Kumpulan Cerita Silat

15/09/2008

Duke of Mount Deer (41)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:32 am

Duke of Mount Deer (41)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

“Anak,” setelah sekian lama, terdengar dayang itu berkata kembali. “Aku she To, nama lengkapku Hong Eng. Aku masuk ke dalam istana sejak berusia dua belas tahun dan di tahun kedua aku mulai melayani Tiang kongcu….”

“Tiang kongcu?” tanya Siau Po menegaskan.

“Benar!” sahut To kionggo. “Pada waktu Sri Baginda Cong Ceng meninggalkan istana, dengan satu tebasan dia mengutungkan lengan Tiang kongcu. Ketika itu aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Aku langsung menghambur ke arah tuan putri untuk menolongnya. Justru pada saat itulah Sri Baginda mengayunkan goloknya kembali dan tepat mengenai punggungku. Aku pun roboh dan pingsan. Ketika akhirnya aku tersadar kernbali, aku tidak melihat Tiang kongcu lagi. Keadaan di istana sudah kacau balau. Tidak ada orang yang memperdulikan diriku. Tidak lama kemudian muncullah pengkhianat yang menyerbu istana. Setelah itu datang bangsa Tatcu yang mengusir pengkhianat itu dan akhirnya bangsa Boan yang memerintah negara ini. Yah… urusan itu sudah terjadi lama sekali….”

“Oh, rupanya bibi masuk ke dalam istana semenjak Sri Baginda Cong Ceng dari dinasti Beng masih memegang tampuk pemerintahan!” kata Siau Po dengan pandangan kagum.

“Benar, anak!” sahut To kionggo.

“Tapi…”kata Siau Po. “Bukankah Tiang kongcu itu puteri Sri Baginda Cong Ceng? Mengapa raja membacok anaknya sendiri?”

To kionggo mcnarik nafas panjang.

“Memang Tiang kongcu putrinya sendiri, bahkan raja sangat menyayanginya,”sahut To kionggo. “Tapi karena kotaraja sudah terjatuh ke tangan musuh dan sudah menduduki istana, Sri Baginda Cong Ceng ingin mengorbankan dirinya. Dia tidak sanggup membela diri lagi, namun tidak rela putrinya terjatuh ke tangan musuh. Karena itulah, beliau mengambil jalan pendek dengan maksud membunuh Tiang kongcu!”

“Oh, begitu…” kala Siau Po. “Bukankah belakangan Sri Baginda Cong Ceng mati menggantung diri di bukit Bwe San?”

“Di kemudian hari, memang berita itulah yang kudengar. Bangsa Tatcu bisa masuk ke Tionggoan karena ada Go Sam-kui yang membukakan pintu setelah pengkhianat penyerbu berhasil diusir. Setelah bangsa Boan menduduki istana, di antara para dayang dan thaykam yang masih ada hanya tinggal beberapa orang saja. Yang lainnya dipecat karena diragukan kesetiaannya. Sedangkan aku sendiri masih kecil, juga terluka. Aku dibiarkan berbaring dalam sebuah kamar yang remang-remang. Singkatnya, tiga tahun kemudian aku baru bertemu dengan guruku.”

“Bibi, ilmu silat bibi tinggi sekali, tentunya guru bibi luar biasa lihaynya!” kata Siau Po.

“Tentang kepandaian, tidak bisa dipastikan. Di dalam negeri kita ini, entah ada berapa banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi. Guruku itu juga menerima perintah dari gurunya lagi untuk menyelundup ke dalam istana dan menyamar sebagai dayang!”

Sembari berkata, To kionggo mengayunkan cambuknya lebih keras agar kereta berjalan lebih cepat.

“Tujuan guruku masuk ke dalam istana adalah untuk mencari ke delapan perangkat kitab Si Cap Ji cin-keng,” katanya menjelaskan lebih jauh.

“Jadi… kitab itu terdiri dari delapan perangkat?”

“Benar. Bangsa Boan Ciu terdiri dari Pat ki (delapan bendera). Warna kuning, putih, merah dan biru disebut Suki (empat bendera) dan ada lagi Siang suki (Empat bendera bersulam). Setiap Ki Cu (Pemimpin bendera) mengepalai satu bagian atau kelompok. Semuanya terdiri dari delapan kelompok dan otomatis kitabnya juga ada delapan.”

“Aku mengerti sekarang,” kata Siau Po. “Aku pernah melihat kitab milik thayhou serta dua jilid lainnya yang disita dari rumah Go Pay. Semua kitab itu berlainan warnanya. Ada yang bertali putih, ada pula yang bersulam tepian merah.”

“Tentang tali atau sulamannya yang warnanya berbeda-beda, aku tidak tahu,” kata To kionggo. “Aku sendiri belum pernah melihatnya.”

Sementara itu, Siau Po berpikir. ‘Aku telah memiliki enam jilid kitab itu, berarti masih kurang dua jilid lagi. Entah apa keistimewaan kitab itu? Tentunya bibi To mengetahui rahasia itu. Aku harus mencari akal untuk menanyakannya. Tapi harus tanpa dicurigai atau diketahui maksudku yang sebenarnya….’ Karena itu dia segera berlagak pilon dan berkata:

“Oh, rupanya nenek guru memuja Pousat dan Sang Buddha! Kitab dari istana itu tentu luar biasa sekali, kemungkinan hurufnya ditulis dengan air emas!”

“Bukan!” sahut To kionggo. “Keponakanku yang baik, biarlah aku memberitahukan kepadamu. Tapi ini merupakan sebuah rahasia besar. Jangan sekali-sekali kau membocorkannya…. Ada baiknya kita mengangkat sumpah!”

Siau Po menurut. Dia segera mengucapkan sumpah. Baginya bersumpah merupakan makanan sehari-hari. Sekarang bersumpah, besok dia sudah melupakannya. Dia juga tidak sudi memberitahukan bahwa dia sudah mempunyai enam jilid kitab Si Cap Ji cin-keng. Terpaksa dia berbohong, sekalipun terhadap bibi yangmenyayanginya itu.

Beginilah bunyi sumpahnya : ‘Raja Langit dan Ratu Bumi, kalau tecu, Wi Siau-po, membocorkan rahasia kitab Si Cap Ji cin-keng, biarlah tecu disambar geledek atau ditikam ribuan kali dan mati tersiksa seperti kakak seperguruannya si kura-kura thayhou, malah lebih menderita sepuluh kali lipat!’

To kionggo tertawa. “Sumpah ini cara yang baru dan aneh!” katanya, “Nah! Ketika bangsa Tatcu menyerbu masuk wilayah perbatasan, dia mengakui secara terang-terangan bahwa dia akan menyerbu lebih dalam sehingga berhasil merampas kerajaan Beng yang maha besar. Sebenarnya jumlah mereka kecil dan mulanya mereka sudah merasa puas dapat menduduki tanah perbatasan. Itulah sebabnya mula-mula mereka hanya main rampas dan merampok harta benda untuk dibawa ke Kwan gwa. (Luar perbatasan). Tatkala itu, yang berkuasa dalam pemerintahan Ceng adalah Pangeran Sit Cin ong, pamannya kaisar Sun Ti. Dialah yang mengatur tempat persembunyian harta rampasan itu. Tempat penyimpanannya sangat rahasia sekali dan dia membuat petanya yang terbagi menjadi delapan bagian. Setiap Ki cu (pemimpin bendera) dari Pat ki (delapan bendera) masing-masing menyimpan satu helai.”

“Oh! Aku mengerti sekarang!” seru Siau Po yang tiba-tiba berdiri namun terjungkal jatuh kembali karena dia lupa kalau kereta sedang bergerak. “Tentunya gambar peta itu disimpan dalam delapan jilid kitab Si Cap Ji cin-keng.’

“Rasanya memang demikian, tapi hal yang sebenarnya hanya diketahui oleh setiap Kicu dari Pat ki,” kata To kionggo. “Jangan kata kita bangsa Han, mungkin pangeran-pangeran dan menteri-menteri bangsa Boanciu sendiri jarang yang mengetahuinya. Menurut pcnuturan guruku, gunung di mana harta karun itu disimpan disebut Liong meh (nadi naga)nya bangsa itu. Menurutnya pula, bangsa Ta tcu berhasil menduduki Tionggoan karena mengandalkan ‘nadi naga’ itu….”

“Sebenarnya, apa artinya Liong meh?” tanya Siau Po.

“Liong meh itu artinya hampir sama dengan Hongsui, atau kedudukan tanah yang bagus, untuk membangun rumah, pemakaman dan sebagainya,” kata To kionggo menjelaskan. “Leluhur bangsa Tatcu dimakamkan di gunung itu, dan menurut orang pandai, anak cucunya akan bangkit, makmur dan berhasil menduduki Tionggoan. Guruku mengatakan, apabila kita bisa memutuskan nadi naga itu, kemudian kita gali dan bongkar kuburan leluhur bangsa Tatcu itu, bukan saja raja bangsa itu tidak bisa memegang kekuasaan lagi, bahkan seluruhnya akan terbinasa ditangan kita. Demikian pentingnya gunung itu sehingga nenek guru serta guruku sudah berusaha mencarinya selama puluhan tahun. Katanya, rahasia gunung itu ada dalarn kitab Si Cap Ji cin-keng.’

“Bibi,” Siau Po masih kurang mengerti. “Kalau memang hal itu merupakan rahasia besar bangsa Tatcu, bagaimana nenek guru serta guru bibi bisa mengetahuinya?”

“Terlalu panjang untuk menceritakannya,” kata To kionggo. “Perlu diketahui bahwa nenek guruku adalah seorang bocah perempuan bangsa Han yang diculik seorang Ki cu dari bendera biru sulam bangsa Boan. Mereka merasa bingung karena mereka mendapatkan kenyataan Tionggoan begitu luas, rakyatnya banyak dan tanahnya indah. Mereka senang sekaligus khawatir. Banyak hari-hari yang mereka lewati dengan mengadakan rapat untuk membicarakan tindakan mereka selanjutnya. Dalam rapat itu tidak jarang mereka bertengkar karena berselisih pendapat.”

“Mengapa?”

“Di antara mereka ada beberapa yang mengajukan usul untuk merebut Tionggoan, tapi ada sebagian yang bimbang dan cemas. Hal ini disebabkan saking banyaknya penduduk bangsa Han. Apa bila bangsa Han memberonlak, ibarat seratus orang melawan satu. Mana mungkin orang-orang dari Bendera itu dapat melawannya? Dalam rapat, ada pula yang mengusulkan melakukan perampokan habis-habisan dan membawa hasilnya ke asal mereka. Akhirnya Sit Ceng ong yang mengambil keputusan. Dia menyatakan untuk menggunakan cara ‘Sambil menyelam minum air’, yakni merampas sekaligus menduduki Tionggoan. Seandainya rakyat

Han memberontak, mereka bias mundur keluar dari Sanhay kwan, tanah mereka sendiri.”

“Kalau begitu,” kata Siau Po. “Sejak dulu kala bangsa Tatcu sudah agak takut menghadapi bangsa Han kita!”

Yang dimaksud dengan bangsa Tatcu ialah bangsa Boanciu (Mancu). Dan Boan Ceng merupakan panggilan untuk kerajaan Ceng. Sedangkan bangsa Han adalah bangsa Cina asli, penduduk yang dilahirkan di Tionggoan. Bangsa Cina terdiri dari berbagai suku, termasuk suku Mongolia. Suku Mongolia tinggal di Mongol, sebab pada saat itu Mongol luar sudah terpisah dari daratan Cina (Kalau zaman sekarang kita katakan sudah merdeka dan mcmbangun negara sendiri). Meskipun suku Mongol dan Boanciu pernah menyerbu serta merampas negara Tionggoan dan bahkan mendudukinya, tapi akhirnya mereka sendiri terpengaruh oleh budaya Han dan semua menjadi bangsa Cina pada akhirnya.

To kionggo melanjutkan ceritanya.

“Bagaimana tidak takut? Bahkan sampai sekarang mereka masih juga merasa takut. Kecacatan kita justru karena kita tidak bersatu padu, kita terpecah belah. Nah, keponakanku, raja Tatcu sangat menyayangimu dan menyukaimu. Kau harus mencari jalan untuk mcndapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng itu. Kalau kau berhasil, kita bisa mencari harta karun itu dan digunakan untuk biaya perbekalan pasukan perang dan merobohkan kerajaan Ceng. Dengan demikian kita bias membangun kembali kerajaan Beng kita.”

Siau Po mengangguk walaupun perhatiannya tidak tertarik sama sekali tentang memutuskan nadi naga atau memberontak melawan pemerintah Ceng. Yang membuat perhatiannya tertarik, justru harta karun yang disimpan dalam gunung itu. Semangatnya jadi terbangun membayangkan hal itu.

“Bibi,” tanya Siau Po. “Benarkah rahasia letak gunung Liong meh itu ada dalam kitab Si Cap Ji cin-keng?”

“Mengenai pertanyaanmu itu, aku hanya dapat memberi penjelasan begini,” kala To kionggo. “Menurut keterangan nenek guruku, setelah mengadakan rapat selama beberapa hari berturut-turut, Sit Ceng-ing pulang ke istananya dengan membawa sebuah buntalan yang disimpannya dengan hati-hati sekali. Pada suatu hari, setelah minum arak sampai mabuk, Sit Ceng ong berkata kepada istri mudanya, apabila dia wafat nanti, buntalan itu harus diserahkan kepada putera istri mudanya itu dan jangan sekali-sekali diserahkan kepada putra Toa hokcin (istri tua). Tentu saja istri mudanya itu menjadi tidak senang. Apa gunanya beberapa jilid kitab agama Buddha? Demikian pikirnya. Tapi Sit Ceng ong menjelaskan bahwa beberapa kitab itu justru mcrupakan titik penting dalam kehidupan Putera mereka. Itulah sebabnya kitah-kitab itu lebih berharga dari apa pun. Secara ringkas pangeran itu menjelaskan lebih jauh tentang riwayat kitab itu. Pada saat itulah nenek guruku mencuri dengar pembicaraan mereka dari luar jendela sehingga dia mengetahui betapa pentingnya kitab itu. Ketika itu ilmu silat nenekku sudah tinggi sekali dan guruku juga sudah beberapa tahun belajar dengannya. Karena itulah nenek guruku menyuruh guruku masuk ke dalam istana dan menyamar sebagai dayang. Tidak lama setelah guruku masuk ke dalam istana, keluarlah peraturan baru yang melarang keras para thaykam dan para dayang sembarangan keluar masuk istana. Dengan demikian, guruku itu bahkan belum pernah melihat wajah. Itulah sebabnya beliau mendapat kesulitan untuk mencari kitab tersebut. Mula-mula guruku senang kepadaku ketika aku menceritakan pengalamanku bersama Tiang kongcu, akhirnya beliau menerima aku sebagai murid dan mengajarkan ilmu silat kepadaku.” .

“Pantaslah thayhou bertekad mendapatkan kitab-kitab itu,” kata Siau Po. “Dia orang Boanciu, jadi tidak mungkin dia memutuskan nadi naga itu. Tentu dia hanya berminat pada harta karun yang tersimpandi dalamnya. Yang aneh, dia kan ibusuri! Apa yang diinginkannya pasti dapat dimilikinya. Mengapa dia masih menginginkan harta itu?”

“Mungkin di dalam gunung itu ada sesuatu yang aneh,” kata To kionggo. “Tentang hal itu, nenekku juga tidak tahu apa-apa. Kemudian nenek guruku itu berusaha mencuri kitab dari tangan Sit Ceng ong, sungguh malang ia kepergok dan terkepung. Dalam pertempuran, dia kehabisan tenaga dan dibunuh oleh musuh. Tidak lama kemudian, guruku di istana juga jatuh sakit dan menutup mata. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, guruku berpesan bahwa bila aku bekerja seorang diri, tentu sulit bagi diriku. Sebaiknya aku mengambil seorang murid yang dapat kuandalkan. Dengan demikian, turun temurun kitab itu jangan dilupakan, dan harus berusaha terus sampai mendapatkannya!”

“Benar!” Siau Po jadi semakin bersemangat. “Kalau rahasia itu lenyap, lenyap pula harta yang demikian banyaknya! Sungguh harus disayangkan!”

To Hong-eng tersenyum.

“Hilang harta tidak menjadi masalah,” katanya. “Yang penting, ialah jangan sampai bangsa Tatcu menduduki negara kita untuk selama-lamanya. Inilah yang membuat kami bangsa Han jadi penasaran!”

“Kata-kata bibi memang benar!” sahut Siau Po, tapi dalam hatinya dia justru berpikir: ‘Katanya harta itu jumlahnya besar sekali. Kalau harta itu tidak ditemukan dan digunakan, barulah merupakan penyesalan!’

Siau Po masih muda sekali, dia juga buta huruf. Jadi pandangan hidupnya lain dengan orang banyak. Sekian lama dia tinggal di istana, dia banyak melihat dan mendengar. Tentang keganasan bangsa Boanciu yang membunuh rakyat Han dan merampas wilayah Tionggoan. Dia hanya mendengarnya dari cerita, semua itu tidak dialaminya sendiri. Sebaliknya, selama berada dalam istana kerajaan Ceng, kecuali thayhou yang sangat membencinya, semua orang memperIakukannya dengan baik dan hormat. Bahkan kaisar Kong Hi sendiri memandangnya bagai saudara. Dengan kata lain, dia tidak melihat atau merasakan kejahatan bangsa Boanciu. Para pembesar tinggi dan menteri-menteri mungkin memandang padanya karena dia adalah orang kesayangan raja, tapi biar bagaimana dia merasakan keramahan mereka. Soal permusuhan dan dendam negara, merupakan urusan yang tidak menarik baginya.

To kionggo tidak tahu apa yang dipikirkan Siau Po, atau apa yang akan ia lakukan.

“Selama tinggal di dalam istana bertahun-tahun, aku tidak pernah mempunyai murid. Banyak dayang muda yang aku lihat, tapi biasanya mereka bodoh, tidak cerdas dan genit. Apa yang mereka harapkan hanya disuka dan disayang oleh raja, malah ada yang berkhayal akan diangkat menjadi selir. Itulah sebabnya pernah timbul rasa khawatir dalam hati ini bahwa sampai akhir hidup aku tidak akan mendapat seorang murid pun. Dengan demikian, bila aku mati, rahasia ini akan ikut masuk dalam kuburanku dan bangsa Tatcu akan kekal menguasai Tionggoan. Kalau hal ini sampai terjadi, bagi nenek guru dan guruku di alam baka, aku merupakan orang yang paling berdosa. Arwah mereka tidak akan tenang untuk selamanya! Keponakanku, di luar dugaan, kita dapat bertemu. Hal inilah yang membuat hatiku lega dan gembira!”

“Aku juga gembira, bibi! Meskipun aku tidak begitu tertarik dengan urusan kitab itu,” sahut Siau Po.

“Kenapa kau merasa gembira?”

“Karena aku pun tidak mempunyai orang yang dekat denganku,” sahut Siau Po. “Memang ibuku masih hidup, tapi sifat kami berlainan dan jarak antara kami juga jauh sekali. Masih ada guruku, tapi beliau sangat sibuk sehingga sukar menemuinya. Tapi, sekarang aku mempunyai orang yang dekat denganku, yaitu bibi. Tentu saja aku merasa gembira sekali.”

Senang sekali hati To kionggo mendengar ucapan keponakannya yang pandai bicara ini. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.

“Sejak kecil aku tinggal di istana, meskipun aku mempunyai guru yang mengajarkan aku ilmu silat, tapi mengenai urusan dunia kangouw, boleh bilang pengetahuanku sedikit sekali,” katanya. “Tadi aku melihat ada dua buah kitab dalam bungkusanmu. Isinya ilmu silat, tapi alirannya berbeda dan agak bertentangan. Apakah itu ajaran dari gurumu?”

Siau Po menggelengkan kepalanya. “Bukan dua-duanya,” sahutnya. “Yang satu memang kitab yang diberikan oleh guruku, tapi yang satu lagi milik Hay kongkong, si kura-kura tua!”

“Siapakah gurumu?” tanya To Hong-eng.

“Guruku merupakan Cong tocu dari Tian-te hwe,” sahut Siau Po terus terang. “Beliau she Tan dan namanya Kin Lam.”

Nama Tan Kin-lam sudah terkenal sekali, tapi bagi To Hong-eng yang separuh hidupnya dilewatkan dalam istana, baru pertama kali inilah dia mendengarnya.

“Kalau gurumu adalah seorang ketua dari perkumpulan Tian-te hwe, ilmunya pasti tinggi sekali!”

“Memang! Tapi, sayangnya aku belum lama mengikutinya,” sahut Siau Po. “Masih banyak pelajarannya yang belum aku pahami dan setiap kali kami bertemu, waktunya selalu terlalu singkat. Bagaimana kalau bibi To mengajarkan aku beberapa jurus ilmu?”

To Hong-eng tampak bimbang.

“Kalau asalnya kau belum pernah belajar ilmu silat, tentu aku akan mengajarkannya,” kata To kionggo. “Bahkan aku bisa mengangkat kau sebagai murid. Tapi kau sudah mempunyai guru, aku khawatir aliran ilmu kami berbeda, hal itu malah akan membahayakan kesehatanmu. Coba kau bilang, bagaimana ilmu silat gurumu kalau dibandingkan dengan kepandaianku? Siapa yang lebih hebat?”

Siau Po hanya berpura-pura saja meminta To Hong-eng mengajarinya ilmu silat, dia hanya ingin membuat hati wanita itu menjadi senang. Coba kalau sang bibi mau mengajarkannya, tentu dia akan mencari berbagai alasan untuk menolaknya. Karena dia sadar, dengan mempelajari ilmu silat di bawah bimbingan bibinya itu, pasti gagallah dia berangkat ke Ngo Tay san. Siau Po memang senang sekali berpesiar kemana-mana. Dengan demikian berkuranglah minatnya pada ilmu silat. Waktunya juga tidak terbagi.

“Bibi,” katanya kemudian. “Di hadapan bibi, aku tidak berani berbohong….”

“Anak kecil memang tidak boleh berbohong,” sahut To kionggo.

“Urusannya begini,” kata Siau Po. “Pernah aku menyaksikan guruku bertarung melawan seseorang yang kepandaiannya tinggi sekali. Dalam tiga jurus saja, lawannya itu sudah tidak berkutik. Karena itu, aku…rasa bibi bukan tandingannya…guruku itu….”

To Hong-eng tersenyum.

“Benar!” katanya. “Aku percaya bahwa aku masih kalah jauh. Ketika melawan laki-laki yang menyamar sebagai dayang dalam kamar thayhou tempo hari, kalau kau tidak membantu aku menyerangnya dari belakang, mungkin sekarang sudah tamat riwayat hidupku! Gurumu itu, tidak mungkin begitu tidak berguna seperti diriku!”

“Tapi, dayang palsu itu memang lihay sekali,” kata Siau Po. “Setiap kali mengingat dia, sampai sekarang aku masih takut….”

To kionggo menatap Siau Po dalam-dalam, kemudian dia menarik nafas panjang.

“Anak, ilmu silatmu sekarang masih rendah sekali. Kau harus banyak berlatih. Dengan kepandaianmu ini, untuk menjadi thaykam memang sudah cukup, malah mungkin berlebihan. Tapi bila kau melakukan perjalanan di dunia kangouw, masih jauh dari kurang. Kau tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali….”

Wajah Siau Po jadi merah padam mendengar ucapan bibinya yang hebat itu.

“Iya…” sahutnya lirih. Dalam hatinya dia justru menggerutu. ‘Memang kepandaianku belum berarti, tapi aku tidak mengerti mengapa dikatakan sama dengan orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali?’

“Kalau kau tidak mengerti ilmu silat sama sekali, mungkin malah lebih baik daripada kepalang tanggung seperti sekarang ini,” kata To kionggo. “Sebab musuh tidak akan sembarangan membunuh orang yang tidak berdaya. Tapi kalau kau mengerti, pasti musuh akan berjaga-jaga terhadap dirimu. Sekali mereka turun tangan, pasti tidak akan bermurah hati. Nah, kalau begitu bukankah kau menghadapi ancarnan bahaya yang lebih besar?”

“Andaikata kita singgah di penginapan gelap dan bertemu dengan penjahat kelas teri, bagaimana?” tanya Siau Po.

Hong Eng terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Setelah merenung sejenak, dia baru menganggukkan kepalanya.

“Kau benar! Di dalam dunia kangouw, memang lebih banyak orang yang kepandaiannya tidak berarti ketimbang yang benar-benar lihay!”

To Hong-eng tampaknya gelisah terus. Kemudian dia menunjuk ke arah sebuah pohon besar di sebelah depan.

“Mari kita istirahat di sana! Nanti kita baru melanjutkan perjalanan kembali,” katanya. “Kuda kita juga perlu makan rumput!” Dia menjalankan keretanya ke bawah pohon itu kemudian dihentikan di sana.

Keduanya melompat turun dari kereta dan duduk berdampingan, kembali Hong Eng berdiam diri, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Siau Po juga diam saja. Dia heran melihat sikap bibinya sehingga ia bertanya-tanya dalam hati, apa kiranya yang menyebabkan wanita itu gelisah terus.

Lewat beberapa saat, tiba-tiba dia bertanya. “Apakah dia berbicara?”

Siau Po semakin bingung. Dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu sehingga dia menoleh kepada bibinya. Untuk sesaat mereka jadi saling pandang. Sedangkan yang mengajukan pertanyaan juga tidak memberikan penjelasan apa-apa.

“Apakah kau mendengar dia berbicara?” tanya To Hong-eng kembali setelah mereka tertegun sesaat. “Apakah kau melihat gerakan bibirnya?”

Mata Siau Po masih memandang terpaku, Dari heran, hatinya mulai merasa takut. Sikap bibinya aneh sekali, Mungkinkah dia terpengaruh roh jahat?

‘Bibi kok jadi aneh?’ pikirnya kemudian. ‘Apakah dia terkena pengaruh jahat atau melihat hantu?’ Saking bingungnya, dia langsung bertanya. “Bibi, apakah kau melihat seseorang?”

“Siapa?” sang bibi malah balik bertanya, “Itu….si dayang palsu… laki-laki yang menyamar sebagai perempuan….•

Tanpa dapat ditahan lagi, rasa takut melanda hati Siau Po.

“Apakah kau melihat dayang palsu itu?” tanyanya dengan suara bergetar. Matanya celingak-celinguk kesana kemari, kemudian kembali menatap bibinya. “Di mana dia?”

Mendapat pertanyaan itu, To Hong-eng seperti tersentak sadar. Sikapnya mirip orang yang baru terbangun dari mimpi. Dia langsung tersenyum.

“Aku menanyakan engkau tentang kejadian malam itu ketika berada di kamar tidur thayhou,” katanya menjelaskan. “Ketika aku bertarung dengannya, apakah kau pernah melihatnya membuka mulut atau berbicara?”

Siau Po menarik nafas lega.

“Oh! Rupanya bibi menanyakan pcristiwa malam itu?” sahutnya. “Bibi menanyakan apakah dia bersuara atau tidak? Aku tidak mendengarnya.”

Hong Eng berdiam diri kembali. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ilmu silatku terpaut jauh dengannya. Untuk menghadapi aku, tidak perlu dia menggunakan ilmu gaib,” katanya.

Siau Po semakin bingung.

“Sudahlah, bibi. Tidak usah bibi pikirkan lagi tentang dia…” kata Siau Po. “Bukankah kita sudah berhasil membunuhnya? Dia tidak akan hidup kembali!”

“Ya… orang itu sudah kita bunuh dan tidak bisa hidup kembali!” kata To kionggo mengulangi. Tampaknya dia ingin membuat hatinya lega, tapi kenyataannya gagal. Dia tetap terlihat gelisah dan khawatir walaupun dia berusaha menutupinya.

‘Oh, bibi To…’ kata Siau Po dalam hatinya. ‘Kau begitu gagah, tapi takut setan. Baru bunuh satu orang saja, kau sudah gelisah tidak karuan. Kenapa sejak tadi kau terus termangu-mangu? Lagipula, aku yang membunuh dayang palsu itu, bukan kau! Kau memang berusaha membunuh thayhou, tapi nyatanya kau gagal. Sampai sekarang dia masih hidup!”

“Kalau seseorang sudah mati, dia sudah tidak berarti lagi, bukan?” tiba-tiba To Hong-eng bertanya kembali.

“Betu!!” sahut Siau Po. “Meskipun dia sudah jadi setan, kita juga tidak perlu takut!”

“Apa sih setan?” kata Hong Eng. “Aku hanya mengkhawatirkan muridnya Sin-Liong kaucu itu. Dia… bukankah thayhou menyebutnya suheng? Tidak! Kalau melihat gerak-geriknya, dia tidak mirip dengan orang yang sedang bersilat. Ya, bukan! Apakah benar ketika bertarung denganku, mulutnya tidak bergerak-gerak? Benar atau tidak?”

Pertanyaan Hong Eng seakan diajukan pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar. Tampaknya dia ingin mendapat kepastian dari Siau Po agar dugaannya tidak keliru.

Sebaliknya dengan Siau Po, kepandaiannya memang masih rendah. Dia tidak mengetahui ilmu apakah yang digunakan dayang palsu itu ketika menghadapi bibinya ini. Ketika memberi jawaban, suaranya sengaja diperkeras.

“Jangan khawatir, bibi,” katanya. “Mengenai pertanyaan bibi, aku bisa membenarkan. Memang cara berkelahi orang itu aneh sekali. Ketika bertarung dengan bibi, gerak-geriknya tidak mirip orang yang mengerahkan ilmu silat. Dia juga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bibi, sebetulnya benda apakah Sin Liong kaucu itu?”

Bocah ini memang luar biasa sekali. Kalau bicara, dia tidak pernah memikirkan kata-kata yang baik atau tidak, tidak perduli apakah ucapannya aneh atau tidak bagi orang yang mendengarnya. Tapi kadang-kadang, dia bisa juga bicara sopan dan penuh hormat.

“Anak, kau belum tahu siapa itu Sin Liong kaucu!” kata To Kionggo. “Kepandaiannya tinggi dan bermacam ragam. Baik ilmu silat maupun ilmu gaib semua dikuasainya dengan baik. Oh anak… sekalipun dibelakangnya, kau tidak boleh sembarang bicara! Dengan kata lain, jangan sekali-sekali berbuat kesalahan kepadanya. Kaucu ini mempunyai banyak murid dan juga cucu murid. Sumber beritanya luas dan gossip apa pun cepat sampai ke telinganya. Kalau dia sampai mendengar kata-katamu tadi hidupmu akan segera menjadi kenangan masa lalu!”

Siau Po merasa heran mengapa wanita segagah ini bias demikian takut terhadap seorang kepala sekte agama yang diberi nama Naga Sakti? Mengapa selain bicara, matanya juga melirik kesana kemari? Dia seakan khawatir kaucu itu ada dibelakangnya.

“Benarkah Sin Liong Kaucu itu demikian lihay?” Tanya Siau Po saking penasarannya. “Mungkinkah kekuasaannya melebihi seorang raja?”

“Kekuasaanya sih tidak melebihi seorang raja.” Sahut To Kionggo “Tetapi pengaruhnya lebih luas dan selalu tepat. Bersalah kepada raja, seseorang masih bisa melarikan diri jauh-jauh atau bersembunyi. Dengan demikian belum tentu kena dibekuk, tapi kalau bersalah terhadap Sin Liong Kaucu, meskipun kau lari sampai keujung dunia, tetap saja tak bisa melepaskan diri dari maut!”

“Kalau demikian sudah tentu Sin Liong kau lebih banyak anggotanya dan kekuasaannya lebih besar dari Thian Tee Hweekami!”

“Secara keseluruhan bukan begitu, anak.” Kata To Kionggo. “Tujuan Sin Liong kau juga berbeda dengan cita-cita Thian Tee Hwee. Thian Tee Hwee ingin menghancurkan kerajaan Boan untuk membangun kembali kerajaan Beng. Cita-cita itu luhur dan suci serta dihargai oleh banyak orang. Jauh sekali berbeda dengan Sin Liong Kau!”

“Bukankah tadi bibi bermaksud mengatakan bahwa setiap orang dunia kangouw pasti merasa takut kepada Sin Liong Kau?” Tanya Siao Po setengah memaksa.

To Hong-eng merenung sejenak sebelum menjawab.

Sebenarnya mengenai urusan dunia kangouw, pengetahuanku terlalu sedikit,” sahutnya kemudian. “Apa yang aku ketahui, kebanyakan hanya mendengar dari guruku saja. Dan, setahuku nenek guruku yang demikian lihay saja, terpaksa menelan pil pahit dengan dikalahkan oleh Sin Liong Kaucu!”

“Kurang ajar!” teriak Siau Po emosi. “Kalau begitu, Sin Liong kaucu musuh kita, mengapa kita harus takut kepadanya?”

To Hong-eng menggelangkan kepalanya. “Menurut keterangan guruku,” katanya dengan perlahan dan sabar. “Kapandaian Sin Liong kaucu itu memang luar biasa sekali, didalamnya terkandung banyak perubahan yang tidak terduga. Apalagi dia juga lihay dalam ilmu gaib. Mereka pandai membaca mantra dan bila hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan musuh, maka lawannya itu akan terpengaruh dan hatinya terguncang serta takut. Sebaliknya, mereka sendiri akan semakin kuat dan gagah. Ketika nenek guru berusaha mencuri kitab Si Cap Ji cin-keng, beliau tertangkap basah dan bertarung melawan salah satu murid Sin Liong kaucu. Mula-mula nenek guru sudah menang di atas angin, namun tiba-tiba mulut orang itu berkomat kamit membaca mantra dan serangan-serangan nenek guru pun jadi semakin mengendur. Dalam satu kesempatan, perutnya sempat terhajar oleh musuh yang mana mengakibatkan kematiannya. Sebenarnya pada saat itu guruku mendampingi nenek guru sehingga dia dapat menyaksikan segalanya dengan jelas. Guruku gusar sekali melihat kenyataan tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi dia menerjang ke depan dengan niat membalaskan sakit hati nenek guruku itu. Tapi tiba-tiba saja lututnya menjadi lemas dan pikirannya berubah, beliau malah menyembah dan menyerah kalah. Setiap kali memikirkan hal itu, guru merasa malu sekali dan juga takut. Karena itulah beliau berpesan, jangan sekali-sekali aku bertarung dengan orang-orang dari Sin Liong kau sebab berbahaya sekali!”

Siau Po masih penasaran. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Ggurumu seorang wanita, tentu saja nyalinya kecil sekali. Dasar perempuan! Mudah merasa takut,lalu tunduk dan menyerah kalah! Kemudian dia bertanya. “Bibi, apa yang dijampi oleh musuh nenek guruitu? Apakah guru bibi mendengarnya?”

“Beliau tidak mendengarnya,” sahut To Hong eng. “Mengenai dayang palsu itu, aku curiga dia adalah murid Sin Liang kaucu. Itulah aku bertanya kepadamu, apakah mulutnya bergerak-gerak ketika bertarung melawan aku?”

“Oh, begitu rupanya!” kata Siau Po yang kemudian segera mengingat kejadian malam itu. Sesaat dia merenung, akhirnya dia menjawab. “Tidak, bibi, Aku tidak melihat atau mendengar apa-apa. Apakah bibi mendengarnya?”

“Kepandaian dayang palsu itu jauh lebih tinggi daripadaku,” sahut To Hong-eng. “Aku kesibukan melayaninya sehingga tidak memperhatikan apakah mulutnya bergerak-gerak atau tidak. Beberapa kali aku menyerangnya dengan jurus mematikan, tetapi baru dimulai hatiku sudah merasa sangsi dan takut. Aku merasa kepandaian lawan terlalu tinggi dan aku tidak sebanding dengannya. Rasanya ingin sekali menekuk lutut dan menyerah saja. Mendapat pikiran seperti itu, gerak-gerikku jadi lamban dan otomatis seranganku selalu gagal di tengah jalan. Belakangan aku menduga bahwa dayang palsu itu pandai membaca mantera mempengaruhi lawan. Tapi aneh! Ilmunya toh lebih tinggi daripada aku, mengapa dia harus menggunakan ilmu gaib?”

Siau Po mengangguk. “Bibi,” katanya. “Bolehkah bibi memberitahukan kepadaku, sejak mempelajari ilmu silat, seringkah bibi menghadapi lawan? Apakah bibi pernah membunuh orang? Kalau pernah, berapa orang lawan yang pernah bibi bunuh sebelumnya?”

To Hong-eng menggelengkan kepalanya. “Selama ini aku belum pernah bertarung dengan siapa pun, apalagi membunuh orang?” sahutnya. “Sedangkan waktu itu saja aku melakukannya saking terpaksa, karena harus membela diri!”

“Kalau begitu, inilah sebab kegelisahan bibi” kata Siau Po. “Sebaiknya lain kali bibi bunuh lagi beberapa orang jahat agar bibi terbiasa dan tidak perlu khawatir dan was-was seperti sekarangini!”

“Mungkin ucapanmu benar, nak,” sahut To kionggo. “Tapi, kalau keadaan tidak terpaksa lagi, sebetulnya aku tidak suka berkelahi dengan orang, apalagi membunuhnya. Aku banya ingin hidup dalam ketenangan serta kedamaian. Cita-citaku sekarang banya ingin mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng agar dapat merusak nadi naga bangsa Boan agar tidak menjajah kita terus menerus, Hanya itu saja, hatiku sudah merasa puas!”

Di dalam hatinya, Siau Po justru mentertawakannya.

‘Oh, bibiku yang baik, enak saja kau bicara! Gara-gara mencari kitab itu, entah sudab berapa nyawa yang dikorbankan. Kau kira kitab itu bisa didapatkan dengan mudah?’

Pada saat itu To Hong-eng sedang menyamar. Wajahnya dipoles sedemikian rupa sehingga tidak terlihat mimik perubahan apa-apa, hanya sinar matanya yang menyorotkan sinar kekhawatiran.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: