Kumpulan Cerita Silat

09/09/2008

Duke of Mount Deer (40)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:20 am

Duke of Mount Deer (40)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

Setelah tertawa, Tian Coan berkata. “Aku yang rendah benar-benar tidak mempunyai mata. Seharusnya aku tidak boleh sembarangan turun tangan sehingga perbuatanku menjadi kurang hormat. Sayangnya aku si tua bangka ini sungguh tidak tahu diri dan sudah berlaku lancang.”

“Jangan berkata demikian, Ci toako,” kata To kionggo. “Tidak berani aku menerimanya. Sebaliknya, aku sangat mengagumimu karena kau berani bertanggung jawab melindungi Wie Hiocu sekalian.”

“Terima kasih, tuan. Pujianmu terlalu tinggi. Tuan, bolehkah aku tahu she dan namamu yang mulia?”

“Sahabatku ini she To,” Siau Po mendahului memberi jawaban. “Dengan aku sudah seperti saudara sehidup semati!”

“Tidak salah,” kata To kionggo membenarkan. “Kamilah sahabat sehidup semati! Wie Hiocu telah menolong selembar nyawaku!”

“Oh, cianpwe! Janganlah cianpwe berkata demikian,” ujar Siau Po cepat. “Yang benar, kita berdua telah bekerja sama dengan baik bertarung dan membunuh seorang telur busuk yang maha besar.”

To kionggo tersenyum. “Saudara Wi, Ci toako, nona Pui dan nona Bhok, sampai di sini saja kita berpisah!” Habis berkata, dia memberi hormat dan lompat naik ke keretanya.

“To… To toako!” panggil Siau Po gugup. To toako kau hendak kemana.

To toako tersenyum

“Dari mana aku datang, kesanalah aku akan pergi!” sahutnya.

Siau Po mengangguk. “Baik!” katanya. “Sampai jumpa!”

To kionggo hanya tersenyum. Dia langsung melarikan keretanya. Siau Po dan rekan-rekannya hanya mengawasi kepergian orang itu. Hati mereka merasa kagum sekali.

“Ci loyacu, benarkah kepandaian orang itu tinggi sekali?” tanya Kiam Peng yang masih penasaran.

“Kepandaiannya lebih hebat sepuluh kali lipat daripadaku,” sahut Tian Coan. Terang-terangan dia mengakui kehebatan lawannya tadi. “Apalagi sebagai seorang wanita, lebih-lebih luar biasa!”

“Apa?”tanya Kiam Peng yang saking herannya sampai tertegun untuk sesaai. “Dia wanita?”

“Iya,” sahut Ci Tian-coan. “Ketika dia melompat naik ke atas kereta, gerakan tubuhnya begitu gesit dan lincah serta menarik untuk dilihat!”

“Sebenarnya, aku juga mendengar suaranya tajam, tidak mirip dengan suara laki-laki,” kala Kiam Peng pula. “Wi toako, dia… apakah wajahnya yang asli… cantik?”

“Empat puluh tahun yang lalu, kemungkinan dia cantik dan lucu,” sahut Siau Po. “Tapi kalau dibandingkan dengan engkau, empat puluh tahun kemudian kau akan tetap cantik seperti sekarang.”

Bukannya cemburu atau malu, Kiam Peng malah tertawa geli.

“Ah!” serunya. “Mengapa kau membanding-bandingkan aku dengannya? Rupanya dia sudah tua!”

“Memang betul, mestinya usia wanita ini tidak muda lagi,” kata Tian Coan ikut memberikan komentar. “Ilmu Kim-liong ciong ho yang dimilikinya pasti sudah dilatih lebih dari tiga puluh tahun, kalau tidak, mana mungkin begitu lihay?”

Sementara itu, hati Siau Po sedih sekali. Baru saja dia berpisah dengan To kionggo, sekarang dia harus berpisah lagi dengan Kiam Peng dan Phui Ie. Dua orang nona yang cantik dan manis. Selanjutnya dia akan sendirian. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia menjadi takut. Di istana, meskipun thayhou sangat membencinya, tapi dia sudah terbiasa dengan tempat itu, lagipula banyak orang yang dikenalnya. Dibantu dengan kecerdasannya, dia selalu bisa terhindar dari marabahaya. Tapi sekarang? Dia harus pergi ke gunung Ngo Tay san yang masih asing baginya, sedangkan tugasnya penting serta berat. Seumur hidupnya, dia juga belum pernah menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri. Pada dasarnya dia memang masih seorang bocah cilik….

Ci Tian-coan mengira sang hiocu akan kembali ke istana, karena itu dia berkata:

“Wie Hiocu, hari sudah senja. Cepat kau pulang. Nanti sebentar lagi pintu kota akan ditutup!” “Iya,” sahut Siau Po. Phui Ie menyerahkan sebuah buntalan kepada si thaykam cilik.

“Ini bajumu, kau saja yang memakainya!” katanya.

“Tidak!” tolak Siau Po. “Lebih baik kau yang memakai!”

“Kami diantar oleh Ci loyacu,” kata Phui Ie. “Tentu tidak ada apa pun yang terjadi pada diri kami. Mengapa kau masih merasa berat dan khawatir?”

Terpaksa Siau Po mengulurkan tangannya menyambuti buntalan itu. Dia tidak mengatakan apa-apa, hatinya bingung sekali.

Tian Coan segera mempersilahkan kedua nona itu naik ke atas kereta. Kemudian dia duduk di samping pak kusir. Begitu dia memberi isyarat, kereta itu langsung dijalankan menuju selatan.

Siau Po berdiri terpaku di pinggir jalan, matanya menatap ke arah kereta yang sedang melaju tanpa berkedip sedikit pun. Dia melihat kedua nona itu melongokkan kepalanya dan melambaikan tangannya.

Tidak lama kemudian, kereta itu pun lenyap dari pandangan. Setelah melaju kurang lebih tiga puluh tombak, jalan di sana membelok dan pemandangan pun terhalang oleh pohon Yang Liu yang rimbun.

Akhirnya, Siau Po pun naik ke alas keretanya sendiri. Dia menyuruh kusir itu menjalankan keretanya menuju barat, bukan kembali ke kota Peking.

Kusir itu bingung sehingga dia memandang Siau Po dengan tertegun. Siau Po mengeluarkan uang sebanyak sepuluh tail dan disodorkannya kepada kusir kereta itu.

“Ini uang sebanyak sepuluh tail. Cukup untuk sewa kereta selama tiga hari bukan?”

Bukan main senangnya hati kusir itu.

“Sepuluh tail cukup untuk menyewa kereta ini selama satu bulan. Baiklah, kongcu ya, aku yang rendah akan melayanimu. Kongcu mau berjalan atau minta berhenti, harap diperintahkan saja.”

Berbeda dengan semula, kusir itu memanggil Siau Po dengan sebutan kongcu ya yakni tuan muda dari kalangan atas. Siau Po tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum.

Malam itu dia singgah di sebuah dusun yang letaknya kurang lebih duapuluh li dari kota Peking. Dia memilih sebuah penginapan kecil. Di dalam kamar, dengan bantuan cahaya lilin, dia membuka buntalan yang diberikan oleh Phui Ie. Dikeluarkan nya baju mustika berwarna hitam itu, kemudian dikenakannya sebagai pakaian dalam lalu ia berangkat tidur.

Besok paginya, Siau Po terjaga dari tidur, dia terkejut setengah mati. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan matanya berat sekali. Untuk sekian lama dia tidak sanggup membuka malanya. Yang lebih celaka, seluruh tubuhnya justru terasa lemas seakan tidak mempunyai tenaga sedikit pun.

Dia merasa dirinya seperti sedang bermimpi buruk. Dia ingin membuka mulutnya untuk berteriak, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Akhirnya, ketika dia mulai bisa membuka matanya, hatinya langsung tercekat. Dia melihat ada tiga sosok mayat menggeletak di depan tempat tidurnya.

Saking kagetnya, Siau Po diam terpaku. Setelah agak sadar, dia mencoba menenangkan diri. Dipaksakannya otaknya untuk berpikir. Dia berusaha bergerak dan bangun. Sekarang dia melihat di dalam kamarnya sudah bertambah satu orang lainnya. Orang hidup. Dan saat itu sedang duduk memperhatikannya sambil tersenyum simpul!

“Oh!” serunya terkejut sekaligus gembira. “Kau rupanya!”

Orang itu tertawa.

“Iya!” sahutnya. “Kaubaru terjaga?”

Rupanya orang itu bukan lain dari To kionggo! Dalam sekejap saja, hati Siau Po jauh lebih lega.

“To cici!” katanya, “To… cie cie… apa sebetulnya yang telah terjadi?”

To kionggo tidak langsung menjawab. Dia menunjuk ke arah tiga mayat yang menggeletak di atas lantai.

“Coba kau lihat! Siapa mereka?”

