Kumpulan Cerita Silat

02/09/2008

Duke of Mount Deer (37)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:27 am

Duke of Mount Deer (37)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

Bocah itu segera mengenali ketiga kitab tersebut. Yang satu memang milik Ibu suri sendiri, yang kedua didapatkannya dari rumah GoPay, demikian pula yang ketiga.

‘Entah ada manfaat busuk apa dari kitab ini?’ pikir Siau Po dalam hatinya, namun hatinya senang sekali dengan penemuannya itu. ‘Mengapa setiap orang demikian menghargainya? Lebih baik aku ambil saja semuanya, biar si nenek sihir kelabakan setengah mati dan langsung jatuh semaput!’

Di dalam kotak rahasia itu masih ada beberapa macam barang lainnya, tetapi Siau Po tidak berani membuang-buang waktu untuk memeriksanya. Hanya sekilas dia melihat ada beberapa jilid kitab lainnya.

Dia hanya mengambil ketiga jilid kitab itu yang dibungkusnya dengan sobekan kain taplak meja. Sebagai gantinya, dia memasukkan sepasang kaki Liu Yan ke dalam kotak rahasia tersebut. Kemudian dia menutup papannya kembali dan menurunkan kasurnya. Ketika dia membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka lalu didorong.

‘Celaka!’ seru Siau Po dalam hatinya. Dia tidak menyangka bahwa ibu suri dan dayang palsu itu akan kembali demikian cepat. Tidak ada jalan lainnya. Dia segera menyusup ke dalam kolong tempat tidur untuk bersembunyi. Jantu ngnya berdebar-debar, hatinya ketakutan setengah mati. Kalau dia sampai kepergok….

Dalam hatinya, Siau Po berharap ibu suri kembali karena ketinggalan sesuatu, dan setelah menemukannya, dia akan keluar lagi. Tentu saja dia berharap barang itu tidak disimpan dalam kotak rahasia.

Pintu kamar segera terbentang lebar dan seseorang melompat masuk. Gerakannya cepat dan langkahnya ringan.

Rupanya orang itu bukan ibu suri, tetapi seorang wanita bersepatu hijau muda. Celananya juga berwarna sama. Kalau dilihat dari celananya, dapat dipastikan bahwa dia seorang dayang.

‘Entah Lui Cu atau bukan yang datang ini…’ Siau Po menerka-nerka dalam hati. Dia belum sempat melihat wajah orang itu. ‘Kalau dia tidak cepat-cepat pergi, terpaksa aku harus membunuhnya….

Tunggu sampai dia mendekati tempat tidur Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang tajam. Dia bersiap menikam perut orang itu agar tewas seketika. Siau Po memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia dapat mendengar. Dia mendengar suara lemari dibuka. Kerjanya cepat. entah apa yang dicarinya. Dia tidak mendekati tempat tidur. Kemudian dia juga mendengar suara gerakan senjata tajam yang merusak dua buah peti kayu.

‘Ah, dia pasti bukan sembarangan dayang!’ kata Siau Po dalam hati. Dia menjadi bertanya-tanya sendiri. Hatinya juga dilanda perasaan heran. ‘Dapat dipastikan bahwa tujuannya masuk ke kamar ibu suri ini adalah untuk mencuri. Mungkinkah dia juga mencari kitab Si Cap Ji cin-keng? Dia membawa senjata tajam. Hal ini membuktikan bahwa dia mengerti ilmu silat, Aku tidak boleh keluar. Bisa-bisa dia membunuhku terlebih dahulu.’

Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po terus mendekam di kolong tempat tidur.

Dayang itu masih mengacak di sana-sini. Beberapa peti kembali dirusaknya. Siau Po menjadi khawatir sekaligus mendongkol.

‘Kalau kau tidak cepat-cepat berlalu, sebentar lagi si nenek sihir itu pasti akan kembali. Tidak apa kalau kau sendiri yang mampus, bagaimana kalau aku sampai terbawa-bawa dan selembar jiwa Wie Siau Po ini terpaksa harus pulang ke alam baka?’ makinya dalam hati.

Tampaknya wanita itu sibuk sekali. Dia masih belum berhasil menemukan apa yang dicarinya. Hal ini terbukti dari tindakannya yang kembali merusak beberapa buah peti. Suaranya juga bising sekali.

‘Mungkin dia memang sedang mencari kitab Si Cap Ji cin-keng ini,’ pikir Siau Po bingung. ‘Apa sebaiknya aku lemparkan saja sebuah kitab ini agar dia cepat-cepat pergi?’

Tapi, tepat pada saar itu juga, terdengar langkah kaki mendatangi.

“Aku yakin Liu Yan, si perempuan hina itu telah berhasil mendapatkan kitab tersebut dan membawanya kabur!” segera terdengar suara ibu suri.

Siau Po terkejut setengah mati. Dia merasa mendongkol juga bingung. Si wanita yang berdandan seperti dayang tidak mempunyai kesempatan untuk kabur lagi. Dia segera menyelinap ke dalam lemari yang kemudian ditutupnya dari dalam.

“Apakah kau benar-benar mengirim Liu Yan untuk mengambil kitab itu?” Terdengar suara laki-laki tersebut. “Bagaimana aku bisa tahu bahwa apa yang kau katakan adalah hal yang sebenarnya?”

“Apa katamu?” tanya thayhou dengan nada gusar. “Aku tidak menyuruh Liu Yan mengambil kitab itu? Lalu, apa yang kusuruh ia lakukan?”

“Bagaimana aku bisa tahu peran apa yang sedang kau mainkan? Siapa tahu sebenarnya kau hanya ingin menyingkirkan Liu Yan yang menjadi duri di matamu?”

“Hm!” terdengar suara thayhou yang bukan main marahnya. “Bagus! Begini rupanya kelakuanmu sebagai seorang suheng (kakak seperguruan)? Bagaimana kau bisa berkata begitu? Liu Yan kan sumoayku! Mana mungkin aku tega mencelakakannya?”

Siau Po berpikir dalam hati.

‘Dia menyebut-nyebut soal suheng dan sumoay.

Rupanya dayang palsu ini suhengnya, sedangkan Liu Yan adalah sumoaynya….’

Si dayang berkata lagi. “Nyalimu memang besar dan hatimu juga keji! Hal apa yang tidak dapat kau lakukan?”

Siau Po semakin heran. Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam kamar. Begitu mereka melihat keadaan dalam kamar, keduanya langsung bingung serta terperanjat sehingga mengeluarkan seruan tertahan. Terutama ibu suri. Kamar itu kacau sekali, semua peti dirusak dan dibongkar, isinya berantakan kemana-mana!

“Ah ada orang mencuri kitab!” teriak ibu suri tercekat hatinya ketika teringat kitab yang disimpannya. Dia langsung menghambur ke tempat tidur untuk menyingkapkan kasurnya serta membuka kotak rahasia.

“Aduh!” jeritnya, Kitab yang disimpannya benar-benar lenyap. Sebaliknya di situ, dia mendapatkan sepasang kaki yang mengenakan sepatu sulam. “Lihat ini!”

Laki-laki yang menyaru sebagai dayang segera menyambuti.

“Sepasang kaki orang!” serunya heran.

“Kaki Liu Yan!” teriak Ibu suri. “Oh, dia telah dibunuh oleh seseorang!”

“Nah, apa kataku?” kata si dayang yang langsung tertawa dingin. “Tidak salah, bukan?”

Thayhou merasa bingung dan juga tercekat hatinya. Di samping itu, dia semakin marah.

“Apanya yang tidak salah?” tanyanya.

“Tempat penyimpanan kitabmu itu. Di kolong langit ini, hanya kau seorang yang tahu!” kata laki-laki yang menyaru sebagai dayang itu. “Kalau bukan kau yang membunuh Liu sumoay, lalu siapa? Mengapa sepasang kakinya bisa berada di kotak rahasiamu itu?”

“Percuma kalau kita hanya berdebat saja di sini!” tukas thayhou. “Pencuri kitab itu pasti belum pergi jauh. Cepat kita kejar!”

“Benar!” kata si dayang. “Mungkin dia masih ada di sekitar Cu leng kong ini!”

Meskipun berkata demikian, thayhou tidak segera keluar mengejar. Dia malah menghampiri lemarinya yang tertutup. Hal ini membuktikan bahwa dia menaruh kecurigaan.

Siau Po mengintai dari kolong tempat tidur. Hatinya berdebar-debar dan hampir saja dia menjerit saking khawatirnya.

Tiba-tiba terlihat bayangan golok berkelebat. Tentunya thayhou yang melakukan hal itu Dengan tangan kiri dia membuka pintu lemari dan tangan kanan yang menggenggam golok berniat menebas ke dalamnya.

Memang benar, setindak lagi thayhou akan sampai di depan lemari itu. Tapi, tiba-tiba pintu lemari itu menjublak lalu menghantam ibu suri. Thayhou terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan terjadi hal itu. Untung saja matanya awas dan gerakannya cepat. Dengan lincah dia mencelat mundur. Namun di saat itu juga, kepalanya tertutup beberapa potong pakaian yang dilemparkan dari dalam lemari. Dengan panik dia menyingkirkan pakaian-pakaian itu.

Kembali menyusul sepotong baju yang menyambar ke arahnya. Kali ini dia langsung menjerit keras. Ternyata di balik baju itu bersembunyi seseorang.

Mulanya si dayang palsu berdiam diri saja. Dia hanya berdiri memperhatikan. Begitu mendengar suara jeritan ibu suri, dia langsung menerjang ke depan, ke arah baju yang sedang menyambar itu.

Siau Po yang bersembunyi di kolong tempat tidur merasa khawatir sekali. Dia sempat melihat gumpalan baju itu bergulingan di atas tanah sehingga rada tersingkap sedikit dan tampaklah pakaiannya yang berwarna hijau. Entah senjata apa yang tergenggam di tangannya. Saat ini dia menggunakannya untuk menyerang si dayang palsu.

Laki-laki yang menyamar itu mengeluarkan seruan tertahan. Setelah menghindarkan diri, dia balas menyerang. Dayang bercelana hijau itu juga mengelak lalu mengulangi serangannya. Tampaknya gerakan perempuan itu cukup gesit.

Siau Po masih mengintai. Dia tidak bisa melihat wajah mereka, hanya bagian kaki yang terlihat. Si dayang palsu mengenakan celana berwarna abu-abu, sepatunya hitam. Kedua orang itu bertempur dengan sengit. Sebegitu jauh, tidak terdengar suara beradunya senjata tajam. Hal ini membuat Siau Po menduga bahwa si dayang palsu tidak menggunakan senjata dalam perkelahian. Namun suara angin yang terpancar dari pukulannya justru terdengar jelas.

Lilin di ruangan itu tinggal setengah, namun kedua orang itu masih tetap bertarung. Sebetulnya jumlah lilin dalam ruangan itu ada tiga, tapi yang satu sudah padam karena terhempas angin kencang dari pukulan si dayang palsu.

‘Terima kasih kepada Langit dan Bumi,’ Siau Po berdoa dalam hati. ‘Semoga kedua batang lilin lainnya juga padam sehingga kamar ini menjadi gelap gulita dan aku bisa meloloskan diri….’

Baru berdoa sampai di sini, tiba-tiba lilin yang kedua pun padam. Di lain pihak, kedua dayang itu masih bertempur terus. Tiada seorang pun yang bersuara. Rupanya mereka khawatir menimbulkan kebisingan yang akan menyebabkan datangnya para pengawal, thaykam maupun dayang-dayang istana tersebut.

Cu leng kiong mempunyai banyak dayang dan thaykam. Tetapi saat itu tidak ada satu pun yang muncul karena tadi thayhou sudah berpesan bahwa mereka tidak boleh mendekati kamarnya, kecuali bila ada panggilan.

Di samping suara berkesiurnya angin dari pukulan dan gerakan tubuh keduanya, suara bising lainnya timbul dari kursi serta meja yang terjungkir balik.

‘Ilmu silat si laki-laki yang menyaru sebagai dayang itu hebat sekali,’ pikir Siau Po. Tapi pikirannya tidak sempat berlanjut sebab dia melihat benda yang berkilauan mencelat ke atas langit-langit kamar dan menimbulkan suara keras.

Siau Po menduga bahwa benda itu kemungkinan senjata si dayang bercelana hijau yang terlepas dari cekalannya. Senjata itu terlontar ke atas dan menancap di langit-langit.

Kemudian, kedua pasang kaki orang-orang itu tidak terlihat lagi. Hal ini disebabkan keduanya sudah bergulingan di lantai. Mereka saling mencekal, meronta dan bergumul.

Sekarang Siau Po dapat melihat, kedua-duanya menggunakan ilmu Kim Na-hoat, ilmu memegang tangan lawan. Ilmu itu dikenal baik olehnya karena dia pernah mempelajarinya bersama-sama kaisar Kong Hie.

Pertempuran masih terus berlangsung. Siau Po tetap jadi penonton gelap. Dia hanya berharap lilin ketiga juga akan padam. Dengan demikian dia bisa pergi secara diam-diam.

Akhirnya, mendadak saja lilin yang ketiga pun padam.Kamar itu jadi gelap gulita seketika. Namun pada saat itu juga, ternyata pertempuran juga sudah sampai pada tahap akhir.

Dayang perempuan itu kalah ulet. Dia kalah tenaga. Dengan demikian si laki-laki berhasil menguasainya. Dayang perempuan itu kena ditindihnya. Tangan dan kakinya tidak berdaya lagi. Tapi si pria juga tidak dapat melakukan hal lainnya, karena kedua tangannya sibuk mengendalikan perempuan itu. Tangan kirinya mencekik bagian leher, sedangkan tangan kanannya sibuk menangkis kedua tangan si perempuan yang terus menerus menyerangnya.

Beberapa saat kemudian, habislah tenaga si dayang perempuan. Gerakan tangannya semakin lemah dan nafasnya tersengal-sengal. Hal ini disebabkan cekikan di lehernya yang membuat nafasnya jadi sesak. Kedua kakinya memang masih bisa bergerak, tapi sudah tidak ada artinya lagi.

‘Kalau si dayang bercelana abu-abu berhasil membunuh si dayang bercelana hijau, celakalah aku!” pikir Siau Po dalam hatinya. ‘Setelah membunuh lawannya, dia pasti akan memeriksa kolong tempat tidur dan aku Wie Siau Po akan berubah menjadi mayat!’

Berpikir demikian, si thaykam cilik gadungan ini jadi nekat. Tanpa ragu sedikit pun, dia segera merayap keluar dari kolong tempat tidur. Setelah dapat bergerak dengan bebas, mendadak dia menerjang ke arah dayang gadungan dan menghunjamkan pisaunya ke punggung orang itu.

Serangan itu benar-benar di luar dugaan si celana abu-abu. Hatinya tercekat, dia menjerit dan meronta.

Setelah menikam, Siau Po mencelat mundur. Karena itu, si celana abu-abu dapat bangkit berdiri, kemudian melakukan serangan kepada pembokongnya. Gerakannya cepat sekali, sekali lompat saja dia sudah mencapai lawannya dan mencekik leher si bocah. Siau Po menjadi bingung. Dia mencoba untuk melepaskan diri sehingga untuk sesaat dia lupa untuk menikamnya kembali.

Sekarang wanita bercelana hijau itu sudah bebas. Dia dapat mengatur pernafasannya sekejap, kemudian melihat apa yang terjadi. Tanpa membuang waktu lagi, dia menerjang ke arah musuhnya. Tangan kanannya membacok pipi kiri orang itu, sedangkan tangan kirinya menjambak rambut orang itu sehingga tertarik ke belakang.

Di saat itu terjadi sesuatu yang luar biasa. Rambut si dayang bercelana abu-abu copot karena tertarik keras. Rupanya dia mengenakan rambut palsu. Sedangkan kepalanya sendiri gundul plontos tanpa rambut sehelai pun. Rupanya dia seorang biksu yang menyaru sebagai dayang.

Hebat sekali serangan dayang bercelana hijau itu. Orang itu sampai tersungkur jatuh. Darah mengalir deras dari punggungnya kemudian dia terkulai di atas lantai.

Ternyata di saat dayang bercelana hijau itu menjambak rambutnya sehingga ia tersungkur, Siau Po segera menggunakan kesempatan itu untuk bangun dan menikam punggung orang itu. Padahal dia mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir, tapi untung saja berhasil.

“Terima kasih, kongkong kecil,” kata si dayang bercelana hijau kepada Siau Po. “Kongkong telah menolong aku.”

Siau Po menganggukkan kepalanya, tidak sempat dia memberi jawaban. Tangan kirinya repot mengusap-usap lehernya yang dicekik dayang palsu tadi.

“Dia… dia…?” tanyanya sambil menunjuk kepada si biksu.

“Dia seorang pria yang menyelundup ke dalam istana dan menyamar sebagai seorang dayang,” sahut wanita itu. Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, mendadak dari luar kamar terdengar suara teriakan.

“Mana orang? Cepat! di sini telah terjadi pembunuhan!”

Nada suara orang itu bukan nada suara seorang laki-laki atau perempuan, tapi suara seorang thaykam. (Para thaykam adalah laki-laki yang sudah dikebiri, mereka tidak dapat berhubungan dengan perempuan sebagaimana laki-laki normal. Tingkah mereka juga jadi tidak wajar. Kalau zaman sekarang, mungkin hampir sama dengan waria).

Wanita itu terkejut, ia segera memberi isyarat kepada Siau Po, kemudian dia melompat lewat jendela. Hampir dalam waktu yang bersamaan, terdengarlah suara jeritan tertahan disusul dengan suara ambruknya tubuh seseorang. Rupanya thaykam yang berteriak tadi sudah disambit dengan senjata rahasia sehingga mati seketika.

“Mari!” wanita itu mengajak Siau Po yang telah mengikuti perbuatannya melompati lewat jendela. Siau Po menurut saja karena tangannya memang dipegangi. Dia dibawa lari ke arah utara dengan melalui tiga halaman kemudian sampai Yang-hoa mui. Setelah itu mereka memutar lewat pendopo I-hoa kok dan pendopo Po-hoa Thian dan sampai di samping keraton Hok-kian kiong yang merupakan sebuah tempat untuk mengadakan pembakaran.

Sampai di sini baru tangan Siau Po dilepas. Bocah cilik itu memperhatikan si wanita lekat-lekat.

‘Hebat sekali!’ pujinya dalam hati. Siau Po merasa kagum sekali. Bentuk tubuh wanita itu tidak berbeda banyak dengan dirinya, tapi dengan mudah dia menenteng Siau Po dan membawanya berlari.

Tempat di mana mereka berada adalah tempat untuk membakar segala macam sampah dan barang-barang yang tidak terpakai lagi. Pada malam hari, tempat ini sepi sekali.

“Kongkong kecil, siapakah nama kongkong?” tanya wanita itu.

“Aku bernama Siau Kui Cu!” sahut Siau Po.

“Oh!” seru wanita itu heran. “Rupanya kaulah Siau Kui Cu yang telah menawan Go Pay dan sangat sayang oleh Sri Baginda!”

Siau Po tersenyum. “Tidak berani aku menerima pujian setinggi itu!” katanya merendah.Dia memperhatikan wanita itu sekali lagi. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Siau Po tidak mengenalnya. Lagipula selama di istana ia jarang memperhatikan para dayang.

“Kakak, siapakah nama kakak sendiri?” tanyanya kemudian.

Dayang itu tampak ragu-ragu sejenak. Kemudian dia baru menjawab.

“Kita merupakan orang senasib. Tidak boleh aku mendustaimu. Aku she To, karena aku seorang dayang, orang-orang biasa memanggilku To kionggo (panggilan untuk dayang) Eh, apa yang kau lakukan sehingga bersembunyi di kolong tempat tidur Ibu suri?”

“Aku mendapat firman Sri Baginda untuk memergoki perbuatan ibu suri,” sahut Siau Po berbohong. Dia tidak ingin memberikan keterangan yang sebenarnya.

To kionggo terperanjat.

“Apa?” serunya. “Apakah Sri Baginda sudah mengetahui ada laki-laki yang menyamar sebagai dayang di keraton Cu-Ieng kiong?”

“Sri Baginda sudah mengetahuinya, hanya belum jelas saja.”

Dayang itu terdiam sejeriak, kemudian dia berkata:

“A… aku telah membunuh ibu suri, urusan ini gawat sekali. Sebentar lagi pasti keluar perintah untuk menutup seluruh pintu istana dan melakukan penggeledahan. Oleh karena itu aku harus berlalu dari sini secepatnya. Sahabat kecil, sampai jumpa!”

Siau Po berpikir cepat.

“Kalau Ibu suri sudah mati, aku aman berdiam dalam istana. Tapi berbahaya sekali kalau semua pintu ditutup dan dilakukan penggeledahan. Bagaimana dengan kedua nona Bhok dan nona Pui? Aku harus mencari akal”.

Cepat-cepat Siau Po berkata kepada To kionggo.

“To cici, aku mempunyai akal,” katanya. “Sekarang juga aku akan menghadap Sri Baginda untuk melaporkan bahwa aku melihat sendiri lbu suri dibunuh dayang palsu itu! Bukankah ibu suri sudah mati dan di sini tidak ada saksi lainnya lagi?”

To kionggo merenung sejenak.

“Akalmu bagus juga,” katanya kemudian. “Tapi, thaykam itu, siapa yang membunuhnya?”

“Mudah saja,” sahut Siau Po. “Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa dayang palsu itulah yang membunuhnya!”

“Saudara kecil, urusan ini berbahaya sekali,” kata To kionggo. “Meskipun Sri Baginda sangat menyayangimu, tetapi aku khawatir dia akan membunuhmu untuk menutup mulut.”

Mendengar kata-katanya, seluruh tubuh Siau Po langsung bergetar. Apa yang dikhawatirkan memang mungkin bisa terjadi.

“Sri Baginda akan membunuh aku?” tanyanya. “Tapi, apa sebabnya?”

To kionggo tertawa dingin.

“Ibu suri berbuat serong dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal. Kalau peristiwa ini sampai bocor keluar dan menjadi gunjingan rakyat, bagaimana raja bisa mempertahankan kewibawaannya lagi? Taruh kata kau berjanji akan menutup rahasia ini rapat-rapat, tetapi setiap kali Sri Baginda melihat wajahmu, tentu otaknya berputar. Pasti hatinya ragu lagi, atau paling tidak dia merasa malu sendiri. Itulah sebabnya, cepat atau lambat, dia pasti akan membunuhmu!”

Siau Po tertegun.

“Be… narkah… dia begitu kejam?” tanyanya ragu. Tapi si dayang memang benar. Kekhawatiran dan dugaannya memang beralasan. Jadi, dia tidak dapat membuka rahasia ibu suri kepada raja.

Ketika keduanya sedang berdiam diri, tiba-tiba mereka mendengar suara tabuhan dari arah selatan, yang disusul dengan sambutan dari tiga arah lainnya. Seluruh tempat itu jadi bising oleh suara tersebut. Itulah isyarat bahwa di dalam istana telah terjadi kebakaran atau bencana lainnya. Karena adanya tanda bahaya itu, seluruh pengawal harus bersiap sedia.

“Nah, kau dengar!” kata To kionggo. “Sekarang tak sempat lagi kita menyingkir! Pergilah kau membantu mereka menangkap orang jahat, tentu saja hanya berpura-pura. Dan aku sendiri akan kembali ke kamar untuk tidur.” Kata wanita itu kemudian.

Selesai berkata, wanita itu langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Siau Po kemudian dibawanya lari seperti ketika mereka keluar tadi. Mereka menuju pendopo Eng-hoa Thian. Begitu sampai di sampingnya, To kionggo berbisik kepada Siau Po.

“Hati-hatilah!” Tanpa menunggu jawaban Siau Po, dia segera menyelinap ke tempat yang gelap.

Siau Po memikirkan Phui Ie dan Kiam Peng. Dia segera menuju tempat persembunyian kedua gadis itu. Begitu sampai dia segera berkata: “Aku yang datang!” Maksudnya agar mereka tahu dan mengenali suaranya.

“Apa yang terjadi?” tanya Kiam Peng cemas. “Di luar berisik sekali dengan suara tabuhan. Apakah mereka akan menawan kiia?”

“Bukan,” sahut Siau Po. “Kita kembali dulu ke kamarku, di sana lebih aman!”

Kiam Peng terkejut mendengarnya.

“Kembali ke kamarmu?” tanyanya menegaskan. “Bukankah di… sana kita sudah membunuh orang?”

“Jangan takut!” hibur Siau Po. “Tidak akan ada yang tahu! Cepat!”

Siau Po berjongkok untuk menggendong Phui Ie, kemudian dia menarik tangan Kiam Peng dan mengajaknya pergi dengan tergesa-gesa.

Belum berapa jauh mereka berjalan, di sebuah lorong, tampak serombongan Siewie yang sedang mendatangi dengan cepat. Salah satunya yang menjadi pemimpin segera mengangkat obornya tinggi-tinggi.

“Siapa?” bentaknya.

“Aku!” jawab Siau Po. Suaranya keras dan mantap. “Cepat kalian lindungi Sri Baginda. Apakah telah terjadi kebakaran?”

Siewie itu langsung mengenali Siau Po. Cepat-cepat dia menyerahkan obornya kepada salah seorang bawahannya dan berdiri tegak dengan sikap menghormat.

“Kui kongkong,” katanya. “Telah terjadi sesuatu di Cu-leng ki-ong….”

“Iya, iya,” kata Siau Po. “Kalian jalanlah duluan, nanti aku susul.”

“Baik!” sahut Siewie itu menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berlalu dengan mengajak orang-orangnya.

“Tampaknya mereka takut kepadamu,” kata Kiam Peng. “Barusan aku khawatir sekali kita akan tertimpa bencana….”

Siau Po sebenarnya ingin mengucapkan kata-kata gurauan, tapi dia ingat mereka dalam keadaan sedemikian rupa, maka dia membatalkannya dan berkata dengan sungguh-sungguh.

“Mari!” ajaknya, dia mendahului berjalan di depan.

Satu kali lagi mereka sempat bertemu dengan serombongan Siewie lainnya, tapi rombongan Siewie itu juga tidak berani banyak bertanya. Karena itu dalam waktu yang singkat mereka telah kembali lagi ke kamar. Baru semuanya sempat menarik nafas lega. Untung saja Phui Ie dan Kiam Peng berdandan sebagai thaykam. Dengan demikian tidak ada yang mencurigainya.

“Sekarang kalian diam di sini!” kata Siau Po. “Ingat, jangan ganti dulu pakaian kalian!” Dia keluar dan mengunci pintu, setelah itu dia berjalan menuju Kian-ceng kiong, kamar tidurnya raja.

Kaisar Kong Hie sudah terjaga karena riuhnya suara tabuhan. Dia segera turun dari tempat tidur lalu mengenakan pakaiannya. Tepat pada saat itulah seorang Siewie masuk dan melaporkan bahwa telah terjadi keonaran di Cu-Leng kiong, tapi belum jelas apa masalahnya.

Raja kebingungan. Saat itulah muncul Siau Po. Karena itu kaisar Kong Hie langsung bertanya kepadanya.

“Apa yang terjadi? Apakah thayhou baik-baik saja?”

“Thayhou menitahkan hamba pulang dan tidur di kamar hamba sendiri,” sahut Siau Po mulai mengarang-ngarang. “Katanya besok baru hamba pindah. Siapa sangka telah terjadi sesuatu di Cu-leng kiong, entah apa. Sekarang juga hamba akan melihatnya!”

“Aku juga ingin melihat thayhou,” kata kaisar Kong Hie. “Ayo, kau ikut denganku!”

“Baik,” sahut Siau Po.

Raja sangat berbakti. Dia tidak sempat mengenakan pakaian kebesarannya. Disambarnya sehelai jubah panjang dan kemudian pergi dengan tergesa-gesa dengan diikuti oleh Siau Po. Sembari berjalan dengan cepat, dia bertanya kepada Siau Po: “Thayhou minta kau melayaninya, mengapa kau malah kembali kepadaku?”

“Hamba mendengar suara tabuhan, tadinya hamba kira mungkin telah terjadi kebakaran atau ada penyerbu yang datang lagi,” sahut Siau Po dengan cerdik. “Tanpa sadar hamba langsung datang kepada Sri Baginda yang tidak dapat hamba lupakan. Ya, hamba memang bersalah….”

Kaisar Kong Hie tidak mengatakan apa-apa. Dia terus berjalan, sekeluarnya dari kamar dia lantas diiringi para Siewie dan beberapa orang thaykam. Belasan lentera menerangi jalan sehingga dia melihat pakaian Siau Po yang tidak karuan dan rambutnya acak-acakan. Dia menyangka thaykam cilik itu sangat setia kepadanya sehingga begitu terjaga dari tidur langsung menemuinya. Dia tidak tahu bahwa bocah cilik itu justru baru dari berdekam di kolong tempat tidur Hong thayhou sehingga pakaiannya kusut semua.

Pada saat itu, muncul dua orang Siewie.

“Ada orang jahat yang menyerbu Cu-leng kiong!” lapor salah satunya. “Seorang thaykam dan seorang dayang terbunuh”

“Apakah thayhou terkejut karena kejadian ini?” tanya kaisar Kong Hie dengan nada khawatir.

“Sekarang seluruh istana telah dikurung rapat!” sahut Siewie itu. “To congkoan sudah mengepalai barisan pengawalnya!”

Hati raja menjadi agak lega mendengar keterangan itu. Tidak demikian halnya dengan Siau Po. Dalam hatinya dia berkata.

‘Meskipun To congkoan memimpin seluruh pasukan berkuda pun sudah terlambat!’

Jarak antara Kian-ceng kiong dengan Cu -leng kiong tidak seberapa jauh. Raja tiba di kamar ibu suri setelah melewati pendopo Yang-sim Thian dan Tay-kek Thian. Cu-leng kiong memang dijaga ketat. Bahkan mungkin seekor lalat pun sulit menyelinap ke dalamnya.

Melihat tibanya raja, para Siewie segera memberi hormat dengan berlutut. Raja mengibaskan tangannya kemudian dia berjalan masuk ke pendopo.

Siau Po mendahului raja untuk menyingkapkan gorden. Kaisar Kong Hie segera berjalan ke dalam kamar. Dia melihat semuanya dalam keadaan kacau. Darah bercucuran, dua sosok mayat tergeletak di lantai. Hatinya bingung juga melihat situasi kamar itu.

“Thayhou! Thayhou!” panggilnya berulang-ulang.

“Rajakah di sana?” Terdengar suara dari tempat tidur yang kelambunya tertutup. “Jangan khawatir, aku tidak apa-apa!”

Itulah suara ibu suri. Siau Po merasa tercekat hatinya.

‘Oh, rupanya si nenek sihir belum mampus juga!’ katanya dalam hati. ‘Aih! Dasar aku yang teledor. Kenapa aku tidak memeriksanya dan menikamnya sampai mati? sekarang dia masih hidup, hal ini berarti akulah yang akan mati….”

Si thaykam cilik langsung mempunyai pikiran untuk lari. Tapi ketika menoleh, dia melihat penjagaan ketat sekali. Runtuhlah keinginannya. Kepalanya menjadi pusing dan pandangan matanya menjadi kabur, hampir saja dia semaput.

Kaisar Kong Hie tidak memperhatikan keadaan Siau Po. Dia langsung mendekati tempat tidur.

“Apakah thayhou kaget?” tanya kaisar Kong Hie prihatin. “Sungguh menyesal penjagaan di sini kurang sempurna sehingga hal ini sampai terjadi. Semua Siewie kantung nasi ini harus mendapat hukuman berat!”

Terdengar ibu suri menarik nafas panjang.

“Tidak, aku tidak kaget. Aku tidak apa-apa,” sahutnya. “Hanya seorang dayang dan seorang thaykam yang bertengkar sehingga terjadi perkelahian dan kedua-duanya mati. Otomatis dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan para Siewie.”

“Jadi thayhou tidak apa-apa?” tanya kaisar Kong Hie menegaskan.

“Tidak. Tidak apa-apa,” sahut ibu suri. “Aku hanya merasa kesal saja. Anak, kembalilah ke kamarmu dan perintahkan para Siewie agar bubar!”

Raja mengiakan kemudian langsung memerintahkan. “Lekas undang Tabib istana untuk memeriksa keadaan thayhou!”

Siau Po bersembunyi di belakang kaisar Kong Hie. Dia tidak berani bersuara. Dia khawatir ibu suri akan mengenali suaranya dan memanggilnya.

“Tak usah!” kata thayhou pada kaisar Kong Hie. “Tidak perlu memanggil tabib. Asal aku bisa tidur dan beristirahat cukup, tentu hatiku akan tenang kembali. Kedua… mayat itu tidak usah diangkat. Hatiku sedang kacau…. Nah, kau suruh semuanya bubar!”

Suara ibusuri lemah dan terputus-putus. Hal ini membuktikan bahwa dia pun terluka cukup parah. Kaisar Kong Hie merasa berat meninggalkannya, tapi dia tidak berani menenteng kehendak ibunya. Sebetulnya dia ingin menanyakan sebab musabab pertengkaran antara thaykam dan dayang yang mati itu, tapi khawatir ibu suri akan sedih atau mendongkol. Karena itu dia membatalkan niatnya.

Padahal sudah selayaknya dia mengetahui sebab terjadinya perkelahian yang sampai mengorbankan jiwa. Lagipula keluarga kedua korban harus diberi kabar. Namun thayhou tidak mengijinkan kedua mayat itu disingkirkan. Hal ini berarti dia tidak mau berita ini tersebar luas. Akhirnya dia memberi hormat dan memohon diri.

Bukan main senangnya hati Siau Po, tetapi sepasang kakinya menjadi lemas sehingga dia harus berjalan dengan menumpu pada tembok. Kaisar Kong Hie memutar otaknya. Hatinya bertanya-tanya. Peristiwa ini hebat dan luar biasa. Sesekali dia menoleh ke belakang dan melihat Siau Po masih mengikutinya.

“Eh, thayhou meminta kau melayaninya, mengapa sekarang kau kembali mengikutiku?”

Siau Po sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Tapi ia pikir bahwa ia akan meninggalkan istana secepatnya, karena itu tidak menjadi persoalan apabila dia menjawab sekenanya saja.

“Barusan hamba mendengar ucapan thayhou sedang pusing dan banyak pikiran. Thayhou juga menyuruh semuanya bubar. Hal ini berarti thayhou tidak ingin melihat siapa pun, itulah sebabnya hamba berpikir untuk menyingkir sementara. Besok pagi barulah hamba menemui beliau lagi….”

Raja menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan thaykam cilik itu memang beralasan. Dia berjalan terus menuju kamar tidurnya. Begitu sampai, dia segera menyuruh seluruh pelayannya mengundurkan diri. Kemudian dia berkata kepada Siau Po.

“Siau Kui Cu, kau tunggu sebentar!”

“Baik!” sahut Siau Po. Hatinya terasa kurang enak. Dia berpikir. “Kalau Raja menyuruhku tidur di sini untuk menemaninya, kedua mustika hidup di kamarku bisa kebingungan setengah mati!’

Kaisar Kong Hie berjalan mondar-mandir dari timur ke barat, kemudian dari barat ke timur lagi. Hal ini membuktikan otaknya sedang bekerja keras. Akhirnya dia berkata kepada Siau Po.

“Bagaimana pikiranmu? Menurut pendapatmu, kira-kira apa sebabnya thaykam dan dayang itu bisa berkelahi sampai mati bersama-sama?”

“Hamba tidak dapat menerkanya, Sri Baginda,” sahut Siau Po. “Memang di dalam istana banyak thaykam dan dayang yang tidak cocok. Sedikit persoalan saja bisa timbul pertengkaran. Tapi biasanya mereka tidak berani melakukannya di hadapan Sri Baginda ataupun thayhou.”

Raja mengangguk.

“Sekarang kau pergi memberitahukan semua orang agar urusan ini jangan dibicarakan lagi. Dengan demikian thayhou tidak akan kesal dan marah lagi!”

“Baik, Sri Baginda,” sahut Siau Po.

“Nah, kau pergilah!”

Siau Po memberi hormat, kemudian dia mengundurkan diri. Di dalam hatinya dia berkata:

‘Dengan kepergianku ini, untuk selama-lamanya kita tidak akan berjumpa lagi!’ Dengan membawa pikiran demikian, dia menolehkan kepalanya. Dilihatnya kaisar Kong Hie sedang menatap ke arahnya dengan wajah berseri-seri.

“Kemari!” panggil kaisar Kong Hie. Siau Po memutar tubuhnya untuk menghampiri.

Kaisar membuka sebuah kotak emas yang ada dekat bantal kepalanya, ia mengambil dua potong kue. Sembari tertawa dia berkata.

“Kau tentunya letih dan lapar, ambillah kue ini”

Siau Po menyambut kue-kue itu dengan kedua tangannya. Dia mengucapkan terima kasih. Dalam hati dia merasa bersyukur dan terharu. Dia merasa tidak tega meninggalkan raja itu. Dia berkata dalam hati:

‘Thayhou sangat kejam dan jahat. Lagipula dia berani mengeram laki-laki dalam kamarnya. Mungkin suatu hari dia bisa mencelakai Sri Baginda pula…. Bukankah Sri Baginda tidak tahu apa-apa? Sri Baginda memperlakukan aku sebagai seorang sahabat baik, kalau aku menyimpan rahasia ini dan dia sampai dicelakai oleh thayhou, bukankah berarti aku tidak kenai budi dan tidak memperhatikannya sedikit pun?’

Membawa pikiran demikian, tiba-tiba saja di pelupuk mata Siau Po membayangkan raja yang sudah mati. Mayatnya menggeletak di atas tanah dalam keadaan mengerikan. Keadaannya sungguh mengenaskan sehingga tanpa sadar air mata Siau Po jatuh bercucuran.

“Eh, kenapa kau?” tanya raja heran melihat si thaykam cilik menerima kue pemberiannya sambil menangis. Kemudian dia menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. “Kauingin tetap melayani aku, bukan? Soal itu mudah! Tunggu beberapa hari lagi, setelah keadaan thayhou tenang kembali, aku akan berbicara dengannya agar kau boleh tetap mengikutiku. Sebenarnya aku sendiri tidak sampai hati berpisah denganmu!”

Siau Po berpikir dengan cepat. Dia ingat kata-kata To kionggo bahwa kalau sampai dia membuka rahasia, kelak Sri Baginda pasti akan membunuhnya. Hal ini demi membungkam mulutnya agar rahasia tidak sampai terbongkar.

‘Tapi, biarIah!’ pikirnya kemudian. ‘Seorang laki-laki berani berbuat, berani pula bertanggung jawab. Kalau memang harus mati, biar saja mati!’

Dia sudah mengambil keputusan. Karena itu dia segera meletakkan kue pemberian kaisar kemudian mencekal tangan junjungannya itu seraya berkata dengan suara bergetar.

“Siau Hian Cu. Kali ini aku memanggilmu Siau Hian Cu, boleh bukan?”

Raja tertawa meskipun merasa heran. Thaykam itu memanggil nama kecilnya dan membahasakan dirinya dengan kamu.

“Tentu saja boleh!” katanya sambil tertawa lagi. “Aku toh sudah mengatakan kepadamu. Kalau di tempat yang tidak ada orang lainnya, kau boleh memanggil aku dengan sebutan itu. Apakah kau ingin berlatih silat lagi denganku? Begitu? Mari, mari. Aku temani kau!” Raja segera memutar tangannya dan mencekal kedua lengan Siau Po.

“Jangan! Jangan terburu-buru berlatih silat!” kata Siau Po menolak ajakan raja. “Sekarang aku mempunyai urusan besar dan rahasia yang ingin kuberitahukan kepada sahabatku, Siau Hian Cu! Rahasia ini jangan sekali-sekali diketahui oleh Sri Baginda, junjunganku yang Mulia dan Maha Agung. Sebab, kalau raja sampai mendengarnya, dia pasti akan menghukum mati diriku dengan memenggal batang leherku ini. Siau Hian Cu menganggap aku sebagai sahabat sejatinya, karena itu kurasa tidak ada halangannya kalau aku bicara dengannya.”

Raja heran. Dia tidak dapat menduga urusan apakah yang demikian penting dan harus dirahasiakan, tapi hal ini justru menambah rasa ingin tahunya. Karena itulah dia segera menarik tangan Siau Po dan mengajaknya duduk berdampingan di atas tempat tidur.

“Cepat kau beritahukan kepadaku! Cepat!”

Siau Po tidak mau langsung bercerita. Sebaliknya dia menegaskan sekali lagi. “Sekarang kau adalah Siau Hian Cu. Bukan raja kan?”

Raja bertambah heran, tapi dia tersenyum. “Benar!” sahutnya. “Sekarang ini aku adalah Siau Hian Cu, sahabat karibmu, bukan raja! Kau toh tahu, dari pagi sampai malam aku menjadi raja yang selalu disanjung-sanjung. Selama ini aku belum pernah mempunyai seorang pun sahabat sejati, sungguh tidak enak!”

“Kalau demikian, baiklah! Aku akan memberitahukan kepadamu,” kata Siau Po pula. “Kalau toh akhirnya kau tetap akan memenggal batang leherku, ya… apa boleh buat, aku toh tidak berdaya….”

Raja kembali tersenyum. “Untuk apa aku membunuhmu?” tanyanya. “Lagipula mana mungkin seorang sahabat akan membunuh teman yang sudah seperti saudara baginya?”

Siau Po menarik nafas panjang. “Baiklah! Sekarang aku akan bicara!” katanya. “Siau Hian Cu, aku bukanlah Siau Kui Cu yang sebenarnya, aku juga bukan seorang thaykam! Siau Hian Cu, Siau… Kui cu yang asli… telah mati di tanganku!”

Meskipun berusaha untuk menenangkan diri, mau tidak mau Kaisar Kong Hie terkesiap juga mendengarnya.

“Apa katamu?” tanyanya heran.

“Betul, Siau Hian Cu . Aku bukan Siau Kui Cu. Aku juga bukan seorang thaykam!” sahut Siau Po tegas. Dia lalu menceritakan bagaimana dirinya dipaksa masuk ke dalam istana. Bagaimana dia mencelakai Hay kongkong dengan membutakan sepasang matanya, lalu dia menyamar sebagai Siau Kui Cu yang sebelumnya telah dibunuhnya terlebih dahulu. Dia juga menceritakan bahwa Hay kongkong yang mengajarkan ilmu silat kepadanya. Mendengar semua itu, mula-mula Kaisar Kong Hie tertegun, kemudian ia malah tertawa.

“Oh, rupanya kau bukan seorang thaykam!” katanya. “Kau hanya membunuh seorang Siau Kui Cu, apa artinya? Itu toh bukan urusan besar! Tapi selanjutnya tidak pantas lagi kau berdiam di dalam istana. Kau bisa kuangkat menjadi congkoan dari barisan pengawal pribadiku. To Liong memang gagah, tapi dalam pekerjaan dia sering sembrono dan otaknya kurang cerdas!”

“Kau baik sekali, aku mengucapkan terima kasih kepadamu,” kata Siau Po. “Tapi, meskipun demikian, aku tidak bisa menjadi congkoan, Siau Hian Cu, aku ada mendengar beberapa urusan penting yang ada kaitannya dengan diri thayhou.”

Kembali raja merasa heran. Dia menatap Siau Po lekat-lekat. “Urusan yang ada kaitannya dengan thayhou?” tanyanya menegaskan. “Urusan apakah itu?” Walaupun dia mengajukan pertanyaan itu dengan sabar, tapi hatinya merasa kurang tenteram. Dia seperti mendapat firasat yang kurang baik.

Siau Po menggigit bibirnya keras-keras untuk menabahkan hatinya. Kali ini dia menceritakan percakapan yang terjadi antara Hay kongkong dengan thayhou di taman bunga. Dia menceritakannya dengan terperinci.

Mendengar keterangan itu, kaisar Kong Hie menjadi terperanjat, heran juga gembira. Jadi, ayahnya, kaisar Sun Ti masih belum wafat. Dan sekarang ayahnya itu malah menyucikan diri menjadi pendeta di gunung Ngo Tay san! Saking tegangnya, tubuh kaisar Kong Hie sampai menggigil. Dia menggenggam tangan Siau Po erat-erat.

“A… pa… apakah yang kau katakan itu benar adanya?” tanyanya gugup. “Apakah kau tidak berbohong? Oh…. Ayah… ayahku masih hidup…?”

“Begitulah menurut apa yang kudengar dari pembicaraan antara thayhou dan Hay kongkong berdua,”sahut Siau Po memberikan kepastiannya.

Raja turun dari tempat tidurnya untuk berdiri.

“Siau Kui Cu… bagus! Bagus sekali!” serunya berulang kali. “Siau Kui Cu, begitu fajar menyingsing, mari kita berangkat ke gunung Ngo Tay san untuk menjenguk ayahku itu. Aku akan memintanya kembali ke istana!”

Kong Hie adalah seorang raja. Apa pun kehendaknya dapat terpenuhi, tapi ada sesuatu yang dirasakannya kurang, yakni dalam usia yang demikian muda, dia telah kehilangan kedua orang tuanya. Memang ada ibu suri, tapi thayhou adalah seorang ibu tiri. Meskipun demikian, dia memperlakukannya dengan penuh bakti. Dia menganggapnya sebagai ibu kandung, namun ayahnya yang telah menutup mara, tiada penggantinya. Karena memikirkan dan merindukan seorang ayah, kaisar Kong Hie pernah sampai menangis. Sekarang dia mendengar berita rahasia dari Siau Po bahwa ayahandanya itu masih hidup. Benar dia merasa gembira sekali, tapi terselip juga sedikit keraguan dalam hatinya. karena itu dia ingin pergi ke gunung Ngo Tay san untuk membuktikannya.

“Tapi, masih ada satu hal lagi, Siau Hian Cu,” kata Siau Po. “Aku khawatir thayhou tidak menyukai kepergianmu.Sampai sebegitu jauh thayhou telah menyembunyikan urusan ini kepadamu, tentunya hal ini menyangkut urusan yang besar sekali.”

Kaisar bingung juga. Dia harus mengekang diri, supaya kegembiraannya tidak terlalu meluap.

“Urusan besar di dalam istana, apalagi yang penting-penting, semuanya tidak jelas bagiku,” kata Siau Po. “Apa yang aku tahu hanya apa yang kudengar dari pembicaraan antara thayhou dengan Hay kongkong dan semua itu dapat kuceritakan dengan jelas.”

“Baik, baik,” kata raja. “Nah, kau ceritakanlah!”

Kali ini Siau Po menceritakan tentang bagaimana kedua permaisuri Toan Keng honghou dan Hau Kong honghou telah dibunuh oleh thayhou.

Kaisar Kong Hie langsung melonjak bangun.

“Kau… kau bilang Hau Kong honghou telah… dibunuh?”

Siau Po terkejut, hatinya ciut. Dia melihat wajah raja garang sekali, matanya mendelik, daging di pipinya sampai bergerak-gerak.

“A… ku tidak tahu…” sahutnya bingung. “Aku hanya mendengar percakapan antara Hay kongkong dan thayhou….”

“A… pa yang mereka katakan?” tanya raja. “Co… ba kau ulangi sekali lagi!”

Ingatan Siau Po memang kuat sekali. Dia mengulangi ceritanya sekali lagi. Kali ini dengan perlahan-lahan dan jauh lebih jelas. Diulanginya setiap patah kata dari pembicaraan antara ibu suri dengan Hay kongkong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: