Kumpulan Cerita Silat

22/10/2008

Duke of Mount Deer (43)

Filed under: Duke of Mount Deer — ceritasilat @ 1:08 am

Duke of Mount Deer (43)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

Bahkan ketika bocah nakal itu menendangnya berkali-kali, Lau It Cau tidak merasakan apa-apa lagi. Siau Po langsung memperlihatkan senyum penuh kebanggaan. Dia membuka ikat pinggang Lau It Cou kemudian digunakannya untuk membelenggu tangan orang itu.

Di dekat sebatang kayu ada sebuah batu besar. Siau Po berusaha menggesemya. Kebetulan di bawah batu besar itu ada sebuah lubang, karena itu Siau Po menggesemya terus sehingga mulut lubang itu terbuka lebar. Setelah itu dia mengeluarkan bebatuan yang terdapat di dalam lubang itu dan menggali tanahnya sehingga lubang itu menjadi bertambah dalam dan lebar.

“Hari ini Lohu akan menguburmu hidup-hidup di dalam lubang ini.” kala Siau Po sembari tertawa, meskipun dia bicara seorang diri. Kemudian ia mengangkat tubuh Lau It Cou, dimasukkannya ke lubang itu dengan posisi berdiri dan punggung bersandar pada dinding lubang. Setelah itu dia menimbuni lubang itu kembali dengan pasir dan bebatuan sampai batas leher Lau It Cou.

Sekali lagi Siau Po tertawa senang. Tampaknya dia puas sekali dengan hasil kerjanya sendiri. Perlahan-lahan dia berjalan ke tepi sungai, dibukanya jubah luamya kemudian dicelupkannya ke dalam air. Dia berjalan balik kembali, lalu berhenti di depan anak muda yang sedang tidak sadarkan diri itu. Siau Po mengangkat jubah basah itu tinggi-tinggi kemudian diperasnya sehingga aimya mengalir turun dan membasahi seluruh kepala dan wajah Lau It Cou.

Dengan demikian, lambat-laun Lau It Cou siuman. Dia kebingungan, matanya jelalatan ke sekitamya. Dia ingin menggerakkan kaki dan tangannya tapi tidak ada kesanggupan sama sekali. Hal ini membuat hatinya tercekat. Dia mulai menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya.

Di hadapannya duduk bersila Siau Po dengan wajah penuh senyuman, bahkan sekali-sekali tampak dia tertawa geli, kedua tangannya berpangku di atas lututnya.

“Pasti aku telah di akali olehnya…,” pikir Lau It Cou dalam hati. Dia menyesal dirinya sendiri yang ceroboh, tapi dia berusaha menenangkan dirinya.

“Hai, saudara kecil, jangan main-main!” katanya sambil tertawa. Sia-sia dia berusaha mengerahkan tenaganya untuk memutuskan ikat pinggang yang membelenggunya.

“Oh, dasar bangsat gila perempuan!” makiSiau Po. “Tahukah kau betapa pentingnya urusan yang sedang aku hadapi? Kau kira aku ada waktu bergurau dengan engkau, si bangsat bau!”

Bocah ini memang luar biasa. Sembari memaki, kakinya mengayun pula menendang rahang pemuda itu sehingga darah bercucuran. Mulutnya tidak berhenti mencaci.

“Nona Pui itu istriku. Orang seperti kau berpikir untuk menikahinya? Hm! Bangsat bau! Kau sudah menghajar lohu sehingga lohu kesakitan serta menderita. Sekarang lohu akan menuntut balas padamu! Pertama-tama aku akan memotong telingamu, kemudian menebas hidungmu. Iya, aku akan mengerat satu per satu!”

Selesai berkata Siau Po mencabut pisau belatinya, lalu dia membungkuk dan mengacung-acungkan pisaunya di depan wajah Lau It Cou dengan tampang mengancam.

Bukan kepalang terkejutnya hati Lau It Cou.

“Oh, saudara… saudara Wi yang baik,” katanya. “Wi hiocu, sudilah kau memandang keluarga Bhok dan berlaku murah hati….”

“Bagus sekali kau, ya!” maki Siau Po. “Manusia macam apa engkau ini? Dari dalam tahanan di istana aku menolong dirimu sehingga mendapatkan kebebasan kembali seperti sekarang ini. Mengapa kau membalas air susu dengan air tuba? Kenapa kau ingin membunuhku? Hm, orang yang kepandaiannya scperti kau ini, mana mungkin sanggup membunuh aku seorang tokoh besar? Sekarang kau malah meminta aku memandang muka keluarga Bhok, tapi bagaimana ketika kau meringkusku? Mcngapa kau sendiri tidak memandang muka Tian Te hwe kami?”

“lya, aku telah berbuat kekeliruan…” sahut Lau It Cou mengakui.

“Aku akan membacok kepalamu sebanyak tiga ratus enam puluh kali.” kata Siau Po. “Dengan cara demikian, barulah hilang rasa penasaran dihatiku.”

Siau Po menarik kuncir It Cou kemudian ditebasnya dcngan pisau belati sehingga putus. Setelah itu dia mengayunkan pisaunya bolak-balik dan dalam sekejap mata rambut di kepala Lau It Cou jadi tidak karuan bentuknya. Sebagian besar botak dan di beberapa bagian tersisa rambutnya sedikit-sedikit.

Rupanya hati Siau Po masih panas.

“Bangsat gundul kepingin mampus!” makinya untuk kesekian kali. “Hati lohu paling panas kalau melihat biksu (pendeta), apalagi yang gundulnya kepalang tanggung. Kemarahan di dalam dada ini seakan-akan meluap-luap, karena itu tidak bisa tidak, aku harus membunuhmu!”

Meskipun takut serengah mati, Lau It Cou masih berusaha untuk tertawa. Dia berharap anak nakal itu hanya bergurau dengannya. “Oh, Wi hiocu yang baik, cayce (aku yang rendah) bukan pendeta,” sahutnya. Dia berusaha menentramkan hatinya yang terguncang keras.

“Setan alas!” bentak Siau Po. “Bagaimana kau berani mengatakan bahwa dirimu bukan pendeta? Lalu mengapa kepalamu dicukur plontos seperti itu? Apakah kau bermaksud mendustai aku tuan besarmu ini?”

It Cou menjadi bingung. Hatinya juga cemas sekali. Kuncimya sudah hilang dan kepalanya tiga perempat botak. Dalam hatinya dia mengeluh. “Kan kau yang memotong rambutku, mengapa kau malah memaki-maki aku?” Tapi dia masih menyayangi jiwanya sendiri, tidak berani dia menyahut karena takut Siau Po akan semakin marah.

Dia berusaha tertawa dan berkata. “Wi hiocu, seribu salah selaksa kekeliruan, semuanya aku yang melakukannya. Wi hiocu, kau adalah seorang yang berbudi luhur, aku mohon sudilah kiranya kau bersikap murah hati…!” Kali ini It Cou mengucapkan kata-kata yang merendah. Dia sudah kewalahan menghadapi bocah yang luar biasa ini. Dia sangat menyayangi jiwanya dan tidak sudi mati konyol dengan cara sedemikian rupa.

“Baiklah!” kala Siau Po kemudian. “Sekarang aku ingin bertanya dulu kepadamu. Kau kenal Nona Pui Ie, bukan? Jawablah, istri siapa nona itu?” Bukan main bingungnya hati It Cou.

“Dia… dia…” ucapannya terputus-putus. Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya seperti orang yang kehabisan kata-kata saking takut dan cemas. Baginya sulit sekali menduga isi hati Siau Po. Dia sedang bergurau atau benar-benar marah?

“Dia…dia… apa?” bentak Siau Po. “Lekas jawab!” Kembali pisau belatinya yang tajam digerak-gerakkan di depan muka Lau It Cou.

It Cou semakin bingung. Dia berpikir keras. Celaka kalau sampai dia kehilangan telinga atau hidungnya. Urusannya bisa gawat. Selain sakit, dia juga harus menderita malu. “Dia… dia tentu istrimu, Wi hiocu!” katanya dengan susah payah.

Siau Po tertawa.

“Dia…siapa?” tanyanya sekali lagi.”Bicara yang jelas! Siapa dia yang kau katakan? Lohu ingin mendapatkan kepastian darimu!”

“Aku…. Maksudku…. Pui sumoay.” sahut Lau It Cou dcngan tcrpaksa.”Dia adalah istri Wi hiocu.”

Siau Po tcrtawa lagi. “Sckarang kita bicara blak-blakan. ” katanya. “Lekas kaukatakan, apakah aku ini sahabatmu?”

Lega juga hati Lau It Cou mendengar nada suara Siau Po yang sudah mulai lunak. Lekas-lekas dia menjawab, “Sebenarnya siaujin (orang yang hina ini) tidak berani mengangkat diri sendiri terlalu tinggi. Siaujin tidak pantas mengagulkan diri. Tapi kalau Wi hiocu sudi menganggap siaujin sebagai sahabat, siaujin ibarat mendapatkan rembulan jatuh….”

“Baik! Aku suka menjadi temanmu.” kata Siau Po kemudian. “Di dalam dunia kang ouw, orang harus mengingat istri sahabatnya sendiri. Lain kali, bila kau berani main gila lagi, awas! Jaga botak kepalamu baik-baik! Sekarang coba kau bersumpah dan buktikan bahwa kau benar-benar sudah tobat. Aku ingin mendapat keyakinan bahwa lain kali kau tidak berani main gila lagi. Bersumpahlah!”

Di dalam hatinya, Lau It Cou mengeluh. Hebat sekali desakan si bocah nakal ini. Dia menyesali dirinya yang begitu bodoh sehingga kena diakali olehnya dan berbalik kena ditawan.

“Tidak apa-apa kalau kau tidak sudi bicara.” Kata Siau Po. “Memang aku sudah tahu lagak setanmu. Kau mengandung maksud buruk. Di dalam hatimu kau sudah mengatur rencana untuk mempermainkan istriku.”

Tanpa kepalang tanggung lagi, Siau Po langsung saja menyebut Pui Ie sebagai istrinya. It Cou ngeri melihat pisau belati Siau Po masih terus digerak-gerakkan.

“Tidak! Tidak!” katanya. “Terhadap Nyonya Wi hiocu, tentu aku tidak berani main gila….”

“Awas!” ancam Siau Po. “Tapi bagaimana kelak? Bagaimana bila kau menatapnya terus dan mengajaknya bicara, meskipun hanya sepatah kata?” Bocah ini masih mendesak terus.

“Tidak mungkin aku melupakannya,” sahut Lau It Cou. “Aku bersumpah, kalau aku sampai melakukannya, biarlah aku dihukum Langit (Thian atau Tuhan) dan dikutuk Bumi.”

“Kalau kau berani melakukan hal itu, kaulah si kura-kura, kaulah si manusia hina!” kata Siau Po.

“Ya, ya…” sahut Lau It Cou dengan wajah meringis.

“Iya, iya apanya?” tanya si bocah yang selalu iseng itu.

“Iya,” sahut Lau It Cou. “Kalau kelak aku mendekati Pui sumoay atau mengajaknya bicara, akulah si kura-kura. Akulah manusia hina!”

Siau Po tertawa terbahak-bahak. “Kalau begitu, baiklah.” katanya. “Aku akan mengampunimu. Tapi kau harus merasakan air kencingku terlebih dahulu!” Sembari berkata, Siau Po pura-pura akan membuka celananya. Tepat pada saat itulah terdengar suara seruan seseorang.

“Me… mengapa kau terlalu menghina orang’!”

Terkejut sekali hati Siau Po, terlebih-lebih dia mengenali suara perempuan itu. Sekejap kemudian dia merasa senang sekali. Segera dia menoleh ke arah hutan dari mana suara itu berasal. Tampak tiga orang muncul dari dalam hutan, yang berjalan paling depan adalah Pui Ie, adik seperguruan Lau It Cou. Yang nomor dua adalah Bhok Kiam Peng, Siau kuncu dari Bhok onghu. Sedangkan orang yang berjalan paling belakang bukan lain daripada Li Tian Coan. Ah … ternyata di belakangnya mengiringi dua orang lainnya. Mereka adalah Gouw Lip Sin beserta muridnya Go Piu.

Kiranya sudah cukup lama mereka berlima berdiam dalam hutan dan menyaksikan serta mendengar semua yang berlangsung antara Siau Po dan Lau It Cou. Dan ketika Siau Po hendak menyiram wajah pemuda itu dengan air kencingnya, terpaksa Pui Ie mengeluarkan suara memperingatkannya lalu menampilkan diri. Dengan demikian, Kiam Peng, Tian Coan, Gouw Lip Sin dan Go Piu terpaksa mengikutinya.

“Oh, rupanya kalian sudah ada di sini?” kata Siau Po. Dia merasa gembira sekali. “Baiklah! Dengan memandang Gouw loya cu, aku akan membebaskanmu dari guyuran air kencing.”

Tian Coan tidak mengatakan apa-apa. Dia segera berjalan ke depan It Cou dan menolongnya keluar dari lubang itu.

It Cou merasa malu sekali. Dia hanya berdiam diri dengan kepala di tundukkan.

“Keponakanku!” kata Lip Sin kepada pemuda she Lau itu. “Mengapa kau membalas kebaikan dengan kejahatan? Bukankah jiwa kita sama-sama telah diselamatkan olehnya? Mengapa kau yang lebih tua justru menghina yang muda? Mengapa kau meringkusnya? Bagaimana kalau gurumu sampai mengetahui urusan ini?”

Gouw Lip Sin menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menarik nafas panjang. Hal ini membuktikan bahwa hatinya kecewa sekali melihat tindak-tanduk Lau It Cou.

“Kita yang berkecimpung di dalam dunia kang ouw.” katanya kembali. Suaranya tawar dan tidak enak didengar oleh Lau It Cou. “Yang harus kita utamakan adalah Gi Ki (menyayangi sesamanya dan mencintai negara. Dengan kata lain berjiwa sportif atau berjiwa patriot). Sebagai tokoh dalam dunia kang ouw, apalagi dari golongan lurus, kita harus berbudi luhur. Mengapa jiwamu justru demikian rendah, suka berprasangka dan sirik? Mengapa kau menurunkan tangan jahat terhadap orang sendiri? Mengapa kau melupakan budi dan menyia-nyiakan kepribadianmu? Sikapmu yang demikian, bahkan tidak pantas disamakan dengan babi atau pun anjing.”

Gouw Lip Sin membuang ludah saking marahnya.

“Kau telah menelikung tangan Wi hiocu, kau bahkan mengancam tenggorokannya dengan senjata tajam!” kata orang tua itu kembali dengan nada sengit. “Bagaimana kalau kau berbuat sedikit kesalahan dengan menggerakkan tanganmu tadi dan Wi hiocu jadi terluka karenanya? Bagaimana kalau jiwanya sampai melayang karena perbuatanmu yang konyol itu? Coba jawab!”

It Cou merasa malu sekali. Tiba-tiba hatinya jadi panas dan dia pun lupa diri.

“Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa!” teriaknya keras. “Aku akan mengganti jiwanya itu!”

Lip Sin semakin marah melihat sikap pemuda itu.

“Hm!” terdengar dia mendengus dingin. “Enak saja kau bicara! Apakah dirimu seorang eng hiong (pahlawan) atau hohan (orang gagah)? Dengan selembar jiwamu, kau kira dapat menggantikan jiwa Wi hiocu dari Tian Te hwe? Lagipula, bicara tentang jiwamu… dari mana datangnya jiwa yang masih menyangkut dalam tubuhmu itu? Mungkinkah kau masih hidup sampai sekarang ini kalau kau tidak di tolong oleh Wi hiocu? Kau melupakan budi besar orang, kau bukan membalasnya saja sudah merupakan sikap yang tidak terpuji. Apalagi kau melakukan perbuatan yang demikian rendah. Perbuatanmu itu sungguh terkutuk….”

It Cou menyesal. Dia jadi malu berbareng kesal. Dia sadar bahwa apa yang dilakukannya memang salah. Tapi dia menganggap paman gurunya itu terlalu mendikte. Lagipula, rahasianya telah diketahui oleh Pui Ie. Mereka pasti telah mendengar pembicaraannya dengan Siau Po. Dia juga ditegur sedemikian rupa oleh Gouw Lip Sin di depan Pui Ie dan yang lainnya. Karena menderita malu besar, dia tidak memandang lagi paman gurunya.

“Gou susiok (paman guru Gouw), semuanya telah terjadi. Ibarat nasi telah menjadi bubur.” katanya nyaring. “Apalagi yang dapat kulakukan sekarang? Bukankah orang she Wi itu dalam keadaan baik-baik saja? Bagiku, memang tidak ada jalan lain lagi. Silahkan susiok sendiri saja yang melakukan!”

Lip Sin sampai berjingkrak-jingkrak saking marahnya. Tangannya menuding wajah Lau It Cou dengan gemetar.

“Lau It Cou!” bentaknya keras. “Begini rupanya kau memperlakukan paman gurumu? Tentunya di matamu tidak ada lagi orang yang lebih tua atau lebih muda dari padamu! Apakah kau ingin bertarung dengan aku?”

“Aku tidak berkata demikian dan aku juga bukan tandinganmu.” sahut Lau It Cou.

“Lalu … kalau kau merasa dirimu cukup hebat untuk menandingi aku, maka kau pasti akan melawan aku, bukan?” kata Gouw Lip Sin dengan suara menyindir. “Lau It Cou, perbuatanmu sungguh tidak pantas! Selama di dalam istana saja, kau sudah menunjukkan sikap tamak akan kehidupan, sebaliknya takut menghadapi kematian. Begitu mendengar kepalamu akan dipenggal, cepat-cepat kau memohon pengampunan dan menyebut namamu. Karena memandang Liu suko, aku tidak memberitahu kan soal kepengecutanmu itu padanya. Tapi sekarang? Hm! Syukur kau bukan muridku, nasibmu masih cukup bagus.”

Dengan kata-katanya, Gouw Lip Sin seakan bermaksud mengatakan, seandainya Lau It Cou adalah muridnya, tentu dia sudah mengambil tindakan dengan menghukum mati pemuda itu.

It Cou menundukkan kepalanya. Dia merasa malu sekali. Dia tidak menyangka paman gurunya akan membuka rahasia tentang kepengecutannya ketika berada dalam istana. Wajahnya menjadi pucat pasi dan terbungkam.

Siau Po melihat keadaannya sudah menang di atas angin, dia segera tertawa dan berkata dengan nada manis.

“Sudah! Sudah! Gouw loyacu, Lau toako dengan aku hanya bergurau saja, kami bukan bersungguh-sungguh, Gouw loyacu, aku mohon kepadamu, Segala urusan yang sudah lalu, harap jangan kau sampaikan kepada Liu loyacu!”

“Kalau demikian kemauanmu, Wi hiocu, aku tinggal menurut saja.” sahut Gouw Lip Sin. Kemudian dia menoleh kepada Lau It Cou dan berkata. “Nah, kau Iihat! Betapa luhur kepribadian Wi hiocu. Perbuatannya sclalu mengagumkan dan hatinya juga luar biasa sabar.”

Siau Po tidak ingin urusan ini semakin panjang. Dia sengaja mengalihkan pokok pembicaraan dengan menoleh pada Kiam Peng serta Pui Ie.

“Bagaimana kalian bisa sampai di sini?” tanyanya sambiI tersenyum. Bhok Kiam Peng belum sempat menjawab, Pui Ie sudah mendahuluinya. “Kau kemari!” katanya kepada Siau Po. “Aku ingin berbicara denganmu.”

Siau Po memperlihatkan senyuman yang manis ketika dia menghampiri gadis itu. Hati Lau It Cou semakin panas menyaksikan keakraban Pui Ie dengan si bocah nakal. Rasa cemburunya meluap tanpa dapat ditahan lagi. Biar bagaimana, nona itu adalah tunangannya. Karena itu tangannya segera meraba gagang golok dengan niat menghunusnya segera….

Tiba-tiba….

Plokkk! Terdengar sebuah suara yang nyaring sekali. Siau Po terkejut setengah mati dan pipinya terasa sakit. Temyata Pui Ie sudah menempelengnya. Dia langsung melompat mundur sambil membekap pipinya.

“Kau… mengapa kau memukul aku?” tegumya pada Pui Ie. Hatinya langsung saja menjadi panas.

Pui Ie menatapnya dengan sorotan tajam. Wajahnya pun garang sekali. Tapi kulit wajahnya merah padam karena sekaligus dia juga merasa jengah.

“Kau menganggap aku orang macam apa?” tanyanya sinis. “Apa yang kau katakan pada Lau suko? Di belakang orang, mengapa kau suka bicara tidak karuan?”

“Tidak.” sahut Siau Po. “Aku tidak membicarakan hal yang buruk tentang dirimu.”

“Kau masih berani menyangkal?” bentak Piu Ie. “Aku telah mendengar semuanya dengan jelas. Kamu berdua…. Iya… kamu berdua memang bukan manusia baik-baik.”

Sembari berkata, air mata Pui Ie telah mengucur dengan deras membasahi pipinya.

Ci Tian Coan sejak tadi diam saja. Dia merasa dirinya tidak boleh berpihak pada siapa pun. Dia harus menganggap muda-mudi itu sedang bergurau sebagaimana biasanya orang yang tengah dilanda asmara. Sebentar baik, sebentar bertengkar. Dan hal ini harus dihentikan apabila tidak ingin menjadi persoalan yang berlarut-larut. Dia juga harus menjaga agar tidak terjadi pertikaian antara Tian Te hwe dan keluarga Bhok hanya karena urusan muda mudi ini. Karena itu dia segera tertawa dan berkata.

“Wi hiocu, Lau suheng, kalian telah sama-sama merasakan sedikit penderitaan, sebaiknya urusannya diselesaikan sampai di sini saja. Aku si orang she Ci ini sudah tua, perutku tidak kuat menahan lapar. Ayolah kita cari sebuah rumah makan untuk mengisi perut dam minum arak sampai puas!”

Seiring dengan ucapan orang tua itu, tiba-tiba saja angin bertiup kencang dari barat daya dan tetesan air hujan sekonyong-konyong berjatuhan dari langit.

“Aneh!” kata Toan Coan. “Sekarang kan bulan sepuluh, mengapa tidak karu-karuan turun hujan?” Dia segera menolehkan kepalanya ke arah barat daya. Di kejauhan tampak angin sedang berhembus mengarak gumpalan awan-awan hitam. “Mungkin hujan akan turun deras sekali. Cepat kita cari tempat berlindung!”

Semua orang setuju dengan usul Ci Tian Coan. Pembicaraan pun dihentikan untuk sementara. Dengan tergesa-gesa mereka segera meninggalkan tempat itu dan menuju barat mengikuti jalan besar.

Pui Ie dan Kiam Peng dalam keadaan belum sehat menemui kesulitan. Mereka tidak dapat berjalan cepat. SebaIiknya sang hujan turun semakin deras. Tian Coan mengerti kesulitan yang dihadapi kedua nona itu. Karenanya dia tidak berani berlari lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Siau Po dan yang lainnya juga terpaksa mengimbangi kedua orang nona itu. Celakanya di tempat itu tidak tampak apa-apa. Jangan kata rumah penduduk, sebuah gubuk atau sebuah tempat persinggahan yang biasanya suka tersedia di pinggir jalan pun tidak ada. Tidak berapa lama kemudian, mereka basah kuyup. Meskipun demikian, semuanya tetap berjalan perlahan-Iahan mengimbangi Pui Ie dan Kiam Peng. Mungkin hanya Siau Po sendiri yang tidak merasa kesal atau bingung. Dengan berjalan bersama kedua nona manis itu, hatinya malah senang sehingga berulang kali dia tertawa.

“Lebih baik kita jalan perlahan-lahan. Bagi kita toh sama saja, sudah kepalang tanggung. Jalan perlahan-lahan, basah. Jalan cepat, basah juga.”

Tian Coan semua berdiam diri. Tidak ada yang memberikan komentar apa-apa. Tapi mereka memang tidak tergesa-gesa lagi.

Tidak berapa lama kemudian, telinga rombongan itu mendengar suara gemericiknya air yang sedang mengalir. Dalam sekejap mereka sudah tiba di tepi sebuah sungai. Mereka segera berjalan menyusuri tepi sungai tersebut.

Berjalan kurang lebih setengah li, Mata Siau Po dan yang lainnya melihat ada sebuah perkampungan di hadapan mereka. Karena itu semuanya menjadi gembira sekali. Tanpa terasa, mereka mempercepat langkah kaki. Tapi setelah mendekat, mereka menjadi kecewa.

Rupanya rumah yang mereka lihat dari kejauhan tadi, merupakan rumah berhala yang tersebar di sana sini dan keadaannya sudah tua serta rusak. Apa lagi bagian pintunya, sudah keropos dan bobrok.

Tapi meskipun demikian, tempat itu masih lumayan untuk dipakai sebagai peneduh dari air hujan.

Mereka segera memilih salah satu kuil yang keadaannya agak baik. Begitu mereka sampai di dalam, hidung Pui Ie langsung mencium bau lembab yang tidak enak. Mendadak gadis itu mengemyitkan sepasang alisnya. Karena memaksakan diri berjalan terlalu cepat, luka di dadanya terasa sakit kembali. Dia berdiam diri sambil menggertakkan giginya.

Tian Coan memang sudah tua, tapi orangnya rajin. Dia segera mencari kayu bakar. Orang tua itu tidak menemukan kesulitan sama sekali, sebab di sana terdapat banyak meja dan kursi bobrok. Dia segera mengambil beberapa buah dan dipatah-patahkannya kaki-kaki meja serta kursi tersebut. Kemudian dia menumpukkannya di tengah-tengah ruangan lalu dinyalakannya.

Sesaat kemudian, api unggun mulai herkobar. Mereka segera duduk berkeliling di sekitamya agar pakaian mereka cepat kering dan tubuh mereka terasa hangat.

Di luar kuil, udara semakin gelap dan hujan semakin menjadi-jadi. Ci Tian Coan memang pandai bekerja. Dia segera mengeluarkan ransum kering kemudian dibagi-bagikan kepada setiap orang. Dengan demikian, paling tidak perut mendapat sedikit ganjalan serta tidak menjadi sakit karenanya.

Sembari mengunyah kue kering, Kiam Peng menatap Siau Po seraya tertawa, “Apa yang kau lakukan pada kue Lau suko tadi?” tanyanya.

Siau Po mengedipkan matanya pada gadis cilik itu.

“Tidak.” katanya, “Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kau masih menyangkal?” kata si nona. “Lalu, kenapa tiba-tiba Lau suko tidak sadarkan diri seperti orang yang kena Bong Hoan Yok?”

“Oh, dia kena Bong Hoan Yok?” Siau Po balik bertanya dengan sikap pura-pura bodoh. “Kapan dia terkena obat bius itu? Mengapa aku tidak tahu? Ah! Tidak mungkin! Bukankah barusan dia masih baik-baik saja dan duduk menghangatkan tubuhnya?”

“Hm!” Kiam Peng mendengus dingin. “Sudahlah! Kau memang pandai berpura-pura. Aku tidak sudi berbicara denganmu!”

Pui Ie duduk berdiam diri, telinganya mendengar percakapan kedua orang itu. Otaknya terus berputar, hatinya bimbang dan menduga-duga.

Pertama-tama ketika Lau It Cou meringkus Siau Po, jarak Pui Ie masih jauh dari kedua orang itu. Dia tidak dapat melihat dengan tegas. Setelah keduanya duduk berdampingan di bawah pohon dan berbincang-bincang, Pui Ie baru mengendap-endap mendekati sehingga dia dapat melihat keadaan kedua orang itu serta dapat mendengar pembicaraan yang berlangsung dengan jelas. Dia melihat dengan tegas kue kering itu dikeluarkan dari buntalan milik Lau It Cou. Kemudian Lau It Cou selalu mengawasi Siau Po agar tidak melarikan diri. Yang aneh justru tiba-tiba saja Lau It Cou terkulai roboh.

Sementara itu, Siau Po tertawa dan berkata.

“Mungkinkah Lau suko mengidap semacam penyakit seperti ayan yang dapat membuatnya pingsan sewaktu-waktu?”

Mendengar ueapan Siau Po, Lau It Cou gusar sekali. Dia langsung menjingkrak bangun. “Kau… kau…!” bentaknya hanya sepatah kata saja.

Pui Ie mendelik kepada si bocah nakal.

“Kemari kau!” panggilnya.

“Apakah kau ingin menampar aku lagi?” tanya Siau Po. “Aku tidak sudi dekat denganmu!”

“Bukan!” sahut Pui Ie. “Lain kali kau jangan bicara yang bukan-bukan lagi di hadapan Lau suko. Kau masih kecil, kau harus hati-hati dengan kata-katamu. Dari mulut juga, orang bisa mendapatkan kesan baik di dirimu!”

Siau Po meleletkan lidahnya. Dia membungkam.

It Cou merasa puas melihat Pui Ie telah membelanya sebanyak dua kali. Di dalam hatinya dia berkata….

Setan cilik ini benar-benar busuk, justru hati Pui sumoay baik sekali….

Di dalam rombongan itu, usia Ci Tian yang paling tua. Tapi dia terhitung bawahan Siau Po. Karena itu dia tidak berani turut campur. Gouw Lip Sin dan Go Piu juga lebih tua dari Siau Po, namun mereka telah berhutang budi sehingga tidak leluasa mengatakan apa pun. Nona Bhok sendiri sudah mengatakan dia tidak sudi berbicara banyak lagi dengan si bocah. Maka di tempat itu, hanya Pui Ie seorang yang bisa mengendalikannya dan meredakan suasana yang tidak enak pada kedua pihak.

Ketujuh orang itu tetap duduk mengelilingi api unggun. Cuaca tetap gelap dan hujan masih mengucur deras. Karena kuil itu sudah tua sekali, terdapat kebocoran di sana sini yang membuat lantainya menjadi basah. Hampir tidak ada bagian yang kering. Tiba-tiba air hujan menetes membasahi bahu Siau Po sehingga dia terpaksa menggeser sedikit, namun disitu pun bocor.

“Kemari kau!” panggil Pui Ie. “Disini tidak bocor.” Siau Po tidak menyahut. Hanya matanya saja yang melirik ke arah si nona. “Kemari!” Panggil Pui Ie sekali lagi. “Jangan takut! Aku tidak akan memukulmu lagi.” Siau Po tertawa kecil. Perlahan-Iahan dia pindah ke samping gadis itu.

Pui Ie segera membisiki Kiam Peng dan gadis cilik itu pun menganggukkan kepalanya sambil tertawa. Kemudian dia membisiki Siau Po.

“Barusan Pui suci mengatakan bahwa dia dan engkau adalah orang sendiri. Itulah sebabnya dia berani memukul dan memarahi dirimu. Dia juga berharap selanjutnya kau jangan mengganggu Lau suko lagi. Dan Pui suci meminta aku menanyakan kepadamu, apakah kau sudah mengerti maksudnya?”

Siau Po mengawasi Siau kuncu dengan pandangan termangu-mangu.

“Apa sih artinya orang sendiri?” tanyanya dengan berbisik-bisik juga di telinga si nona yang kulitnya putih serta lembut. “Aku tidak mengerti….”

Kiam Peng sendiri tidak tahu apa artinya, karena itulah dia berbisik lagi kepada Pui Ie untuk menanyakannya.

Mendengar pertanyaan yang diajukan si bocah nakai, Pui Ie mendelikkan matanya, tapi dia berbisik juga kepada Kiam Peng.

“Kau katakan kepadanya bahwa aku telah bersumpah dan sumpah itu berlaku untuk seumur hidup. Karena itu dia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi!”

Kembali Kiam Peng membisiki Siau Po apa yang dikatakan Pui Ie.

“Baik!” sahut Siau Po. “Jadi Nona Pui dengan aku adalah orang sendiri? Lalu, bagaimana dengan dirimu?”

Wajah Siau kuncu jadi merah padam ditanya sedemikian rupa.

“Fuh!” Sebelah tangannya langsung melayang.

Siau Po menghindar dengan gesit, kemudian tertawa dan menoleh kepada Pui Ie. Dia menganggukkan kepalanya kepada gadis itu.

Pui Ie membalas tatapannya, merasa agak jengah tapi hatinya senang sekali. Wajahnya semakin cantik dan mempesona.

Sementara itu, Lau It Cou hanya memperhatikan tingkah laku ketiga remaja itu. Dia tidak dapat mendengar pembicaraan mereka. Duduknya memang agak jauh dan mereka berbicara dengan berbisik-bisik pula. Apa yang sempat tertangkap oleh telinganya hanya kata-kata ‘Lau suko’ dan ‘orang sendiri’.

Rupanya mereka menganggap aku orang luar…, pikimya. Hatinya panas sekali. Mendadak saja rasa cemburu memenuhi dadanya. Dalam pandangannya, Pui Ie itu tetap kekasihnya.

“Coba kau tanyakan kepadanya,” bisik Pui Ie kepada Kiam Peng. “Sebenamya akal apa yang digunakan olehnya sehingga Lau suko jadi tidak berdaya?”

Nona Bhok menurut. Dia menanyakannya kepada Siau Po. Bocah nakal itu memperhatikan Pui Ie. Dia mendapat kenyataan gadis itu ingin sekali mengetahui persoalan yang sebenamya. Karena melihat nona itu tidak marah lagi, Siau Po pun mau menjelaskannya. Dia berbisik di telinga Siau kuncu.

“Ketika aku membuang air kecil, aku membelakanginya. Aku menggunakan tangan kiri untuk menaburkan Bong Hoan Yok pada kue keringnya. Sedangkan kue yang kumakan, kugenggam dengan tangan kananku, karenanya tidak terkena obat bius itu. Nah, sekarang kau sudah mengerti, bukan?” sahutnya sambil tersenyum.

“Oh, rupanya demikian.” kata Kiam Peng yang langsung menyampaikan penjelasan SiauPo kepada Pui Ie.

“Dari mana kau mendapatkan obat bius itu?” tanya Kiam Peng kemudian.

“Aku mendapatkannya dari salah seorang siwi di istana.” kata Siau Po menjelaskan “Justru obat bius itu pula yang digunakan ketika aku menyelamatkan Lau suko meloloskan diri dari istana.”

Kiam Peng mengangguk. Sekarang dia benar benar sudah mengerti. Pada saat itu hujan masih turun, bahkan semakin deras. Suara di atas genting bising sekali. Karena itu, Siau Po terpaksa mengeraskan suaranya ketika membisiki si gadis.

It cou masih memperhalikan bagaimana kedua nona itu saling berbisik kemudian Siau kuncu berbisikan lagi dengan Siau Po. Dia menjadi gelisah sendiri. Akhimya dia berjingkrak bangun untuk berdiri, lalu menyenderkan tubuhnya pada sebuah tiang dengan keras karena perasaannya sengit sekali. Sekonyong-konyong terdengar suara derakan yang keras dari atas genteng, rupanya beberapa genteng jatuh karena goncangan pada tiang tadi.

“Celaka!” teriak Ci Tian Coan. “Kuil ini akan rubuh, cepat keluar!”

Semua orang merasa terkejut. Tidak terkecuali Lau It Cou sendiri. Ia memang sudah mengelak ketika beberapa genteng terjatuh tadi. Semuanya langsung melonjak bangun dan berhamburan lari ke luar dari kuil tua itu.

Belum seberapa jauh mereka berlari, tiba-tiba terdengarlah suara yang bergemuruh dan memekakkan telinga. Temyata seluruh sisa bangunan kuil itu ambruk sehingga tidak berbentuk lagi.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dari kejauhan terdengar suara samar-samar derap kaki kuda datang ke arah mereka. Kalau ditilik dari suaranya, kemungkinan jumlahnya mencapai belasan ekor, dan datangnya dari arah timur laut. Bahkan dalam sekejap mata, belasan penunggang kuda itu pun sudah tiba di hadapan mereka. Terdengar suara seseorang yang usianya sudah lanjut berkata.

“Sayang sekali! Di sini ada sebuah kuil yang cukup besar, tapi sudah roboh.”

“Hai, sahabat!” mendadak salah seorang penunggang kuda menegur Ci Tian Coan yang masih berkumpul menjadi satu dengan rekan-rekannya karena mereka memang belum sempat ke mana mana. “Sedang apa kalian di sini?”

“Barusan kami meneduh di dalam kuil,”sahut Tian Coan.”Apa mau dikata, tiba-tiba kuil itu roboh terlanda hujan deras dan angin kencang. Hampir saja kami semua mati tertimpanya.”

“Kurang ajar benar!” Terdengar gerutuan penunggang kuda yang ketiga. “Sudah hujan besar, tempat meneduh pun tidak ada! Lihat saja, kuil yang lainnya pun tidak ada yang utuh!”

“Tio losam, bagaimana sekarang?” Terdengar suara orang ke empat. “Kuil di sini sudah rubuh semuanya, apakah masih ada tempat meneduh yang lainnya?”

Advertisements

4 Comments »

  1. sambungannya lama bener ya…

    Comment by bastPPI — 13/01/2009 @ 1:57 pm

  2. wahlom tamat ya?ni seri yang ku cari.
    bisa di download ga ni?apa hrs copas

    Comment by zenth — 15/02/2009 @ 3:10 pm

  3. terserah anda mas. copas boleh kok.

    Comment by ceritasilat — 16/02/2009 @ 2:00 am

  4. wah thanks.
    oh ya bagian 12 lom diperbaiki ma bagian 30 lom ada tuh.
    sekali lagi thanks uda upload seri ini. soale seri ini yg plg wa suka dari chin yung.

    Comment by zenth — 19/02/2009 @ 4:21 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: