Kumpulan Cerita Silat

03/09/2008

Duke of Mount Deer [38]

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:28 am

Duke of Mount Deer [38]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

Kaisar Kong Hie tertegun sekian lama. Otaknya terus bekerja. Dia benar-benar bingung. “I… bu… ibu kandungku… telah dibunuh orang…” katanya.

“A… pakah Hau Kong honghou itu ibu kandungmu?” tanya Siau Po.

Raja mengangguk.

“Benar!” katanya. “Teruskanlah ceritamu. Jangan sampai ada yang ketinggalan!”

Suara raja terdengar bergetar, satu bukti bahwa dia sedang menahan guncangan hati sekuatnya, tapi tak urung air matanya mengalir juga.

Siau Po melanjutkan ceritanya. Dia menjelaskan seperti apa yang didengarnya, yakni kedua permaisuri Toan Keng honghou dan Hau Kong honghou mati akibat pukulan ‘Hoa-kut bian ciang.’ Demikian pula dengan putera Toan keng honghou, pangeran Yong Cin ong serta selir Tang Gok cenghui, serta bagaimana mayat mereka diperiksa sebagaimana permintaan Hay kongkong. Setelah itu Hay kongkong berangkat ke Ngo Tay san untuk menyampaikan berita tersebut kepada kaisar Sun Ti. Itulah sebabnya kaisar Sun Ti memerintahkan Hay kongkong pulang ke istana untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut.

Kemudian Siau Po juga menjelaskan jalannya pertempuran yang berlangsung antara thayhou dan Hay kongkong. Tentu saja dia tidak sudi mengaku bahwa Hay kongkong mati di tangannya. Dia hanya mengatakan bahwa mata Hay kongkong sudah buta. Karena itu dia tidak dapat melawan ibu suri sehingga berhasil dibunuhnya.

Raja berdiam diri sambil memikirkan keseluruhan cerita itu. Dia juga berusaha menenangkan hatinya agar bisa berpikir dengan kepala dingin. Beberapa kali dia mengajukan pertanyaan yang semuanya dijawab dengan jelas oleh Siau Po. Akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa Siau Kui Cu tidak mungkin membohonginya.

“Sekarang aku tanya lagi kepadamu,” kata kaisar Kong Hie kemudian. “Mengapa sampai hari ini baru kau menceritakan semuanya kepadaku?”

“Urusan ini besar sekali, mana mungkin aku berani lancang mengatakannya?” sahut Siau Po. Dia bicara seenaknya seakan menghadapi seorang teman saja. “Lagipula besok pagi aku akan kabur meninggalkan istana ini dan untuk selamanya aku tidak akan kembali lagi!” Siau Po bicara terus terang tanpa kepalang tanggung.

Raja merasa heran.

“Eh, kau ingin meninggalkan istana?” tanyanya. “Kenapa? Apakah kau takut akan dicelakai oleh thayhou?”

“Biarlah aku bicara terus terang kepadamu,” kata Siau Po yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan kaisar Kong Hie itu. “Tahukah kau siapa kiongli (dayang) yang mati di Cu-Ieng kiong? Dia adalah seorang dayang palsu. Sebenarnya dia seorang laki-laki, bahkan masih suhengnya ibu suri sendiri!”

Raja tertegun. Dia merasa heran sekali. Sekarang dia baru mengetahui bahwa ayahandanya kaisar Sun Ti masih belum mati. Hau Kong honghou atau ibu kandungnya sendiri justru mati di tangan thayhou. Dan sekarang dia mendengar tentang seorang dayang yang ternyata seorang laki-laki. Semua ini benar-benar aneh baginya!

“Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?” tanyanya kemudian.

“Malam itu, seperti apa yang kuceritakan tadi, aku telah mendengar pembicaraan antara Hay kongkong dan ibu suri,” sahut Siau Po. “Meskipun aku berusaha menutupinya, thayhou tetap curiga. Berulang kali thayhou berusaha membunuh aku.”

Kemudian Siau Po menceritakan bagaimana thayhou telah menitahkan Sui Tong lalu Liu Yan dan beberapa orang thaykam untuk menawan dan membunuhnya. Dia juga menceritakan bagaimana dia mencuri dengar pembicaraan thayhou dalam kamarnya dengan seorang pria. Bagaimana keduanya berselisih mulut dan ternyata dia adalah seorang dayang palsu atau seorang laki-laki yang menyaru sebagai dayang dan akhirnya setelah melalui suatu perkelahian yang sengit, thayhou berhasil membunuhnya, namun ibu suri sendiri pun terluka.

Dalam hal ini, Siau Po bicara hal yang sebenarnya, kecuali ada beberapa bagian yang ia hilangkan. Dia tidak menceritakan perihal To kionggo. Dia juga tidak mengakui soal Liu Yan dan Sui Tong yang mati di tangannya. Apalagi persoalan kitab Si Cap Ji Cin-keng yang telah diambil alih olehnya.

Untuk sesaat kaisar Kong Hie berdiam diri. Otaknya terus bekerja. Dia bingung mendengar sepak terjang ibu suri yang biasanya ia hormati dan sayangi, Kalau menilik cerita Siau Po, seharusnya ibu tirinya itu kejam dan jahat sekali.

“Benarkah dayang itu suhengnya ibu suri?” tanyanya kemudian. “Mungkinkah ada orang lain yang mendalangi perbuatan thayhou? Kalau memang ada, siapa kira-kira orang di balik layar itu?”

Siau Po menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Aku benar-benar tidak dapat menerkanya.”

“Sekarang pergilah kau panggilkan To Liong kemari!” kata kaisar Kong Hie memerintahkan.

“Baik!” sahut Siau Po yang langsung berlalu. Di dalam hati dia justru berpikir. ‘Mungkin raja akan berbentrok dengan ibu suri. Dia memanggil To Liong untuk membekuk si nenek sihir dan memenggal lehernya. Bagaimana dengan aku? Sebaiknya aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini atau menunggu lagi untuk memberikan bantuan kepada raja?’

Sementara itu To Liong sedang berduka dan bingung. Di dalam istana sudah berulang kali terjadi peristiwa yang hebat dan dialah yang harus bertanggung jawab. Celaka kalau sampai jabatannya copot apalagi batang lehernya putus. Dia terkejut setengah mati ketika mengetahui raja memanggilnya, dengan perasaan kurang tenang dia datang juga menghadap junjungannya.

Begitu sampai di kamar tidur raja, kaisar Kong Hie langsung berkata kepada pemimpin barisan pengawalnya itu.

“Di keraton Cu-leng kiong sudah aman. Sekarang juga kau tarik seluruh penjagaan barisan Siewie dari tempat itu. Thayhou merasa kesal dan pusing mendengar banyak Siewie yang berkumpul di sana!”

“Baik!” sahut To Liong. Diam-diam dia merasa senang. Tadinya dia mengira panggilan raja adalah akan menegurnya. Dia segera mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah Sri Baginda.

Pikiran kaisar Kong Hie masih terus berputar. Dia ragu-ragu mengambil tindakan. Sementara itu, thaykam gadungan kesayangannya juga sedang bimbang, apakah sebaiknya dia menetap di istana atau segera melarikan diri?

Setelah sekian lama, kaisar Kong Hie merasa seluruh barisan Siewie sudah ditarik dari keraton Cu-leng kiong. Dia segera berkata kepada Siau Po. “Siau Kui Cu, mari kau ikut aku ke keraton Cu-leng kiong. Malam ini kita akan mengadakan penyelidikan secara diam-diam.”

“Oh… Kau mau pergi sendiri?” tanya Siau Po.

Hubungan kedua orang ini memang sudah seperti sahabat karib.

“Iya,” sahut raja. Dia menganggap urusan ini sangat besar dan dia tidak dapat mempercayai keterangan seorang thaykam begitu saja. Walaupun thaykam itu adalah Siau Kui Cu yang sangat disayanginya. Dia masih dilanda kebimbangan, sebab selama ini dia merasa sikap thayhou terhadapnya sangat baik, Mungkinkah dia dapat melakukan semua perbuatan ini? Baginya, penyelidikan di malam hari dan secara diam-diam adalah cara yang paling tepat untuk membuktikan semuanya. Dia juga ingin mencoba kepandaiannya. Dia ingin mencicipi bagaimana rasanya menjadi ‘Ya heng-jin’ (Orang yang mengendap-endap di malam hari) seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang dunia kangouw.

“Tapi,” tukas Siau Po. “Thayhou sudah membunuh suhengnya itu. Sekarang dia pasti sedang tidur atau mungkin sedang mengobati lukanya. Apa yang bisa kita selidiki?”

“Kalau kita tidak menyelidiki, dari mana kita bisa mendapat penjelasan tentang semua ini?” kata Raja.

Siau Po terdiam. Dia bersedia mengikuti junjungannya itu. Kaisar Kong Hie segera berdandan. Selain baju yang singset, dia pun memakai sepatunya yang ringan. Itulah pakaian yang selalu dipakainya dulu ketika masih berlatih silat dengan Siau Po. Selesai berpakaian, mereka keluar dari pintu samping dan terus menuju keraton Cu-leng kiong. Beberapa orang Siewie dan thaykam melihat kemunculan sang raja. Mereka langsung mengiringi.

“Semua diam di tempat!” kata raja dengan suara berwibawa. “Siapa pun tidak boleh sembarangan bergerak!”

Ucapannya merupakan firman atau perintah seorang kaisar. Para thaykam dan Siewie-Siewie itu langsung berdiri tegak dan tidak ada seorang pun yang berani mengikuti lagi.

Kaisar mengajak Siau Po berjalan terus sampai di taman keraton Cu-leng kiong. Suasana di tempat itu sunyi sekali. Tidak terlihat seorang pengawal atau thaykam.

Dengan mengendap-endap, raja menghampiri jendela kamar ibu suri. Di sana dia memasang telinga. Dari dalam terdengar suara batuk-batuk ibu suri.

Hati kaisar Kong Hie berdebaran. Itulah suara ibu tirinya. Dia merasa bingung juga. Dia penasaran mengingat kekejaman dan kejahatan thayhou, tapi dia juga sedih dan kasihan mendengar suara batuk-batuk itu, yang menandakan penderitaannya.

Dua macam perasaan yang berbeda berkecamuk dalam hati kaisar Kong Hie. Antara benci dan sayang. Rasanya dia ingin masuk ke dalam kamar itu untuk memeluk dan menanyakan keadaannya. Di lain pihak, dia juga ingin menerjang ke dalam untuk menanyakan kebenaran yang didengarnya tentang segala perbuatan thayhou yang kejam dan jahat. Dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi atas diri ayah kandung dan ibu kandungnya? Di satu pihak, dia juga berharap apa yang dikatakan Siau Po adalah kebohongan belaka. Namun ada juga terselip perasaan bahwa ingin apa yang dikatakan Siau Po adalah hal yang sebenarnya. Demikianlah untuk sesaat dia dilanda dua macam keinginan yang terus bertentangan.

Di dalam kamar thayhou, penerangan belum dipadamkan. Cahaya lilin bergoyangan. Sebentar gelap, sebentar terang.

Raja tidak perlu memasang telinga terlalu dalam. Dia mendengar suara seorang perempuan. “Thayhou, hamba telah selesai menjahit….”

“Oh…!” seru Ibu suri. “Ma… yat… nya dayang itu… kau masukkan ke dalam kantung….”

“Baik, thayhou,” sahut perempuan itu. Dapat dipastikan bahwa dia juga seorang dayang. “Bagaimana dengan mayatnya thaykam itu?”

“Kau gila!” bentak thayhou. “Aku menyuruh kau mengurus mayat dayang itu mengapa kau menyebut-nyebut soal mayatnya thaykam?”

“Baik, baik thayhou,” sahut si dayang berkali-kali, kemudian terdengar suara seperti benda berat yang digeser.

Raja ingin melihat. Kalau tadinya dia hanya memasang telinga, sekarang dia mengintai. Tadinya dia tidak berani melihat ke dalam, karena sebagai seorang raja, perbuatan itu tidak pantas. Tapi, ternyata dia tidak dapat melihat apa-apa. Semua sela jendela ditempel dengan kertas sehingga tertutup rapat.

‘Bagaimana baiknya sekarang? Biar bagaimana, aku ingin melihatnya,’ katanya dalam hati.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk melakukan tindakan seperti yang biasa diambil oleh orang-orang kangouw bila ingin melakukan pengintaian, yakni dengan membasahi telunjuk dengan air ludah dan kemudian ditusukkan pada kertas jendela sehingga koyak dan terbentuk lubang.

Raja langsung bekerja. Tidak lama kemudian hasilnya sudah terlihat. Di depan matanya terlihat sebuah sela kecil. Dari sana dia dapat mengintai ke dalam. Usahanya pun tidak menimbulkan suara apa-apa.

Apa yang terlihat olehnya?

Tempat tidur thayhou tertutup dengan kelambu sehingga tubuh thayhou tidak terlihat. Sebaliknya di depan tampak seorang dayang yang usianya masih muda sekali sedang berusaha memasukkan sesosok mayat ke dalam sebuah kantong besar. Mayat itu mengenakan pakaian yang sama seperti dayang tersebut, tetapi kepalanya gundul plontos tanpa sehelai rambut pun.

Setelah memasukkan mayat itu ke dalam kantong, si dayang mengambil sebuah rambut palsu yang sejak tadi tergeletak di lantai. Mula-mula dia agak ragu, tapi akhirnya dia melemparkan rambut palsu itu juga ke dalam kantong berisi mayat.

“Thayhou, sudah selesai…” katanya kemudian dengan suara perlahan.

“Apakah Siewie di luar sudah pergi semua?” tanya thayhou. “Aku seperti mendengar suara orang…. ”

Dayang itu menuju pintu dan melongok keluar.

“Sudah pergi semuanya,” katanya melaporkan. “Di luar tidak ada sepotong manusia pun….”

“Kau bawa kantong ini ke tepi kolam,” kata thayhou menitahkan. “Nanti kau masukkan empat potong batu besar ke dalamnya, kemudian kau ikat mulut kantong itu dengan tali yang kuat, lalu kau…” kembali thayhou terbatuk-batuk. “Kau dorong kantong itu agar tenggelam ke dasar kolam….”

“Baik, thayhou,” sahut dayang itu. Kali ini suaranya gemetar, menandakan hatinya yang ketakutan.

“Setelah kantong itu masuk ke dalam air, kau timbun bagian atasnya dengan tanah agar tidak kelihatan!” kata thayhou lagi.

“Baik, thayhou,” sahut dayang itu. Dia langsung menarik kantong mayat itu menuju taman. Raja memperhatikan, dalam hatinya dia berpikir.

‘Siau Kui Cu mengatakan bahwa dayang itu sebenarnya seorang laki-laki, ternyata dia tidak berdusta. Agaknya di balik semua ini memang benar terselip rahasia yang besar sekali. Kalau tidak, mengapa thayhou ingin menenggelamkan mayat itu agar buktinya hilang?’

Siau Po berada di samping raja. Tiba-tiba kaisar Kong Hie menggenggam tangannya erat-erat, Rupanya tangan kedua-duanya sama-sama basah oleh keringat dingin saking tegangnya hati masing-masing. Hebat sekali apa yang mereka saksikan, apalagi bagi seorang raja.

Tidak lama kemudian terdengarlah suara ceburan air, lalu menyusul dengan kembalinya si dayang ke kamar ibu suri.

Raja tidak kenal siapa adanya dayang itu. Tidak demikian dengan Siau Po. Dia tahu dayang itu Lui cu adanya.

“Sudah beres semuanya?” tanya thayhou ingin mendapatkan keyakinan.

“Ya, thayhou,” sahut Lui cu.

“Di sini tadinya ada dua sosok mayat, sekarang tinggal satu,” kata thayhou. “Kalau besok pagi ada yang menanyakannya kepadamu, bagaimana kau menjawabnya?”

“Ham… ba… hamba akan menjawab tidak tahu,” sahut Lui cu gugup.

“Kau selalu mendampingi dan melayani aku, bagaimana kau bisa mengatakan tidak tahu?” tanya ibu suri kembali.

“Iya… iya,” sahut si dayang kebingungan. Tampaknya dia tidak biasa berdusta.

“Apanya yang iya… iya?” bentak ibu suri gusar.

Dibentak sedemikian rupa, tiba-tiba saja kecerdasan si dayang tergugah. Dia segera menjawab. “Hamba… melihat, dayang yang sudah mati itu tiba-tiba bangun kembali, rupanya dia hanya terluka. Ke… mudian dengan perlahan-lahan… dia berjalan keluar kamar. Saat… itu thayhou sedang tidur nyenyak, ham… ba tidak berani mengganggu, da… yang itu ke… luar dari Cu-leng… kiong, la… lu pergi entah… ke… mana ”

Thayhou menarik nafas panjang.

“Oh begitu….” katanya. “Amitaba….! Kiranya ia belum mati, ia menyingkir sendiri…. Nah, bagus begitu!”

“Terima kasih kepada Langit dan Bumi karena dia belum mati!” kata Lui cu yang mengikuti nada bicara ibu suri.

Raja dan Siau Po masih mencuri dengar pembicaraan mereka. Untuk beberapa saat keduanya berdiam diri, kamar itu menjadi sunyi. Kaisar Kong Hie menduga tentunya ibu tiri itu sudah tidur. Diam-diam raja melangkahkan kakinya untuk pulang ke kamarnya sendiri. Dia mendapatkan para Siewie dan thaykam masih berdiri tegak di tempat semula. Dia jadi tertawa melihatnya.

“Sekarang kalian bebas bergerak!” katanya.

Meskipun tertawa, nada suara raja tawar sekali. Hal ini disebabkan perasaannya yang juga tawar sekali. Apa yang ia dengar dan saksikan di kamar thayhou merupakan pukulan berat bagi bathinnya. Ternyata keterangan Siau Po memang benar. Sepak terjang ibu tirinya hebat sekali!’

Setelah berada di dalam kamar, kaisar Kong Hie menatap kepada Siau Po yang masih terus mengikutinya. Siau Po pun tengah memperhatikan junjungannya itu dengan hati bertanya-tanya. Tindakan apakah kira-kira yang akan diambil raja setelah mengetahui rahasia ibu tirinya itu?

Tiba-tiba air mata kaisar Kong Hie mengucur dengan deras.

“Thayhou… Thay… hou…” panggilnya dengan nada sedih.

Siau Po diam saja. Dia tidak tahu bagaimana harus menghibur junjungannya itu.

Raja masih berdiam diri sekian lama. Kemudian dia menepuk tangan satu kali. Dua orang Siewie segera muncul di depan pintu. Mereka memberi hormat kepada kaisar Kong Hie lalu berdiri menunggu perintahnya.

“Ada dua urusan penting dan rahasia, kalian harus mengerjakannya,” kata kaisar Kong Hie kepada kedua pengawalnya itu. “Kalian harus ingat, rahasia ini jangan sekali-sekali sampai bocor! Di dalam taman Cu-Ieng kiong, di dasar kolam teratai ada sebuah kantong yang besar sekali. Kantong itu harus kalian angkat dan bawa kemari. Kalian harus bekerja dengan hati-hati, jangan menimbulkan suara berisik. Thayhou sedang tidur, jagalah jangan sampai beliau mendusin. Kalau hal itu sampai terjadi, awas batang leher kalian!”

Kedua orang Siewie itu menerima baik perintah tersebut. Setelah memberi hormat, keduanya langsung mengundurkan diri.

Kaisar Kong Hie duduk di atas tempat tidur. Otaknya masih terus bekerja. Tentu hatinya masih belum tenang juga. Dia menantikan hasil kerja kedua orang Siewie itu dengan berdiam diri.

Tidak lama kemudian, kedua Siewie itu muncul kembali. Mereka menggotong sebuah kantong yang basah kuyup dan airnya masih terus menetes. Kantong itu diletakkan di depan kamar.

“Apakah thayhou kaget atau terjaga?” tanya kaisar Kong Hie. Hal itulah yang selalu dikhawatirkannya sejak tadi.

“Tidak! Hamba tidak berani menyebabkan hal itu terjadi!” sahut kedua pengawal itu.

Kaisar Kong Hie mengangguk. “Baik! Sekarang bawalah kantong itu ke dalam!”

Perintah itu segera dilaksanakan.

“Sekarang kalian boleh pergi!” kata raja menitahkan.

Kedua Siewie itu langsung mengundurkan diri. Siau Po segera menutup pintu. Tidak lupa dia menguncinya. Setelah itu dibukanya ikatan kantong tersebut dan dengan berani ia menarik keluar mayatnya.

Mayat itu berkepala licin, demikian pula wajahnya. Tidak ada sehelai rambut atau cambang pun, tetapi ada bayangan hitam dari bekas cukurannya dan di tenggorokannya juga ada tonjolan sebagaimana biasanya kaum pria. Dadanya rata. Tidak perlu diragukan lagi dia memang seorang laki-laki, bahkan tubuhnya berotot keras dan jeriji tangannya kasar-kasar. Hal ini membuktikan dia pandai ilmu silat. Kalau ditilik dari wajahnya, tampaknya belum lama dia menyaru sebagai dayang dalam istana, kalau tidak, rahasianya pasti sudah lama terbongkar.

Kaisar Kong Hie sangat teliti. Dia menghunus golok di pinggangnya dan digunakannya untuk mengoyak celana orang itu. Setelah melihat dengan jelas, hawa amarahnya langsung meluap. Meskipun yang dihadapinya hanya sesosok mayat, namun dia melampiaskan kemarahannya dengan membacoknya berkali-kali. Sekejap kemudian bagian dada dan pinggang mayat itu tidak karuan lagi bentuknya.

“Thayhou…” Siau Po ingin mengatakan sesuatu melihat kemarahan junjungannya itu. .

“Thayhou apa?” kata kaisar Kong Hie dengan nada gusar. “Perempuan hina itu sudah mencelakai ibu kandungku sampai mati, dia juga menyebabkan ayahandaku meninggalkan istana ini. Perbuatan busuknya benar-benar mengotori istana. Dia benar-benar jahat! A… ku ingin membacoknya ratusan kali. Seluruh keluarganya harus dibunuh!”

Siau Po menghela nafas. Dia terdiam namun hatinya lega. Biar bagaimana, perasaan jerinya terhadap ibu suri tetap ada. Sekarang lain. Dia berpikir dalam hati.

‘Sekarang raja tidak mengakui thayhou sebagai ibunya lagi. Karena itu, walaupun thayhou akan mengambil tindakan yang bagaimana busuknya sekalipun, asal aku mengetahuinya, tidak mungkin raja akan membunuhku untuk menutup mulutku ini….’

Saking sengitnya, raja masih membacok mayat itu beberapa kali, Bahkan hampir saja dia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk memerintahkan beberapa Siewie menangkap ibu sud agar dihadapkan kepadanya. Untung saja di lain saat ada suatu hal yang terlintas di benaknya.

‘Ayahanda belum wafat. Sekarang beliau berada di gunung Ngo Tay san untuk menyucikan diri,’ pikirnya dalam hati. ‘Ini merupakan urusan besar yang harus dirahasiakan. Kalau rakyat sampai mengetahui hal itu, tentu akan terjadi pergolakan. Tidak. Aku tidak boleh sembrono!’ Karena itu dia menoleh kepada Siau Kui Cu sambil berkata. “Siau Kui Cu, besok pagi-pagi, mari kita berangkat bersama ke Ngo Tay san untuk mencari keterangan dan bukti di sana!”

“Baik, Sri Baginda!” sahut Siau Po. Hatinya senang sekali. Baginya perjalanan itu seperti berpesiar saja. Lagipula, keselamatannya di luar lebih terjamin daripada berada dalam istana.

Raja berkata demikian hanya mengikuti suara hatinya saja. Sesaat kemudian dia berpikir lain. Ketelitiannya dapat membuatnya berpikir jauh. Dia sadar bahwa dia tidak bisa pergi berdua saja dengan Siau Po. Kalau dia pergi secara terang-terangan, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Para menteri dan pembesar di setiap kota harus mengetahuinya, dengan demikian mereka bisa mengatur penyambutan terutama demi menjaga keselamatannya.

Tapi, yang terpenting adalah masalah di kotaraja sendiri. Dia masih muda sekali. Tidak semua menteri setia kepadanya. Bagaimana kalau di saat dirinya sedang melakukan perjalanan, lalu thayhou menggunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukannya dan mahkotanya dicopot? Lalu, bagaimana seandainya ia tidak berhasil menemukan ayahandanya di Ngo Tay san? Apakah ayahnya itu benar-benar masih hidup atau sudah mati? Kalau dia sampai gagal menemukan ayahnya, sedangkan hal ini sudah terbuka, bukankah dia akan menjadi bahan tertawaan? Setelah berpikir bolak-balik akhirnya dia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, Siau Kui Cu!” katanya yang masih memanggil ‘Siau Kui Cu’ pada sahabatnya itu. “Aku tidak bisa meninggalkan kotaraja. Sebaiknya kau pergi saja sendiri!”

Siau Po heran, hatinya agak kecewa.

“Aku sendirian?” tanyanya.

“Iya, kau sendiri saja,” kata kaisar Kong Hie tegas. “Kau lakukan penyelidikan untuk mendapatkan kepastian bahwa ayahku benar-benar masih hidup dan sedang menyucikan diri di gunung Ngo Tay san. Aku harus di sini untuk memperkokoh kedudukanku. Aku harus bersiap menghadapi perempuan hina yang jahat itu! Setelah kau mendapatkan hasil dan kedudukanku di sini sudah cukup aman dan kuat, barulah kita pergi bersama!”

Siau Po berpikir cepat. Usul raja itu memang cukup bagus. Tampaknya raja sudah bertekad untuk menentang ibu suri.

‘Ada baiknya kita bekerja masing-masing.’ pikirnya. Karena itu dia segera menganggukkan kepalanya. “Baik! Aku akan pergi ke Ngo Tay san!”

“Ada sebuah aturan dalam kerajaan Ceng, seorang thaykam tidak bisa meninggalkan istana seorang diri, kecuali secara resmi atau ikut bersamaku. Tapi, Siau Kui Cu, sekarang kau berbeda, karena kau bukan thaykam. Kau boleh pergi, asal bukan sebagai seorang thaykam. Sebaiknya kau berdandan sebagai Siewie saja. Hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan orang-orang dalam istana. Karena selama ini kau dikenal mereka sebagai thaykam. Bagaimana baiknya sekarang?”

Raja termenung sejenak, kemudian baru dia berkata lagi: “Begini saja, Siau Kui Cu, akan kujelaskan pada orang-orang bahwa demi membunuh Go Pay, aku menugaskanmu agar menyamar sebagai thaykam. Sekarang tugasmu sudah selesai, kau tidak perlu menjadi thaykam lagi. Siau Kui Cu, sebaiknya setelah ini kau rajin belajar ilmu surat agar kelak aku bisa menghadiahkan kau pangkat yang tinggi!”

Siau Po tertawa.

“Baik!” serunya. “Bagus sih bagus! Tapi setiap kali melihat buku, kepalaku langsung jadi pusing!”

Raja pun tersenyum. Dia segera duduk di meja dan mengeluarkan kertas serta alat tulisnya untuk membuat surat pada ayahnya. Dia ingin menjelaskan bahwa bukan dirinya tidak berbakti (put hau), tapi sampai sekarang ia baru mengetahui bahwa ayahnya masih hidup dan menetap di gunung Ngo Tay san. Keterangan itu membuat hatinya senang sekali, karenanya dia berjanji akan mengatur persiapan untuk menyambut kepulangan ayahnya ke kotaraja. Dengan demikian mereka ayah dan anak dapat berkumpul bersama-sama lagi.

“Siau Kui Cu, kau harus berhati-hati,” pesan kaisar Kong Hie ketika menyerahkan surat itu kepada Siau Po. “Kalau surat ini sampai terjatuh ke tangan orang, kemungkinan kau akan diringkus dan dibunuh…. ”

“Aku mengerti!” sahut Siau Po.

Raja mengambil sehelai kertas lagi kemudian menulis kembali. Bunyinya begini:

“Diperintahkan kepada Wie Siau Po, Gi-cian Siewie hu congkoan yang dihadiahkan baju Ma kwa kuning untuk pergi ke gunung Ngo Tay san dan sekitarnya untuk melakukan tugas kenegaraan. Semua pembesar setempat, sipil dan militer harus bersedia menerima segala titahnya. Firman atas nama kaisar Kong Hie.

Selesai menulis, raja menyerahkan surat pengangkatannya pada Siau Po dan berkata sambil tertawa: “Aku memberimu sebuah pangkat. Nah , kau lihat-sendiri, pangkat apa itu?”

Siau Po menyambuti kertas itu dan membelalakkan matanya untuk membaca surat itu. Tidak, dia hanya melihat, bukan membaca! Sebab yang dikenalinya hanya beberapa huruf seperti Ngo (lima), san (gunung), It (satu) dan Bun (sipil), lainnya tidak. Karena itu dia menggelengkan kepalanya sambil menyahut.

“Aku tidak tahu pangkat apa. Tapi karena kau yang menganugerahkan, tentunya pangkat ini tidak rendah, bukan?”

Raja tertawa, kemudian dia membacakan firmannya. Mendengar apa yang tertulis di dalam kertas itu. Siau Po menjulurkan lidahnya.

“Oh! Pangkat Gi-cian Siewie hu congkoan?” katanya. “Sungguh hebat! Sungguh hebat! Malah aku mengenakan baju Ma kwa kuning!” Pangkat yang diberikan raja adalah Pemimpin muda dari pasukan pengawal pribadi kaisar.

Raja tersenyum dan berkata. “Walaupun To Liong menjadi congkoan, tapi dia tidak dianugerahkan baju Ma kwa kuning. Sedangkan kau, bila kau berhasil menjalankan tugasmu dengan baik. Sekembalinya nanti, pangkatmu akan kunaikkan lagi. Sayang sekali usiamu masih terlalu muda, karena itu rasanya tidak pantas kau menjadi menteri. Tapi biarlah urusan itu kita bicarakan lagi perlahan-lahan bila kau sudah kembali nanti!”

“Bagiku sendiri, pangkat tinggi atau rendah sama saja,” sahut Siau Po. Dia memang pandai bicara dan berotak encer. “Bagiku sudah lebih dari cukup kalau aku bisa senantiasa mengikutimu.”

Di dalam hatinya kaisar Kong Hie senang sekali mendengar ucapan hambanya itu.

Kau harus berhati-hati dengan kepergianmu ini,” kata kaisar Kong Hie. “Semua gerak-gerikmu harus dirahasiakan. Mengenai firmanku ini, bila tidak dalam keadaan terpaksa, jangan kau perlihatkan pada siapa pun! Nah, kau pergilah!”

Siau Po mengucapkan terima kasih, dia memberikan janjinya. Setelah itu dia memberi hormat dan memohon diri. Ketika kembali ke kamarnya di mana kedua nona Bhok dan nona Pui bersembunyi, dia berpikir.

‘Tentu mereka memikirkan aku sampai bingung dan khawatir….’

Tatkala itu fajar sudah mulai menyingsing. Sampai di kamarnya, Siau Po mendorong pintu perlahan-lahan. Dia segera melihat kedua nona itu sedang duduk berdampingan dengan punggung menyandar tembok. Phui Ie tidak tidur.

“Oh, kau sudah kembali!” sapanya.

“Bagus sekali, selamat!” kala Siau Po tanpa menjawab kata-kata gadis itu. “Mari kita keluar dari tempat ini sekarang juga!”

Berbeda dengan Phui Ie, Kiam Peng sedang tertidur pulas. Mendengar suara orang, dia membuka matanya sambil berkata.

“Kau tahu, suci merasa khawatir sekali, dia takut kau menghadapi ancaman bahaya….”

“Tidak apa-apa, tak ada bahaya apa-apa,” sahut Siau Po.

Pada saat itu terdengar suara bunyi genta sebagai tanda pintu istana telah dibuka dan ratusan pembesar sipil maupun menteri-menteri hadir seperti biasanya untuk memberi hormat dan mengikuti rapat umum bersama Sri Baginda setiap paginya.

Siau Po mendengar suara itu, tapi dia tidak memperdulikannya. Dia malah menyalakan lilin sehingga keadaan kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah kedua nona itu. Dandanan mereka benar-benar sempurna.

“Kalian berdua terlalu cantik,” katanya. “Sebaiknya wajah kalian diolesi tanah sedikit agar tidak terlalu putih!”

Kiam Peng kurang setuju dengan saran Siau Po tapi Phui Ie langsung mencoret tanah dan mengolesi wajahnya sendiri, terpaksa Kiam Peng pun mengikuti kelakuannya. Dengan demikian rona wajah mereka jadi agak gelap.

Siau Po membungkus ketiga kitab Si Cap Ji cin-keng menjadi satu kemudian dia mengeluarkan tusuk konde perak dan menyerahkannya kepada Phui Ie.

“Bukankah ini tusuk konde yang kau maksudkan?” Phui Ie jadi terharu sehingga wajahnya menjadi merah, cepat-cepat ia berpaling ke arah lain.

Siau Po tersenyum.

“Sebenarnya tidak ada bahayanya sama sekali,” katanya, Sedangkan dalam hatinya dia berkata. “Ini yang dinamakan, berbuat baik mendapat pembalasan yang baik pula. Kalau aku tidak pergi mengambil tusuk konde ini, mana mungkin aku mendapat hadiah baju Ma kwa kuning seperti sekarang?”

Siau Po segera mengajak kedua kawannya meninggalkan istana. Mereka keluar Sin-bu mui, yakni pintu belakang kota terlarang, Ci-kiam sia.

Tatkala itu hari baru mulai terang, cuaca masih suram. Penjaga kota melihat yang keluar adalah Siau Kui Cu bersama dua orang thaykam lainnya. Dia tidak berani mencegah, bahkan bertanya pun tidak.

Malah dia bersikap mengambil hati Siau Po yang dia tahu merupakan thaykam kesayangan raja. Dengan demikian, tanpa menemui kesulitan sedikitpun mereka berhasil keluar dari Ci-kiam sia. Setelah berjalan belasan tombak, Phui Ie menoleh ke belakang, kemudian dia menarik nafas lega. Banyak yang dipikirkannya, sejak menyerbu ke dalam istana, dia telah mengalami berbagai peristiwa. Dia seperti sudah mati dan menjelma kembali….

Setibanya di jalan raya, Siau Po segera menyewa tiga joli kecil untuk membawa mereka bertiga. Masing-masing naik ke dalam sebuah joli, Dia menyuruh tukang joli membawanya ke jalan Tiang An barat. Di sana mereka turun dan berganti dengan joli lainnya. Sekarang mereka baru menuju ke tempat cabang kantor Thian Tee Hwee.

Setelah sampai dan turun dari joli. Siau Po berkata kepada kedua nona itu.

“Rekan-rekan kalian dari Bhok Onghu sejak kemarin sudah keluar dari kota ini. Karena itu, aku harus berunding dulu dengan kawan-kawanku untuk mengambil keputusan kemana kalian harus diantar.”

Pada saat ini, sikap Siau Po sudah berubah. Sekarang dia sudah menjadi Gi-cian Siewie hu congkoan (Pemimpin muda dari pengawal pribadi raja). Mendadak dia merasa seperti orang dewasa. Apalagi sekarang dia sedang menerima tugas penting dari raja. Dia harus menyelidiki suatu urusan besar, karena itu dia tidak bersikap sembarangan, sedangkan saat itu gurunya masih ada di sana sehingga dia tidak berani banyak tingkah.

“Aku tidak berani berdiam di kotaraja ini lama-lama,” kata Siau Po terus terang. “Bagiku, mungkin pergi semakin jauh semakin baik. Aku harus menunggu sampai thayhou mati dan keadaan aman, baru aku kembali lagi ke sini!”

“Kami mempunyai sahabat yang tinggal di dusun Cioki cung, wilayah Ho Pak,” kata Phui Ie. “Kalau kau tidak keberatan, seba… iknya kau ikut kami pergi ke sana untuk menyingkirkan diri sementara. Bukankah ini merupakan jalan yang baik?”

“Baik, sih baik!” kata Kiam Peng sebelum orang memberikan jawabannya. “Kau adalah penolong kami, jadi kau adalah orang sendiri. Bahkan dengan mengadakan perjalanan bersama-sama, kita bisa bergembira!”

Kedua nona itu menatap Siau Po dengan sorot mata berharap. Kiam Peng tampaknya bernafsu sekali, tapi sikap Phui Ie agak malu-malu. Bukan main senangnya hati Siau Po dapat berjalan bersama kedua gadis cantik itu, apalagi perjalanan yang jauh. Tetapi dia ingat akan tugasnya. Dia harus menanti perintah raja dan terpaksa menolak ajakan kedua nona itu. Karena itu dia menjawab dengan menggunakan alasan yang masuk akal.

“Aku telah berjanji kepada seorang sahabatku untuk melakukan sesuatu. Karena itu aku tidak pergi bersama kalian ke dusun Cioki cung. Kalian sedang menyembuhkan luka dan tidak dapat melakukan perjalanan jauh, karena itu, aku berpikir untuk meminta pertolongan sahabatku yang dapat dipercaya untuk melindungi kalian sepanjang perjalanan. Sekarang mari kita singgah dulu di suatu tempat untuk bersantap dan beristirahat. Kalau perlu nanti kita rundingkan kembali.”

Kedua nona itu menyatakan persetujuannya. Siau Po langsung mengajak mereka ke cabang markas Thian Tee Hwee.

Anggota Thian Tee Hwee yang berjaga di ujung lorong segera mengenali Siau Po dan mengajaknya masuk. Di dalam, mereka disambut oleh Kho Gantiau yang heran melihat hiocunya membawa dua orang thaykam bersamanya.

Siau Po mengerti perasaan rekannya itu. Dia segera membisikkan.

“Kedua nona ini …. Yang satu ialah Putri muda dari Bhok Onghu. Sedangkan yang satu ini adalah kakak seperguruannya. Aku baru saja menolong mereka meloloskan diri dari istana.”

Gan Tiau segera mempersilahkan kedua nona itu duduk dan menyuguhkan air teh. Kemudian dia menarik Siau Po ke samping dan berkata kepadanya dengan nada berbisik:

“Tadi malam Cong tocu sudah meninggalkan kotaraja.”

Mendengar berita itu, bukan main senangnya hati Siau Po. Hal ini berarti untuk waktu agak lama dia tidak akan bertemu dengan gurunya. Dia paling takut bertemu dengan Tan Kin-lam, sang guru, dia juga tidak tahu, apabila bertemu dengan gurunya itu, haruskah dia menceritakan tugas yang diberikan kaisar Kong Hie kepadanya.

Sekarang dia bebas, hatinya lega sekali. Tapi, di hadapan Gan Tiau sengaja dia memperlihatkan sikap lain. Dia seakan kecewa dan menyesalkan hal itu. Dia membanting-banting kakinya seraya berkata.

“Ah! Kenapa suhu begitu cepat meninggalkan kotaraja?”

“Cong tocu telah berpesan kepada sebawahanmu ini untuk memberitahukan hiocu,” kata Gan Tiau. “Katanya Cong tocu telah menerima berita kilat dari Taiwan, karena itu, mau tidak mau dia harus kembali kesana untuk mengurusnya. Cong tocu berharap, dalam segala hal hiocu harus bertindak seksama dan pandai melihat situasi. Ceng tocu juga mengatakan, seandainya hiocu tidak leluasa berdiam lagi di kotaraja, sebaiknya hiocu pergi untuk sementara. Pesan lainnya ialah agar hiocu rajin berlatih silat, sedangkan mengenai racun yang mengendap dalam tubuh hiocu, seandainya bertambah parah, harap hiocu segera mengabarkan pada Cong tocu.”

“Ya, aku mengerti,” sahut Siau Po. “Suhu memang sangat prihatin terhadap ilmu silat dan racun yang mengendap dalam tubuhku. Syukurlah aku mendapatkan seorang suhu yang begitu baik.”

Ucapan Siau Po yang terakhir adalah kata-kata yang keluar dari hatinya yang paling tulus. Bukankah dalam keadaan yang demikian genting, Tan Kin-lam juga masih demikian memperhatikannya?

“Sebenarnya apa yang terjadi di Taiwan?” tanya Siau Po kemudian.

“Katanya dalam keluarga The, terjadi perselisihan antara ibu dan anak. Malah menyebabkan terbunuhnya seorang menteri,” kata Gan Tiau. “Rupanya di sana terjadi kekacauan di dalam, Cong tocu sangat dihormati, karena itu, dengan kembalinya beliau, mudah-mudahan urusan bisa dijernihkan. Hiocu tidak perlu khawatir. Hoan toako, Hong toako dan Hian Ceng tojin ikut dengan Cong tocu ke sana. Sedangkan Ci samko dan sebawahanmu ini disuruh menetap dulu di kotaraja untuk menerima titah dari hiocu.”

Siau Po mengangguk.

“Baiklah,” katanya. “Sekarang tolong kau panggilkan Ci samko!”

Di dalam hatinya, diam-diam Siau Po berpikir.

‘Kepandaian Ci samko tinggi sekali dan otaknya pun cerdas. Lagipula usianya sudah lanjut dan banyak pengalamannya. Kalau dia disuruh mengantarkan kedua nona ini ke dusun Cioki cung, pasti tepat sekali….’

Sedangkan mengenai urusan di Taiwan, dia berpikir juga. ‘Di Taiwan juga terjadi perselisihan antara ibu dan anak, tidak berbeda keadaannya dengan thayhou serta kaisar Kong Hie, namun entahlah kalau masalahnya….’

Seberlalunya Gan Tiau, Siau Po mengajak Kiam Peng dan Phui Ie makan mi. Baru bersantap setengah mangkok, Bhok Kiam-peng tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk bertanya pada Siau Po.

“Benarkah kau tidak bisa ikut kami ke dusun Cioki cung?”

Siau Po tidak langsung menjawab. Matanya memperhatikan Phui Ie yang sedang asyik makan mi. Meskipun sedang makan, gadis itu mengangkat wajahnya sehingga pandangan mata mereka bertemu satu dengan lainnya. Siau Po dapat melihat bahwa mata itu juga menyorotkan sinar berharap sebagaimana halnya mata Kiam Peng.

‘Aih!’ keluhnya dalam hati. ‘Mereka berharap aku dapat menemani, tapi bagaimana mungkin? Tugasku ini penting sekali. Aku juga tidak dapat mengajak mereka. Keduanya sedang terluka, bukankah akhirnya malah akan merepotkan aku? Lain kalau mereka dalam keadaan sehat. Kecuali dapat membela diri apabila ada apa-apa, mereka juga dapat memberikan bantuan kepadaku. Sekarang justru aku yang harus melindungi mereka berdua. Dan perjalanan bersama mereka pasti menarik perhatian umum!’

Karena itu, akhirnya dia menarik nafas panjang.

“Begini saja, setelah tugasku selesai, aku akan pergi ke dusun Cioki Cung untuk menjenguk kalian. Siapakah she dan nama kawanmu itu dan apa nama kampungnya?”

Phui Ie menundukkan kepalanya. Tangannya menyumpit mi, tapi dia tidak langsung membawa ke mulutnya, dia hanya berkata dengan suara perlahan.

“Sahabat kami itu tinggal di dusun Cioki cung, di sebelah barat pasar. Dia membuka sebuah perusahaan pengangkutan dengan keledai dan kuda. Dia mendapat julukan Koay Ma Ti-sam atau si Kuda Cepat!”

“Koay Ma Ti-sam!” Siau Po mengulangi nama itu sekali lagi. “Baiklah. Nanti aku akan menjenguk kalian.” Dia memperlihatkan tampangnya yang berseri-seri dan bergurau lagi sebagaimana biasanya. “Mana bisa aku meninggalkan sepasang istri tua dan muda yang demikian cantik-cantik bagai batu kumala yang indah?”

Kiam Peng tertawa. “Belum apa-apa, kau sudah mempermainkan lagi lidahmu yang tajam itu,” katanya. Dia tahu Siau Po hanya bergurau sehingga dia tidak merasa jengah atau malu.

Phui Ie juga tidak merasa jengah, malah dia berkata. “Kalau kau benar-benar menganggap kami sahabat karib, setiap hari kami akan mengharapkan kedatanganmu…. Sebaliknya, bila kau tidak memandang sebelah mata kepada kami, lebih baik kau tidak usah datang.”

Siau Po tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Dia menjadi tidak enak sendiri. Lekas-lekas dia berkata. “Baiklah! Baik! Kalian tidak suka bercanda, lain kali aku akan bersikap serius!”

Phui Ie senang mendengar janji itu. “Bicara main-main tentu boleh saja, tapi harus ada batasnya,” katanya sambil tertawa manis. “Untuk bercanda, orang harus tahu waktu dan tempat yang tepat. Kau… kau… apakah kau marah?”

Hati Siau Po senang sekali. Dia berkata dengan penuh semangat. “Tidak! Sebaliknya, aku justru berharap kau tidak marah…. ”

Phui Ie tertawa. “Menghadapi orang sepertimu, siapa pun tidak bisa marah!”

Dengan demikian, suasana dalam ruangan itu menjadi ceria. Hubungan mereka pun semakin akrab.

Di wilayah utara, meskipun pagi hari, udara sudah dingin sekali. Begitu pula yang dirasakan ketiga orang muda itu. Siau Po menghirup kuah mi di mangkuknya. Dia seperti tidak sempat mengatakan apa-apa lagi. Tepat pada saat itu, dari halaman luar terdengar suara langkah kaki berat yang mendatangi. Siau Po segera menoleh dan tampaklah Pat-pi Wan kau (Si kera bertangan delapan) Ci Tian-coan masuk ke dalam ruangan.

Begitu sampai di depan Siau Po yang usianya jauh lebih muda, Tian Coan segera menjura dalam-dalam memberi hormat. Wajahnya berseri-seri dan dia menyapa dengan ramah.

“Apakah Nilo (tuan yang terhormat) dalam keadaan baik-baik saja?” Tian Coan sudah tua dan banyak pengalaman. Dia juga orang yang berhati-hati. Melihat sang hiocu datang bersama dua orang yang tidak dikenal, ia tidak menyebutnya sebagai ketua, tetapi menyapanya dengan panggilan ‘Tuan yang terhormat’.

Siau Po merangkapkan tangannya membalas hormat dan berkata sambil tertawa manis. “Ci toako, mari aku kenalkan kau dengan dua orang sahabatku. Yang ini nona Pui, dan yang ini nona Bhok, Siau kuncu dari Bhok Onghu. Mereka adalah murid-murid berbakat dari Tiat-pwe cong liong Liu Tay-hong!” kemudian dia menoleh kepada kedua nona itu. “Nona-nona, inilah Ci toako yang sudah kenal baik dengan guru kalian serta Siau ongya…” Dia khawatir kedua nona itu masih memendam atau penasaran, karenanya dia segera menambahkan. “Dulu memang terjadi kesalahpahaman, tetapi sekarang semuanya sudah beres.”

Kedua belah pihak saling memberi hormat.

Setelah itu Siau Po berkata kepada Ci Tian-coan. “Ci to ako, kali ini aku hendak memohon bantuanmu…. ”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: