Kumpulan Cerita Silat

18/08/2008

Kisah Membunuh Naga [38]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:01 am

Kisah Membunuh Naga [38]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah menganggap, bahwa mereka takkan bisa lolos dari kebinasaan, sekarang mereka mengharap supaya tenaga Goan tin lekas-lekas pulih. Mereka merasa lebih lekas mati lebih baik, jangan disiksa lebih lama. Antara mereka itu, hanya Swee Poet Tek dan pheng Hweeshio yang masih merasa penasaran. Mereka adalah pendeta, tapi dalam hati merekalah yang mempunyai cita-cita paling besar, cita-cita untuk melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia.

“Pheng Hweeshio,” kata Swee Poet Tek. “Banyak tahun kita tercapai lelah dalam usaha untuk mengusir orang-orang Mongol dari negara kita. Tak dinyana, semua usaha berpikir dengan kegagalan. Hai! Mungkin sekali beribu-ribu dan berlaksa-laksa rakyat memang harus menderita lebih lama.”
(more…)

17/08/2008

Kisah Membunuh Naga (37)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:00 am

Kisah Membunuh Naga (37)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Perbuatan baik apakah yang dilakukan saudara Wie?” tanya Swee Poet Tek.

“Sesudah menggunakan Lweekang, racun dingin dalam tubuhnya mengamuk hebat dan menurut kebiasaan, dia bisa menolong diri sendiri dengan mengisap darah manusia,” terang Cioe Tian. “Ketika itu di sampingnya terdapat seorang gadis. Tapi dia lebih suka mati daripada menghisap darah nona itu. Melihat itu, aku berkata, ‘si Kelelawar berlaku aneh, aku pun mau berlaku aneh.’ Baiklah, Cioe Tian coba tolong dia. Aku lantas saja bekerja dan beginilah hasilnya.”
(more…)

16/08/2008

Kisah Membunuh Naga (36)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:58 am

Kisah Membunuh Naga (36)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Mana berani aku bertanding dengan Soethay?” kata Boe Kie, “Aku hanya mengharap supaya Soethay suka menaruh belas kasihan.”

“Can Siangkong, tak usah banyak bicara dengan bangsat tua itu!” teriak Gouw Kin Co. “Kami lebih suka mampus daripada menerima belas kasihannya yang diliputi kepalsuan.”
(more…)

15/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 45

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:34 am

Memanah Burung Rajawali – 45
Bab 45. Pesiar dengan Ikan Hiu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Datanglah sang malam dengan segala persiapannya yang sudah sempurnya. Tinggal menanti besok pagi, Cit Kong bertiga bakal pergi berlayar. Selagi hendak tidur, Oey Yong tanya, apa besok perlu mereka pamitan dari Auwyang Hong.

“Bahkan kita harus membuat perjanjian akan bertemu lagi dengannya sepuluh tahun kemudian,” menjawab Kwee Ceng. “Kita telah diperhina begini rupa, mana bisa kita berdiam saja?”
(more…)

Kisah Membunuh Naga (35)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (35)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Budi Wibowo Indra dan Yin)

Boe Kie kaget tak kepalang. Baru sekarang ia tahu, bahwa Coe Jie adalah A-Iee yang pernah mencekal lengannya dalam pertemuan di Ouwtiap kok. Baru sekarang ia tahu bahwa kecintaan yang tidak dapat dilupakan oleh si nona adalah dirinya sendiri. Ia mengawasi muka Coe Jie. Pada roman yang jelek itu sudah tak ada bekas-bekas dari kecantikan yang dulu. Tapi waktu melihat sinar mata si nona, lapat-lapat ia ingat sinar mata A-Iee.

“Kalau begitu dia murid Kim hoa Popo”, kata Biat coat Soethay dengan suara dingin. “Kim hoa Popo pun bukan seorang dari partai lurus bersih. Tapi sekarang kita tak boleh menanam terlalu banyak permusuhan dan untuk sementara waktu, kita tahan saja padanya.
(more…)

14/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 44

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:34 am

Memanah Burung Rajawali – 44
Bab 44. Ilmu yang Sejati dan yang Palsu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok itu, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.

Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (34)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (34)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

“Setiap laba-laba ini,” menyahut si nona, “mestinya tubuhnya dari belang menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya dan mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna, aku mesti menghabiskan seribu laba laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, aku harus menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”

Boe Kie heran, hatinya jeri.
(more…)

Hina Kelana: Bab 130. Gi-lim Membeberkan Isi Hatinya

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 12:53 am

Hina Kelana
Bab 130. Gi-lim Membeberkan Isi Hatinya
Oleh Jin Yong

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu duduknya perkara, pantas Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain begitu giat mengawasi latihan Gi-lim sebagaimana pernah dilihatnya itu, kiranya mereka berharap kelak Gi-lim yang akan mewarisi jabatan ketua Hing-san-pay. Sungguh jerih payah mereka itu harus dipuji dan juga suatu tanda penghormatan mereka terhadap diriku. Demikian pikirnya.

Dengan perasaan hambar Gi-lim lalu berkata pula, “Nenek bisu, sering kukatakan padamu bahwa aku senantiasa terkenang kepada Lenghou-toako, siang terkenang, malam terkenang, mimpi juga selalu mengimpikan dia. Teringat olehku waktu dia menolong diriku tanpa menghiraukan bahaya akan jiwa sendiri. Sesudah dia terluka, kupondong dia melarikan diri. Teringat olehku dia minta aku mendongeng baginya, lebih-lebih sering teringat olehku ketika aku dan dia ti… tidur bersama di suatu ranjang di rumah apa itu di Kota Heng-san, satu selimut kami pakai bersama. Nenek bisu, kutahu engkau tak bisa mendengar, maka aku takkan malu mengatakan hal-hal itu padamu. Jika tak kukatakan, rasanya aku bisa gila. Kubicara denganmu, kupanggil nama Lenghou-toako, maka untuk beberapa hari hatiku akan merasa tenteram.”
(more…)

13/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 43

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:19 am

Memanah Burung Rajawali – 43
Bab 43. Melawan Batu Besar
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkan itu. Ia masih sangat lelah maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk meluruskan pernapasannya.

Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun, akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri terhadap pengemis tua itu. Di mulut gua ia memasang kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apa juga. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepet-mepet di pinggiran, majunya setindak demi setindak. Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (33)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:50 am

Kisah Membunuh Naga (33)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Eeyore dan Yin)

Si nona bersenyum-senyum yang penuh dengan rasa beruntung. Sambil bersandar pada dada pemuda it, ia berkata, “Dulu, waktu aku minta kau mengikuti aku, kau bukan saja sudah menolak, tapi juga memukul aku, mencaci. Aku merasa sangat beruntung, bahwa sekarang kau bisa mengatakan begitu.”

Perkataan si nona seolah-olah air dingin yang menyiram kepala pemuda itu. Ia mendapat kenyataan, bahwa dengan mendengar perkataannya sambil memeramkan mata, nona itu membayang bayangkan, bahwa perkataan itu dikeluarkan oleh pemuda yang dipujanya, tapi yang sudah menyakiti hatinya.
(more…)

Hina Kelana: Bab 129. Rahasia Put-kay Hwesio yang Aneh

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 12:41 am

Hina Kelana
Bab 129. Rahasia Put-kay Hwesio yang Aneh
Oleh Jin Yong

Begitulah Lenghou Tiong mengikuti ajakan Gi-lim. Keduanya terus berjalan ke jurusan sana tanpa buka suara sedikit pun.

Setelah menyusuri sebuah jalanan sempit, akhirnya mereka keluar dari lembah itu, tiba-tiba terdengar Gi-lim berkata, “Kau sendiri tidak dapat mendengar pembicaraan orang, buat apa kau berada di sana?” Ucapan ini agaknya tidak ditujukan kepadanya melainkan cuma menggumam sendiri saja.
(more…)

12/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 42

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:17 am

Memanah Burung Rajawali – 42
Bab 42. Di Pulau Terpencil
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Oey Yong selulup, ia berenang ke arah air berputar itu. Ia tidak jeri untuk tenaga besar dari usar-usaran air itu, ia dapat mempertahankan diri dari sedotan yang keras. Di situ ia selulup ubak-ubakan, untuk mencari Kwee Ceng. Lama ia berputaran, Kwee Ceng tidak nampak, Auwyang Hong pun tidak ada. Maka maulah ia menduga, kedua orang itu telah kena terbawa perahu sampai di dasar laut…

Lama-lama lelah juga Oey Yong. Tapi ia masih belum putus asa, ia bahkan penasaran. Maka ia mencari terus. Sangat ia mengharap-harapkan nanti dapat menemukan si anak muda. Diam-diam ia mengharapi bantuan Thian, mengasihani dia. Tapi masih sia-sia belaka usahanya itu. Saking letih, ia muncul ke muka air. Ia berenang ke perahu kecil. Di dalam hatinya ia berjanji, sebentar ia akan selulup pula, untuk mencari terlebih jauh.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (32)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (32)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, wibowoindra dan Thor)

“Sebab takut dipukul olehmu,” jawabnya.

Mendadak Coe Tiang Leng menyambar pundak Boe Kie dengan gerakan Kin na cioe. “Sekarang kau tak takut lagi?” bentaknya. Tiba-tiba ia merasa telapak tangannya panas, lengannya bergemetar dan ia terpaksa melepaskan cengkramannya. Tapi walaupun begitu, dadanya sakit dan menyesak. Ia mundur beberapa tindak dan berkata dengan suara parau. “Kau…ilmu apa itu?”

Sesudah memiliki Kioe yang sin kang, inilah untuk pertama kalinya Boe Kie menjajalnya. Ia sendiri baru tahu hebatnya ilmu tersebut. Dengan hanya menggunakan dua bagian tenaga, Coe Tiang Leng seorang ahli silat kelas satu sudah dapat dijatuhkan. Kalau ia mengerahkan seluruh tenaga mungkin sekali lengan orang tua itu sudah menjadi patah. Ia girang bukan main dan sambil mengawasi muka si tua, bertanya seraya tersenyum, “Coe Pehpeh, bagaimana pendapatmu? Apa ilmuku cukup lihay?”
(more…)

11/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 41

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:14 am

Memanah Burung Rajawali – 41
Bab 41. Pergulatan di Tengah Laut
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Belum ada satu jam sejak berlalunya kedua ekor rajawali, Auwyang Hong kembali mengatur meja perjamuan makan di muka perahu di bawah tiang layar. Untuk ke sekian kalinya ia memancing supaya Ang Cit Kong dan Kwee Ceng tidak dapat menahan lapar dan nanti terpaksa turun untuk dahar pula.

Menyaksikan lagak orang itu, Cit Kong tertawa.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (31)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:40 am

Kisah Membunuh Naga (31)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

Tiba-tiba ia mengeluh karena di jalanan yang barusan dilewatinya, yang tertutup dengan salju, terdapat tapak-tapak kakinya sendiri. Daerah barat (See hek) adalah daerah yang hawanya sangat dingin dan biarpun waktu itu sudah masuk musim semi, salju di gunung-gunung masih belum lumer. Semalam, dalam ketakutannya, ia tak berani jalan di tanah datar dan sudah mendaki puncak itu. Tapi dengan berbuat begitu, ia malah sudah membuka rahasia sendiri.

Pada saat itu, dari sebelah kejauhan sekonyong-konyong terdengar geram kawanan serigala yang menakutkan. Boe Kie berdiri di atas batu karang yang sangat curam. Mendengar suara itu, ia mengawasi ke bawah. Ternyata, di dasar lembah terdapat tujuh-delapan serigala yang sedang meronyang-ronyang ke arahnya dan menyalak tak henti-hentinya. Kawanan binatang itu kelihatannya kelaparan dan ingin menubruk dirinya untuk mengganjal perut. Tapi ia berdiri di tempat aman yang terpisah jauh dari mereka.
(more…)

« Newer PostsOlder Posts »

Blog at WordPress.com.