Siau Po mencoba turun dari tempat tidur, tapi baru saja dia menginjakkan kaki ke lantai, kedua lututnya terasa lemas dan dia jatuh terduduk. Dengan berusaha sekuat tenaga akhirnya dia bisa berdiri juga. Punggungnya bersandar pada Tiang tempat tidur. Dia memperhatikan ketiga orang yang sudah menjadi mayat itu. Tidak ada satu pun yang dikenalinya.

“Bibi To, kau telah menolong jiwaku?” tanyanya sambil mengawasi wanita itu.

To kionggo balas menatapnya lekat-lekat.

“Sebenarnya kau memanggil aku kakak atau bibi?” tanyanya tertawa. “Ayo, jangan memanggil tidak menentu!”

Siau Po ikut tertawa. “Kau… kau adalah bibi To!” sahutnya kemudian.

To kionggo tertawa lagi. Lalu dia berkata: “Kau melakukan perjalanan seorang diri, lain kali kalau makan atau minum, kau harus hati-hati. Coba kau jalan bersama-sama Pat-pi Wan Kau, tentu tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”

“Jadi tadi malam aku telah diracuni orang dengan Bong Hoan-yok?” tanya Siau Po.

“Kurang lebih begitulah!” sahut To kionggo tertawa.

“Mungkin obat itu dicampur ke dalam air teh,” sahut Siau Po. “Ketika aku minum, memang aku rasa ada sedikit beda, ada sari asam dan manisnya.”

Sembari berkata, bocah itu mengangkat teko teh. Dia ingat, tadi malam isi teko itu masih setengah, tapi sekarang sudah kosong, tidak ada isinya setetes pun.

“Oh? Jadi ini sebuah penginapan gelap?” tanyanya.

“Tadinya sih penginapan bersih, sejak kau datang kemari, langsung saja berubah menjadi penginapan gelap!” kata To kionggo menjelaskan.

Siau Po meraba kepalanya yang masih terasa nyeri.

“Aku benar-benar tidak mengerti!” katanya.

“Tidak lama setelah kau masuk ke dalam penginapan ini,” kata To kionggo kembali. “Segera ada orang yang menyusul kemari dan membekuk pemilik penginapan ini. Mereka terdiri dari sepasang suami istri dan seorang pelayan. Salah seorang penjahat itu langsung menyamar sebagai pelayan dengan mengganti pakaiannya lalu menyeduh teh dan membawakannya untukmu. Aku melihat kau berganti pakaian, tapi sampai lama kau hanya berdiam diri, entah apa yang sedang kau pikirkan. Aku berlalu sebentar dengan pikiran sesaat lagi aku akan kembali. Tidak tahunya kau sudah minum teh yang mengandung obat bius itu. Untung saja yang dicampurkannya bukan racun.”

Wajah Siau Po jadi merah padam. Dia merasa malu dan jengah. Dia menyesal bertindak kurang hati-hati dan ceroboh sehingga berhasil dikerjai orang. Tadi malam, ketika mengenakan baju mustikanya, dia ingat baju itu pernah dikenakan nona Pui yang cantik dan manis. Dulu nona itu sangat membencinya, tapi sekarang sikapnya baik sekali. Mengingat dia mengenakan pakaian yang baru dikenakan gadis itu, dia menjadi tidak enak. Dia juga malu mengetahui To kionggo melihatnya berganti pakaian tadi malam. Memang usianya sudah lanjut, tapi To kionggo masih seorang nona, sebab dia belum menikah.

To kionggo melanjutkan keterangannya. “Setelah kita berpisah kemarin, aku langsung kembali ke istana. Aku heran sekali mendapatkan keadaan di istana sunyi senyap dan tidak ada perkabungan bagi thayhou. Cepat-cepat aku mengganti pakaian kemudian pergi ke Cu-leng kiong. Sejak dari luar keraton, keadaan biasa-biasa saja. Segera aku memperoleh kepastian bahwa thayhou belum mati. Itu suatu hal yang buruk bagi kita. Mulanya aku pikir, asal thayhou mati, kita berdua bisa berdiam terus di istana. Sekarang ternyata dia masih hidup, hal ini berarti mau atau tidak kita harus meninggalkan istana, Terutama aku harus memperingatkan kepadamu, agar kau jangan kembali ke istana, karena perbuatan itu berarti mengantar nyawamu sendiri!”

Siau Po yang cerdik pura-pura terkejut, “Oh!” serunya. “Ternyata si nenek sihir belum mati? Wah! Berbahaya sekali” Dalam hati sebenarnya dia tidak enak karena mendustai wanita ini. Dia berkata dalam hati. -–Aku meninggalkan istana dengan tergesa-gesa, karena itu aku lupa memberitahukan urusan itu—

“Setelah mendapat keterangan bahwa thayhou belum mati, aku segera membalikkan tubuh untuk pergi. Tapi tiba-tiba aku melihat tiga orang Siewie keluar dari Cu Leng Kiong. Tindak tanduk mereka mencurigakan sekali. Aku menduga thayhou mengirim mereka untuk menangkap aku. Namun setelah aku ikuti ternyata mereka tidak menuju ke kamarku. Sayangnya aku tidak sempat mengikuti lebih jauh. Cepat-cepat aku kembali ke kamar untuk berkemas dan meloloskan diri dari samping dapur Sisian Pong!”

“Rupanya bibi menyamar sebagai petugas dapur,” kata Siau Po. Di sana memang banyak sekali pekerjaan. Seperti membelah kayu, menggotong arak, memotong ayam, mencuci sayur-mayur dan sebagainya. Semuanya dilakukan oleh pegawai rendahan, sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan mereka.

To Kionggo melanjutkan kata-katanya. “Begitu aku keluar dari istana, aku segera melihat ketiga Siewie itu, mereka sudah mengganti pakaian dan segera pergi dengan menunggang kuda. Hal ini membuktikan bawha mereka akan menempuh perjalanan yang jauh…”

“Oh!” seru Siau Po sambil menendang salah satu mayat tersebut. “Jadi mereka inilah ketiga saudara baik hati yang membuka penginapan gelap ini?”

To kionggo tertawa. “Karena itu kau harus mengucapkan terima kasih kepada mereka,” katanya. “Kalau bukan mereka yang memimpin jalan, bagaimana mungkin aku bisa menemukanmu? Siapa yang menyangka kau akan memutar arah ke barat? Mereka ini justru menuju ke barat. Sepanjang perjalanan mereka selalu menanyakan tentang seorang bocah laki-laki berusia kurang lebih lima atau enam belas tahunan yang melakukan perjalanan seorang diri. Karena itulah aku menduga mereka mendapat tugas untuk menangkapmu. Mereka tiba di sini ketika magrib, dan aku berhasil mengejar mereka tepat pada waktunya.”

Siau Po merasa terharu sekali. “Kalau bibi tidak datang menolongiku, kemungkinan sampai di alam baka pun aku tidak bisa menjawab pertanyaan Raja akherat mengenai kematianku,” sahutnya bersyukur. “Kalau aku ditanyakan tentang cara kematianku, aku sendiri akan terbingung-bingung!”

To kionggo tersenyum. Senang hatinya berbicara dengan bocah ini. Sudah berapa puluh tahun dia mengeram di dalam istana, jarang dia berbicara secara akrab dengan orang lain. Bocah ini sungguh menarik. Mendengar kata-katanya, To kionggo sampai tertawa geli.

“Pasti Raja akherat akan berkata: ‘Bawa dia pergi dan hajar lagi!”

Siau Po juga tertawa. “Memangnya tidak?” katanya. “Pasti raja akherat akan marah. Pasti dia tidak sudi di dalam nerakanya ada setan yang asal-usulnya tidak jelas. Dia juga tidak mau mengurus hantu yang kematiannya tidak karuan!”

Lagi-lagi To kionggo dan Siau Po tertawa. “Bibi To, apa yang terjadi kemudian?” tanya Siau Po.

“Aku mencuri dengar pembicaraan mereka di dapur di mana mereka berkumpul. Tentu saja setelah membuat pemilik rumah penginapan dan pelayannya tidak berdaya. Menurut mereka, thayhou menitahkan kau hidup atau mati. Sebaiknya ditangkap hidup-hidup, tapi kalau terpaksa bunuh saja. Kalau kau sudah mati, semua barang milikmu harus dibawa pulang dan diserahkan kepada thayhou. Tidak boleh ada yang kurang! Katanya kau mencuri kitab suci milik thayhou, kitab yang biasa digunakan untuk membaca doa bagi Sang Buddha. Nah, adikku, benarkah kau mencuri kitab suci milik thayhou? Apakah Cong tocu yang menitahkan kepadamu?” Sembari bertanya, To kionggo menatap Siau Po lekat-lekat.

‘Aih! Tidak salah lagi!’ pikirnya. ‘Dayang ini pernah menggeledah kamar thayhou, tentu dia mencari kitab ‘Si Cap Ji Cin Keng’’ Siau Po sadar dia tidak boleh membiarkan To Kionggo menunggu lama untuk jawabannya. Dia memperlhatkan tampang terkejut dan balik bertanya.

“Apa? Kitab Buddha apa? Cong tocu kami tidak memuja Dewi Pousat dan kami tidak pernah melihatnya membaca doa!”

To Kionggo percaya dengan keterangannya. Wanita itu memang gagah tetapi dia kalah cerdas dengan Siau Po. Di dalam istana kenalannya cukup banyak, tapi sahabatnya hamper tidak ada. Dia hanya kenal baik dua dayang tua lainnya. Dia juga mendapat kenyataan bahwa thaykam ini cerdas dan polos. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Aku telah menolongnya dan dia tentu saja bersyukur sekali padaku. Mustahil dia berbohong… Lagi pula…. Aku telah memeriksa buntalannya….”

Karena itu dia menganggukkan kepalanya dan berkata, “Aku melihat mereka membuka buntalanmu dan memeriksa isinya. Mereka mendapatkan dua jilid kitab ilmu silat. Tampaknya mereka merasa bimbang dan tidak dapat memastikan apakah itu kitab yang dimaksudkan oleh ibu suri!”

“Oh!” teriak Siau Po. Dia memang terkejut tapi terus menjalankan sandiwaranya. “Kitab ilmu silat itu merupakan tulisan guruku, celakalah kalau sampai diambil oleh mereka.”

To Kionggo tersenyum. “Jangan khawatir.” Katanya “Kitab itu masih ada dalam buntalanmu. Sebaliknya mereka justru keblinger melihat uangmu yang begitu banyak. Bahkan mereka sudah berdamai untuk membagi hasil dan menyembunyikannya. Aku jadi marah sekali, saat itu juga aku langsung masuk dan membereskan mereka. Sekarang soal kitab agama Buddha itu. Aku yakin kitab itu penting sekali artinya. Aku juga tak percaya kalau kau menyerahkannya kepada Ci looyacu atau kedua nona yang pergi ke dusun Cioki Cung. Karena ketiga musuh itu sudah mati dan kau tidak kurang suatu apapun, menggunakan waktu saat kau istirahat, Aku langsung menyusul Ci Loyacu. Aku pergi dengan menunggang kuda. Untung saja aku berhasil menyusul mereka yang sedang istirahat dalam sebuah penginapan. Mula-mula aku berpikir untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam. Tapi nyatanya Pat Pi Wan kau memang lihay sekali. Baru saja aku naik ke atas genteng, dia sudah tahu, terpaksa sekali kita bertempur…”

“Diakan bukan tandinganmu” Kata Siau Po.

“Sebenarnya aku tidak berniat melakukan kesalahan terhadap pihak Thian Tee Hwee, tapi kali ini aku benar-benar terpaksa.” Sahut To kionggo dengan nada penuh penyesalan. “Setelah bertarung beberapa saat, aku berhasil merobohkannya, kemudian baru aku beri penjelasan dan memohon agar dia tidak salah mengerti atas apa yang kulakukan serta sudi memberi maaf. Karena itu pula, aku harap kalau kau bertemu dengannya, tolong kau jelaskan sekali lagi dan minta agar dia jangan mendendam terhadapku. Aku berbuat begitu saking terpaksa. Aku telah memeriksa buntalan mereka bertiga, aku juga menggeledah seluruh kamar, tapi aku tidak berhasil mendapatkan apa pun. Dan ketika aku akan meninggalkan penginapan tersebut, aku melihat seorang dari dunia kangouw yang gerak-geriknya mencurigakan. Dia sedang mendekam di wuwungan atap kamar Ci loyacu. Dari gerak-geriknya itu pula, aku mempunyai keyakinan kepandaiannya tidak seberapa tinggi dan Ci loyacu bertiga tentu sanggup menghadapinya. Maka dari itu, aku segera meninggalkan mereka dan kembali ke sini.”

Siau Po memperlihatkan tampang sedih dan menyesal.

“Kalau demikian, akulah yang benar-benar tolol!” katanya. “Kau telah melakukan banyak hal untukku, tapi aku tetap tidak tahu!”

To kionggo berdiam diri sekian lama. Tampaknya dia sedang merenung.

“Adik,” katanya kemudian. “Kau sudah cukup lama tinggal di dalam istana, apakah kau pernah mendengar soal kitab Si Cap Ji cin-keng?”

“Kalau aku tidak salah, ibu suri dan Sri Baginda sangat menghargai kitab agama Buddha itu. Tapi dalam pandanganku, apa gunanya? Buktinya thayhou begitu kejam dan jahat. Biarpun dia membaca kitab suci laksaan kali, tidak mungkin Dewi Pousat akan melindunginya!”

Tanpa memberi kesempatan kepada Siau Po untuk melanjutkan kata-katanya, To kionggo segera menukas.

“Ibu suri dan Sri Baginda sangat memperhatikan kitab itu? Apa saja yang pernah mereka katakan?”

“Sri Baginda pernah menitahkan aku ikut dengan So tayjin untuk menggeledah tempat tinggal Go Pay. Aku dipesan mencari dua buah kitab entah Si… Keng… apa. Kalau tidak salah memang ada huruf Cap dan Ji….” Mendengar keterangan itu, To kionggo semakin bersemangat.

“Benar!” serunya. “Itulah kitab Si Cap Ji Cinkeng. Lalu, apakah kau berhasil mendapatkannya?”

Dalam hal berbohong, Siau Po memang jagonya. Walaupun usianya masih muda, tetapi ketika di Yang Ciu, pengalamannya sudah banyak, karena dia dibesarkan di tempat pelesiran yang setiap hari penuh dengan kepura-puraan dan kebohongan.

Dia tahu, kalau dia bohong secara keseluruhan, orang bisa curiga. Karena itu, kebohongannya harus dicampur dengan sedikit kebenaran. Dengan demikian orang tidak akan ragu atau bimbang mengambil keputusan. Karena itu dia langsung menjawab.

“Sayang aku buta huruf sehingga tidak tahu kitab itu Si Cap Ji Cin Keng atau Ngo Cap Cin Keng. Akhirnya kitab itu memang berhasil ditemukan oleh So tayjin kemudian aku membawa dan menyerahkannya kepada ibu suri. Bukan main senagnya hati perempuan hina itu! Aku dihadiahkan kue-kue dan kembang gula juga manisan. Oh dasar nenek sihir! Dianggapnya aku bocah cilik sehingga tidak perlu dipersen uang. Kalau tahu dia sepelit itu, dari semula saja kubuang kitab itu ke dalam perapian di dapur Gisian Pong!”

“Oh! Tidak! Tidak! Kitab itu jangan dibakar.” Seru To Kionggo saking tegangnya sehingga lupa apa yang diceritakan Siau Po sudah lama berlalu.

“Aku tahu,” sahut Siau Po. “Ketika Sri Baginda menanyakan kitab itu pada So Tayjin, aku langsung mengerti bahwa kitab itu penting sekali!”

To Kiong merenung sejenak. “Kalau begitu paling sedikit Thayhou mempunyai tiga jilid kitab yang sama.”

“Empat” sahut Siau Po.

“Apa? Empat?” Tanya To Kionggo terkejut “Bagaimana kau bias tahu?”

“Sebenarnya Thayhou sendiri sudah memiliki satu,” kata Siau Po menjelaskan “Ketika aku membawakan dua jilid yang didapatkan dari gedung Go Pay, dia meletakkannya di atas meja dan berdampingan dengan yang satu itu. Jadi saat itu jumlahnya ada tiga. Kemarin malam, ketika aku bersembunyi di kolong tempat tidur, aku mendengar pembicaraannya dengan si dayang palsu. Kitab yang keempat ada di rumah salah seorang pangeran dan thayhou sedang menitahkan Sui Tong, congkoan dari barisan pengawalnya untuk mengambilnya.”

“Kalau begitu, benar saja thayhou memiliki empat jilid kitab tersebut,” kata To kionggo. “Bisa jadi…lima atau enam jilid…” dia berdiri dan berjalan beberapa tindak.

Matanya menatap Siau Po lekat-lekat. “Adik, malam itu kau bersembunyi di kolong tempat tidur thayhou, apa sebetulnya yang sedang kau lakukan?”

“Bibi To, biar aku katakan terus terang kepadamu!” sahut sang bocah. “Tapi aku harap jangan kau katakan lagi kepada orang lain, kalau rahasia ini sampai bocor, aku akan terancam bahaya. Tentu kau maklum, aku bisa dibunuh oJeh guruku!”

“Kalau urusan itu menyangkut rahasia Thian Tee Hwee, lebih baik tidak perlu kau katakan!” kata To kionggo.

“Tapi…” sahut Siau Po. “Kau orang baik-baik, aku rasa tidak ada halangannya memberitahukan kepadamu. Thian Tee Hwee kami sudah membuat perjanjian dengan pihak Bhok Onghu, kami akan bekerja sama tapi untuk itu kami harus berlomba. Siapa yang lebih dulu berhasil menumpas Gouw Sam Kui, maka pihak yang satu harus tunduk pada perintah pihak yang berhasil itu. Karena itulah Suhu menyuruh aku menyelundup dalam istana untuk mencari berita rahasia yang bisa menjatuhkan Gouw Sam Kui. Dengan demikian Bhok Onghu akan tunduk pada Thian Tee Hwee. Karena itulah aku selalu mencuri dengar pembicaraan ibu suri!”

“Oh, begitu!” kala si dayang. “Bagiku sendiri, tidak perduli pihak mana pun yang berhasil menjatuhkan Gouw Sam Kui, tetap merupakan hal yang menggembirakan!”

“Tapi, bibi To,” kata Siau Po dengan suara memohon. “Kau harus membantu kami, jangan kau membantu pihak Bhok Onghu!”

To kionggo ragu-ragu, tapi akhirnya dia berkata. “Sebetulnya aku tidak bermaksud berpihak kepada siapa pun, tapi, baiklah, kalau ada kesempatan, aku membantu pihakmu!”

“Terima kasih, bibi! Terima kasih!” kata Siau Po gembira sekali.

To kionggo menarik nafas panjang. “Sayang sekali kita tidak dapat kembali ke istana lagi. Kalau tidak, tentu kita bisa bekerja sama dan saling membantu!” katanya.

“Tapi,” tukas Siau Po. “Sri Baginda sangat menyayangi aku. Kalau aku kembali secara diam-diam, aku percaya beliau tidak akan memberitahukan kepada thayhou. Lagipula, seranganmu terhadap thayhou cukup berat, meskipun sekarang belum mati, entah bagaimana keadaannya, belum tentu lukanya bisa disembuhkan….”

Sepasang alis To kionggo langsung berkerut mendengar ucapan Siau Po. “Benar, adik. Apa yang kau katakan memang benar!” katanya. “Sekarang, adikku, ada sesuatu yang ingin kubicarakan…. Aku harap kau bersedia membantu aku mencuri beberapa jilid kitab Si Cap Ji cin-keng itu!”

Siau Po pura-pura berpikir. “Seandainya umur thayhou tidak panjang, tentu kitab-kitab itu akan dimasukkan ke dalam peti matinya apabila beliau wafat!” katanya setelah lewat sejenak.

“Tidak, tidak mungkin!” kata To kionggo yakin. “Aku hanya khawatir didahului oleh Sin Liong Kaucu yang cerdik itu. Kalau hal ini sampai terjadi, celaka!”

Siau Po heran mendengar disebutnya nama Sin Liong Kaucu yang berarti ketua atau pemimpin dari sebuah perkumpulan bernama Naga sakti. Baru pertama kali ini dia mendengarnya. “Siapa dia?” tanya Siau Po.

To kionggo tidak menjawab, dia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ketika dia melihat fajar mulai menyingsing di luar jendela, dia segera membalikkan tubuhnya dan menatap Siau Po. “Kita tidak dapat bicara terlalu banyak di sini, mungkin saja dinding di sini ada telinganya. Mari kita pergi!”

Selesai berkata, To kionggo segera membungkukkan tubuhnya dan memondong dua sosok mayat yang tergeletak di atas lantai untuk dinaikkan ke atas kereta yang ada di depan penginapan tersebut. Siau Po mengikuti perbuatannya. Dia menggotong mayat yang ketiga. Untung saja ketiga Siewie itu mati karena totokan, jadi ditubuh mereka tidak terdapat bekas luka dan tidak ada setetes noda darah pun yang ketinggalan.

Di luar penginapan, To kionggo berkata. “Pemilik penginapan beserta pelayannya ditotok oleh ketiga Siewie ini. Sampai waktunya jalan darah mereka akan bebas sendiri, mari kita pergi!”

Siau Po setuju. Dia menganggukkan kepalanya. Keduanya melompat naik ke atas kereta. Mereka duduk berdampingan di depan. Si dayang yang mengendalikan tali kuda. Kereta segera dilarikan ke arah barat.

Setelah lewat tujuh delapan li, hari sudah terang sekali. Di sisi jalan terdapat banyak kuburan tua. To kionggo melemparkan ketiga sosok mayat Siewie itu, kemudian dia menindihnya dengan batubatu besar dan naik lagi ke atas kereta serta menjalankannya kembali. “Sekarang, sembari menjalankan kereta, kita dapat berbicara dengan tenang,” katanya kemudian. “Kita tidak perlu khawatir ada orang yang mendengarnya.”

Siau Po tertawa. “Bagaimana kalau ada orang yang bersembunyi di kolong kereta?” tanyanya.

To kionggo terkejut. “Kau benar!” katanya kagum. “Ternyata kau lebih teliti daripada aku!”

Dia langsung mengayunkan cambuknya berkali-kali ke bawah kereta sehingga terdengar suaranya yang nyaring dan berisik, tetapi tidak ada reaksi apa pun dari bawah kereta. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada orang yang bersembunyi di sana.

Jalanan yang mereka lalui adalah jalan raya, tapi keadaannya sunyi sekali.

“Kau pernah menolong jiwaku dan aku juga pernah menolong jiwamu,” kata To kionggo kemudian. “Dengan demikian kita telah menjadi sahabat sehidup semati. Hari depan kita masih panjang, masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling membantu. Adik kecil, usiamu masih muda sekali. Sebenarnya pantas bagi aku untuk menjadi ibumu. Aku bersyukur kau mau memanggilku bibi. Tapi aku mempunyai usul, entah kau setuju tidak. Bagaimana kalau aku menjadi bibimu yang sah? Aku akan mengakui kau sebagai keponakanku!”

“Bagus!” sahut Siau Po. Dia berpikir dalam hati. ‘Tidak ada salahnya menjadi keponakan perempuan ini, aku toh sudah memanggilnya bibi!’ kemudian dia menambahkan. “Tapi…ada satu hal yang menjadi masalah. Kalau kau sudah tahu, mungkin kau tidak sudi lagi menganggap aku sebagai keponakanmu….”

To kionggo menatapnya lekat-lekat. Dia merasa agak heran. “Apa itu?” tanyanya.

“Aku tidak mempunyai ayah,” sahut Siau Po terus terang. “Lebih dari itu, ibuku tinggal di rumah pelesiran menjadi perempuan penghibur.”

To kionggo tertegun saking herannya. Tetapi sesaat kemudian dia tertawa, wajahnya berseri-seri. “Keponakanku yang baik, hal itu bukan persoalan!” katanya. “Seorang enghiong tidak perlu mengkhawatirkan asal-usulnya yang rendah. Bukankah Beng thayeou, leluhur kerajaan Beng kita tadinya juga seorang bikhu, bahkan pernah menjadi gelandangan? Anak, urusan seperti ini pun tidak kau sembunyikan dariku. Hal ini menandakan kejujuran hatimu. Baiklah! Aku juga tidak akan merahasiakan siapa diriku….”

Mendengar ucapan wanita itu, Siau Po berpikir dalam hati. ‘Ibuku memang seorang pelacur. Mau Sip-pat toako juga sudah tahu, tapi dia pun tidak mengatakan apa-apa. Bukankah urusan ini tidak mungkin disembunyikan untuk selamanya? Untuk apa aku menutupinya? Lebih baik aku bersikap terus terang!’ –

Membawa pikiran demikian, segera dia melompat turun dari kereta, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan To kionggo sambil menjura dan menganggukkan kepalanya. “Bibi, harap bibi sudi menerima hormat Wie Siau Po, keponakanmu ini!”

Menyaksikan hal itu, bukan main terharunya hati To kionggo. Sudah berapa puluh tahun dia mengeram dalam istana tanpa sanak atau orang yang dekat dengannya sehingga dia merasa kesepian. Hatinya langsung tergerak mendapat perlakuan sedemikian rupa dari si bocah. Dia langsung melompat turun dari kereta dan membangunkan Siau Po.

“Oh, keponakanku yang baik! Anak, mulai detik ini, aku mempunyai seseorang yang dekat denganku!” Tak sanggup To kionggo melanjutkan kata-katanya, air matanya langsung mengucur dengan deras. Lewat sesaat, dia baru tertawa. Hatinya senang sekali. “Anak, kau lihat sendiri, benar-benar memalukan. Tanpa karu-karuan bibimu menangis!”

Setelah itu keduanya melompat ke atas kereta lagi. To kionggo duduk dengan tangan kanan memegang tali kendali kereta dan tangan kirinya menggenggam tangan Siau Po erat-erat. Perlahanlahan, kereta itu pun dijalankan.

Advertisements

1 Comment »

  1. Keren…

    Comment by buyung panyungai — 21/11/2012 @ 6:43 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: