Kumpulan Cerita Silat

20/09/2008

Duke of Mount Deer (42)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:36 am

Duke of Mount Deer (42)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

“Bibi, ada baiknya bibi masuk saja menjadi anggota Tian-te hwe?” kata Siau Po kemudian. Dalam hatinya dia berpikir, jumlah anggota Tian-te hwe banyak sekali, sehingga bibinya tidak perlu merasa takut.

Hong Eng merasa heran dan menatap Siau Po lekat-lekat. “Mengapa kau menyuruh aku masuk menjadi anggota perkumpulanmu?” tanyanya.

“Tujuan Tian-te hwe ialah hendak menumbangkan pemerintah Boanciu serta membangun kembali kerajaan Beng,” katanya. “Jadi sejalan dengan cita-cita bibi sendiri.”

“Iya, tujuan itu memang baik sekali, tapi sebaiknya urusan ini kita bicarakan kelak saja. Sekarang aku akan pulang ke kotaraja. Bagaimana dengan kau sendiri? Kau akan ke mana?”

Siau Po merasa heran mendengar ucapan wanita itu.

“Bibi akan kembali ke kotaraja?” tanyanya. “Apakah bibi tidak takut terhadap ibu suri?”

To kionggo menarik nafas panjang. “Sejak kecil aku sudah tinggal di istana dan terus sampai sekarang ini,” sahutnya. “Karena itu, setelah kupikirkan bolak-balik, sebaiknya aku tetap di sana saja. Dengan berdiam di dalam istana, aku tidak pernah merasa takut, sedangkan di luar aku tidak mempunyai kenalan dan buta sama sekali dengan seluk-beluknya. Istana sangat besar, banyak tempat bagiku untuk bersembunyi, ibu suri tidak mungkin menemukan aku.”

“Baiklah,” kata Siau Po. “Bibi kembali saja ke istana, kalau ada kesempatan, aku akan menjenguk bibi di sana. Sekarang aku sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh guruku!”

Karena urusan yang dikatakan Siau Po menyangkut perkumpulan Tian-te hwe, To kionggo merasa tidak enak untuk menanyakannya.

“Kelak bila kau datang ke istana, bagaimana kau akan menemui aku?” tanyanya.

Siau Po memberikan jawaban tanpa berpikir lagi.

“Kalau aku kembali ke istana, aku akan menancapkan sebatang kayu di dekat tumpukan batu tempat pembakaran sampah, kayu itu berukir seekor burung kecil. Kalau bibi melihatnya, tentu bibi akan tahu kalau aku sudah pulang. Malam harinya aku akan datang ke tempat itu menunggu bibi!”

To Hong-eng menganggukkan kepalanya. “Bagus! Demikianlah perjanjian kita!” serunya. “Anak yang baik, dunia kangouw penuh dengan mara bahaya, kau harus berhati-hati dalam melakukan hal apa pun!”

Siau Po menganggukkan kepalanya dengan pcrasaan terharu.

“Terima kasih, bibi To,” katanya. “Pesan bibi akan senantiasa aku perhatikan. Demikian pula dengan bibi sendiri. Bibi harus berhari-hati. Si perempuan hina itu kejam dan jahat sekali. Hatinya beracun. Berjaga-jagalah agar bibi jangan sampai terjatuh ke tangannya!”

Kembali To kionggo mengangguk. Dia bersyukur sekali mendapatkan seorang keponakan yang begitu baik dan menyayanginya.

Sampai di situ, mereka naik kembali ke atas kereta untuk melanjutkan perjalanan. Setelah menempuh beberapa Ii, kereta dihentikan dan Siau Po pun melompat turun. Dia menyewa kereta sendiri untuk meneruskan misi yang diembannya. Tujuannya ke arah barat, sedangkan Hong Eng ke sebelah timur.

Beberapa kali Siau Po menolehkan kepalanya menatap kepergian wanita itu. Dalam hatinya dia berkata: ‘Dia bukan bibi asliku, tapi dia baik sekali kepadaku! ‘

Dalam perjalanan, Siau Po berusaha tidur sebentar. Ketika dia tersadar, dia mendapatkan hari sudah senja. Tepat pada saat itu, dia mendengar derap kaki kuda. Dia melongokkan kepalanya dan melihat seorang penunggang kuda sedang berusaha mengejar keretanya. Tiba-tiba terdengar suara sapaannya.

“Hai kusir! Apakah penumpangmu seorang bocah cilik?”

Hampir saja Siau Po melonjak bangun saking terkejutnya. Untung saja dia segera mengenali suara Lau It-cou. Tanpa memberi kesempatan kepada si kusir untuk mcnjawab, dia langsung berteriak.

“Lau toako! Apakah Lau toako mencari aku?”

Ketika itu, seluruh tubuh Lau It-cou bermandi keringat. Wajahnya kotor oleh debu. Ketika mengenali si bocah, dia berteriak dengan suara nyaring.

“Bagus! Akhirnya aku berhasil juga menemukan engkau!” kemudian dia melarikan kudanya lebih cepat lagi dan akhirnya menghadang ke depan kereta. Sekali lagi terdengar suara teriakannya. “Cepat kau menggelinding dari keretamu itu!”

Hati Siau Po tercekat. Dia melihat sikap Lau It-cou lain dengan biasanya. Caranya itu tidak bersahabat sama sekali bahkan terselip rasa permusuhan.

“Eh, Lau toako!” tanya Siau Po. “Apa salahku? Mengapa kau marah-marah?”

It Cou tidak menjawab. Cambuknya mengayunkan ke depan dan mengcnai kepala kuda yang menarik kcreta itu. Binatang tersebut kesakitan dan meringkik nyaring kemudian menghentak-hentakkan sepasang kaki depannya sehingga kereta itu terjungkit ke belakang serta membuat si kusir terjengkang!

Bukan main mendongkolnya hati si kusir. “Hai! teriaknya. “Tengah hari bolong bertemu setan? Kenapa tidak juntrungan menyerang kereta orang?”

Tampaknya It Cou sedang marah sekali. “Memang aku kejam! Memang aku jahat! Kau mau apa?” teriaknya berulang-ulang.

Kusir kereta itu mati kutu. Dia tengkurap terus di atas tanah agar tidak menjadi sasaran cambuk Lau It-cou, tapi pemuda itu sedang kesal dan penasaran. Dan mencaci maki kalang kabul. Cambuk di iangannya terus diayunkan sehingga akhirnya tubuh kusir kereta itu terlilit dan dihentakkan kcras-keras. Serangannya ini hebat sekali. Bukan hanya pakaian kusir itu saja yang koyak, bahkan dagingnya juga pecah dan darah pun bercucuran.

Siau Po heran sekali sampai-sampai dia jadi tertegun. ‘Sudah pasti dia mencari aku!” katanya dalam hati. ‘Aku bukan tandingannya. Setelah mcnghajar kusir kereta itu, dia pasti akan mencari aku. Oh! Kalau hal itu sampai terjadi, bahaya sekali!’

Berkat kecerdikannya, dia segera mcngeluarkan pisau belatinya yang tajam. Diam-diam dia menusuk pantat kuda itu sehingga kesakitan dan lari sekencang-kencangnya.

Melihat kereta itu kabur, Lau It-cou segera meninggalkan si kusir yang membuatnya kesal dan lari mcnyusul kereta sambil berulangkali mengayunkan cambuk ke bagian belakang kuda tunggangannya.

“Bocah!” teriak Lau It-cou. “Kalau kau laki-Iaki, jangan lari!”

Kereta masih terus melaju, Siau Po melongokkan kepalanya.

“Bocah yang baik!” sahutnya menggoda, dia meniru logat suara Lau It-cou. “Kalau kau seorang laki-laki, jangan mengejar aku!”

Bocah ini memang jenaka, orang mcnyuruhnya jangan lari, dia malah meneriaki agar orang jangan mengejarnya. It Cou gusar sekali. Dia mencambuki kudanya keras-keras sehingga binatang itu kesakitan dan semakin cepat larinya. Gerakan kereta sudah terhitung cepat, tapi tentu kalah dengan kuda tunggangan Lau It-cou. Dalam sekejap mata kereta yang ditumpangi Siau Po sudah tersusul.

Siau Po bingung juga. Dia ingin mcnyambit orang dengan pisau belatinya, tapi tidak yakin akan berhasil. Hatinya juga menjadi berat mengingat Pui Ie. Bukankah si nona cantik itu pacarnya Lau It-cou? Mana mungkin dia sampai hati mencelakai kekasih hati gadis pujaannya? Sebaliknya, kalau sampai gagal, dia menyayangkan pisau mustikanya itu….

Tidak ada jalan lain bagi Siau Po. Dia menghentakkan tali laso kudanya agar kereta di jalankan lebih kencang lagi. Tiba-tiba Siau Po merasakan sambaran angin dan tahu-tahu dia kesakitan. Ujung cambuk Lau It-cou mengibas pipinya.

Rupanya jarak Lau It-cou sudah dekat sekali. Begitu cambuknya digerakkan, luncurannya tepat mengenai sasaran, meskipun hanya pipi lawannya!

Walaupun sudah berusaha mengelakkan diri, Siau Po tetap merasakan pipinya nyeri dan panas. Dia meriahan rasa sakitnya. Sambil menunduk matanya melirik keluar.

Kuda Lau It-cou sudah hampir menempel dengan keretanya. Tentu dengan mudah pemuda itu bisa meloncat ke atas keretanya dan hal itu berbahaya sekali, Dia harus mencegahnya.

Bocah kita memang cerdas sekali. Dia segera mcrogosakunya dan mengeluarkan uang perak

Sebanyak tujuh delapan potong. Mendadak dia menundukkan kepalanya dan menyambitkan potongan-potongan uang perak itu ke arah kepala kuda Lau It-cou, Sebetulnya Siau Po tidak pernah belajar ilmu menyambitkan senjata rahasia, tetapi karena dia sekaligus menimpuk beberapa potong uang perak, jadi kebetulan salah satunya mengenai mata kiri kuda yang ditunggangi Lau It-cou.

Kuda itu tersentak kaget saking nyerinya. Binatang itu langsung kabur tanpa dapat dikendalikan lagi. Malah arah yang diambilnya ialah tepi jalan yang ada tanjakannya. Lau It-cou khawatir kudanya akan terjungkal dan dirinya pasti akan luka-luka terbanting dari atas kuda.

Karena itu dia segera melompat turun dari kudanya dan membiarkan binatang itu lari terus. “Kurang ajar!” teriak pemuda itu dengan hati mcndongkol.

Sebaliknya Siau Po masih kabur terus dengan keretanya. Dia melongokkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak, tangannya melambai-lambai kcpada Lau It-cou,

“Lau toako! Kau belum pandai menunggang kuda. Biar aku nasihati, sebaiknya kau tangkap seekor kura-kura kemudian kau tunggangi untuk mcngejar aku!”

Meskipun hatinya panas sekali, Lau It-cou tidak mempcrdulikan Siau Po. Dia menggunakan scgcnap tenaganya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya guna mengejar kereta Siau Po. Si bocah khawatir juga. Kembali dia menghentakkan tali laso kudanya. Beberapa kali dia menoleh ke belakang dan mendapatkan lawannya masih mengejar terus. Tampaknya lari It Cou cepat sekali. Jarak di antara keduanya tinggal dua tiga puluh tombak, dia malah mempercepat langkah kakinya.

‘Celaka kalau sampai tersusul olehnya!’ pikir Siau Po. “Rasanya sulit bagiku untuk meloloskan diri!’

Kembali Siau Po mengasah otaknya. Kemudian dia mengeluarkan pisaunya sekali lagi untuk menusuk pantat kuda itu. Maksudnya agar larinya lebih cepat lagi. Ternyata dugaan keliru. Kuda itu panik sekali karena kesakitan. Binatang itu memutar tubuhnya dan malah lari ke arah Lau It-cou!

‘Celaka! Celaka!’ teriak Siau Po dalam hati. Dia segera menarik tali laso kereta itu kuat-kuat, maksudnya agar kereta itu tertahan dan berputar ke arah semula. Tapi tenaganya kalah kuat, kereta masih meluncur terus.

‘Benar-benar celaka!’ lagi-lagi Siau Po berteriak dalam hati.

Melihat gelagat yang kurang baik itu, Siau Po jadi nekad. Dia melepaskan tali laso kuda itu kemudian melompat turun dari keretanya. Setelah itu dia lari ke tepi jalan untuk menyelusup ke dalam hutan. Dia bermaksud menyembunyikan diri di balik pepohonan yang rimbun.

Karena kereta itu kaburnya ke arah Lau It-cou, jarak antara kuda dan kereta semakin dekat. Begitu Siau Po melompat turun, Lau It-cou pun menyusulnya!

Sekarang jarak mereka semakin dekat, hanya tinggal beberapa tindak saja. Dengan sekali lompatan saja, tangan Lau It-cou sudah menjulur ke depan untuk mencengkeram bagian belakang leher baju Siau Po.

Si bocah cilik tercekat hatinya. Dia merasa takut, tapi berpikir untuk membela diri. Dia harus melakukan perlawanan. Dengan pisau belatinya ia menikam ke belakang.

Lau It-cou adalah murid pertama dari Tiat-pwe Cong Liang Liu Tay-hong yang merupakan jago nomor satu di antara keempat ke-ciang atau pelindung keluarga Bhok. Dapat dibayangkan kehebatan ilmu silatnya dan tentu jauh diatas Siau Po.

Dengan satu gerakan tangan kanan yang menggunakan jurus ‘Heng-in Liu-sui (Awan berarak, sungai mengalir) secara mudah dia berhasil mencekal lengan Siau Po yang kemudian langsung ditelikungnya. Dengan demikian, otomatis pisau yang tadinya mengincar Lau It-cou sekarang malah mengancam dirinya sendiri.

“Bangsat kecil! Kau masih berani melawan?” bentak pemuda itu.

Siau Po terkejut juga takut. Lengannya terasa nyeri dan lehernya juga terancam pisau belatinya sendiri. Dia maklum sekali ketajaman pisau itu, Apahila Lau It-cou menekan tangannya sedikit lagi, tenggorokannya pasti bolong oleh pisau bclatinya sendiri. Tapi dasar anak bengal dan otaknya cemerlang, bukannya memohon pengampunan, dia malah tertawa.

“Lau toako!” katanya. “Mari kita bicara baik-baik! Kita kan orang sendiri. Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?”

“Fuh!” Lau It-cou membuang ludah ke atas tanah. “Masih berani kau mengatakan orang sendiri? Ketika di dalam istana, berani sekali kau mengelabui Pui sumoay! Mengapa kau berani tidur di atas tempat tidur dengannya? Tidak bisa tidak, kau harus kubunuh!”

Ketika berbicara, urat-urat hijau di pelipisnya bertonjalan. Matanya menyorotkan sinar’ kemarahan. Tampangnya sungguh menyeramkan!

Sekarang Siau Po baru mengerti apa sebab kemarahan Lau It-cou. Dia hanya merasa heran bagaimana Lau It-cou bisa tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Pui Ie. Dia juga sadar dirinya tengah menghadapi ancaman maut. Tangannya tercekal erat, sedangkan pisau belati mengancam lehernya. Dia tidak berkutik sama sekali, tapi masih saja Siau Po tertawa.

“Lau toako, nona Pui adalah jantung hatimu,” katanya. “Bagaimana aku berani bersikap kurang ajar terhadapnya? Di dalam hati nona Pui hanya ada kau seorang. Kau tahu? Siang malam hanya engkau yang dipikirkannya!”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya It-Cou. Dia jadi suka bicara dan hawa amarahnya agak mereda. “Karena dia memohon padaku agar membebaskan kau dari penjara,” sahut Siau Po. “Seperti kau ketahui, kau toh benar-benar bebas sekarang. Aku tidak bisa melukiskan, betapa senangnya nona Pui ketika mengetahui kau sudah selamat!”

Mendadak hati It Cou jadi panas kembali. Dia menggertakkan giginya erat-erat.

“Kau si telur anjing! Lohu tidak sudi menerima budimu!” teriaknya garang. “Kau tolong aku, syukur. Tidak kau tolong juga tidak apa-apa. Tapi, mengapa kau harus menipu adik seperguruanku agar sudi menikah denganmu, menjadi istrimu?”

“Ah, toako!” seru Siau Po yang cerdik. “Mana ada kejadian seperti itu? Siapa yang mengatakannya? Nona cantik dan manis laksana bunga seperti nona Pui Ie hanya pantas bersanding dengan Lau toako yang gagah dan tampan!”

Kembali hawa amarah dalam dada Lau It-cou reda tiga bagian. Hatinya senang mendengar pujian bagi dirinya serta kekasihnya.

“Masih kau menyangkal?” tanyanya pula. “Benar atau tidak kalau adik Pui-ku itu sudah menyatakan kesediaannya untuk menikah denganmu?”

Siau Po bukannya menjawab, malah tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau tertawakan?” bentak It Cou heran, matanya menatap si bocah dengan tajam.

“Eh, Lau toako, ke sini dulu. Aku ingin bertanya kepadamu,” sabut Siau Po. “Apakah seorang thaykam atau orang yang sudah dikebiri bisa menikah?”

Lau It-cou langsung berdiri terpaku mendengar pertanyaan bocah itu. Dia menatap Siau Po lekat-lekat. Pikirannya kacau. Dia mengasah otaknya dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Memang benar, mana mungkin seorang thaykam bisa menikah?

Meskipun tertawa, It Cou tidak segera melepaskan cekalannya pada tangan Siau Po.

“Sekarang giliran aku yang bertanya,” katanya. “Mengapa kau membohongi adik Pui sehingga dia menyatakan kesediaannya menikah denganmu? Mengapa kau mengatakan padanya bahwa kau ingin menikahinya?”

Kembali Siau Po tertawa. “Lau toako, bolehkah aku bertanya kepadamu?” kata Siau Po. “Dari mana kau mendengar hal ini?”

“Aku mendengar sendiri ketika adik Pui berbicara dengan Siau kun cu!” sahut It Cau. “Kau pikir aku berbohong?”

“Toako, mereka sedang berbicara berdua atau kakak Pui sendiri yang mengatakannya kepadamu?” tanya Siau Po ingin mendapat kepastian.

It Cou diam. Hatinya ragu-ragu.

“Mereka berdua sedang berbicara,” sahutnya selang sejenak.

Sebetulnya duduk persoalannya begini: Ketika Ci Tian-coan mengantarkan nona Pui dan nona Bhok menuju dusun Cioki cung, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Gouw Lip-sin dan Go Piu. Ketika ditahan dalam istana, Gouw Lip-sin mengalami berbagai siksaan. Tubuhnya terluka di sana-sini. Untung saja ototnya tidak ada yang putus. Karena itu dia naik kereta dan bermaksud mencari tabib di dusun Cioki cung. Tentu saja pertemuan itu menggembirakan keduabelah pihak. Cuma, tampak perbedaan pada diri It Cou serta Pui Ie. Sikap mereka tawar sekali. Tidak akrab dan ramah sebagaimana biasanya.

It Cou justru merasa heran. Dia merasa penasaran dan kurang puas. Dia ingin mengetabui apa yang menyebabkan perubahan si nona. Beberapa kali dia mengajak Pui Ie memisahkan diri dengan yang lainnya agar mereka bisa bicara berdua, tapi Pui Ie selalu mencari alasan dan selalu berada di samping Kiam Peng seakan tidak sudi berpisah sedetik pun dengan Siau kuncu itu.

Lama-lama It Cou semakin bingung. Dia tidak tahu apa sebabnya dan tidak dapat menerkanya. Saking penasaran, satu kali dia mencoba mendesak. Tidak disangka-sangka Pui Ie justru berkata terus terang bahwa hubungan mereka selanjutnya hanya antara kakak dan adik seperguruan saja, lain tidak. Pui Ie juga meminta dia jangan mengungkit yang telah lalu dan menyuruh It Cou melupakannya!

Pada saat itu hati It Cou tercekat. Dia juga merasa bingung. “Sumoay, ada apa sebenarnya?” tanyanya penasaran,

“Tidak apa-apa,” sahut Pui Ie dingin dan singkat.

It Cou menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya. “Su… moay…” katanya. “Kau…?”

Pui Ie mengibaskan tangan sukonya itu. “Berlakulah sopan sedikit, Lau suko!” katanya ketus.

It Cou tertegun. Dia merasa kecewa dan malu.

Malam itu, di dalam kamarnya Lau It-cou sulit pulas. Dia bergolek kesana kemari. Pikirannya ruwet. Ada apa dengan kekasihnya? Akhirnya dia turun dari lempat tidur dan berjalan keluar. Kemudian dia menuju kamar Pui Ie dan Kiam Peng. Di dekat jendela, dia memasang ielinga.

Kebetulan sekali, kedua nona itu sedang berbincang-bincang.

“Cici, kau perlakukan dia demikian tawar, apakah kau tidak khawatir hatinya menjadi sedih?” terdengar suara Kiam Peng bertanya.

“Habis, apa lagi yang dapat kulakukan?” sahut Pui Ie. “Biarlah sekarang hatinya sedih. Lama-lama dia akan biasa kembali. Waktu akan menyembuhkan segala macam duka….”

“Apakah… cici… sudah yakin akan menikah dengan si bocah Wi Siau-po?” tanya Kiam Peng kembali. “Dia masih begitu muda, mana mungkin cici menjadi istrinya?”

Ditanya seperti itu, Pui Ie menatap Kiam Peng lekat-lekat. “Kau sendiri ingin menikah dengan kunyuk kecil itu sehingga kau menganjurkan aku kembali kepada Lau suko, benar bukan?”

“Bukan! Bukan!” sangkal Kiam Peng cepat. “Kau saja yang menikah dengan kunyuk kecil itu!”

Pui Ie menarik nafas panjang. “Aku sudah berjanji, bahkan bersumpah!” katanya. “Mana mungkin aku melupakannya? Pada saat itu, aku bilang begini: Raja Langit di atas dan Ratu Bumi di bawah, kalau Kui kongkong berhasil menolong Lau suko sehingga dapat meloloskan diri dengan selamat, aku Pui Ie bersedia menikah dengannya dan menjadi istrinya untuk seumur hidupnya! Andaikata aku mengingkari janjiku ini, biarlah aku merasakan berlaksa penderitaan terlebih dahulu sebelum menjelang kematian. Bahkan aku juga menambahkan, ‘Siau kuncu menjadi saksinya!’ Bukan? Nah, aku tidak melupakan apa yang pernah kuucapkan, dan tentunya kau juga tidak melupakannya, bukan?”

“Memang kau telah mengucapkan sumpah itu,” kata Kiam Peng. “Tapi aku rasa si kunyuk kecil itu hanya bergurau, bukan serius!”

“Main-main atau serius, sama saja bagiku!” kata Pui Ie tegas. “Kita kaum perempuan, sekali kita sudah berjanji akan menyerahkan diri, tidak dapat kita tarik pulang kembali! Sudah selayaknya kita mengikuti seorang laki-Iaki untuk selama-lamanya. Lagipula… lagipula….”

“Lagipula apa?” tanya Kiam Peng.

“Aku telah memikirkannya matang-matang,” sahut Pui Ie. “Seandainya dia tidak serius dan janjiku itu dapat ditarik kembali, tapi… kita sudah pernah berbaring di atas satu tempat tidur dengannya dan sama-sama mengenakan sehelai selimut….”

Tiba-tiba saja Kiam Peng tertawa geli. “Kunyuk itu memang luar biasa nakalnya,” katanya. “Malah dia membawa-bawa cerita Eng Liat toan yang katanya sama dengan apa yang kita alami. Saat itu dia mengatakan: Bhok ongya mengamankan propinsi Inlam dengan tiga batang anak panahnya, Kui kongkong merangkul sepasang nona cantik dengan kedua belah lengannya. Suci, waktu itu dia benar-benar memelukmu, bukan?”

Pui Ie menghela nafas agar dadanya tidak begitu sesak.

Sementara itu, bukan main bingungnya perasaan It Cou mendengar pembicaraan kedua gadis itu, Hatinya menjadi panas sekaligus sedih. Urusan ini terasa sulit baginya. Pui Ie bersedia menyerahkan diri pada Siau Po atau Kui kongkong karena telah menolong dirinya bebas dari tempat musuh. Tanpa pertolongan bocah itu, kemungkinan sekarang kepalanya sudah terpisah dari batang lehernya dan jadi setan gentayangan. Kepalanya menjadi pusing dan kedua lututnya terasa lemas dan tubuhnya terhuyung-huyung hampir jatuh. Dia berusaha menekan hawa amarah dalam dadanya.

Kemudian dia mendengar lagi suara Pui Ie yang berkata: “Memang dia masih muda sekali, tapi dia pandai bicara. Tidak kalah dengan orang dewasa. Yang terutama, dia memperlakukan kita dengan baik sekali. Budinya terhadap kita besar sekali, bukankah dia yang menolong kita melarikan diri dari istana? Bahkan di dalam istana, dia tidak memperdulikan segala ancaman maut untuk melindungi kita. Sekarang kita telah berpisah dengannya. Entah kapan kita baru bisa berjumpa kembali…?”

Kembali Kiam Peng tertawa. “Suci, rupanya kau sedang memikirkannya?” tanyanya. “Apakah kau merasa rindu padanya?”

“Lalu, kalau aku memang memikirkannya dan rindu kepadanya, bagaimana?” Pui Ie balik bertanya.

“Sebenarnya, suci,” kata Kiam Peng. “Aku juga tengah memikirkannya. Beberapa kali sudah aku mengajaknya datang bersama-sama ke dusun Cioki cung ini, tapi dia selalu menolak. Katanya dia mempunyai tugas yang penting sekali. Cici, coba kau terka, apakah dia berbicara yang sebenarnya atau hanya ingin mengelabui kita?”

“Ketika singgah di rumah makan, aku pernah mendengar dia berbicara dengan kusir kereta,” kata Pui Ie. “Dia menanyakan jalanan menuju Shoa Say. Mungkin dia akan pergi ke sana….”

“Dia masih muda sekali dan sekarang melakukan perjalanan seorang diri. Bukankah berbahaya sekali?” kata Kiam Peng. “Bagaimana kalau dia bertemu dengan penjahat?”

Pui Ie menarik nafas panjang. “Pernah terpikir olehku untuk berbicara dengan Ci loyacu agar dia tidak usah mengantarkan kita. Ingin aku meminta orang tua itu untuk melindungi dia, tapi Ci loyacu pasti tidak akan menerimanya”

“Cici ”

“Apa, moaymoay?”

“Ah, tidak apa-apa….” Tampaknya Kiam Peng membatalkan apa yang ingin dikatakannya.

“Sayangnya kita berdua masih sama-sama terluka…” kata Pui Ie. Kalau tidak, pasti kita bisa pergi bersamanya ke Shoa Say….”

Mendengar pembicaraan kedua nona itu, kepala Lau It-cou semakin berat. Mendadak tubuhnya limbung dan kepalanya membentur jendela, Kakinya tidak dapat berdiri tegak.

“Siapa?” bentak Kiam Peng dan Pui Ie yang merasa terkejut sekali.

It Cou tidak sampai jatuh. Rasa sakit di kepalanya yang terbentur menyadarkannya. Hatinya panas sekali sehingga tidak mendengar suara bentakan kedua nona itu. Dia malah berteriak dalam hati. ‘Aku akan membunuh bocah itu! Aku harus membunuhnya!’

Lau It-cou segera lari keluar rumah untuk mencari kudanya dan terus melarikannya. Dia mengambil arah barat karena menurut pembicaraan Pui Ie tadi, bocah kurang ajar itu berangkat ke Shoa Say.

Sampai terang tanah, Lau It-cou masih melarikan kudanya, tapi sekarang dia sering bertanya kepada orang-orang mana jalan menuju ke Shoa say. Setiap kali bertemu kereta yang sedang bergerak, dia selalu bertanya pada kusirnya: “Apakah penumpangmu seorang bocah cilik?”

Demikianlah Lau It-cou memberikan keterangannya ketika Siau Po meminta penjelasan. Sekarang Siau Po tahu bahwa Lau It-cou hanya mendengar sebagian saja dari pembicaraan antara Pui Ie serta Kiam Peng.

Karena itu, dia segera tertawa dan berkata. “Lau toako, ternyata kau sudah ditipu oleh adik seperguruanmu itu!” ‘

“Aku ditipu Pui Ie?” tanya Lau It-cou bingung. “Bagaimana caranya?”

“Duduk persoalan yang sebenarnya begini, Lau toako,” kata Siau Po dengan nada sabar. “Ketika terkurung di dalam istana, nona Pui pernah berkata kepadaku, bahwa dia sungguh-sungguh berniat menolongmu, tapi sebaliknya selama ini kau selalu bersikap acuh tak acuh kepadanya. Menurutnya kau kurang perhatian.”

It Cou heran sekali. “Mana ada kejadian seperti itu?” katanya “Mana mungkin aku bersikap acuh tak acuh kepadanya?”

“Bukankah kau pernah menghadiahkan sebuah tusuk konde kepadanya?” tanya Siau Po. “Tusuk konde itu berbentuk bunga Bwe?”

“Benar!” sahut It Cou penuh semangat. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Ketika bertempur di istana, tusuk konde itu terjatuh,” kata Siau Po. “Nona Pui kebingungan setengah mati, karena tusuk konde itu merupakan hadiah dari kekasihnya. Menurutnya, tusuk konde itu tidak boleh hilang. Biar bagaimana dia harus mendapatkannya kembali. Demi tusuk konde itu, dia bersedia mengadu jiwa!”

It Cou tcrdiam. Pandangannya termangu-mangu. “Oh, dia begitu baik kepadaku?” tanyanya kemudian.

“Pasti!” sahut Siau Po. “Masa dia berbohong dalam keadaan seperti itu?”

“Lalu, bagaimana?” tanya It Cou yang jadi tertarik.

“Kau mencekal aku begini keras, aku kesakitan setengah mati!” kata thaykam palsu yang cerdik ini. “Mana mungkin aku berbicara dengan leluasa?”

“Baik!” kata Lau It-cou yang kemarahannya sudah reda setengah bagian. Dia juga yakin bocah itu tidak sanggup meloloskan diri dari tangannya. Setelah melepaskan cekalannya dia bertanya. “Apa yang terjadi kemudian?”

Perlahan-Iahan Siau Po menyimpan pisau belati di dalam kaos kakinya. Kemudian dia juga menggunakan kesempatan itu untuk mengurut tangannya yang biru matang serta bengkak karena cekalan Lau It-cou yang keras. Setelah itu dia berkata.

“Orang-orangnya Bhok onghu paling pintar dan gemar memencet tangan lawan,” katanya. “Kau begitu, Pek Han-hong juga begitu! Iya, memang benar. Mengapa aku sampai lupa! Ilmu Ku-jiau jiu dari keluar Bhok memang sudah terkenal sekali!”

Kata-kata Siau Po itu merupakan sindiran tajam. Karena Ku-jiau jiu artinya ‘Ilmu cakar kura-kura.’

Lau It-cou tidak menaruh perhatian pada ucapan Siau Po itu. Dia juga tidak dapat menangkap makna yang terselip di dalamnya.

“Bagaimana sikap Pui sumoay setelah kehilangan tusuk konde pemberianku itu?”

“Dengan ilmu Ku-jiau jiu, kau telah membuat tanganku bengkak dan sakit. Aku harus mengatur pernafasan dulu baru bisa bicara dengan lancar.” Kata Siau Po yang masih juga mempermainkan si pemuda keblinger itu. Dia sengaja memperpanjang waktu agar otaknya bisa bekerja mencari akal. Pokoknya dia harus bisa meloloskan diri tanpa kurang apa-apa. “Biarkan aku beristirahat sebentar. Urusan ini penting sekali dan menyangkut apakah kau akan mendapatkan istrimu atau tidak!”

Dia terus mengurut-urut tangannya yang biru matang. Sementara itu, Lau It-cou sekarang sudah mengerti apa artinya kata Ku-jiau jiu yang diucapkan Siau Po, tapi dia tidak memperdulikannya. Perhatiannya sedang terpusat pada hal lainnya. ‘Apalagi Siau Po mengatakan ‘ada sangkutannya apakah kau akan mendapatkan istrimu atau tidak?’

“Cepat kau ceritakan!” desak It Cou. “Sudah, jangan bertele-tele lagi!”

“Mari duduk dulu…”ajak Siau Po dengan sabar. “Mari kita istirahat sejenak. Setelah pernafasanku lurus, tentu aku bisa bercerita dengan lancar. Kau pasti mendapatkan keterangan yang kau inginkan..,

Mau tidak mau, It Cou terpaksa menuruti ajakan si bocah tersebut.

Siau Po berjalan ke bawah sebatang pohon yang rimbun dan duduk di sana. It Cou menghampiri dan duduk di sisinya, Dia tidak mau jauh-jauh dengan Siau Po karena khawatir bocah yang licin itu akan kabur darinya.

Siau Po menarik nafas panjang beberapa kali. “Sayang… sayang…” katanya berulang kali.

“Apanya yang sayang?” tanya It Cou sambil mengawasi wajah bocah itu.

“Sayang sekali nona Pui tidak ada di sini…” sahut Siau Po sambil memperlihatkan tampang muram.

“Coba kalau dia ada di sini dan duduk berdampingan denganmu, tentu bahagia sekali bila kalian dapat berbicara berduaan dengan mesra!”

Senang sekali hati It Cou mendengar ucapan bocah itu. Tanpa sadar ia tersenyum. “Bagaimana kau mempunyai pikiran seperti itu?” tanyanya.

“Karena aku pernah mendengar perkataan nona Pui,” sahut Siau Po. “Hari itu, ketika tusuk kondenya hilang, nona Pui langsung nekat. Dia menerjang tiga pos dalam istana yang dijaga para siwi. Meskipun dia sendiri terluka, tapi dia juga merobohkan tiga orang pengawal. Akhirnya dia berhasil mendapatkan tusuk kondenya kembali. Tahukah kau apa bagaimana pikirannya saat itu?”

It Cou menggelengkan kepalanya. Dia masih menunggu kata-kata Siau Po.

“Saat itu aku berkata kepadanya: ‘Nona, mengapa kau begitu bodoh? Berapa sih harganya sebuah tusuk konde sampai kau harus menempuh bahaya sebesar ini? Nanti aku akan memberimu uang sebanyak seribu tail dan kau bisa memesan tusuk konde seperti itu sampai empat ribuan batang. Biarpun nona memakainya secara bergantian siang dan malam, berarti dalam satu tahun setiap hari kau akan memakai tusuk konde baru. Nah, tahukah kau apa jawaban nona Pui?”

Sekali lagi It Cou menggelengkan kepalanya.

“Nona itu langsung berkata begini kepadaku: ‘Kau anak kecil tahu apa? Ini hadiah dari Lau suko yang baik hati dan sangat mencintaiku! Meskipun kau menghadiahkan seribu batang atau selaksa batang tusuk konde yang dibuat dari emas murni dan bertaburan mutiara, tetap saja tidak bisa menyamai tusuk konde pemberian Lau sukoku ini! Bagiku, yang penting hadiah ini dari Lau suko, tidak perduli bahannya dari pcrak, tembaga atau besi rongsokan sekalipun. Nah, Lau toako, coba kau pikir, bukankah nona Pui itu tolol sekali?”

Bukannya mendongkol atau marah, Lau It-cou malah tertawa lebar. la merasa kata-kata bocah di sampingnya itu lucu sekali.

“Aku ingin bertanya kepadamu,” kata It Cou. “Apakah sepanjang malam itu sumoay hanya membicarakan soal tusuk konde saja?”

“Lau suko, Siau Po tidak menjawab, dia malah bertanya. “Lau toako, kau mencuri dengar pembicaraan mereka hampir sepanjang malam?”

Wajah It Cou jadi merah padam. Dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Siau Po.

“Sebenarnya aku tidak bermaksud mencuri dengar pembicaraan mereka,” katanya dengan maksud membersihkan diri. “Malam itu aku terbangun karena ingin membuang air kecil. Ketika lewat di sisi kamar mereka, aku mendengar suara pembicaraan mereka…. ”

“Nah, Lau toako! Perbuatanmu itu tidak dapat dibenarkan!” kata Siau Po. “Masa kau tidak bisa membuang air kecil di tempat lain? Kenapa kau justru memilih bawah jendela kamar kedua nona itu? Apakah kau tidak khawatir air senimu itu akan memancarkan bau harum semerbak sehingga nona pujaan hatimu itu jadi mabuk kepayang karenanya, sedangkan kedua nona itu begitu cantik dan rupawan?”

It Cou semakin jengah. “Iya, iya. Kau benar!” sahutnya. “Kemudian, apalagi yang dikatakan adik seperguruanku itu?”

Rupanya pemuda ini tertarik sekali dengan cerita Siau Po sehingga dia tidak jemu-jemunya mengajukan pertanyaan.

“Perutku kosong, aku lapar sekali,” kata Siau Po.”Aku kehabisan tenaga untuk bercerita. Sudilah kiranya kau pergi membelikan makanan agar aku bisa mengisi perut. Setelah perutku kenyang, aku bisa bercerita panjang lebar dan hatimu pasti akan tergetar mendengarnya!”

“Apanya yang menggetarkan hati?” tanya It Cou. “Pui sumoay adalah seorang gadis yang polos dan tulus. Belum pernah dia mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh….”

“Betu!!” kata Siau Po. “Dia memang tulus dan polos. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, tapi aku ingat dia pernah mengatakan: ‘Lau sukoku yang baik hati. Lau sukoku yang gagah dan tampan!’ Nah, kata-kata itu manis sekali bukan? Entahlah bagaimana perasaanmu, menurutku kata-katanya itu enak sekali kedengarannya.”

Hati It Cou benar-benar senang mendengar keterangan Siau Po. Tapi dia masih belum yakin. “Benar?” tanyanya. “Benarkah Pui sumoay pernah berkata demikian?”

“Benar atau tidak, terserah dirimu sendiri, Lau toako!” kata Siau Po. “Aku hanya mengatakan apa yang menjadi kenyataan! Nah, sudahlah, aku akan pergi mencari makanan. Maafkan aku, toako!”

Selesai berkata Siau Po langsung berdiri. It Cou sedang penasaran mendengar cerita bocah itu, mana mau dia melepaskannya begitu saja? Dia segera menekan bahu bocah itu.

“Sabar saudara Wi,” katanya. “Jangan terburu-buru pergi. Aku membekal ransum kering. Silahkan makan! Nanti, kalau kau sudah selesai bercerita, aku akan mengajakmu ke kota di depan sana. Kita cari sebuah rumah makan. Aku ingin mengundangmu makan dan minum sebagai perrnintaan maaf atas kesalahanpahaman ini,” Lau It-cou segera mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi kue kering. Lalu disodorkannya kehadapan bocah itu.

Siau Po mengambil satu potong kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Setelah dikunyah, dia merasa kue itu tidak ada sari manisnya. Rasanya tawar sekali.

“Kue apa ini?” tanyanya sembari mengambil sepotong lagi dan diserahkannya kepada Lau It-cou, Lau It-cou menyambut kue itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Kue ini memang keras, tidak enak. Tapi lumayanlah untuk mengganjal perut,” katanya.

Siau Po memeriksa kue lainnya. Semuanya terdiri dari beberapa jenis.

“Bagaimana dengan yang ini?” Dia mengambil beberapa potong kemudian dibolak-balikkannya satu per satu. “Ah! Ada-ada saja!” Aku mau buang air kecil,” katanya sambari berjalan menuju belakang pohon dan membuka celananya.

It Cou membiarkan Siau Po pergi, tapi dia tetap mengawasinya. Sebentar saja Siau Po sudah kembali lagi dan duduk di samping Lau It-cou. Dia membolak-balik lagi sepotong kue kemudian memasukkannya ke dalam mulut untuk dicicipi.

It Cou sendiri sudah merasa letih karena mengejar bocah itu sepanjang malam. Dia menjemput sepotong kue dan memakannya. Perutnya juga sudah lapar, tapi dia masih ingin tahu kelanjutan cerita Siau Po .

“Apa benar Pui su moay berkata begitu di hadapan Siau kuncu? Mungkinkah dia hanya mempermainkan perasaanku?”

“Aku toh bukannya belatung dalam perut sumoaymu itu, mana aku tahu apa yang dipikirnya?” sahut Siau Po. “Kau kan kakak seperguruannya yang paling baik dan dekat. Mengapa kau tidak tahu sifatnya? Kok, kau malah tanya kepadaku?”

“Sudahlah, adik,” kata It Cou. “Tadi aku salah paham kepadamu. Aku harap kau suka memaklumi pcrasaanku. Saudaraku, aku minta kau mau menceritakan semuanya kepadaku.”

“Kalau begitu, baiklah aku bicara terus terang,” kata Siau Po. “Nona Pui, adik sepcrguruanmu itu memang manis dan cantik sekali. Seandainya aku bukan seorang thaykam, tentu aku suka sekali bisa menikah dengannya, tapi ada satu hal yang perlu aku jelaskan. Meskipun aku tidak bisa menikah dengannya… aku khawatir kau juga tidak mempunyai kesempatan….”

It Cou merasa heran. Dia menatap Siau Po lekat-lekat,

“Kenapa?” desaknya.

“Jangan terburu nafsu, sobat!” katanya sabar. “Nanti perlahan-lahan aku akan menjelaskan sebabnya….”

“Ah! Kau sengaja main gila! Caramu ini benar-benar membuat nafsu makanku hilang!! bentak It Cou. Baru saja selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung.

“Eh, kenapa kau?” tanya Siau Po dengan tampang keheranan. “Apakah kau tiba-tiba jadi sakit? Atau kuemu itu kurang bersih?”

“Apa katamu?” tanya It Cou. Dia berusaha untuk bangun, tapi mendadak dia merasakan tubuhnya lemas, tenaganya tidak ada sehingga dia menggeletak di atas tanah dekat bawah pohon.

Tiba-tiba saja Siau Po tertawa terbahak-bahak. Dengan sebelah kakinya, dia menendang pantat Lau It Cou.

“Eh, mengapa di kuemu ada obat biusnya? Aneh bukan?”

It Cou roboh dengan mengeluarkan seruan tertahan. Ketika Siau Po menendangnya, dia tidak merasakan apa-apa lagi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: