Kumpulan Cerita Silat

06/09/2008

Duke of Mount Deer (39)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:30 am

Duke of Mount Deer (39)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

Sekarang Tian Coan percaya kedua nona itu sudah mengetahui siapa adanya Wie Siau Po, karena itu dia langsung berkata. “Wie Hiocu, sebawahanmu akan mentaati apa pun perintahmu!”

Terkaan Tian Coan keliru. Sebenarnya Kiam Peng dan Phui Ie belum tahu bahwa thaykam yang menolong mereka adalah hiocu dari Thian Tee Hwee. Karena itu mereka merasa heran mendengar orang tua yang sudah mempunyai nama itu memanggil Siau Po dengan sebutan hiocu. Mereka segera menoleh dan memperhatikan Siau Po lekat-lekat saking herannya.

Siau Po mengerti kebingungan kedua nona itu, dia langsung tersenyum dan menjelaskan.

“Nona-nona, perlu kalian ketahui bahwa Gouw Lip Sin loyacu dan muridnya serta Lau It-cou telah berkumpul kembali bersama Bhok siau ongya dan sudah meninggalkan kotaraja ini. Kamilah yang mengatur semua itu.”

“Iya, betul,” kata Ci Tian-coan menambahkan.

“Bhok ongya kemarin sudah meninggalkan kotaraja dan keadaannya baik-baik saja.” .

“Jadi kakak Lau It-cou juga bersama dengan toako sekarang?” tanya Kiam Peng mewakili nona Pui yang kemalu-maluan.

“Benar,” sahut Tian Coan. “Aku sendiri yang mengantarkan mereka keluar pintu kota, tapi mereka berpencar menjadi dua kelompok. Lau It-cou berjalan bersama dengan Liu loyacu.”

Phui Ie menundukkan kepalanya. Wajahnya merah padam. Melihat sikap nona itu, Siau Po berkata dalam hatinya.

‘Kau mendengar kabar tentang pacarmu yang berhasil meloloskan diri dengan selamat, tentu saja kau kesenangan setengah mati…. ‘

Tetapi, sebenarnya dugaan Siau Po keliru. Phui Ie justru merasa sedih dan bingung. Dia berpikir dalam hati.

‘Aku sudah berjanji dengannya, bila dia berhasil menyelamatkan Lau suko, maka aku bersedia menikah dengannya. Meskipun aku rela, tapi dia kan seorang thaykam, mana mungkin aku menikah dengannya? Dia juga masih terlalu muda, meskipun tingkahnya berlebihan. Sekarang dia malah menjadi Wie Hiocu entah apa.’

Siau Po tidak memperdulikan pikiran nona itu, dia berkata lagi dengan cepat.

“Kedua nona itu sempat berhadapan dengan para Siewie istana sehingga kedua-duanya terluka. Sekarang mereka ingin pergi ke dusun Cioki cung di mana tinggal salah seorang sahabat mereka. Aku berpikir untuk memohon bantuan Ci toako agar sudi mengantarkan sampai tujuan dengan selamat.”

“Urusan itu mudah!” sahut Tian Coan. “Malah aku merasa senang sekali hiocu memilih aku yang menjalankan tugas ini. Sebawahanmu ini merasa menyesal terhadap apa yang pernah terjadi antara sebawahanmu dengan keluarga Bhok. Bukankah Siau ongya telah menolong aku? Aku merasa bersyukur sekaligus malu, karena itu aku senang sekali menerima tugas ini. Aku harap aku dapat mengantar kedua nona ini sampai di tujuan tanpa kurang sesuatu apa pun. Dengan demikian perasaanku menjadi agak lega….”

Bhok Kiam-peng memperhatikan Ci Tian-coan. Dia melihat orangnya sudah tua dan tubuhnya juga kecil kurus, punggungnya agak membungkuk. Dia jadi mempunyai dugaan bahwa orang ini pasti roboh tertiup angin yang rada kencang saja, mengapa orang tua semacam ini diberi tugas mengantarkan mereka berdua? Bisa jadi nanti bukan mereka berdua yang dilindungi, malah mereka berdualah yang harus melindungi si tua bangka itu. Justru karena Siau Po mengatakan bahwa dia tidak dapat turut serta, Kiam Peng menjadi tidak puas. Hal ini tersirat jelas pada wajahnya. Sebaliknya Phui Ie tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Dia hanya berkata.

“Ci toako, kami benar-benar tidak berani merepotkan dirimu,” katanya merendah. “Bagi kami, sudah lebih dari cukup apabila disediakan sebuah kereta yang besar agar dapat melanjutkan perjalanan. Luka kami sudah tidak terlalu mengkhawatirkan…”

Ci Tian-coan tertawa.

“Nona Pui, tak usah nona sungkan-sungkan!” katanya. “Hiocu sudah menitahkan aku dan aku harus menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Nona berdua sangat gagah, sebetulnya kalian tidak memerlukan pelayanan kami yang mungkin menjemukan. Lagipula aku sudah tua, tidak pantas dikatakan mengantarkan, tapi setidaknya aku cukup berguna untuk disuruh-suruh, Aku bisa mencarikan penginapan untuk beristirahat, menyewakan kereta, membelikan barang-barang yang dibutuhkan. Aku senang dalam melakukan semua itu. Dengan ikutnya aku si orang tua, nona berdua tidak perlu capekkan diri melakukan sendiri pekerjaan kasar apa pun.”

Mendengar ucapan si orang tua yang ramah itu, Pui dan Kiam Peng sadar mereka tidak enak untuk menolak terus. Akhirnya Phui Ie berkata.

“Ci loyacu sangat baik hati, entah bagaimana kami dapat membalasnya kelak?”

Kembali Tian Coan tertawa.

“Apanya yang harus dibalas?” sahutnya ramah. “Bicara terus terang, nona berdua, kekaguman aku si orang tua terhadap hiocu kami yang satu ini tidak pernah habis-habisnya. Jangan nona-nona memandang remeh terhadap usianya yang masih muda, kenyataannya banyak yang dapat dilakukannya. Kemarin hiocu telah membantu aku melegakan dadaku yang sesak ini, dan di saat aku sedang berpikkir bagaimana caranya untuk membalas budi, tahu-tahu begitu kebetulan aku mendapat tugas ini.

“Nona berdua, meskipun kalian tidak sudi diantar olehku, aku bisa tahu diri. Nanti aku akan berangkat terlebih dahulu agar dapat berjalan di depan kalian dan si orang tua ini bisa mengatur segalanya. Seandainya bertemu gunung, aku akan membuat jalannya, bertemu sungai, aku akan membangun jembatannya, dengan demikian tanpa kesulitan nona-nona berdua bisa tiba di dusun Cioki cung jangan kata mengantar nona berdua sampai dusun itu, yang hanya makan waktu beberapa hari, sekalipun harus mengantarkan sampai ke Inlam, aku juga akan menjalankannya dan baru berhenti apabila kalian sudah sampai di tujuan.”

Kiam Peng tertarik juga mendengar kata-kata Tian Coan. Wajahnya memang tidak enak dilihat, tapi orang tua ini berani dan bicaranya polos. Kiam Peng jadi suka berbicara dengannya.

“Dalam urusan apakah kemarin dia membuat dada loyacu jadi lega?” tanyanya. “Ke… marin kan dia ada dalam istana?”

“Persoalannya begini…” sahut Thian Coan sambil tertawa. “Di bawah pemerintahan Gouw Sam Kui dari propinsi Inlam ada seorang pembesar anjing bernama Yo It-hong. Dia telah menangkap aku si orang tua. Di tempat tahanannya aku dimaki-maki seenak perutnya dan disiksa secara bergantian. Hampir saja selembar jiwaku yang tua ini melayang. Untung kakakmu, Bhok siau ongya telah mengirim orang untuk menolong aku. Pada waktu itu Wie Hiocu berjanji akan menyuruh orang menghajar kaki pembesar anjing itu sampai patah.

Kebetulan putra Gouw Sam Kui datang ke kota raja dengan membawa banyak pengikutnya. Termasuk Yo It-hong. Sebelumnya dia pernah makan hantamanku, karena itu dia menjadi tidak puas, tapi dia tidak dapat menemukan aku karena tidak tahu di mana aku berada. Beberapa hari yang lalu, ternyata datanglah bintang gelap yang menimpaku. Ketika aku berada di toko obat di sebelah barat kota, dia menculikku. Tentu saja dengan mengandalkan orang-orangnya yang banyak dan saat itu aku masih dalam keadaan terluka. Setelah ditolong oleh Bhok siau ongya, aku terus mencari jalan untuk membalaskan sakit hatiku. Sampai sekian jauh belum datang juga kesempatan itu. Eh, tidak tahunya kemarin aku bertemu dengan seorang sahabat yang menjadi tabib khusus patah tulang. Dialah yang memberitahukan padaku bahwa orang-orang Peng See Ong menggotong seorang pembesar negeri yang terluka. Dia seperti diarak ke setiap tabib di kota. Anehnya, meskipun telah mendatangi tiga puluhan tabib, tidak ada seorang pun yang bersedia mengobatinya. Dia dibiarkan kesakitan. Orang-orang yang menggotongnya menjelaskan bahwa pembesar anjing yang luka itu bernama Yo It-hong dan lukanya itu didapatkan karena baru saja dihajar oleh puteranya pengkhianat Gouw Sam Kui, yakni Gouw Eng Him dengan toya. Katanya pembesar anjing itu dibiarkan menderita selama tujuh hari tujuh malam baru akan diobati!”

Kiam Peng dan Phui Ie merasa heran. Hal itu benar-benar aneh bagi mereka. Untuk apa pembesar itu diarak ke setiap tabib kalau bukan untuk diobati?

“Apa arti perbuatan orang-orang yang menggotongnya itu?” tanya kedua nona itu kepada Siau Po.

Orang yang ditanya tertawa. “Yo It-hong, pembesar anjing itu telah bersalah kepada Ci toako,” sahutnya. “Perbuatannya sungguh keterlaluan. Sekarang dia harus diberi pelajaran agar tahu rasa dan menderita!”

“Lalu, mengapa dia digotong kesana kemari oleh anjing Peng See Ong? Apakah sengaja dilakukan agar dilihat oleh orang banyak?”

Siau Po tertawa. “Gouw Eng Him, si bocah busuk itu melakukan hal tersebut supaya aku mendengarnya,” sahutnya. “Aku yang menyuruh dia menghajar kaki pembesar anjing itu dan ternyata dia telah melakukannya dengan baik.”

Kiam Peng semakin heran.

“Lalu, mengapa Gouw Eng Him harus mendengar kata-katamu?” tanyanya kembali.

Kembali Siau Po tertawa. “Aku hanya mengoceh sembarangan di hadapannya untuk mengelabuinya,” sahutnya. “Rupanya dia percaya dengan ocehanku.”

“Tadinya aku ingin membunuh pembesar anjing itu. Tapi setelah dipikir-pikir, aku membatalkannya. Dia toh sudah diarak kesana kemari dalam keadaan terluka. Kakinya yang patah itu tidak boleh diobati dulu. Kalau dia langsung dibunuh begitu saja, tentu terlalu enak baginya. Karena itulah aku membiarkannya. Kemarin sore aku melihatnya sendiri. Menurut pandanganku, meskipun masih hidup, tapi nyawanya tinggal satu dua bagian saja. Kedua kaki celananya digulung ke atas sampai ke paha. Kakinya yang terluka pun sudah membengkak dan biru matang. Aku yakin paling-paling dia bisa bertahan beberapa hari lagi. Nah, nona-nona berdua, coba kalian pikir, apakah aku tidak merasa puas melihat kenyataan itu?”

Kedua nona itu tersenyum. Demikian pula dengan Siau Po.

Tidak lama kemudian muncul Kho Gan-tiau yang melaporkan bahwa dia sudah mencarikan dua buah kereta besar dan sekarang sudah menunggu di depan pintu. Dia termasuk seorang anggota penting dalam perkumpulan Thian Tee Hwee, tetapi menurut peraturan partai itu, dia tidak boleh sembarangan diperkenalkan dengan orang. Itulah sebabnya dia tidak diajak kenal dengan kedua nona itu. Thian Tee Hwee bertujuan menentang pemerintahan Boan, karena itu anggota-anggotanya dianggap tidak perlu terlalu menonjolkan diri.

Menerima laporan itu, Siau Po berpikir dalam hati.

‘Dalam buntalanku sudah terkumpul enam jilid kitab Si Cap ji cin-keng. Apa faedahnya kitab-kitab itu? Aku sama sekali tidak tahu. Mengapa orang lain selalu menginginkannya, sampai-sampai menempuh jalan mencuri bahkan mengorbankan jiwa orang lain? Di balik semua ini, pasti ada sebabnya. Karena itu, aku harus menjaga baik-baik agar kitab ini jangan sampai hilang.”

Hanya sejenak Siau Po berpikir. Kemudian dia mendapat akal. Dia menggapaikan tangannya kepada Kho Gan-tiau,

“Kho toako,” bisiknya. “Selama di istana aku mempunyai seorang sahabat yang telah dibunuh oleh para Siewie. Karena dia merupakan sahabat karibku, maka aku menyimpan tulang belulangnya. Ada niatku untuk menguburnya baik-baik. Karena itu, tolong kau beli sebuah peti mati yang bagus untuk menempatkan abunya.”

Orang she Kho itu menerima perintah itu dengan mengangguk. Ketika mengundurkan diri, dia berpikir:

‘Sahabat hiocu itu pasti seorang gisu yang menentang kerajaan Boan, karena itu aku harus mencari peti mati dengan kayu pilihan dariLiu Ciu.’

Gan Tiau cerdas juga pandai bekerja. Dia diberikan uang sebesar lima ratus tail perak, tapi masih bersisa tiga puluh tail lebih. Kecuali peti mati, dia juga membeli pakaian, guci, semen, kertas, lengpay dan lain-lainnya. Menuruti pesan sang hiocu dia juga membeli pakaian serta sepatu untuk Phui Ie dan Kiam Peng. Tidak lupa pula ia membeli ransum kering untuk perbekalan dalam perjalanan.

Sampai sekembalinya Kho Gan-tiau, Siau Po, Kiam Peng dan Phui Ie mendapat kesempatan tidur selama kurang lebih dua jam. Siau Po yang pertama-tama mengganti pakaian, dia tidak berdandan sebagai seorang thaykam lagi. Dia sendiri yang mengurus penyimpanan kitab-kitabnya. Mula-mula dia membungkus keenam kitab itu dengan kertas yang berlapis-lapis, kemudian dimasukkannya ke dalam guci lalu dipenuhi dengan abu gosok.

‘Paling bagus kalau peti mati ini aku isi dengan kerangka manusia,’ pikirnya dalam hati. ‘Seandainya ada orang Yang Ciuriga, dan membuka tutup peti mati ini, mereka tidak akan ragu lagi . Tapi, dalam waktu yang singkat, kemana aku harus mencari kerangka manusia atau mayat yang utuh? Di mana aku harus mencari orang jahat yang patut dibunuh?”

Ketika akan keluar dari kamarnya dengan membawa guci, Siau Po membasahi matanya dengan air. Dia muncul dengan tampang sedih. Peti mati diletakkan di ruangan belakang dan memang tempat itulah tujuannya. Dia memasukkan guci berisi ‘abu jenasah’. Setelah selesaai, dia menjatuhkan dirinya berlutut untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada ‘sahabat’nya itu. Dia melakukannya sambil menangis pilu.

Di ruang itu telah berkumpul Ci Tian-coan, Kho Gan-tiau juga kedua nona dari keluarga Bhok. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menaruh kecurigaan. Bahkan semuanya ikut memberikan penghormatan terakhir.

Siau Po pernah melihat upacara sembahyang di rumah keluarga Pek, maka dia pun menirunya. Dia berlutut di depan keempat orang itu dan menghaturkan terima kasih.

“Hiocu, siapakah nama sahabatmu itu?” tanya Kho Gan-Tiau. “Nama dan she dia harus ditulis dengan jelas.”

“Dia… dia…” kata Siau Po pura-pura menangis. Padahal dia bingung karena belum memikirkan nama sahabatnya itu. Dia… she Hay bernama Kui Tong.”

Siau Po memang cerdas sekali. Dalam waktu yang singkat dia bisa memikirkan sebuah nama yang diambilnya dari nama Hay thayhu, Siau Kui Cu, dan Sui Tong. Dia berpikir dalam hati.

‘Aku telah membunuh kalian bertiga dan sekarang aku bersembahyang untuk arwah kalian. Uang ini boleh kalian gunakan di dalam alam baka. Tapi arwah kalian tidak boleh mengganggu aku, ya!’ Kiam Peng melihat Siau Po menangis dengan sedih. Dia segera menghibur.

“Bangsa Tatcu telah membunuh para gisu dan sahabat kita. Suatu hari pasti akan tiba saatnya kita membalaskan sakit hati mereka. Dan sakit hati gisu ini pun akan terbalaskan!”

Abu jenasah palsu itu disebut ‘gisu’ panggilan yang Juar biasa hormatnya. Karena ‘gisu’ berarti ‘Patriot pecinta negara’.

“Memang bangsa Tatcu harus dibasmi!” kata Siau Po dengan nada sengit. “Kalau tidak, arwah para gisu tidak akan tenang dan sakit hatinya tidak terlampiaskan!”

Selesai upacara sembahyang, semua orang berdiam untuk beristirahat. Kemudian mereka mengucapkan selamat berpisah kepada Kho Gan-tiau untuk melanjutkan perjalanan.

“Biar aku antar kalian barang selintasan,” kata Siau Po kepada kedua nona dari keluarga Bhok itu.

Tentu saja Kiam Peng dan Phui Ie menjadi gembira mendengarnya. Kedua nona itu duduk dalam satu kereta. Sedangkan Ci Tian-coan dan Siau Po duduk dalam keretanya masing-masing. Kereta itu keluar dari pintu timur dan menuju arah timur juga. Setelah lewat beberapa li, baru mereka mengambil arah selatan. Kurang lebih menempuh perjalanan sejauh delapan li, Tian Coan menyuruh kereta-kereta itu dihentikan. Kemudian dia berkata kepada Siau Po: “Ada pepatah yang mengatakan ‘mengantar sahabat sejauh seribu li’, Tapi meskipun demikian, akhirnya toh harus berpisah juga. Begitu pula dengan kita, Sekarang hari sudah siang. Mari kita singgah untuk minum teh, setelah itu kita melanjutkan perjalanan masing-masing.”

Siau Po setuju. Mereka mampir di sebuah kedai teh yang letaknya di pinggir jalan. Ketiga sais kereta juga diajak serta, mereka duduk bertiga di meja lain.

Ci Tian-coan tahu diri. Dia menerka kedua nona itu tentu ada apa-apanya dengan hiocu perkumpulan mereka. Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan. Dengan mencari alasan, dia mengundurkan diri. Dia berdiri memangku tangan dan menyaksikan pemandangan alam di luar kedai.

“Kui… Kui…” kata Kiam Peng membuka mulut, tapi dia segera mengganti kata-katanya. “Oh, bukan, bukan. Sebenarnya kau she Wie bukan? Dan kau juga seorang… entah hiocu apa?”

Siau Po tertawa. “Aku she Wie dan namaku Siau Po,” katanya terus terang. “Di tempat ini aku adalah seorang hiocu dari Ceng-bok tong yang merupakan bagian dari Thian Tee Hwee. Sekarang aku tidak dapat berbohong lebih lama lagi.”

“Oh!” seru nona Bhok heran. Kemudian dia menarik nafas panjang.

“Mengapa kau menarik nafas?” tanya Siau Po.

“Kau adalah seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari Thian Tee Hwee,” kata si nona.

“Tetapi… mengapa kau menjadi thaykam dalam istana Boan? Bukankah hal itu…. ”

Phui Ie menduga Kiam Peng akan mengatakan ‘bukankah hal itu sayang sekali?’ Untuk mencegahnya, dia segera menukas. Dia tidak ingin Siau Po menjadi tidak enak hati.

“Kalau seorang yang berjiwa gagah dan bersemangat patriot sudi bekerja untuk negaranya,” katanya. “Dia tidak akan memperdulikan jalan apa pun. Walaupun hal itu menentang sanubarinya sendiri, dia tetap akan menjalankannya. Kita justru harus menghormati orang seperti itu!”

Nona Pui menduga Siau Po mendapat tugas dari perkumpulannya untuk menyelinap ke dalam istana kerajaan Ceng untuk menjadi mata-mata. Demi keberhasilannya, dia rela menjadi thaykam. Pengorbanan semacam itu baginya besar sekali.

Siau Po dapat menerka isi hati kedua nona itu. Dia tersenyum. Dalam hatinya dia bertanya pada dirinya sendiri. ‘Apakah sebaiknya aku menjelaskan bahwa aku bukan seorang thaykam asli?’

Tepat pada saat hiocu ini sedang berpikir keras, tiba-tiba dia dikejutkan suara bentakan Ci Tiancoan. “Hm! Sahabat yang baik! Apakah sampai detik ini kau masih tidak mau memperlihatkan dirimu?”

Teguran itu ditujukan pada salah seorang sais kereta yang duduk di sampingnya. Tangannya segera meluncur untuk menepuk bahu orang itu. Tapi tepukannya itu gagal, karena si sais berhasil memiringkan bahunya dengan gesit sekali.

Tangan kiri Tian Coan segera meluncur lagi untuk menghajar pinggang kiri orang itu. Ternyata sais atau kusir itu memang lihay sekali. Dia menangkis sambil menggeser tubuhnya sehingga terbebas dari serangan itu. Tian Coan merasa penasaran, sikut kanannya menyusul ke arah belakang leher si kusir. Tukang kereta itu memang hebat. Dia mengelakkan bagian belakang lehernya sambil membalas dengan meluncurkan tangan kanannya ke wajah penyerangnya.

Menyaksikan hal itu, Tian Coan mencelat mundur. Dia merasa heran sekaligus kagum. Kelihayan orang itu benar-benar di luar dugaannya. Apalagi selama mengelakkan diri maupun menyerang. Kusir itu tetap duduk di atas kereta. Bukankah kepandaiannya sendiri cukup tinggi dan serangannya selalu membahayakan?

Dari tiga jurus yang sudah berlangsung, kentara jelas Ci Tian-coan yang keteter, dia menjadi tercekat hatinya sekaligus gusar. Bukankah dia mendapat tugas untuk mengantar kedua nona dari keluarga Bhok dan keselamatan mereka harus terjamin? Tapi sekarang, baru menempuh perjalanan sebentar saja, dia telah menemui rintangan hebat!

Untung saja dia keburu mencurigai kusir itu. Jangan kata tiba di dusun Cioki cung, mereka sekarang baru terpisah dari kotaraja sejauh belasan li.

‘Tentunya dia jago dari istana!’ pikir Ci Tian Coan dalam hati. ‘Tentunya dia mendapat tugas melakukan penangkapan….’

Mengingat demikian, lekas-lekas Ci Tian-coan memberi isyarat kepada Siau Po bertiga yang perhatiannya sudah tertarik. Dia ingin mereka bertiga menyingkir terlebih dahulu agar dia bisa leluasa menghadapi kusir itu.

Siau Po bertiga terdiri dari orang-orang gagah. Meskipun Phui Ie sedang terluka dan tidak dapat berkelahi, namun ketiganya sudah menghunus senjata masing-masing serta menerjang ke depan untuk mengepung kusir itu.

Sang kusir meloncat turun dari kereta dan duduk di atas tanah. Sekarang dia menoleh ke arah Ci Tian-coan dan sembari tertawa manis dia berkata: “Sungguh tajam mata Pat-pi Wan Kau!” suaranya kecil tapi agak melengking.

Siau Po berempat memperhatikan kusir itu. Mereka melihat wajahnya agak tembem seperti bengkak, kulitnya kuning, pipi dan dahinya kotor, pakaiannya juga dekil. Sulit menaksir berapa kira-kira usianya.

Tian Coan heran mendengar orang itu bisa menyebut julukannya. Dia segera merangkapkan sepasang tangannya menjura.

“Tuan, siapa Anda?” tanyanya. “Mengapa tuan menyamar menjadi kusir kereta dan mempermainkan aku si orang tua?”

Sampai waktu itu, barulah si kusir berdiri kembali. Dia bangun perlahan-lahan dan sambil tertawa dia berkata.

“Mempermainkan? Aku yang rendah benar-benar tidak berani! Aku yang rendah adalah sahabatnya Wie Hiocu! Aku mendengar kabar Wie Hiocu sudah meninggalkan kotaraja, karena itu aku datang untuk mengantarkan.”

Siau Po mengawasi orang itu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.

“Maafkan…” katanya. “Kenyataannya… aku tidak kenal dengan tuan.”

Kusir itu kembali tertawa. “Kita berdua telah menghadapi musuh tangguh tadi malam,” katanya. “Hiocu yang baik, masa kau begitu pelupa?”

Siau Po terkejut.

“Oh!” serunya. “Rupanya kau To….” Siau Po segera menyimpan pisau belatinya. Dia menghambur ke depan untuk meraih tangan kusir itu. Rupanya kusir itu merupakan samaran dari To kionggo. Dia memoles wajahnya sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali.

“Aku khawatir hiocu mendapat rintangan di tengah jalan dari bangsa Tatcu, dan aku menyamar dengan niat mengantarkan kau barang selintasan!” kata orang she To itu menjelaskan. Kemudian tampak dia menarik nafas panjang. “Di luar dugaanku, mata Ci loyacu begitu tajam sehingga tidak dapat aku mengelabuinya!”

Ci Tian-coan memperhatikan kedua orang itu. Hatinya menjadi lega dan sekaligus malu. Rupanya kusir itu adalah penyamaran sahabatnya sang hiocu. Dia juga menjadi jengah mengetahui kepandaian orang begitu tinggi, bahkan sepuluh kali lipat dari dirinya sendiri.

‘Aih! Kalau dia benar-beriar seorang musuh, pasti kami berempat sulit meloloskan diri dari maut,’ pikirnya dengan hati jeri.

Membawa pikiran demikian, Ci Tian-coan segera memberi hormat. Sambil tertawa dia berkata. “Tuan, sungguh aku merasa kagum dengan kelihayanmu! Dan kau, Wie Hiocu, rejeki dan jodohmu sungguh bagus, di mana-mana kau mendapatkan kawan yang hebat!”

To kionggo tertawa.

“Ci toako hanya memuji,” katanya. “Tidak sanggup aku menerimanya, tapi aku mohon tanya, kelemahan apakah yang Ci toako lihat sehingga samaranku ini bisa ketahuan?”

“Dalam hal dandanan, aku tidak menemukan kelemahan apa pun,” sahut Ci Tian-coan. “Tetapi kecurigaanku timbul sejak keberangkatan tadi. Aku heran menyaksikan gerakan tanganmu ketika mengendalikan kuda dan menggunakan cambuk. Gerakan tanganmu tidak mirip dengan kusir lainnya. Aku lihat cambukmu meluncur lurus, tapi lenganmu tidak bergetar sebagaimana biasanya orang sedang mengayunkan cambuk. Ketika cambuk itu ditarik kembali, tanganmu juga tidak menekuk sebagaimana umumnya. Kalau aku tidak keliru, gerakan lengan itu dinamakan Kim-liong Ciong ho (Naga emas menerobos sungai) suatu ilmu tenaga dalam yang istimewa. Setahuku, di antara para kusir di kotaraja, tidak banyak yang menguasai ilmu tenaga dalam semacam itu.”

Mendengar kata-katanya, Siau Po dan kedua nona dari keluarga Bhok tertawa. Demikian pula To kionggo dan Ci Tian-coan sendiri. Mereka merasa orang she Ci ini benar-benar teliti juga cerdas. Sampai gerakan tangan orang mengayunkan cambuk pun dia perhatikan, sehingga dapat terlihat perbedaannya dari kusir-kusir lain.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: