Kumpulan Cerita Silat

01/09/2008

Duke of Mount Deer (36)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:26 am

Duke of Mount Deer (36)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048)

Thayhou tidak percaya Sui Tong akan berkata demikian, tetapi memang dia pernah menitahkan orang itu membinasakan seorang keluarganya untuk merampas kitab Si Cap Ji cin-keng. Hanya saja ketika itu, Sui Tong melaporkan bahwa dia tidak berhasil menemukan kitab itu. Siapa sangka ternyata Sui Tong mengangkangi kitab itu!

Mendengar kata-kata Siau Po, hati ibu suri mendongkol sekaligus gembira. Dia mendongkol sekali karena Sui Tong berani main gila. Dan dia merasa gembira karena ternyata kitab itu benar ada, dan sekarang dia akan tahu di mana letaknya.

“Kalau demikian,” kata thayhou. “Liu Yan, pergi kau ajak hantu cilik ini mengambil kitab itu untukku! Seandainya kitab itu asli, kita ampuni saja selembar nyawanya dan dia boleh dikembalikan kepada Sri Baginda, untuk selama-lamanya dia dilarang masuk ke dalam keraton Cuceng kiong lagi. Dengan demikian aku tidak perlu lagi melihat wajahnya yang menyebalkan itu!”

Liu Yan segera menarik tangan kanan Siau Po. Dia tertawa manis. “Adik, mari kita pergi!” ajaknya.

Siau Po mengibaskan tangannya.

“Aku kan laki-laki dan kau wanita!” bentaknya. “Tapi kau justru memegang-megang tangan orang, apa-apaan?”

“Laki-laki macam apa kau ini?” tanya Liu Yan sambil tertawa pula. “Umpama kata kau seorang laki-laki sejati sekalipun, untuk menjadi anakku saja, kau masih terlalu muda!”

Siau Po segera mengejeknya. “Benar? Kau benar-benar ingin menjadi ibuku? Aku memang merasa kau sama dan persis seperti ibuku dalam segala hal”

“Fui!” kata dayang itu dengan nada menghina. “Kau tahu, nonamu ini seorang perawan. Jangan kau mengoceh sembarangan!”

Meskipun demikian, Liu Yan tidak tahu makna ucapan Siau Po. Secara tidak langsung Siau Po memakinya sebagai perempuan hina, karena ibunya bekerja sebagai pelacur di Li Cun-wan.

Selesai berkata, Liu Yan segera menarik tangan bocah itu untuk diajak pergi. Tiba di lorong yang panjang, rasanya hati Siau Po semakin tidak karuan. Dia bingung sekali karena belum mendapatkan akal untuk meloloskan diri dari dayang yang lihay ini. Dia ingat pisau belatinya disembunyikan dalam kaos kaki. Kalau dia menggunakan tangan kirinya untuk mengambil, mungkin bisa ketahuan. Lagipula dia merasa bimbang menggunakan senjata tajam itu. Mana sanggup dia melawan dayang itu? Mungkin dalam tiga jurus saja, dia akan kena dirobohkan.

‘Aih, celaka!’ pikirnya dalam hati. ‘Dari mana sih munculnya si gendut ini? Tiba-tiba saja dia muncul! Rupanya ketika si nenek sihir melawan Hay kongkong baru-baru ini, si gendut ini tidak ada di tempat. Kalau tidak, tentu si kura-kura tua itu akan mudah dirobohkan oleh mereka berdua. Mungkin dia baru muncul dalam satu dua hari ini. Coba kalau sejak saat beberapa hari yang lalu dia ditugaskan ibu suri untuk membunuhnya, pasti saat ini jiwanya sudah melayang.’

Tepat di saat dia berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja dia mendapatkan akal yang bagus. Tanpa menunda waktu lagi dia segera mengajak Liu Yan menuju ke timur. Mereka melewati samping kamar tulis dari keraton Kian-ceng kiong. Dia berpikir, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah memohon pertolongan Sri Baginda. Dia mempunyai dugaan bahwa si gendut ini mungkin belum kenal dengan seluk-beluk istana karena dia baru datang tidak berapa lama.

Baru saja Siau Po menindakkan sebelah kakinya. Tiba-tiba dia merasa bagian belakang lehernya kena dicekal, kemudian terdengarlah suara tertawanya Liu Yan.

“Eh, adik manis kau mau pergi kemana?”

“Ke kamarku untuk mengambil kitab,” sahut Siau Po. Otaknya yang cerdik dapat mencari jawaban dengan cepat.

“Lalu kenapa kau malah mengambil arah kamar tulisnya raja?” tanya si dayang yang lihay. “Atau, mungkin kau ingin meminta pertolongannya raja?”

Saat itu juga, habislah kesabaran Siau Po. “Oh, babi kau!” makinya. “Rupanya kau kenal baik seluk-beluk istana ini?”

Liu Yan tidak marah. Sebaliknya dia malah tertawa.

“Bagian lainnya aku tidak kenal. Tapi Kianceng kiong, Cu-leng kiang dan kamarmu ini tidak mungkin salah kukenali!” Dan dia menarik tangan si bocah agar membalik dan melanjutkan kata-katanya: “Lebih baik kau ikut aku dengan baik-baik. Jangan macam-macam!”

Suara si dayang terdengar manis dan merdu, tetapi cekalannya bukan main kerasnya. Apalagi ketika leher Siau Po yang dicekal, dia merasa batang lehernya seperti patah. Dua orang thaykam dari istana ada di dekat sana. Mereka mendengar suara jeritan Siau Po. Mereka langsung berpaling dan mengawasi. Melihat keadaan itu, Liu Yan segera berkata dengan suara perlahan.

“Thayhou telah berpesan kepadaku. seandainya kau berniat kabur atau berkaok-kaok sembarangan, aku harus segeramembunuhmu!”

Siau Po diam. Dia sadar bahwa sia-sia saja dia berteriak-teriak memanggil raja. Menghadapi Ibu suri, raja tidak perdaya. Tidak mungkin dia menyuruh para Siewie membunuhnya tanpa alasan yang kuat.

Tepat di saat dia sedang berpikir, tiba-tiba dia merasa pinggangnya nyeri sekali. Rupanya Liu Yan telah menyikutnya dengan keras kemudian terdengar dia berkata lagi dengan suara perlahan.

“Apakah kau sedang memikirkan akal bulus lainnya?”

Saat itu, Siau Po benar-benar tidak mempunyai akal lain. Terpaksa ia melangkahkan kaki ke kamarnya sendiri, tapi dia berpikir kembali:

‘Di dalam kamarku, aku mempunyai dua orang kawan, tapi sayangnya Phui Ie sedang terluka. Demikian juga Siau kuncu. Kami bertiga mungkin tidak sanggup melawan si babi gendut ini. Sebaliknya, kalau dia sampai memergoki kedua gadis itu, artinya aku mengundang bencana besar.’

Sekejap saja mereka sudah sampai di depan pintu kamar. Siau Pomengeluarkan anak kuncinya. Sengaja dia membenturkan anak kunci itu agar bunyinya nyaring. Dia sengaja berkata dengan suara keras.

“Perempuan bau! Kau begini menyiksa aku. Awas kau! Nanti pada suatu hari aku akan membuatmu mati penasaran!”

Liu Yan tertawa dan menjawab. “Untuk menjaga dirimu sendiri agar mati baik-baik saja kau masih tidak mampu. Bagaimana kau masih sanggup mengurus kematian orang lain?”

Siau Po tidak menjawab. Dia membuka pintu kamarnya keras-keras. Dia berkata lagi dengan suara lantang. “Kitab itu, aku berikan kepada thayhou atau tidak, sebetulnya sama saja. Kau pasti akan membunuhku juga. Kau sangka aku begitu dungu dan tetap mengharapkan kehidupan?”

Sekali lagi Liu Yan tertawa. “Thayhou sudah menjanjikan akan memberikan pengampunan terhadapmu. Kemungkinan dia akan menepati janjinya itu. Paling-paling sepasang biji matamu akan dicungkil atau sepasang kakimu yang dikutungkan!” .

“Hm!” Siau Po memperlihatkan sikap yang berani sekali. “Apakah kau kira thayhou akan memperlakukan kau secara baik dengan terus menerus? Kau tahu, setelah membunuh aku, thayhou juga akan membinasakan dirimu untuk membungkam mulutmu!”

Liu Yan tertegun. Kata-kata itu tepat menusuk hati kecilnya. Tapi hanya sebentar saja, tiba-tiba dia mendorong tubuh Siau Po dengan keras sehingga membentur daun pintu.

Selama pembicaraan di antara mereka berlangsung, Phui Ie dan Kiam Peng dapat mendengar dengan jelas. Karena itu mereka segera menduga bahwa orang yang datang dengan si bocah cilik itu pasti orang jahat. Keduanya segera menyembunyikan diri di bawah selimut. Mereka bahkan menahan nafas dan tidak berani bersuara.

Terdengar kembali suara tawa Liu Yan. “Lihat hari sudah siang sekali dan aku tidak mempunyai waktu untuk menunggumu lama-lama. Cepat kau keluarkan kitab itu!” katanya sambil mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu menjadi terhuyung-huyung.

Justru pada saat itulah, Siau Po melihat sepasang sepatu sulam di kolong tempat tidurnya. Dalam hati dia sampai menjerit celaka. Sepatu itu bisa membahayakan jiwanya. Untung saja saat itu sudah agak siang dan lilin di dalam kamar tidak dinyalakan. Liu Yan juga tidak melihatnya. Karena itu dia sengaja menjatuhkan diri, seperti orang yang terpeleset, Sepatu itu didorongnya ke dalam lorong tempat tidur, sekaligus dia sendiri juga menyelinap ke dalamnya.

‘Akan kubunuh si babi hutan yang gemuk ini, seperti aku membunuh Sui Tong,’ pikirnya. Justru di saat dia menekuk kakinya sedikit untuk mencabut pisau belati, tapi saat itu juga dia merasa kakinya ditarik oleh seseorang kemudian telinganya mendengar suara Liu Yan yang membentaknya.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

“Aku mau mengambil kitab itu,” sahut Siau Po yang cerdik. “Kitab itu aku simpan di kolong tempat tidur ini!”

“Baiklah,” kata Liu Yan yang langsung melepaskan cekalannya. Ia pikir bocah itu toh ada di dalam kamar sehingga tidak mungkin meloloskan diri darinya.

Senang sekali hati Siau Po. Dia segera menarik kaki kanannya kemudian mencabut pisau belati itu. Dia menggenggam pisau itu dengan tangan kirinya.

“Mana kitabnya?” tanya Liu Yan. “Ke sinikan!”

“Ah, celaka!” teriak Siau Po dari dalam kolong.

“Rupanya ada si buntut panjang yang menggigit buku ini sampai robek tidak karuan!”

“Jangan main gila di hadapanku!” bentak Liu Yan . “Percuma! Lebih baik kau serahkan kitab itu!” karena mendongkol dia segera mengulurkan tangannya ke kolong tempat tidur. Dia ingin menyambar kitab itu, tapi ia hanya mengenai tempat yang kosong.

Siau Po sudah menyusup lebih dalam lagi. Dia merapatkan tubuhnya di dinding kamar. Liu Yan merasa penasaran. Dia menjulurkan tangannya lebih dalam lagi. Dengan demikian dia harus berjongkok terIebih dahulu. Tangannya sudah menyusup cukup jauh.

Siau Po menggeser tubuhnya sehingga Liu Yan tidak bisa mencapainya. Dua kali dia lolos dari sambaran orang, tetapi yang terakhir dia bukan hanya menghindar, tetapi sekalian menikam tangan orang itu.

Liu Yan lihay sekali. Begitu gagal menyambar, dia langsung menarik pulang tangannya sehingga dia tidak sampai tertikam. Dan rupanya gerakan dayang itu hanya siasat saja, hampir dalam waktu yang bersamaan dia mengulurkan tangannya untuk mencekal tangan Siau Po.

Siau Po terkejut setengah mati. Pisau belatinya langsung terlepas. Liu Yan tertawa.

“Kau ingin membunuhku, bukan?” tanyanya.

“Sekarang aku akan mencungkil sebelah matamu terlebih dahulu!”

Dengan gesit Liu Yan mencekik kerongkongan, lalu tangan kirinya menjulur ke mata bocah itu.

“Ada ular berbisa!” teriak Siau Po tiba-tiba lalu dia menjerit.

Liu Yan tercekat hatinya.

“Ada apa?” tanyanya gugup. “Oh…!” terdengar dia mengeluarkan seruan tertahan. Cekikannya pada tenggorokan Siau Po mengendur, kemudian tubuhnya terkulai lalu menggelepar-gelepar seperti orang kena sakit ayan dan akhirnya tidak berkutik lagi.

Siau Po terkejut juga senang. Dia segera merayap keluar dari kolong tempat tidur.

“Apakah kau tidak terluka?” tanya Siau kuncu.

Siau Po berdiri. Sebelum menjawab pertanyaan itu, dia menyingkap kelambu tempat tidurnya. Dia melihat Phui Ie sedang duduk di atas tempat tidur, kedua tangannya menggenggam gagang pedang erat-erat, nafasnya tersengal-sengal. Tubuh pedangnya sendiri amblas dari atas tempat tidur sampai ke kolong.

Rupanya nona Pui inilah yang telah menikam Liu Yan karena dia sadar si thaykam cilik sedang terancam bahaya. Dan hunjaman pedangnya tepat mengenai punggung wanita itu serta amblas sampai depan dadanya.

Siau Po segera mendupak pinggul Liu Yan yang bulat. Setelah itu ia baru berkata.

“Bagus! Bagus! Kakak yang baik, kau telah menolong selembar nyawaku!” katanya.

Siau Po segera mencabut pedang Phui Ie lalu digunakannya untuk menikam Liu Yan sebanyak dua kali. Dia khawatir perempuan itu masih belum mati.

“Siapa wanita jahat ini?” tanya Siau kuncu. “Mengapa dia begitu keji? Tadi aku dengar dia hendak mencungkil biji matamu!”

“Dia merupakan salah satu bawahan si nenek sihir yang paling lihay,” sahut Siau Po. Kemudian dia menoleh kepada Phui Ie dan bertanya kepadanya dengan penuh perhatian. “Apakah lukamu masih terasa sakit?”

Phui Ie mengernyitkan keningnya. Sekarang sudah jauh berkurang,” sahutnya. Nona ini berbohong. Barusan dia menggunakan segenap tenaganya untuk menikam. Hal ini justru membuatnya kesakitan dan hampir saja dia jatuh pingsan. Itulah sebabnya nafas gadis itu masih tersengal-sengal.

“Sebentar lagi si nenek sihir pasti akan mengirim orangnya lagi untuk menyusul Liu Yan,” kata Siau Po kemudian. “Sekarang juga kita harus memikirkan jalan untuk meloloskan diri. Oh, ya… aku ingat sekarang. Sebaiknya kalian berdua menyaru sebagai thaykam saja. Lalu bersama-sama kita menyelinap keluar dari sini. Kakak Pui, apakah kau sanggup berjalan?”

“Kalau dipaksakan sih bisa saja,” sahut Phui Ie “Baiklah kalau begitu,” kata Siau Po. “Sekarang, cepatlah kalian berdandan!”

Dia segera mengeluarkan dua perangkat pakaiannya, yakni seragam para thaykam, yang langsung diberikannya kepada kedua gadis itu. Dia sendiri segera bekerja. Mula-mula dia menarik keluar mayat Liu Yan. Lalu dengan bubuknya yang istimewa dia hancurkan seluruh tubuh wanita yang sudah mati itu sampai lumer menjadi cairan kuning. Dia juga tidak lupa mengambil seluruh uang miliknya serta kitab rahasia serta tiga jilid kitab Si Cap Ji cin-keng. Tentu saja dia juga ingat membawa semua emas permatanya.

Tiba-tiba dia teringat baju dalamnya yang menurut pesan gurunya harus dikenakan terus. Dia segera mengambil pakaian itu, tapi untuk diserahkannya kepada Phui Ie.

“Kakak yang baik, kau pakailah baju dalam ini. Baju ini baju mustika yang tidak bisa ditembus oleh senjata tajam!”

“Lebih baik kau sendiri saja yang memakainya!” sahut Phui Ie.

“Kau lebih memerlukannya daripada aku!” kata Siau Po. “Kau sedang terluka, kalau kita kepergok para Siewie dan diserang, belum tentu kau sanggup melawannya. Dengan memakai baju ini, kau tidak perlu khawatir akan terluka. Ayo, lekas kau pakai!”

“Lebih baik Siau kuncu saja yang memakainya…” sahut Phui Ie.

“Kau saja!” kata Kiam Peng menolak. “Kau sedang terluka dan lukamu itu cukup parah!”

“Ibu suri hendak mencelakakan kau,” kata Phui Ie kepada Siau Po. “Lebih baik kau saja yang memakainya!” Dia langsung menyingkapkan kelambu dan masuk ke dalam tempat tidur.

Siau Po tetap memaksanya.

“Kalau kau tidak mau mengenakannya, baik! Aku yang membantumu memakainya!” katanya. Dia langsung menyingkap kelambu tempat tidur itu dan ikut masuk ke dalamnya.

“Keluar! Keluar!” teriak Kiam Peng. “Kami belum selesai berpakaian!”

“Dia tidak mau memakai baju ini, aku yang memakaikannya!” kata Siau Po.

Phui Ie menarik nafas panjang. “Baiklah!” sahutnya kemudian. “Berikan baju itu padaku!”

Dia pun mengulurkan tangannya menyambut baju yang disodorkan oleh Siau Po. Sementara kedua gadis itu masih mengganti pakaian, Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa barang-barang peninggalan Hay kongkong, terutama untuk mengambil beberapa macam obat.

Kiam Peng yang selesai terlebih dahulu. Ketika dia turun dari tempat tidurnya, Siau Po langsung memuji.

“Benar-benar seorang thaykam yang tampan! Mari aku bantu kau jalin rambutmu!”

Sejenak kemudian, Phui Ie juga keluar dari balik kelambu. Pinggangnya kecil dan tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Siau Po sehingga tampaknya singset sekali. Ketika dia bercermin, dia menjadi tertawa sendiri.

Kiam Peng pun tertawa. “Biar dia yang menjalin rambutku!” katanya. “Nanti aku bantu kau menjalin rambutmu!”

Siau Po tidak memperdulikannya. Dia segera mengurai rambut panjang Kiam Peng lalu menjalinnya kembali. Dia membuat kuncir secara sembarangan.

“Ah, jelek betul!” serunya. “Nanti aku perbaiki lagi!”

“Tidak usah,” kata Siau Po. “Waktunya sudah tidak ada. Hari sudah mulai gelap. Kita tidak bisa keluar dari istana. Mungkin sebentar lagi si nenek sihir akan mengirim orang lainnya karena Liu Yun masih belum kembali juga. Kita harus mencari tempat untuk menyembunyikan diri, besok pagi-pagi baru kita keluar dari istana!”

“Apakah thayhou tidak akan menyuruh orangnya menggeledah seluruh keraton?” tanya Phui Ie. “Dia toh bisa melakukan hal itu?”

“Bisa sih bisa, tapi belum tentu dia akan melakukannya!” sahut Siau Po. “Kita lihat saja nanti. Sekarang kalian ikut aku!”

Siau Po teringat kamar di mana dulu dia sering berlatih gulat dengan kaisar Kong Hie. Setahunya kamar itu cukup aman karena tidak pernah di masuki orang lain.

Kaki Kiam Peng tidak terlalu nyeri lagi, dia bisa berjalan. Phui Ie juga bisa jalan, tetapi setiap kali melangkahkan kakinya, dia harus menahan rasa sakit di dadanya. Karena itu, Siau Po segera membimbingnya untuk berjalan setindak demi setindak. Untung saja seluruh tempat itu sudah gelap dan sunyi. Mereka tidak bertemu dengan seorang thaykam pun. Begitu sampai di kamar tempat Siau Po dan kaisar Kong Hie berlatih, baru ketiganya dapat menghembaskan nafas lega.

Tadi jantung mereka berdebaran dan hati mereka tegang sekali. Siau Po segera memalang pintu kamar dan membawa Phui Ie untuk duduk di atas sebuah kursi.

“Di sini sebaiknya kita jangan berbicara kalau tidak perlu sekali,” kala Siau Po. “Kamar ini dekat sekali dengan koridor panjang dan tidak sesunyi kamarku.”

Phui Ie menganggukkan kepalanya, begitu juga Kiam Peng.

Malam makin gelap. Ketiga orang itu sampai tidak dapat melihat wajah teman-temannya. Ketika berdiam diri, Kiam Peng segera membuka kuncirnya kemudian merapikannya kembali.

Phui Ie ikut meraba kuncirnya, tetapi tiba-tiba saja dia mengeluarkan seruan tertahan.

“Kenapa kau?” tanya Siau Po heran. Dia terkejut sekali.

”Tidak apa-apa…” sahut Phui Ie. “Aku hanya kehilangan tusuk kondeku…. ”

“Iya, aku ingat sekarang!” kata Kiam Peng. “Ketika aku melepaskan tusuk kondemu, aku meletakkannya di atas meja. Selesai mengepang rambutmu, aku jadi lupa memasangnya kembali. Celaka betu!! Tusuk konde itu kan pemberian Lau suko!”

“Sudahlah,” kata Phui Ie. “Sebatang tusuk konde toh tidak berarti apa-apa!”

Dalam telinga Siau Po, ucapan Phui Ie justru berarti banyak sekali. Sebatang tusuk konde memang tidak berarti apa-apa, tapi nada suara si nona lain sekali. Jelas nona itu sangat menyayangi tusuk konde yang merupakan pemberian Lau It-cou, kakak seperguruan sekaligus kekasih hatinya itu.

‘Berbuat kebaikan jangan kepalang tanggung,’ pikirnya dalam hati. ‘Sebaiknya aku kembali lagi ke kamar untuk mengambilnya.’

Setelah berpikir demikian, Siau Po berdiam diri sejenak. Sesaat lagi dia baru berkata. “Aku lapar sekali. Kalau sebentar lagi fajar menyingsing, aku tidak akan kuat berjalan. Kalian tunggu di sini, aku akan pergi mencari makanan!”

“Kau harus kembali cepat-cepat!” pesan Kiam Peng.

“Iya!” sahut Siau Po. Kemudian dia membuka pintu dengan hati-hati dan melongok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang lain di sekitar tempat itu. Setelah yakin, dia cepat-cepat merapatkan pintu kamar kembali dan kembali ke tempatnya sendiri.

Dia tidak berani lancang memasuki kamarnya. Pertama-tama dia mengambil jalan memutar dan memasang telinga. Dia khawatir Ibu suri sudah mengirim orang lain ke kamarnya. Setelah mendapat kenyataan bahwa di sana sepi-sepi saja, dia baru mendorong daun jendela dan melompat ke dalam.

Sinar rembulan membuat tusuk konde Phui Ie yang tergeletak di atas meja memancarkan cahaya yang berkilauan. Benda itu terbuat dari perak dan harganya paling banyak dua tail. Buatannya juga kasar, tapi Siau Po mengerti bahwa tusuk konde itu berarti sekali bagi Phui Ie.

‘Hm!’ pikir Siau Po. ‘Dasar Lau It-cou itu bocah melarat. Barang sejelek ini dihadiahkannya juga kepada nona Pui!’

Dia meludahi tusuk konde itu beberapa kali. Kemudian dia menyekanya dengan ujung baju dan menyimpannya dalam saku. Kemudian dia juga mengambil kue kering yang selalu tersedia di mejanya.

Ketika hendak berlalu, dia melihat bayangan berwarna merah di atas lantai. Itulah sepasang sepatu yang masih lengkap dengan kakinya. Kakinya Liu Yan!

Rupanya lantai kamarnya tidak rata dan bubuk obat yang mencairkan tubuh itu mengalir ke dalam lekukan sehingga sebagian kaki Liu Yan tidak ikut mencair. Mula-mulanya Siau Po memang terkejut, namun kemudian dia sadar apa sebabnya.

Setelah berdiam sejenak, dia berpikir lagi.

‘Bagaimana baiknya sekarang?’ dia kebingungan.

‘Obat itu ada dalam buntalan buntalan dan dipegang oleh Phui Ie. Tanpa obat, kaki dan sepatu ini tidak dapat dimusnahkan. Dibawa juga merepotkan….’

Sesaat kemudian dia sudah mendapat pikiran yang bagus.

‘Kali ini, begitu keluar dari istana, aku tidak akan kembali lagi. Dengan demikian aku juga tidak akan bertemu lagi dengan si nenek sihir. Karena itu, ada baiknya sepasang kaki ini aku lemparkan ke dalam kamarnya agar dia kaget setengah mampus!’

Membawa pikiran itu, Siau Po segera mengambil secarik kain yang digunakannya untuk membungkus kaki itu. Kemudian dia melompat keluar lewat jendela serta langsung menuju keraton Culeng Kiong.

Begitu jaraknya dengan kamar ibu suri sudah dekat, dia tidak berani langsung meneruskan langkah kakinya. Untuk sesaat dia berputaran di taman bunga sambil memasang telinga.

‘Kalau aku kurang berhati-hati sedikit saja, tentu aku bisa kepergok si nenek sihir dan kali ini aku tidak bisa menyelamatkan diri lagi,’ pikirnya dalam hati.

Setengah khawatir, setengah mendongkol mengingat kebencian ibu suri, Siau Po perlahan-lahan mendekati kamarnya ibusuri itu. Tangannya sampai berkeringat saking tegangnya.

‘Akan kuletakkan sepasang kaki ini di depan undakan tangga,’ kata Siau Po dalam hati. ‘Nanti pagi dia pasti akan melihatnya. Sedangkan bila dilempar ke dalam kamarnya, hal ini terlalu riskan bagiku!’

Siau Po maju dua tindak lagi. Langkahnya ringan sekali. Tiba-tiba dia mendengar suara seorang laki-laki dalam kamar thayhou.

‘Ah,aneh si A Yan. Mengapa dia belum kembali juga?”

Siau Po bingung.

‘Eh, kenapa di dalam kamar thayhou ada suara laki-laki?’ tanyanya. ‘Suara itu juga tidak sama dengan suara para thaykam. Apa mungkin nenek sihir itu mempunyai simpanan? Ha… ha….! Lohu ingin menangkap basah orang yang sedang main asmara!’

Di dalam hatinya, Siau Po mengatakan ingin menangkap basah thayhou, tapi belum tentu dia berani melakukannya. Jangan kata memergoki ibu suri, melihatnya saja dia ngeri. Di lain pihak, dia juga tidak sudi melepaskan sepasang kaki Liu Yan begitu saja,

Dengan mengendap-endap, Siau Po maju lagi beberapa tindak lagi. Langkah kakinya semakin ringan dan perlahan. Dia harus berhati-hati agar jangan sampai menginjak ranting pohon yang mana akan menerbiikan suara.

Kembali terdengar suara pria itu.

“Jangan-jangan telah terjadi sesuatu! Kau tahu sendiri, setan cilik itu sungguh licik. Kenapa kau membiarkan A Yan sendiri saja yang membawanya?”

‘Ah, mereka tengah membicarakan diriku,’ pikir Siau Po. ‘Mesti aku dengarkan terus…’ karena itu dia terus memasang telinga.

Kali ini dia mendengar suara sahutan seorang wanita. “lImu silatnya A Yan sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada dia. Dia juga cerdik dan selalu siap siaga, mana mungkin terjadi apa-apa pada dirinya?”

Siau Po segera mengenalinya sebagai suara ibu suri dan wanita itu melanjutkan kata-katanya kembali. “Mungkin kitab itu disimpan di tempat yang jauh sehingga A Yan harus membawa bocah itu mengambilnya! ”

“Bersyukurlah kalau kitab itu masih bisa didapatkan,” kata yang laki-laki. “Kalau tidak, hm… hm…!”

Nada suara laki-laki itu keras dan berwibawa. Tampaknya dia tidak begitu menghormati ibu suri. Saking herannya, Siau Po jadi ingin lebih tahu. ‘Di kolong langit ini siapa orangnya yang berani bicara begitu kurang ajar terhadap ibu suri? Mungkinkah dia si raja tua yang sudah kembali dari Ngo Tay san?’ pikirnya dalam hati.

Memikirkan kemungkinan kaisar Sun Ti yang sudah kembali ke istana, diam-diam hati Siau Po jadi senang. Kegembiraannya muncul secara tiba-tiba. Dia menganggap dirinya akan menonton suatu pertunjukan yang hebat.

Kembali terdengar suaranya ibu suri.

“Kau toh tahu, aku sudah menggunakan segala macam cara. Orang dengan kedudukan seperti aku ini kan tidak mungkin menentengnya kemana-mana? Mustahil aku harus mondar-mandir dengan menggiringnya. Apabila aku melangkah keluar satu tindak saja dari Cu-leng kiong ini, para thaykam dan dayang-dayang akan mengiringiku. Karena itu, mana mungkin aku berbuat demikian?”

“Tidak dapatkah kau menunggu sampai malam tiba baru membawanya?” kat a si laki-laki, Nadanya mendesak sekali. “Kalau memang itu yang menjadi alasanmu, mengapa kau tidak memberitahukannya kepadaku agar aku sendiri yang akan membawanya untuk mengambil kitab itu?”

“Tidak berani aku membuatmu letih,” sahut thayhou. “Keberadaanmu di sini, biar bagaimana, tidak boleh ada orang yang mengetahuinya!”

Laki-laki itu tertawa dingin.

“Urusan ini toh besar dan penting sekali,” katanya tajam. “Menghadapi urusan semacam ini, apa pun tidak perlu kita perdulikan lagi. Aku tahu apa sebabnya kau tidak bersedia memberitahukan kepada kita! Kau khawatir aku akan merebut jasa yang telah kau tanamkan!”

Suara itu mengandung kemarahan dan penasaran. “Apa jasaku?” tanya ibu suri. “Ada jasa, begini. Tidak ada jasa, toh begini juga.”

Suaranya justru mengandung penyesalan.

Coba kalau Siau Po tidak kenal baik dengan suara ibu suri, tentu dia tidak akan percaya bahwa wanita itu bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dalam anggapannya, pasti salah seorang dayang yang mengatakannya. Kedua orang itu bicara dengan perlahan, tapi jarak Siau Po sudah dekat sekali sehingga dia dapat mendengar dengan jelas. Apalagi malam itu sunyi sekali.

Siapakah pria itu? Sekarang Siau Po menyangsikan kalau itu adaJah kaisar Sun Ti. Bukankah sang kaisar telah mensucikan diri di gunung Ngo Tay san?

Saking kerasnya keinginan dalam hati Siau Po untuk mengetahui siapa orang itu, ia memberanikan diri mendekati jendela. Dia mengintai di sela-selanya. Dilihatnya ibu suri sedang duduk di atas tempat tidur, sedang seorang dayang sedang berjalan mondar-mandir dalam kamar itu dengan memangku sepasang tangannya di depan dada. Selain mereka berdua, tidak ada orang lainnya lagi di dalam kamar itu!

‘Eh, kemana perginya laki-laki itu?’ tanya Siau Po dalam hati. Dia menjadi kebingungan. Matanya celingak-celinguk, hatinya terus bertanya-tanya.

Tiba-tiba si dayang membalikkan tubuhnya. “Sudah! Tidak perlu kita menunggunya lagi!” katanya. “Aku akan pergi melihatnya!”

Mendengar suara orang itu, Siau Po terkejut setengah mati. Suara itu bukan lain dari suara si laki-laki tadi, tapi bentuk orangnya sendiri seperti dayang yang biasa melayani putri atau ibu suri dalam kerajaan. Rupanya dia seorang laki-laki yang menyamar sebagai dayang!

“Mari kita pergi bersama!” kata ibu suri. Dayang itu tertawa datar. “Apakah kau merasa khawatir?” tanyanya.

“Bukannya hatiku tidak tenang,” kata Ibu suri. “Aku bingung dan cemas telah terjadi sesuatu atas diri A Yan. Dengan berdua, kita bisa menghadapinya bersama apabila terjadi apa-apa!”

Dayang itu menganggukkan kepalanya. “Ya, apa yang kau katakan ada benarnya juga!” sahutnya. “Memang kita harus waspada, agar perahu kita tidak berbalik haluan dan tercebur atau karam. Mari kita pergi bersama!”

Thayhou menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berdiri untuk menyingkapkan kasurnya. Kemudian tampak dia mengangkat sehelai papan. Diterangi oleh cahaya lilin dalam kamar, tampak tangannya telah mencekal sebatang pedang. Yang mana kemudian dimasukkannya ke balik pakaian.

‘Oh, rupanya di bawah tempat tidur itu ada tempat rahasianya,’ kata Siau Po dalam hati. ‘Tentunya untuk menjaga segala kemungkinan, dia menyembunyikan pedang itu di tempat tersebut. Dengan demikian mudah diambilnya bila terjadi apa-apa.’

Ibu suri dan dayang gadungan itu segera keluar dari kamar. Lilinnya tidak dipadamkan. Sembari memperhatikan, otak Siau Po terus bekerja.

‘Sebaiknya aku letakkan sepasang kaki Liu Yan ini di tempat rahasianya, pikirnya kemudian. ‘Kalau sebentar dia kembali lagi dan menyimpan pedangnya. Pasti dia akan menyentuh sepasang kaki ini dan kaget setengah mati!’

Karena menganggap siasat itu bagus sekali, tanpa bimbang lagi Siau Po masuk ke dalam kamar Ibu suri. Dia langsung menuju tempat tidur dan menyingkapkan kasurnya. Di bawah situ ada gelang besar yang digunakan untuk menarik papannya. Dan Siau Po langsung melihat tiga jilid kitab Si Cap Ji cin-keng!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: