Kumpulan Cerita Silat

22/10/2008

Kisah Membunuh Naga (51)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:11 am

Kisah Membunuh Naga (51)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Aku merasa pasti, bahwa di dalam hal ini terselip sesuatu yang luar biasa. Diam-diam aku memesan supaya semua saudara berwaspada dan harus menjaga supaya penyamaran kita tidak diketahui. Di sepanjang jalan kami memperhatikan gerak-gerik dan bicaranya orang-orang yang mengiring kami. Tapi mereka sangat berhati-hati dan di hadapan kami, mereka tak pernah bicara sembarangan. Belakangan, dengan memberankan diri ditengah malam saudara Gouw Liang coba memasang kuping di luar jendela kamar mereka. Sesudah menyatroni 4-5 malam, barulah ia mendapat sedikit keterangan. Ternyata hweesio itu adalah pendeta-pendeta berilmu dati Siauw Lim Sie di siong san.”

Biarpun sudah menduga dari semula, mendengar itu Boe Kie mengeluarkan seruan kaget.

Sesudah berdiam sejenak, Coe Goan Ciang melanjutkan penuturannya. “Malam itu, sesudah mengintip beberapa lama, saudara Gouw Liang mendengar suara seseorang. Hitung-hitung Coe Jin benar-benar lihai, semua jago dari 6 partai besar tak ada yang terlolos dari tangannya. Semenjak dahulu, siapakah yang bisa berbuat seperti itu?”

Seorang lagi menyambung, “masih ada lain hal yang mengangumkan. Dengan sebatang anak panah, majikan kita berhasil memanah 2 ekor tiauw. Dengan siasatnya yang sangat lihai, ia sudah menyeret iblis-iblis Mo Kauw ke dalam lubang permusuhan.” Kami lantas saja berunding. “Kami berpendapat, bahwa karena agama kita juga disebut-sebut, kami harus menyelidiki hal ini sampai seterang-terangnya guna dilaporkan kepada Kauwcoe.”

“Benar.” kata Boe Kie sambil menggangguk. “Keputusan kalian tepat sekali.”

“Kami terus digiring ke jurusan utara,” kata pula Coe Goan Ciang. “Di sepanjang jalan kami berlagak sebagai manusia tolol. Saudara Thong Ho dan saudara Teng Jie berlagak berkelahi lantaran berebut 5 tahil perak. Mereka saling memukul membabi-buta untuk menunjukan mereka tidak mengerti ilmu silat. Orang-orang galak itu tertawa terbahak-bahak dan mereka tak memperhatikan kami lagi. Di samping itu kami memperlakukan sangat hormat kepada mereka. Kami selalu memanggil mereka dengan panggilan “looya” (Tuan Besar). Saudara Gouw Tin mengusulkan untuk menggunakan obat pulas guna menolong pendeta-pendeta itu. Sesudah berdamai, kami menolak usulnya. Kami berpendapat, bahwa terlebih dahulu kami harus menyelidiki teka teki ini sampai didasarnya. Kamipun berpendapat, bahwa orang-orang itu sangat berhati-hati dan memiliki kepandaian tinggi, sehingga sekali salah bertindak urusan besar bisa menjadi gagal. Maka itu, kami tidak berani turun tangan. Waktu tiba di kota Ho kian hoe, kami bertemu dengan 6 buah kereta lain yang juga membawa orang. Orang-orang dalam kereta itu adalah orang-orang biasa. Selagi makan, salah seorang pendeta menegur orang itu dengan berkata begini “Song Tayhiap, kaupun berada di sini?”

Boe Kie terkesiap. “Song Thayhiap?” ia menegas. “Bagaimana macamnya?”

“Dia bertubuh jangkung kurus,” jawabnya. “Usianya kira-kira 50 atau 60 tahun. Jenggotnya bercabang 3, paras mukanya tampan dan anggun.”

Tak salah lagi itulah Song Wan Kiauw! Boe Kie girang dan buru-buru menanyakan macamnya orang-orang lain dalam rombongan itu. Dari keterangan Coe Gon Ciang, ia menarik kesimpulan bahwa Jie Lian Cioe, Thio Song Kee dan Boh Seng Kok juga berada di situ.

“Apakah mereka terluka? Apa dirantai?” tanyanya pula.

“Tidak.” jawab Coe Goan Ciang. “Mereka tak dirantai dan kamipun tak melihat tanda-tanda luka. Mereka berbicara dan main-main seperti orang yang sehat. Mereka hanya tak punya semangat dan kalau berjalan tindakan mereka agak limbung.”

“Mendengar perkataan pendeta Siauw Lim itu Song Tayhiap hanya tertawa getir. Ia tidak menjawab. Hweesio itu ingin bicara lagi tapi seorang penjaga keburu datang dan dengan kasar memisahkan mereka dalam jarak belasan li. Kami tak pernah ketemu muka lagi dengan rombongan Song Tayhiap. Pada tanggal 3 bulan 7, rombongan kami tiba di kota raja.”

“Ah!” seru Boe Kie. “Kota raja! Kalau begitu yang turun tangan adalah kaisar Goan sendiri. Habis bagaimana?”

“Pendeta-pendeta Siauw Lim dikirim ke sebuah rumah berhala yang sangat besar di See saja” katanya. “kamipun disuruh nginap di bio (kuil) itu.”

“Bio apa?” tanya Boe Kie.

“Ketika tiba di depan kuil, aku mendogak dan mengawasi papan nama yang terpasang diluar” jawabnya. “Bio itu adalah Pan Hoat sie, karena mendongak, aku dicambuk oleh seorang penjaga. Kami segera berdamai, kami menduga, bahwa untuk menutup mulut kami, kami akan dibinasakan. Maka itu, kami mengambil keputusan untuk melarikan diri malam itu juga.”

“Sungguh berbahaya.” kata Boe Kie. “Untung juga mereka tidak mengejar, sehingga kalian bisa lari sampai disini dengan selamat.”

Thonh Ho tertawa. “Coe Taoko sudah bertindak terlebih dahulu untuk mencegah pengejaran,” katanya. “Selagi penjaga-penjaga pergi keluar, cepat-cepat kami menyatroni tempat penjualan keledai dan membekuk 7 penjual keledai. Sesudah menukar pakaian dengan mereka, kami membunuh ke-7 orang itu ke dalam bio. Kami membacok-bacok muka mereka supaya tidak dikenali lagi. Kemudian kami membinasakan kusir-kusir kereta yang lain datang bersama-sama kami menyebar uang perak di lantai. Dengan begitu penjaga-penjaga tentu akan menduga, bahwa kedua rombongan kusir kereta saling bunuh sebab saling berebut uang.” Ia sama sekali tak merasai kekejaman dari perbuatan itu dan sambil cerita sambil tertawa-tawa.

Boe Kie terkejut. Ia melirik Cie Tat yang kelihatannya merasa tak tega, sedang paras Jie menunjukkan paras jengah. Hanyalah Coe Goan Ciang yang bersikap tenang dengan paras muka tak berubah. “Dia kejam dan lihay” kata Boe Kie dalam hati.

Sesudah menentramkan hati, ia berkata dengan suara tajam. “Biar tipu toako bagus, tapi mulai sekarang kita tidak boleh membunuh manusia yang tidak berdosa.”

Dengan serentak Cu Goan Ciang dan kawan-kawannya berbangkit dan berkata sambil membungkuk. “Kami akan memperhatikan perintah Kauwcoe.”

“Kau berjasa besar dan sekarang kita sudah tahu di mana adanya rombongan Siauw Lim dan Boe Tong,” kata pula Boe Kie. “Sesudah selesai mengatur gerakan untuk merobohkan kerajaan Goan, kita akan segera ke kota raja untuk menolong rombongan kedua partai itu.”

Sesudah beres urusan yang mengenai kepentingan umum, barulah ia menyebutkan hal masak daging kerbau di kelenteng Hong kak sie pada hari itu. Mengingat kejadian itu, semua orang tertawa terkakak dan menepuk-nepuk tangan.

Malam itu, Boe Kie mengadakan perhimpunan dengan segenap pemimpin Beng Kauw. Mereka menyalakan api ungun dan memasang hio. Secara resmi maka telah diambil suatu keputusan, bahwa seluruh bengkauw siap akan bergerak dengan serentak. Pasukan dan segenap anggota Beng Kauw harus saling tolong menolong dalam meenggempur tentara musuh dan merubuhkan kerajaan Goan.

Rencana gerakan Beng Kauw adalah sebagai berikut Kauwcoe Thio Boe Kie bersama Kong Beng Coe soe Yo Siauw dan Ceng Ek Hok Ong Wie It Siauw memegang kekuasaan Cong Tan (seluruhnya) dan menjadi Cong Swee (pemimpin ketentaraan yang tertinggi).

Pheh Bie Eng ong In Thian Ceng bersama seluruh anggota Pheh bie kie bergerak di daerah Khong lam.

Coe Goan Ciang, Cit Tat, Thonh Ho, Teng Jie, Hoa in, Gauw Liang dan Gauw Tin, bersama pasukan pasukan Siang Gie Coen, Kwee Coe Hian dan Soen Tek Cioe bergerak di Hoe Cioe di Hwai Pak.

Po Tay hweesio Swee Poet Tek denagn memimpin Han San Tong, Lauw Hok Thong, Touw Coen Too, Lo Boen So, Seng Boen Yoe, Ong Hian Tiong dan Hau Kauw Jie bergerak di Eng Cioe propinsi Ho Lam.

Pheng Eng Giok dengan memimpin Cie, Siu Hwie, Cee Cin Ong dan Beng Giok Tin bergerak di Yauw Cioe, Wan Cioe, Sin Cioe dan lain-lain kota di kang say.

Tiat Toan Toojin dengan memimpin Po Sam Ong dan Beng Hay Ma bergerak di daerah Siang couw dan Keng siang.

Cioe Tian dengan memimpin Cie Ma Lie dan Tio Koen Yang bergerak di daerah Cioe siok dan Hoang pay.

Leng Kiam bersama anggota Beng Kauw wilayah See Hek harus mencegat bara tentara Mongol yang dikirim ke Tionggoan dari See Hek.

Ngo Hek kie dikuasai Cong Tan yang juga akan mengatur dan mengirim bala bantuan yang perlu dibantu.

Itulah rencana pergerakan Beng Kauw yang menurut taksiran orang telah direncanakan oleh Yo Siauw.

Pengumuman Boe Kie itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai yang menggetarkan seluruh Ouw tiap kok.

Sesudah suasana agak mereda, Boe Kie berkata dengan suara nyaring. “Menurut perhitungan kalo kita hanya mengandalkan tenaga sendiri tak gampang kita bisa merobohkan kerajaan Goan yang sudah menancapkan kaki selama seratus tahun. Maka itu, kita harus berserikat dengan semua orang gagah di seluruh negeri dan dengan kerja sama yang erat kokoh, semoga kita bisa mencapai tujuan yang besar ini. Di sini waktu hampir separuh tokoh-tokoh rimba persilatan Tionggoan, telah ditawan dengan kerajaan Goan, Coang tan akan berusaha sekeras tenaga untuk menolong mereka. Besok saudara-saudara harus pulang ke masing-masing tempat untuk mengatur dan mempersiapkan segala sesuatu. Begitu lekas mendapat kesempatan, saudara-saudara boleh segera bergerak. Cong tan pun akan lekas berangkat ke kota raja. Hari ini kita boleh makan minum sepuas hati. Di belakang hari entah kapan kita bisa bertemu muka lagi. Kami mengharapkan saudara-saudara akan saling mencintai kawan seperjuangan dan akan mengutamakan kepentingan umum. Janganlah saudara-saudara serakah untuk kepentingan pribadi atau saling bunuh dengan kawan sendiri. Terhadap siapapun juga yang menyeleweng Cong Tan tak akan memberi ampun.

Pernyataan dan nasehat itu disambut dengan teriakan-teriakan bersemangat oleh para hadirin yang berjanji akan mentaati pesan Kauwcoe mereka.

Sesudah itu diadakan upacara sumpah. Dengan meneteskan darah dan memasang hio semua orang bersumpah untuk berserikat sehidup semati dan berjuang untuk melaksanakan rencana serta mencapai tujuan mereka.

Pada keesokan paginya, semua orang berpamitan pada kauwcoe. Meskipun mereka terdiri dari orang-orang gagah yang berhati baja, perpisahan itu mengharukan banyak orang karena mereka yakin, bahwa di dalam peperangan bakal jatuh banyak korban sehingga belum tentu berapa banyak orang yang bisa ketemu muka lagi. Perlahan-lahan mereka mulai keluar dari mulut Ouw Tiap Kok, dimana dinyalakan sebuah api ungun yang sangat besar.

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba diselat itu berkumandang nyanyian seperti berikut:

“Membakar ragaku,
Api nan suci.
Hidup apa senangnya.
Mati apa susahnya.”

Semua orang lantas saja mengikuti dan suara nyanyian makin keras.

“Membakar ragaku.
Api nan suci.
Hidup apa senangnya?
Mati apa susahnya?
Untuk kebaikan, menyingkirkan kejahatan.
Guna kegelimangan Beng Kauw.
Kesenangan dan kedukaan.
Semua berpulang kedalam tanah.
Kasihan manusia didalam dunia.
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia didalam dunia
Banyak yang menderita!”

Di antara suara nyanyian itu yang mengalun di seluruh selat, para pemimpin Beng Kauw yang mengenakan pakaian serba putih meminta diri dari Kauwcoe mereka. Satu demi satu mereka menghampiri Boe Kie membungkuk dan lalu berjalan keluar tanpa menengok lagi.

Boe Kie menerima pemberian hormat itu dengan rasa terharu. Mereka itu adalah orang-orang gagah sejati. Selama 10 atau 20 tahun demi nusa dan bangsa, darah mereka akan mengucur di bumi Tiongkok. Mengingat begitu, tanpa merasa air matanyadi kedua pipinya.

Makin lama suara nyanyian makin jauh. Tak lama kemudian, Ouw tiap kok yang selama beberapa hari penuh dengan manusia, pulang ke asal sunyi dan tenang. Yang masih ketinggalan hanya Boe Kie, Yo Siauw, Wie It Siauw, Coe Goan Ciang dan kawan-kawannya.

Sesudah menanyakan letak Ban hoat sie dan macamnya penjaga kelenteng itu Boe Kie berkata kepada Coe Goan Ciang. “Coe taoko, dunia sedang menghadapi kekalutan dan kita tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalian tak usah menemani kami lagi ke kota raja. Sekarang saja kita berpisah.”

“Baiklah,” jawabnya. “Kami mengharapkan Kauwcoe akan segera berhasil dan kami semua menunggu kabar baik.” Sehabis berkata begitu dengan kawan-kawannya ia meninggalkan Ouw tiap kok.

“Mari kitapun harus berangkat” kata Boe Kie sesudah rombongan Coe Goan Ciang berlalu. “Siauw Ciauw, karena kau membawa-bawa rantai, sebaiknya kau menunggu disini saja.”

Si nona tidak menolak, tapi ia mengantar terus menerus. Sesudah 3 li, 3 li lagi dan ia tetap tak tega untuk berpisahan.

“Siauw Ciauw kau sudah mengantar terlalu jauh,” kata Boe Kie. “Ada kemungkinan kau kesasar dan tidak bisa kembali ke Ouw tiap kok.”

“Thio kauwcoe apakah kau akan bertemu dengan Tio Kuwnio di kota raja?” tanya si nona.

“Entahlah,” jawabnya.

“Jika kau bertemu dengan dia, bolehkah ajukan satu permintaan untukku?”

Boe Kie heran. “Permintaan apa?” tanyanya.

“Minta pinjam Ie Thian po kiam untuk memutuskan rantai. Sebegitu lama rantai ini masih belum bisa diputuskan, sebegitu lama aku masih jadi orang perantara.”

Melihat sikap dan paras muka si nona, Boe Kie merasa tak tega. “Aku kuatir, ia tak sudi meminjamkan pedang itu. Kita bisa minta supaya dia sendiri yang memutuskan rantai ini?

(Ada yang hilang di sini)

Boe Kie tertahan. “Siauw Ciauw, kalau maksud?” katanya. “Kau hanya ingin mengikut kami. Yo Co soe bagaimana pendapatmu? Apa boleh kita ajak padanya?”

Yo Siauw menegrti jalan pikiran sang Kauwcoe. Dengan bertanya begitu, Boe Kie sebenarnya ingin mengajak si nona. Maka itu, ia lantas saja menjawab “Tak halangan jika Kuwcoe ingin mengajak dia, di perjalanan ia bisa merawat Kauwcoe. Hanya rantai itu sangat menarik perhatian. Begini saja, ia berlagak sakit dan bersembunyi di kereta. Di depan orang banyak, ia tidak boleh sembarangan menonjolkan muka.”

Siauw Ciauw girang bukan main. “Terima kasih Kowcoe, terima kasih Yo Co soe.” katanya. Ia menengok Wie it Siuaw dan menambahkan, “Terima kasih Wie Hot ong”

Wie It Siauw tertawa dan berkata, “Perlu apa kau menghaturkan terima kasih kepadaku? Hati-hati kau, kalau penyakitku kumat lagi, aku bisa menghisap darahmu?” sambil berkata begitu, ia menyeringai dan memperlihatkan 2 baris giginya yang putih.

Siauw Ciauw tahu, Wie It Ong sedang bergurau, tapi ia merasa seram. Ia mundur beberapa tindak dan berkata, “Wie Hot ong, jangan menakut-nakuti aku.”

Demikianlah, dengan menggunakan 3 ekor kuda dan sebuah kereta, Boe Kie berempat menuju ke kota raja. Perjalanan itu dilakukan tanpa menemui halangan dan pada suatu hari, tibalah mereka di Taytouw (sekarang Peking), ibukota dari kerajaan Goan.

Sebagai tempat berdiamnya kaisar, kota itu tentu saja lain daripada yang lain. Wakil-wakil berbagai negeri dan suku-suku bangsa berkumpul di situ.

Begitu masuk di pintu kota, Boe Kie berempat langsung menuju ke See shia (kota sebelah barat) dan mencari sebuah rumah penginapan yang besar.

Yo siauw membawa lagak sebagai seorang hartawan. Ia minta 3 kamar kelas 1 dan memberi persen secara loyal kepada pelayan, yang tentu saja berlaku sangat hormat dalam pelayannya. Sesudah minum the, Yo Siauw memanggil pelayan itu dan mengajaknya beromong-omong tentang keadaan di kota raja. Ia mengatakan ia suka sekali meninjau tempat-tempat yang mempunyai nilai kebudayaan dan sejarah. “Dimana kami bisa melihat lihat kelenteng-kelenteng tua yang tersohor?” tanyanya.

Sesudah menyebutkan beberapa nama, si pelayan menyebutkan Ban hoat sioe. “Ban hoat soie sangat besar,” katanya. “Di dalam kelenteng itu terdapat 3 patung budha yang sangat besar, yang terbuat daripada tembaga. Di seluruh negeri tidak ada lain patung yang sebesar itu. Sebenarnya kalian mau meninjau bio tersebut, hanya sayang kalian terlambat. Semenjak setengah tahun yang lalu, kelenteng itu digunakan sebagai tempat tinggal para Hoed ya(pendeta) dari See hoan (daerah barat). Sekarang rakyat tidak lagi berani datang kesitu”

“Biarpun ada Hoang Ceng, halangan apa kalau kita melihat-lihat bio itu?” kata Yo Siauw.

Si pelayan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesudah menegok ke sana ke sini, ia berbisik, “Tuan baru saja datang ke sini dan tak tahu keadaan yang sebenarnya. Bukan aku banyak mulut, para Hoed ya Soe hoan itu galak luar biasa. Mereka sering memukul dan membunuh orang. Mereka dilindungi Hong siang (Kaisar), sehingga tak satu manusiapun yang berani menepuk lalat di kepala harimau. Rakyat biasa tak berani datang lagi di kelenteng itu.”

Bahwa para pendeta Soe Hoan sering berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat sudah lama diketahui Yo Siauw. Ia hanya tak menduga, bahwa pendeta-pendeta itu berani berbuat sesuka hati di kota raja. Mendengar keterangan si pelayan ia tidak berkata suatu apa lagi.

Sesudah makan malam, Boe Kie, Yo Siauw dan Wie It Siauw bersemedi untuk mengaso dan mengumpulkan tenaga kira-kira tengah malam mereka membuka jendela dan lalu menuju ke arah barat.

Ban Hoat Sie berloteng 4 dan di belakang kelenteng terdiri sebuah menara yang bertingkat 9.

Dengan menggunakan ilmu ringan badan, dalam sekejap mereka sudah berada di depan kelenteng.

Sesudah memberi isyarat dengan gerakan tangan, mereka mengambil jalan mutar dan pergi ke sebelah kiri. Mereka ingin melompat naik ke atas menara guna menyelidiki keadaan didalam kelenteng. Di luar dugaan dari jarak kira-kira 30 tombak mendadak mereka melihat bayangan-bayangan manusia bergerak-gerak di menara itu. Ternyata di setiap tingkat terdapat penjagaan dan di bawah menarapun berkumpul kurang lebih 20 penjaga.

Melihat begitu mereka kaget tercampur girang. Mereka yakin bahwa dengan adanya penjagaan yang keras itu, tokoh-tokoh Siauw lim, Boe tong dan yang lain-lain partai pasti dipenjarakan dalam menara itu. Mereka mengirit waktu dan tak usah menyelidiki di tempat lain.

Tapi merekapun mengerti, bahwa tak gampang mereka memberi pertolongan. Orang-orang seperti Koeng Boen, Koeng Tie, Song Wan Kiauw dan lainnya adalah ahli silat kelas utama tapi mereka tertawan dan tidak berdaya. Ini membuktikan bahwa di pihak musuh terdapat banyak orang pandai yang tidak boleh dibuat gegabah.

Sebelum berangkat ke Bang hoet sie, Boe Kie bertiga sudah berdamai dan menyetujui untuk bertindak dengan sangat berhati-hati. Maka itu, sesudah mengawasi menara tersebut beberapa lama mereka segera bertindak mundur.

Tiba-tiba di tingkat keenam muncul penerangan yang terang benderang. Dari sebelah kejauhan Boe Kie melihat gerakan 8-9 orang yang tangannya memegang obor. Dari tingkat ke-6, orang-orang itu turun ke tingkat ke-5, turun lagi ke tingkat ke-4, terus turun sampai ke bawah dan akhirnya keluar dari pintu menara dan menuju ke arah kelenteng. Yo Siauw mengelapkan tangan dan lalu menguntit dengan hati-hati.

Pekarangan belakang Ban hoat sie penuh dengan pohon-pohon besar yang berusia tua. Boe kie bertinga bersembunyi di belakang pohon-pohon itu dan kalau angin meniup barulah mereka berani bergerak maju.

Ban hoat sie penuh dengan orang pandai dan mereka sedikitpun tidak berani berlaku ceroboh. Ilmu ringan badan mereka sudah mencapai tingkat tinggi, tapi mereka masih merasa khawatir, kalau-kalau diketahui orang. Maka itu, mereka baru berani bergerak berbareng tiupan angin, di antara berkereseknya daun-daun. Dengan cara begitu, mereka maju kurang lebih 20 tombak.

Dengan bantuan sinar obor, mereka melihat beberapa belas lelaki yang mengenakan jubah kuning dan memegang senjata, mengiring seorang kakek yang menggunakan jubah panjang. Satu waktu, kakek itu menengok ke belakang dan Boe Kie terkesinap karena ia itu bukan lain daripada Thie kim Sianseng Ho Thay Ciong, Cang boe boen jie Koen Loen pay.

Tak lama kemudian, orang-orang itu masuk di pintu belakang Ban hoat sie. Sesudah menunggu beberapa saat, melihat di sekitar itu tidak ditaruh penjaga. Boe Kie bertiga turut masuk ke dalam.

Ban hoat sie terdiri dari sejumlah bangunan besar kecil dan sejumlah besar kamar-kamar. Untung juga begitu masuk, Boe Kie bertiga melihat penerangan luar biasa di Toa thian (ruangan besar, tempat sembayang utama).

Mereka merasa pasti bahwa Ho Thay Ciong di bawa ke ruangan ini. Endap-endap mereka mendekati. Boe Kie mengintip di jendela sedang Yo Siauw dan Wie It Siauw menjaga di kiri kanan. Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, mereka bernyali besar. Tapi dalam sarang harimau jantung mereka memukul keras.

Celah jendela sangat kecil dan Boe Kie hanya bisa melihat bagian sebelah bawah tubuh Ho Thay Ciong. Lain-lain orang yang berada dalam ruangan itu tidak bisa dilihat olehnya.

Sekonyong-konyong ia mendegar suara Ho Thay Ciong “Aku sudah ditipu dan jatuh ke dalam tanganmu. Mau bunuh, boleh bunuh! Kamu tak usah mengharap aku sudi menjadi anjingnya kaisarmu. Biarpun kau membujuk 3 tahun atau 5 tahun lagi, kau hanya membuang-buang tenaga.”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.

“Walupun Ho Thay Ciong bukan seorang koen coe, tapi dalam menghadapi urusan penting, ternyata ia bisa mempertahankan keanggunannya sebagai seorang Ciang boen,” pikirnya.

“Kalau kau mau terus keras kepala, Cioe jin pun takkan memaksa,” kata seorang dengan suara dingin. “Apa kau sudah tahu peraturan di sini?”

“Meskipun kau memutuskan sepuluh jari tanganku, aku tetap takkan menakluk,” kata Ho Thay Ciong.

“Baiklah.” Kata orang itu, “Sekali lagi aku ingin memberitahukan peraturan kami. Apabila kau bisa memenangkan ketiga orang ini, kami akan selekas mungkin akan melepaskan kamu. Kalau kau kalah, kami akan memutuskan jari tanganmu dan kemudian mengurung kau lagi selama 1 bulan. Sesudah itu, kami akan menanyakan pula, kalau kau sudah berubah pikiran dan suka menakluk pada Hong siang?

“2 jari tanganku sudah putus,” kata Ho Thay Ciong. “Putus sebelah lagi tak menjadi soal. Ambil pedang!”

Orang itu tertawa dingin. “Kalau semua jari tanganmu sudah putus, biarpun kau mau menakluk, kami takkan menerima. Perlu apa menerima orang yang sudah tak berguna lagi? Serahkan pedang padanya! Mokopas, kau majulah terlebih dahulu.”

“Baik.” Jawab seorang yang suaranya kasar.

Dengan menggunakan sinkang, Boe Kie meniup celah jendela yang lantas terbuka lebar. Ia melihat Ho Thay Ciong yang memegang pedang kayu yang ujungnya dibungkus kain. Yang berdiri didepannya adalah seorang tinggi besar yang memegang sepasang golok baja. Tapi Ho Thay Ciong sedikitpun tak merasa keder dan sambil mengibaskan pedang kayu, ia membentak “Hayolah!” seraya berkata begitu, ia membacok salah satu pukulan lihai dari Koen Loen Kiam hoat.

Mokopas berkelit dan balas menyerang. Jika bertubuh besar, gerakannya cukup gesit dan setiap serangannya ditujukan kepada badan Ho Thay Ciong yang berbahaya.

Sesudah memperhatikan beberapa jurus, Boe Kie berkata di dalam hati, “Mengapa tindakan Ho sianseng kosong dan nafasnya tersengal-sengal? Ia kelihatan sudah tak punya tenaga dalam.”

Semenjak memiliki Kioe yang Sin kang dan Kian koen Tay lo ie Sim hoat, Boe Kie dapat memahami berbagai ilmu silat yang terdapat dalam dunia persilatan. Selama beberapa bulan yang paling belakang, ia telah menerima banyak petunjuk dari Thio Sam Hong, sehingga kepandaiannya tambah tinggi.

Kini, makin lama ia menonton pertandingan antara Ho Thay Ciong dan pendeta See hoan itu, makin ia merasa bahwa dibalik pertempuran itu terselip suatu latar belakang. Kiam hoat Ho Thay Ciong tetap lihai akan tetapi ia tidak memiliki lagi Lweekang dan tenaganya bersamaan dengan tenaga orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat. Di lain pihak kepandaian Hoan ceng itu kalah jauh dari Ho Ciangboen. Beberapa kali ia menyerang dengan hebat. Tapi setiap serangannya dapat dipunahkan. Sesudah bertanding kira-kira 50 jurus tiba-tiba Ho Thay Ciong membentak, “Kena.”

Pedang kayu yang menyambar ke timur mendadak dan membelok ke barat dan mapir tepat di iga pendeta See hoan itu. Jika pedang itu pedang baja atau jika Ho Thay Ciong masih mempunyai Lweekang pendeta itu sudah pasti sudah binasa. Tapi sekarang bacokan itu, hanya mengakibatkan sedikit rasa sakit.

“Mokopas, mundur kau!” bentak orang yang suaranya dingin. “Uawei sekarang giliranmu!”

Boe Kie mengawasi orang yang memberi perintah itu. Muka orang yang berjenggot putih, seolah-olah tertutup oleh selapis asap hitam dan dia bukan lain daripada salah seorang dari Hian beng Jie lo. Ia berdiri sambil menggendong tangan dan kedua matanya dirapatkan, seolah-olah dia tidak memperdulikan apa yang terjadi dalam ruangan itu.

Tiba-tiba Boe Kie melihat sepasang kaki di atas sebuah meja kate yang dialaskan dengan sutra sulam. Kedua kaki itu memakai sepatu kuning dan di atas setiap sepatu tertera dengan sebutir mutiara yang berkeredapan. Jantung Boe Kie memukul keras. Ia mengenali, bahwa sepasang kaki itu yang bulat dan bagus sekali bentuknya adalah kaki nona Tio Beng. Dalam pertemuan di Boe tong san, ia menghadapi nona itu sebagai seorang musuh. Tapi sekarang entah mengapa hatinya berdebar-debar dan paras mukanya berubah merah.

Kaki Tio Beng bergerak. Ia rupanya sedang memperhatikan jalannya pertempuran.

Berselang kira-kira seminuman the, mendadak Ho Thay Ciong membentak lagi. “Kena!” ia berhasil merobohkan jago kedua.

“Uawol mundur!” bentak Hian beng Loojia. “Helin Pohu maju.”

Ketika itu, nafas Ho Thay Ciong sudah tersengal. Sesudah merobohkan 2 orang lawan, tenaganya mulai abis. Sesaat kemudian, pertempuran ke-3 dimulai.

Helin Pohu menggunakan senjata berat, yaitu sebatang toya baja dan ia bertenaga sangat besar. Angin pukulan toya menyambar-nyambar dengan hebatnya, sehingga semua lilin yang menerangi ruangan itu berkedip-kedip, sebentar gelap, sebentar terang. Baru saja belasan jurus, pedang kayu sudah terpukul patah dan sambil menghela nafas Ho Thay Ciong melemparkan pedang buntungnya di lantai.

“Thie Kiam Sian seng, apa sekarang kau tidak suka menakluk?” tanya Hian beng Loe jin.

“Tidak!” jawabnya dengan angkuh. “Aku bukan saja tidak menakluk, tapi juga tidak menyerah kalah. Kalau aku masih memiliki tenaga dalam, Hoan ceng itu sama sekali bukan tandinganku.”

“Putuskan jari manis tangan kirinya!” bentak Hian beng Loo jin. “Sesudah itu kirim pulang ke menara!”

Boe Kie menengok dan mengawasi kedua kawannya. Yo Siauw menggeleng-gelengkann kepala, sebagai tanda bahwa ia tidak menyetujui penyerbuan yang bakal menggagalkan seluruh rencana mereka.

Sesaat kemudian terdengar suara dibacoknya jari tangan dan suara orang yang membalut luka, Ho Thay Ciong benar-benar jago, sedikitpun ia tidak mengeluarkan suara. Sesudah itu sejumlah pengawal baju kuning kembali keluar dari pintu belakang dan mengantar Ho Thay Ciong balik ke menara.

Dengan menyembunyikan diri di sudut tembok, Boe Kie bertiga melihat paras muka si kakek yang pucat bagaikan kertas dan kedua matanya yang seolah-olah mengeluarkan api.

Sekonyong-konyong di dalam ruangan terdengar suara wanita yang nyaring. “Loo thung kek, sungguh lihai Kiam hoat Koen loen pay. Ia membacok Mokopas dengan pukulan ini, membabat seperti ini di sebelah kiri dan memutar begini di sebelah kanan.”

Orang yang bicara bukan lain daripada Tio Beng. Sambil bicara dengan dilayani oleh Mokopas, ia bersilat menggunakan pedang kayu, menurut pukulan-pukulan yang tadi digunakan oleh Ho Thay Ciong.

Orang yang dipanggil Loo Thung Kek adalah Hian beng Loo jin, si kakek muka hitam yang lantas saja memberi pujian.

“Coe jin berotak sangat cerdas. Pukulan-pukulan itu tidak beda dengan aslinya.”

Tio Beng berlatih berulang-ulang. Setiap kali ia membacok iga Mokopas dengan menggunakan tenaga. Sehingga, biarpun pedang itu pedang kayu si pendeta soe hoa harus merasai kesakitan hebat, sebab harus menerima pukulan berulang-ulang di tempat yang sama. Tapi walaupun berjengit-jengit, Mokopas sama sekali tidak memperlihatkan rasa jengkel.

Sesudah memahami beberapa pukulan, Tio Beng lalu memanggil Unwol dan berlatih dengan pendeta itu dalam pukulan-pukulan Ho Thay Ciong yang tadi merobohkan si pendeta.

Melihat begitu Boe Kie segera mengerti latar belakang kejadian itu. Dengan suatu tipu Tio Beng telah memenjarakan tokoh-tokoh berbagai partai di Ban Hoat Sie dan menekan Lweekang mereka dengan menggunakan obat. Dengan cara itu, ia mencoba ahli-ahli silat tersebut menekluk kepada kerajaan Goan. Karena tujuan yang pertama tidak berhasil, maka ia memerintahkan orang-orangnya bertanding dengan tokoh-tokoh itu. Sedang ia sendiri memperhatikan jalannya pertandingan untuk mencuri pukulan-pukulan yang paling lihay dari berbagai partai. Dari sini dapatlah dilihat, bahwa nona yang cantik itu telah menjalankan tipu daya.

Sekarang Tio Beng berlatih dengan Helin Po hu. Sesudah beberapa lama ia kelihatan bersangsi dalam beberapa jurus yang terakhir. Ia menengok dan bertanya. “Lok Thung kek, apa begini?”

Si kakek muka hitam terkejut dan sambil berpaling ke sebelah kiri, ia berkata “Saudara Ho, apa kau lihat tegas pukulan-pukulan itu?”

Tio Beng tersenyum. “Kauw soehoe,” katanya. “Aku mohon petunjukmu.”

Seorang Tauw too (pendeta) yang berambut putih lantas saja bertindak keluar. Dia bongkok dan pincang, sedang mukanya penuh dengan bacokan golok, sehingga hampir tidak dapat dikenali. Di samping itu, ia bertubuh tinggi besar, sehingga biarpun bongkok, ia tidak lebih kate daripada Lok Thung Kek.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengambil pedang kayu dari tangan Tio Beng dan segera menyerang Helin Pohu dengan pukulan-pukulan Koen Lun Kim hoat. Gerakan-gerakannya sedemikian lincah, sehingga ia seolah-olah sudah mempelajari ilmu pedang itu selama puluhan tahun.

Seperti Ho Thay Ciong, Kauw Tauw too tidak menggunakan tenaga dalam, sedang Helin Pohu menyerang dengan sekuat tenaga. Sesudah bertanding beberapa saat, sambil membentak, Helin Pohu menyabet dengan toyanya. Sebagian lilin padam karena angin pukulan itu. Itulah pukulan yang mematahkan pedang Ho Thay Ciong.

Menghadapi sabetan dahsyat itu Kauw Tauw too memperlihatkan kegesitannya. Bagaikan walet yang terbang diatas air, pedangnya berkelebat, menempel di badan toya dan menapas ke depan, menghantam tangan Helin Pohu yang lantas kesemutan.

“Trang!” Toya itu jatuh di lantai.

Muka Helin Pohu berubah merah. Ia tahu bahwa jika pedang itu pedang baja, jari-jari tangannya tentu sudah terbabat putus, “Aku menyerah kalah!” katanya sambil membungkuk dan lalu menjemput toyanya.

Dengan kedua tangan Kauw Tauw too segera memulangkan pedang kayu kepada Tio Beng.

“Kauw Soehoe,” kata si nona sambil tersenyum “Apakah pukulan yang terakhir juga Koen loen Kiam hoat?”

si pendeta manggutkan kepalanya.

“Apa Ho Thay Ciong tak mampu menggunakan pukulan itu?” tanya Tio Beng.

Dia menggangguk lagi.

“Kauw soehoe coba ajar aku lagi,” memohon si nona.

Pendeta itu lantas saja melayani Tio Beng dengan tangan kosong. Biarpun ia Bongkok dan pincang, gerakannya gesit luar biasa, sehingga Tio Beng tidak bisa melayaninya. Tapi meski begitu, berkat kecerdasannya, si nona bisa juga meniru gerakan setiap pukulan. Sesudah beberapa gebrakan, dalam satu gerakan yang cepat dan indah, si tauw too memutar badan sambil mendorong dengan kedua tangannya. Kemudia ia berdiri tegak dan tidak bergerak lagi.

Tio Beng terkejut.

“Sungguh lihay pukulan itu!” puji Boe Kie di dalam hati.

Sesudah memikir sejenak, nona Tio mendusin. “Apa?” serunya. “Kauw soehoe, jika kau memegang toya, toya itu tentu sudah menghantam lenganku. Dengan cara apa pukulan itu bisa dipunahkan?”

Kauw tauw too segera membuat suatu gerakan seperti orang merampas toya dan berbareng kaki kirinya menendang. Gerakan itu yang dibuat dalam kecepatan luar biasa, bukan pukulan Koen loen Pay.

“Kauw soehoe, perlahan sedikit!” kata Tio Beng sambil tertawa.

“Tenaga dalammu tak cukup, tak dapat kau meniru gerakan itu,” kata Boe Kie di dalam hati.

Kouw Tauw too mwnggoyang-goyangkan tangannya, sebagai tanda bahwa Tio Beng yang belum mempunyai cukup Lweekang tak akan bisa menggunakan pukulan itu. Sesudah itu, tanpa meladeni si nona lagi, dengan terpincang-pincang ia kembali ke tempatnya.

“Kepandaian Tauw too itu mungkin tidak berada di sebelah bawah Hian beng Jie lo” pikir Boe Kie. “Biarpun lweekangnya belum diketahui seberapa tingginya. Tapi ia bukan lawan enteng. Mengapa ia tak pernah bicara? Apa ia gagu? Tak mungkin gagu, sebab ia tak tuli. Tio kauwnio kelihatannya sangat menghormati dia. Dia pasti bukan sembarang orang.”

Melihat si bongkok tidak meladeninya. Tio Beng tidak menjadi gusar. Ia hanya tersenyum dan kemudian berkata, “Panggil Tong Boen Liang!”

Tak lama kemudiam Tong boen liang digiring masuk dan kembali Long thung kek menyuruh 3 orang untuk melayani tetua Kong Tong pay itu. Tong Boen Liang yang tak mau jatuh di bawah angin karena senjata yang tidak seimbang minta bertanding dengan tangan kosong. Ia berhasil merobohkan 2 orang lawan, tapi kalah dalam pertandingan yang ke-3. Seperti Ho Thay Ciong salah satu jati tangannya segera dikutungkan. Sesudah Tong Boen Liang meninggalkan ruangan itu, dengan dibantu oleh Long Thung Kek sendiri, Tio Beng segera berlatih dalam pukulan-pukulan Kong Tong pay.

Di dalam hati Boe Kie memuji kelihayan Tio Beng. Nona itu rupa-rupanya mengerti, bahwa tenaga dalamnya tak cukup dan untuk memiliki lweekang yang tinggi, ia harus berlatih dalam jangka waktu yang lama. Maka itu, ia mengambil jalan yang lebih pendek. Untuk menambal kekurangan dalam lweekang, ia memetik bagian-bagian yang paling bagus dari berbagai ilmu silat dalam dunia persilatan.

Sesudah berlatih beberapa lama, Tio Beng berkata “Panggil Biat Coat Loo nie!”

“Sudah 5 hari Biat Coat mogok makan,” jawab seorang pengawal baju kuning.

“Sampai hari ini dia masih keras kepala?”

“Biar dia mati kelaparan!” kata si nona sambil tersenyum. “Kalau begitu, panggillah Cioe Ci Jiak!”

Semenjak kembali dari Boe Tong, dari kakek gurunya, Boe Kie sudah mengerti segala kejadian semenjak ia berpisahan dengan Thay soehoe itu. Ia tahu, bahwa Cioe Ci (Tit) Jiak adalah si gadis yang dulu ditolong Thio Sam Hong di tengah sungai Han soei. Pada waktu itu, mereka berdua masih kecil. Tapi kecintaan, atau sedikitnya keramahtamahan, si nona tak dapat dilupakan olehnya.

Di Kong beng teng atas perintah Biat Coat, Cie Jiak pernah menikam dia. Tapi ia sedikit tidak pernah merasa sakit hati. Sekarang mendengar perintah Tio Beng, tiba-tiba jantung memukul keras.

Tak lama kemudian, sejumlah pengawal baju kuning mengawal nona Cioe untuk masuk kurungan itu. Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa si nona banyak lebih kurus, tapi kecantikannya tetap tak berubah. Ia bertindak masuk dengan sikap tenang, seolah-olah ia tidak memikiri lagi soal hidup atau mati.

Lok Thung Kek segera menanyakan apa Cioe Ci Jiak suka menakluk, tapi si nona tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala. Baru saja kakek itu mau memerintahkan orang sebawahannya turun ke gelanggang, tiba-tiba Tio Beng berkata, “Aku sungguh merasa kagum, bahwa dalam usia yang masih begitu muda kau telah menjadi salah seorang murid terpenting dari Go Bie Pay. Kudengar kau sangat disayang oleh Biat Coat Soethay dan telah mendapat ilmu yang paling tinggi dari gurumu. Apa begitu?”

“Ilmu silat guruku sangat luas dan dalam,” jawabnya. “Mana bisa orang gampang-gampang mewarisi ilmunya yang paling tinggi?”

Tio Beng tertawa, “Menurut peraturan di sini asal saja orang bisa menangkan 3 orangku, ia akan segera diantar keluar tanpa diganggu selembar rambutpun” katanya. “Mengapa gurumu begitu sombong dan sungkan memperlihatkan ilmu silatnya kepada kami?”

“Dalam menghadapi kebinasaan, guruku sungkan dihina,” sahut nona Cioe. “Mana boleh Ciangboen Go Bie pay mencari keselamatan dari orang-orang sebawahanmu? Kau benar! Guruku memang tak memandang sebelah mata kepada manusia-manusia rendah yang jahat dan kejam. Memang benar soehoe tak sudi bertanding dengan manusia-manusia seperti kau dan anjing-anjingmu!”

Walaupun disemprot dengan perkataan-perkataan tajam, Tio Beng kelihatan tidak menjadi gusar. Ia bahkan masih tertawa, “Bagaimana dengan Cioe Kauwnio sendiri?” tanyanya.

“Aku seorang muda, belum mempunyai pendirian sendiri.” jawabnya. “Aku hanya turut apa yang dikatakan oleh guruku.”

“Gurumu juga melarang kau bertanding dengan kami, bukan?” tanya pula Tio Beng. “Mengapa begitu?”

Cioe Jiak tersenyum dingin. “Biarpun Kiam hoat Goe bie pay tidak bisa dinamakan sebagai ilmu pedang yang sangat tinggi, sedikitnya kiam hoat kami adalah ilmu dari sebuah partai lurus bersih di wilayah Tionggoan. Maka itu, kami tentu saja menjaga supaya ilmu itu tidak sampai dicuri oleh segala manusia yang tidak mengenal malu!”

Tio Beng terkejut. Ia tidak pernah menduga bahwa maksudnya telah ditebak jitu oleh Biat Coat Soethay. Mendengar sindiran yang sangat pedas, darahnya meluap juga.

“Sret!” Ia menghunus Ie Thian kiam.

“Gurumu telah mencaci kami sebagai manusia yang tidak mengenal malu,” katanya. “Baiklah! Sekarang aku ingin menanya pedang Ie Thian kiam ini terang-terang sebuah mustika milik keluargaku. Mengapa partaimu, partai Goe Bie Pay telah mencurinya?”

“?Semenjak dahulu orang mengenal Ie Thian kiam dan To Liong To sebagai senjata-senjata mustika milik rimba persilatan daerah Tionggoan,” jawabnya dengan suara tawar. “Aku belum pernah mendengar, bahwa pedang itu mempunyai sangkut paut dengan seorang perempuan Hoan pang (orang asing dari See hoan)?

Paras muka Tio Beng lantas saja berubah merah padam. “Ha!” bentaknya. “Apa benar kau tidak mau bertanding?”

Nona Cioe menggeleng-gelengkan kepala.

“Menurut peraturan disini, orang yang kalah bertanding atau yang tidak mau bertanding harus diputuskan salah satu jari tangannya,” kata Tio Beng. “Rupa-rupanya kau beradat sombong karena menggangulkan mukamu yang sangat cantik. Aku sekarang tak mau memutuskan jari tanganmu.”

Ia menunjuk Kauw Tauw too dan berkata pula, “Aku akan membuat mukamu seperti muka suhu itu. Aku akan membuat beberapa puluh goresan pedang di atas mukamu. Kumau lihat apakah kau masih bisa mempertahankan kesombonganmu?”

Sehabis berkata begitu, ia mengibaskan tangannya. Dua pengawal baju kuning lantas saja melompat dan mencekel kedua lengan Cioe Jiak erat-erat.

Tio Beng tertawa mengejek. “Untuk menggores muka, orang tidak perlu memiliki Kiam hoat Go bie pay,” katanya. “Apa kau kira aku tidak mengubah kau menjadi perempuan muka jelek karena ilmu silatku tak keruan macamnya?”

Kedua mata nona Cioe mengembang air dan tubuhnya bergemetaran. Untung Ie thian kiam hanya terpisah beberapa dim dari pipinya. Dengan sekali mendorong tangannya si iblis bisa membuat mukanya menyerupai muka tauw too itu.

Tio Beng tertawa “Kau takut tidak?” tanyanya.

Sekarang Cioe Ci Jiak tidak bisa mempertahankan keteguhannya lagi. Ia menggangguk dan menjawab dengan suara parau, “Takut.”

“Bagus!” kata nona Tio. “Apa itu berarti, bahwa kau menakluk?”

“Tidak!” jawabnya. “Lebih baik kau bunuh aku saja.”

Tio Beng tertawa nyaring. “Aku belum pernah membunuh orang.” Katanya, “Aku hanya ingin menggores kulit dan sedikit dagingmu.”

Tiba-tiba sinar putih berkelebat. Tio Beng benar-benar menyabetkan Ie thian kiam ke muka nona Cioe.

Pada detik yang sangat berbahaya, sebelum ujung pedang menyentuh kulit, tiba-tiba terdengar suara “Trang!”

Sebuah benda melayang dan Ie thian kiam terpukul miring. Hampir berbareng jendela hancur, seorang melompat masuk dan 2 pengawal yang mencekal Cioe Ci Jiak roboh di lantai.

Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Di lain detik tangan kiri orang itu melindungi nona Cioe dengan memeluk pinggang si nona, sedang tangan kanannya mengadu dengan Long Thung Kek.

“Plak!” keduanya terhuyung-huyung setindak. Ternyata orang yang menolong bukan lain Boe Kie.

Menyerbunya Boe Kie seolah2 halilintar di tengah hari bolong. Dalam ruangan itu berkumpul jago-jago yang sangat lihai, tapi tak urung mereka terkesiap. Bahkan Hian beng ji loe (2 kakek yang memiliki Hian beng sin kiang) yang memiliki kepandaian paling tinggi tak keburu menghalangi Boe Kie.

Tapi biar bagaimanapun Long Tung Kek bertindak cepat. Begitu mendengar pecahan jendela, ia lantas melompat ke depan Tio Beng untuk melindungi majikannya dan berbareng menyambut pukulan Boe Kie. Di luar dugaannya bentrokan tangannya membuatnya terhuyung. Buru-buru ia mengempos semangat, tapi ia kaget sebab ia merasa sekujur badannya panas, seperti orang masuk ke dalam dapur.

Mengapa begitu? Karena pada waktu beradu tangan, Kioe yang cin keng dari Be Kie menerobos masuk ke dalam badannya. Sebagaimana diketahui, Lweekang Long Thung Kek adalah Lweekang yang sangat dingin. Kioe yang Cin kie adalah “hawa” yang bersifat Soen yang (panas murni). Maka itu, masuknya Kioe yang cin kie sudah mengakibatkan bentrokan antara panas dan dingin di dalam tubuhnya.

Melihat keadaan Long Thung Kek, Hian beng Jie lo yang satunya lagi yang bernama Ho Pit Ong cepat-cepat menghampiri dan mencekal tangan Long Thung Kek. Dengan tenaga kedua orang itu barulah Kioe yang cin kie dapat ditindih.

Pada detik itu, orang yang merasai keneruntungan yang paling besar adalah Cioe Cie Jiak. Dalam menghadapi bahaya besar, ia tidak pernah mimpi, bahwa ia akan mendapat pertolongan dan yang menolong adalah Boe Kie sendiri. Dengan jantung memukul keras ia mendapat tahu bahwa pinggangnya dipeluk Boe Kie. Semenjak pertemuan di Kong beng teng, siang malam ia belum pernah melupakan pemuda itu.

Maka itulah, biarpun menghadapi bahaya besar, biarpun ia berada di tengah-tengah ratusan golok, ia merasa beruntung dan tidak memperdulikan apapun juga.

Sementara itu melihat kauwcoe mereka menyerbu, Yo Siauw dan wie It Siauw-pun segera melompat masuk dan berdiri di belakang Boe Kie.

Orang-orangnya Tio Beng yang semula kaget sekarang sudah tenang kembali lantaran mereka tahu, bahwa yang datang hanyalah 3 orang musuh. Dari tanda yang diberikan oleh pengawal, mereka tahu bahwa diluar ruangan itu tidak terdapat lain musuh. Mereka lantas saja menjaga semua pintu dan menunggu perintah sang majikan.

Nona Tio tidak bergusar. Ia mengawasi Boe Kie dan kemudian mengawasi 2 benda kuning berkeredapan yang menggeletak di lantai. Ternyata, waktu ia mau menggores muka Cioe Cie Jiak, Boe Kie sudah menimpuk dengan serupa benda dan sebab Ie thian Kiam tajam luar biasa maka benda itu terbacok menjadi 2 potong. Sekarang ia tahu, bahwa benda itu adalah kotak emas yang ia berikan kepada Boe Kie.

“Kau rupa-rupanya membenci sangat kotak itu,” katanya dengan suara pelan.

Melihat sorot mata Tio Beng yang penuh rasa menyesal, Boe Kie kaget dan heran. “Aku tidak membawa senjata rahasia,” katanya dengan suara lemah-lembut. “Dalam keadaan kesusu, aku sudah menggunakan kotak itu. Harap Tio kauwnio tidak menjadi gusar.”

Kedua mata si nona mendadak mengeluarkan sinar terang. “Apakah kau selalu membawa kotak itu?” tanyanya.

“Ya,” jawabnya.

Melihat Tio Beng terus mengawasi dirinya, dengan paras muka merah cepat-cepat Boe Kie melepaskan pelukannya pada pinggang Cie Jiak.

Nona Tio menghela nafas dan berkata, “Aku tak tahu bahwa Cioe Cie Jiak adalah…adalah sahabatmu. Kalau kutahu tentu tidak berbuat begitu terhadapnya. Kalau begitu kalian adalah…,” ia tidak meneruskan perkataannya dan menengok ke jurusan lain.

“Cioe Kauwnio tidak…bukan…apa-apa,” kata Boe Kie. “Hanya…hanya…”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata Tio Beng mengawasi pula 2 potong kertas itu. Sinar matanya menunjukkan bahwa ia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.

Melihat begitu, Cioe Ci Jiak kaget. Dengan jantung memukul keras ia berkata di dalam hati, “Ah! Tak dinyana iblis perempuan itu mencintainya?”

Tapi Boe Kie tidak memikir sampai di situ. Ia hanya merasa, bahwa ia sudah berbuat salah. Isi kotak itu sudah mengobati Jie Thay Giam dam In Lie Heng. Sebagai pembalasan budi, ia menggunakannya sebagai senjata rahasia, sehingga kotak itu terbagi 2.

“Inilah ketelaluan,” pikirnya. Ia segera menjemput kedua potong kotak itu dari atas lantai dan berkata dengan suara meminta maaf, “Aku akan meminta seorang tukang yang pandai untuk menyambungnya lagi?

“Apa benar?” menegas si nona dengan suara girang.

Boe Kie manggutkan kepala. Ia merasa heran mengapa nona Tio begitu girang. Tapi ia tak mau memikir panjang panjang. Ia hanya menganggap bahwa wanita muda itu sering menunjukan sikap yang aneh-aneh. Ia segera memasukkan kedua potongan itu kedalam sakunya.

“Nah, sekarang kau pergilah!” kata Tio Beng.

Alis Boe Kie berkerut. Ia datang dengan tujuan untuk menolong para pamannya dan lain-lain. sebelum mereka tertolong ia tidak bisa pergi. Tapi di lain pihak, musuh mempunyai banyak sekali orang pandai dan dengan hanya bertiga, ia tidak bisa berbuat banyak. “Tio kauwnio, perlu apa kau menangkap Toasopeh dan yang lain-lainnya?” tanyanya.

Nona Tio tertawa. “Maksudku sebenarnya baik sekali,” jawabnya. “Aku mengundang mereka supaya mereka suka mengeluarkan tenaga untuk kerajaan supaya kita bersama-sama bisa mencicipi kesenangan dan kemewahan. D iluar dugaan mereka sangat keras kepala. Maka itu, aku tidak bisa berbuat lain daripada coba membujuk mereka dengan perlahan-lahan.”

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung dan lalu mendekati Cioe Cie Jiak. Biarpun dikurung oleh musuh-musuh yang berkepandaian sangat tinggi, sikapnya tenang dan wajar. Tadi ketika ia menjemput kedua potong kotak emas, ia bergerak seolah-olah di ruangan itu tak ada manusianya. Sekarang, setelah menyapu seluruh ruangan dengan matanya, ia berkata, “Baiklah! Kalau begitu, kami ingin berpamitan.” Ia memegang tangan Cioe Cie Jiak, memutar badan dan lalu bertindak keluar.

“Tahan!” bentak Tio Beng. “Jika kau ingin pergi sendiri, aku tak nanti menghalang-halangi. Tapi dengan mengajak Cioe kauwnio tanpa memberitahukan aku, kau sungguh tidak memandang sebelah mata kepadaku.”

“Benar aku melanggar adat kesopanan,” kata Boe Kie sambil menghentikan tindakannya lalu memutar tubuh. “Tio kauwnio, aku meminta kau melepaskan Cioe Kauwnio dan mempermisikannya untuk mengikut aku.”

Tio Beng tidak menjawab. Ia memberi isyarat kepada Hian beng Jie lo dengan lirikan mata. Ho Pit Ong maju beberapa tindak dan berkata “Thio kauwcoe, kau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi. Mau menolong orang lantas menolong. Kau pikirlah! Dengan perbuatan itu, di mana kami harus menaruh muka? Apabila kau tidak memperlihatkan kepandaianmu kami semua tentu merasa sangat penasaran.”

Mendengar suara si kakek, darah Boe Kie lantas saja meluap. “Tua bangka kurang ajar!” cacinya “Dahulu, diw aktu aku masih kecil, kau sudah membekuk aku, sehingga hampir-hampir jiwaku melayang. Hari ini, kau masih ada muka bicara begitu di hadapanku. Sambutlah!” seraya berkata begitu, ia menghantam Ho Pit Ong.

Lok Tung Kek yang tadi sudah berkenalan dengan kelihayan Boe Kie, mengerti bahwa dengan seorang diri, kawan itu bukan tandingan pemuda itu. Bagaikan kilat ia melompat dan memukul. Boe Kie tidak membatalkan serangannya tangan kanannya terus menghantam Ho Pit Ong sedang tangan kirinya menangkis pukulan Lok Thung Kek.

Dalam gebrakan ini, “Tenaga tulen” melawan “tenaga tulen”. Berbarengan dengan bentrokan empat lengan, tubuh ketiga orang itu bergoyang-goyang.

Pada beberapa bulan berselang, dalam pertemuan di Boe tong san, 2 tangan Hian beng Jie lo melayani kedua tangan Boe Kie, sedang 2 tangan mereka yang lain menghantam tubuh pemuda itu. Sekarang mereka ingin mengulangi siasat itu. 2 tangan mereka yang masih merdeka dengan berbareng menghantam Boe Kie.

Tapi sesudah dibokong satu kali. Siang-siang ia sudah memikiri cara bagaimana untuk memunahkannya. Demikianlah, selagi kedua tangan musuh menyambar, tiba-tiba ia menyikut dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie Sin Kang.

“Plak!” tangan kiri Ho Pit Ong memukul tangan kanan Lok Thung Kek.

Kedua kakek itu memukul dengan ciang hiat yang sama, dengan tenaga yang sama pula. Sambil mengeluarkan seruan tertahan, mereka merasakan kesakitan hebat.

Tak kepalang rasa herannya. Mereka sama sekali tidak mengerti, mengapa mereka saling pukul dengan teman sendiri. Ternyata, biarpun berkepandaian tinggi, Hian beng jie lo belum mengenal Kian koen Tay lo ie.

Di lain saat, dengan gusar mereka menyerang bagaikan hujan dan angin. Dalam serangan itu, mereka bekerja sama erat sekali, yang satu menyerang, yang satu membela diri. Tapi Boe Kie terus menggunakan Tay loe ie sin kang, sehingga beberapa kali kedua lawannya saling gebuk dengan kawan sendiri.

Hian beng Jie lo saling mengawasi dengan mata membelalak dan muka pucat. Sementara itu, Boe Kie mengubah cara berkelahinya. Kini ia menyerang, dengan “hawa” yang “panas murni”. Diserang begitu kedua kakek itu yang mempunyai Lweekang “dingin” jadi setengah mati.

Boe Kie terus mendesak tanpa mengenal ampun. Makin lama pukulan-pukulannya makin cepat dan erat. Dalam pertemuan ini, ia mengenali, bahwa di antara Hian beng Jie lo, Ho Pat Ong lah yang telah memukulnya dengan Hian Beng sin ciang pada 20 tahun berselang. Ia ingat cara bagaimana pukulan itu sudah mengakibatkan penderitaan hebat bagi dirinya dan hampir saja ia kehilangan jiwa. Ia adalah seorang yang selalu bersedia untuk mengampuni semua manusia. Tetapi sekarang, darahnya mendidih. Terhadap Lok Thung Kek, ia masih berlaku murah hati, tapi terhadap Ho Pit Ong ia tak sungkan-sungkan lagi.

Sesudah bertempur kira-kira 20 jurus muka Ho Pit Ong yang semula hijau berubah menjadi merah. Tiba-tiba Boe Kie menghantam dengan telapak tangannya. Buru-buru ia menangkis dengan tangan kiri, sedang tangan kanan mereka itu dapat digunakan lagi untuk balas menyerang

“Plak!…Plak!” kedua tangan dengan saling susul mampir di pundak Long Thung Kek sedang tangan Boe Kie terus menyambar tanpa bisa ditangkis atau dikelit lagi.

“Buk!” dadanya terpukul keras. Untung juga pada detik terakhir Boe Kie merubah pikiran dan sungkan mengambil jiwa musuh. Sehingga pada saat yang memutuskan, ia mengurangi tenaganya. Tapi biarpun begitu, Ho Pit Ong segera memuntahkan darah, dari merah mukanya berubah menjadi ungu dan badannya bergoyang-goyang. Kalau Boe Kie mengirim pukulan susulan kakek itu tentu segera tamat riwayatnya. Sementara itu sebab kena 2 pukulan kawan sendiri. Lok Thung Kek berjengit dan seraya menggigit gigi ia terhuyung beberapa tindak.

Hian Beng Jie lo adalah jago-jago utama di bawah perintah Tio Beng. Bahwa belum cukup 30 jurus mereka sudah terluka berat, adalah kejadian yang sungguh-sungguh mengejutkan semua orang. Terhitung Yo Siauw dan Wie It Siauw sendiri.

Mengejutkan karena pada waktu bergebrak dengan Hian beng Jie lo di Boe Tong San, kepandaian Boe Kie belum setinggi sekarang. Tak disangka dalam tempo beberapa bulan saja, ia sudah maju begitu pesat.

Sebab musabab dari kemajuan itu ialah sambil mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng selama beberapa bulan Boe Kie banyak menerima pelajaran dari Thio Sam Hong. Kioe yang sin kang, Kian koen thay lo ie dan Thay kek koen telah bergabung menjadi satu sehingga dapat dikatakan, Boe Kie telah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu silat. Sesudah memikir sejenak, Yo Siauw mengerti sebab musabab itu. Mereka kagum terhadap guru besar itu dan mengagumi juga kauwcoe mereka.

Sesudah menderita kekalahan dalam pertandingan tangan kosong sambil membentak keras, dengan berbareng, Hian Beng jie lo mengeluarkan senjata mereka. Lok Thung Kek memegang sebatang tongkat pendek bercagak menyerupai tanduk menjangan, warna hitam, entah dibuat dari logam apa. Ho Pit Ong mencekal sepasang pit(senjata seperti pena Tionggoan) warna putih terang, seperti kristal, yang ujungnya lancip seperti patuk burung Ho. Mereka sudah lama mengikuti Tio Beng tapi malah nona itu sendiri tidak pernah melihat mereka menggunakan senjata.

Di mana saat satu sinar hitam dan 2 sinar putih segera mengepung Boe Kie. Pemuda itu tak bersenjata, tapi sedikitpun ia tak merasa keder. Ia justru ingin menjajal kepandaiannya. Ia ingin mengetahui apakah dengan tangan kosong ia bisa melayani kedua musuh yang lihay itu.

Dalam kegusarannya, Hian beng jie lo menggunakan senjata yang jarang sekali mereka gunakan. Selama hidup mereka sangat mengandalkan senjata itu yang dapat digunakan untuk menyerang musuh dengan pukulan-pukulan aneh. Nama mereka atau lebih tepat nama julukan mereka telah didapatkan dari senjata itu. Lok kak Toan thung dan Ho swee Siang pit (Tongkat pendek yang menyerupai tanduk menjangan dan sepasang pit yang menyerupai patuk burung ho) dan sebagai ringkas mereka menggunakan nama Lok Thung Kek (si pit burung ho).

Dengan memusatkan seluruh perhatian dan semangatnya, Boe Kie melayani kedua musuh itu. Untuk menyelamatkan diri dari serangan-serangan musuh luar biasa ia menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi. Tapi untuk sementara waktu, ia belum benar-benar memahami pukulan-pukulan kedua kakek itu yang benar-benar aneh. Dengan demikian biarpun ia berkepandaian cukup untuk membela diri, ia tak bisa mendapat kemenangan dalam waktu cepat.

Sementara itu, begitu Boe Kie bertempur melawan hian beng jie lo, Tio Beng menepuk tangan 3 kali dan 3 orang lantas saja menerjang Yo Siauw, 4 orang meyerang Wie It Siauw, sedang 2 orang membekuk Cioe Cie Jiak. Dalam sekejap Yo Siauw melukai lawan dengan pedangnya. Wie It Siauw merubuhkan 2 orang dengan pukulan Bian Ciang. Tapi jumlah musuh terlalu banyak. Roboh satu maju dua. Boe Kie yang sedang dikepung tak bisa memberikan pertolongan. Andaikata mereka bertiga ingin melarikan diri, mereka masih bisa berbuat begitu. Tapi kalau mau mengajak Cioe Cie Jiak mereka takkan bisa melakukan itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: