Kumpulan Cerita Silat

23/10/2008

Kisah Membunuh Naga (52)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:33 am

Kisah Membunuh Naga (52)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Makin lama keadaan pihak Boe Kie jadi makin jelek. Mereka bingung dan makin bingung, mereka makin terdesak.

Sekonyong-konyong Tio Beng membentak. “Semua berhenti!”

Hampir berbareng, semua jagonya nona Tio melompat keluar dari gelanggang.

Yo Siauw segera memasukkan pedangnya ke dalam sarung, sedang Wie It Siauw memulangkan golok yang dirampasnya kepada pemiliknya. Sesudah itu sambil tertawa terbahak-bahak, mereka berdiri di belakang Boe Kie.

Orang-orang sebawahan Tio Beng yang berkepandaian tinggi Kouw Tauw Too dan yang lain-lain banyak yang belum turun ke gelangang. Apabila mereka menyerbu, Boe Kie bertiga pasti takkan bisa mempertahankan diri. Bahwa dalam menghadapi bahaya kedua pemimpin Bengkauw itu masih bisa tertawa sudah membangkitkan rasa kagum dalam hatinya semua orang. Sementara itu dengan rasa kuatir Boe Kie melihat seorang pria yang menudingkan sebatang pisau ke punggung Cioe cie Jiak.

“Thio kongcu, sam wie (ketiga tuan) pergilah,” kata nona Cioe. “Aku merasa sangat berterima kasih akan maksud sam wie yang mulia.”

“Thio Kongcu,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku sungguh merasa kasihan terhadap nona yang begitu cantik. Apakah Cioe Kouwnio gadis idamanmu?”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Cioe Kouwnie dan aku sudah saling mengenal sejak kecil,” katanya. Di waktu kecil aku telah dipukul oleh manusia itu,” ia menuding Hi Pin Ong. “Dengan Hian beng Sin ciang. Racun dingin masuk kedalam tubuhku dan aku hampir tak bisa bergerak. Pada waktu itu Cioe Kouwnio telah merawat aku menyuapi makan kemulutku dan memberi minum kepadaku. Budi yang besar itu sukar sekali bisa dilupakan olehku.”

“Kalau begitu, kalian adalah kawan sedari kecil,” kata Tio Beng. “Bukankah kau ingin mengangkat dia sebagai kauwcoe Hoejin (Nyonya kauwcoe) dari Beng Kauw?”

Muka Boe Kie jadi terlebih merah. “Sebelum musuh dapat diusir, tak bisa aku menikah!” katanya.

Tio Beng lantas saja gusar, “Apa benar-benar kau mau menumpas aku?” tanyanya.

Boe Kie menggelengkan kepalanya. “Sampai sekarang aku masih belum tahu asal usul kauw Nio,” katanya. “Meskipun kita telah kebentrok berapa kali bukan aku, tapi kauwnio yang cari urusan. Apabila kouwnio sudi melepaskan para pamanku dan tokoh-tokoh berbagai partai, aku akan merasa sangat berterima kasih dan sedikitpun tidak berani bermusuhan lagi dengan kouwnio. Apapula kouwnio boleh memerintahkan aku melakukan tiga rupa pekerjaan. Kouwnio boleh menyebutkannya dan aku pasti akan melakukannya sedapat mungkin.”

Tio Beng tertawa, “Ah! Kau belum lupa?” katanya. Ia berpaling kepada Cioe Cie Jiak dan berkata pula, “Jika benar Cioe kouwnio bukan gadis idamanmu, bukan saudari seperguruanmu bukan tunanganmu, maka digoresnya muka yang cantik itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kau.”

Sehabis berkata begitu, ia melirik. Hampir berbareng Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong melompat ke depan Cioe Cie Jiak dengan masing-masing mencekal senjata, sedang salah seorang pengawal menudingkan pisau pada muka Coe.

“Thio kong coe,” kata pula Tio Beng. “Lebih baik kau berterus terang kepadaku.”

Selagi Tio Beng bicara, Wie It Siauw membuka telapak tangannya dan meludahinya beberapa kali, akan kemudian menggosok-gosok telapak tangan yang penuh ludah itu di sela sepatunya. Semua orang merasa heran. Mereka tak bisa menebak apa maksud Wie Hok Ong.

Sekonyong-konyong Ceng Ek Hong Ong tertawa terbahak-bahak dan belum habis ia tertawa tubuhnya berkelebat bagaikan kilat. Hampir berbareng, Tio Beng merasa kedua pipinya diusap orang dan dilain detik Wie It Siauw sudah berdiri lagi di tempat semula dengan tangan memegang dua batang golok pendek. Tak seorangpun melihat, dari pinggang siapa ia mencabut kedua senjata itu.

Nona Tio terkesiap, ia tak berani meraba pipinya dan lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menyusutnya. Sapu tangan itu bergelepotan suatu cairan-cairan lendir yang tercampur tanah.

“Ludah Wie Hok Ong!”

Bahwa sangat gusar, paras muka si nona berubah menjadi merah padam. Mengingat mukanya dilabur ludah, hampir-hampir ia muntah.

“Tio Kouwnio!” bentak Wit It Siang dengan suara lantang. “Kalau kau mau merusak muka Cioe Kouwnio, aku tentu tidak bisa mencegah. Nama Thio Kauwcoe kami dikenal di tengah lautan dan sebagai pemuda berkepandaian tinggi dan tampan, tak sukar untuk mencari gadis-gadis cantik untuk dijadikan istri dan empat gundik. Pada hakekatnya, ia tak memikir Cioe Kounio. Tapi kau manusia kejam luar biasa dan aku si orang she Wie, tidak bisa membiarkan dengan begitu saja. Tio Kouwnio, kau dengarlah! Jika hari ini kau menggores muka Cioe Kouwnio satu kali, aku akan membalas budi dengan dua kali lipat, aku akan menggores mukamu dua kali. Jika kau menggores dua kali, aku akan membayar dengan empat goresan. Apabila kau memutuskan satu jari tangannya, aku akan memutuskan satu dua jari tangan-tanganmu. Si orang she Wie tidak pernah berdusta. Apa yang diaktanya pasti akan dilakukannya. Ceng Ek Hok Ong belum pernah menjilat lagi ludah yang sudah dibuangi. Mungkin kau bisa menjaga diri selama setengah atau satu tahun, tapi kau pasti tak akan mampu berwaspada terus menerus dalam delapan sembilan tahun atau sepuluh tahun. Mungkin untuk menyelamatkan diri kau akan menyuruh anjing-anjingmu untuk membinasakan aku. Tapi aku percaya tak seorangpun di dalam dunia ini yang bisa mengubar dirinya Ceng Ek Hong Ong. Nah selamat tinggal!”

Berbareng dengan terdengarnya “perkataan tinggal” badan Wie It Siauw menghilang dari ruangan itu. Kecepatan bergeraknya Wie Hok Ong sungguh-sungguh menakjubkan, semua orang yakin bahwa ancaman yang dikeluarkan dengan suara tenang bukan gertak sambal.

Muka Tio Beng sebentar pucat, sebentar merah. Ia mengerti, bahwa kalau tadi Wie It Siauw mengusap mukanya menyeluruh dengan sebatang pisau, muka yang cantik itu sudah mulai cacat iapun yakin bahwa sesuai dengan ancaman itu, ia tak akan bisa menjaga diri terus-menerus.

Dalam ruangan itu, org yang berilmu silat paling tinggi adalah Boe Kie. Tapi Boe Kie pun tidak ungkulan melawan Wie It Siauw dalam ilmu ringan badan. Dalam perlombaan jarak jauh berkat Lweekangnya ia akan memperoleh kemenangan. Tapi dalam jarak dekat ia tak usah berharap bisa menyandek Wie Hok Ong. Pada jaman itu, dalam seluruh rimba persilatan, Wie It Siauw-lah yang paling memiliki ilmu mengentengkan badan yang paling tinggi.

Sesaat kemudian, sambil membungkuk Boe Kie berkata, “Tio Kauwnio, kalau begitu sekarang saja kami minta diri.” Dengan menuntun tangan Yo Siauw, ia meninggalkan ruangan itu. Ia tahu bahwa sesudah mendapat ancaman, Tio Beng pasti tidak berani main gila terhadap Cioe Cie Jiak.

Dengan raas malu dan gusar nona Tio mengawasi mereka, tapi dia tidak berani memerintahkan orang-orangnya untuk mencegat kedua pimpinan Beng Kauw itu.

Setibanya dirumah penginapan, Wie It Siauw sudah menunggu, “Wie Hok Ong,” kata Boe Kie sambil tertawa, “hari ini kau memberi pelajaran hebat sekali kepada mereka. Mereka sekarang mengerti, bahwa Beng Kauw tidak boleh dibuat gegabah.”

Wie It Siauw tertawa nyaring, “Aku tanggung tiga hari tiga malam nona cantik itu tidak enak tidur,” katanya.

“Makin dia tidak enak tidur, makin sukar kita menolong orang,” kata Yo Siauw.

“Yo Co Soe bagaimana pikiranmu?” tanya Boe Kie. “Apakah kau mempunyai daya yang baik untuk menolong mereka?”

Alis Yo Siauw berkerut. “Memang sukar,” jawabnya. “Kita hanya bertiga, apapula kedatangan kita sudah diketahui oleh musuh.”

Boe Kie merasa jangah. “Akulah yang bersalah,” katanya dengan suara meminta maat. “Sebab melihat Cioe Kauwnio menghadap bahaya aku tidak bisa untuk melakukan dan menahan hati, sehingga akhirnya aku merusak urusan besar.”

“Kauw coe tidak bersalah,” bantah Yo Siauw. “Dalam keadaan begitu, kamipun tidak bisa tidak turun tangan. Bahwa dengan seorang diri, Kauw coe sudah mengalahkan Hian Beng Jie Lo, adalah kejadian yang sangat baik untuk pihak kita.”

Sesudah beromong-omong beberapa lama lagi, mereka segera pergi mengaso di masing-masing kamarnya.

Pada esok harinya Boe Kie tersadar dari tidurnya. Begitu membuka mata ia melihat jendela terpentang lebar dan seorang berdiri di depan jendela sedang mengawasinya. Dengan kaget ia melompat bangun.

Orang itu mukanya penuh tanda bacokan golok, bukan lain daripada Kouw Tauw Too. Boe Kie makin kaget, Kouw Tauw Too terus mengawasinya, tapi ia kelihatan tidak mengandung maksud jelek.

Boe Kie merasa seolah-olah kepalanya diguyur air dingin. “Bagaimana aku bisa pulas begitu nyenyak?”, katanya didalam hati. Musuh sudah berada di luar jendela dan aku masih belum tahu. Di lain saat ia berteriak, “Yo ce soe! Wie Hok ong!”

Mereka yang tidur di kamar sebelah, lantas saja menyahut. Hati Boe Kie agak lega sedikitnya ia tahu, bahwa kedua kawannya tidak dicelakai musuh.

Sementara itu, Kauw Tauw Too sudah menyingkir. Bagaikan kilat Boe Kie melompat keluar jendela dan terus mengubar. Yo Siauw dan Wie It Siauw menyusul dari belakang. Setibanya di luar mereka tidak melihat musuh lain, sedang si pendeta kabur ke arah utara. Seraya memberi isyarat dengan ulapan tanga, mereka mengejar.

Meskipun pincang, pendeta itu bisa lari cepat sekali. Waktu itu fajar baru menyingsing dan jalanan masih sepi. Tapi lama kemudian, mereka sudah keluar dari pintu utara dan Kouw Tauw too membelok ke jalanan kecil.

Sesudah lari tujuh delapan li lagi, mereka tiba di sebuah bukit batu dan si pendeta menghentikan tindakannya. Sesudah mengibas-ibaskan tangannya sebagai tanda supaya Yo Siauw and Wie It Siauw mundur, ia memberi hormat.

“Apa maksudnya?” tanyanya di dalam hati. “Tempat ini tiada manusianya dan kalau sampai bertempur, dengan seorang diri, dia pasti kalah. Kelihatannya dia tidak mengandung maksud jahat.”

Selagi Boe Kie memikir begitu, seraya mengeluarkan suara “ah ah uh uh” si gagu sudah menerjang. Dia menyerang dengan memandang sepuluh jeriji tangan kiri merupakan Houw Jiauw (kuku harimau), tangan kannya berbentuk Liong Jiauw (cakar naga) sepuluh jari tangannya bengkok seperti gretan baja dan serangannya hebat luar biasa.

Dengan mengibaskan tangan kiri, Boe Kie memusnahkan serangan lawan. “Bagaiman maksud Siang jin?” tanyanya. “Sesudah bicara, kita masih mempunyai banyak waktu untuk bertempur.”

Tapi si pendeta tidak meladeni dan terus menyerang. Tangan kirinya semula merupakan Hauw Jiauw berubah menjadi Eng Jiauw (cakar elang) sedang tangan kanannya berubah menjadi Hauw Jiauw.

“Apa benar-benar Sian jin mau bertanding juga?” tanya Boe Kie seraya berkelit.

Si gagu tetap tidak menjawab. Kedua tangannya berubah lagi Eng Jiauw menjadi Say ciang (telapak tangan singa), Houw Jiauw menjadi Ho uwee (patuk burung Ho), sedang pukulannyapun turut berubah. Demikianlah, dalam tiga gebrakan ia sudah menyerang dengan enam rupa pukulan.

Boe Kie tidak berani berayal lagi dan segara melayani dengan Thay kek koen. Ia bergerak bagaikan mengalirnya air dan setiap pukulannya, baik membela diri maupun menyerang, merupakan lingkaran Thay kek.

Di lain pihak, Kauw tauw too menyerang dengan tipu-tipu yang beraneka ragam. Ia menggunakan ilmu silat yang aneh-aneh menggabung silat “sesat” dengan silat dari partai lurus bersih. Tapi Boe Kie sendiri tetap melayani dengan Thay Kek Koen. Sesudah bertempur kurang lebih tujuh puluh jurus, sambil membentak keras. Kouw Tauw Too, meninju dari jurusan Tiong Kiong.

Bagaikan kilat, dengan gerakan Jie hong Sie pit, Boe Kie memuji tinju yang menyambar dan berbareng dengan pukulan Tan Pian, telapak tangan kanannya meneput punggung si pendeta yang bongkok. Tepukan itu mampir tepat pada sasarannya, tapi Boe Kie tidak menggunakan Lwee Kang dan begitu telapak tangannya menyentuh punggung ia segera menarik pulang.

Si pendeta melompat kebelakang dan mengawasi Boe Kie dengan sorot mata berterima kasih. Ia mengerti bahwa dalam tepukan tadi, pemuda itu telah menaruh belas kasihan. Sesaat kemudian, ia menggapai Yo Siauw dan dengan gerakan tangan mengutarakan keinginannya untuk meminjam pedang. Yo Siauw membuka ikatan tali pedang dan bersama sama sarungnya, ia menyerahkan senjata itu kepada si pendeta.

Boe Kie heran, “Mengapa Co Soe meminjam senjata kepada musuh?” tanyanya dalam hati.

Sementara itu, sesudah menghunus pedang Kouw Tauw too memberi isyarat supaya Boe Kie meminjam pedang Wie It Siauw. Tapi pemuda itu menggelengkan kepala dan lalu menggambil sarung pedang dari tangan si pendeta. Sesudah itu, sambil melintangkan sarung pedang di depan dada ia membuat gerakan Ceng chioe (mengundang).

Kouw Tauw too tidak berlaku sungkan-sungkan lagi dan lalu membuka serangan. Setelah menyaksikan cara bagimana pendeta itu mengajar ilmu pedang kepada Tio Beng, Boe Kie tahu, bahwa dia memiliki Kiam hoat yang sangat tinggi. Maka itu, ia segera melayani dengan Thay kek Kiam hoat.

Seperti juga dalam pertandingan tangan kosong, Kouw tauw too menyerang dengan rupa-rupa pukulan yang dikirim secara berantai yang satu belum habis yang lain sudah menyusul. Sesudah bertanding beberapa lama, Boe Kie merasa kagum sekali.

“Kalau aku ketemu dia pada setengah tahun berselang, di dalam kiam hoat belum tentu aku dapat menandinginya,” katanya di dalam hati. “Di bandingkan dengan Giok Bin Sin Kiam Tong Hong Peng ilmu pedangnya masih lebih tinggi setingkat.” Memikir begitu, di dalam hatinya lantas muncul rasa sayang kepada pendeta itu.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, Kauw Tauw Too menyerang dengan ilmu Loan Pie Hong (angin puyuh) dan pedangnya menyambar nyambar bagaikan berlaksa ular. Boe Kie menyambut setiap serangan dengan memusatkan seluruh semangat dan perhatiannya.

Mendadak saja dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan ia membalik sarung pedang sehingga mulutnya menghadap keluar dan memapaki pedang si pendeta yang menyambar!

“Srok!” Pedang itu masuk kesarungnya.

Hampir berbareng, kedua menyambar dan menyentuk pergelangan tangan si pendeta dan kemudian, sambil tersenyum melompat mundur. Kalau mau, dengan menggunakan sedikit tenaga, ia sudah dapat merampas pedang si pendeta. Cara yang digunakannya itu berbahaya dan indah luar biasa.

Diluar dugaan, selagi ia melompat mundur, sebelum kakinya menginjak tanah, Kouw Tauw too sudah melemparkan pedangnya dan menghantam dengan telapak tangan. Dari sambaran angin, ia tahu bahwa pukulan itu disertai lweekang yang dahsyat. Karena ingin menjajal kekuatan tenaga dalam pendeta itu, ia segera menyambut dengan tangan kanannya dan kemudian barulah kedua kakinya hinggap di tanah.

Kouw Tauw Too tidak berhenti sampai di situ dan terus mengirim pukulan-pukulan hebat. Boe Kie segera mengeluarkan ilmu Kian Koen Tay Lo Ie yang paling tingig dan dengan ilmu tersebut, ia mengumpulkan tenaga pukulan-pukulan itu. Kemudian sambil membentak keras, ia balas memukul.

Pukulan itu seolah-olah air banjir yang memecahkan bendungan. Tenaga kira-kira dua puluh pukulan Kouw Tauw too yang terkumpul menjadi satu, dilepaskan secara mendadak. Di dalam dunia belum pernah ada tenaga pukulan sehebat itu. Jika pukulan itu menimpa tubuh manusia, maka daging dan tulang pasti bisa hancur luluh.

Sesaat itu kedua telapak tangan menempel dan Kouw Tauw too tidak bisa meloloskan diri lagi. Tiba-tiba tangan kiri Boe Kie menjambret dada si pendeta dan melemparkannya k eatas, sehingga tubuh yang tinggi besar itu terbang ke angkasa. Hampir berbareng terdengar suara keras dan batu-batu terbang berhamburan. Pukulan yang sangat dahsyat itu menimpa batu.

Yo Siauw dan Wie It Siauw mengeluarkan teriakan kaget. Semula mereka menduga, bahwa dalam pertandingan Lwee Kang antara Kauw Coe dan Kouw Tauw Too, keputusan siapa menang siapa kalah baru bisa didapat sedikitnya dalam waktu seminuman the. Di luar taksiran, detik yang menentukan tercapai dalam waktu yang begitu cepat.

Sesaat kemudian, dengan keringat membasahi telapak tangannya, Kouw Tauw too sudah hinggap pula di tanah dengan selamat. Begitu lekas kedua kakinya menyentuh tanah, dengan kedua tangannya ia membuat gerakan seperti api yang berkobar-kobar dan sesudah itu, sambil menaruh tangannya di atas dada dan berlulut ia berkata “Siauwjin (aku yang rendah), Kong Beng Yo soe Hoan Yauw, menghadap Kauwcoe. Siauwjin menghaturkan banyak terima kasih kepada Kauwcoe yang sudah menaruh belas kasihan, dan meminta maaf untuk segala kekurangajaranku.”

Bukan main kagetnya Boe Kie. Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa si gagu Kouw Tauw too bukan saja bisa bicara, tapi juga Kong beng Yoe Soe dari Beng Kauw yang sudah menghilang selama banyak tahun. Buru-buru ia membangunkannya dan berkata, “Hoan Yoe Soe, antara orang sendiri janganlah menggunakan terlalu banyak peradatan.”

Waktu tiba di bukit batu itu, Yo Siauw dan Wie It Siauw sebenarnya sudah menduga-duga. Hanya karena tubuh dan muka Hoan Yauw berubah terlalu banyak, maka mereka belum berani memastikan. Sesudah Hoan Yauw memperlihatkan ilmu silatnya, dugaan mereka jadi makin keras. Sekarang dengan serentak mereka mendekat dan mencekal tangan kawan itu erat-erat.

Sambil mengawasi Hoan Yauw dengan air mata berlinang-linang, Yo Siauw berkata, “Saudara Hoa, siang malam kakakmu memikiri kau.”

Hoan Yauw memeluknya. Ia menangis sedu-sedan dan berkata, “Taoko kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang sudah mengirim seorang kauwcoe yang berkepandaian tinggi dan bijaksana kepada kita. Kitapun harus berterima kasih, bahwa hari ini kita bisa bertemu muka lagi.”

“Saudara, mengapa kau jadi begini?” tanya Yo Siauw.

“Jika aku tidak merusak muka dan tubuh sendiri, cara bagimana kudapat mengabuli Seng Koen?” jawabnya.

Mendenger keterangan itu, Boe Kie bertiga kaget bercampur duka. Mereka sekarang tahu, bahwa Hoan Yauw sudah melukai diri sendiri untuk bisa masuk ke dalam kalangan musuh.

“Saudara, kau sangat menderita,” kata Yo Siauw dengan suara parau.

Dahulu, dalam kalangan Kang Ouw, Yo Siauw dan Hoan Yauw dikenal sebagai Siauw Yauw Jie Sian (Siauw dan Yauw dua dewa) dan julukan itu didapat karena mereka berdua memiliki muka yang sangat tampan. Dari sini dapatlah dibayangkan bahwa dengan mencacati muka sendiri, Hoan Yauw telah membuat suatu pengorbanan yang sangat besar.

Wie It Siauw yang beradat aneh sebenarnya tidak begitu akur dengan Hoan Youw. Tapi sekarang ia turut berduka dan sambil berlutut ia berkata, “Hoan Yoe soe, hari ini Wie It Siauw benar-benar takluk kepadamu.”

Hoan Yauw segera balas berlutut. “Ilmu ringan badan Wie Hog ong tiada bandingannya dalam dunia,” katanya. “Makin tahun kau kian lihai. Semalam Kauw Touw too bertambah pengalaman.”

Yo Siauw menengok ke sekitarnya dan berkata, “Tempat ini tidak jauh dari kota dan musuh banyak mempunyai mata. Lebih baik kita pergi ke lembah sebelah depan.”

Semua menyetujui dan mereka lantas saja berangkat. Sesudah berlari-lari belasan li, mereka tiba di belakang sebuah bukit kecil. Dari situ mereka bisa memandang beberapa li jauhnya, sehingga mereka tak usah kuatir pembicaraan mereka di dengar orang. Mereka lalu duduk di tanah dan mendengari cerita Hoan Yauw.

Sebagaimana diketahui, sesudah Yo Po Thian menghilang dengan mendadak Beng Kauw terpecah-belah sebab para pemimpinnya berebut kedudukan Kauwcoe. Hoan Yauw sendiri percaya Yo Po Thian belum meninggal dunia, maka seorang diri ia menjelajah dunia Kang ouw untuk mencari pemimpin itu.

Dalam beberapa tahun ia masih juga belum berhasil. Belakangan ia menduga mungkin sekali Yo Po Thian dicelakai orang-orang Kay pang. Diam-diam dia membekuk beberapa tokoh partai si pengemis dan menyiksanya untuk mengorek keterangan. Tapi tindakan inipun tidak berhasil. Ia bukan saja gagal, tapi tanpa sebab juga sudah mempersakiti banyak anggot Kaypang. Ketika itu, permusuhan kalangan Beng Kauw makin menghebat.

Dalam agama tersebut, ia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Apabila ia mau tampil ke muka dan turut serta dalam perebutan kedudukan Kauwcoe, ia pasti akan mendapat banyak pengikut. Akhirnya dia mengundurkan diri dari dunia pergaulan dan menjadi pendeta yang memelihara rambut (tauw too).

Tapi manusia tidak bisa melawan maunya nasib. Suatu kejadian yang sangat kebetulan telah terjadi. Pada suatu hari, selagi lewat dikaki gunung Thay heng san, ia ditimpa hujan dan lalu meneduh di sebuah kelenteng rusak. Tanpa di sengaja ia mendengar pembicaraan dua orang yang satu Seng Koen, yang lain seorang pendeta. Belakangan baru itu tahu, bahwa pendeta itu adalah Kong kian Tay soe, kepala dari empat pendeta suci dari kuil Siauw Lim sie.

Di Kong beng teng, Hoan Yauw pernah bertemu dengan Seng Koen dan ia tahu, bahwa orang itu adalah adik seperguruan Yo Kauwcoe. Sesudah mereka selesai bicara, ia sebenarnya ingin segera menemuinya. Di luar dugaan, baru saja mendengar beberapa patah perkataan, dia sudah kaget tak kepalang. Dengan berlutut di lantai, Seng Koen meminta belas kasihan Kong kian Tay soe. Dia menceritakan, cara bagaimana waktu mabuk arak, dia telah memperkosa anak dari muridnya sendiri, yaitu Cia Soen, dan cara bagimana dia belakangan membunuh rumah tangga murid itu. Diapun menuturkan bahwa untuk membalas sakit hati, Cia Soen telah mencarinya di berbagai tempat, tapi dia tak berani muncul untuk menemui murid itu. Akhirnya, dengan menggunakan namanya, Cia Soen membunuh banyak jago Rimba Persilatan guna memaksa dia keluar.

Kejadian itu telah diketahui Boe Kie. Tapi mendengar berita Hoan Yauw, ia kembali gusar tercampur duka.

Selanjutnya Hoan Yauw menuturkan, bahwa sambil menangis Seng Koen memohon supaya Kong kia Tay soe suka menerima sebagai murid. Dia juga memohon, supaya dengan belas kasihan sang Budha, pendeta itu suka mendamaikan permusuhannya dengan Cia Soen.

“Siancay, siancay!” kata Kong kian Tay soe, “Lautan kesengsaraan tiada batasnya, memalingkan kepala, melihat daratan, menaruh golok, menjadi Budha. Manakala kau sungguh-sunnguh merasa menyesal, pintu Sang Budha terbuka lebar dan kau takkan dibiarkan berdiri di luar pintu.”

Sehabis berkata begitu, ia mencukur rambut Seng Koen dan menerima sebagai murid. Di samping itu, ia pun berjanji akan berusaha mendamaikan permusuhan hebat antara Seng Koen dan Cia Soen.

Mendengar sampai di situ, Boe Kie segera menceritakan cara bagaimana Cia Soen membinasakan Kong kian Tay soe dengan pukulan hebat. Kong kian sudah rela menerima pukulan dengan harapan bisa membereskan sakit hati itu. Di luar dugaan, Seng Koen sudah memperdayai gurunya. Pada waktu itu Kong kian mau melepaskan napas yang penghabisan, ia tidak muncul untuk menemui Cia Soen.

Yo Siauw menyambung dengan menceritakan cara bagaimana Seng Koen menyerang Kong bent teng dan cara bagaimana dalam pertempuran melawau In Thian Ceng dan In Yan Ong, ia akhirnya binasa.

Hoan Yauw merangkap kedua tangannya dan berkata berulang-ulang. “Omitohud! Siancay, siancay!”

Dengan hati duka, Yo Siauw mengawasi kawan itu yang dahulu terkenal sebagai seorang pria yang berparas tampan.

“Dengan Kim mo Say ong, perhitunganku sangat baik,” kata pula Hoan Youw.

“Akupun mendengar, bahwa seluruh keluarganya telah dibinasakan orang. Aku hanya tak pernah menduga bahwa pembunuh itu adalah gurunya sendiri. Sesudah hujan berhenti mereka keluar dari kelenteng itu dan aku mengikuti dari belakang. Kutahu mereka berkepandaian tinggi dan hanya berani menguntit dari kejauhan. Tapi Kong Kian tidak bisa diakali. Ia tahu bahwa dirinya dikuntit orang. Sambil berjalan ia berkata-kata seorang diri, ia mengatakan bahwa seorang murid Budha harus mempunyai hati kasihan. Mendengar begitu, aku tidak berani mengikuti lagi.”

“Berselang kira-kira setahun kudengar Kong kian Tay soe meninggal dunia. Aku merasa curiga dan menduga, bahwa wafatnya pendeta itu tentu mempunyai sangkut paut dengan Seng Koen. Diam-diam kupergi ke Siauw Lim Sie untuk menyelidiki. Tapi aku tidak berani masuk kedalam kuil dan hanya bergerak disekitar gunung Siong San, benar saja. Langit tidak menyianyiakan usaha manusia yang sungguh-sungguh. secara kebetulan aku mendengar pembicaraan antara Seng Koen dan seorang utusan kaisar. Utusan kaisar itu bukan lain daripada Lok Thian Kek. Mereka berdua berkepandaian terlalu tinggi dan aku merasa tidak unggulan. Aku tidak berani datang telalu dekat. Dari kejauhan, aku hanya dapat menangkap sepatah dua patah. Perkataan yang didengar jelas olehku hanyalah, “Kong Beng teng harus dimusnahkan”. Sekarang kutahu bahwa agama kita tengah menghadai bencana dan aku tidak bisa berpeluk tangan lagi. Aku lantas saja menguntit Lok tong kek sampai di kota raja. Manusia itu aku tak berani ganggu. Dia berkepandaian terlalu tinggi. Yang lainnya kupandang remeh. Akhirnya sesudah menyelidiki lama juga, aku mendapat tahu bahwa jago-jago Rimba persilatan itu adalah orang-orang sebawahannya Jie Lam Ong Khakan Temur.”

Jie Lam Ong Khakan Temur adalah seorang anggota keluarga kaisar. Ia berpangkat Thay kat Thay wie dan berkuasa atas semua tentara kerajaan di seluruh negeri. Ia seorang pintar dan gagah, menteri utama dari kaisar Goen. Dia-lah yang sudah menindas pemberontakan rakyat di Kang hoay. Sudah lama Boe Kie dan para pemimpin beng kauw mendengar nama besarnya. Sekarang, mendengar Lok Thung Kek dan lain-lain jago rimba persilatan menjadi orang bawahan pembesar itu, biarpun tidak terlalu kaget sedikit banyak Boe Kie terkejut juga (Jie Lam Ong = Raja muda Jie Lam)

“Tapi siapakah adanya Tio Kouwnio?” tanya Yo Siauw.

“Coba taoko tebak,” kata Hoan Yauw.

“Apa nona itu bukan putrinya Khakan Temur?” tanya pula Yo Siauw.

Hoan Yaow menepuk-nepuk tangannya. “Benar,” katanya. “Sekali menebak taoko menebak jitu. Jie Lam Ong mempunyai seorang putera yang bernama Kuh Kuh Temur dan seorang puteri yang bernama Ming Ming Temur. Nama itu nama Mongol, kedua anak itu gemar ilmu silat dan mereka punya kepandaian yang cukup tinggi. Di samping itu merekapun suka berpakaian seperti orang Han dan menggunakan bahasa Han. Belakangan masing-masing menggunakan nama Han, Kuh Kuh Temur memilih nama Ong Popo dan Ming Ming memilih nama Tio Beng. Perkataan Tio Beng hampir bersamaan dengan Siauw beng dan Siauw beng Koen coe (putri Siauw Beng) gelaran si nona.”

Wie It Siauw tertawa, “Kakak beradik itu sangat aneh,” katanya. “Yang satu she Ong, satu lagi she Tio. Kejadian itu tak akan terjadi dalam kalangan orang Han.”

“She ato nama keluarga mereka ialah Temur,” menerangkan Hoan Yauw. “Menurut kebiasaan orang asing, nama keluarga di taruh di sebelah belakang.”

“Dari muka dan potongan badan, Tio Kouw nio seorang wanita cantik,” kata Yo Siauw. “Hanya sayang, wataknya terlalu kejam.”

Baru sekarang Boe Kie tahu asal usul Tio Beng. Sebenarnya siang-siang ia sudah menduga bahwa nona itu seorang putri yang berasal dari turunan keluarga kaisar. Ia hanya tidak pernah menaksir, bahwa nona Tio putrinya raja muda Jie Lam Ong yang memegang kekuasaan atas semua tentara kerajaan. Beberapa kali ia selalu jatuh di bawah angin.

Dalam ilmu silat nona Tio memang masih kalah jauh, tapi dalam menggunakan tipu, ia banyak lebih unggul daripada dirinya sendiri. Mengingat itu semua, di dalam hati Boe Kie merasa jengah.

“Dalam penyelidikan selanjutnya aku mengetahui bahwa Jie Lam Ong ingin membasmi semua partai persilatan dalam dunia Kangouw,” kata pula Hoan Yauw. “Ia telah menerima baik rencana Seng Koen. Sebagai tindakan pertama, ia inin menumpas agama kita. Dalam menimbang-nimbang keadaan itu, aku berpendapat bahwa dengan terpecah-belahnya kalangan kita sendiri dan tangguhnya musuh, bahaya yang sedang dihadapi benar-benar hebat. Untuk menolong ,jalan satu-satungnya adalah masuk k edalam Ong Hoe dan coba menyelidiki rencana raja itu. Sesudah tahu rencana mereka, baru aku bertindak dengan mengimbangi keadaan. Selain itu, tak ada jalan lain lagi. Tapi aku sudah pernah bertemu muka dengan Soen Koen, sehingga untuk mencegah bocornya rahasia aku mesti membunuh manusia itu.”

“Benar,” kata Wie It Siauw.

“Tapi manusia itu sangat licin dan ilmu silat nya pun sangat tinggi,” kata pula Hoan Yauw. “Tiga kali aku mencoba membokong dia, tiga kali aku gagal. Dalam usaha yang ketiga, aku berhasil menikamnya dengan pedang, tapi aku sendiri kena pukulan telapak tangannya. Untung juga aku berhasil melarikan diri tanpa dikenali. Tapi aku terluka berat dan sesudah berobat setahun lebih, barulah kesehatanku pulih kembali. Waktu itu rencana Jie Lam Ong sudah mendekati penyelesaiannya dan untuk bencana agama kita sudah di ambang pintu. Aku jadi nekad, aku merusak muka sendiri, aku mematahkan tulang betisku dan menyamar sebagai seorang gagu dan bongkok aku pergi ke negeri Watzu.”

“Negeri Watzu?” menegas Wie It Siauw. “Negeri itu jauhnya berlaksa li. Perlu apa Hoan Yoe pergi ke situ?”

Sebelum Hoan Yauw menjawab, Yo Siauw sudah mendahului. “Saudara, sungguh bagus tipumu itu! Yo heng, perginya saudara Hoan ke negeri itu sungguh tepat. Di negeri itu, ia pasti akan diundang untuk bekerja kepada pembesar-pembesar Mongol. Sebagaimana kau tahu, Jie Lam Ong sedang mencari orang-orang pandai. Untuk mengambil hatinya raja muda itu, pembesar-pembesar Watzu pasti akan mengirim saudara Hoan ke kota raja. Dengan muka dan badan yang sudah berubah dan dengan berlagak gagu, biarpun Seng Koen lihati, dia pasti tidak akan bisa mengenali.”

Wie It Siauw menghela napas. “Yo kauwcoe telah menempatkan Siauw Yauw Jie Sian di sebelah atas keempat Hoat Ong dan sekarang aku mengakui bahwa mata Yo Kauw coe benar-benar tajam,” katanya. “Tipu selihai itu pasti takkan bisa dipikir oleh Eng ong, Hok ong dan lain-lain ong.”

“Wie heng banyak terima kasih untuk pujian muyang tinggi,” kata Hoan Yauw. Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata lagi dengan suara perlahan, “Kauw coe, aku sekarang ingin menerima hukuman.”

“Mengapa Hoan Yoe soe berkata begitu?” tanya Boe Kie.

Hoan Yauw berbangkit dan sambil membungkuk, ia menjawab, “Aku telah berbuat kedosaan besar sebab sudah membunuh saudara-saudara dari agama kita. Sesuai dengan dugaan Yo Co Soe, di Watzy aku sengaja membunuh singa dan membinasakan harimau, sehingga namaku lantas saja terkenal. Pembesar-pembesar di situ lalu mengirim aku kepada Jie Lam Ong. Guna memperkuat kepercayaan raja muda itu atas diriku, aku membunuh tiga orang hio coe dari agama kita.”

Alis Boe Kie berkerut. Ia tidak lantas menjawab. Di dalam hati ia beranggapan, bahwa tindakan Hoan Yauw sangat luar biasa dan agak kejam. Ia rela mengorbankan muka dan kaki sendiri dan belakangan membunuh kawan sendiri.

“Beng Kauw dinamakan orang sebagai agama sesat, agama siluman,” pikirnya. “Dilihat begini, sampai kapan Beng Kauw bisa mencuci kata-kata sesat dan siluman itu?”

Melihat sikap Boe Kie, tiba-tiba Houw Yauw menghunus pedang Yo Siauw. Dengan sekali berkelebat, pedang itu sudah memutuskan tiga jari tangan kirinya, Boe Kie terkejut dan merampas senjata itu, “Hoan Yoe soe…Mengapa… Mengapa kau berbuat begitu? tanyanya dengan mata membelak.

“Membunuh saudara-saudara dalam agama kita adalah kedosaan besar,” jawabnya. “Karena urusan besar belum selesai, Hoan Yauw belum berani membunuh diri. Sekarang Hoan Yauw lebih dahulu memutuskan tiga jeriji dan nanti dia akan mempersembahkan kepalanya kepada Kauwcoe.”

“Aku sudah mengampuni kesalahan Hoan Yoe soe,” kata Boe Kie. “Mengapa kau berbuat begitu. Sekarang kita menghadapi tugas yang sangat berat. Kuharap Hoan Yoe Soe tidak menyebut-nyebut lagi urusan ini.”

Sehabis berkata begitu ia mengeluarkan obat luka, menyobek ujung bajunya dan membalut luka Hoan Yauw. Di dalam hati ia merasa sangat tidak enak. Ia tahu bahwa Hoan Yauw bukan gertak sambel. Apa yang dikatakannya dapat dilakukannya. Mungkin di hari kemudian, ia akan membunuh diri.

Mengingat segala penderitaannya demi kepentingan Beng Kauw, Boe Kie terasa sangat terharu dan tiba-tiba ia menekuk sebelah lututnya, “Hoan yoe soe sebagai orang yang berjasa besar untuk agama kita, terimalah hormatku,” katanya dengan suara parau. “Apabila kau melukai lagi dirimu, itu berarti kau menganggap aku sebagai manusia yang tak punya guna dan tidak pantas untuk menjadi kauwcoe dari agama kita. Kalau kau menikam dirimu satu kali, aku akan menikam diriku dua kali.”

Melihat Kauw coe mereka berlutut, dengan air mata bercucuran Hoan Yauw, Yo Siauw dan Wie It Siauw segera turut berlutut.

“Saudara Hoan,” kata Yo Siauw sambil menyusut airmatanya. “Kau tidak boleh mengulangi perbuatan itu. Bangun robohnya agama kita hanya mengandalkan kauw coe seorang. Kauw coe telah mengeluarkan perintah dan kau tidak boleh melanggar perintah itu.”

“Dalam pertandingan hari ini aku sudah merasa takluk terhadap kauw coe,” kata Hoan Yauw, “Kouw Tauw too mempunyai adat yang sangat aneh dan aku memohon belas kasihan Kauwcoe.”

Dengan kedua tangan, Boe Kie membangunkan Hoan Yauw. Sesudah terjadinya kejadian ini, ia dan Hoan Yauw menjadi sahabat yang saling mencintai.

Sesudah itu, Hoan Yauw segara menceritakan pengalaman dalam gedung Jie Lam ong.

Pada jaman itu kaisar Goan yang bodoh diikuti oleh mentri2 dorna sehingga, karena tindakan2 nya yang seweang2 negeri jadi kalut dan rakyat memberontak. Untung besar kerajaan Goan masih mempunyai Jie Lam ong yang gagah dan bijaksana. Tanpa mengenal capai, raja muda itu membawa tentara kesana sini untuk menindas berbagai pemberontakan. Tapi negeri tetap tidak menjadi aman, disana sudah kalut lagi. Dalam kerepotannya, raja muda terpaksa menunda rencana untuk membasmi partai-partai persilatan.

Selama beberapa tahnun kedua anaknya sudah menjadi besar. Kuh kuh Temur alias Ong Po Po mengikuti ayahandanya dalam tentara, sedang Ming Ming Temur (Tio Beng) memimpin rombongan jago-jago silat untuk menumpas partai-partai rimba persilatan. Jago-jago itu terdiri dari ahli-ahli silat Mongol, Han dan See Hek dan diantara terdapat juga sejumlah pendeta See hoan.

Gerakan enam partai besar untuk menyerang Kong beng teng membuka kesempatan baik bagi Tio Beng. Atas usul Seng Koen, ia membawa semua jagonya untuk membasmi enam partai itu dan Beng Kauw dengan sekaligus. Kejadian di Leng Lioe Choeng dan lain-lain adalah sebagian dari rencana itu.

Karena sedang bertugas di seberang lautan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen, Hoan Yauw tidak turut serta dalam rombongan Tio Beng yang pergi ke See Hek. Belakangan baru ia tahu bahwa Tio Beng menggunakan racun Sip Hiang Joan Kinsan (obat bubuk berbau harum yang membuat lemasnya tubuh manusia) yang dipersembahkan oleh pendeta See hoan. Tio Beng telah menangkap jago-jago enam partai besar yang mau pulang dari Kong Beng Teng. Racun itu asin seperti garam dan wangi bagaikan sayur yang segar. Dengan mencampurnya di dalam makanan, nona Tio berhasil menjaring semua korban. Biarpun masih bisa bergerak dan berjalan seperti biasa orang-orang yang kena racun itu lemas badannya dan habis semua tenaga lweekangnya. Hanya waktu meracuni Hwa pay, kaki tangan Tio Beng kurang berhati-hati dan rahasia bocor. Satu pertempuran lantas saja terjadi. Tapi Hwa san pay tak tahan melawan jago-jago seperti Hian Beng Jie Lo, Sin cian Pat Hiong, Atoa, A jie, A sam dan yang lain-lain sehingga sesudah beberapa belas orang binasa mereka semua kena dibekuk juga.

Penangkapan atas diri para pendeta di kuil Siauw Lim sie juga dilakukan dengan tipu daya itu. Tapi kuil Siauw Lim sie biasanya dijaga keras, sehingga tidak gampang orang bisa turun tangan. Menaruh racun dikuil tersebut berbeda jauh dengan menaruh racun di rumah-rumah penginapan untuk menangkap orang-orang yang sedang bepergian.

“Aku tahu bahwa tugas menaruh racun dalam kuil itu sebenarnya jatuh ke dalam tangan Seng Koen,” kata Hoan Yauw. “Dengan kedudukannya sebgai murid Kong Kian Tay soe, dengan mudah ia akan bisa menjalankan peranannya. Tapi ia keburu mati dalam pertempuran di Kong Beng Teng. Aku merasa sangat heran. Siapa yang meracuni pendeta-pendeta Siauw Lim Sie? Waktu itu aku baru saja kembali dari luar lautan dan menyusul rombongan yang mau membekuk pendeta-pendeta Siauw Lim Sie. Aku kepingin sekali menyelidiki, tapi sebab sudah berlagak gagu, tentu saja aku tidak bisa menanyakan mereka. Apapula Siauw Lim pay sering menghina agama kita dan untuk berterus terang, aku merasa senang sekali, jika pendeta-pendeta itu merasai sedikit penderitaan. Kauwcoe, mungkin kau tak setuju dengan pendapatku ini. Ha..ha..ha!”

“Saudara, bukankah penggeseran patung Tat mo dilakukan oleh kau?” tanya Yo Siauw.

Hoan Yauw tertawa, “Ya,” jawabnya. “Ditulisnya huruf-huruf itu adalah atas perintah Koencoen (putri seorang pangeran) untuk menumplek semua kedosaan atas pundak agama kita. Belakangan, sesudah mereka semua berlalu, diam-diam aku kembali dan memutar patung itu. Matanya kawan-kawan ternyata tajam sekali dan bisa melihat kejadian itu. Saudara Yo, apakah waktu itu kau mempunyai dugaan, bahwa pekerjaan tersebut dilakukan olehku?”

“Aku hanya tahu, bahwa pihak musuh terdapat seorang berkepandaian tinggi yang diam-diam melindungi agama kita,” jawabnya. “Aku tidak perna mimpi, bahwa pelindung kita adalah saudara sendiri!” keempat pemimpin Beng Kauw itu tertawa terbahak-bahak.

Kepada Hoan Yauw, Yo Siauw segera memberitahukan bahwa Beng Kauw sudah mengakhiri permusuhan dengan partai-partai persilatan dan dengan bekerja sama, akan berusaha merobohkan kerajaan Goan. Maka itu, Yo Siauw Beng Kauw merasa berkewajiban untuk menolong tokoh-tokoh dari keenam partai itu.

“Musuh berjumlah besar, kita kecil,” kata Hoan Yauw. “Dengan hanya mengandalkan tenaga empat orang, kita takkan berhasil. Jalan satu-satunya kita harus berusaha untuk mendapatkan obat pemunah Sip hiang Joan kin san dan memberikannya kepada hweshio, niekow dan hidung kerbau bau itu. Sesudah tenaga dalamnya pulih kembali, beramai-ramai kita bisa menghantam Tat coe dan kabur dari kota raja ini.”

Selama belasan tahun, Hoan Yauw tak pernah berbicara, sehingga sekarang lidahnya agak kaku dan suara yang dikeluarkannya tak begitu tegas. Dis amping itu, berhubung adanya permusuhan antara Beng Kauw dan partai-partai Rimba Persilatan, dalam mengeluarkan kata-kata ia tak sungkan lagi.

Mendengar suara yang pelat (pelo) dan perkataan “bau”, Yo Siauw merasa geli tercampur kuatir. Ia memberi isyarat dengan lirikan mata, tapi Hoan Yauw tidak meladeni.

Tapi Boe Kie sendiri tidak menjadi kecil hati. “Pendapat Hoan Yoe soe memang benar,” katanya. “Tapi cara bagaimana kita bisa mendapatkan obat pemunah itu?”

“Sebab aku berlagak gagu, maka biarpun koencoe menghormati aku, ia belum pernah mengajak aku dalam merundingkan soal-soal penting,” jawabnya. “Selain begitu, aku datang dari lain negeri dan dapatlah dimengerti, jika ia menganggap diriku sebagai orang kepercayaan. Maka itu, sampai sekarang aku belum tahu bagaimana macamnya obat pemudah Sip hiang Joan kin san. Aku hanya mengetahui, bahwa karena obat itu obat yang sangat penting, koencoe sudah berlaku sangat hati-hati. Kalau tak salah, racun dan obat dipegang oleh Hoan beng Jie lo yang satu memegang racun, yang lain memegang obat. Bukan saja begitu, pada waktu-waktu tertentu, bahkan diadakan tukar menukar dalam pemegangannya. Misalnya, kalau bulan ini Lok Thung Kek menguasai racun, lalu bulan ia menguasai obat pemunah.”

Yo Siauw menghela napas, “Wanita itu sungguh pintar,” katanya. “Tanggung, lelaki tak akan bisa menandingi dia. Apa dia tidak percaya habis kepada Hian beng Jie lo?”

“Pertama memang begitu dan kedua untuk menjaga secara lebih hati-hati,” kata Hoan Yauw. “Kita sekarang ingin mencuri obat pemunah. Dengan tindakan Koencoe itu kita tak tahu siapa memegangnya, Lok Thung Kek atau Ho Pit Ong. Di samping itu, kudengar antara racun dan obat tidak perbedaan bau dan warna, sehingga, andaikata kita berhasil mencurinya, kita masih belum bisa memutuskan, apa kita mendapatkan obat atau racun. Sip hiang joan kin san mengandung serupa bahaya yang tidak diketahui oleh banyak orang. Kalau orang kena racun itu pertama kali, otot-otot dan tulang-tulangnya tak bertenaga lagi, tenaga dalamnya hilang semua. Tapi kalau dia kena untuk kedua kalinya, biar bagaimana sedikitpun maka aliran darahnya akan berbalik dan dia akan mati tanpa bisa ditolong lagi.”

Wie It Siauw meleletkan lidahnya, “Kalau begitu, kita tidak boleh salah,” katanya.

“Memang begitu,” kata Hoan Yauw. “Tapi aku mempunyai satu jalan yang baik. Tanpa memperdulikan obat dan racun, kita curi saja apa yang disimpan oleh Hian Beng Sie Lo. Sesudah itu kita memberikannya kepada seorang Hwa san pay atau Khing tong pay yang kedudukannya tidak begitu penting. Bubuk yang membinasakan sudah pasti adalah bubuk racun. Dengan begitu kita lantas tahum yang mana racun yang mana obat. Kauwcoe, bagaimana pendapatmu?”

Boe Kie mengerti bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat-sifat sesat. Tapi ia hanya tertawa dan berkata, “Aku tidak begitu setuju. Terdapat kemungkinan bahwa yang dicuri kita racun semuanya.”

Yo Siauw menepuk lututnya. “Kauw coe kau benar, sesudah kita mengacau mungkin sekali karena berkuatir kauwcoe menyimpan sendiri obat pemunah. Menurut pemikiraku yang paling penting kita harus menyelidiki siapa yang memegang obat itu. Sesudah tahu pasti barulah kita mengatur daya upaya untuk mencurinya. Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia berkata pula, “Saudara Hoan, apakah yang paling disukai Hian beng Jie Lo?”

“Lok Thung kek suka paras cantik. Ho Pit Ong suka arak,” jawabnya.

“Kauwcoe,” kata Yo Siauw kepada Boe Kie. “Apakah ada racun yang menghilangkan tenaga manusia seperti Sip hiang joan kin san?”

Boe Kie tersenyum, “Tidak sukar untuk membuat seseorang menghilangkan tenaga,” jawabnya. “Jika racun itu masuk kedalam perut seorang yang berkepandain tinggi, belum cukup setengah jam, tenaganya sudah habis. Tapi membuat racun yang selihai Sip hiang joan kin san, aku rasanya tak mampu.”

“Setengah jam sudah cukup,” kata Yo Siauw. “Aku telah memikirkan suatu daya, tapi apa dapat digunakan atau tidak terserah atas pertimbangan Kauwcoe. Saudara Hoan cobalah kau mengundang Ho Pit Ong untuk meminum arak dan di dalam arak kau menaruh racun yang dibuat oleh Kauwcoe. Kau mendahului bikin ribut berlagak gusar dan mengatakan, bahwa kau sudah diracuni oleh Ho Pit ong dengan Sip Hiang Joan kin san. Menurut dugaanku dengan siasat itu, kita bisa segera mengetahui siapa yang menyimpan obat pemunah. Dengan mengimbangi keadaan, kita bisa lantas merampasnya.”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Apa daya itu bisa berhasil tergantung atas sifat dan watak Ho Pit ong,” katanya. “Hoan yoe soe, bagaimana pendapatmu?”

“Kurasa tipu Yo Taoko boleh dijalankan,” jawabnya. “Ho Pit Ong berangasan (mudah marah) dan kejam, tapi ia tidak selihai Lok thun kek yang jahat dan banyak akalnya. Asal saja obat itu berada pada Ho Pit Ong, biarpun tidak berkepandaian tinggi, mungkin aku masih melayaninya.

“Tapi bagaimana kalau obat itu disimpan oleh Lok Thang Kek?” tanya Yo Siauw.

Alis Hoan Yauw berkerut, “Ya, itulah sukar,” sahutnya. Sehabisa berkata begitu bangun berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil menundukkan kepala. Berselang beberapa lama, tiba-tiba ia menepuk kedua tangannya, “Hanya ada satu jalan,” katanya. “Lok Thung kok sangat pintar. Kalau kita menggunakan tipu, sangat mungkin ia tidak kena ditipu. Jalan satu-satunya kita mencengkram kelemahannya dan kemudian menggertak dia. Tindakan ini memang berbahaya. Tapi menurut pikiranku, selain ini tak ada jalan lain lagi.”

“Apa maksud saudara Hoan?” tanya Yo Siauw. “Cara bagaimana kita bisa mencengkram kelemahan tua bangka itu?”

“Pada musim semi tahun ini, Jie Lam ong telah mengambil seorang selir (gundik),” menerangkan Hoan Yauw. “Untuk merayakannya, ia mengundang kami, beberapa orang, dalam semua perjamuan di taman bunga. Jie Lam ong mengagulkan selir itu sebagai seorang wanita yang sangat cantik dan untuk membuktikannya ia memerintahkan gundik baru itu menemui kami dan menuang arak. Kulihat mata bangsat Lok Thung kek mengawasi nyonya muda itu tak henti-hentinya.”

“Habis bagaimana?” tanya Wie It Siauw.

“Tak apa-apa,” jawabnya. “Andai kata si tua bangka mempunyai nyali sebesar langit, dia tentu tidak berani main gila kepada selir Jie Lam ong.”

“Tapi ada hubungan apakah antara mata bangsat si tua bangka dan kelemahannya yang mau di cengkram olehmu?” tanya pula Wie It Siauw.

“Dengan sedikit usaha kita dapat berbuat begitu,” sahutnya sambil tersenyum. “Dalam hal ini kita memerlukan bantuan Wie heng. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan yang tiada bandingannya, kau culik selir itu dan menaruhnya di ranjang si tua bangka. Andaikata dia dapat mempertahankan diri dan tidak berani mengganggu nyonya itu, dia tetap tidak akan bisa membersihkan diri, sebab wanita itu terbukti berada dalam kamarnya. Aku akan menorobos masuk ke kamranya dengan tiba-tiba memaksa dia mengeluarkan obat pemunah. Kurasa dia pasti akan menurut.

Yo Siauw dan Wie It menepuk-nepuk tangan. Mereka sangat menyetujui tipu kawan itu. Boe Kie sendiri mendongkol tercampur geli. Ia ingat bahwa atas maunya nasib, ia sekarang menjadi pemimpin serombongan manusia yang cara-caranya sering menyeleweng dari kepantasan dan tiada bedanya dengan sepak terjang kawanan Tio Beng. Tapi ia ingat juga bahwa tipu-tipu kelompok Tio Beng bertujuan busuk, sedang siasat Hoan Yauw pada hakekatnya bermaksud baik, yaitu untuk menolong tokoh-tokoh keenam partai persilatan. Memang juga demikian pikirnya untuk melawan racun orang harus menggunakan racun. Memikir begitu, ia lantas saja tertawa dan berkata, “Hanya saja tipu Hoan Yoe soe harus menyeret juga nama baiknya selir Jie Lam ong.”

Hoan Yauw tertawa, “Aku akan mendobrak pintu kamar si tua bangka terlebih cepat supaya biarpun mau dia tak akan keburu menodai kehormatan nyonya itu,” katanya.

Sesudah tercapai persetujuan tipu daya, mereka segera merundingkan tindakan selanjutnya. Akhirnya ditetapkan, bahwa begitu lekas obat pemunah dapat dirampas, Hoan Yauw akan pergi ke menara untuk memberikannya kepada jago-jago keenam partai, sedang Boe Kie dan Yo Siauw menjaga di luar menara. Sehabis menunaikan tugas pertama, Hoan Yauw harus membakar Bat Hoat sie dan Boe Kie bersama Wie It Siauw akan membakar rumah2-rumah rakyat di sekitar kelenteng tersebut. Dalam kekacauan, rombongan keenam partai yang sudah pulih tenaga dalamnya, akan segera menerjang keluar. Yo Siauw mendapat tugas untuk membeli kuda dan kereta yang hrs menunggu di luar pintu See shia. Semua orang harus menerjang keluar dari pintu See shia dan lari berpencaran dengan menggunakan kuda-kuda dan kereta-kereta itu. Akhirnya mereka harus berkumpul di Ciang peng.

Dalam rencana itu, ada sesuatu yang tidak disetujui Boe Kie, yaitu pembakaran rumah-rumah rakyat.

“Kauwcoe,” kata Yo Siauw dengan suara membujuk, “Dalam setiap urusan kita tidak bisa mengharap kesempurnaan. Kita ingin menolong jago-jago itu, supaya di kemudian hari kita bisa mengusir Tat coe. Tujuan ini demi nusa dan bangsa, demi keselamatan beribu laksa umat manusia di kolong langit. Jika hari ini kita membakar sejumlah rumah rakyat, tindakan itu sudah diambil karena terpaksa.”

Sesudah mencapai persetujuan bulat, masing-masing lantas mulai bekerja. Yo Siauw pergi ke pasar untuk membeli kuda dan Boe Kie membuat racun yang kemudian diserahkan kepada Hoan Yauw oleh Wie It Siauw. Dalam membuat racun itu Boe Kie sengaja menaruh tiga macam wewangian, supaya arak yang tercampur racun berbau harum. Wie It Siauw membeli selembar karung dan begitu lekas siang terganti dengan malam, ia segera menyatroni gedung Jie Lam ong.

Untuk menjaga tawanan, Hian beng Jie lo Hoan Yauw dan lain-lain jago menginap di Ban Hoat sie, Tio Beng sendiri berdiam di gedung raja muda dan hanya di waktu malam, jika mau berlatih ilmu silat, ia datang ke kelenteng itu.

Hoan Yauw kembali ke kamarnya dengan rasa bahagia. Ia ingat cara bagaimana selama dua puluh tahun lebih, Beng Kauw terpecah-belah. Hari ini, atas berkah Tuhan, agama tersebut mempunyai harapan untuk menjadi makmur kembali, sehingga pengorbanannya bukan hanya pengorbanan cuma-cuma.

Ia berdiam sebuah kamar di deretan kamar-kamar sebelah barat, sedang Hian bang Jie Lo menginap di kamar dekat menara di pekarangan belakang. Sebab merasa jari akan kelihaian kedua kakek itu dan kuatir rahasianya bocor, ia jarang bergaul dengan Hian beng jie lo dan mengambil kamar yang jauh dari mereka. Tapi sekarang ia mendapat tugas untuk mengajak Ho Pit ong minum arak. Ia sekarang harus mendekati kakek itu.

Sambil memutar otak, ia mengawasi pekarangan belakang. Matahari sudah mulai menyelam ke barat dan sinarnya yang menyoroti genteng kaca menara sudah mulai buram. Sesudah mengasah otak beberapa lama, ia belum juga mendapat jalan untuk mendekati Ho Pit ong. Sambil mengendong tangan perlahan-lahan ia berjalan ke belakang perkarangan. Mendadak hidungnya mengendus bau daging yang keluar dari sebuah kamar di seberang kamar Hian beng jie lo. Itulah kamarnya Soeu sam Hwie dan Lie sie Coei, dua anggota Sin cia pat eiong.

Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat serupa ingatan. Ia menghampiri kamar itu dan menolak pintu. Hampir berbareng bau daging menyambar hidung, Lie Sie Coei sedang berjongkok di lantai dan mengipas api di dapur tanah. Di atas dapur itu terdapat sebuat kuali yang airnya bergolak-golak dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Soen sam hwie sendiri sedang menggambil piring mangkok dan tidak bisa salah lagi, mereka tengah bersiap-siap untuk makan-minum.

Melihat masuknya Koun tauw too, paras kedua orang itu berubah pucat. Mengapa? Karena yang dimasak mereka adalah daging anjing dan makan daging anjing dalam sebuat kelenteng hweeshio merupakan pelanggaran hebat. Kalau dipergoki orang lain masih tak apa, tapi Kouw Tauw too bukan saja seorang pendeta tapi juga berkepandaian yang tinggi. Bagaimana kalau dia tidak mau mengerti?

Di luar dugaan mereka, kouw tauw too tidak menjadi gusar. Ia menghampiri dapur, membuka tutup kuali dan mengendus-ngendus dengan hidungnya. Sekonyong-konyong ia memasukkan tangan ke dalam kuali tanpa memperdulikan panasnya air menjemput sepotong daging dan lalu mengunyahnya secara rakus. Dalam sekejap daging itu sudah ditelan habis. Soen sam hwie dan lie sie coei girang tak kepalang. “Kauw tay soe duduklah! Duduklah!” kata Soen sam hwie. “Kami merasa sangat girang, bahwa Tay soe pun suka makan daging anjing.”

Tapi kouw tauw too tidak mau duduk di kursi. Sesudah mengambil sepotong daging dan memasukkan ke dalam mulut, ia turut berjongkok di samping dapur. Soen sam hwie buru-buru menuangkan semangkok arak yang lalu diangsurkan kepada si Touw too. Tapi baru menenguk Kouw tauw too segera menyemburkannya di lantai, sedang tangan kirinya mengipas-ngipas hidung, seperti juga ia mau mengatakan, bahwa arak itu tidak wangi dan tidak enak rasanya. Sesudah itu ia berlalu dengan tindakan lebar, tapi tak lama kemudian ia kembali dengan tangan menentang sebuyung arak. Tapi melihat si pendeta pergi dengan sikap marah Soe Sam Hwie dan Lie sie cioe sangat berkuatir. Sekarang mereka sangat girang.

“Bagus!” seru Lie cie coe. “Arak kami memang sangat jelek. Sungguh syukur Tay soe mempunyai arak yang mahal.”

Mereka segera mengatur piring mangkok meja dan dengan sikat hormat mengundang Kouw tauw too untuk duduk di kursi pertama. Dalam kalangan para jago-jagonya Tio Beng, Kouw tauw too termasuk jago kelas utama. Dengan melayani secara hormat, Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei mengharap supaya dalam gembiranya si pendeta akan turunkan satu dua pukulan istimewa kepada mereka.

Kouw Tauw too membuka tutup buyung dan menuang isinya ke dalam tiga mangkok. Arak itu berwarna kuning keemas-emasan, seperti madu tawon dan baunya yang menyambar hidung harum dan segar.

“Sungguh bagus arak ini!” seru Tie Sie Coei.

Sambil menjalankan peranannya, di dalam hati Hoan Yauw bersangsi. Ia tidak tahu, apa Hian Beng Jie Lo berada di rumah. Apabila kedua kakek itu sedang berpergian, maka usahanya kali ini akan sia2.

Dengan pikiran tak tentram, ia menjemput mangkok araknya dan menaruhnya di kuah daging yang sedang bergolak-golak. Begitu panas, arak itu jadi semakin wangi. Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei yang sudah keluar ngiler, ingin segera mencegak arak dingin, tapi dicegah oleh Kouw Tauw Too yang dengan gerakan tangan, meminta mereka memanaskan dahulu arak itu, menurut contohnya.

Demikianlah dengan bergantian mereka memanaskan arak di kuah daging. Hoang Yauw menghitung pasti, bahwa jika Ho Pit Ong berda di Bau Hoat sie ia tentu akan dapat mencium bau arak itu dan akan datang ke situ.

Benar saja, tak lama kemudian pintu kamar di seberang tiba-tiba terbuka dan hampir berbareng terdengar seruan Ho Pit Ong.

“Aduh! Wangi sungguh arak itu. Huh, huh!” Tanpa sungkan-sungkan ia menolak pintu dan terus masuk ke dalam.

Melihat Kouw Tauw too turut serta dalam pesta itu, ia agak terkejut, “Kouw Taysoe aku tak nyana kaupun menyukai makanan itu,” katanya.

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei buru-buru berbangkit, “Ho Kong kong, kebetulan sekali,” kata Soen Sam Hwie. “Mari kita minum, arak ini arak Kouw taysoe. Tak gampang orang bisa minum arak seenak itu.”

Ho Pit Ong segera berduduk di hadapan Kouw Tauw too dan mereka berdua segera makan-minum sepuas hati, sedang kedua tuan rumah menjadi semacam pelayan. Tak lama kemudian mereka sudah mulai sinting.

“Sekarang tiba waktunya untuk aku turun tangan,” pikir Hoan Yauw. Memikir begitu ia segera mengisi mangkoknya sendiri sampai arak meluber. Sesudah itu ia mengembalikan buyung ke atas meja, tapi cara menaruhnya berbeda dari tadi. Kali ini buyung arak ditaruh miring. Miringnya buyung berarti Hoan Yauw sudah turun tangan.

Dalam menjalankan tipunya, Hoan Yauw bertindak secara cermat dan hati-hati. Ia menggiling ramuan racun yang dibuat Boe Kie menjadi bubuk. Kemudia ia membuat sebuah lubang ditutup buyung yang terbuat dari kayu dan memasukkan bubuk racun ke dalam lubang itu. Tutup buyung lalu dibungkus dengan kain, sehingga dengan demikian selama buyung ditaruh berdiri, arak yang didalamnya tetap merupakan arak biasa. Tapi sebegitu lekas buyung ditaruh miring, sebagian arak akan segera membasahi kain penyaring dan racunnya lantas tercampur ke dalam arak. Dasar buyung itu berbentuk bulat sehingga baik ditaruh berdiri, maupun ditaruh miring tidak begitu menarik perhati. Apapula setelah minum begitu banyak, ketiga orang itu sudah sinting dan mereka lebih-lebih tidak bisa melihat perubahan itu.

Melihat mangkuk Ho Pit Ong sudah kosong, Hoan Yauw segera mencabut tutup buyung dan mengerahkannya kepada si kakek. Ho Pit Ong menyambuti dan lalu mengisi mangkoknya. Sesudah itu, ia menambahkan arak d imangkok Soen Sam Hwi dan Lie Sie Coei yang sudah separuh kosong. Ia tidak bisa menambah di mangkok Hoan Yauw yang masih penuh.

“Mari!” mengajak Ho Pit Ong.

Dengan serentak mereka mengangkat mangkuk masing-masing dan mengeringkan isinya. Kecuali Hoan Yauw, ketiga orang itu sudah minum arak beracun. Soen sam Hwie dan Lie Sie Coei yang lweekangnya tidak begitu kuat, lantas saja merasa lemas.

“Sie tee perutku tak enak,” bisik Soen Sam Hwie.

“Aku.,.. akupun begitu,” kata Lie Sie Cui. “Apa kena racun?”

Sesaat itu, Ho Pit Ong sudah mulai merasa tidak enak. Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam, tapi hawanya tidak mau naik ke atas. Parasa mukanya lantas saja berubah pucat.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: