya…”

“Hm!”orang tua itu mendengus dingin. “Terima kasih. Entah pada saat itu, umurnya masih panjang atau sudah terputus!”

Diam-diam otak Ci Tian Coan langsung berputar. Dia mencari thay kam cilik. Mungkinkah Wi hiocu yang di maksudkannya? Rombongan orang tua ini bukan orang-orang dari pihak Tian Te hwe atau Bhok onghu, sudah pasti mereka mempunyai maksud buruk. Sebaiknya aku meminta penjelasan dari mereka. Tapi aku harus hati-hati agar mereka jangan sampai curiga. Lebih baik aku memancingnya dengan akal saja…

Dengan membawa pikiran demikian, Ci Tian Coan segera berkata. “Loyacu, mengenai thay kam cilik di kerajaan hanya ada satu yang terkenal sekali. Namanya tersohor sampai ke mana-mana. Mungkin kau juga pernah mendengar tentang dirinya. Dialah si thay kam cilik yang memotong leher Go Pay dan sudah membangun jasa besar sekali.”

Orang tua itu membelalakkan matanya lebar lebar.

“Oh? Apakah yang kau maksudkan itu thay kam cilik yang bernama Siau Kuicu?”

“Kalau bukan dia, siapa lagi?” sahut Tian Coan seenaknya. “Nyali bocah itu sungguh besar. Ilmu silatnya juga lihay sekali. Pokoknya, dia bukan sembarang orang.”

Advertisements

11 Comments »

  1. Mas cerita duke of mount deer emang belum ada kelanjutanya ya yang ampe tamat? Mohon di jawab mas. Penasaran banget neh mas.

    Comment by Agung — 09/08/2009 @ 11:44 am

  2. ya boo.., lanjutannya doong

    Comment by tulus — 05/12/2009 @ 1:34 am

  3. Mau tnya..?? Klanjutanx duke of mount deer kq gak d’lanjutin y…??? Trus kpn ada klanjutanx lg???

    Comment by Roy — 25/12/2009 @ 3:30 pm

  4. bukunya susah di cari ya???

    Comment by agyharana — 13/01/2010 @ 6:48 am

    • pernah sih baca bukunya sekitar 10 tahun yang lalu, sudah agak lupa ceritanya…., baca lagi asik… eh lum tamat

      Comment by agyharana — 13/01/2010 @ 6:44 pm

  5. Bro bro semua,
    Minta tolong ya, kalau ada yang tau dimana adanya sambungan cerita ini yang no.46, tolong email ke saya.
    Tks.
    Ary.

    Comment by Anonymous — 27/07/2010 @ 2:33 pm

  6. Kok cerita the duke of mount deer stop sampai kejilid 44 saja …..lanjutannya kapan bisa disambung ya …….?

    Comment by Nicole — 29/07/2010 @ 10:48 am

  7. aihh… bersambung lagi…

    lanjutanya dong mas bro…
    udah amper 4 taon loh mas bro gak di terusin

    Comment by ndy enjoy — 02/03/2012 @ 12:49 pm

  8. seru nih, dulu waktu kecil pernah nonton serialnya. tp dah lp ceritanya. lanjut dong boss.

    Comment by lambang — 08/06/2012 @ 7:28 am

  9. kalau gak salah inget wi siau po mendapat 2 buku tersisa dan berhasil memecahkan peta letak nadi naga dan dapet ilmu nadi naga dan menjadi tokoh sakti,krn inget budi ama kaisar dia gak mau merusak nadi naga mancu dan dia keluar dari thian te hwe tapi karena dia berjasa membunuh peng si ong gurunnya tdk mengusut lbh jauh, akhirnya dia kawin ama pui ie dan kiam peng lalu mengundurkan diri dr kang ouw, pemberontakan msh terjadi.

    Comment by Anonymous — 10/08/2012 @ 9:33 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: