Kumpulan Cerita Silat

24/10/2008

Kisah Membunuh Naga (53)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:41 am

Kisah Membunuh Naga (53)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tiba-tiba Hoan Yauw bangkit dan mencengkram dada Ho Pit Ong sambil mengeluarkan suara “ah ah uh uh.” Matanya mendelik dan ia kelihatannya sangat gusar.

“Kouw Tay-soe, mengapa kau?” Tanya Soen Sam Hwie.

Hoan Yauw mencelup arak dengan jari tangannya dan menulis huruf “Sip hiang Joan kin san” di atas meja.

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei tahu bahwa racun dan obat pemunah Sip hiang Joan kin san dikuasai Hian beng Jie lo. Mereka saling melirik dan sambil membungkuk, Soen Sam Hwie berkata, “Ho Kong kong, kami berdua sedikit pun belum pernah berdosa terhadap Kong kong. Kami mohon Kong kong suka menaruh belas kasihan.” Mereka berkata begitu sebab menduga si kakek memang mau mencelakai Kouw Tauw-too dan secara kebetulan mereka turut minum arak beracun.

Bukan main herannya Ho Pit Ong. Bulan ini Sip hiang Joan kin san memang dipegang olehnya sendiri, disembunyikan dalam salah sebuah pit yang berbentuk patuk burung ho. Kedua senjata itu belum pernah berpisah dari badannya sehingga tak mungkin orang bisa mencuri racun tanpa diketahui olehnya. Tapi waktu mengerahkan hawa, ia tidak bisa mengeluarkan tenaga seperti juga kena Sip hiang Joan kin san.

Racun yang dibuat Boe Kie biarpun sangat keras sebenarnya berbeda jauh dari Sip hiang Joan kin san dan perasaan tidak enak yang dirasakan oleh korban juga berbeda. Ho Pit Ong hanya tahu bahwa racun Sip hiang memusnahkan tenaga dalam. Karena belum pernah mencobanya, ia tentu saja tidak tahu perbedaan antara racun Sip hiang dan racun buatan Boe Kie. Melihat kegusaran Kouw Touw too dan mendengar ratapan Soen Sam Hwie serta Lie Sie Coei, ia tidak ragu lagi bahwa mereka semua dan ia sendiri sudah kena racun Sip hiang.

“Kouw Tay-soe, kau bersabarlah,” katanya. “Kita adalah sahabat. Mana bisa jadi aku ingin mencelakai kalian? Akupun kena racun itu. Badanku lemas dan tidak bertenaga. Tapi siapa yang sudah main gila? Aku sunguh merasa heran.”

Kouw Tauw-too mencelup lagi arak dengan jari tangannya dan menulis “lekas keluarkan obat pemunah di atas meja.”

Ho Pit Ong mengangguk. “Benar,” katanya. “Lebih dahulu kita makan obat. Sesudah itu kita cari penjahatnya. Tapi obat disimpan oleh Lok heng. Kouw Tay-soe, mari kita pergi kepadanya.”

Hoan Yauw merasa sangat girang. Ia tidak mengira tipuan Yo Siauw berjalan begitu lancar. Dengan tangan kiri ia sengaja memegang pergelangan tangan kanan Ho Pit Ong dan ia berjalan dengan langkah limbung.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di gedung itu. Kamar samping yang di sebelah selatan adalah kamar Ho Pit Ong, sedang kamar di sebelah utara kamarnya Lok Thung Kek. Pintu kamar itu tertutup rapat.

“Lok heng!” teriak Ho Pit Ong, “Lok heng!”

Dari dalam kamar terdengar sahutan Lok Thung Kek.

Ho Pit Ong mendorong pintu tapi pintu terkunci. “Lok heng!” panggilnya, “Lekas buka pintu! Ada urusan penting.”

“Urusan apa?” Tanya Lok Thung Kek. “Aku sedang berlatih ilmu silat. Jangan mengganggu.”

Ho Pit Ong dan Lok Thung Kek adalah saudara seperguruan. Kepandaian pun kira-kira berimbang. Tapi karena Lok Thung Kek seorang kakek yang lebih tua dan juga karena dia lebih berakal budi, maka Ho Pit Ong selalu menghormatinya. Mendengar jawaban sang kakek yang kurang enak ia tidak berani memanggil lagi.

Hoan Yauw bingung. Dalam tipuan ini, sang waktu memainkan peranan penting. Kalau harus menunggu sampai tenaga racun berkurang, rahasianya akan bocor. Maka itu tanpa memperdulikan segala cara ia segera mendobrak daun pintu dengan pundaknya dan pintu lantas saja terbentang. Hampir berbarengan terdengar jeritan seorang wanita.

Mendengar suara terpentalnya pintu, Lok Thung Kek yang sedang berdiri di depan ranjang segera menengok. Paras mukanya lantas saja berubah pucat, kaget bercampur malu. Di tengah ranjang tergeletak seorang wanita yang tubuhnya terbungkus dengan selembar kasur tipis dan kasur itu dibebat dengan seutas tambang. Apa yang bisa dilihat adalah rambutnya terurai.

Wanita itu mengawasi Ho Pit Ong dan Hoan Yauw dengan mata membelalak dan paras mukanya menunjukkan ketakutan besar. Hoan Yauw lantas saja mengenali bahwa dia itu tidak lain adalah Han kie (selir seorang raja muda she Han).

“Hok Ong benar-benar hebat,” katanya di dalam hati. “Seorang diri ia masuk ke dalam Ong hoe (gedung raja muda) dan dengan begitu cepat ia sudah berhasil menculik Han-kie.”

Wie It Siauw berhasil sebab meskipun di dalam Ong hoe terdapat banyak sekali pengawal, yang diperhatikan dan dilindungi hanyalah Jie lam ong, Sie coe (putra seorang pangeran) dan Koen coe. Raja muda itu mempunyai banyak selir dan seorangpun tak pernah menduga bahwa seorang selir bakal diculik. Selain itu gerak-gerik Wie Hok Ong juga cepat luar biasa dan tanpa penjagaan istimewa, dengan mudah ia sudah bisa menculik Han-kie. Tapi menaruh wanita cantik itu di ranjang Lok Thung Kek lebih sukar daripada menculiknya. Sesudah menunggu beberapa lama barulah di kakek kelihatan keluar dari kamarnya dan dengan menggunakan kesempatan itu, ia melompat masuk dan meletakkan tubuh Han kie di pembaringan.

Waktu kembali ke kamarnya melihat sosok tubuh wanita, Lok Thung kaget tak kepalang. Bagaikan kilat ia melompat ke atas genteng tapi Wie It Siauw sudah pergi jauh. Penyelidikannya di sekitar rumah itu tidak memberi hasil. Buru-buru ia balik ke kamar dan ia jadi lebih kaget lagi.

Hari itu dalam perjamuan di taman bunga, melihat kecantikan Han-kie, semangat Lok Thung terbang. Ia pulang dengan perasaan duka dan menyesal. Ia merasa menyesal mengapa tidak lebih dulu ia bertemu dengan si cantik. Tapi sesudah Han-kie menjadi selir Jie lam ong, biar bagaimanapun juga ia tidak berani mengganggu. Belakangan ia mendapat seseorang baru yang cukup cantik sehingga perlahan-lahan ia dapat melupakan Han-kie.

Mimpipun ia tak pernah bahwa Han-kie bisa mendadak berada di pembaringannya. Ia kaget bercampur heran. Sesudah berpikir sejenak ia menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh murid kenalannya yang bernama Yoe liong soe. Murid itu rupanya sudah bisa menebak isi hatinya dan diam-diam sudah menculik si cantik sambil menyeringai ia mengawasi Han kie dan mengajukan beberapa pertanyaan tapi wanita itu tidak bisa menjawab. Ia sadar bahwa jalan darah Han kie telah ditotok.

Baru saja mengangsurkan tangannya untuk membuka jalan darah tiba-tiba Ho Pit Ong mengetuk pintu dan Kauw Tauw-too mendobraknya. Itulah kejadian yang tidak terduga. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Tiba-tiba dalam otaknya berkelabat sebuah ingatan. Ia menduga bahwa kedatangan Kauw Tauw-too adalah atas perintah Jie lam ong yang sudah tahu penculikan itu untuk menangkapnya.

Dalam keadaan begitu, jalan satu-satunya adalah kabur. Bagaikan kilat tangan kanannya mengulurkan tongkat tanduk menjangan, tangan kirinya mendukung Han kie dan ia segera bergerak untuk melompat keluar dari jendela.

Ho Pit Ong terkejut, “Lok Soeko!” teriaknya, “Lekas keluarkan obat pemunah!”

“Apa?” tegas sang kakak.

“Entah bagaimana Siauw tee dan Kouw Tay-soe kena racun Sip hiang Joan kin san,” jawabnya.

“Apa katamu?” ia tegaskan lagi.

Ho Pit Ong mengulangi keterangannya.

“Bukankah Sip hiang Joan kin san dipegang olehmu?” tanya Lok Thung Kek dengan suara heran.

“Siauw tee pun merasa sangat heran,” sahutnya. ?Kami empat orang, tadi makan dan minum. Secara mendadak, kami semua kena racun. Lok Soeko keluarkanlah obat pemunah. Sesudah makan obat itu, kita boleh bicara lagi.”

Hati Lok Thung Kek jadi lega. Ia segera menaruh Han kie di pembaringan dan menyuruhnya menghadap ke tembok. Ho Pit Ong yang tahu kesukaan kakaknya, tidak merasa heran melihat adanya seorang wanita dalam kamar sang kakak. Dalam kebingungannya ia tidak memperhatikan siapa adanya wanita itu. Tapi biar bagaimanapun dalam keadaan biasa, tak tentu ia bisa segera mengenali. Hari itu, dalam perjamuan di taman bunga, yang diperhatikannya bukan si cantik, tapi makanan dan arak yang istimewa.

Sesudah menaruh Han kie, Lok Thung Kek berkata, “Kouw Tay-soe, tunggulah di kamar saudara Ho, aku akan datang membawa obat.” Seraya berkata begitu, ia mendorong tubuh kedua orang itu. Badan Ho Pit Ong bergoyang-goyang hampir ia jatuh.

Hoan Yauw pun berlagak sempoyongan. Tapi ada sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan oleh pemimpin Beng-kauw itu. Ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi dan waktu didorong secara wajar, di luar keinginannya, dari dalam tubuhnya lantas keluar semacam tenaga untuk melawan dorongan itu. Sebagai seorang ahli silat kelas satu, Lok Thung Kek lantas saja merasakan perbedaan antara dua dorongannya. Karena kuatir salah, ia mendorong lagi, kali ini dengan menggunakan tenaga. Ho Pit Ong dan Kouw Tauw-too jatuh dengan berbarengan. Tapi Lok Thung Kek lantas mendapat kepastian bahwa adik seperguruannya benar-benar jatuh sebab tenaga dalamnya “kosong” sedang Kouw Tauw-too hanya berlagak jatuh.

“Kouw Tay-soe, maaf,” katanya sambil mengangsurkan tangannya mau membangunkan Hoan Yauw. Begitu tangan menyentuh tangan, ia segera memijit Hwee-cong hiat dan Thong-tie hiat di pergelangan tangan Kauw Tauw too.

Tapi Hoan Yauw cukup hebat. Ia segera tahu bahwa rahasianya sudah diketahui. Dengan cepat ia menotok Hoen-boen hiat di punggung Ho Pit Ong supaya dalam tiga jam ia tak dapat bergerak. Setelah Ho Pit Ong tak berdaya, ia tidak usah kuatir lagi sebab paling banyak ia harus melayani Lok Thung Kek seorang diri.

“Huh-huh!” ia tertawa dingin, “Lok Thung Kek, kau mau hidup atau mati. Sungguh besar nyalimu! Selir Ong-ya kau berani culik.”

Hian beng Jie lo tertegun. Selama belasan tahun mereka menganggap Kouw Touw too seorang gagu. Lok Thung Kek sudah lama mencurigainya tapi ia belum pernah berpikir bahwa Hoan Yauw bukan seorang gagu. Ia mengerti bahwa ia sekarang berada dalam keadaan sangat berbahaya.

“Baru sekarang kutahu bahwa Kouw Tay-soe bukan seorang gagu,” katanya. “Perlu apa kau memperdayai orang selama belasan tahun?”

“Aku berlagak gagu atas perintah Ong-ya,” jawabnya. “Sebab tahu hatimu bercabang, ia memerintahkan aku untuk mengamat-amati gerak gerikmu.”

Keterangan itu sebenarnya agak mustahil tapi Lok Thung Kek yang telah kebingungan tak bisa lagi menggunakan otaknya yang cerdas. Ia terkesiap dan badannya lemas. “Apakah Ong-ya memerintahkan kau untuk menangkapku?” tanyanya. “Huh huh! Biarpun kau berkepandaian tinggi, belum tentu kau bisa menangkap Lok Thung Kek.” Seraya berkata begitu, ia mengambil tongkatnya, siap sedia untuk bertempur.

Hoan Yauw tertawa. “Lok Sianseng,” katanya dengan suara mengejek. “Andaikata ilmu silat Kouw Tauw-too tidak bisa menandingi kau, itu tak seberapa. Kalau kau mau merobohkan aku, paling sedikit kau harus berkelahi dalam seratus atau dua ratus jurus. Memang tidak terlalu sukar untuk kau kalahkan aku. Tapi jangan harap kau bisa membawa lari Han kie dan menolong soeteemu.”

Lok Thung Kek mengawasi adik seperguruannya dengan sorot mata berduka. Sedari muda ia belajar silat bersama-sama dan puluhan tahun ia belum pernah terpisahkan. Mereka berdua tidak menikah dan di dalam dunia ini, tiada orang yang lebih dicintainya seperti adik seperguruan itu. Maka itu, biar bagaimanapun juga ia tidak akan bisa melarikan diri seorang diri dengan meninggalkan Ho Pit Ong.

Melihat hati si kakek tergerak, Hoan Yauw segera memanggil Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei. Sesudah menutup pintu kamar, ia berkata, “Lok Sianseng, urusan ini belum keluar. Kouw Tauw-too bersedia untuk melindungi kau.”

Bagaikan kilat Hoan Yauw lalu menotok Ah hiat (hiat gagu) dan Joan ma hiat (hiat yang membuat badan lemas) Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei. Sesudah itu ia berkata dengan perlahan, “Kau sendiri tentu tidak akan membocorkan rahasia ini, sedang soeteemu pasti tak akan mau mencelakai kau. Kouw Tauw-too berlagak gagu dan ia akan tetap berlagak gagu. Kedua sahabat itupun tak menjadi rintangan, Kouw Tauw-too akan menotok Sie hiatnya untuk menutup mulutnya.”

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei kaget tak kepalang. Ia tak nyana bahwa urusan makan daging anjing akan berbuntut begitu hebat. Mereka ingin minta dikasihani tapi mereka tidak bisa untuk diajak bicara sama sekali.

Sambil menunjuk pada Han kie, Hoan Yauw lalu berkata pula. “Mengenai wanita cantik itu, loo lap ingin mengusulkan dua jalan. Pertama mencuci tangan bersih-bersih. Kita membawa dia dan kedua sahabat itu ke tempat sepi dan membunuh mereka. Aku akan melaporkan kepada Ong-ya bahwa Han-kie main gila dengan Lie Sie Coei yang tampan dan mereka mencoba melarikan diri. Tapi mereka berpapasan dengan Kouw Tauw-too yang dalam kegusarannya sudah membunuh mereka. Kalau mau, boleh kita mengampuni jiwa Soen Sam Hwie. Jalan kedua kau membawa lari Han-kie dan coba sembunyikan di tempat aman. Apa kau berhasil atau tidak bukan urusanku.”

Tanpa merasa Lok Thung Kek berpaling dan mengawasi Han-kie. Si cantik balas mengawasi dan sorot matanya memohon. Ia mengerti bahwa Han-kie ingin mengambil jalan kedua. Melihat kecantikan wanita itu, ia merasa tak tega untuk membunuhnya.

“Terima kasih untuk maksudmu yang baik,” katanya. “Tapi apakah yang kau ingin dilakukan olehku?” Ia tahu bahwa Kouw Tauw-too mampunyai sesuatu untuk diajukan kepadanya. Tanpa mengharap balasan budi, si pendeta pasti tak gampang mau menyudahi urusan ini.

“Permintaanku sangat sederhana,” jawab Hoan Yauw. “Ciang poen-jin, Go Bie-pay, Biat Coat Soethay adalah istriku sedang si nona she Cioe adalah anak kami berdua. Aku ingin minta obat pemunah Sip hiang Joan kin san untuk menolong mereka supaya mereka bisa melarikan diri. Di hadapan Kauwcoe, aku yang bertanggungjawab. Apabila aku melibatkan kau, biarlah semua anggota Kouw Tauw-too dan Biat Coat Soethay menjadi manusia hina-dina yang binasa secara mengerikan dan tidak bisa terlahir lagi ke dunia.”

Hoan Yauw sudah memperhitungkan bahwa sebagai orang yang suka bercinta, Lok Thung Kek tentu akan percaya jika ia mengarang cerita yang berdasarkan percintaan. Ia sangat membenci sekali Biat Coat Soethay sebab sudah mendengar keterangan Yo Siauw bahwa pendeta wanita itu telah membinasakan banyak anggota Beng-kauw. Itulah sebabnya mengapa ia tidak merasa segan untuk mengarang cerita yang tidak-tidak, yang menodai nama baik Biat Coat. Mengenai sumpah, ia sama sekali tak menghiraukan sumpah. Dalam hal ini, orang harus ingat bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat-sifat yang sesat dan ia dapat melakukan perbuatan yang biasanya tak akan diperbuat oleh tokoh-tokoh Rimba Persilatan.

Mendengar keterangan itu, Lok Thung Kek terkejut tapi sesaat kemudian ia tersenyum. Perbuatan yang diakui Kouw Tauw-too dianggapnya sebagai perbuatan lumrah. Biarpun berbahaya, ia anggap menukar obat pemunah dengan wanita cantik ada harganya juga. “Kalau begitu, menculik selir Ong-ya dan menaruhnya di dalam kamarku juga perbuatan Kouw Tay-soe bukan?” tanyanya.

“Kau memberi aku obat, aku membalasnya dengan Han-kie,” jawabnya. “Mulai dari sekarang kita bersahabat untuk selama-lamanya.”

Lok Thung Kek girang. Mendadak ia mendapat satu ingatan dan bertanya, “Tapi cara bagaimana soeteeku bisa kena Sip hiang Joan kin san? Dari mana kau mendapatkan racun itu?”

“Gampang sekali,” jawabnya. “Racun itu disimpan oleh soeteemu dan soeteemu suka minum arak. Sesudah dia mabuk, apa kau kira Kouw Tauw-too masih tidak bisa mencuri racun itu?”

Sekarang Lok Thung Kek tak ragu lagi, “Baiklah. Kouw Tay-soe,” katanya. “Kami berdua akan mengikat sahabat denganmu. Aku tidak akan menjual kau tapi kuharap kau jangan memasang jebakan lain yang sehebat ini.”

Hoan Yauw tertawa. Sambil menunjuk Han-kie ia berkata, “Lain kali kalau ada wanita secantik dia, kuharap Lok Sianseng suka memasang jaring supaya aku terjaring di dalam jaring bahagia.”

Mereka tertawa terbahak-bahak tapi masing-masing mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Diam-diam Lok Thung Kek memikirkan daya untuk menyembunyikan Han-kie dan sesudah itu ia akan berusaha untuk membinasakan si Tauw-too jahat.

Di lain pihak, Hoan Yauw tahu bahwa biarpun sekarang Lok Thung Kek tunduk tapi begitu dia telah menyembunyikan Han-kie di tempat yang aman, Hian beng Jie lo tentu akan membuat perhitungan dengannya. Tapi pada waktu itu, rombongan keenam partai sudah tertolong dan ia sendiri sudah menyingkir ke tempat lain.

Sementara itu Lok Thung Kek sedang mengkhayal, ia tidak segera mengeluarkan obat pemunah. Hoan Yauw tidak mau mendesak terlalu keras sebab bila ia berbuat begitu si kakek tentu akan curiga.

Ia duduk dan berkata, “Lok heng, mengapa kau tidak segera membuka jalan darah Han-kie? Ayolah! Untuk merayakan keberuntunganmu, kita boleh minum beberapa cawan arak. Di bawah sinar lampu, ada arak, nona cantik apalagi yang mau dicari oleh seorang manusia yang hidup dalam dunia ini?”

Selagi Hoan Yauw bicara, si kakek mengasah otaknya. Ban hoat sie tempat yang ramai, kelamaan Han-kie berada dalam kamar akan berbahaya. Ia segera mengeluarkan tongkatnya dan mencabut salah satu cabang tanduk menjangan. Ia mengambil cawan dan menuang sedikit bubuk obat ke dalam cawan itu, “Kouw Tay-soe,” katanya, “Tipumu sangat hebat dan aku menyerah kalah. Ambillah obat ini.”

Hoan Yauw menggelengkan kepalanya. “Begitu sedikit?” katanya. “Mana bisa cukup?”

“Obat ini lebih dari cukup,” kata Lok Thung Kek. “Jangankan dua orang enam tujuh orang masih bisa ditolong.”

“Mengapa kau begitu pelit?” kata Hoan Yauw, “Apa halangannya jika kau beri lebih banyak? Terus-terang, aku kuatir diperdayai olehmu karena kau sangat licin dan cerdik.”

Karena penolakan itu, Lok Thung Kek curiga. “Kouw Tay-soe, apakah yang mau ditolong olehmu tidak hanya Biat Coat dan putrimu?” tanyanya.

Baru saja Hoan Yauw mau memberi keterangan, di luar rumah sudah terdengar suara ramai-ramai dan langkah kaki tujuh delapan orang. “Tapak kakinya terlihat di sini,” kata seorang. “Apakah mungkin Han-kie dibawa ke Ban hoat sie?”

Muka Lok Thung Kek berubah pucat. Ia segera memasukkan cangkir obat ke dalam sakunya. Ia menduga bahwa Kouw Tauw-too sudah menyiapkan orang dan begitu ia menyerahkan obat itu, si pendeta akan turun tangan.

Hoan Yauw menggoyang-goyangkan tangannya. Ia lalu mengambil selembar seprai menyelimuti seluruh tubuh Han-kie dan menutup kelambu.

“Lok Sianseng! Apa Lok Sianseng ada?” demikian terdengar suara seruan orang.

Hoan Yauw menunjuk mulutnya. Dengan isyarat itu ia mau mengatakan bahwa karena ia dikenal sebagai orang gagu, ia tidak bisa memberi jawaban dan biarlah Lok Thung Kek yang menjawab.

“Ada apa?” bentak si kakek.

“Seorang selir Ong-ya diculik orang,” jawabnya. “Tapak kaki penculik diikuti sampai di sini.”

Lok Thung Kek menatap muka Hoan Yauw dengan sorot mata gusar. Hoan Yauw tersenyum dan dengan gerakan-gerakan tangan, ia menyilakan Lok Thung Kek mengusir orang-orang itu.

“Jangan bikin ribut di sini!” bentak Lok Thung Kek. “Cari ke tempat lain!”

Ia seorang berkepandaian tinggi dan berkedudukan tinggi dan sangat disegani. Orang-orang itu tidak berani bersuara lagi dan lalu berpencar untuk menggeledah berbagai pelosok kelenteng Ban hoat sie.

Lok Thung Kek mengerti bahwa sesudah terjadi kejadian itu, Ban hoat sie akan dijaga keras dan usaha membawa Han-kie keluar kelenteng hampir tidak bisa dilakukan lagi. Alisnya berkerut dan kedua matanya mengawasi Hoan Yauw dengan sorot benci.

Tiba-tiba, Hoan Yauw teringat sesuatu. “Lok heng,” bisiknya, “Di Ban hoat sie terdapat sebuah tempat yang aman untuk sementara waktu menyembunyikan kesayanganmu. Satu dua hari kemudian sesudah penjagaan agak kendor, kita bisa berusaha lain.”

“Paling aman dalam kamarmu sendiri!” kata si kakek dengan gusar.

Hoan Yauw tertawa. “Apa Lok heng rela menyerahkan wanita yang begitu cantik kepadaku?” tanyanya dengna nada mengejek.

“Di mana tempat itu?” bentak si kakek.

Hoan Yauw tersenyum dan menuding puncak menara.

Sebagai orang yang cerdas, Lok Thung Kek lantas saja bisa melihat tepatnya usul itu. Ia mengacungkan jempol dan memuji. “Bagus!”

Sebagaimana diketahui, menara itu merupakan penjara untuk rombongan keenam partai. Secara kebetulan Cong koan (pengurus) penjara adalah Yoe liong coe, murid kepala si kakek. Orang bisa mencurigai tempat lain tapi orang pasti tak akan mimpi bahwa selir Ong-ya disembunyikan di puncak menara yang terjaga ketat.

“Orang-orang itu sudah pergi ke tempat lain,” bisik Hoan Yauw. “Kita harus segera bertindak tidak boleh menunda lagi.”

Ia segera mengikat empat sudut seprai sehingga tubuh han-kie merupakan bungkusan besar. Ia mengangkat bungkusan itu dan mengangsurnya kepada Lok Thung Kek.

Hoan Yauw mengerti, “Mau menolong orang harus menolong sampai akhir,” katanya, “Biarlah! Aku akan menolong kau dan kau menyerahkan obat kepadaku.”

Seraya berkata begitu, ia mengangkat bungkusan itu menaruhnya di atas pundak. “Kau harus menjaga baik-baik,” bisiknya. “Kalau ada yang coba menahan, binasakan saja.”

Lok Thung Kek manggutkan kepala dan segera keluar lebih dahulu. Hoan Yauw turut keluar dan sesudah merapatkan pintu sambil manggul Han-kie, ia berjalan ke arah menara.

Waktu itu kira-kira sudah jam sembilan malam. Kecuali sejumlah pengawal yang menjaga di luar menara, dalam pekarangan kelenteng tidak terdapat manusia lain. Melihat Kouw Tauw-too dan Lok Thung Kek, para pengawal segera memberi hormat dengan membungkuk dan membuka jalan.

Sebelum tiba di pintu, Yoe liong coe mendapat berita dari bawahannya, sudah keluar menyambut dan berkata dengan suara girang, “Soehoe! Mari masuk!”

Lok Thung Kek mengangguk dan bersama Kouw Tauw-too, ia segera menuju ke pintu. Mendadak pintu menara terbuka dan dari dalam keluar seorang yang tidak lain adalah Tio Beng!

Lok Thung Kek terkesiap. Ia tak pernah menduga secara kebetulan majikannya berada dalam menara.

Sambil menengok ke Yoe liong coe, Tio Beng berkata sambil tertawa, “Gurumu mempunyai seorang murid yang sangat baik. Karena hanya ingat menyambut guru, kau tidak memperdulikan aku lagi.”

Yoe liong coe membungkuk. “Siauwjin tak tahu kedatangan Koen-coe,” katanya. “Untuk kelalaian itu, mohon Koen-coe sudi memaafkan.”

“Penjagaanmu sangat memuaskan,” kata si nona. “Kurasa Beng-kauw takkan gampang bisa turun tangan.”

Sesudah Boe Kie mengacau, Tio Beng yang tidak tahu bahwa yang datang ke kota raja hanya tiga orang, merasa kuatir Beng-kauw akan menyatroni lagi dengan rombongan besar. Maka itu, Tio Beng segera datang sendiri ke menara untuk memeriksa penjagaan. Ia merasa sangat puas karena penjagaan terlalu rapi dan di setiap lantai ditaruh dua orang yang berkepandaian tinggi.

Ia menengok pada Kouw Tauw-too dan tersenyum, “Kouw Tauw-too,” katanya, “Aku justru sedang mencari kau.”

Kouw Tauw-too manggut-manggutkan kepalanya.

“Aku mau minta kau mengantar aku ke satu tempat,” kata si nona pula.

Hoan Yauw mengeluh di dalam hati. Ia sudah berhasil menipu Lok Thung Kek dan obat pemunah sudah berada di depan mata. Siapa sangka, Tio Beng datang mengacau. Ia mau menolak tapi dalam peranan sebagai orang gagu ia tidak boleh bicara. “Biarlah si tua bangka yang menolong aku,” pikirnya. Ia mengangkat bungkusan dan mengangsurkannya ke Lok Thung Kek.

Si kakek terkejut.

“Lok Sianseng,” kata Tio Beng, “Apa isi bungkusan itu?”

“Oh?,” jawabnya tergugu, ?Kasur Kouw Tay-soe.”

“Kasur? Perlu apa Kouw Tay-soe membawa kasur kemari?” Ia tertawa dan berkata pula. ?Kouw Tay-soe menganggap aku terlalu bodoh dan tak sudi menerima aku sebagai muridnya. Sekarang ia sampai harus membawa kasur sendiri.”

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan kanannya. “Biar si tua yang mencari jalan keluar,” katanya di dalam hati. “Huh-huh? Inilah enaknya jadi seorang gagu.”

Tio Beng tidak mengerti gerakan tangan itu dan ia mengawasi Lok Thung Kek.

Si kakek cukup hebat, dalam sekejap ia sudah memikirkan jawaban yang bagus. “Sebagaimana Coejin tahu, beberapa siluman telah datang mengacau,” katanya. “Kami kuatir mereka menyatroni lagi untuk menolong tawanan itu. Maka itu kami berdua telah mengambil keputusan untuk bermalam di sini guna menjaga diri. Kasur itu kasur Kouw Tay-soe.”

Tio Beng girang sekali. “Sebenarnya aku sendiri memang ingin sekali meminta bantuan Lok Sianseng dan Kouw Tay-soe untuk menjaga menara ini,” katanya sambil tertawa, “Tapi aku belum berani membuka mulut sebab menganggap bahwa dengan meminta begitu aku minta terlalu banyak. Aku sungguh merasa girang bahwa tanpa diminta kalian berdua sudi mengeluarkan tenaga begitu besar. Kouw Tay-soe, dengan adanya Lok Sianseng, kurasa kawanan siluman tidak akan berani mengacau. Biarlah kau sendiri ikut aku.” Seraya berkata begitu ia memegang tangan Hoan Yauw.

Hoan Yauw tidak bisa meloloskan diri lagi. Jalan satu-satunya adalah menyerahkan bungkusan kepada Lok Thung Kek yang lalu menyambuti. “Baiklah aku menunggu kau di menara,” kata si kakek.

“Soehoe, mari teecoe yang membawanya,” kata Yoe liong coe.

“Tak usah,” kata sang guru sambil tertawa. “Aku ingin mengambil hati Kouw Tay-soe. Tugas ini harus dipanggul olehku sendiri.”

Di dalam hati, Hoan Yauw mengutuk si kakek. Tiba-tiba ia menepuk bungkusan itu. Baik juga Han-kie sudah tertotok jalan darahnya sehingga tepukan itu tidak mengakibatkan teriakan. Tapi Lok Thung Kek sudah ketakutan setengah mati. Ia tidak berani bercanda lagi dan sesudah membungkuk kepada majikannya ia segera melangkah masuk ke dalam menara. Diam-diam ia sudah memperhitungkan tindakannya. Begitu ia tiba di atas menara, ia akan mengeluarkan Han-kie dari bungkusannya dan membungkus sebuah kasur dengan sprei itu. Andaikata Kouw Tauw-too mengadu kepada Tio Beng biarpun mesti mati ia tak akan mengaku.

Dengan rasa bingung dan heran, Hoan Yauw mengikuti Tio Beng keluar dari Ban hoat sie. “Ke mana nona itu mau pergi?”

Sambil memakai tudung yang semula tergantung di punggungnya, Tio Beng berbisik,” Kouw Tay-soe, mari kita menemui si bocah Boe Kie.”

Hoan Yauw terkejut dan melirik si nona. Ia mendapati kenyataan bahwa muka nona Tio Beng bersemu dadu, sikapnya seperti orang malu bercampur girang. Hati Hoan Yauw jadi lega. Ia lantas saja ingat pertemuan malam itu di Ban hoat sie antara kedua orang muda itu. Cara-cara mereka bukan seperti musuh besar. Tiba-tiba ia sadar, “Aha!” serunya di dalam hati, “Mungkin sekali Koen-coe mencintai Kauwcoe.”

Sejenak kemudian ia berpikir, “Tapi? Tapi mengapa dia mengajak aku dan bukan Hian-beng Jie lo yang menjadi orang kepercayaannya? Aku tahu, aku gagu dan tidak bisa membocorkan rahasia. Ya! Itulah sebabnya.” Berpikir begitu, ia manggut-manggutkan kepalanya dan tersenyum.

“Mengapa kau tertawa?” tanya si nona.

Kouw Tauw-too menggerak-gerakkan kedua tangannya dalam isyarat bahwa biarpun harus masuk ke dalam sarang harimau ia akan turut serta dan melindungi keselamatan si nona.

Tio Beng tidak buka suara lagi dan lalu berjalan mengikuti si gagu. Tak lama kemudian tiba di depan penginapan Boe Kie.

“Koen-coe benar-benar hebat,” pikir Hoan Yauw, “Ia sudah tahu tempat penginapan Kauwcoe.”

Mereka segera masuk ke dalam. “Kami ingin bertemu dengan seorang tamu she Can,” kata Tio Beng kepada pengurus hotel. Si nona tahu bahwa dalam rumah penginapan itu Boe Kie menggunakan nama “Can Ah Goe.”

Seorang pelayan segera masuk ke dalam untuk memberitahukan Boe Kie. Pemuda itu sedang bersemedi sambil menunggu tanda api di kelenteng Ban hoat sie. Mendengar kedatangan seorang tamu, ia merasa heran dan segera pergi ke ruangan tengah.

Melihat Tio Beng dan Hoan Yauw ia kaget, “Celaka!” ia mengeluh. “Mungkin rahasia Hoan Yoe Soe bocor dan Tio Kauwnio datang untuk berhitungan denganku.” Ia menyoja dan berkata, “Maaf! Karena tak tahu Kauwnio datang berkunjung aku sudah tidak keburu menyambut.”

Tio Beng balas memberi hormat. “Tempat ini bukan tempat bicara,” katanya dengan suara perlahan. “Mari kita pergi ke sebuah rumah makan kecil untuk minum tiga cawan arak.”

Tio Beng berjalan lebih dulu. Di seberang rumah penginapan, lewat lima rumah terdapat sebuah rumah makan kecil dengan hanya beberapa meja kayu. Karena sudah malam, di rumah makan itu tidak terdapat tamu lain. Tio Beng segera memilih sebuah meja di ruang tengah dan duduk berhadapan dengan Boe Kie.

Hoan Yauw tertawa dalam hati. Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya memberi isyarat bahwa ia ingin minum arak di ruangan depan dan Tio Beng segera manggutkan kepalanya.

Sesudah Kouw Tauw-too keluar, si nona lalu memanggil pelayan dan memesan tiga kati daging kambing serta dua kati arak putih.

Boe Kie merasa sangat heran. Nona itu bagaikan pohon bercabang emas dan berdaun giok. Mengapa dia mengajaknya makan minum di dalam rumah makan yang kecil dan kotor? Apa maksudnya?

Sementara itu si nona sudah mengisi dua cawan arak. Sesudah meneguk salah sebuah cawan, ia berkata sambil tertawa, “Nah! Arak ini tidak beracun. Kau boleh minum dengna hati lega!” Seraya berkata begitu, ia menaruh cawan yang isinya sudah dicicipinya di hadapan Boe Kie.

“Ada urusan apa nona mengajak aku kemari,” tanya Boe Kie.

“Minum dulu tiga cawan baru kita bisa bicara,” jawabnya. “Untuk kehormatanmu, aku minum lebih dahulu.” Ia mengangkat dan mengeringkan isi cawannya. Boe Kie pun segera mengangkat cawannya.

Tiba-tiba hidungnya mengendus bau yang sangat harum. Di bawah sinar lampu di pinggir cawan, samar-samar ia melihat tapak bibir yang berwarna merah. Dari bau harum itu, duri Yanciekah? Dari badan si nonakah? Hatinya berdebar-debar tapi ia segera meneguk cawannya.

“Kita minum dua cawan lagi,” kata Tio Beng. “Ku tahu kau selalu curiga. Maka itu isi setiap cawan akan lebih dahulu dicicipi olehku.”

Boe Kie membungkam. Di dalam hati, ia memang merasa jeri terhadap nona Tio yang mempunyai banyak akal bulus, ia merasa senang bahwa setiap cawan yang disuguhkan kepadanya diminum lebih dahulu oleh si nona sehingga dengan demikian ia tak usah menempuh bahaya. Tapi minum arak yang sudah diteguk oleh seorang wanita mengakibatkan perasaan yang sukar dilukiskan dalam hatinya.

Ketika ia mengangkat muka, si nona ternyata sedang mengawasi dengan bibir tersungging senyum dan pipi berwarna dadu. Buru-buru Boe Kie melengos.

“Thio Kauwcoe,” Kata Tio Beng dengan suara perlahan, “Apa kau tahu siapa sebenarnya aku?”

Boe Kie menggelengkan kepala.

“Hari ini aku akan berterus terang,” katanya pula. “Ayahku ialah Jie lam ong yang berkuasa atas seluruh angkatan perang kerajaan. Aku wanita Mongol, namaku Mingming Temur. Tio Beng adalah nama Han yang dipilih olehku. Hong-siang telah menganugerahkan aku gelar Siauwbeng Koen-coe.”

Kalau bukan sudah diberitahukan oleh Hoan Yauw, Boe Kie tentu akan merasa kaget. Bahwa si nona sudah bicara terus terang adalah sangat luar biasa. Sebagai manusia yang tidak bisa berpura-pura pemuda itu tidak menunjukkan rasa kaget.

Tio Beng heran, “Mengapa kau tenang saja?” tanyanya. ?Apa kau sudah tahu?”

“Bukan,” sahutnya. “Tapi sejak awal aku sudah menduga. Kau seorang wanita muda belia tapi kau bisa menguasai tokoh-tokoh ternama dalam Rimba Persilatan. Sejak awal aku sudah menduga bahwa kau bukan sembarang orang.”

Nona Tio mengusap-usap cawan arak. Untuk beberapa saat, ia tidak mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya ia berkata dengan suara perlahan, “Thio Kongcoe, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan dan kuharap kau suka menjawab dengan setulus hati. Bagaimana sikapmu apabila aku membunuh Cioe Kauwnio?”

“Cioe Kauwnio tidak berdosa terhadapmu,” jawabnya dengan suara heran. “Mengapa kau mau bunuh dia?”

“Ada orang-orang yang tidak disukai aku dan aku segera membunuh mereka,” kata si nona. ?Apa kau kira aku hanya membunuh orang yang berdosa terhadapku? Ada manusia yang berdosa terhadapku tapi aku tidak membunuh mereka. Seperti kau sendiri, apakah dosamu terhadapku belum cukup besar?” Sambil berkata begitu, sinar matanya menunjukkan sinar bercanda.

Boe Kie menghela nafas, “Tio Kauwnio,” katanya. “Aku berdosa terhadapmu karena terpaksa. Aku bagaimanapun selalu tak dapat melupakan budimu yang sudah menolong Sam soe-peh dan Liok soe-siok ku.”

Tio Beng tertawa dan berkata, “Kau seorang yang berotak miring. Jie Thay Giam dan In Lie heng terluka karena perbuatan orang-orangku. Tapi kau bukan saja tidak menyalahkan aku bahkan kau menghaturkan terima kasih.”

“Sam soe-peh terluka kira-kira dua puluh tahun yang lalu dan pada waktu itu kau belum lahir,” kata Boe Kie.

“Tapi biar bagaimanapun juga, orang-orang itu adalah kaki tangan ayahku dan kalau mereka kaki tangan ayahku merekapun menjadi kaki tanganku,” kata si nona. “Ah! Kau coba menyimpang dari pokok pembicaraan. Aku tanya, jika aku membunuh untuk membalas sakit hati?”

Boe Kie berpikir sejenak, “Aku tak tahu,” jawabnya.

“Mengapa tak tahu?” desak si nona. “Kau tidak mau bicara terus terang bukan?”

“Ayah dan ibuku mati karena didesak orang,” kata Boe Kie dengan suara berduka. “Hari itu di gunung Boe tong san, di hadapan jenazah kedua orang tuaku, aku telah bersumpah bahwa di kemudian hari sesudah aku besar, aku akan membalas sakit hati. Aku mengingat muka orang-orang Siauw liem, Go bie, Koen loen dan Khong tong-pay yang waktu itu berada di Boe tong. Aku masih kecil dan hatiku penuh dengan kebencian. Tapi sesudah aku besar, sesudah aku memperoleh lebih banyak pengetahuan, sakit hatiku kian lama kian berkurang.”

“Pada hakekatnya aku tak tahu siapa yang sebenarnya sudah mencelakai kedua orang tuaku. Aku tidak boleh menuduh Khong tie Siansoe, Thie kim Sianseng dan tokoh-tokoh lain. Aku tidak boleh menuduh kakek atau pamanku (In Ya Ong), aku bahkan tidak pantas menuduh orang-orangmu seperti A-toa, A-jie, Hian-beng Jie lo dan yang lainnya. Selama beberapa hari aku merenungkan hal itu dalam pikiranku. Apabila manusia tidak saling bunuh, apabila semua manusia hidup damai dan bersahabat, bukankah kehidupan akan menjadi lebih berarti daripada sekarang ini?”

Pikiran itu sudah lama berada dalam otaknya tapi sebegitu jauh belum pernah ia utarakan kepada orang lain. Malam itu entah bagaimana ia membuka isi hatinya kepada Tio Beng dalam rumah makan kecil itu. Sesudah bicara, ia sendiri malah merasa heran mengapa ia sudah bicara begitu.

Tio Beng tahu bahwa Boe Kie bicara sungguh-sungguh. “Hatimu sangat mulia,” katanya sesudah berdiam beberapa saat. “Manusia seperti aku tidak bisa berbuat seperti kau. Kalau ada orang membinasakan ayah dan kakakku, aku bukan saja akan menumpas keluarganya tapi bahkan membasmi sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya.”

“Aku pasti akan merintangi.”

“Mengapa begitu?”

“Karena lebih banyak kau membunuh manusia, lebih besar dosamu dan lebih berbahaya keadaanmu. Tio Kauwnio, bilanglah terus terang, apa kau pernah membunuh orang?”

“Sampai kini, belum. Tapi sesudah aku lebih tua, aku akan membunuh banyak sekali manusia. Leluhurku Kaisar Genghiz Khan, Kubilai-khan dan yang lain. Sungguh sayang aku seorang wanita. Kalau lelaki? Huh huh! Aku pasti akan melakukan sesuatu yang maha besar.”

Ia menuang arak ke cawannya dan meneguk isinya. Setelah itu, ia tertawa dan berkata pula, “Thio Kongcoe, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Bila kau membunuh Cioe Kauwnio atau salah seorang sahabatku maka aku takkan menganggapmu sebagai sahabat lagi,” jawabnya. “Aku tak mau bertemu muka lagi selama-lamanya dan jika bertemu juga aku takkan mau bicara lagi denganmu.”

“Dengan demikian, kau kini menganggapku sebagai sahabatmu, bukan?” tanya si nona dengan suara dingin.

“Andaikata aku membenci kau, aku tentu sungkan minum bersama kau di tempat ini,” sahutnya. “Hai!…Aku merasa sukar untuk membenci orang. Di dunia ini, manusia yang paling dibenci olehku adalah Hoen-goan Pel lek-cioe Seng Koen. Tapi setelah dia mati aku berbalik merasa kasihan di dalam hati, seolah-olah aku mengharap supaya dia tak mati.”

“Bagaimana perasaanmu, andaikata besok aku mati?” tanya Tio Beng. “Di dalam hatimu kau tentu berkata, ‘Terima kasih kepada Langit dan Bumi, musuh yang kejam sudah mampus dan aku boleh tidak usah terlalu pusing.’ Kau tentu berpikir begitu bukan?”

“Tidak! Tidak! Aku sama sekali tak mengharapkan kematianmu. Tidak! Wie Hok Ong hanya menakut-nakuti kau, mengancam untuk menggores mukamu. Bicara terus-terang, aku merasa sangat kuatir. Tio Kauwnio, kuharap kau tidak menyulitkannya lebih lama. Lepaskanlah tokoh-tokoh keenam partai itu. Marilah kita hidup damai. Bukankah kehidupan begitu lebih bahagia daripada bermusuhan yang berlarut-larut?”

“Bagus! Akupun mengharapkan itu. Kau seorang Kauwcoe dari Beng-kauw. Perkataanmu berharga bagaikan emas. Pergilah kau memberitahukan supaya mereka semua mengabdi kepada kerajaan. Ayahku akan melaporkan kepada Hong-siang agar mereka diberi anugerah.”

Boe Kie menggelengkan kepala dan berkata dengan suara perlahan, “Kami bangsa Han mempunyai suatu tekad. Tekad itu ialah mengusir kekuasaan Mongol dari bumi bangsa kami.”

Tiba-tiba si nona bangkit. “Apa?” tegasnya. “Kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Apakah itu bukan berarti pemberontakan?”

“Aku memang sudah memberontak,” jawabnya, “Apa kau belum tahu?”

Lama sekali si nona mengawasi wajah Boe Kie. Perlahan-lahan sinar kegusaran menghilang dari paras wajahnya dan berganti dari sinar kedukaan dan putus harapan. Perlahan-lahan ia duduk dan berkata dengan suara parau, “Aku sudah tahu. Aku hanya ingin dengar kepastiannya dari mulutmu sendiri.”

Boe Kie berhati lemah. Melihat kedukaan si nona ia terus merasa berduka. Kalau dapat, ia bersedia untuk menuruti segala kemauan nona Tio. Hanya urusan itu adalah urusan nusa dan bangsa maka ia harus tetap kokoh pada pendiriannya, ia tak tahu bagaimana caranya menghibur Tio Beng dan ia membungkam sambil menundukkan kepala.

Selang beberapa lama ia berkata, “io Beng Kauwnio, sekarang sudah larut malam. Biarlah aku mengantar kau pulang.”

“Apakah kau tak sudi menemani aku duduk-duduk di sini lebih lama lagi?”

“Bukan! Kalau kau masih ingin minum dan berbicara, aku bersedia untuk menemani terus.”

Tio Beng tersenyum, “Kadang-kadang aku melamun,” katanya. “Andaikata aku bukan seorang Mongol, bukan seorang putri pangeran tapi hanya seorang wanita Han biasa seperti Cioe Kauwnio, mana yang lebih cantik.”

Boe Kie terkejut, ia tak duga si nona bakal mengajukan pertanyaan begitu. Tapi hal ini tidak mengherankan. Tio Beng adalah seorang Mongol yang beradat polos. Tanpa merasa pemuda itu mengawasi wajah si nona yang sangat ayu dan tanpa merasa pula ia berkata, “Tentu saja kau lebih cantik.”

Mata Tio Beng bersinar girang, ia menyodorkan tangan kanannya dan mencekal tangan Boe Kie. “Thio Kongcoe apakah kau merasa senang jika kau sering-sering bertemu denganku?” tanyanya dengan suara lemah lembut. “Apakah kau sudi datang pula jika aku mengundang kau minum arak lagi di rumah ini?”

Jantung Boe Kie memukul keras. Sesudah menentramkan hatinya ia menjawab, “Aku tidak bisa berdiam lama-lama di sini, beberapa hari lagi aku harus pergi ke Selatan.”

“Perlu apa kau pergi ke Selatan?”

“Kurasa kau bisa menebak sendiri. Kalau aku memberitahukan maksudku kau tentu akan gusar.””

Tio Beng mengawasi keluar jendela memandang sang rembulan dengan sinarnya yang putih bagaikan perak. Tiba-tiba ia berkata, “Thio Kongcoe kau telah berjanji untuk melakukan tiga permintaanku. Apa kau masih ingat?”

“Tentu saja masih ingat. Nona boleh memberitahukan dan dalam batas kemampuanku, aku akan melakukan perintahmu.”

Si nona menatap wajah Boe Kie dan berkata, “Sekarang aku baru mempunyai sebuah permintaan, aku minta kau mengambil golok To-liong to.”

Boe Kie tahu bahwa permintaan yang diajukan Tio Beng pasti bukan permintaan yang mudah dilakukan. Tapi ia sama sekali tak menduga bahwa permintaan pertama sudah begitu sukar.

Melihat paras Boe Kie yang menunjukkan rasa susah hati. Tio Beng bertanya, “Bagaimana? Apa kau tak sudi melakukan permintaanku? Apakah dilakukannya permintaan itu melanggar sifat kesatriaan dalam Rimba Persilatan?”

“Sebagaimana kau tahu, To-liong to adalah milik ayah angkatku, Kim mo Say Ong Cia Tay-hiap. Tak dapat aku mengkhianati Giehoe dan menyerahkan golok itu kepadamu.”

“Aku bukan menyuruh kau mencuri, merampas atau menipu. Akupun bukan ingin memiliki golok itu. Aku hanya minta kau meminjamnya dari ayahmu dan memberikannya kepadaku supaya aku bisa bermain-main dengan golok itu untuk satu jam lamanya. Sesudah satu jam, aku akan memulangkannya kepada Cia Tay-hiap. Kalian berdua adalah ayah dan anak. Apa bisa jadi Cia Tay-hiap akan tak sudi untuk meminjamkannya dalam jangka waktu hanya satu jam. Aku bukan ingin merampas harta benda atau membunuh manusia. Apakah hal itu melanggar kesatriaan dalam Rimba Persilatan?”

“Biarpun namanya tersohor, To-liong to sebenarnya tidak terlalu luar biasa hanya lebih berat dan lebih tajam dari golok biasa.”

“Dalam Rimba Persilatan terdapat kata-kata sebagai berikut. Boe lim cie coen po to to liong, hauw leng thian hee boh kam poet ciong, ie thian poet coet swee ie ceng hong (Yang termulia dalam Rimba Persilatan, golok mustika membunuh naga, perintahnya di kolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut, ie thian tidak keluar siapa yang bisa melawan ketajamannya). Ie thian kiam berada dalam tanganku terlihat seperti To-liong to. Kalau kau tidak percaya padaku untuk melihat golok mustika itu, kau boleh berdiri di sampingku. Dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi kau tak usah takut bahwa aku main gila terhadapmu.”

Mendengar keterangan itu, Boe Kie berpikir. Sesudah rombongan keenam partai tertolong memang ia juga ingin segera berangkat untuk mengajak ayah angkatnya pulang ke Tiongkok supaya orang tua itu bisa menduduki kursi Kauwcoe. Kalau nona Tio hanya ingin melihat-lihat golok itu dalam waktu satu jam biarpun dia mau main gila, dengan penjagaan yang hati-hati mungkin tak kan terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ia ingat bahwa menurut ayah angkatnya di dalam golok tersebut bersembunyi rahasia pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi. Ayahnya telah mendapatkan To-liong to sebelum kedua matanya buta. Tapi sebegitu lama orang tua itu, yang berotak sangat cerdas masih belum bisa memecahkan rahasia tersebut. Maka itu, dalam waktu satu jam nona Tio rasanya takkan bisa berbuat banyak. Selain itu, ayah angkatnya dan ia sudah berpisah kurang lebih sepuluh tahun. Mungkin sekali dalam sepuluh tahun ayah angkat itu sudah berhasil menembus tabir rahasia dari To-liong to.

Melihat Boe Kie belum juga menjawab, Tio Beng tertawa. “Kau tidak sudi meluluskan?” tegasnya. “Terserah padamu, aku ingin mengajukan permintaan lain, permintaan yang lebih sukar.”

Boe Kie tahu bahwa Tio Beng pintar dan banyak akalnya. Apabila nona itu mengajukan permintaan lain yang lebih sulit, ia lebih takkan bisa memenuhi janji. Maka itu, buru-buru ia menjawab, “Baiklah! Aku bersedia untuk meminjamkan To-liong to kepadamu. Tapi kita berjanji dulu, aku hanya meminjamkan dalam jangka waktu satu jam. Manakala kau berani main gila, berani coba-coba merampasnya, aku tentu takkan tinggal diam.”

“Akur! Aku tak bisa bersilat dengan golok. Perlu apa aku inginkan golok yang berat itu? Andaikata kau menghadiahkannya kepadaku dengan segala kehormatan, belum tentu aku sudi menerimanya. Kapan kau mau berangkat untuk mengambilnya?”

“Dalam beberapa hari ini.”

“Bagus. Akupun akan segera berkemas. Jika kau sudah menetapkan tanggalnya, harap kau segera memberitahukan padaku.”

Boe Kie terkejut, “Kau mau ikut?” tanyanya.

“Tentu saja, kudengar ayah angkatmu berdiam di sebuah pulau terpencil. Jika orang tua itu tidak mau pulang, apakah kau mesti berlayar berlaksa li untuk mengambil golok itu dan menyerahkannya kepadaku dalam jangka waktu satu jam dan kemudian kau harus melakukan perjalanan berlaksa li lagi untuk memulangkannya dan sesudah itu pulang ke Tiong goan? Itu terlalu gila!”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. Pelayaran menyeberangi samudera penuh dan masih merupakan sebuah pertanyaan, apa ia bisa mencapai pulau Peng hwee to atau tidak. Sekali jalan saja masih belum tentu, apalagi sampai tiga kali. Perkataan Tio Beng mungkin sekali benar. Sesudah berdiam di pulau itu selama puluhan tahun, juga belum tentu ayah angkat mau pulang ke Tiong goan.

Sesudah berpikir beberapa saat ia berkata, “Angin dan ombak samudera tidak mengenal kasihan. Perlu apa nona pergi menempuh bahaya itu?”

“Kalau kau boleh menempuh bahaya, mengapa aku tidak boleh?” si nona balas bertanya.

“Apakah ayahmu sudi meluluskan?”

“Ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kang ouw dan selama beberapa tahun aku pergi ke berbagai tempat tanpa pengawalan ayah.”

Mendengar keterangan Tio Beng “ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kang ouw” tiba-tiba Boe Kie ingat sesuatu.

“Dalam usaha menyambut Gie hoe, entah kapan aku bisa kembali,” pikirnya. “Jika dia menggunakan tipu memancing harimau dari gunung dan dengan menggunakan kesempatan itu dia menyerang Beng-kauw secara besar-besaran keadaan bisa berbahaya. Tapi kalau dia ikut aku, kaki tangannya pasti tidak akan berani bergerak sembarangan.”

Berpikir begitu lantas saja mengangguk dan berkata, “Baiklah, begitu aku sudah menetapkan tanggal keberangkatan, aku akan segera memberitahu kau.”

Belum habis ia bicara, dari jendela mendadak terlihat sinar api yang kemerah-merahan diikuti dengan teriak-teriakan di tempat jauh.

Tio Beng melongok keluar. “Celaka!” ia mengeluh. “Menara Ban hoat sie kebakaran! Kouw Tay-soe! Kouw tay-soe!” ia berteriak berulang-ulang tapi Kouw Tauw-too tak muncul. Ia pergi ke ruang depan ternyata pendeta itu sudah tidak kelihatan lagi baying-bayangnya.

Menurut keterangan pengurus rumah makan, Kouw Tauw-too sudah pergi lama sudah kira-kira dua jam. Bukan main rasa herannya si nona, tapi ia masih belum menduga bahwa si pendeta telah mengkhianatinya.

Sementara itu, melihat sinar api yang berkobar-kobar di atas menara. Boe kIe jadi kuatir akan keselamatan paman-pamannya dan tokoh lain yang baru saja kembali Lweekang mereka. “Tio Kauwnio, aku tak bisa menemani lebih lama lagi,” katanya. Seraya berkata begitu, ia melompat ke luar jendela.

“Tunggu! Aku ikut!” seru si nona. Tapi ketika ia keluar dari jendela, Boe Kie sudah hilang dari pandangan.

Sekarang marilah kita lihat Lok Thung Kek yang sesudah Koen-coe dan Kouw Tauw-too berlalu, dengan hati lega ia merangkul Han-kie ke kamar Yoe liong coe, yang terletak di tengah-tengah lantai ketujuh.

“Kau tunggu di luar, tak seorangpun boleh masuk ke sini,” kata si kakek kepada muridnya. Begitu Yoe liong coe keluar, ia segera membuka bungkusan dan mengeluarkan Han-kie yang paras mukanya pucat dan sinar matanya menunjukkan duka besar.

“Sesudah berada di sini, kau tak usah takut,” bujuk si kakek. “Aku tentu akan memperlakukan kau baik-baik.” Ia belum berani membuka jalan darah si cantik sebab kuatir dia berteriak.

Sesudah menaruh Han-kie di ranjang Yoe liong coe, ia menurunkan kelambu dan kemudian mengambil satu kasur yang lalu dibungkus dengan sprei yang tadi membungkus tubuh si cantik. Ia menaruh bungkusan itu di samping ranjang.

Lok Thung Kek adalah orang yang sangat berhati-hati. Buru-buru ia keluar dari kamar itu dan memesan Yoe liong coe bahwa tak seorangpun boleh masuk ke dalam kamar. Ia tahu muridnya sangat taat kepadanya dan pesan itu pasti takkan dilanggar.

Sesudah beres menyembunyikan Han-kie, ia lalu memikirkan tindakan selanjutnya. “Bila aku mau Kouw Tauw-too menutup mulut, aku harus membalas budi kepadanya,” pikirnya. “Jalan satu-satunya adalah melepaskan si nenek kecintaannya dan anak perempuannya. Untung juga Kauwcoe Mo-kauw telah mengacau di sini dan pengacau itu ada sangkut pautnya dengan Cioe Kauwnio. Sesudah menolong, aku bisa mengatakan bahwa kedua orang itu ditolong oleh si Kauwcoe Mo-kauw. Koen-coe pasti takkan curiga dan tak akan menyalahkanku sebab Kauwcoe memang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.” Sesudah mengambil keputusan, ia segera pergi ke kamar tahanan Biat Coat Soethay.

Semua murid wanita Goe bie-pay ditahan di lantai empat sedang Biat Coat sendiri mengingat kedudukannya sebagai seorang ciang boen jin, ditahan sendirian di dalam sebuah kamar.

Lok Thung Kek memerintahkan penjaga membuka pintu dan ia lantas masuk ke dalam. Pendeta wanita itu ternyata sedang bersemedi seraya memejamkan matanya.

“Biat Coat Soethay, apa kau baik?” tegur si kakek.

Perlahan-lahan Biat Coat membuka kedua matanya. “Baik apa?” katanya dengan suara dongkol.

“Kau sangat keras kepala,” kata Lok Thung Kek. “Coe jin mengatakan bahwa tak guna kau diberi hidup lebih lama lagi dan ia sudah memerintahkan aku untuk mengirim kau ke dunia baka.”

“Baiklah,” kata si nenek dengan suara tawar. “Tapi tak perlu tuan turun tangan sendiri. Aku hanya ingin meminjam sebatang pedang pendek. Di samping itu, sebagai keinginanku terakhir kuminta tuan sudi memanggil muridku Cioe Cie Jiak. Aku ingin bicara dengannya.”

Lok Thung Kek mengiyakan. Ia keluar dan memerintahkan seorang penjaga untuk membawa nona Cioe. “Cinta ibu dan anak memang tak sama dengan cinta lain,” pikirnya.

Beberapa saat kemudian, Cie Jiak sudah datang. “Lok Sianseng,” kata Biat Coat. “Kumohon kau keluar dulu. Pembicaraan kami tidak memakan waktu yang lama.”

Sesudah si kakek berlalu, Cie Jiak merapatkan pintu lalu menubruk gurunya. Ia menangis sesegukan. Biarpun Biat Coat berhati besi tapi pada saat itu, pada detik-detik perpisahan untuk selama-lamanya hatinya seperti disayat sembilu. Ia mengusap-usap rambut muridnya.

Nona Cioe tahu bahwa gurunya takkan bicara panjang-panjang. Maka itu, lebih dulu ia menceritakan bagaimana caranya ia sudah ditolong Boe Kie dan kedua kawannya.

Alis si nenek berkerut. Selang beberapa saat ia berkata, “Mengapa ia hanya menolong kau, tidak menolong yang lain?”

Muka si nona berubah merah, “Entahlah,” jawabnya.

“Hmm! Bocah itu terlalu jahat,” kata sang guru dengan suara gusar. “Dia kepala siluman dari kawanan siluman Mo-kauw. Tak mungkin dia mempunyai hati yang baik. Dia memasang jaring untuk menjaring kau.”

“Dia? Dia memasang jaring apa?” tanya si nona dengan suara heran.

“Kita adalah musuh kawanan Mo-kauw,” terang sang guru. “Dengan Ie thian kiam aku telah membunuh banyak sekali siluman. Mereka sangat membenci Go bie-pay. Mana bisa jadi mereka benar-benar mau menolong? Siluman she Thio itu jatuh hati kepadamu, diam-diam dia menyuruh orang menangkap kita dan kemudian untuk mengambil hati, dia sendiri yang menolong kau.”

“Tapi Soehoe,” kata si nona dengan suara lemah-lembut. “Kulihat ia tidak berpura-pura.”

Si nenek lantas naik darah. “Apa kau kata?” bentaknya, “Rupanya kau telah mengikuti contoh si binatang Kie Siauw Hoe dan sudah jatuh cinta kepada siluman itu. Kalau aku masih bertenaga, dengan sekali hantam aku sudah mengambil jiwamu.”

Cie Jiak ketakutan, dengan tubuh gemetar ia berkata, “Murid tak berani.”

“Apa sungguh-sungguh tidak berani atau kau hanya mencoba memperdaya gurumu?”

“Murid sungguh-sungguh tak berani melanggar ajaran Soehoe.”

“Kalau begitu, kau berlututlah dan bersumpah.”

Nona Cioe segera menekuk kedua lututnya tapi ia tak tahu sumpah apa yang harus diucapkan olehnya.

Kata Biat Coat, “Kau harus bersumpah begini. Aku, Cie Jiak bersumpah kepada Langit bahwa kalau di kemudian hari aku jatuh cinta kepada Kauwcoe Mo-kauw Thio Boe Kie dan menjadi suami istri dengan dia, maka roh kedua orang tuaku yang sekarang berada di alam baka akan merasa tidak aman. Sedang guruku Biat Coat Soethay akan menjadi setan yang jahat dan akan mengganggu aku seumur hidup. Apabila dari perkawinan itu terlahir anak maka semua anak lelaki akan menjadi budak, anak perempuan akan menjadi pelacur.”

Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Ia orang yang berwatak lemah lembut dan di dalam lubuk hatinya terdapat kasih sayang terhadap sesama umat manusia.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: